mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Wednesday, September 30, 2015

Si Nila


Entah bagaimana, saya jadi ingat si Nila. Anda kenal si Nila? Pasti ingat. Gara-gara dia, susu sebelanga Anda menjadi sia-sia.
Waspadalah!

Kita  boleh bangga dengan hasil kerja bertahun-tahun mengumpulkan susu, mengumpulkan harapan, mengumpulkan prestasi, dlsb. Tapi, karena satu kecerobohan kecil, setitik saja,  semua yang telah diupayakan itu bisa hancur berantakan.

Nila, nila...

Dalam organisasi, perusahaan, atau jamaah juga demikian. Bisa jadi, misi, visi, atau strategi kelompok itu baik. Orang-orangnya pun pilihan di antara orang-orang baik. Tapi, gara-gara segelintir orang buruk di dalamnya, keseluruhan kebaikan orang-orang baik itu akan dipersepsi sebagai buruk. Sayang sekali, bukan?

Waspadalah dengan si Nila.

"Karena nila setitik, rusak susu sebelanga."

Itulah salah satu nasihat terbaik nenek kita yang diperolehnya dari neneknya lagi, yang kalau kita hayati kembali hari ini, hasilnya akan luar biasa.

Monday, September 28, 2015

28 September 2015


Mau nggak mau, harus mau. Siap nggak siap, harus siap. Hidup ini adalah pertarungan. Kalah atau menang bukan di sini pengumumannya. Yang kalah hari ini, bisa jadi besok ia menang. Sebaliknya, yang menang, besok ia kalah.

"Sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan."

Nikmat dan ujian tentu ada pergilirannya. Tidak tahu akan hal ini, justru itulah masalahnya. Mari singsingkan lengan baju. Mari kerja, mari berupaya, mari berpikir, dan mari bertawakal.
Salam,

Sunday, September 20, 2015

Islamic Center



Ribuan kaum muslimin duduk khusuk mendengarkan paparan Syeikh Anis Thahir Jamal Al Indunisy, seorang ulama Saudi yang orangtuanya berasal dari Indonesia, bertempat di Jakarta Islamic Center, 26 Juli 2015.

Lebih dari dua jam, As Syeikh menjelaskan keuniversalan ajaran Islam dalam menyelesaikan berbagai masalah kehidupan manusia baik kehidupan individu ataupun kehidupan komunal, baik masalah kehidupan lokal maupun kehidupan international.

Beliau menekankan bahwa ketidaksukaan sebagian manusia pada Islam karena mereka tidak memahami Islam atau salah mengerti tentang Islam karena mereka tidak menggali Islam dari sumbernya yang asli: Al-Quran dan As-Sunnah. Mereka menggalinya dari sumber yang keliru.

Tidak sedikit orang-orang yang menuduh Islam sebagai agama teror padahal Islam mengecam terorisme itu, Islam mengecam kekerasan. Islam justru agama yang menjunjung tinggi kasih sayang.

Beliau mendoakan semoga ummat Islam di Indonesia, baik pemerintahnya, ulamanya, dan rakyatnya mampu memperlihatkan Islam yang sesungguhnya kepada dunia, menjadi saksi bagi dunia.

Wallahu a'lam.

Kue



Terima kasih banyak pada majalah Pastry & Bakery. Kami terkejut. Di edisi Agustus inì, anda telah mengangkat profil usaha kami, Yussy Akmal Cake & Bakery, sebagai cover story. Terimakasih banyak, ya.

Masyarakat Bandar Lampung  memang telah cukup lama mengenal salah satu produk kami, Pie Pisang Lampung, di samping puluhan jenis kue dan roti lainnya.

Pie pisang ini berbahan baku pisang Lampung asli yang dipadukan dengan pengolahan modern. Masyarakat Bandar Lampung telah menjadikannya oleh-oleh khas Lampung. Terlihat, di bandara Radin Intan telah mulai banyak yang menenteng tas kue berisi pie pisang dengan logo Yussy Akmal.

Sayangnya, jangkauan produk ini belum mencapai daerah yang luas. Padahal, sejak riset pertama kali dan uji coba berkali-kali, rasa pie pisang kami ini sangat pas untuk lidah Nusantara. Ini pernah diakui oleh seorang pakar kue Indonesia yang kesohor, Ny. Liem, ketika beliau datang berkunjung.

Karena itu, setelah majalah besar Pastry & Bakery menjadikannya cover story edisi Agustus 2015 ini, kami berharap pie pisang Lampung Yussy Akmal semakin dikenal masyarakat Indonesia.

Kami pun menjadi tertantang untuk melayani masyarakat dengan lebih baik melalui penyediaan kue dan roti yang halal, hygienis, dan lezat bermutu.

Kritik dan saran kawan-kawan tetap kami tunggu. Jika datang ke Bandar Lampung, jangan lupa mampir.

Semwntara, baru ada 3 outlet di Bandar Lampung:
Jl. ZA Pagar Alam, Kedaton (sebelah Enhai)
JL, Sudirman No. 17 (sebelah Gelael)
JL. Dahlia 10, Rawalaut.

Insyaalah, kami akan terus menjadikan usaha kami sebagai ibadah pada Allah SWT.

Salam hangat selalu.

Ibukuku Seorang Guru


Foto jadul, dibuat kira-kira tahun 60-an. Guru-guru SD Negeri Koto Marapak berpose di depan sekolah mereka yang sangat sederhana yang dibuat dari bahan kayu. Kedua dari kiri, duduk, adalah ibunda saya Fadhilah binti Martunus. Beliau guru setia sekolah itu.

Ibunda Fadilhah  lahir Agustus 1928 di Desa Koto Marapak, Bukittinggi, dan wafat Mei 2004 di Jakarta. Beliau dimakamkan di Keret Bivak Jakarta, pada makam yang sama dengan makam ayanda kami yang wafat  September 1987.

Sepanjang karirnya, ibunda Fadhilah telah mengabdikan diri sebagai guru sekolah dasar. Jiwa guru telah menguasai dirinya. Setelah usia pensiunpun, beliau terus mengajar dengan membuat  majlis pengajian al Quran di rumah untuk anak-anak. Murid-muridnya sekarang sudah tak terhitung jumlahnya dan tersebar kemana-mana, seantero negeri, dengan berbagai profesi.

Dari rahimnya, telah terlahir 2 anak perempuan dan 7  anak laki-laki. 1 anak laki -laki dan 1 perempuan telah wafat sebelum beliau wafat. Dari kesembilan anak itu, posisi saya adalah anak yang paling tengah. Beliau adalah ibu yang sangat penyayang, perempuan perkasa, pekerja keras, ulet, dan mempunyai banyak telenta.

Beliau dikenal kawan-kawannya sebagai seorang humoris dan berjiwa seni. Beliau mahir memainkan gitar, biola, dan harmonium. Beliau seorang story-teller yang baik. Beliau juga seorang pencinta hewan.  Sampai akhir hayatnya, beliau tidak tega memakan daging ayam atau bebek hanya karena tidak sanggup membayangkan hewan-hewan itu disembelih.

Beliau tidak suka dengan orang-orang yang menyakiti hewan dan merampas kemerdekaannya. Beliau pernah mengatakan pada saya bahwa hewan-hewan yang disakiti itu nanti akan mengadu pada Allah di yaumil akhir dan meminta pembalasan yang setimpal dari Allah.

Beliau adalah motivator saya. Salah satu motivasi saya untuk akhirnya memilih menjadi peternak ayam sekarang ini adalah dari beliau. Saya mengikuti saran beliau untuk memelihara unggas itu.

Salam,

Musajik Usang





Bangunan ini dulu kala adalah sebuah mesjid jami', yaitu mesjid yang menjadi pusat kehidupan spiritual warga desa kami, Desa Kota Marapak, Kecamatan Ampek Angkek, Sumatera Barat. Sejak telah dibangunnya bangunan mesjid yang baru sebagai mesjid jamik, bangunan tua ini pun menyandang nama "Musajik Usang."

Kalau Anda sampai di kota Bukittinngi -- kota dingin, yang di zaman Belanda disebut Fort De Kock -- Anda tinggal melanjutkan perjalanan beberapa kilometer ke arah timur melalui jalan raya menuju Pekan Baru sampai batas kota, Garegeh. Dari Garegeh, kurang dari 3 km, Anda sampai di suatu persimpangan tiga, namanya Simpang Pinang Balirik. Dari sana, Anda berbelok ke utara, menulusuri jalan desa yang kecil yang agak menurun sejauh 2 km. Sampailah Anda di Balai, pusat Desa, Koto Marapak yang saya maksudkan.

Di Balai ini, Anda akan menemukan Mesjid Jamik Koto Marapak yang baru. Kira-kira 100m dari mesjid baru itu, ke arah barat, terletak Musajik Usang yang ada di foto ini.

Tidak ada data sejarah yang cukup akurat kapan mesjid tua yang dinamakan Musajik Usang itu dibangun. Dari gaya arsitektur dan lokasinya, saya memperkirakan mesjid ini di bangun abad ke 14-15 M, sebelum kedatangan penjajah belanda. Lebih tepatnya di bangun di zaman para wali ketika dunia Islam dipimpin oleh Kesultanan Usmaniah di Turki. Wallahu a'alam.
Seingat saya, ketika akhir 60-an, awal 70-an, ketika saya di tahun-tahun pertama SD, mesjid itu sudah tidak digunakan lagi. Masyarakat desa kami telah beralih ke mesjid baru yang lebih besar yang dibangun dengan struktur tiang dan lantai beton yang lebih kokoh serta di lokasi yang lebih strategis, Balai. Balai adalah alun-alunnya desa Koto Marapak. Balai mudah dijangkau dari seluruh penjuru Desa sehingga mesjid baru lebih sesuai di sana.
Sejak diaktifkannnya mesjid baru yang juga dinamakan sebagai mesjid jamik itu, berpindahlah seluruh kegiatan spiritual masyarakat ke mesjid baru yang gagah dengan kubah besar dan menara yang menjulang ke angkasa itu. Maka, berangsur-angsur pula mesjid lama itu berubah status menjadi usang. Orang-orang pun menyebutnya Musajik Usang. Kami, anak-anak menjadikan mesjid lama itu tempat bermain-main sandiwara-sandiwaraan.

Yang usang pada Musajik Usang itu tentulah bangunannya saja. Nilainya tetap tinggi. Di tempat itulah dulu nama Alllah dikumandangkan dan dimuliakan. Bangunan kayu itu sekarang memang sudah lapuk. Lantainya tak mungkin lagi diinjak. Dindingnya miring. Lokasinya pun tidak lagi strategis. Wajarlah kalau akhirnya para pemimpin masyarakat ketika itu memutuskan mendirikan mesjid baru sebagai pengganti.

Tapi, walaupun sudah ada mesjid baru, tak seorangpun yang tega meruntuhkan atau merobohkan mesjid tua itu betapapun telah diberi nama Usang. Inilah yang uniknya. Mungkin, tak seorangpun di desa saya dapat melupakan karya seni tingkat tinggi berupa ukiran yang menghiasi tiang dan dindingnya. Di dinding dan tiang Musajik Usang itu memang terpahat asma-asma Allah yang agung dan sejumlah ayat-ayat suci Al-Quran. Baru saja kita masuk ke dalam ruang utama mesjid itu, hati menjadi tentram dengan menatap ukiran itu.

Di atas mihrab (ruang untuk Imam) ada mihrab yang dibuat tinggi, namanya mihrab mu'azin. Terdapat tangga untuk naik ke mihrab mua'azin itu. Itu bukan ruang ornamen. Ruang itu adalah tempat mu'azin mengumandangkan azan. Saya masih ingat, biasanya ada 3-4 orang mu'azin yang mengumandangkan azan secara serentak sehingga azan terdengar ke seluruh desa.

Yang paling tidak dapat saya lupakan adalah struktur atapnya yang berjenjang tiga dan jumlah jendelanya yang dua puluh.

Atapnya yang berjenjang tiga mengisyaratkan adanya 3 tahapan pejalanan manusia menuju Tuhan: (1) Islam, (2) Iman, dan (3) Ihsan.
Tahap Islam adalah tahap elementer. Di tahap ini seseorang dituntut mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan Nya. Itulah kepatuhan. Tahap selanjutnya, kepatuhan saja tidak cukup. Setelah adanya kepatuhan, sesorang harus membuktikan kepatuhan itu dengan takut dan cinta Allah. Itulah tingkat kedua yang dinamakan iman. Iman pun belum cukup jika seseorang belum ikhlas beribadah hanya untuk Allah. Itulah tingkat ketiga yang dinamakan ihsan.
Hebat sekali falsafah arsitektur Musajik Usang itu. Tiga jenjang atapnya menunjukkan adanya tiga tahap perjalanan menuju Tuhan: Iman, Islam, dan Ihsan.

Jendelanya yang dua puluh mengisyaratkan adanya dua puluh sifat Tuhan. Mazhab Asy'ariah mengajarkan adanya dua puluh sifat Tuhan (wujud, qidam, baqa, mukhalatul lil hawaditsi, qudrah, iradah, ilman, hayyan. dst) yang merupakan pintu mengenal Allah. Barang siapa yang mengenal keduapuluh sifat itu, ia akan mengenal Allah. Kalau ia mengenal Allah, maka ia akan menempuh jalan Allah.

Bangunan mesjid boleh runtuh, kayu-kayunya boleh lapuk karena itu sunnatullah, namun manusia tidak boleh lupa falsafah hidup yang diajarkan oleh pendahulu kita melalui simbol-simbol, termasuk simbol-simbol yang mereka buat di mesjid. Dari Allah kita berasal dan kepada-Nya kita menuju. Tiga tahapan yang tidak boleh kita lupa: islam-iman,-ihsan dan sifat 20 Allah.

salam,

SMP 3


Ini foto yang dibuat tahun 1975, 40 tahun lalu.  Kami murid-murid kelas I-B, SMP Negri No. 3 Bukittinggi, berseragam pramuka, berpose bersama ibu Wali Kelas. Walaupun belum berlatih baris berbaris ala Pramuka, kami wajib berseragam Pramuka terlebih dulu.

Di foto itu, saya berdiri di baris paling belakang, di atas bangku, no.2 dari kanan. Yang berdiri di sebelah kanan saya, no 3 dari kanan, adalah bintang kelas kami. Namanya Andefi. Berpikirnya sangat cepat. Jago ilmu ukur, aljabar, dan ilmu alam.  Saya kelimpungan  menghadapi kecerdasannya. Sekarang ia orang sangat penting di Kementrian Kehutanan.

Yang duduk di depan saya, no 2 dari kanan,  juga bintang kelas kami. Ia fasih berbahasa Ingris sejak kelas I SMP lagi. Namanya Yeni Rozimela. Sekarang ia guru besar Sastra Inggris, di UNP, Padang.

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail