Breaking

Showing posts with label Tasawuf. Show all posts
Showing posts with label Tasawuf. Show all posts

Thursday, June 18, 2015

Thursday, June 18, 2015

The Quranic Arabic Corpus



Banyak sekali sarana yang tersedia di dunia maya untuk mempelajari Al-Quran. Setiap orang pasti punya favorit masing-masing tergantung keperluan masing-masing pula. Kebetulan saya memerlukan kajian Al-Quran secara linguistik, khususnya analisis sintaksis-morfologis yang sederhana, mudha dipahami, tapi cukup lengkap. Setelah cari sana cari sini, saya akhirnya terdampar pada satu laman web berjudul The Quranic Arabic Corpus dengan alamat http://corpus.quran.com/.

The Quranic Arabic Corpus itu, menurut pendapat saya, adalah sebuah proyek luar biasa yang dibuat oleh seseorang yang sangat cerdas. Dia seorang anak muda bernama Kais Omar Dukes. Saya sebut anak muda karena usianya lebih muda dari saya. Dia adalah seorang computer scientist muslim, seorang software developer, berkebangsaan Inggris, peminat komputerisasi linguistik. Dari data-data pribadinya,  dia lahir 5 Desember 1979 di Sussex, England.

Dia adalah putra dari seorang ayah berkebangssan Inggris,  yang kemudian masuk Islam , dan seorang ibu berkebangsaan Arab. Sejak kecil,  Kais tumbuh dalam dua bahasa: Inggris dan Arab. Ia memperoleh gelar Master dalam matematika dari Imperial College, London dan PHD dalam computer science dari University of Leeds, juga di London.

Yang menarik dari usaha Kais Omar Dukes ini adalah ketika ia memilih Al-Quran dalam teks aslinya, bahasa Arab, menjadi objek analisis lingusitik berbasis komputernya. Dia meluncurkan The Quranic Arabic Corpus itu ke publik melalui dunia maya sehingga dapat diakses oleh siapapun dan dimanapun.

Ini, sekali lagi menurut saya, sebuah karya fenomenal di dunia ilmu, khususnya  bagi pencinta ilmu-ilmu  Al-Quran. Dia mungkin bukan yang pertama dalam hal ini. Tapi, apa yang dibuatnya sungguh besar.

Berawal dari riset sederhana yang dijadikannya disertasi doktoralnya di University of Leeds, kini The Quranic Arabic Corpus  itu telah membantu lebih dari 2 juta pengguna di seluruh dunia.

Program online itu terdiri dari beberapa subprogram.  Program pertama adalah analisa Al-Quran kata per kata, word by word. Dalam sub-program ini, setiap kata di dalam Al-Quran diuraikan struktur morfologis dan fungsi sintaksisnya di dalam setiap ayat. Program ini telah memetakan keseluruhan ayata Al-Quran yang tersebar di dalam 114 surat.  Kita bisa memilih ayat mana yang kita mau dan di surat yang mana. Kita tinggal  mengklik  pilihan itu.  Seluruh kata yang terdapat di dalam ayat yang dipih itu ditampilkan utuh.

Untuk membedakan morfologinya,  setiap morfem diberi warna yang  berbeda. Di sebelahnya ditampilkan kedudukan sintaksis kata tersebut di dalam kalimat. Di sebelahnya lagi ada cara membaca dan terjemahannya dalam bahasa Ingris. Di bagian bawah disediakan audio untuk mendengarkan bacaan ayat itu secara akurat.

Kalau kita tidak ingin memasuki ayat per ayat berdasarkan urutannya di dalam Al-Quran tapi langsung ke kata, progam ini menyediakan Quran Dictionary. Dengan Quran Dictionary, kita langsung memilih kata yang kita inginkan.  Kata yang dipilih akan membawa kita kepada makna kata sesuai konteks ayatnya masing-masing.

Agar tidak dimonopoli oleh satu versi terjemahan, Kais menyajikan terjemahan kata-kata dalam bahasa Inggis dari 7 versi yang dikenal luas dunia Islam, diantaranya versi  Shahih International, Pickthall, Yusuf Ali, dan Mhosin Khan.

Yang paling  saya suka  dalam program ini adalah Syntatic Treebank. Setiap kata di dalam satu ayat dikaitkan dengan kata lain tergantung kedudukan kata itu (i'rab)  di dalam kalimat. Misalnya, dalam ayat hamdalah (Al Fatihah:2)  terdapat 5 kata. Kelima kata itu memiliki kedudukan masing-masing. Ada yang berfungsi sebagai khabr, jar, majrur, mudhaf-ilaih, dan badl. Kais menyajikan ketergantungan sintksis itu dalam bentuk diagram.


Bagi yang menekuni Ontology Al-Quran, program ini menyediakan Ontology of Concepts.  Kais membagi ontology Al-Quran ke dalam 12 cabang utama. Setiap cabang dipecah lagi menjadi cabang  yang lebih kecil.  Artifact, sebagai salah satu contoh cabang, telah dipecah menjadi 10  anak cabang. Demikian seterusnya  setiap anak cabang dipecah lagi sampai keseluruhan existensi yang dibahas di dalam Al-Quran terungkai. Yang menariknya, semua konsep-konsep itu disajikan dalam  diagram interaktif. Setiap kata yang ada dalam diagram mengandung link yang membawa kita kepada posisi kata itu di dalam Al-Quran. Semua konsep-konsp yang dipertautkan itu mengacu kepada sumber-sumber klasik, termasuk tasfir Ibnu Katsir.

Bagi yang belum paham istilah-istilah ilmu nahwu -sharaf dan sinonimnya dalam istilah linguistik, tersedia Quranic Grammar secara ringkas. Grammar ini Juga dilengkapi dengan diagram dan aplikasinya dalam semua ayat Al-Quran.

Bagi yang menyukai kajian Al-Aquran secara lingusitik  berbasis sintaksis yang mendalam, jangan lupa mengunjungi   http://corpus.quran.com/. Saya belum menemukan program lain yang lebih dari dari program ini.

Salam,

Thursday, June 18, 2015

Ramadhan: puasa, taqwa, dan Al-Quran


Sudah mafhum bagi kaum muslimin bahwa Allah mewajibkan orang beriman berpuasa di bulan Ramadhan.  Sebagai orang yang beriman, kaum muslimin pastilah akan menyambut seruan berpuasa ini dengan sukacita, penuh keinsafan.  Berbagai persiapan pun dibuat. Bukan hanya orang dewasa yang bersiap diri, anak-anakpun dipersiapkan menyambut seruan puasa sebulan penuh ini.

Betapapun puasa ini wajib hukumnya -- bahkan telah diwajibkan kepada  ummat sebelum ummat Muhammad SAW -- yang harus menjadi catatan kita bersama adalah puasa itu sendiri bukanlah tujuan. Ia bukan destinasi akhir.

Puasa hanyalah sebuah sarana, sebuah proses antara,  menuju taqwa. Destinasi akhir puasa adalah taqwa.

Artinya apa? Dengan puasa, dengan seluruh paket amalan yang menyertainya, orang-orang beriman diharapkan berproses menggembleng diri menuju apa yang disebut "taqwa" itu.

Kalau kita  sekeluarga berfokus  hanya membicarakan proses puasanya saja, proses menahan makan dan minum,  maka rasanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dari sudut medispun bukan satu dua penelitian yang menunjukkan manfaat pausa.

Bahkan, proses puasa itu sendiri secara syariat sangat sederhana. Lihatlah atauran syariat mengenai puasa. Hanya sekedar menahan makan, minum, dan keinginan seksual di siang hari sejak fajar hingga maghrib. Tidak ada bacaan-bacaan khusus. Tidak ada upacara-upacara khusus. Sepanjang batas-batas apa yang disebut menahan itu dijaga, maka besar kemungkinan proses puasa akan sah, berjalan baik dan sukses.

Tapi, bila kita bertanya apakah puasa yang telah dilakukan itu telah menjadi proses menuju taqwa? Nah, di sinilah persoalannya. Kita memang perlu cemas dalam hal ini. Kita tentu tidak ingin kalau dengan puasa, kta hanya mendapatkan lapar dan dahaga semata.

Proses puasa yang merupakan proses menuju taqwa itu bukanlah proses sederhana. Ia bukan proses jasmaniah belaka. Proses menuju taqwa adalah proses yang melibatkan kedua dimensi manusia--jasmaniah dan ruhaniah--sekaligus.

Proses menuju taqwa melibatkan fisik, akal, dan hati. Secara statistik, proses fisiknya banyak yang berhasil, walaupun ada juga beberapa orang yang tumbang, tapi bagaimana  dengan proses akal dan hati? Berapa banyakkah orang yang berpuasa yang hanya dapat fisiknya?

Dalam menyeimbangkan ketiga proses itu berjalan dengan baik, kita sangat perlu melihat satu hal yang disebutkan secara eksplisit oleh Allah berkaitan dengan Ramadhan. puasa, dan taqwa.

"Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Quran."

Artinya, puasa hanya akan menjadi proses menuju taqwa apabila orang berpuasa merapatkan diri pada Al-Quran. Secara fisik ia bepuasa. Bersamaan dengan itu, ia menyirami akal dan hatinya dengan Al-Quran. Secara perlahan akal dan hatinya yang telah rusak oleh pengaruh berbagai obsesi dan ambisi hidup jangka pendek kembali tersadarkan dengan firman-firman Tuhan itu.

Semoga.






Wednesday, January 15, 2014

Wednesday, January 15, 2014

Berjumpa Rasulullah SAW Melalui Mimpi atau Yaqazah

Rabiul Awwal, lebih khusus 12 Rabiul Awwal, adalah hari yang paling banyak dipergunakan untuk berbicara atau berbincang-bincang tentang Rasulullah SAW.  Itu bukan sebagai keharusan tapi hanya kebiasaan saja. Bukan kelahiran beliau saja yang menjadi fokus perbincangan antara kita di saat maulid seperti ini, tapi juga kehidupan sampai kewafatan beliau.  Yang tak kurang diperbincangkan adalah pengalaman spiritual yang dialami beberapa orang berupa perjumpaan dengan manusia utusan Tuhan itu melalui mimpi.  Semoga Allah limpahkan salawat dan salam kepada sang teladan ummat itu serta keluarga dan pengikut yang senantiasa rindu dengan beliau.

Dalam tulisan ini, saya ingin berbicara sedikit perihal bermimpi bertemu Rasulullah.  Saya termasuk yang belum pernah bermimpi bertemu baginda SAW, walaupun saya sangat menginginkannya.

Seorang sahabat saya menanyakan kalau kita bermimpi bertemu Rasulullah dan di dalam mimpi itu kita mendapatkan arahan dari beliau untuk melakukan sesuatu, apakah menjalankan arahan itu  merupakan sesuatu yang bersifat wajib? Saya tidak tahu persis apakah kawan ini memang pernah bermimpi demikian atau ia hanya berandai-andai. Yang tidak bisa disangkal adalah bahwa mimpi bertemu Rasulullah sangat didambakan oleh kaum muslimin.

Yang menjadi dasar keimanan kaum muslimin adalah sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh beberapa perawi hadis yang mengatakan bahwa barang siapa yang bermimpi bertemu Rasulullah, sesungguhnya orang itu benar-benar telah berjumpa dengan Rasulullah karena setan tidak bisa meniru wajah Rasul itu. Nah, kalau di dalam mimpi itu Rasulullah menyuruh orang itu melakukan sesuatu, timbul persoalan apakah perintah itu wajib dijalankan atau boleh ditinggalkan.

Bukankah taat pada Rasul adalah wajib?

Tidak ada yang salah dengan peristiwa mimpi dengan Rasulullah. Setiap orang dapat mengalaminya. Bila kerinduan sesorang kepada Rasululllah sedemikian besarnya, Allah sering meresponsnya dengan cara mempertemukan orang itu dengan Rasulullah di dalam mimpi atau di dalam yaqazah.

Mimpi berbeda sedikit dengan yaqazah. Mimpi terjadi di dalam tidur sedangkan yaqazah adalah sejenis mimpi tapi terjadi ketika seseorang tidak tidur.  Yaqazah dapat terjadi ketika seseorang dalam keadaan diam,  zikir,  atau merenung.  Bisa juga yaqazah terjadi ketika seseorang sedang mengerjakan pekerjaan tertentu.

Walaupun berbeda juga dengan mimpi, pada hakikatnya yaqazah adalah mimpi juga.  Hanya tidur dan tidak tidur saja yang membedakannya.  Karena yaqazah ini tidak dialami oleh banyak orang seperti halnya mimpi, sangat sulit meyakinkan beberapa orang awam kalau yaqazah ini benar-benar bisa terjadi.

Peluang bisa bermimpi dengan Rasulullah adalah satu anugerah yang besar dan luar biasa bagi orang-orang yang beriman.  Kerinduan akan Rasul sering berbuah mimpi dengan beliau. 

Orang-orang tertentu bahkan dapat mengalami yaqazah.  Orang yang beriman sangat merindukan peristiwa itu. Bahkan, Syekh Yusuf An-Nabhani menulis satu buku khusus tentang bagaimana menjemput mimpi dengan Nabi ini. Beliau mengatakan di dalam buku itu bahwa salah satu hikmah bershalawat atas Nabi secara konsisten adalah diperjumpakannya kita oleh Allah dengan Rasulullah SAW melalui mimpi atau yaqazah.

Berbahagialah siapa saja yang pernah bermimpi ataupun beryaqazah dengan Rasulullah SAW tersebut. Semoga mimpi itu merupakan respons pengakuan Allah atas rasa rindu kita yang sangat dalam pada diri uswatun hasanah itu. Pesan-pesan yang diterima dari Rasulullah melalui mimpi itu tentulah pesan-pesan yang berharga.

Tapi, perlu diketahui oleh kita semua bahwa bagi manusia biasa yang bukan nabi atau rasul, tidak ada jaminan dari Allah bahwa informasi/pesan yang kita peroleh dari mimpi atau yaqazah itu sebagai sesuatu yang pasti benar.

Mimpi manusia biasa masih mengandung isyarat atau simbol-simbol yang tak mudah dipahami akal.  Selain itu, mimpi manusia biasa itu bisa diinteferensi oleh obsesi nafsu manusia itu sendiri, dan bahkan dapat diintererensi oleh setan. Bukan tidak ada kebenaran dalam mimpi, tapi kebenarannya sudah tercampur-campur dengan berbagai hal, termasuk nafsu dan setan.

Makanya, dalam syariat Islam, ada tuntunan Rasulullah SAW  tentang apa yang harus kita lakukan kalau kita bermimpi. Tak semua mimpi boleh diceritakan pada orang lain, dan tak semua informasi dari mimpi boleh disebarluaskan.

Allah hanya menjamin kebenaran mimpi para nabi dan rasul (QS:48:27). Bagi orang-orang selain nabi dan rasul, mimpinya masih memerlukan ta’bir (penafsiran akan makna yang sebenarnya). Dan, ta’bir mimpi itu tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Bahkan, tidak semua nabi memiliki kemampuan mena’bir mimpi orang lain seperti kemampuan nabi Yusuf, a.s.

Karena itu, bagi kita yang bukan nabi dan rasul, jadikanlah mimpi itu sebagai sumber inspirasi saja, bukan sumber informasi, karena tidak ada jaminan kebenaran informasi di dalamnya. Sepanjang isi mimpi itu tidak menyalahi syariah dan akal, silakan saja dituruti. Telah banyak orang, seperti pengusaha, seniman, dan saintist yang membuktikan kesuksesannya setelah terinspirasi dari mimpi.

Tapi, jangan lupa, banyak pula orang yang kecewa setelah mengikuti apa kata mimpinya.
Tapi, kalau mimpi itu memberikan informasi yang menyalahi syariah dan akal sehat, jangan sekali-kali dituruti, walaupun yang memberi informasi di dalam mimpi itu mengaku Rasulullah.
Ingat, setan bisa mengaku sebagai Rasulullah walaupun tidak bisa menyerupai wajah beliau. Kalau setan itu datang dan mengaku Rasul, kita yang tidak mengenal wajah Rasul yang asli tentu tidak akan akan mengenalinya.

Seluruh imam mujtahid telah sepakat untuk tidak mendasari ijtihad mereka dari mimpi ataupun yaqazah. Padahal, bermimpi atau beryaqazah pastilah sesuatu yang bukan mustahil terjadi pada mereka juga karena mereka manusia biasa. Mereka justru menutup rapat-rapat isi mimpi dan yaqazah mereka itu untuk orang lain agar tidak disalahpahami, kecuali untuk hal-hal tertentu dengan alasan yang tertentu juga. Dalam semua keputusan ijtihad, mereka  mendasarkannya pada Al Quran dan As Sunnah, dan juga ijma’ ataupun ijtihad ulama yang mendahului mereka.

Kembali kepada pertanyaan semula, “Bagaimana kalau salah seorang bermimpi dengan Rasulullah, dan dalam mimpi itu beliau menyuruh melakukan sesuatu?”
Menurut saya, melakukan sesuatu yang halal tidak salah dalam pandangan syariah dan akal. Silakan melakukannya. Tidak apa-apa, bukan? Tapi bila sesuatu itu adalah sesuatu yang haram, perintah itu wajib ditinggalkan.  Semoga kita terhindar dari pendekatan setan yang dengan lihainya yang dapat menggunakan sarana mimpi berjumpa Rasulullah sebagai alat menipu manusia.

Friday, October 21, 2011

Friday, October 21, 2011

Mimpi Berjumpa Rasulullah


Sahabat baik saya, Gestan Prima Pariska mengajukan satu pertanyaan pada saya. " Kalau ada di antara kami yang bermimpi jumpa Rasulullah saw (tak usah sebut yg yaqazah, nanti  bisa dianggap penipu  oleh Jufran Helmi), dan oleh Rasulullah saw diarahkan untuk ikut, taat, dan bermursyid dengan Abuya, apa kami salah? Apa mungkin Rasulullah saw yg baik menipu? "
  
Semoga jawaban saya memuaskan dan dan dapat diterima dengan baik.
  
Tidak ada yang salah dengan mimpi ataupun yaqazah dengan Rasulullah. Peluang bisa bermimpi dengan Rasulullah adalah satu anugerah yang besar bagi orang-orang yang beriman.  Orang yang beriman sangat merindukan itu. Bahkan, Syekh Yusuf An Nabhani menulis buku tetang salah satu hikmah bershalawat atas Nabi adalah diperjumpakannya kita oleh Allah dengan Rasulullah SAW melalui mimpi atau yaqazah. Karena itu, berbahagialah bagi yang pernah bermimpi ataupun beryaqazah dengan Rasulullah SAW tersebut.
  
Tapi, perlu diketahui oleh kita semua bahwa bagi manusia biasa yang bukan nabi atau rasul, tidak ada jaminan dari Allah bahwa informasi/pesan yang kita peroleh dari mimpi atau yaqazah itu sebagai sesuatu yang pasti benar. Mimpi manusia biasa masih mengandung isyarat atau simbol-simbol yang tak mudah dipahami akal.  Selain itu, mimpi manusia biasa itu bisa diinteferensi oleh obsesi nafsu manusia itu sendiri, dan bahkan dapat diintererensi oleh setan. Bukan tidak ada kebenaran dalam mimpi, tapi kebenarannya sudah tercampur-campur dengan berbagai hal, termasuk nafsu dan setan.
  
Makanya, dalam syariat Islam, ada tuntunan Rasulullah SAW  tentang apa yang harus kita lakukan kalau kita bermimpi. Tak semua mimpi boleh diceritakan pada orang lain, dan tak semua informasi dari mimpi boleh disebarluaskan.
 Allah hanya menjamin kebenaran mimpi para nabi dan rasul (QS:48:27). Bagi orang-orang selain nabi dan rasul, mimpinya masih memerlukan ta'bir (penafsiran akan makna yang sebenarnya). Dan, ta'bir mimpi itu tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Bahkan, tidak semua nabi memiliki kemampuan mena'bir mimpi orang lain seperti kemampuan nabi Yusuf, a.s.

Karena itu, bagi kita yang bukan nabi dan rasul, jadikanlah mimpi itu sebagai sumber inspirasi saja, bukan sumber informasi, karena tidak ada jaminan kebenaran informasi di dalamnya. Sepanjang isi mimpi itu tidak menyalahi syariah dan akal, silakan saja dituruti. Telah banyak orang, seperti pengusaha, seniman, dan saintist yang membuktikan kesuksesannya setelah terinspirasi dari mimpi. Tapi, jangan lupa, banyak pula orang yang kecewa setelah mengikuti apa kata mimpinya.

Tapi, kalau mimpi itu memberikan informasi yang menyalahi syariah dan akal sehat, jangan sekali-kali dituruti, walaupun yang memberi informasi di dalam mimpi itu mengaku Rasulullah. Ingat, setan bisa mengaku sebagai Rasulullah walaupun tidak bisa menyerupai wajah beliau.

Seluruh imam mujtahid telah sepakat untuk tidak mendasari ijtihad mereka dari mimpi ataupun yaqazah. Padahal, bermimpi atau beryaqazah pastilah sesuatu yang bukan mustahil terjadi pada mereka juga karena mereka manusia biasa. Mereka justru menutup rapat-rapat isi mimpi dan yaqazah mereka itu untuk orang lain agar tidak disalahpahami, kecuali untuk hal-hal tertentu dengan alasan yang tertentu juga. Dalam semua keputusan ijtihad, mereka  mendasarkannya pada Al Quran dan As Sunnah, dan juga ijma' ataupun ijtihad ulama yang mendahului mereka.

Kembali kepada pertanyaan semula, "Bagaimana kalau salah seorang bermimpi dengan Rasulullah, dan dalam mimpi itu beliau menyuruh bermursyid dengan Abuya.?"

Menurut saya, bermursyidkan Abuya tidak salah dalam pandangan syariah dan akal. Silakan bermursyid dengan Abuya. Tidak apa-apa, bukan?

Saya pun telah bermursyid dengan Abuya hampir 8 tahun penuh. Banyak ilmu, pelajaran, dan pengalaman yang sangat berguna bagi hidup saya yang saya peroleh selama bermursyidkan Abuya. Hanya saja, dulu saya memilih Abuya sebagai mursyid bukan karena ada isyarat mimpi dengan Rasulullah, tapi dengan pertimbangan syariat dan akal atas semua informasi yang sampai pada saya tentang Abuya dan jamaahnya.

Wallahu a'lam.
Bagaimana pendapat Anda?

Saturday, October 16, 2010

Saturday, October 16, 2010

Maqam dan Makam


Dua orang Indonesia pernah hampir bertengkar tatkala mereka berbeda persepsi tentang monumen yang terletak di depan ka'bah. Apakah itu "maqam Ibrahim" atau "makam Ibrahim"? Kalau diteruskan, mungkin, mereka akan berbunuhan tatkala berbincang tentang "nafsu" dalam makna yang satu, dan "nafsu" dalam makna yang lain lagi.

Apa pasal? Mereka terjebak pada perbedaan makna kata yang mirip bunyinya dan berlaku secara luas, mentang-mentang sama-sama tak pernah kuliah di linguistik. Lebih-lebih lagi, kata-kata itu merupakan bagian dari kajian nilai-nilai keislaman. Rasanya, perlu pula kita kupas permasalahan perbedaan itu.

"Maqam" dan "makam", sama bunyinya namun tak sama maknanya. Para pihak berpegang pada definisi masing-masing. Mereka pun bertengkar. Pasti lebih parah lagi, kalau seandainya mereka berdiskusi tentang "nafsu", sambil "bernafsu" pula. Bisa-bisa mereka benar-benar akan berbunuhan. Saya tak paham apakah itu karena bawaan bangsa ini memang senang bertengkar atau kita ini bangsa yang sudah sangat kaya dengan kosa kata.

"Maqam" berasal dari bahasa AlQuran yang berarti tempat berpijak, atau biasa juga dipakai sebagai tempat berdiri untuk menggapai tempat yang lebih tinggi. Misalnya, saya mau memasang lampu di kamar. Karena saya pendek, maka saya ambil sebuah bangku. Bangku itu adalah maqam saya. Kaum sufi menggunakan istilah maqam untuk menamai tahapan pencapaian kualitas ruhani. Mereka biasa mengatakan, "Perjalanan ruhani akan melewati tujuh maqam." Nah, yang di depan ka'bah itu adalah maqam Ibrahim, bukan makamnya, karena ia adalah batu yang digunakan Nabi Ibrahim ketika meninggikan ka'bah.

Kata, "makam" dalam bahasa kita bermakna kuburan. Makam wali-wali, misalnya, jangan diartikan sebagai level kerohanian para wali seperti muraqabah, musyahadah, dll. Makam para wali adalah kuburan wali-wali, tempat jenazah para wali ditempatkan selepas kewafatannya. Ziarah makam wali-wali sangat dianjurkan oleh tokoh-tokoh sufi untuk mengingati mati. Kita tahu bahwa Nabi Ibrahim wafat di Pelestina dan dikuburkan di sana. Jadi, makam Ibrahim ada di Palestina, bukan di Makkah.

Bagaimana dengan nafsu? "Nafsu", dalam bahasa Arab dan juga dalam Alquran, diartikan sebagai jiwa (soul), sesuatu yang immaterial yang terdapat dalam tubuh manusia yang di dalamnya terdapat berbagai daya. "Nafsu" dalam pengertian ini tidak boleh dibunuh. Membunuh nafsu sama artinya dengan membunuh diri. Tapi, nafsu, dalam bahasa Indonesia, dipahami sebagai birahi, dan cendrung berkonotasi negatif. Orang Indonesia sangat jijik melihat orang yang makan bernafsu. Siapa yang berani mengatakan, "Pak SBY, misalnya, "memimpin dengan nafsu?"

Al Quran sendiri tidak pernah menggunakan kata "nafsu" untuk menggambarkan birahi manusia, tetapi menggunakan kata "hawa". Kalau kita gunakan kata "hawa" memaknai birahi, orang Indonesia akan berpikir bahwa yang kita kita maksud adalah "rasa pada kulit", seperti kita sering menyebut "Bandung berhawa dingin". Nanti, orang akan mengelompokkan "hawa nafsu" bersama-sama dengan "hawa dingin", "hawa panas", "hawa sejuk", dll.

Itu baru dua contoh kepusingan yang saya sebutkan. Silakan cari contoh-contoh lain yang sering membuat orang keliru memahami terminologi AlQuran menggunakan terminologi lokal. Kepusingan itu terjadi ketika terminologi AlQuran diterjemahkan bulat-bulat dengan kata Bahasa Indonesia yang mirip bunyinya atau tulisannya seperti kedua contoh di atas. Kosa bahasa Indonesia yang dipilih itu sering sudah terlanjur didefiniskan berbeda dengan maksud yang diinginkan.

Coba juga kita perhatikan, jangan -jangan ada beda antara taqwa (bahasa AlQuran) dan takwa (bahasa Indonesia, ikhlas (bahasa Al Quran) dan ikhlas (bahasa Indonesia) , tafakur (bahasa AlQuran) dan tafakur (bahasa Indonesia), sabar (bahasa AlQuran) dan sabar (bahasa Indonesia) . Saya belum cek dengan baik. Coba buka AlQuran dan buka pula kamus Bahasa Indonesia. Jangan-jangan, pasangan-pasangan kata itu berbeda makna.

Contoh kata kata juga sering disalahartikan adalah kata "pahit" dalam kalimat, "Sampaikanlah kebenaran itu walaupun pahit." Coba renungkan, apakah "pahit" yang dimaksud adalah pahit bagi si pendengar sehingga pendengar itu harus demam dua hari dua malam ketika penyampaian itu menyakitkannya? Ataukah "pahit" itu pahit bagi si pembicara sehingga ia mesti bermujahadah sebelum berbicara?

Wallahu a'lam
Bagaimana pendapat Anda?

Friday, October 1, 2010

Friday, October 01, 2010

Maqam Muttaqin


Apa makna muttaqin yang sesungguhnya? Terus terang, mencari makna leksikal kata taqwa dalam analisis semantik termasuk sulit. Kata itu sendiri, dalam perbendaharaan kata-kata Bahasa Arab, termasuk dalam kelompok kata-kata asing (gharib) yang jarang dipakai dalam percakapan sehari-hari. Karena itu, makna harafiah kurang tepat untuk digunakan.

Berbeda dengan tiga kata lain yang merupakan basis bagi taqwa, yaitu islam, iman, dan ihsan. Ketiga kata itu dikenal dengan sangat akrab oleh orang-orang Arab sebagai bahasa sehari-hari.

Secara terminologis, seorang yang bertaqwa (muttaqin) memiliki ciri sebagai seorang yang telah berihsan (muhsin). Beberapa ayat Al Quran menegaskan itu. Di lain pihak, secara terminologis juga, ihsan itu sendiri mengandung makna islam dan Iman di dalamnya. Maka dapat disimpulkan bahwa di dalam taqwa terkandung makna ketiga kata itu. Seseorang muttaqin adalah seorang muhsin, yang juga bermakna bhawa dia adalah muslim dan mukmin.

Muslim adalah orang yang taat pada sistem Tuhan (perintah, larangan, dan petunjuk-petunjukNya). Mukmin tidak hanya ta'at, tetapi juga yakin. Ia taat dalam keadaan yakin akan siapa yang ditaatinya itu. Keyakinan itu tumbuh dari tahu, kemudian kenal, dan terakhir yakin akan Allah. Inilah yang dinamakan ma'rifat. Muhsin bukan saja taat dan yakin, tetapi juga sadar. Ia taat dan yakin dalam keadaan sadar penuh akan siapa yang ditaati dan diyakini itu. Dalam ketaatannya itu, ia merasa berhadapan dengan Allah. Seorang muhsin akan diliputi oleh perasaan dilihat Allah (muraqabah). Lebih tinggi lagi, seorang muhsin akan diliputi perasaan melihat Allah (musyahadah).

Muttaqin adalah maqam tertinggi. Muttaqin adalah orang yang memetik buah islam, iman, dan ihsannya itu. Karena itu, seorang muttaqin adalah orang yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan dalam ibadahnya. Buah ibadah sesungguhnya akan diperoleh di level muttaqin itu. Buah itu bukan berbentuk harta benda, tetapi berbentuk sejumlah sikap yang tertanam dalam dirinya, menyatu dalam perbuatan, pikiran, dan perasaannya. Sikap itu juga yang tampak dari perilakunya sehari-hari.

Walaupun sulit menemukan makna leksikal kata taqwa secara semantik, namun kita dapat melihatnya dari ciri-ciri muttaqin sebagai yang digambarkan Allah dalam Alquran. Makna inilah yang penting.

Tiga kelompok ayat-ayat berikut ini merupakan gambaran tiga tingkatan muttaqin.

Ciri-ciri muttaqin yang paling elementer digambarkan pada QS 2: 2-5. Mereka adalah orang yang (1) beriman pada yang ghaib, (2) menegakkan shalat, (3) meninfakkan sebagian rezki mereka, (4) meyakini Al Quran dan kitab-kitab suci terdahulu, (5) meyakini kehidupan di akhirat. Mereka adalah orang yang mendapat petunjuk dan kebahagiaan di dunia.

Ciri-ciri muttaqin pada level intermediate digambarkan pada QS 3: 133-135. Mereka adalah orang yang (1) tetap berinfak baik dalam keadaan lapang ataupun sempit, (2) menahan marah dan mudah memaafkan orang lain, (3) cepat-cepat ingat pada Allah ketika terlanjur berbuat dosa , segera minta ampun dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Dengan tegas Allah mengatakan bahwa mereka adalah seorang muhsin. Ganjaran bagi mereka bukan saja petunjuk dan kebahagiaan di dunia, tetapi bagi merereka ampunan dan surga.

Ciri-ciri muttaqin pada level advance digambarkan pada QS 51: 15-23. Mereka adalah orang-orang yang (1) mengambil apa-apa saja yang datang dari Allah sebagai sebuah ketetapan, (2) sedikit tidur di waktu malam dan istigfar di waktu sahur, (3) pada harta mereka sudah ada alokasi (budget), baik untuk yang meminta maupun yang malu meminta, dan (4) meelihat tanda-tanda Tuhan di bumi, dalam diri, dan di langit. Allah menegaskan sekali lagi bahwa mereka adalah muhsin. Dan, ganjaran bukan sekeda surga, tapi surga yang penuh kenikmatan.

Wallahu a'lam
Bagaimana pendapat Anda?

Thursday, September 16, 2010

Thursday, September 16, 2010

Semantik Islam, Iman, ihsan

Untuk melihat makna Dienul Islam, yang dalam bahasa kita disebut agama Islam, rasanya menarik juga kalau kita menelaah 3 kata kunci yang sering disebut sebagai 3 elemen dasar Al-Islam: islam, iman, dan ihsan. Ketiga kata tersebut dirangkaikan oleh Rasulullah dalam sebuah dialog dengan Jibril yang sangat terkenal itu. Apa hakikat dari ketiga unsur itu? Saya harap Anda sedikit sabar mengikuti penjelasan saya berikut ini. Kita akan telusuri kata-kata itu secara semantik, mulai dari makna leksikal sampai epistimologinya.

Kita lihat secara leksikal terlebih dulu. Kata-kata islam, iman, dan ihsan mempunyai makna yang sendiri-sendiri yang kelihatannya tidak saling mengait. Ketiga kata itu berasal dari rumpun yang berbeda. Tapi, ketiga kata itu telah dikenal oleh bangsa Arab dalam bermacam-macam penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, itu bukan kata asing bagi mereka.

Kata islam adalah bentuk masdar dari wazan "aslama, yusallimu, islaaman", yang artinya menyerah, tunduk, atau taat. Kalau ditelusuri, kata tersebut merupakan turunan dari kata "salama, yaslimu, salaaman" yang bermakna damai, tenang, atau selamat. Kalau digabung, islam berarti sebuah kepatuhan yang tujuannya adalah keselamatan.

Kata iman adalah bentuk masdar dari kata "aamana, yu'mimu, imaanan" yang artinya percaya, mempercayai, atau meyakini. Kata itu merupakan turunan dari kata "amana, ya'minu, amnan" yang berarti aman atau mengamankan. Kalau kita gabung pula seperti kita menggabung makna islam, iman berarti suatu keyakinan yang tujuannya adalah kemananan diri.

Kata ihsan adalah bentuk masdar dari wazan "ahsana, yuhsinu, ihsaaanan" yang artinya sempurna, lebih sempurna, atau menyempurnakan. Kata itu merupakan turunan dari wazan "hasana, yahsinu, hasanan" yang berarti baik atau berbuat baik. Sekali lagi kita menggabung maknanya, ihsan itu adalah sesuatu yang lebih sempurna yang tujuannya berbuat kebaikan dan mafaat.

Jangan berhenti dulu. Sekarang mari kita lihat secara epistimologis. Istilah Islam, yang bermakna kepatuhan itu, telah dipilih Alllah sebagai nama agama ini. Pasti ada maksud Allah memilih itu. Menurut saya, pemilihan itu dengan jelas menunjukkan bahwa Allah menjadikan kepatuhan pada hukumNya sebagai identitas agama ini. Siapa yang patuh pada hukum Allah, dia muslim. Yang tidak patuh adalah non-muslim alias kafir. Sudah barang tentu tingkat kepatuhan akan bebeda-beda pada setiap individu manusia.

