mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Friday, September 5, 2008

Sedikit tentang istilah Sastra

Sastra dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan dengan beberapa kata kunci, yaitu: huruf, kata, tulisan, kitab, pustaka, dan gaya bahasa. Dari kelima kata kunci tersebut, dapat kita pahami bahwa sastra pada intinya adalah karya tulis. Dari definisi tersebut, karya tulis yang paling sederhana adalah satu huruf. Ketika beberapa huruf disusun, jadilah satu kata. Selanjutnya, jika beberapa kata disusun, jadilah satu tulisan yang mengungkapkan suatu pikiran, perasaan, atau informasi yang utuh. Lebih jauh lagi, kumpulan dari tulisan disebut kitab atau buku, dan kumpulan buku disebut pustaka.



Tulisan seperti yang dimaksudkan di atas bervariasi panjangnya tergantung dari panjangnya informasi atau gagasan yang akan disampaikan melalui tulisan itu. Tulisan yang paling pendek adalah tulisan berupa satu kalimat, karena dalam satu kalimatlah satu pikiran dapat dipahami dengan jelas, sementara satu kata dipandang belum cukup karena kata baru mewakili suatu makna. Dalam realitasnya, tulisan biasanya mengandung lebih dari satu kalimat, bahkan mengandung ribuan atau jutaan kalimat sesuai dengan luas dan rumitnya informasi atau pikiran yang disampaikan.



Agar tulisan yang terdiri dari banyak kalimat itu bisa dipahami dengan baik sesuai dengan maksud si penulis, maka kalimat-kalimat itu dikelompokkan di setiap satu unit pikiran yang disebut paragraf. Kemudian, paragraf disusun sedemikian rupa dalam satu alur berpikir yang logis dan runtut. Jadi jelas bahwa satu kalimat hanya mengandung satu pikiran, sedangkan satu paragraf hanya mengandung satu kelompok pikiran ( satu gagasan). Gagasan demi gagasan akan sambung menyambung membangun gagasan yang lebih luas dan komplek yang dinamakan wacana.

Demikianlah kita dapat melihat keterkaitan antara sebagian istilah-istilah yang selalu kita pakai dalam dunia tulis menulis, yang semuanya itu berada dalam satu paket yang dinamakan sastra. Memasuki dunia sastra itu berarti memasuki dunia tulis menulis. Mau tidak mau seorang peminat sastra mestilah akrab dengan semua istilah yang disebutkan tadi.

Adalah suatu kekeliruan berpikir jika ada yang membatasi sastra hanya pada cerpen, novel, atau puisi saja. Ketiganya memang termasuk sastra karena ketiganya itu merupakan hasil kegiatan tulis menulis. Tapi, sastra bukan hanya sebatas novel, cerpen atau puisi saja. Sesuai dengan makna istilah sastra yang kita bicarakan panjang lebar di atas, semua bentuk karya tulis, baik berupa prosa, puisi, essai, makalah, artikel, tesis, disertasi, surat, sajak, kata mutiara, kontrak, undang-undang, daftar riwayat hidup, dll adalah sastra. Media apapun yang dipakai untuk tempat menuliskannya, seperti kertas, batu,kayu, kain, tembok, CD,disket, flash disk, karya tulis itu termasuk sastra. Demikian juga, dalam format apapun ia ditulis, seperti lembaran, makalah, buku, tabloid, majalah, suatu karya tulis tetap disebut sastra.

Sekedar informasi, sastra tertua didalam peradaban manusia ditemukan tahun 5000 SM dalam bentuk batu bertulis, berupa kalimat yang disusun menggunakan huruf dan tatabahasa yang berlaku waktu itu.

Sekarang timbul pertanyaan. Kalau manusia bisa berkomunikasi dengan lisan, bahkan dengan isyarat, mengapa suatu pikiran atau perasaan itu harus dutuliskan? Dengan kata lain, mengapa harus ada sastra di dunia ini? Tak cukupkah, manusia hidup tanpa sastra?

