Breaking

Thursday, July 24, 2014

Kakanda Hatta Rajasa

Usaha Kakanda mendampingi Prabowo menjadi presiden sudah cukup maksimal. Terus terang, Kakanda telah ikut mendongkrak elektabiltas Prabowo secara siginifikan dengan menambahkan suara pengagum-pengagum Kakanda untuknya. Kalaulah bukan karena bantuan Kakanda serta aktifis muda yang mengagumi kakanda, tak akanlah perolehan suara Prabowo sebesar yang sekarang.

Senior, junior, guru, serta orang seputaran Kakandalah yang telah  menaikkan suara Prabowo secara mencengangkan. Mereka sesungguhnya menginginkan Kakanda, bukan Prabowo. Suara mereka adalah untuk Kakanda demi masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik. Kakandalah yang mereka elu-elukan menjadi tumpuan ummat yang akan mengibarkan bendera tauhid, bukan mantan menantu petinggi orde baru itu.


Kini, pemilu telah usai. Apakah kakanda masih berminat mengejar ambisi pencari-pencari kuasa yang tak berujung itu? Apakah tidak lebih baik Kakanda segera menarik diri dan tidak perlu memenuhi ambisi Prabowo? Apakah Kakanda tidak melihat betapa lucunya sepak terjang Bapak kita yang berkata lantang "siap menang ataupun kalah" itu? Tak perlulah kakanda mendaftarkan diri melakukan stand-up comedy seperti yang dilakukan beliau.

Rasanya, cukuplah upaya yang telah dilakukan Kakanda bersama barisan PAN, alumni ITB, keluarga SALMAN, serta Wong Kito Palembang, yang telah habis-habisan, siang dan malam, mendukung dan mengantarkan mantan petinggi militer itu menduduki kursi kepresidenan sampai selesainya pilpres 9 Juli yang lalu itu. Allah tahu dan bangsa Indonesia tahu niat tulus Kakanda itu. Tak perlulah Kakanda ikut-ikut meratapi nasib Prabowo dengan mencederai martabat Kakanda sendiri.

Biarkanlah, sekarang, Prabowo sendiri meneruskan ambisinya dengan caranya sendiri. Mau ia sebut apapun nama perjuangannya, itu urusan dia. Kita tak tahu persis apa valueyang beliau perjuangkan. Kita punya value yang mungkin tak sama dengan beliau. Valuebeliau mungkin benar menjadi macan di asia, atau menegakkan nasionalisme yang tak akan membiarkan sejengkalpun tanah kita diambil asing. Sangat heroic, memang. Tapi, bukankah value kita menjadi rahmatan lil'alamin?  Bukankah value kita menjadi sirajan muniira?  Apalah artinya tanah yang sejengkal? Jauh berbeda bukan? 

Janganlah Kakanda korbankan niat suci pendukung-pendukung Kakanda sendiri. Ingatlah, doa dan airmata mereka adalah untuk Kakanda, bukan untuk Prabowo. Dalam tahajjudmereka, meraka menyeru Tuhan agar rakyat memberi hati kepada Kakanda.

Ingatkah Kakanda dengan doa Pak Miftah Faridl ketika beliau merestui Kakanda menuju pilpres 2014 mendampingi Prabowo ketika beliau masih sedang sakit? Untuk Prabowokah doa itu atau untuk Kakanda?

Jangan kecewakan Pak Miftah serta guru-guru kita yang lain yang justru akan sangat bangga bila Kakanda tetap menjaga akhlak mulia, bersikap intelektual, dan menjadi seorang yang gentle betapapun tidak terpilih.

Eloklah Kakanda beserta seluruh barisan PAN serta aktifitifis muda lainnya segera menata masa depan politik Indonesia, memperbaiki citra diri di mata masyarakat. Ladang perjuangan kita di depan terbentang luas tak bertepi. Dan tujuan perjuangan kita sesungguhnya bukanlah untuk di dunia ini, tapi untuk di akhirat kelak ketika kita harus menjawab pertanyaan malaikat di kubur dan pertanyaan Allah di mahsyar.

Kalau Kakanda masih akan berpolitik, boleh terus. Hadapilah pemilu 2019 yang tinggal hanya 5 tahun lagi. Kalau masih ada rezeki berupa sisa dana kampanye tahun ini, gunakanlah untuk kepentingan dakwah dan sosial ke depan.  Kalau dananya cukup banyak, tak salah dana itu Kakanda gunakan untuk untuk menstabilkan harga sembako di pasar-pasar menjelang idul fitri tahun ini. Kalau masih banyak lagi, gunakanlah dana itu untuk beasiswa adik-adik kita yang akan masuk perguruan tinggi tahun ini namun dana orang tuanya tak cukup. Mereka akan menyambutnya dengan linangan air mata. Nama Kakanda akan terukir di hati anak bangsa ini.

Tapi, ..... ya sudahlah. tak sangup saya menorehkan kalimat ini lagi.

Ambisi boleh, Kakanda. Tapi takarlah setiap ambisi itu dengan realitas. Tak seorangpun anak bangsa yang beradab dan dari kalangan orang baik-baik menilai positif pada sikap Prabowo memaki-maki KPU dan pelaksana pemilu yang telah bekerja siang dan malam itu. Itu sikap yang memalukan, wahai Kakanda. Tidakkah Kakanda melihat itu?

Cacat pastilah ada. Tak ada gading yang tak retak. Kalau betul ada kecurangan yang bersifat masif dan sistematis di pilpres 2014, tentu penyelesaiannya memerlukan energi besar. Dan pasti hasilnya pun tidak akan maksimal bila dikerjakan secara gopoh. Tak seorang pun orang Indonesia ini yang sekaliber Ifrit, yang menawarkan jasa pemindahan kursi Bulqis sebelum Sulaiman berdiri.

Manakah yang lebih baik menurut Kakanda menyelesaikan masalah kecurangan pemilu itu "sekarang", tapi tergesa-gesa dan tidak maksimal,  ataukah kita mencegah kecurangan masif dan sistematis yang dicurigai itu secara sistematis pula?

Bukankah sesuatu yang sistematis harus dihadapai secara sistematis pula? Bukankah itu yang dulu kita pelajari sama-sama ketika kita dididik di ruang kelas yang sama, ruang serba guna Masjid Salman mengikuti Latihan Mujahid Dakwah?

Mari kita buat perubahan-perubahan ke depan sehingga kecurangan yang sama (jika memang ada) tidak terjadi lagi di pemilu 2019.


Saya,

Jufran Helmi
Junior Kakanda di ITB dan Masjid Salman.

No comments:

Post a Comment