Breaking

Friday, January 8, 2010

Friday, January 08, 2010

Generasi muda yang sedang malas


Malas. Saya hari ini benar-benar malas mikir. Hasilnya, malas menulis. Ini gara-gara libur kelamaan. Kerjaan menumpuk. Melihatnya saja, malas. Cuti yang terlalu panjang ternyata tidak enak dalam artian sesungguhnya. Otak seperti dihentikan bekerja dan kemudian harus dipaksa kembali berjalan dengan cepat. Seperti mobil yang dipaksa ngebut di jalan tol Simatupang setelah istirahat seminggu. Rasanya satu demi satu sel neuron otak kendur bautnya.
 Tentang generasi muda? Hari ini judulnya generasi muda. Sala malas menulis tentang generasi muda. Bagaimana kalau generasi tua saja? Ei, malas juga. Ah, generasi muda saja.Tidak apa. Jalanin aja.
 Notes dari guru saya sore ini benar-benar menyentil. Teras sakit di kuping, panas di dada, gatal di punggung. Katanya, "Menulis tidak mood, alias malas. Si Raja Alasan, si Ratu Berkilah." Ya Allah, alangkah malunya. (Eh, diam-diam masih punya rasa malu nampaknya, walaupun malas).
 Ini masih malas, belum bangkit gairah. Walaupun dalam keadaan malas, saya coba juga deh menulis. Macet ...., macet..., dan macet lagi.
 Tidak ada hal yang penting yang akan saya tulis. Saya pasti tidak akan menulis tentang ekonomi, politik, fisika, astronomi, apalagi filsafat. Namanya juga lagi malas. Saya hanya mau buktikan apakah menulis bisa dilakukan dalam keadaan "malas menulis". Anda pasti akan malas membacanya, bukan? Lho wong, saya saja menulisnya malas. Begitu aja kok repot.
 Eh, menulis dalam keadaan sibuk, sudah saya buktikan. Menulis dalam keadaan emosi, sudah juga. Menulis sedang kepepet apalagi. Tesis saya dulu, saya kerjakan dalam keadaan kepepet. Sebulan selesai. Dosen bingung. (Buka rahasia).
 Mengapa mesti saya coba menulis dalam malas?
 Soalnya begini. Dulu saya pernah bertanya pada seorang kawan "Mengapa hari ini Anda tidak menulis? Ngakunya mau jadi penulis?" Dia jawab seenaknya, "Saya sedang malas menulis. Pikiran sedang kacau dan buntu." Saya menuduhnya, "Ah alasan aja. Siapa bilang menulis tidak bisa dalam keadaan malas?" Aduh, sombong sekali saya ,ya?
 Sekarang, saya jadi malu hati sendiri. Hampir-hampir saja saya hari ini tidak menulis dan akan melemparkan alasan, "Saya sedang malas." Dalam istilah kerennya, "Saya sedang tidak mood." Atau yang lebih keren lagi, " Saya sedang mencari inspirasi." Ciileh.
 Aduh malasnya… (menguap). Apa ya? Susah sekali menemukan ide apa yang akan hendak ditulis dalam malas begini. Sudah sepanjang ini, masih bingung? Hari sudah sore lagi. Istri sudah menunggu. Jam seperti tidak maju-maju. Dari tadi, baru segini.
 Oh ya, saya rencana mau menulis tentang generasi muda. Saya belum ketemu judulnya. Generasi muda yang malas. Lho, saya kan generasi muda. Siapa bilang saya sudah tua? Saya masih merasa muda. Jadi, saya mau cerita tentang diri saya. Ya, sudahlah. Tulisan ini saya beri judul "Generasi muda yang malas menulis."
 Kemarin kawan saya seperti marah-marah dalam tulisannya tentang pemalsuan sejarah bangsa Indonesia oleh penulis barat. Saya malah bertanya, "Mengapa kita tak tulis sendiri sejarah kita? Mengapa kita baca tulisan orang lain, padahal palsu?" Kalau generasi mudanya bergaya seperti saya sekarang ini, mau nulis malas, mau mikir malas, mau kerja saja malas, bahkan mau malas saja juga malas, jangan kita pernah menyalahkan orang lain. Wajarlah kalau sejarah kita ditulis seenaknya oleh orang-orang itu.
 Saya tidak tahu apakah tulisan ini bisa diselesaikan atau tidak? Generasi muda artinya kumpulan orang-orang muda. Orang-orang muda artinya orang-orang yang belum dewasa atau mau dewasa. Jadi, kalau orang muda malas, jangan-jangan karena orang tuanya salah mengasuh. Orang tua banyak memanjakan. Mereka tidak diberi tantangan. Dibiar-boarkan saja. Kalau memang begiu, wajarlah kalau mereka malas dan tidak sanggup melawan kemalasan…..
 Kawan, saya minta maaf. Hanya seginilah yang dapat saya tulis dalam keadaan malas. Ya, sekedar uji coba. Seorang muda yang menulis dalam gaya malas.
 Bagaimana pendapat Anda?
 Wallahu a'lam.
Friday, January 08, 2010