Setidak-tidaknya ada dua alasan mengapa orang menuangkan ide berupa pikiran atau perasaannya dalam wujud tulisan. Kedua alasan itu kita pandang sebagai alasan mengapa sastra harus ada. Pertama, ide ditulis agar ide itu tidak hilang dimakan waktu. Manusia tahu, betapapun ide itu berasal dari otak, tapi otak itu tak mampu mengingat semua ide dalam jangka waktu yang lama. Terbukti, kalau suatu ide tidak segera dituliskan, dalam beberapa hari, ide itu akan sirna. Inilah alasan pertama sastra diciptakan.

Alasan kedua adalah agar ide itu dapat disampaikan ke pihak lain tanpa keduanya harus bertemu. Cara ini memungkinkan seseorang menyampaikan pesan kepada pihak lain melintasi gunung, gurun dan laut. Bahkan, cara ini memungkinkan manusia mewariskan nilai-nilai tertentu dari generasi ke generasi. Kita bisa lihat di sini, bahwa sastra merupakan darahnya peradaban manusia, karena melalui sastra, manusia membangun ilmu dan budayanya.

Ini berarti, banyak hal yang nantinya akan kait mengait dengan sastra. Mengikut kepada pengertian yang telah diuraikan, segala sesuatu yang terkait dengan sastra itu didefinisikan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai kesastraan. Kesastraan, di sini, berarti meliputi ilmu sastra, sejarah sastra, sastrawan, aliran-aliran sastra, dll. Intinya, segala sesuatu yang berkaitan dengan tulisan dan tulis menulis, merupakan kesastraan.

Bagaimana dengan sejarah? Apakah kajian sejarah adalah bagian dari kesastraan juga?

Yang jelas, sejarah memang memanfaatkan sastra tua, disamping benda-benda purbakala lainnya, dari suatu masa tertentu untuk menguak data berbagai peristiwa di masa itu . Sastra dijadikan bukti sejarah utama. Suatu masyarakat yang tidak meninggalkan dokumen tertulis sulit diungkap sejarahnya. Karena itu, sebagian besar pekerjaan para sejarawan adalah memeriksa dokumen-dokumen tertulis masa lalu dan menganalisisnya untuk membuat suatu interpretasi atau kesimpulan. Dengan demikian, berarti kajian sejarah termasuk dalam cakupan kesastraan juga. Jadi tidak aneh, kalau dii perguruan tinggi, jurusan sejarah biasanya memang dimasukkan ke dalam fakultas sastra.

Sekarang kita lihat satu masalah lagi yang ada kaitannya dengan istilah sastra. Istilah sastra dan kesusateraan sering dicampuradukkan dalam penggunaannya sehari-hari. Seolah-olah, sastra dan kesusateraan itu berpasangan. Padahal, keduanya sesuatu yang berbeda, dan sama sekali tidak berpasangan.

Kesusastraan berasal dari kata susastra, bukan dari kata sastra. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, susastra adalah sastra yang isi dan bentuknya sangat serius berupa ungkapan pengalaman jiwa manusia yang ditimba dari kehidupan kemudian disusun dengan bahasa yang indah. Ini berarti bahwa susastra adalah sebagian dari sastra.

Menurut definisi di atas, susastra bermakna lebih sempit daripada sastra. Sastra tidak membatasi karya tulis dari segi bentuk, macam, dan bahasa yang digunakan dalam penyusunannya, sedangkan susastera membatasi cakupan pada karya-karya tulis dengan bahasa yang indah untuk mengungkapkan perasaan dan jiwa manusia yang memfokuskan pada estetika dan seni. Ini berarti, karya fiksi seperti puisi, cerpen, dan novel adalah susastra karena karya tulis itu mengekplorasi bagian terdalam jiwa manusia berupa persepsi, imajinasi, emosi, dll yang dikomunikasikan dengan maksud menyentuh jiwa pembacanya juga. Sementara tesis dan disertasi adalah sastra biasa, karena ia merupakan karya tulis umumnya.