Seluruh isi alam semesta, menurut Allah, pun telah patuh. Mereka pun muslim. Seluruh alam raya, mulai dari jamadat yang mikro sampai yang makro, tunduk dan patuh kepada hukum-hukum Allah. Bila manusia bisa menyertai mereka dalam kepatuhan itu, manusia akan selamat. Sebaliknya, bila manusia hidup berbeda dengan mereka, padahal manusia ada bersama mereka, manusia akan celaka dan sengsara.

Tapi, cukupkah kalau sekedar taat dan patuh bagi manusia sebagaimana tunduk dan patuhnya alam raya? Jelas tidak. Bukankah manusia dicipta sebagai makhluk yang mempunyai kelebihan dibandingkan dengan alam semesta? Bukankah manusia ini khlaifah Allah di alam raya ini? Pasti ada bedanya.

Manusia telah diberi kelebihan berupa hati dan akal sehingga keselamatannya tidak cukup hanya sekedar taat secara lahiriah saja. Di situlah letak bedanya. Walaupun hati dan akal manusia berkendak, manusia diminta menundukkannya juga pada kehendak Tuhan. Kalau tidak, akal manusia akan sangat liar sehingga akhirnya dapat membahayakan manusia itu sendiri. Keyakinan akan Allah merupakan hasil dari penundukan akal kepada Allah. Maka, dengan keras Allah menolak ketaatan manusia yang bukan didasarkan keyakinan. Disinilah esensi iman yang dituntutkan sebagai simbol ketaatan manusia yang berbeda dari alam lainnya.

Terakhir, perlu direnungkan dalam-dalam, bahwa manusia bukan sembarang makhluk dengan semua kelebihannya itu. Allah menyatakan bahwa manusia diutus sebagai khalifah Allah. Wajarlah kalau kehadirannya mesti membawa kebaikan bagi seluruh alam. Dengan sederhana kita bisa melihat bahwa sekedar taat walaupun yakin ternyata tidaklah cukup. Ia dituntut memahami tujuan ketaatan dan keyakinan itu. Tujuan yang paling sempurna adalah Allah, karena Dialah sumber dari semua kebaikan itu. Itulah esensi ihsan.

Kalau ketiga kata itu: islam, iman dan ihsan, kita lihat sebagai sebuah terminologi berdasarkan AlQuran dan AsSunnah, terdapat hubungan semantik yang sangat erat antara ketiganya. Ternyata ketiga-tiganya digunakan dalam makna yang saling berhubungan. Hubungannya bukanlah hubungan sinonimi seperti yang banyak dipahami orang, melainkan hubungan hiponimi atau meronimi. Maksudnya, makna kata yang satu telah tercakup dalam kata lainnya.

Maksudnya, Islam mempunyai makna yang paling umum dalam ketiga kata tersebut. Iman lebih lempit dan ihsan adalah yang paling sempit. Di dalam makna Islam telah tercakup iman dan ihsan. Sedangkan dalam iman tercakup ihsan.

Kalau saya gambarkan makna kata islam dengan sebuah lingkaran, kata iman akan berbentuk lingkaran yang lebih kecil yang keseluruhan bagiannya berada di dalam lingkaran makna islam. Makna kata ihsan sendiri akan berbentuk lingkaran yang lebih kecil lagi dari iman yang keseluruhannya berada di dalam lingkaran makna iman. Dengan kata lain, seorang muhsin pastilah mukmin, sementara tidak semua yang mukmin adalah muhsin. Semua mukmin pastilah muslim sedangkan tidak semua muslim adalah mukmin.

Kita bisa analogikan hubungan semantik islam, iman, dan ihsan dengan hubungan semantik makna hewan, mamalia, dan sapi. Semua sapi adalah mamalia dan semua mamalia adalah hewan. Itu juga berarti bahwa tidak semua hewan adalah mamalia, dan tidak semua mamalia adalah sapi. Penganologian itu akan menyimpulkan bahwa semua muhsin adalah mukmin dan semua mukmin adalah muslim. Penganalogian juga berarti bahwa tidak semua muslim adalah mukmin dan tidak semua mukmin adalah muhsin.

Wallahu a'lam.
Bagaimana pendapat Anda?

Tuesday, September 14, 2010

Tuesday, September 14, 2010

Tranformasi Iman melalui tariqah

Hampir semua kita sepakat bahwa iman akan melahirkan rasa takut dan cinta pada Tuhan. Kalau iman pada Tuhan itu benar-benar ada di hati, orang itu akan takut dengan Tuhan. Rasa takut akan melahirkan ketaatan pada hukum Tuhan. Jadi mustahil orang yang beriman bermaksiat.

Yang nampaknya kurang disepakati di kalangan penda'wah adalah bagaimana memasukkan iman itu ke dalam objek da'wahnya. Sebagian mengira iman bisa ditumbuhkan melalui transfer ilmu. Maka diadakanlah berbagai majlis ilmu, diterbitkanlah buku-buku Islam sebanyak mungkin, didirikanlah sekolah-sekolah keilmuan Islam, diadakan seminar, training keislaman,dll. Hasilnya? Ya, "ilmu" . Trasnfer ilmu hasilnya ilmu. Ilmu memang bertambah luar biasa. Masyarakat menjadi lebih faham dengan Islam. Orang-orang menjadi lebih pandai berbicara dan menulis tentang Islam. Banyak yang lebih pandai berdalil dan berhujjah. Di mana-mana bermunculan label-label Islam.

Bagaimana dengan iman? Bahwa masih buruknya akhlak dan banyaknya maksiat merupakan petunjuk bahwa iman ternyata tidak bertambah dengan bertambahnya ilmu. Bahkan iman bisa berkurang dengan sangat drastis meskipun ilmunya tidak berkurang. Bukti itu banyak sekali. Orang awam saja melihat bukti-bukti itu dengan kasat mata.

Adalah Hasan Al-Bishri, orang yang sering disebut-sebut sebagai tokoh yang pertama sekali mencetuskan secara sistematik bahwa iman tidak bisa ditumbuhkan melalui ilmu. Beliau menawarkan suatu proses yang disebut tariqah (jalan spiritual). Istilah tariqah sendiri tidak pernah dipakai di zaman Nabi. Namun, beliau yakin bahwa Nabi menggunakan cara tersebut menumbuhkan iman para sahabatnya. Sahabat yang sering disebut sebagai model aplikasi tariqah Nabi adalah gurunya sendiri, yaitu Saidina Ali Bin Abu Thalib. Proses tariqah nabi sering dirujukkan juga kepada proses yang dilakukan Nabi kepada sahabat yang tinggal di asrama masjid Nabi yang dipanggil Ahlu Shuffah.

Ciri khas tariqah terletak pada 3 unsur penting: mursyid, murid, dan metoda yang disebut suluk. Di dalam tariqat, mursyid bukan sekedar guru. Mursyid adalah pemimpin spiritual yang berfungsi sebagai guru sekaligus pembimbing. Fungsi pembimbing jauh lebih dominan. Karena itu keberadaan mursyid ini mutlak karena dipandang sebagai wasilah bagi mengalirnya iman ke dada murid. Untuk fungsi itu, mursyid harus memiliki tingkat iman yang tinggi, jauh lebih tinggi dibandingkandengan murid. Tanpa tingkat iman yang tinggi ini, ia tidak mungkin berfungsi sebagai transformer iman yang akan mencetuskan iman di hati para murid.

Murid, atau sering disebut salik, sendiri adalah orang yang secara sengaja menempuh tariqat tanpa paksaan. Kerelaan itu biasanya diikat dengan suatu bai'ah dengan mursyid.

Suluk adalah suatu metoda yang terpadu dan terpimpin. Suluk terdiri dari berbagai penugasan, latihan, dll yang harus dilakukan secara istiqamah. Metoda pun bertingkat-tingkat. Metode adakalanya seragam bagi semua murid, tapi adakalanya berbeda-beda tergantung pada individu. Tapi, inti dari semua metoda adalah "pergaulan" yang rapat antara murid dengan mursyid. Pergaulan yang rapat dan komunikasi intensif antara murid dan mursyid dipandang sebagai metoda yang paling ampuh dalam transformasi iman.

Tariqah terdiri 3 paket : (1) penyadaran, (2) pemahaman, dan (3) penghayatan. Walaupun paket-paket itu dimulai secara bertahap: 1,2 dan 3; namun akhirnya ketiga paket berjalan secara simultan. Yang perlu dicatat adalah bahwa pada semua paket itu, murid harus selalu terhubung rapat dengan mursyid.

Pada paket penyadaran, murid dibawa kepada rasa perlu dengan agama dan Tuhan. Paket ini diberikan pada tahap yang paling awal. Dalam paket ini, Nabi tidak terlalu mempermasalahkan berbagai interpretasi berbeda tentang identitas keislaman seseorang. Sepanjang dia tertarik dengan Islam dan bersedia bergabung dengan Islam, mereka dipandang muslim. Bahkan Nabi sendiri sering memberikan definisi Islam yang berbeda-beda sesuai dengan keadaan mereka masing-masing.

Pada paket pemahaman, murid dibawa kepada proses transfer ilmu. Ada ta'lim. Rasulullah memulakan paket ini dengan memperkenalkan Allah serinci-rincinya. Inilah yang dikenal dengan istilah "awwaluddin ma'rifatullah.

Pada paket yang ketiga, murid dibawa kepada pengamalan spiritual. Murid dibawa kepada satu kondisi sehingga dia merasakan bagaimana rasanya beragama itu. Murid tidak hanya diberitahu tentang sifat-sifat Allah, tapi mereka dibawa merasakan sifat-sifat Allah itu. Ma'rifatullah pada paket kedua dipadukan dengan pegamalan lahiriah (syariat) dan pengamalan batiniah (hakikat).

Islam adalah kepatuhan pada syariah. Islam pada tahap yang paling elementer tidak mempersoalkan apa sebab ia patuh. Yang penting ia patuh. Apapun sebab kepatuhannya, keislamannya diakui oleh Allah dan Rasul. Maqam pertama adalah islam. Tapi, kepatuhan semacam itu tidak ada jaminan selamat. Allah hanya menerima kepatuhan karena Allah saja. Inilah yang disebut iman, sebagai maqam kedua. Ada satu maqam lagi. Kepatuhan karena Allah masih belum sempurna. Di maqam ketiga, Allah menghendaki semua kepatuhan mesti ditujukan hanya untuk Allah. Inilah Ihsan.

Kalau kita kaitkan tariqat dengan ketiga maqam itu, ini berarti bahwa tariqah adalah satu proses terpadu dan terpimpin yang ditempuh oleh seseorang untuk berpindah dari maqam islam, menuju iman, dan kemudian naik ke ihsan. Maqam Islam adalah maqam pijakan awal. Maqam iman adalah maqam cukup. Maqam ihsan adalah maqam sempurna. Buah dari proses tariqah itulah yang dinamakan taqwa. Maqam tertinggi manusia adalah muttaqin, orang yang bertaqwa.

Jadi, tariqah adalah proses transformasi iman, bagi seorang muslim menuju maqam tertinggi muttaqin.

Wallahu a'lam
Bagaimana pendapat Anda?

Monday, September 13, 2010

Monday, September 13, 2010

Identitas Keislaman


Kita harus mengakui bahwa sebagian besar kita, masyarakat Indonesia, terlahir sebagai muslim. Identitas keislaman yang kita anut di Indonesia pun ternyata tidak muluk-muluk. Bila seseorang ketika lahirnya diazankan dan ketika kanak-kanak disunat, kita sudah anggap ia muslim. Kalau tidak tinggal shalat 5 waktu dan puasa Ramadhan, ia sudah tergolong muslim yang taat. Bila membayar zakat dan mengerjakan haji, lebih-lebih lagi, ia sudah bisa dianggap muslim yang sangat taat. Bahkan, bila seseorang yang sudah pandai berkhutbah di mimbar, di Indonesia tidak lagi dipandang sebagai muslim yang taat, tetapi sudah dipandang sebagai ulama.
Identitas semacam itu sebenarnya tidak salah. Allah sendiri yang melegalkannya. Dalam Surah Al Hujurat ayat 14-18 tentang orang-orang Badui yang mengaku beriman, Allah mengingatkan Rasulullah bahwa mereka hanya tidak boleh menggunakan identitas sebagai mukmin. Allah melegalkan kalau mereka mengaku muslim.
Jadi, memang sesederhana itulah identitas keislaman. Bila seseorang sudah mengucapkan dua kalimah syahadah, maka terlindunglah darah dan hartanya sebagai muslim. Kalau seseorang itu terlihat shalat, maka bolehlah ia kalau mati dikuburkan dengan cara Islam. Kalau simbol-simbol Islam telah menempel pada diri dan keluarganya, termasuk di KTP, tak layak lagi seorangpun yang boleh mengira dia sebagai non muslim. Ya, sederhana sekali. Jadi kalau kita refleksikan ke masyarakat Indonesia, tidak salah kalau ada yang menghitung bahwa muslim di sini lebih dari 95%.
Pertanyaannya, mengapa akhlak Islam tidak berlaku pada masyarakat Islam yang mayoritas itu?
Agama ini memang bernama Islam. Tapi esensi agama ini adalah keimanan, bukan keislaman. Iman dan Islam suatu hal yang berbeda. Manusia boleh mentaati syariat Islam dengan motif apapun untuk bisa disebut muslim, tapi keta'atan yang diakui Allah hanyalah keta'atan yang didasarkan Iman. Buktinya, orang-orang Badui boleh diakui keislamannya. Bahkan orang-orang-orang munafikpun diakui keislamannya. Tapi mereka bukan mukmin.
Nah, berapa banyak mukmin inilah yang menjadi persoalan besar kita. Yang muslim jelas banyak. Bahkan, negara yang paling banyak muslimnya di dunia adalah Indonesia. Yang baru kita sensus adalah jumlah muslim, bukan jumlah mukmin. Yang kita klaim sebagai mayoritas di Indonesia adalah muslim, bukan mukmin.
Sementara, yang menjamin seseorang itu tidak bermaksiat bukanlah keislamannya, melainkan keimanannya. Hal itu disebabkan karena hanya iman yang melahirkan rasa takut pada Allah, sementara Islam tidak. Iman melahirkan takut dan cinta di hati seperti garam melahirkan rasa asin di lidah. Orang yang takut pada Allah tidak akan berani bermaksiat pada Nya.
Kalau kita melihat identitas keislaman baru di sisi ritualnya, seperti syahadat, shalat, puasa, zakat, haji, alquran, atau berbagai upacara keagamaan, kita baru berbicara dimensi yang terluar dari agama ini. Kita belum memasuki esensinya, yaitu iman.
Kalau iman saja belum kita masuki, bagaimana mungkin kita menyinggung masalah yang jauh lebih ke inti, yaitu ihsan. Padahal, sudah menjadi ijma' bahwa dienul Islam ini terdiri dari tiga elemen: islam, iman, dan ihsan. Sementara, akhlak yang sering kita pertanyakan itu, tidak lain dan tidak bukan, adalah buah dari gabungan islam, iman dan ihsan itu.
Jadi, tidak nampaknya akhlak Islam berlaku di tengah masyarakat muslim, besar kemungkinan karena mukmin di Indonesia memang sangat minoritas di tengah-tengah mayoritas muslim itu. Yang mukmin itu sedikit artinya yang takut bermaksiat hanya sedikit. Artimya, yang berakhlak Islam itu sedikit. Jumlah itu terlalu terlalu sedikit dibandingkan dengan yang tidak mukmin sehingga tidak mungkin mewakili masyarakat muslim secara keseluruhan. Berapa persen? 1 sampai 2% mungkin masih terlalu banyak. Wallahu a'lam.
Di zaman Rasulullah sendiri, jumlah mukmin memang lebih sedikit dibanding muslim. Tapi perbedaannya tidak terlalu banyak. Yang tidak mukmin tapi muslim, ketika itu, hanya beberapa orang Badui ditambah beberapa orang munafik. Tapi, di masyarakat kita sekarang, perbedaan itu sangat signifikan. Muslimnya mayoritas sedangkan mukminnya minoritas. Jadi, jangan terlalu banyak berharap perbaikan akhlak mendasar seperti yang diharapkan akan segera terjadi di Indonesia.
Kalau begitu, yang harus segera diupayakan di Indonesia, untuk terbentuknya akhlak bangsa yang baik, adalah transformasi yang sesegera mungkin dari muslim ke mukmin. Untuk melakukan transformasi itu jelas tidak mudah. Pertama, kita harus tahu terlebih dahulu apa iman itu. Kita harus paham apa yang membuat iman bertambah dan berkurang. Ini berarti persoalan aqidah.
Kemudian, kita harus tahu pula bagaimana iman itu bisa tertransfer ke dada seseorang. Apakah iman itu tertransfer melalui transfer ilmu, seperti yang banyak diduga, atau melalui metoda lain. Ini berarti persoalan tasawuf.
Terus terang, banyak yang keliru mengira iman berbanding lurus dengan ilmu agama. Ini jelas tidak sesuai dengan fakta. Telah terlalu banyak bukti ketidaksingkorannya itu. Tapi sayangnya, sistem da'wah Islam, baik melalui sekolah resmi ataupun ceramah-ceramah, masih berorientasi pada transfer ilmu.
Bagaimana pendapat Anda?
Wallahu A'lam

Sunday, September 12, 2010

Sunday, September 12, 2010

Tamu itu telah benar-benar pergi.


Astagrifulllah,
Tamu itu telah benar-benar pergi.
Sepuas hati menangislah, namun jarum jam tak mungkin berbalik arah.
Apa arti gembiraku ketika datangnya dan sedihku ketika perginya?
Jika jawadah bawaannya terbiar basi?
Apa arti sukaku di ketibaannya dan dukaku di keberangkatannya?
Bila ia singgah aku pun gelisah.
Apa arti tawaku ketika menyambutnya dan ratapku ketika melepasnya?
Bila aku lebih berhajat dengan syahwat? 
Jantungku bukan saja seperti batu, 
Tapi bahkan lebih batu daripada batu-batu.
Berduri yang lebih tajam daripada semua duri
Berbau busuk yang lebih busuk daripada semua yang busuk.
Tak ada arti bagiku kilap intan dan mutiara.
Karena ternyata aku lebih suka dengan tinja manusia.
Tuhan,
Biarkan aku mengetuk pintuMu.
Biarkan aku berlindung dalam belas-kasihMu.
Aku relakan tamu itu pergi.
Biarlah kutunggu sampai ia kembali.


1 Syawal 1431 H / 10 September 2010






Comment ·Like · Hasan Hariri, Heri Hermawan Subhanaalloh...
Saturday at 11:37am via Risza Agustina Entah apa yg bs menggambarkan penyesalan ats kesalahan dan kekalahan ini, saya tlh gagal pak, hanya rintihan harapan kan d beri kesmptn tuk bjumpa dg nya lg dg kondisi lbh baik.. Amin
Saturday at 12:08pm via Suparmana Hs Waktu telah sirna, tak sempat menjamunya dengan selayaknya.....
Saturday at 2:12pm · Like ·
Facebook Mobile · Like ·
Facebook Mobile · Like ·
Jusuf Fateh, Pakop Dahlan and 3 others like this.

Share

  • Endah Kurniadarmi Beginilah adanya kita, demikianlah usaha yang telah dilakukan, semuanya sudah menjadi sebuah kenangan. Ada rasa sesal, namun kita tidak boleh larut dalam penyesalan. Paling tidak selepas Ramadhan, perbuatan kita menjadi lebih baik lagi.Selamat berekspresi!
    Saturday at 5:11pm · Like ·
  • Jufran Helmi
    @Herri, Risza, Suoarmana, dan Endah. Kadang-kadang sesuatu yg berharga itu terasa berharganya setelah ia hilang. Ketika dia di depan mata, kita cendrung menyia-nyiakannya. Saya setuju, kalau kita tak boleh putus asa. Kita bangunkan jiwa ini sehingga Ramadhan tahun depan, kita sunguh-sungguhi.
    Saturday at 5:49pm via Jufran Helmi
    @Herri, Risza, Suoarmana, dan Endah. Kadang-kadang sesuatu yg berharga itu terasa berharganya setelah ia hilang. Ketika dia di depan mata, kita cendrung menyia-nyiakannya. Saya setuju, kalau kita tak boleh putus asa. Kita bangunkan jiwa ini sehingga Ramadhan tahun depan, kita sunguh-sungguhi.
    Saturday at 5:53pm via Ersis Warmansyah Abbas Pergi dalam tertanam di dada; Amin
    Saturday at 8:19pm · Like ·
    Facebook Mobile · Like ·
    Facebook Mobile · Like ·
  • Jufran Helmi
    @Pak Ersis. Insyaallah Pak
    10 hours ago · Like ·
  • Yogaswati Dewi

    Bahkan aku telah berbuat suatu kesalahan lagi...
    Oh, Astagfirullah.. Astaghfirullah...
    kalaulah bukan karena Kasih sayangMu ya Robbi.. tentulah hamba telah menjadi orang yang merugi..
    Semoga setiap detik kita senantiasa mampu beristighfar da...
    See More10 hours ago · Like ·
  • Jufran Helmi
    @Yogas. Amiin