Right or wrong, it's my country


"Mau benar mau salah, yang penting ini negara saya."
Inikah yang kita maksud dengan kesadaran nasional yang tinggi? "Pokoknya, mau salah, mau benar, saya tidak mau peduli." Inikah yang kita inginkan dari setiap warga negara? Inikah nasionalisme itu? Wah berat ini.
Yang paling risau dengan rendahnya kesadaran nasional, biasanya penguasa. Rakyat kecil biasa-biasa saja. Kampanye untuk meningkatkan kesadaran nasional biasanya digencarkan oleh pemegang kekuasaan atau orang-orang-orang yang berada pada elit politik dan kekuasaan. Mereka khawatir kalau rakyat membiarkan mereka memegang amanah negara sendirian tanpa dukungan rakyat.
Sang penguasa, di manapun, selalu dihantui ketakutan kalau-kalau warganya tidak punya kesadaran nasional, hanya mementingkan diri sendiri dan keluarga. Mereka meninggalkan kepentingan bersama yang lebih luas. Yang berkuasa takut, setelah berbagai fasilitas disediakan oleh negara, rakyat terlena, lupa bahwa setiap individu harus punya nasionalisme yang memadai. "Kalau tidak ada kesadaran nasional, negara akan hancur. Ujung-ujungnya individu tak punya pembelaaan lagi," kata penguasa.
Yang selalu dikutip penguasa adalah ucapan seorang negarawan Amerika yang sangat terkenal, Jhon F Kennedi, yang kesal dengan warganegaranya yang selalu menuntut. "Jangan tanyakan apa yang telah negara berikan padamu, tapi tanyalah apa yang telah engkau berikan pada negaramu". Maksudnya, "Jangan hanya pikir diri sendiri dong. Pikir juga dong kami. Kami juga susah."
Itu teori yang biasanya jauh panggang dari api. Dalam prakteknya, kepentingan nasional selalu dikalahkan oleh kepentingan perorangan dan golongan. Dalam pengamatan saya, yang tidak punya kesadaran nasional itu justru para pemegang kekuasaan. Kalau itu terjadi pada rakyat, apalah pengaruhnya? Paling-paling mereka hanya enggan ikut pemilu atau ikut KB. Tapi, kalau yang tak punya kesadaran nasional itu adalah para pemegang kekuasaan dan elit politik, Anda bisa bayangkan. Mereka akan menjarah negara untuk kepentingan pribadi dan keluarga. Mereka akan mengisap manusia atas nama negara. Mereka akan "aji mumpung". Mumpung ada kursi, mumpung ada kuasa.
Di zaman orde baru, kesadaran nasional selalu ditatarkan. Hasilnya, rakyat sadar. Orang kampung saya yang cara berpikirnya sederhana, bersedia mengorbankan hak-hak individu dan keluarga demi kepentingan yang lebih besar, yaitu kepentingan bersama. Tanah dan ladang, mereka relakan tanpa ganti rugi untuk pembanguna jalan raya. Mereka rela tak pergi ke sawah, demi untuk gotong royong memperbaiki saluran air di kampung. Yang tidak sadar-sadar justru penguasa dan orang-orang yang duduk di barisan kekuasaan. Sehingga saya berpikir mengadakan penataran untuk pejabat-pejabat dari presiden sampai kepala desa. Yang menatarnya, rakyat kecil.
Memang tak sanggup membayangkan bila satu negara dikelola oleh makhluk yang korup. Rakyat dihasut untuk patuh dan taat berkesadaran nasional yang tinggi. Tapi, ujung-ujungnya, semua ketaatan itu akan dimanfaatkan untuk kesejahteraan kelompok sendiri. Yang lebih ganas lagi, rakyat dihasut membela negara sampai tetes darah penghabisan. Mau benar mau salah. Right or wrong, it' s my contry. Itu gila benar. Nasionalisme sontoloyo. Mau dibawa kemana negara ini?
Rakyat dihasut untuk menyerang negara lain. Rakyat dihasut perang dengan negara tetangga hanya untuk satu persoalan kecil. Urusan dalam negeri saja yang lebih besar masih kacau balau. Ini malah hubungan dengan negara lain sudah dirusak. "Negara kita benar. Negara tetangga kurang ajar." Bendera negara lain diinjak-injak dan dibakar. "Benar atau salah, aku tak peduli. Yang penting ia negeraku." Saya mau bertanya. Inikah kesadaran nasional itu?
Ucapan itu sebenarnya dipotong secara tidak fair dari seorang negarawan asal Jerman , Carl Scurz tentang nasionalisme. Dia memang pernah mengucapkan itu. Tapi masih ada lanjutan kalimatnya. Pernyataan sebenarnya adalah "My country, right or wrong; if right, to be kept right; and if wrong, to be set right." Kalau diterjemahkan, "Benar atau salah, ia negaraku. Jika benar, harus dipertahankan. Jika salah harus diperbaiki. Tidak ada pembenaran bagi kesalahan. Yang salah harus diperbaiki. Yang bengkok harus diluruskan.
Kita semua memerlukan negara. Kita memerlukan satu instansi yang memaksa agar kepentingan bersama tegak. Kalau semua urusan diserahkan kepada individu, semaunya masing-masing, setiap individu cendrung mengalahkan kepentingan individu lain. Hukum rimba saja tidak begitu. Ide tentang adanya kepentingan negara dan kewajiban setiap warga membela negara merupakan satu hal yang sangat esensial dalam kehidupan manusia.
Saya penganut nasionalisme. Saya cinta negara karena saya perlu dengan negara. Dengan adanya negara, hukum akan ditegakkan. Yang benar akan dilindungi, yang salah akan diberi sanksi. Negara adalah alat untuk mempertahankan kepentingan bersama, keamanan bersama, dan ketertiban bersama.
Tapi saya tidak mau menyembah negara. Saya tidak mau meletakkan negara di atas segala-galanya. Saya tidak mau nasionalisme buta seperti terungkap dalam pernyataan, "benar atau salah adalah negeriku." Itulah sebabnya saya malas menyanyikan lagu "Padamu Negeri." Itu nasionalisme yang sudah salah kaprah alias "keblinger". Masa' ada kalimat yang mengatakan, "Padamu negeri aku mengabdi?" Kalau hanya padamu negeri aku berbakti, tidak masalah. Tapi kalau sampai "bagimu negeri jiwa raga kami," maaf deh. Saya tidak mau. Bagi saya pengabdian hanya pada Tuhan. Jiwa raga hanya untuk Tuhan. Hidup dan mati saya untuk Tuhan.
Boleh cinta negara, tapi yang berdaulat di dalam negara itu adalah Tuhan.
Jangan dikira orang yang menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya tempat mengabdi adalah orang yang anti nasionalisme, anti kepentingan nasional. Kalau betul-betul dia menerima kehendak Tuhan dan mengikuti sunnah Rasulullah, dia akan menjadi seorang nasionalis sejati, karena cinta dan pembelaan kepada negara itu bagian dari iman. Rasulullah bersabda, "Cinta negara sebagian dari iman."
Ketika Rasulullah SAW sampai di Madinah untuk memulai kehidupan baru berbangsa dan bernegara, selepas hijrah, Rasulullah tidak segan-segan melahirkan satu piagam kenegaraan yang sangat bersejarah, yaitu Piagam Madinah. Dalam piagam itu secara eksplisit dicantumkan tentang kewajiban membela negara. Rasulullah mengikat janji setiap warga negara, setiap suku, bahkan setiap agama untuk membela negara dan kepentingan bersama sebagai bagian dari pengabdian pada Tuhan. Apakah tidak tepat kalau Rasulullah-lah yang mengumandangkan nasionalisme itu? Beliaulah sesungguhnya negarawan sejati itu.
Sejak berdirinya daulah islamiyah di Madinah, maka berlakulah sebuah negara yang membela hak asasi manusia, membela kepentingan semua ras, suku, bangsa dan agama. Piagam Madinah adalah undang-undang dasar negara yang pertama di dunia. Undang-undang dasar negara itu tercipta jauh sebelum dunia barat mengenal apa itu negara yang adil dan demokratis. Jauh sebelum mereka tahu tentang hak asasi manusia, toleransi, dan kesadaran nasiona. Saya menjadi heran mengapa orang takut dengan daulah islamiyah? Padahal daulah islamiyah adalah cikal bakal terbentuknya sebuah negara secara moderen.
Rasululullah berkata, "Kalau Fatimah binti Muhammad mencuri, akan kupotong tangannya." Anda lihat bagaimana beliau meletakkan kepentingan negara di atas kepentingan keluarga. Kepentingan pribadi dan keluarga tidak boleh mengalahkan kepentingan negara.
Saya terenyuh dengan ucapan Saidina Abu Bakar ketika beliau dilantik menjadi penguasa negara menggantikan Rasulullah. Beliau berkata, "Saya bukan yang terbaik di antara kalian. Kalau saya salah tolong ingatkan. Kalau saya benar tolong taati." Mana ada "right or wrong, it's my country" dalam aqidah Saidina Abu Bakar.
Ketika Saidina Umar mengulangi ucapan Saidin Abu Bakar itu ketika beliau dilantik sebagai khalifah kedua, seorang rakyat kecil mencabut pedangnya. "Kalau engkau berkhianat wahai Umar, akan kuluruskan dengan pedang ini," katanya seraya menghunuskan pedang itu ke arah Sang khalifah. Saidina Umar tersenyum seraya bertahmid pada Tuhan.
Kedua negarawan besar itu telah membuktikan pengabdian kepada Tuhan yang sungguh-sungguh, akan menyebabkan kepentingan negara menjadi nomor satu. Mereka wafat dalam keadaan miskin, tanpa ada harta yang mereka wariskan untuk keluarganya sendiri.
Bagaimana pendapat Anda?
Wallahu a'lam.
Friday, January 08, 2010

Jati diri bangsa Indonesia


Kalau ditanya tentang Indonesia, saya bisa becerita panjang lebar. Bahkan Anda akan terkejut membaca cerita saya tentang Indonesia. Saya tinggal mengutip lagu-lagu lama tentang Indonesia, mulai dari lagu "Lambaian Pulau Kelapa", "Dari Sabang Sampai Merauke", sampai "Kolam Susu"nya Koesplus. Tapi kalau saya harus bercerita tentang jati dirinya, lidah saya jadi kelu, jari jemari saya macet, rada semutan.
Bung Taufik Ismail, dulu, meberi judul kumpulan puisinya dengan "Aku Malu Jadi Orang Indonesia." Terus terang, saya berbeda dengan beliau. Saya belum sampai pada "malu" jadi orang Indonesia. Bangga juga tidak, karena belum nampak yang layak dibanggakan. Ya antara malu dan bangga, alias biasa-biasa saja. Cuma sekarang sedikit agak stress mengenangkan jati dirinya yang amburadul.
Setahu saya Indonesia ini negara yang sangat luas. Bentangan Sabang Merauke pada peta Indonesia, kalau kita pindahkan ke peta Eropa, wilayahnya akan melintasi London sampai Baghdad. Artinya melintasi 27 negara. Antara Pulau Talaut di posisi terutara dan Pulau Rote terselatan akan melintasi 19 negara di Eropa. Seluruh barang tambang tersedia lengkap dan berlimpah di bawah tanahnya. Mana ada tanaman yang tidak bisa tumbuh di tanahnya. Katanya, batu saja bisa tumbuh.
Tapi, ketika disebut identitas bangsanya, yang pertama terngiang di dalam pikiran saya adalah kemiskinan mayoritas rakyatnya. Masyarakatnya miskin di atas semua kelimpahan sumberdaya alam. Yang kaya ada juga, tapi hanya segelintir saja.
Pertama sekali saya bekerja di perusahaan minyak tahun 90-an. Saya ditugaskan di Kampung Limau, kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Mengingat harga minyak sangat tinggi waktu itu, ditambah dengan begitu strategisnya industri minyak di negeri ini, saya membayangkan bahwa saya akan berada di suatu kampung perminyakan, kampung dolar. Saya akan berada di satu tempat yang menjadi tumpuan pembangunan, karena penghasil minyak yang besar penopang pembangunan di tempat lain. Saya membayangkan Kampung Limau seperti Houston di Amerika Serikat yang juga daerah penghasil minyak.
Ternyata jauh panggang dari api. Bayangan saya keliru. Daerah penghasil minyak di Indonesia berbeda dengan di negara lain. Di sini, walaupun daerah itu menyemburkan minyak ribuan barel perhari, menghasilkan dolar. Dolarnya menjelma jadi jalan tol dan gedung-gedung mewah di Jakarta atau kota-kota lain di jawa, daerah penghasil minyak tidak mesti terbangun. Kampung Limau contohnya. Minyaknya berlimpah, namun Anda akan terkejut kalau masih banyak penduduk tinggal di rumah-rumah berlantai tanah. Mesjidnya ditinggali kambing. Banyak dari mereka yang masih memasak dengan kayu bakar karena tak mampu membeli minyak tanah.
Pekerjaan saya juga telah mengantar saya ke lokasi lain yang juga penghasil minyak . Saya sudah lama beraktifitas di Kampung Bula di Pulau Seram, Maluku. Terakhir, sayapun berada beberapa lama di Kampung Kuala Simpang di Aceh. Apa yang saya lihat di daerah-daerah itu, tidak jauh berbeda dengan Limau. Saya menyaksikan betapa tidak berimbangnya pemanfaatan hasil minyak bagi daerah penghasil minyak itu. Minyak menyembur terlalu jauh, sehingga tak dapat dinikmati oleh penduduk setempat. Mereka hanya menyaksikan sisa limbah minyak yang mengotori kampung mereka.
Inilah jati diri bangsa yang sangat khas: miskin.
Itu baru tentang miskin harta. Kemiskinan ini semakin bertambah-tambah. Selain miskin harta, bangsa ini miskin ilmu dan miskin iman. Kalau miskin harta saja sudah kita anggap serius, terbayangkankah oleh Anda akibat miskin ilmu dan miskin iman?
Tapi saya tak malu. Saya hanya pasrah. Barangkali memang baru sampai disini nasib kita. Saya masih menyimpan sedikit harapan bahwa sebentar lagi bangsa ini akan bangkit. Saya yakin dengan ucapan Rasulullah SAW ketika di perang Khandak mengatakan bahwa Islam akan bangkit untuk keduakalinya di akhir zaman di satu bangsa di sebelah timur. Saya yakin, tempat yang dimaksudkan Nabi adalah bangsa kita, dalam hal ini Indonesia.
Bagaimana pendapat Anda?
Wallahu a'lam.
Friday, January 08, 2010

Buruk rupa cermin dibelah


Buruk hukum undang-undang diubah. Begitulah kalau kita tidak tahu penyakit dan dan tidak tahu pula obat. Buruk muka, cermin yang menjadi sasaran. Cermin yang dihempaskan-hempaskan. Kita maki-maki cermin lama dan kita hambur-hamburkan uang membeli cermin yang lebih baru. Apa hasilnya? Apakah wajah menjadi lebih cantik? Tidak kan? Karena bukan cermin yang salah. Wajah aslinya memang amburadul. Malah kini, wajah itu bertambah buruk karena tak punya cermin lagi.
 Beginilah perilaku kita melihat keadilan di Indonesia. Semua berteriak bahwa keadilan belum tegak, hukum belum berjalan. Negeri ini begitu semberawutnya. Kita ubah undang- undangnya. Kita revisi peraturannya, kita kutak katik aturan mainnya. Ternyata, keadilan tetap coreng moreng. Mengapa? Karena adil itu tidak terletak di atas kertas, melainkan ada pada hati. Keadilan bukan terletak di undang-undang atau aturan main, melainkan terletak pada nurani manusianya, nurani pelakunya. Bagaimanapun bunyi undang-undangnya, indah bahasanya, pasti dapat dipesongkan maknanya oleh hati-hati yang jahat. Sebaliknnya, mungkin dalam sebuah tatanan masyarakat primitif yang tidak mengenal tulis baca dan tidak mengenal apa itu undang-undang dan peraturan, keadilan bisa tegak kalau di hati mereka ada keadilan. Anda kurang percaya?
 Baiklah. Dulu kita ada undang-undang yang melarang judi. Setahu saya itu sudah lama. Orang-orang kampung saya yang sangat sederhana cara berpikirnya takut berjudi karena takut masuk penjara. Eh, tahu-tahunya, seorang menteri Pemuda dan Olah Raga, waktu itu, menggagas pengumpulan dana untuk menunjang kegiatan olah raga di Indonesia melalui judi. Strategi yang dipakai adalah dengan menggunakan nama lain, yaitu "Porkas". Orang kecil terperangah. Mau bilang apa karena undang-undangnya memang hanya menyebut "judi" dan sama sekali tidak menyebut "Porkas". Pintar sekali, bukan? Ketika masyarakat akhirnya rame-rame protes bahwa sesungguhnya Porkas adalah judi, diubah lagi namanya menjadi "Sumbangan Olahraga Berhadiah". Bahkan seorang ketua majlis ulama waktu itu membuat semua orang terkejut karena berani membuat pernyataan bahwa Sumbangan Olahraga Berhadiah bukan judi. Lucu sekali.
 Setahu saya mencuri sudah dari dulu dilarang di Indonesia. Undang-undang KUHP sudah mencantumkan itu sejah zaman penjajahan dulu. Tapi manusia Indonesia memang cerdas, dia tidak gunakan istilah mencuri sekarang, tapi korupsi. Lho apa bedanya mencuri dan korupsi? Ya sama. Bedanya, secara hukum korupsi tidak bisa dijerat dengan undang-undang tentang mencuri. Istilahnya kan beda. Mencuri lebih cocok diterapkan untuk kasus pencurian ayam, penucurian sandal. Pelakunya juga disebut maling. Korupsi kan lebih terhormat. Pelakunyapun disebut koruptor. Sangat intelek. Maka sibuklah orang-orang terhormat kita di DPR dan di pemerintahan mengusung undang-undang baru anti korupsi. Betapapun undang-undangnya sudah baru pula, kegiatan mencuri itu terus berlangsung. Bahkan sekarang lebih canggih sistemnya.
 Anda masih ingat dengan undang-undang lalu lintas? Apa salahnya undang-undang itu harus diubah? Dari dulu kita sudah berlalu lintas. Tertip kok. Katanya, dengan undang-undang yang baru akan berkurang pungli di jalan. Pernahkah Anda tidak dipungli lagi setelah berlakunya undang-undang yang baru? Kebiasaan kita menyogok polisipun kelihatannya belum juga berkurang, malah makin intensif. Sekarang malah ada sistem tawar menawar di jalan, lebih demokratis.
 Contoh lain. Kita sudah berkali-kali mengubah undang-undang ketenaga kerjaan. Biayanya tidak tanggung-tanggung. Bagaimana dengan nasib tenaga kerja? Bertambah baik kah?
 Saya sampai jenuh, seperti mau muntah, melihat daftar undang-undang dan peraturan yang berlaku di Indonesia. Pernah sekali untuk satu pekerjaan, saya mencoba mencari di internet undang-undang dan peraturan yang berlaku di bidang migas. Hanya bidang migas. Satu bidang yang sangat sempit. Aduh, minta ampun banyaknya. Hampir habis tinta printer saya untuk mencetaknya. Setelah saya print, sayapun tidak sanggup membacanya. Banyak sekali. Sekarang bayangkan di bidang lain: pendidikan, kesehatan, lingkungan, industri, keuangan, perpajakan, dll. Tengok pula undang-undang dan peraturan yang berlaku di tingkat pusat, tingkat propinsi, sampai tingkat desa. Lihat pula segala aturan yang dibuat di berbagai instansi, mulai yang dikeluarkan presiden, menteri, dirjen, sampai dengan kepala sekolah. Tengok pula segala aturan adat yang berbeda dari wilayah ke wilayah. Belum lagi kita masukkan pula aturan yang tidak tertulis alias TST (tahu sama tahu). Negara ini dipenuhi oleh file undang-undang dan peraturan yang berlaku. Saya yakin kalau semua undang-undang dan peraturan di Indonesia dicetak dan ditumpuk jadi satu, tumpukannya akan lebih tinggi dari menara Twin Tower di Kuala Lumpur.
 Sekarang semua elemen bangsa masih sibuk mengutak atik berbagai aturan perundangan. Undang-undang dan aturan baru masih saja diproduksi. Katanya demi keadilan. Pesawat terbang gagal kita produksi. Sebagai penggantinya kita memproduksi undang-undang. Tak puas rasanya kalau setiap orang belum menggoreskan tanda tangannya untuk mengesahkan satu peraturan. Tak bergengsi rasanya seorang menteri baru atau bupati baru tidak buat peraturan. Anehnya, mereka sama sekali tidak menyentuh unsur terpenting, yaitu tegaknya keadilan di hati. Ketika ada yang tidak beres dalam keadilan, kita semua menoleh ke undang-undang, ke peraturan. Ubah undang-undangnya. Ubah peraturannya. Tambahi lagi. Kalau gratis, mungkin tidak terlalu masalah. Ternyata biayanyapun tidak tanggung-tanggung. Sampai kapan ini akan berlangsung?
 Coba kita renungkan sejenak. Adil adalah sifat Tuhan. Sifat adil itu Tuhan letakkan di hati sebagai pemberianNya. Sifat adil itu Tuhan anugerahkan di hati manusia sebelum ruh dihembuskan ke dalam jasad. Pada saat manusia sudah lahir, manusia kemudian berhadapan dengan kehidupan ril. Hawa nafsu telah meraja lela, rasa bertuhan lenyap. Serentak dengan hilangnya rasa bertuhan, hilanglah rasa keadilan itu. Ego pun menguasai diri. Di saat itu, manusia tak peduli lagi dengan keadilan. Yang dikedepankannya adalah kepentingan dirinya saja. Kepentingan orang lain di letakkan di belakang.
 Lebih-lebih lagi ketika ia berkuasa. Kekuasaan itu akan digunakannya untuk mengedepankan kepentingan diri dan menggeser kepentingan pihak lain. Halal haram hantam. Banyaklah fakta yang menunjukkankan kekuasaan cendrung untuk diselewengkan.
 Saya tidak punya saran lain untuk perbaikan sistem keadilan di Indonesia yang menyedihkan ini, kecuali dengan menyarankan kembali kepada pengembalian rasa bertuhan. Program ini perlu dikampanyekan. Kalau kita bisa mengkampanyekan rokok, makanan, minuman, mengapa kita tidak bisa mengkampanyekan rasa bertuhan? Kita punya berbagai bentuk media masa. Kita punya televisi, surat kabar, papan-papan reklame. Kitapun punya pakar-pakar komunikasi masa, pakar-pakar psikologi komunikasi. Dari pada dana dihambur-hamburkan untuk perubahan berbagai macam sistem perundangan dan peraturan, lebih baik dana itu dipakai untuk mengkampanyekan secara besar-besaran sistem hidup bertuhan.
 Kita mulai menata keadilan dari yang paling dasar. Sebelum kita lihat keadilan dalam dimensi negara, kita lihat dulu dalam dimensi yang paling personal. Sudah adilkah kita dengan diri kita sendiri? Adakah kita sudah tunaikan hak-hak anggota tubuh kita sesuai dengan fitrahnya. Adakah kita penuhi hak mata kita untuk tidak melihat aurat? Sudahkah kita tunaikan hak telinga kita untuk tidak mendengarkan musik-musik setan? Sudahkah kita tunaikan hak sistem pencernaan kita untuk tidak diisi dengan makanan dan minuman yang haram? Kampanye hidup bertuhan akan mengembalikan individu-individu menjadi individu yang adil.
 Kita lihat ke sistem keluarga. Sudahkah seorang suami telah menunaikan hak-hak istri, untuk dibela, dididik, dinafkahi, disayangi, dan dijaga? Sudahkan seorang istri menunaikan hak suami untuk ditaati, diikuti arahan-arahannya, dihormati sebagai pemimpin? Yang ada sekarang, suami hanya sibuk memperjuangkan haknya. Demikian pula istri, sibuk memperjuangkan hak-haknya saja. Masing-masing pihak hanya akan meradang bila kepentingan dirinya tergugat. Ngakunya saling mencintai. Tapi bila kepentingan satu pihak terancam, cintapun ditendang. Kalau dalam sistem keluarga saja tidak tegak keadilan, mustahil keadilan akan tegak di dalam sistem masyarakat, karena keluarga adalah miniatur masyarakat. Dengan kampanye hidup bertuhan, kita kembalikan keluarga menjadi lembaga pertama yang menegakkan keadilan.
 Bagaimana pendapat Anda?
 Wallahu A'lam.
Friday, January 08, 2010

Rindu Rasulullah di penghujung tahun

Teman FB saya, Ibu Fatimah Adam, mengatakan malam ini organisiasi yang beliau pimpin di Banjarmasin tidak mengadakan hiburan rakyat seperti tahun-tahun sebelumnya. Kegiatan diganti dengan bakti sosial, kunjungan ke rumah anak yatim, yang diisi dengan tausyiah. Subhanallah. Mudah-mudahan itu bukan karena hanya bertepatan dengan malam Jum'at atau terkait pilkada, namun karena telah munculnya kesadaran baru untuk kembali kepada Tuhan.

 Kawan saya Ibu Nurhayati, telah menulis bahwa ia sekeluarga telah bertekad tidak akan merayakan tahun baru dengan tiupan terompet, tetapi menggantinya dengan muhasabah atau instrospeksi diri, sesuai dengan sebuah hadis yang kebetulan tak sengaja ditemukan. Ini juga satu contoh yang perlu ditiru.

 Siang tadi saya ajak keluarga jalan-jalan di Jakarta, sambil menjemput anak sulung ke bandara. Saya melihat di beberapa persimpangan jalan terpampang spanduk undangan untuk menghadiri acara tahun baru berupa zikir bersama. Dari spanduk-spanduk itu saja, setidak-tidaknya sudah ada empat tempat yang berbeda di Jakarta yang menggelar acara zikir bersama. Belum lagi kalau kita masukkan tempat-tempat lain yang mengadakan zikir bersama namun tidak pasang spanduk. Tempat-tempat itu pasti banyak sekali. Ini berarti secara perlahan, tapi pasti, kegiatan tahun baru yang biasanya diisi dengan pesta pora, musik jingkrak junkrik, mulai digeser ke arah yang lebih bermakna, yaitu. muhasabah. Sambil muhasabah, kita mengenangkan Tuhan. Saya kira, ini pertanda baik.

 Saya sekeluarga memilih di rumah saja. Kebetulan kawan-kawan dari Jamaah Global Ikhwan, malam ini mendengarkan tausiah dari Ibu Dr. Gina Puspita bertempat di Bandar Global Ikhwan, Sentul. Walaupun saya tidak hadir di Sentul, namun saya dapat mendengarkannya melalui tele-conference, menggunakan jaringan XL. Ibu Gina mengangkat topik tentang rindu kepada Rasulullah SAW. Berbagai persoalan pribadi, keluarga dan bangsa kita bermunculan, karena kita telah kehilangan Tuhan sebagai akibat tak rindu lagi dengan Rasul. Kehilangan Tuhan, berarti kita kehilangan petunjuk-petunjukNya, kehilangan pertolonganNya, dan bahkan kita kehilangan role model (uswatun hasanah) yang Tuhan sediakan untuk kita. Padahal Tuhan telah persiapkan Rasulullah SAW sebagai jembatan menuju cintaNya. Jalan itu hanya bisa dibangun melalui rindu Rasulullah.

 Kawan saya Makhfud telah menulis di notesnya bagaimana Salahuddin Al Ayyubi akhirnya dapat mengerahkan tentaranya mengambil alih kembali Palestina setelah beliau berhasil menanamkan rasa rindu di hati tentara-tentaranya akan Rasulullah SAW. Inilah awal munculnya peringatan Maulidur Rasul, untuk menanamkan rasa rindu akan Rasulullah SAW. Topik Salahuddin ini rasanya paling relevan di saat sekarang ini. Sepertinya ada kemiripan perjuangan Salahuddin dan perjuangan kita sekarang ini.

 Kalaulah muhasabah diri ini sungguh-sungguh kita programkan, barangkali muhasabah yang paling tepat dan relevan saat ini adalah muhasabah sejauh mana rasa rindu akan Rasulullah sudah tertanan di hati kita. Bila belum, sebuah upaya mesti kita buat segera. Semoga tahun 2010 adalah tahun rindu Rasulullah betapapun berbagai kegiatan atau resolusi telah kita susun untuk setahun ke depan.

 Selamat tahun baru, selamat bersyukur, selamat bersabar, selamat dari maksiat lahir dan batin. Insyaallah besok, kita mulai hari-hari kita dengan rindu Rasulullah. Mari.

 Bagaimana menurut Anda?

 Wallahu a'lam

Friday, January 08, 2010

Kembalikan hati pada fitrah

Notes ini awalnya adalah komen untuk notes kawan saya Syamsuwal Qomar berjudul Tombol "Reset" Pribadi 2010. Karena kepanjangan, akhirnya saya pindahkan jadi notes tersendiri.

 Notes Qomar itu enak dibaca dan perlu. Nampaknya ia ada bakat jadi penulis hebat di suatu saat nanti mengikuti gurunya, Pak Ersis. Saya belum pernah jumpa orangnya kecuali di mimbar FB ini, namun rasanya sudah seperti adik kakak.

 Muhasabah tahunan tetap relevan. Saya senang. Dan, saya kira tidak ada yang keberatan. Toh muhasabah tahunan tidak menghentikan muhasabah harian kita. Muhasabah selalu membawa kita melihat masa lalu, walaupun sejenak. Melihat masa lalu, bukan untuk meratapinya, tapi untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik.

 Melihat masa lalu dalam rangka mempersiapkan masa depan artinya melihat kembali perjalanan hidup yang telah terekam di hati dan mempersiapkan kembali susana hati untuk menempuh kehidupan yang akan datang. Seluruh peristiwa masa lalu itui sendiri memang telah hilang dan tak mungkin diulang. Namun rekamannya di hati masih utuh.

 Intinya adalah mengenal diri melalui rasa hati. Hati adalah perekam yang baik. Jangan main-main dengan hati. Kapasitas RAM maupun ROM nya luar biasa. Tak satupun yang luput. Ia merekam dosa maupun pahala yang sudah dibuat. Ia merekam baik dan buruknya perangai. Ia merekam semua rencana busuk. Ia merekam persahabatan maupun permusuhan yang sudah dibangun. Mari kita dengar suara itu dengan kesadaran sebelum kita dipaksa mendengar.

 Dengarkan suara hati. Adakah ia gelisah, resah, tidak tenang, mudah marah, iri, dengki, cemburu, meratap melulu, protes melulu, sedikit-sedikit tersinggung? Kalau ada, itu pertanda ia sudah keluar dari setting yang seharusnya. Ia sudah keluar jauh dari Tuhan. Ia sedang sakit. Rasa bertuhan telah terkikis. Karena, kalau hati bersama Tuhan, ia akan tenang, bahagia, kreatif, produktif, dan bergairah.

 Kenalkan ia kembali ia kepada Tuhan, kepada fitrahnya, agar kembalii sehat. Ritual-ritual rutin (seperti shalat, wirid, baca Quran) tak akan banyak membantu. Penyakitnya terlalu parah untuk diobati dengan kerutinan. Perlu sebuah paket kontemplasi yang komplet. Perlu satu obat dengan racikan yang sangat khusus dan pas. Shalat, wirid, dan bacaan Quran yang biasanya berlangsung secara rutin atau otomatis perlu dihayati kembali. Istilah lain: tekan tombol "reset"

 Mungkinkah saya lakukan sendiri? Rasanya, kalaupun saya nekad, khawatir tambah parah keadaannya. Wong, memasukkan otat tetes mata saja ke mata sendiri, saya ngeri. Saya biasanya minta bantu istri atau anak. Me 'reset' hati pasti lebih susah. Untuk perkara hati, cari mursyid yang akan membantu proses itu. Tak ada jalan lain, kecuali itu.

 Buah nangka banyak getah.

Karena dipetik sebelum matangnya

Bila jiwamu selalu sedih, gelisah, dan marah-marah

Pertanda rasa bertuhan telah tiada.

 Pisau tumpul perlu diasah

Agar mudah mengerat belimbing

Kembalikan hati pada fitrah

Cari mursyid sebagai pembimbing

 Bagaimana pendapat Anda?

 Wallahu a'lam

Friday, January 08, 2010

Iman Islam dan Ihsan

Pagi ini kami masih di Bandung. Cuaca di Bandung cerah dan berawan. Tuhan datangkan berbagai penyakit kepada kami. Ema sakit mata, belum pulih. Yussy gatal-gatal. Sarah pusing sakit kepala. Faruq sakit perut, muntah-muntah. Saya pegal-pegal, sakit pinggang. Pokoknya lengkap. Mudah-mudahan kami bisa menyikapinya dengan sabar dan tawakal. Tidaklah Tuhan datangkan suatu ujian melainkan ada hikmahnya.

 Pagi ini kami membahas tentang Iman, Islam, dan Ihsan serta kedudukan Iman sebagai pangkal dari semuanya. Di zaman Rasulullah, kita tidak mengenal berbagai istilah seperti aqidah, syariah, usuluddin, tafsir, fiqih, usul fikih, tasawuf, filsafat, tarekat, hakikat, dll. Semua istilah itu baru muncul setelah ilmu keislaman berkembang. Di zaman Rasulullah kita hanya diperkenalkan dengan iman, islam dan ihsan. Memang suatu hal yang menakjubkan bagaimana Tuhan mengembangkan ilmu pengetahuan. Ketika satu ilmu dicongkel, cabang-cabangnya akan bermunculan. Maka lahirlah bermacam-macam ilmu. Walaupun kini cabangnya sudah bermacam ragam, semua ilmu keislaman tetap saja bermuara kepada iman, islam dan ihsan itu.

 Dengan iman, kita mengenal Tuhan, takut dan cinta padaNya. Dengan Islam, kita telusuri jalan Tuhan dengan penuh kepatuhan. Dengan Ihsan, kita hiasi hati nurani kita dengan kebaikan-kebaikan. Inilah pokok keselamatan dan kesejahteraan manusia, baik perorangan maupun sosial.

 Kalau kita mau menelusuri ketiga aspek itu: Iman, Islam dan Ihsan, pangkal utamanya ternyata adalah Iman. Betapapun hebatnya amalan seseorang, banyak perbuatan baiknya, tapi tanpa landasan iman, semua itu akan dianggap Tuhan sebagai amalan yang sia-sia. Begitu pentingnya iman, sehinga hampir di setiap ayat Al-Quran, Tuhan selalu menyelipkan perkara iman. Kalau tidak di awalnya, biasanya di akhirnya. Kadang-kadang di tengahnya. Ketika satu ayat bercerita tentang perintah atau larangan tertentu, ujung-ujungnya, selalu dikaitkan dengan Tuhan. Ayat-ayat tentang sejarah, ujung-ujungnya Iman. Ayat ayat tentang akhlak, ujung-ujungnya Iman.

 Sekarang baru kita faham mengapa selama 13 tahun di Mekah, Rasulullah hanya mendakwahkan Iman. Syariah baru dibicarakan di periode Madinah.

 Terbalik dengan sistem da'wah dan pendidikan kita di zaman ini. Kita lebih menekankan syariah daripada aqidah. Kita lebih menekankan perintah dan larangan Tuhan, sementara Tuhan, sebagai zat yang memerintah dan melarang itu, tidak diperkenalkan. Atau setidak-tidaknya, kurang diintensifkan. Akibatnya, ajaran agama menjadi hambar. Tidak ada beda lagi antara agama dan idiologi. Bila perkara Tuhan sudah hilang, hilanglah esensi agama itu.

 Banyak hal yang kami bicarakan dalam perbincangan selepas shalat subuh hari ini. Kami membahas tentang sekularisme yang meraja lela, yang telah memisahkan Tuhan dari kehidupan manusia. Kami membicarakan praktek-praktek di tengah masyarakat yang memperhinakan Islam itu sendiri. Tuhan telah dianggap tidak relevan. Mana pernah kita dengar pejabat negara mengait-ngaitkan berbagai program mereka dengan Tuhan. Kalaupun ada, itu hanya sekedar seremonial, tanpa esensi agama di dalamnya.

 Ya, semogalah bangsa ini cepat berubah. Kita mulai mengubahnya dari kehidupan pribadi dan rumah tangga sendiri. Dengan pertolongan Tuhan, seluruh bangsa kita ini akan menjadi baik.

 Bagaimana pendapat Anda?

 Wallahu A'lam.

Friday, January 08, 2010

Fitrah dan mujahadah

Pagi ini kami di Bandung. Perjalanan dari Sentul ke Banndung kemarin sore ternayata lancar, tidak macet, di luar dugaan. Pagi ini suasana di Bandung cukup segar. Udara cerah. Mata hari tidak terlalu panas karena berawan. Kalaulah kehidupan berjalan seperti ini saja, segar, tidak macet, tentulah emosi-emosi tidak mudah terletup. Rasanya suasana hatipun akan terus mahmudah. Tapi, kenyataan tidak selalu begitu. Selalu saja da ujian-ujian dari dunia sekeliling. Mazmumah mudah terpancing.

 Selepas subuh tadi kami membahas kuliah Abuya tentang fitrah manusia. Sebuah kuliah yang menjawab mengapa manusia harus tetap bermujahadah mengaitkan dirinya kepada Tuhan padahal di dalam dirinya sudah tertanam sifat-sifat baik. Mengapa kita tidak memadakan fitrah saja?

 Saya memberikan suatu pengantar bahwa manusia memang diciptakan Tuhan dengan satu sifat bawaan yang disebut fitrah. Fitrah manusia itu utamanya adalah rasa bertuhan. Ruh manusia telah diperkenalkan dengan Tuhan sejak sebelum dihembuskan ke dalam jasad. Rasa takut dan cinta Tuhan adalah fitrah. Sifat itu bercabang-cabang ke sifat-sifat lain seperti senang berkasih sayang, senang bersih, senang keindahan, senang bersatu dan bekerja sama, senang saling tolong menolong, senang dengan kebaikan, senang dengan kejujuran dan kesabaran. Sebenarnya dengan fitrah itu saja, manusia sudah mampu melahirkan kebaikan. Itulah sebabnya pada masyarakat yang primitif sekalipun, ada standar kebaikan yang mereka anut bersama-sama, padahal mereka belum tersentuh agama.

 Fitrah itu tidak cukup kuat menopang manusia untuk terus tegar, steady,berhadapan dengan hawa nafsu dan syaitan. Tuhan mengajarkan bahwa fitrah itu terlalu lemah terhadap ujian. Seseorang yang tidak suka marah, bisa pula marah kalau teruji dengan cobaan. Seseorang yang senang dengan kepemurahan, bila berhadapan dengan kesulitan hidup bisa menjadi sangat kikir. Demikian juga, manusia yang diciptakan senang dengan kasih sayang bisa menjadi sangat kejam menyiksa orang lain yang dibencinya.

 Karena itu Tuhan gariskan kepada mausia untuk menempuh jalur perhambaan kepadaNya. Jalan itu akan memaksa manusia bertopang dengan Tuhan. Jalan itu akan mengukuhkan sifat-sifat fitrah menusia berkekalan. Dengan jalur ibadah dan mujahadah, Tuhan mau semua kebaikan yang dibuat manusia bukan mengikuti fitrah, melainkan karena takut dan cinta Tuhan. Semua kebaikan yang dihasilkan oleh proses ibadah dan mujahadah akan sanggup bertahan terhadap sembarang ujian yang datang. Tuhan mau kebaikan itu sebagai hasil proses mujahadah dari ibadah kepada Allah. Sifat-sifat itu akan tersimpan di dalam lubuk hati, bukan di kulit-kulitnya saja.

 Ema menambahkan bahwa dalam mujahadah perlu pertolongan Tuhan. Mujahadahpun tidak bisa dilakukan sendirian tanpa bantuan Tuhan. Manusia terlalu lemah untuk beribadah dan bermujahadah. Walaupun sudah diusahakan mujahadah, namun masih mudah tergoyahkan. Kita harus melibatkan bantuan Tuhan. Kita tak boleh mengira kalau kita sanggup mujahadah tanpa bantuan Tuhan.

 Dalam ulasannya, Yussy melihat relevansi mengapa kebaikan yang dibuat bukan karena Allah akan sia-sia. Kebaikan yang dibuat atas dasar fitrah terlalu rapuh, mudah kalah oleh ujian. Kebaikan yang diperoleh dari proses ibadah,mujahadah akan lebih kekal. Kita sering lihat bagaimana orang-orang yang sering terlihat baik, tapi bila diuji, kebaikannya sirna seolah-olah tak ada bekas.

 Terlihatlah kini betapa hebatnya pengaruh ibadah dan mujahadah. Tepatlah kalau Tuhan kehendaki setiap kebaikan mesti berlandaskan ibadah. Kalau tidak, dianggap sia-sia.

 Bagaimana pendapat Anda?

 Wallahu a'lam

Friday, January 08, 2010

Rindu Rasul di Bandar Ikhwan Sentul (By Ema Manita Kuraesin)

Kemarin adalah hari yang cukup berkesan dlm sebagaian hidupku. Aku, suami, dan adik maduku juga beberapa kawan yang ikut hadir dalam majlis peringatan MAAL HIJRAH di Sentul. Sebenarnya kami berangkat sudah agak telat dari jadwal yang direncanakan. Tapi subhanallah perjalanan dari Jakarta hanya memakan waktu setengah jam saja. Jalanan sepi, tidak seperti biasanya, karena ditinggalkan oleh para musafir yang kelelahan habis muhasabah malam tadi atau kelelahan habis mengikuti pesta akhir tahun. Wallohu'alam!

  Alhamdulillah acara baru dimulai pas kami datang, jadi kami tidak telat, seprti kebiasaan yg sudah menjadi tradisi, klo ada program2 besar di manapun, pasti waktu akan molor karena menunggu yg telat datang ! Seolah2 membenarkan yg telat hadir. Kasihan amat yg hadir lebih awal 15 menit !

 Acara dimulai dengan sambutan "MAAL HIJRAH" yang disampaikan oleh Pengarah Zon. Aku tak mau menulis panjang lebar tentang isi sambutan itu. Pada intinya, beliau menceritakan tentang betapa pentingnya memupuk rasa rindu akan Rasulullah. Seseorang yang rindu akan Rasul, akan berjuang mencontoh segala apa yang dilakukan oleh beliau, mengikuti sunah-sunnahnya. Pada saat itu aku tidak begitu konsentrasi, karena kanan kiriku sibuk diskusi masing-masing dan sedikit suara soun system yg agak menggangu, tidak stereo.

 Aku hanya ingin menulis sedikit tentang nasyid yang disampaikan oleh seorang penasyid remaja yg suaranya, meurutku, dapat mengalahkan suara penyanyi pop Indonesia yang sudah terkenal sekalipun. Merdu sekali. Wajah polosnya menambah kemerduan suara itu.

 Beberapa nasyid dilantunkan di awal-awal acara mengiringi teater sketsa, aku belum konsentrasi penuh. Ku lihat peserta lain pun begitu. Mungkin karena suara dari sound system kurang prima sehingga kalah oleh suara ngobrol kaum ibu. Tapi setelah pengeras suara diperbaiki oleh operator, suara mulai terdengar pas. Tiba-tiba saja nasyid yang dilantunkan saat itu tentang sejarah Rasulullah.

 Nasyid itu menyentak sarafku tiba-tiba. Aduh, ruginya aku karena tidak hafal syairnya. Kuikuti satu demi satu bait liriknya. Tak terasa air mataku menetes dipipi. Ku tahan-tahan tidak bisa, malah makin bertambah deras. Dengan malu, aku melirik ke sebelah kiri kananku karena terdengar olehku kawan yang menahan isakan tangisnya. Pelan-pelan, kuperhatikan semuanya. Ku lihat mata mereka berkaca-kaca. Ku lirik juga ke arah adik maduku, diapun terlihat sangat terharu. Semakin kulihat kawan-kawan itu, semakin aku tak sanggup menahan airmataku.

 Ku lihat dari kejauhan, suamiku tertunduk, mungkin dia juga tengah terharu. Tapi kurang pasti. Mungkin juga sedang tidur, karena semalam tidak tidur menyelesaikan sebuah tulisan, bukan ikut acara tahun baruan masehi. Aah, tapi aku tak mau berprasangka buruk.

 Aku heran. Ada yang aneh muncul di dadaku. Hatiku terasa meronta-ronta. Tapi mengapa pula hatiku harus meronta-ronta ? Ada sesak didadaku. Tiba-tiba aku merasa rindu dengan Rasulullah SAW. "Apakah ini yang dinamakan rindu yang tiada terperi itu?"bisik ku dalam hati. "Ya Rasulullah, seolah-olah Engkau ikut hadir dalam majlis kami." walaupun aku merasa tak layak, merasakan hal itu, mengingat dosa2ku seperti buih dilautan.

 Subhanallah, betapa indah untaian syair yg dilantunkan itu. Mursyidku telah melukiskan untaian rasa hatinya tentang Rasulullah dalam nasyid itu. Kedekatan beliau dengan Rasulullah sangat kentara. Aku semakin yakin bahwa beliau sering berjumpa dengan Rasulullah secara ruhaniah.Kurasakan Beliau waktu menulis syairnya, sedang berada dekat dgn Rasulullah.

 Kulihat semua kawanku terpaku, diam. Yang terdengar isakan tangis kami, kaum perempuan. Aku ingat dosa-dosaku padamu yaa Rasulullah.

Begitu jahatnya aku padamu Yaa Rasulullah. Aku mendengar seruanmu, tapi aku tidak mau taat kepadamu. Ajaranmu kucuaikan. Ku perturutkan nafsuku. Betapa durhakanya aku padamu. Tak terbayangkan olehku bagaimana engkau telah mengorbankan jiwa raga demi keselamatan kami ummatmu.

 Sampai diakhir hayatmu, engkau masih menyebut tentang kami, "ummatku, ummatku, ummatku." Engkau sangat khawatir akan nasib kami diakhirat sana. Engkau rela dihina, dicaci, dilempar dengan najis, pemaaf walau kepada musuh sekalipun. Tak sangggup aku menceritakan berpanjang-panjang tentang keteladannya. Allah menyebutkan, "Wama arsalnaka illa rahmatan lilalamiin."Allah menciptakan dunia ini karena Rasulullah.

 Ya Rasulullah maafkan kesalahanku yang bagaikan buih di lautan ini. Wahai Tuhan, jumpakan aku dengan kekasih-Mu, Rasulullah SAW walau hanya dalam mimpi supaya rinduku yg terperi ini terobati dan boleh memperbaiki akhlakku yg buruk ini. Kepada akhlak yg lebih baik.

 Akhir acara, aku sibuk bertanya, bolehkah aku memilki liryk nasyd itu, bertanya sana sini, ternyata nasyd itu belum direlease ! Aku menghubungi pihak studio, jawabnya sama. Aku sedikut kecewa waktu itu. Tapi dgn semua itu tidak menyurutkan aku ingin memilki lyrik nasyd itu. Toh yg terpenting dari semua itu, bagamana aku boleh mentauladani Rasulullah akhir zaman, dgn mengikuti mujaddid yg telah dijanjikan disetiap awal kurun ! Inikah awal kurun itu ?

 Jakarta, 2 Januari 2010

Friday, January 08, 2010

Berkat dan Istidraj.

Kami masih di Sentul. Cuaca siang ini cerah. Dari subuh sudah tampak tanda-tanda bahwa langit akan jernih sampai sorenya. Ya, pakai teori kira-kira saja. Ini semua rahmat Tuhan kepada makhluknya. Mudah-mudahan bukan istidraj tapi berkat. Kita adalah makhluk dan kita berhajat kepada sesuatu. Tuhan berikan kepada kita sesuatu yang kita perlukan itu dengan rahmatNya. DiberiNya kita udara yang segar, air yang jernih, cahaya matahari yang hangat, anak yang sehat, peluang yang berlimpah ruah. Namun kadang-kadang, atau malah sering, kita lupa dengan kepemurahan Tuhan itu.

 Setelah mencemplungkan diri dua jam di kolam, badan saya terasa segar kembali.

 Selepas shalat subuh berjamaah tadi, kemudian wirid, saya memberikan kuliah untuk keluarga dengan mengangkat tajuk "Rahmat, Berkat dan Istidraj dari Tuhan." Kuliah itu sangat dalam maknanya yang saya terima dari guru kami. Kalaupun akhirnya jadi dangkal, mungkin karena saya tidak terlalu mampu menyampaikannya.

 Tuhan telah menetapkan atas dirinya rahmat. Dan rahmat ini berlaku untuk semua makhluknya tanpa terkecuali. Tapi, apakah semua pemberian Tuhan itu Ia iringi dengan ridho Nya? Inilah sesungguhnya pertanyaan yang amat penting. Tuhan memberi kepada seluruh makhluknya, namun tak semua pemberian itu disertai keridhoannya. Jika Ia ridha, "berkat" namanya. Jika Ia tak ridho, "istidraj" namanya.

 Nah, pagi ini kedua istri memberi ulasan. Ema menambahkan bahwa tanda-tanda yang membedakan pemberian itu berkat atau istidraj adalah pengaruh pemberian itu kepada hati. Bila kita diberi Tuhan harta dan pangkat. Tapi dengan tambahan harta dan pangkat itu kita menjadi semakin sombong, semakin kikir, semakin bergaduh, bersengit-sengit hati, itu tanda bahwa pemberian itu "istidraj". Tapi bila hati kita semakin tenang, semakin bersyukur, semakin mudah berkasih sayang, itu tanda "berkat". Yussy menambahkan bahwa keberkatan Tuhanpun dapat kita peroleh melalui kedekatan kita dengan-dengan orang-orang soleh yang diberkati Tuhan. Dia menerangkan istilah "menompang berkat".

 Mereka nampak saling mendukung. Tak jelas lagi mana guru dan mana murid. Lho, kok saya akhirnya yang jadi pendengar? Kami saling berbagi ilmu dan penghayatan.

 Sekedar pengingat saya kisahkan kepada mereka berdua kisah seorang wanita yang ditinggalkan suaminya di rumah karena ia harus berangkat ke medan perang bersama Rasulullah. Suaminya berpesan kepada wanita itu agar tidak meninggalkan rumah. Betapapun dikabarkan kepada perempuan itu, pertama bahwa ayahnya sakit, kedua ketika akhirnya ayah itu meninggal dunia, wanita itu tetap saja bersikukuh tidak mau meninggalkan rumahnya. Takut suami atau tak sayang ayahkah ia?

 Dia bukan takut kalau nanti suaminya murka, karena ia tahu suaminya seorang yang sangat mulia akhlaknya. Ia bukan pula tidak mencintai ayahnya, karena ia tahu di saat suaminya ada, dialah yang sering merawat ayahnya. Ia hanya takut Tuhan. Ia takut kalau Tuhan murka jika ia melanggar amanah suaminya. Ia tahu Tuhan telah lantik suaminya sebagai pemimpin. Kini sang pemimpin yang dilantik Tuhan itu kini memintanya untuk tidak meninggalkan rumah. Kalau ia melanggar, ia bukan akan berhadapandengan si suami, tetapi dengan Tuhan. Inilah contoh ketaatan istri yang bertaqwa. Karena ketaqwaannya, Tuhan telah memberkati wanita itu, bahkan ayahnya dan juga suaminya. Ini namanya kebagian berkat.

 Istri-istri saya mangut-mangut, mengarahkan pandangan ke lantai. Setuju tapi malu. Mungkin dalam hati ia berkata, "Mati gue, kesindir." Tidaklah. Ini bukan sindiran. Ini kebenaran. Suami adalah jalan bagi sang istri menuju Tuhan. Mungkin inilah yang dimaksud Nabi, '' Bila boleh manusia menyembah menusia, niscaya akan kuperintahkan wanita menyembah suaminya.

 Selepas kuliah, kami sarapan. Nasinya keasinan. Tidak apa, karena itu bagian dari latihan kesabaran. Selepas makan saya dan kedua anak saya meloncat ke kolam renang. Kedua istri duduk terpaku di pinggir kolam menyaksikan tiga lumba-lumba kecintaan mereka bertarung dengan keruhnya air kolam.

 Bagaimana pendapat Anda?

 Wallahu a'lam.