mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Friday, August 29, 2008

Metodologi Perjuangan Abuya Ashaari Muhammad

Siang itu, di Bulan Mei 2005, saya dengan izin Allah sampai di puncak gunung Mount Nebo. Tahukah anda dimana Mount Nebo itu?

Mount Nebo terletak di daerah perbatasan Palestina dan Yordania. Dengan mengendarai kendaraan dari Amman menelusuri lembah barat Yordania yang berbatu dan berliku-liku, dalam waktu tiga jam kita akan sampai di Mount Nebo. Dari puncak Mount Nebo yang kering tapi banyak ditumbuhi pohon Zaitun itu terlihat dengan jelas, ke arah barat, dataran tinggi Palestina yang subur. Saya dan beberapa kawan yang semuanya murid Abuya Ashaari Muhammad, terpesona merasakan kebesaran Tuhan dan kasihNya pada kami. Tak pernah kami menyangka sebelumnya bahwa suatu ketika kami akan sampai di sini, di tempat yang kisahnya di abadikan dalam Al-Quran dan dikenang sepanjang zaman.

Mount Nebo adalah tempat yang sangat bersejarah. Dulu, tempat ini di jadikan tempat beristirahat yang dipilih Nabi Musa bersama ribuan Bani Israil dalam perjalanan panjang mereka berjalan kaki dari Mesir ke Palestina, setelah mereka berhasil lolos dari kejaran Fir'aun di laut Merah. Di tempat ini Tuhan nampakkan keberkatan Nabi Musa yang lain selain keberhasilan mereka lolos di Laut Merah. Ketika mereka menderita lapar, Tuhan datangkan makanan yang bermacam-macam: roti, daging, dan buah-buahan. Padahal mustahil rasanya akan ada hewan buruan di situ, lebih-lebih lagi buah-buahan dan roti. Katika terik matahari, Tuhan datangkan awan yang menaungi mereka. Untuk minum dan mandi, Tuhan datangkan mata air dari batu setelah Musa memukulkan tongkatnya ke batu itu. Ada dua belas mata air yang letaknya berjauhan mengelilingi puncak Mount Nebo, sehingga setiap suku tak perlu berebutan, karena mereka punya masing-masing satu mata air. Sampai hari ini masih ada keduabelas mata air yang sangat jernih itu.

Tapi, di tempat ini pula Tuhan perlihatkan kebejatan akhlak Bani Israil pada Musa, yang tak putus-putusnya didebat dan dibantah oleh mereka. Mereka selalu menolak nasehat-nasehat Musa. Berbagai kekejian terus mereka lakukan, padahal hari demi hari mereka hidup dalam limbahan karunia Tuhan. Mereka tak hiraukan arahan pemimpin mereka, Musa. Inilah tempat terakhir Musa bersama mereka, karena sebelum mereka sampai di Palestina, tanah yang dijanjikan itu, Nabi Musa wafat di sini. Selepas itu, mereka hidup terlunta-lunta walaupun akhirnya berhasil melanjutkan perjalanan ke Palestina tanpa pimpinan Musa lagi. Dengan susah payah dan penyesalan mereka akhirnya memasuki Palestina juga, mengusung jenazah Musa ke sana.

Perjalan ke Mount Nebo itu adalah sebagian dari program ekpedisi ke tanah Syam yang pernah saya ikuti, sebagai sebuah proses pembelajaran yang diterapkan Abuya kepada muridnya. Setiap murid akan amengikuti ekspedisi yang berbeda-beda sesuai dengan kesempatan masing-masing, dengan tujuan dan anggota rombongan yang berbeda-beda.

Ekspedisi, dalam ajaran Abuya, tidak seperti berjalan-jalan yang dikenal masyarakat umum. Ekspedisi mengandung misi dan tujuan. Ekspedisi dilakukan oleh beberapa orang dan dipimpin oleh seorang Ustaz. Dalam ekpedisi selalu ada rencana tempat yang akan dikunjungi dan nama-nama orang yang akan diziarahi. Di dalam ekspedisi, dikuliahkan beberbagai pelajaran, dan didiskusikan berbagai hal yang menjadi isu terkini masyarakat. Wajarlah kiranya dalam sistem pembinaan Abuya, ekpedisi berhasil menjadi salah satu program andalan untuk memupuk kebersamaan murid-murid, sekaligus berhasil mengembangkan wawasan dan keilmuan mereka. Setiap tempat yang disinggahi dikaji dasar-dasar keilmuannya, dibahas latar belakangnya. Orang-orang soleh di daerah itu diziari, bahkan kuburnya.

Dalam perjuangannya, Abuya telah memilih ekspedisi ini sebagai sebuah program strategis dan berjangka panjang. Tidak satu kali suatu wilayah menjadi tujuan ekspedisi, dan tidak satu rombongan saja yang dikirim ke sana. Melalui ekspedisi inilah, Abuya dan murid-muridnya bisa mengenal berbagai wilayah di dunia ini, bukan sebagai tempat tujuan wisata saja, tetapi juga sebagai tujuan da'wah, ekonomi dan budaya. Dari program ekspedisi inilah, Abuya akhirnya berhasil membangun basis-basis jamaah hampir di seluruh wilayah penting di dunia. Di Indonesia saja, tempat-tempat yang awalnya hanya sebuah tujuan ekspedisi, sekarang telah berubah menjadi wilayah basis perjuangan yang meliputi kota-kota seperti Banda Aceh, Padang, Medan, Pekanbaru, Palembang, Lampung, Jakarta, Bandung, Bogor, Tasikmalaya, Semarang, Wonosobo, Pontianak, Makasar, dan Jayapura. Belum lagi kita sebut wilayah-wilayah di sepanjang semenanjung Malayasia sendiri dan Asia Tenggara serta wilayah luarnya seperti di Australia, Eropa, dan Timur Tengah. Semua wilayah yang awalnya hanya tujuan ekspedisi, akhirnya berubah menjadi wilayah basis pengembangan Islam yang terencana dan terpadu. Saya telah berkesempatan berekspedisi mengunjungi sebagian kecil wilayah-wilayah basis perjuangan Abuya tersebut yang telah berhasil dibangun, di Malaysia, Labuan, Bruney, Thailand, Singapura, Yordania, dan Suriah.

Di tempat-tempat itu, Abuya beserta murid-muridnya membangun model-pengamalan Islam, seperti usaha-usaha ekonomi, kebudayaaan dan pendidikan tergantung keadaan dan ketersediaan sumberdaya di wilayah yang ada. Inilah yang menjadi ciri khas perjuangan Abuya yang tampak berbeda dalam pandangan saya dibanding dengan pejuang-pejuang lain di dunia ini. Abuya memfokuskan perjuangannya pada amal dan ilmu membangun wilayah-wilayah, sementara yang lain, baru ditahap ilmu dan slogan-slogan. Abuya tak banyak berkoar-koar atau pidato berapi-api. Bagi beliau Islam harus diamalkan bukan hanya dibicarakan atau diseminarkan. Abuya tidak membangunnya sendiri, tetapi beliau membangunnya bersama-sama dalam satu jamaah yang rapi, terstruktur dan terpimpin.

Sebelum mengenal Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad at Atamimi, saya sudah sejak lama mendengar himbauan dari para guru dan tokoh-tokoh Islam. Seruan itu saya dengar sejak saya masih remaja. "Mari kita tegakkan Syariat Islam", "Mari kita perjuangkan kebenaran". Pada awalnya, pidato-pidato hebat semacam itu memang sangat menarik dan memicu semangat saya. Tapi anehnya, lama kelamaan realitas menjelma lain. Saya sering memergoki hal-hal yang dipraktekkan yang bertolak belakang dari seruan itu.

Kelihatannya, semangat ingin menegakkan Syariat Islam, belum sepenuhnya diiringi dengan usaha yang sungguh-sungguh dan benar-benar ikhlas oleh kebanyakan pejuang. Banyak kepentingan di balik usaha itu. Perjuangan syariat terkesan seperti menumpang nama besar syariat itu sendiri. Bukannya jadi pejuang, tapi banyak pejuang malah jadi pecundang. Walaupun terus dilaungkan, berapa orangkah yang benar-benar berjuang? Berapa orangkah yang benar-benar berkorban? Semua orang dapat saja berteriak "Dienul Haq ini mesti ditegakkan dalam seluruh peringkat kehidupan melalui suatu perjuangan". Tapi lihatlah apa kenyataannya.

Kalau sekedar memberi semangat, ya. Pada awalnya slogan-slogan ini cukup memotivasi saya untuk ikut ambil bagian dalam berbagai kegiatan dakwah, baik sendiri maupun berjamaah. Setidak-tidaknya semangat yang saya peroleh ini telah memicu saya mengikuti berbagai kajian keislaman termasuk membeli dan membaca buku-buku tentang Islam. Saya ikuti berbagai diskusi. Asal disebut ada Islam nya saya tertarik.

Terus terang, waktu saya masih di kelas dua SMA di Jakarta dulu (tahun 80-an), selesai ikut pesantren kilat Ramadhan bersama tokoh-tokoh HMI, saya pulang ke rumah berapi-api. Banyak persoalan hangat yang berhasil memicu semangat. Pulang dari sana, rasanya saya harus langsung berjuang. Tak tahu, saya harus berjuang seperti apa, yang penting semangatnya dulu. Jiwa berapi-api seperti penuh dengan amunisi. Maklumlah saya waktu itu masih remaja, masih senang dengan yang panas-panas. Saya biasanya ngantuk mendengarkan ceramah yang lesu.

Setelah lama-lama, kenyataannya jadi berbeda. Saya, kok, jadi melihat tokoh-tokoh idola saya itu lain. Mereka lantang memperkatakan kebenaran, memperkatakan syari'at, tapi kebenaran dan syariat yang diperkatakan itu sedikitpun tidak wujud dalam kehidupan mereka sehari-hari. Rokok saja, misalnya, merupakan pemandangan sehari-hari di berbagai pertemuan tokoh-tokoh Islam itu. Asap rokoknya berhamburan kemana-mana. Padahal banyak sekali orang-orang lain yang terganggu dengan asap rokok itu. Mereka merokok tidak peduli di pasar atau di masjid. Padahal mereka berkata bahwa rokok makruh (dibenci Allah). "Lho, kok pejuang Tuhan mengerjakan pekerjaan yang dibenci Tuhan itu sendiri?"

Sebagai remaja saya hanya heran, bagaimana mungkin seorang pejuang kebenaran yang selalu mengajak manusia ke jalan Allah tetapi memperbuat perkara yang dibenci Allah. Itu baru satu contoh saja. Sebenarnya saya telah melihat contoh-contoh lain yang intinya sama atau bahkan jauh lebih parah. Saya melihat perbuatan para pejuang Islam yang membuat perjuangan Islam menjadi coreng moreng. Sayapun akhirnya kecewa.

Waktu saya belajar sebagi mahasiswa di ITB Bandung, alhamdulillah saya berkesempatan belajar dan aktif di Masjid Salman ITB. Saya dirizkikan pula dapat tinggal di asrama Masjid Salman yang bersejarah itu. Saya senang. Mengapa? Salah satunya, karena rokok di sana diharamkan, bukan diamakruhkan. Saya menjadi ingat dengan ayah saya yang sangat benci melihat orang merokok, walaupun beliau tak pernah memfatwakan bahwa merokok haram. Paling-paling beliau mengatakan rokok itu makruh karena asapnya menggangu orang lain.

Saya sangat sependapat dengan Bang Imad, salah seorang tokoh pendiri Masjid Salman yang telah berhasil menyadarkan saya bahwa rokok itu buruk. Ditempat baru ini, maksud saya di Salman, saya mencoba menggali kembali semangat perjuangan yang semula membara waktu saya remaja, dan kemudian kendor di tengah jalan karena kehilangan suluh.