Sejalan dengan pasangan istilah sastra dan kesastraan, segala yang berkaitan dengan susastra dinamakan kesusastraan. Lengkaplah temuan kita pasangan pengertian-pengertian yang sering dicampuradukan dalam pembicaraan sehari-hari. Pasangan sastra adalah kesastraan, sementara pasangan susastra adalah kesusastraan.

Lebih jauh dari sekedar pendefinisian seperti di atas, betapapun sastra dan kesastraan merupakan satu disiplin yang mandiri, ia tidak bisa terlepas dari kajian lain, walaupun kajian lain tersebut merupakan satu disiplin tersendiri. Misalnya, kajian sastra tidak bisa lepas dari kajian bahasa, karena dari kajian bahasalah kita tahu apa makna suatu kata, dan bagaimana aturan ketatabahasaan dalam menyusun kata-kata tersebut menjadi susunan yang lebih besar (frasa, klausa, kalimat, dan paragraf).

Sastra tidak bisa lepas dari kajian seni, khususnya seni retorika, karena pesan yang disampaikan oleh suatu tulisan harus sampai kepada pembacanya, bukan saja secara efektif tapi juga harus berkesan dan menimbulkan efek psikologis.

Bidang kehidupan lain seperti ekonomi, pendidikan, hiburan, keteknikan, politik dll tidak mungkin terlepas dari sastra dan kesastraan. Setiap bidang kajian itu biasanya memiliki konvensi tertentu terhadap suatu naskah tertulis yang diberlakukan dalam lingkungan masing-masing. Mau tak mau, sastra pun harus menyeruak masuk ke dalam berbagai bidang kehidupan tersebut.

Dalam menghasilkan karya-karya sastra, setiap sastrawan memiliki cara sendiri-sendiri dalam memilih dan menyusun kata sehingga menjadi suatu tulisan yang dapat dipahami si pembaca. Kemampuan yang dimiliki oleh orang perorangan sastrawan merupakan hasil proses pembiasaan menulis yang dilakukannya sesuai keadaannya masing-masing. Apa yang ditulisnya dan bagaiman sistematika penyusunannya dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, agama, keyakinan, dan budaya si sastrawan itu sendiri. Inilah yang menimbulkan adanya macam-macam gaya, ragam, dan aliran dalam sastra. Semua gaya, ragam, dan aliran itu identik dengan sastrawan. Kiranya suatu yang aneh, jika kita mengkaji gaya, ragam dan aliran suatu sastra tanpa mengakaji kehidupan pribadi dan sosial dari sastrawannya.

Terakhir, kemampuan seorang sastrawan menghasilkan sastra yang baik dan bermutu merupakan proses pelatihan yang berkesinambungan.

Kemampuan seorang sastrawan memilih dan merangkai kata menghasilkan suatu tulisan yang jernih berkembang terus menerus sesuai dengan waktu sebagai hasil pembiasaannya. Pengetahuan tentang kata dan tatabahasa tidak menjadi jaminan untuk berhasilnya seseorang menghasilkan kalimat yang jernih. Masih diperlukan pelatihan yang terus menerus menuangkan berbagai pikiran ke dalam bentuk tulisan sehingga menulis menjadi mudah. Tapi, bagi yang belum terlatih dan memiliki kosa kata yang sedikit, mengungkapkan pikiran, perasaan, dan bahkan emosinya secara tertulis terasa sulit.

Pembiasan menulis berarti juga merupakan pembiasan berpikir jernih, terstruktur, dan runtut. Tulisan yang jernih dihasilkan oleh pikiran yang jernih, sebaliknya tulisan yang kacau dan rancu dihasilkan oleh pikiran yang kacau dan rancu. Berubahnya dari kacau ke jernih, merupakan hasil proses pembiasaan dan pelatihan. Pada awal pembiasaan menulis, seseorang mungkin akan banyak menemukan kalimat-kalimat yang kacau dan rancu dalam tulisannya, tapi lama-kelamaan, ia akan melihat kalimat-kalimat itu semakin jernih dan terstruktur sejalan dengan semakin jernih dan terstrukturnya pikirannya.



0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail