Breaking

Showing posts with label Fasilitas Publik. Show all posts
Showing posts with label Fasilitas Publik. Show all posts

Friday, March 30, 2018

Friday, March 30, 2018

LRT Palembang

Penungguan masyarakat Palembang yang cukup lama namun belum kunjung selesai adalah LRT line antara bandara Sultan Mahmud Badaruddin dan Jakabaring.. Kalau proyek ini selesai, setidaknya sedikit banyak kemacetan parah Palembang saat in bisa teratasi dan masyarakat bisa bernafas lega.

Proyek berikutnya yang juga ditunggu adalah ruas jalan tol dari Jakabaring menuju Indralaya dan terus ke prabumulih. Baru satu ruas sampai Pemulutan yang sudah dapat dipakai. Yang ke Prabumulih masih terlalu jauh dari jangkauan. Malah jalan lama terlalu banyak lobangnya.


Semua calon pemimpin yang sedang ramai memasang spanduk agar masyarakat memilih mereka di pilkada nanti wajib menjanjikan target penyelesaian proyek-proyek ini dalam janji kampanye mereka. Ekonomi masyarakat akan sangat tertopang dengan infrastruktur tranportasi itu.

Wednesday, June 17, 2015

Wednesday, June 17, 2015

Gojek

Dengan bermodalkan sebuah aplikasi berbasis Android di Samsung Tab, saya punya pengalaman pertama dijemput dan diantar ojek on-line hari ini. Kalau naik ojek konvensional bukan pernah lagi tapi sudah biasa. Yang sekarang ini adalah ojek online.

Aplikasi itu bernama GO-JEK  dengan icon bergambar seorang yang sedang mengendari  sepeda motor  degan tiga garis lengkung di atas kepala  warna hijau dan latar belakang warna hitam.  Aplikasi itu saya download dari Playstore pagi tadi.

Sebagai pengguna pertama, saya diarahkan untuk sign-up terlebih dulu dengan memasukkan nomor HP, alamat email, dan password. Saya pun memasukkan data yang diminta. Aplikasi  itu lalu memberitahu bahwa data-data saya sudah tersimpan. Jadilah saya anggota komunitas ojek Indonesia.

Untuk mulai menggunakan jasa ini, saya mengklik icon Go-Jek  hijau berlatar belakang hitam yang terdapat di halaman depan tab saya itu. Setelah diklik, terbukalah pilihan empat menu: Menu pertama kalau saya ingin tukang ojek membantu saya mengantarkan barang. Menu kedua kalau saya mau minta tolong dibelikan makanan. Menu ketiga kalau saya minta tolong  tukang  ojek membelikan saya barang.  Nah, karena hari ini saya mau tukang ojek membonceng saya ke Mall Ambasador, saya memilih menu keempat.

Setelah saya klik menu keempat itu, terbukalah form yang harus saya isi berupa lokasi tempat saya akan dijemput dan lokasi saya akan diantar.  Form ini praktis. Saya tidak perlu menulis rinci kedua alamat yang saya maksud karena pada form itu terdapat pula penunjuk lokasi menggunakan google map. Dengan modal klik-klik saja. Saya tinggal buka google map yang tersedia dan menunjuk posisi alamat yang saya maksud. Saya pun menunjuk di peta itu bahwa saya minta dijemput di lobi Gedung Bidakara, Pancoran dan diantar ke Mall Ambasador, Kuningan.

Dalam form itu, saya bisa memilih apakah akan dijemput sekarang atau nanti. Kalau nanti, mau dijemput jam berapa. Karena hari ini saya buru-buru, saya pilih jemput sekarang.

Keluarlah persetujuan atas pesanan saya dengan tagihan sebesar Rp.10,000.  Untuk tagihan ini, saya bisa memilih pembayaran dengan cash,  Gojek kredit, atau PIN. Karena saya belum tahu cara yang lain, saya pilih cash.

Tidak lama, kurang dari 2 menit. HP saya berdering. "Selamat siang Pak, saya  dari Gojek. Dalam 2 menit saya sudah sampai ditempat yang Bapak minta."

Saya turun dari kantor menggunakan lift langsung ke lobbi. Tukang objek yang bernama Sugiyanto menggunakan jaket hijau dengan strip hitam di lengan itu sudah menunggu. Dengan senyum ramah ia mengkorfirmasi nama saya dan memperkenalkan namanya. Ia kemudian menyerahkan helm hijau berlogo Go-Jek dan menawarkan masker.  Setelah semua perkakas itu saya terima, saya naik ke boncengan. Sugiyanto dengan ligatnya menerobos macetnya jalan di Jakarta. Tak lama kemudian, saya pun sampai di Mall Ambasador, tempat tujuan. Saya membayar Rp.10,000 sesuai tagihan. Sungguh praktis.

Wow, naik ojek jadi menyenangkan dengan adanya ojek online. Salut kepada penggagasnya. Semoga sukses.

Thursday, January 16, 2014

Thursday, January 16, 2014

Mengapa Tidak Semua Bis di Busway?


Sumber foto: google

Tujuan busway dibuat di Jakarta sangat jelas, yaitu agar warga Jakarta lebih senang naik bis kota daripada naik kendaraan pribadi, bukan?.  Bila jalur bis diisolir dari kendaraan lain, bis akan lebih mudah melaju. Penumpang bis yang jumlahnya jauh lebih banyak dari penumpang kendaraan pribadi akan lebih cepat sampai di tujuan. Ujung-ujungnya peminat bis meningkat.

Cita-cita seperti ini benar. Artinya, pemerintah sudah berpihak kepada kepentingan orang yang lebih banyak.  Dan, nyatanya sekarang sejumlah jalan di Jakarta telah dilengkapi busway. Antusias masyarakat menyambutnya pun nampak.

Sayangnya, bukan saja jalur khusus bis ini disalahgunakan oleh kendaraan yang bukan bis, istilah busway  itu sendiripun salah kaprah.  Busway (baca baswei) itu didefinisikan secara salah ucap sebagai  sejenis bis, atau sebagai bis yang lebih besar dari bis biasa, bukan sebagai sebuah jalur.

Kadang-kadang terasa lucu, memang, ketika misalnya ada yang ngomong, “Ada motor yang ditabrak busway dan pengendara motor itu masuk ke kolongnya.”  Busway, di sini, diartikan kendaraan, kan?.  Yang dimaksud busway  sehari hari adalah bis Trans Jakarta.  Karena sudah salah kaprah begini, pasti banyak yang bingung kalau saya berkata, “Sepeda motor itu pasti  ngebut di atas busway.”

Malah untuk menyebutkan jalurnya, sering ditambahkan pula kata “jalur” lagi, sehingga menjadi jalur busway. Padahal, busway itu sendiri seharusnya berati jalur, yaitu jalur yang disiapkan khusus untuk bis atau bus.  Artinya, hanya kendaraan berbentuk bis atau bus yang boleh menggunakan jalur itu. Jenis kendaraan lain tidak.

Baiklah, saya kebetulan kali ini tidak berminat membahas kajian semantik atau linguistik.Terserahlah mau disebut apa, yang penting untuk memudahkan komunikasi, yang saya maksud busway di tulisan ini adalah “jalur untuk bis” , bukan “bis” nya itu sendiri.  Saya hanya sedang ada sedikit unek-unek untuk mengurangi macet di Jakarta dengan memaksimalkan penggunaan jalur khusus bis yang bernama busway itu. Harapannya, yang  punya kebijakan dalam pengaturan transportasi di Jakarta berkenan mempertimbangkannya.

Karena pasti dibangun dengan uang yang tidak sedikit dan dengan caci maki yang tak kurang-kurang kepada penggagasnya, sewajarnyalah kalau busway yang sudah ada ini,  harus difungsikan dengan baik dan benar.

Maksimalkan dong penggunaannya!

Caranya, jangan hanya larang mobil pribadi atau sepeda motor masuk busway. Tapi, wajibkan semua kendaraan berbentuk bis, baik bis besar, bis mini, atau bis mikro menggunakannya. Seburuk-buruknya bis mikro seperti Metromini mestinya juga digolongkan sebagai bis karena penumpangnya banyak.

Sepeda motor yang masuk busway silakan ditilang. Mobil-mobil  pribadi yang berpenumpang kurang dari 10, silakan ditilang. Tapi, bis yang tidak  masuk ke busway mesti ditilang juga.  Itu baru tepat sesuai nama busway yang sudah susah payah diserap dari bahasa asing itu.

Tujuannya,  busway benar-benar khusus digunakan untuk bis saja, sedangkan jalur  non-busway (jalur di luar busway), khusus juga untuk kendaraan yang bukan bis. Ini baru mantap.

Saya merasa miris melihat sebuah jalan protokol yang sudah dilengkapi jalur khusus bis di sisi kanannya, ada halte spesial pula, ada jembatan khusus, tapi jalur itu nampak kosong.  Hanya sekali-sekali jalur ini dilintasi oleh bis merah Trans Jakarta. Yang diperbolehkan masuk busway kan baru Trans Jakarta, sedangkan jumlah kendaraan jenis ini masih sangat sedikit.

Sementara itu,  di sisi kiri jalan,  sejumlah bis: Metromini, Mayasari Bakti, dll yang berpuluh-puluh jumlahnya berjubel berebut lahan dengan sepeda-motor dan mobil-mobil pribadi. Wajarlah kalau kendaraan-kendaraan kecil tergoda berpindah masuk ke jalur busway yang terlihat memang kosong.

Saya tak habis pikir mengapa busway yang mentereng dan mewah, yang dilengkapi pembatas khusus dan kadang-kadang dilengkapi pula dengan pengawalan khusus itu, hanya untuk bis Trans Jakarta saja. Bagaimana dengan Metromini, Kopaja, Mayasari Bakti, dll? Apakah bis-bis seperti itu tidak didefinisikan sebagai bis? Apa definisi bis kalau begitu?

Coba kita bayangkan baik-baik. Kalau busway yang sudah tersedia di jalan-jalan tertentu di Jakarta itu diberikan kepada bis umuml ainnya,  para pengguna bis akan bertambah jumlahnya karena naik bis jelas akan lebih cepat sampai di tujuan. Setidak-tidaknya,  akan bertambah satu alasan lagi warga Jakarta menggunakan bis, baik bis besar atau pun bis mikro sejenis Metromini.

Bagaimana dengan desain pintu pada kebanyakan bis di kiri?

Mudah.Karena pintu-pintu bis itu telah terlanjur dibuat di sebelah kiri sementara halte yang ada di busway terletak di kanan,tinggal kita ubah arah perjalanannya saja. Arah jalannya dibuat berlawanan dengan yang sekarang: dibalik.

Andapasti tahu apa yang saya maksud  “dibalik”. Kalau sekarang di jalur busway, bis berjalan ke utara dan halte bis berada di sisi kanannya. Sekarang, di jalur yang sama, arah perjalanan diubah jadi ke selatan sehingga halte menjadi di sisi kirinya.

Pada halte-halte yang lantainya tinggi, tinggal tambah tangga turun ke lantai bis agar ibu-ibu yang menggunakan rok atau kebaya tidak ragu melangkah.

Bagi bis Trans-Jakarta, perubahanini jelas tidak bermasalah karena bis gede ini mempunyai pintu di kedua sisinya.

Pengubahan arah bis di jalur khusus bis itu bukan saja akan memungkinkannya semua jenis bis menggunakan busway, tapi juga akan membuat pengemudi kendaraan pribadi dan pengendara sepeda motor berpikir tujuh kali sebelum masuk jalur khusus itu, ngeri! Mana ada yang berani adu kambing dengan bis.

Ini salah satu ide menambah daya tarik warga Jakarta menggunakan bis. Semakin banyak yang naik bis, secara bertahap jalanpun akan semakin lengang oleh mobil-mobil kecil.

Untukjangka panjang,  ide untuk menambah daya tarik penggunaan bis tentu bukan ini saja. Untuk jangka panjang perlu dicari ide-ide lain lagi secara lebih kreatif, misalnya memperbanyak bis-bis dengan desain yang lebih bagus, manusiawi, dan nyaman.  Kita perlu bis yang tempat duduknya lapang sehingga bila kita kebagian duduk di pinggir tidak harus termiring-miring. Kalau perlu, bis dilengkapi toilet dan cafe di bagian belakangnya. Kita perlu juga bis-bis yang semuanya ada wifi sehingga kalau kita bosan tidur, tinggal chatting  dengan kawan.

Selain itu, kita jelas perlu menambah lagi jumlah jalur khusus bis di Jakarta. Di jalan tol pun harus ada jalur khusus bis, busway. Saya sering melihat bis berpenumpang puluhan orang berdesakan dengan mobil pribadi yang isinya satu orang, padahal itu di jalan tol. Kasihan ibu-ibu yang ada di dalamnya. Sudah berdiri, wajahnya berburai peluh sehingga make-up nya luntur karena bis yang ditumpanginya merayap menerobos macet berjam-jam.

Jalan-jalanyang sudah terlanjur kecil dan sempit, dedikasikan sepenuhnya menjadi busway. Yang tidak suka naik bis, silakan jalan kaki.

Oh ya,jangan lupa, nanti kita perlu juga ada ojekway, jalur khusus untuk ojek dan sepeda motor.