Di Masjid Salmanlah tempatnya. Jungkir balik dengan kawan-kawan di Masjid Salman memang mengasyikkan. Di Masjid Salmanlah sebenarnya saya merasa serius mempelajari Islam di bawah bimbingan berbagai guru. Walaupun saya berguru tidak seperti belajar di pesantren, belajar Islam di Masjid Salman menyenangkan. Tercatatlah sejumlah nama-nama ulama di Bandung yang menjadi guru dan idola saya. Selain mendengarkan kuliah-kuliah dari guru-guru itu, sayapun mempelajari Islam secara otodidak dengan membaca buku-buku. Karena waktu membaca lebih banyak dari waktu bertatap muka, wajarlah kalau rasanya apa yang saya peroleh dari buku-buku lebih banyak. Maklumlah di perpustakaan Salman banyak buku. Pinjam buku kiri kananpun tak sulit.

Di Salman kami mengkaji, membaca dan mendiskusikan berbagai macam model gerakan perjuangan penegakan syariah yang pernah dan sedang berlangsung di Indonesia dan juga di dunia. Sejak itu, saya mulai mengenal berbagai aliran dan perbedaan pandangan dan pemikiran dalam perjuangan Islam. Saya melihat selalu ada khlafiahnya. Saya melihat pola perjuangan dimana-mana tak sama. Perjuangan, seluruhnya, hampir tak terpimpin. Maaf, ini pandangan saya waktu itu.

Tapi aneh, dalam pembelajaran yang saya tempuh melalui buku-buku yang bertumpuk di Perpustakaan salman, saya tidak pernah sekilaspun melihat buku-buku karya Abuya. Itu padahal di tahun 80-an, di saat perjuangan Abuya sedang gencar-gencarnya di Malaysia. Saya malah menemukan banyak buku karya pejuang dari Pakistan dan bahkan Amerika dan Inggris.

Sebagai penggemar sastra, saya banyak mengoleksi puisi terutama puisi-puisi religious bernafaskan Islam. Ada karya Iqbal, Sa'di, Gibran dan lain-lain sampai dengan Taufiq Ismail. Dalam hal puisipun tidak ada karya Abuay dalam koleksi saya. Allah nampaknya berkehendak lain. Dia tak pertemukan saya dengan seorangpun yang membawa saya dapat mengenal Abuya. Sampai sekarangpun, saya tak faham apa rahasia dari semua ini. Apakah Allah menghendaki saya mesti bertualang lebih dulu sebelum saya diperkenalkan dengan kebenaran yang hakiki? Wallahu a'lam.

Semangat mempelajari Islam saja ternyata memang tidak cukup untuk berjuang. Perjuangan memerlukan ilmu. Lebih-lebih lagi, perjuangan memerlukan suluh pimpinan. Ilmu tanpa pimpinan tak akan memadai. Setumpuk teori yang diperoleh dari kajian demi kajian tak akan banyak membantu. Memperkatakan Islam, mendiskusikannya, termasuk menyelengaarakan seminar, kursus, ceramah, pelatihan dll tak akan menyelesaikan masalah. Karena mengkaji dan mengkaji itu mudah, maka diimana-mana hanya itulah yang dapat dibuat.

Kenyataannya, jangankan memperjuangkan Islam dalam peringkat negara, dalam peringkat kelompok kecil saja banyak tak berjalan. Islam tak lahir dalam perbuatan. Hafal di luar kepala bahwa "ilah" itu hanya Allah, tapi kenyataannya kita punya ilah yang lain, yaitu hawa nafsu. Hawa nafsulah yang berkuasa. Islam tinggal pada kertas kerja atau makalah-makalah.

Sampai sejauh itu saya masih belum puas dalam pencarian. Di setiap pencarian, saya tidak menemukan format perjuangan yang pas buat saya betapapun saya telah lelah menyelaminya. Jenuh juga rasa hati lama kelamaan.

Berkali-kali saya berpindah-pindah jamaah, berpindah-pindah guru, berpindah-pindah buku dan berpindah-pindah idola. Bahkan telah saya coba pula berjuang sendiri full tanpa guru, belajar saja melalui buku, berjuang tanpa jamaah. Akhirnya apa? Semuanya membawa saya kepada suatu titik stagnasi berat. Kepala terasa dipenuhi oleh impian, data, tapi hati terasa hampa. Amal tetap tak sanggup direalisasikan. Akhlak tak layak untuk diketengahkan. Cita-cita terlalu besar, tapi daya tak cukup. Dunia ada di atas kepala. Agama hanya dapat dimunculkan di mimbar-mimbar khutbah. Akhirat hanya ucapan di bibir. Tenggelamlah saya dalam sekularisme akut.

Menjelang 1994 yang lalu, saya pernah dengar ribut-ribut tentang Darul Arqam. Tak tahu persisnya apa yang diributkan. Tapi waktu itu saya tidak terlalu tertarik untuk mencari tahu lebih banyak. Sedikit yang saya dengar diantaranya "Darul Arqam mesti dilarang","Ajarannya sesat". "Pemimpinnya di Malaysia sudah ditangkap" dan lain-lain.

Karena sudah terbiasa dari dulu mendengarkan tuding saling sesat menyesatkan dalam perjuangan, saya tidak terkejut. Saya fikir mempelajari kasus Arqam waktu itu hanya akan semakin menambah beban berat kepala yang penuh dengan kajian keislaman yang bersifat teori dan tidak aplikatif. Saya khawatir semua perjuangan yang ada sekarang sudah tidak memiliki pola yang sistematik. Bahkan saya berpikir tak ada lagi kepemimpinan yang efektif dalam jamaah Islam dimanapun. Saya waktu itu lebih tertarik untuk bekerja saja di bidang saya, sebagai seorang insinyur menggeluti berbagai teknologi dalam dunia industri, khususnya minyak dan gas bumi.

Suatu berkat yang tak terhitung harganya, akhirnya saya dipertemukan oleh Allah dengan seorang saudara saya di bulan Januari 2002, yang tak pernah saya duga sebelumnya, yaitu Ust M Rizal Khatib, yang telah saya sebutkan sebelum ini. Beliau murid Abuya. Beliau salah seorang pimpinan Rufaqa Indonesia, yang dulu bernama Hawariyun. Kasus beliau hampir sama dengan saya. Beliau pernah aktif di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Sejak itu saya merasa punya kawan baru untuk membimbing saya keluar dari gua. Ada nilai batiniyah yang terungkit kembali sejak pertemuan saya dengannya.

Dari beliau, saya mendengarkan dan berbincang banyak tentang Abuya, tentang Arqam, bahkan termasuk tentang berbagai isu negatif "sesat" yang dilemparkan kepada Abuya yang beredar di masyarakat. Dengan beliau saya dapat penjelasan mengenai hakikat "kultus individu", "bid'ah", dan lain-lain yang sering dilontarkan oleh orang-orang yang kurang simpati dengan Abuya. Saya beruntung karena saya mendengar langsung penjelasan dari orang yang dekat Abuya.

Setelah saya banding-bandingkan, perbedaan nyata antara perjuangan Abuya dari perjuangan kebanyakan pejuang Islam adalah, bahwa perjuangan Abuya menitikberatkan pengamalan. Dalam istilah beliau zahirina 'alal haq. Perjuangan kebanyakan tokoh-tokoh Islam adalah pembicaraan atau pengakajian yang disebut qailiina 'alal haq.

Sebentar dulu! Saya baru saja membicarakan suatu pengantar menyelami metodologi perjuangan Abuya. Di tulisan berikutnya akan saya sampaikan lebih detail pemikiran-pemikiran Abuya, baik yang saya lihat sendiri maupun yang saya pelajari dari buku-bukunya.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail