Breaking

Showing posts with label Humaniora. Show all posts
Showing posts with label Humaniora. Show all posts

Wednesday, September 30, 2015

Wednesday, September 30, 2015

Si Nila


Entah bagaimana, saya jadi ingat si Nila. Anda kenal si Nila? Pasti ingat. Gara-gara dia, susu sebelanga Anda menjadi sia-sia.
Waspadalah!

Kita  boleh bangga dengan hasil kerja bertahun-tahun mengumpulkan susu, mengumpulkan harapan, mengumpulkan prestasi, dlsb. Tapi, karena satu kecerobohan kecil, setitik saja,  semua yang telah diupayakan itu bisa hancur berantakan.

Nila, nila...

Dalam organisasi, perusahaan, atau jamaah juga demikian. Bisa jadi, misi, visi, atau strategi kelompok itu baik. Orang-orangnya pun pilihan di antara orang-orang baik. Tapi, gara-gara segelintir orang buruk di dalamnya, keseluruhan kebaikan orang-orang baik itu akan dipersepsi sebagai buruk. Sayang sekali, bukan?

Waspadalah dengan si Nila.

"Karena nila setitik, rusak susu sebelanga."

Itulah salah satu nasihat terbaik nenek kita yang diperolehnya dari neneknya lagi, yang kalau kita hayati kembali hari ini, hasilnya akan luar biasa.

Sunday, September 20, 2015

Sunday, September 20, 2015

Islamic Center



Ribuan kaum muslimin duduk khusuk mendengarkan paparan Syeikh Anis Thahir Jamal Al Indunisy, seorang ulama Saudi yang orangtuanya berasal dari Indonesia, bertempat di Jakarta Islamic Center, 26 Juli 2015.

Lebih dari dua jam, As Syeikh menjelaskan keuniversalan ajaran Islam dalam menyelesaikan berbagai masalah kehidupan manusia baik kehidupan individu ataupun kehidupan komunal, baik masalah kehidupan lokal maupun kehidupan international.

Beliau menekankan bahwa ketidaksukaan sebagian manusia pada Islam karena mereka tidak memahami Islam atau salah mengerti tentang Islam karena mereka tidak menggali Islam dari sumbernya yang asli: Al-Quran dan As-Sunnah. Mereka menggalinya dari sumber yang keliru.

Tidak sedikit orang-orang yang menuduh Islam sebagai agama teror padahal Islam mengecam terorisme itu, Islam mengecam kekerasan. Islam justru agama yang menjunjung tinggi kasih sayang.

Beliau mendoakan semoga ummat Islam di Indonesia, baik pemerintahnya, ulamanya, dan rakyatnya mampu memperlihatkan Islam yang sesungguhnya kepada dunia, menjadi saksi bagi dunia.

Wallahu a'lam.
Sunday, September 20, 2015

Herman Sira Manuk



Saya bertemu kawan lama, Herman Sira Manuk, di rumahnya di kawasan Gunung Ibul, Prabumulih --di rumahnya yang tergolong bukan rumah sederhana itu. Walaupun rambut beliau sudah mulai memutih, semangatnya tak tertandingi oleh saya. Didampingi oleh istrinya yang tampak masih awet muda di usianya yang lebih separo abad, kami membicarakan banyak hal.

Tahun 1991 yang lalu saya bertemu pertama kali dengan Pak Herman Sira Manuk  di Proyek Pengembangan Injeksi Air, Lapangan Limau, Prabumulih --Lapangan minyak milik Pertamina yang dikerjasamakan pengoperasiannya dengan Husky Oil International. Kami berada dalam satu tim yang sangat kompak. Saya membidangi fasilitas dan konstruksi peralatan sedangkan Pak Herman membidangi proses produksi dan injeksi air.

Bersama-sama dengan kawan-kawan lain, dari berbagai keahlian, proyek injeksi air di Limau dianggap berhasil dan bahkan menjadi rujukan untuk proyek yang sama di tempat lain. Laju produksi minyak yang awalnya 300 BOPD berhasil dinaikkan perlahan, bahkan pernah mencapai 15,000 BOPD.

Selama hampir 15 tahun kami bekerja sama, bahu membahu di lapangan Limau itu. Antara saya dan Pak Herman telah menjadi seperti keluarga.

Setelah kontrak kerjasama pengelolaan lapangan Limau berakhir, kami bersama-sama pindah ke proyek ekplorasi minyak di Batu Raja. Satu tahun di sana.

Karena proyek itu gagal --investornya ogah melanjutkan-- kami pun pindah ke proyek lapangan Bula, Maluku. Di Bula itu kami melanjutkan kerjasama dan kekeluargaan kami yang pernah terbentuk sebelumnya.

Tahun lalu, 2014, kami berpisah karena Pak Herman pensiun.

Sekarang, Pak Herman mengisi hari-harinya membangun ekonomi Indonesia dengan menjadi petani.

Di atas lahan 7 hektar, di daerah Suban, beliau bertani pohon Gaharu. Di atas lahan 7 hektar yang lain lagi, di Karang Endah, beliau bertani karet. Dulu, di lahan karet ini, beliau pernah bertani Melon tapi tidak berhasil. Melon dihentikan dan tanahnya ditanami karet.

Hampir 2 jam saya dan Pak Herman bertukar pikiran tentang masa depan ekonomi Indonesia, khusunya pertanian. Saya pun menceritakan kepada beliau bahawa saya sedang belajar bertani. Saya ceritakan betapa menyedihkannya harga karet. Sebagai petani, beliau merasakan itu.

Saya ceritakan  bahwa saya belajar bertani buah naga. Pohon naga di kebun saya menguning daunnya. Secepat kilat, pengagum buah naga itu menunjukkan cara-cara mengelola tumbuhan kaktus itu. Beliau pun menunjukkan puluhan pohon naga yang dipeliharanya di dalam pot di belakang rumahnya. Semua subur.

Dengan semangat, Pak Herman mengajak saya mendalami pertanian gaharu yang sekarang ditekuninya dan seluk beluknya. Dengan laptopnya, ia memperlihatkan  teknik terbaru mempercepat pertumbuhan bagian batang gaharu yang berkualitas premium --untuk ekspor- mengggunakan bakteri yang dikembangbiakkan sendiri di belakang rumahnya yang memanfaatkan air kucuran AC yang ditampun drum plastik.

Satu lagi yang membuat saya terkejut, Pak Herman mengajak saya melihat masa depan pertanian jengkol. "Orang yang tidak sadar masa depan jengkol, adalah orang yang tidak paham tentang realitas," katanya semangat. Level saya baru sebatas penggemar goreng jengkol yang diberi cabe merah atau hijau.

Yang sangat mengejutkan, Pak Herman menantang saya bertani kelor, tanaman yang saking terkenalnya, dijadikan pepatah di negeri kita "dunia tak selebar daun kelor". Pak Herman menyerahkan pada saya satu artikel tentang bertani keloryang baik, sebuah kajian seorang pakar berdasarkan kaidah-kaidah Al-Quran. Al-Quran? Bukankah beliau seorang Katolik?

Putra Flores yang pernah senasib dengan saya -- kami pernah sama-sama jadi guru ketika kami mahasiswa: Pak Herman guru SMP di Apelembang sedangkan saya guru SMA di Bandung -- itu sungguh luar biasa.  Beliau sahabat sekaligus mentor yang baik.

Walaupun agama kami berbeda, sejak dulu antara kami sering berdiskusi tentang berbagai hal, termasuk tentang agama. Beliau seorang penganut Katolik yang taat. Saya selalu meilihat beliau berdoa sebelum makan. Di rumahnya bertebaran buku-buku agama.  Kalau diskusi tentang minyak, pertanian, dan peternakan jangan ditanya lagi. Bukan hanya sering tapi selalu.

Semoga saya bisa menyediakan waktu menerima tawaran Pak Herman meninjau berbagai lahan pertanian budidaya tanaman masa depan itu, termasuk gaharu, jengkol, dan kelor. Sebelum kami berpamitan,  si kakek yang sudah punya dua cucu itu menawari saya meninjau dua jenis tanaman lain yang akan booming di Indonesia, yaitu daun swasembada dan kapulaga.

Selamat sukses ya Pak Herman.
Sunday, September 20, 2015

Ismet Hasan



Siang tadi, saya bertemu dan berbincang dengan sahabat lama, Ismet Hasan, seorang ulama dan pengusaha sukses di Prabumulih. Untung saya bekesempatan bertemu beliau hari ini karena besok pagi beliau sudah harus berangkat ke Eropa. Pak Ismet yang rendah hati itu menjamu saya berbincang-bincang di toko kainnya yang baru.

"Apa beda toko Dusra yang baru ini dibandingkan Dusra lama yang berada di sebelah pasar Inpress," tanya saya membuka pembiacaraa.

"Di toko ini, semuanya import, sedangkan di tempat lama fokus produk lokal," jelas Pak Ismet sambil menunjuk bahan-bahan garmen gulungan yang terpajang di tokonya yang berasal dari China.

Pak Ismet adalah seorang sahabat sekaligus guru yang bersahaja. Ayahnya, Haji Hasan, yang merintis  perniagaan keluarga mereka pertama kali di Prabumulih dengan brand Dusra, Saya mengenal Pak Ismet ketika toko Dusra sudah berada di tangan Ismet Hasan.

Selain pengusaha, Pak Ismet juga dikenal sebagai seorang aktifis. Hampir pada seluruh kegiatan sosial kemasyarakatan, nama Ismet Hasan ada. Kalau bukan ketua, biasanya beliau jadi bendahara.

Dulu, ketika di Prabumulih diupayakan penyatuan seluruh khatib di bawah satu forum yang bernama FKAM (Forum Komunikasi Antar Masjid), Ismet Hasan adalah penggerak dan figur penting di sana di samping tokoh-tokoh lainnya.

Saya sering diajak oleh Pak Ismet berkenalan dengan tokoh-tokoh lain di Prabumulih dan mengikuti berbagai aktifitas sosial keagamaan.

Saya bersama beliau mengadakan pelatihaan kepememipinan remaja mesjid. Saya juga bersama beliau mendirikan forum usaha muslim berbentuk koperasi.

Pak Ismet bukan saja pembimbing saya dalam sosial keagamaan, tapi juga mentor saya dalam bidang bisnis.

Walaupun pertemuan kali ini tidak lama karena beliau harus siap berangkat besok ke Eropa dan saya juga ada acara lain, kami sudah merencanakan pertemuan berikutnya di Jakarta.
Sunday, September 20, 2015

Angga




Beberapa orang yang mengaku pernah bertemu lelaki berusia sekitar 14 tahun ini, tidak ada yang mampu mengingat namanya.

"Namanya susah diingat, tidak familiar sebagai nama Indonesia," tulis salah seorang sahabat FB saya, Wahyu Muqsita Wardana, di atas wall-nya. "Saya memanggilnya Angga, bukan nama sebenarnya."

Angga sering terlihat berdiri sendirian menunggu sesuatu di sekirar Mesjid Salman ITB. Kadang-kadang ia muncul sore, kadang-kadang pagi. Ia susah diajak bicara karena pemalu, dan sepertinya takut dengan orang lain.

Kalau ada yang mendekat, ia cendrung menjauh. Jika ada yang nekat mengejarnya, ia memilih lari.  Jadilah seperti orang main kucing-kucingan atau kejaran-kejaran. Sebagian anak perempuan malah takut pada tatapan matanya yang kadang terlihat menggoda.

Diperlukan keterampilan khusus mendekati remaja bergejala introvet itu. Kalaupun ada yang berhasil mengajaknya bicara, harus bicara dalam bahasa Inggris. Walaupun pemuda itu berwajah kadang-kadang terlihat seperti wajah Indonesia, campuran Melayu-Bule, ia sama sekali tidak paham bahasa Indonesia. Logatnya kental logat Bule. Bahasa Inggrisnya bagus.

Karena sikap menghindarnya itu, sebagian warga Mesjid Salman atau ITB lebih memilih untuk menganggapnya orang gila saja. Isu sebagai anak gila itu lebih terkenal sebagai identitas dirinya sehingga anak itu terbiar, kumal, dan menggelandang sekian lama. Tidak ada yang sudi mendekatinya secara serius.

Wahyu --dan beberapa orang yang mengomentari wall Wahyu di FB dan mengaku berhasil berbicara dengan remaja aneh ini -- mengatakan kalau Angga telah dua tahun tinggal di Indonesia. Ia bukan warganegara Indonesia. Ia anak orang Inggris yang menikah dengan orang Indonesia.

Angga tidak tahu siapa ibunya. Setelah menghabiskan masa kanak-kanaknya di Inggris, ia merasa tidak diakui oleh ayah ataupun keluarganya di Ingrris, maka ia pun berangkat ke Indonesia. Mungkin ingin mencari ibunya atau kelaurga ibunya. Ia tidak terbuka.

Sesampai di Indonesia, ia tidak menemukan ibunya atau seorang keluarga yang berkenan menampungnya. Ia pun menggelandang.

Bahkan seluruh dokumen identitas dirinya, paspor, visa, KTP, atau apa saja tidak ada. Kalau ditanya, Angga mengaku kalau dokumen itu diambil orang lain. Ia pun tidak bisa menjelaskan siapa orang yang dimaksudkan itu.

Banyak yang melihatnya kalau ia sering mampir ke Mesjid Salman , bukan untuk shalat, tapi untuk sekedar mencuci muka di tempat berwudu'

Ada juga yang mengatakan kalau Angga pandai melafazkan basmalah dan alhamdulillah. Ada yang yang pernah mendengarka lafaz-;afaz itu.  Ia jarang senyum. Sekali senyum, ia tampak sangat bahagia. Wajahnya yang tampan seperti bersinar di bawah sinar matahari di balik wajah dan jaket dan kaosnya yang kotor dan lusuh.

Angga, siapakah Engkau sebenarnya? Saya penasaran. Tunggu ya, saya akan ke Bandung, ke Mesjid Salman. Saya akan ajak kamu ngobrol di kantin mesjid itu. Kalau kamu suka kopi, kita minum kopi sama-sama.  Kamu boleh belajar azan dengan saya.
Sunday, September 20, 2015

Rahma Sari



Gadis yang berdiri di depan kampus Civil and Mechanical Engineering, University of Birmingham itu bernama Rahma Sari. Tidak terlalu tinggi juga tidak gemuk.

Saya sampai meneteskan air mata melihat wajahnya yang polos. Senyumnya mengingatkan saya pada ibunya yang sederhana, mudah senyum, dan ramah kepada siapa saja. Sinar matanya mengingatkan saya pada sosok sang ayah, sahabat sekaligus guru saya, Ismet Hasan.

Pak Ismet, demikian saya memanggil sang ayah, adalah seorang wiraswastawan, pedagang kain, seorang aktifis dakwah, aktifis berbagai organisasi sosial keagaman di kota Prabumulih, kota yang terletak 90 km dari Palembang. Kalau bukan ketua, beliau sering diangkat jadi bendahara di berbagai organisasi. Kegigihannya luar biasa memperjuangkan tegaknya syariah Islam, ceramah dan khutbahnya bernas. Lebih dari itu, ia bekerja membiayai sendiri dakwah-dakwahnya. Ia tidak bekerja sebagai pegawai kantoran yang bergantung dengan gaji, tetapi berbisnis. Brand bisnisnya di Prabumulih terkenal dengan nama Dusra.

Pak Ismet dididik dari kecil sebagai seorang pekerja keras, ulet, dan berpikiran mandiri, oleh keluarga besarnya yang hijrah dari Banuhampu, Bukittinggi, ke Prabumulih. Di kota nenas ini keluarga besar Haji Hasan, orang tuanPak Ismet, menetap dan berkiprah.

Beberapa hari lalu, ketika saya berkunjung ke Prabumulih, Pak Ismet tak sempat berbincang-bincang lama  dengan saya di salah satu toko kainnya. Tampaknya beliau sudah punya agenda lain hari itu. Padahal biasanya, kalau ngobrol dengan saya bisa semalam suntuk.

"Pak Jufran, saya besok pagi harus berangkat ke Eropa, " kata Pak Ismet seraya minta maaf, "tepatnya ke Brimingham, Inggris."

"Ada urusan apa?"

Saya mengira Pak Ismet ke sana mau merayakan Idul Adha karena kecewa dengan jadwal Idul Adha di Indonesia yang kembali berbeda antara NU dan Muhammadiyah.  Beliau termasuk yang tidak bahagia jika kita berhariraya tidak serentak.

Atau,  Pak Ismet sengaja ke Inggris agar bisa berkurban dengan sapi yang lebih besar tapi lebih murah dibanding harga di Prabumulih. Di sini harga daging sedang tinggi. Siapa tahu di Ingris lebih murah sedikit.

Banyak lagi dugaan-dugaan saya yang secara bercanda saya sampaikan kepada beliau. Semua itu dibantahnya sambil tertawa lebar.

Tenyata beliau ke Inggris urusan putri keduanya, Rahma Sari.  "Anak saya mau wisuda," katanya lirih dengan mata berkaca-kaca. Ekspresi wajahnya dengan rambut yang telah memutih menyembunyikan keharuan karena bahagia.

Hari ini, Rahma Sari, boleh senyum bahagia, Ayah kandung yang telah membesarkannya susah payah itu hadir langsung di Birmingham menghantarkannya diwisuda di sekolah bergengsi, di negeri yang melahirkan banyak ilmuwan dunia, di negeri yang dimimpikan oleh jutaan anak Indonesia bersekolah di sana.

Walaupun ayahnya hanya lulusan SMA, orang biasa, pedagang kain di pasar Prabumulih, Rahma Sari membuat keluarganya berbeda. Rahma Sari harus bersyukur. Lulusan SMA 1 Prabumulih, remaja putri berjilbab, yang menyelesaikan S1 di Teknik Sipil UNSRI itu, kini diwisuda di level S2, master, di University of Birmingham, dalam bidang Road Engineering and Management.

Saking bahagianya Pak Ismet, berpuluh-puluh foto tentang kota Birmingham dikirimnya melalui FB langsung dari kota di bawah kekuasaan Ratu Elizabeth itu. Saya heran, ia sampai nekat masuk ke dalam Cathedral dan mengirim foto ruang kosong gereja tua itu.

Tidak satupun sudut kota Birmingham yang tidak dilewati. Semua difotonya pula dan dikirimnya melaluimFB. Puluhan komentator menanggapinya. Ada tanggapan lucu, main-main ada tanggapan serius.

"Salam untuk nenek Ratu."
"Saya titip jaket."
Dan lain-lain komentar

Ketika Pak Ismet mengirim foto stadion bola milik Manchester United, saya sampaikan kepada Pak Ismet, sebaiknya orang Indonesia berhenti dulu main bola. Nanti, kalau masa krisis sudah berlalu, boleh main lagi. Sekarang, tenaga yang ada digunakan dulu untuk bertani, beternak, atau berniaga. PSSI biar saja beku dulu. Toh, kalaupun masih ngotot bertanding, PSII juga tidak akan menang melawan klub bola Inggris itu.

Saran saya ditanggapi dingin oleh ustaz penggemar berat bola kaki itu. Beliau risau dengan lapangan bola yang banyak di Indonesia.

Saya bilang, "Lapangan itu bisa kita gunakan untuk tempat pengembalaan kambing atau sapi."

Pak Ismet menulis, " Ha ha ha ha.." Kawan saya yang usianya sudah lebih 50 tahun itu ternyata bisa juga tertawa secara tertulis. He he he.

Bukannya memikirkan saran saya, malam ini, Pak Ismet malah siap-siap menonton pertandingan Chelsea dan Arsenal, di bangku deret ke-3, blok ke 5. Karcis seharga 56 Pound itu sudah di tangannya.  "Para penjudi disini meramalkan Chelsea bisa menghajar Arsenal 2-0," tulisnya. Beliau tidak akan ikut berjudi. Beliau hanya peminat sebakbola, apalagi sepakbola kelas dunia.

Saya hanya berharap, dengan kembalinya Rahma Sari --anak Pak Ismet yang cantik itu-- ke Palembang, ilmu geotechnical yang didalaminya di Inggris dapat segera diaplikasikannya pada pembuatan jalan antara Palembang dan Prabumulih yang banyak rawa-rawa. Ekonomi Sumsel akan maju bila semua jalannya lebar, minimum 30m, kuat, mulus, dua jalur, dan bebas hambatan. Semoga model jalan di Inggris bisa dicontek Rahma untuk Indonesia.

Rahma, tidak usah dipakai ilmunya membuat lapangan bola, ya.

Wednesday, June 3, 2015

Wednesday, June 03, 2015

Kaya dan miskin

Seorang perempuan cantik dengan gaun berbelah panjang sampai paha, penuh pernak pernik di bagian leher dan pinggang,  bersepatu tumit tinggi Cinderella Slippers, meloncat keluar dari sebuah Lamborghini Veneno 3000 cc sambil membanting pintunya dengan wajah murka. Tangannya yang putih mulus yang terbuka sampai di bahu menjinjing tas munggil Hermes Matte Crocodile Birkin seri terbaru.

Kemudian, terdengar ciutan keras ban radial mobil itu karena digas kejut oleh si sopir, seorang lelaki ganteng perlente yang duduk di belakang stir. Sambil bertolak pinggang, perempuan itu menatap tajam si lelaki yang terus berlalu.Aku yakin suami-istri kaya ini baru saja berkelahi karena mereka tidak sepakat, apakah akan makan di pesta yang sudah hampir usai atau makan di restoran saja. Hukum rimba akhirnya berlaku.

Tak jauh dari tempat itu, seorang ayah kurus kusam, dibantu istri yang gemuk ceria, mengatur enam anaknya berbaris menunggu angkot jurusan Cileungsi-Cililitan. Setiap kali si sopir memberi isyarat mobilnya sudah penuh, si ayah menghadiahinya senyuman, sambil menurunkan kembali tas besar penuh bekal dari bahunya.  Si ibu loncat sana loncat sini 

Aku yakin suami-istri yang miskin ini, sedang mengantar anak-anak mereka berenang mumpung sekolah libur.

Tak lama kemudian, aku berpikir, Apakah benar definisiku tentang ‘kaya’ dan ‘miskin’?  Apakah adil melabeli seseorang itu kaya hanya karena ia dikelilingi oleh nama-nama besar: Hermes, Lamborghini, J-co, Starbuck, Mc-Donald, BMW, Samsung, XXI, Body Shop, atau Universal Studio. Padahal, di balik kemewahan itu selalu saja ada rasa tak puas, rasa tak pernah cukup-cukupnya?  Begitu banyak orang yang dilabeli kaya dan mapan, ternyata hidupnya mengemis, memeras. Rumah tangganya medan peperangan. 

"Uh," penasaran membuatku galau. 

Apakah label miskin tepat bila hanya dikaitkan dengan bon warung, angkot, baju kodian Tanah Abang, dan warteg?  Begitu banyak di sekitarku orang yang menyandang label "miskin" dari masyarakat  tapi mereka hidup terhormat, bahagia. Mereka banyak memberi. 

Selama lima belas menit kurang beberapa detik aku mencoba mendefinisikan ulang apa itukaya apa itu miskin, sementara keringat mengucur dari pelipisku karena sengatan matahari.

"Kaya adalah..."

"Miskin adalah..."

Tiba tiba, mataku menangkap sekelompok merpati -- mungkin lebih tujuh ekor -- bercanda ria di atas sebuah nampan berebut segantang jagung yang dituangkan nenek bungkuk yang sudah renta. Bulir-bulir yang mereka patuk itu sebenarnya cukup untuk sesore ini saja. Belum tahu untuk besok. Tapi, keceriaan mereka tak sedikitpun sirna.

Tanpa bisa aku elak, sebuah jawaban menyambarku. Yang mebedakan kaya dan miskin sesungguhnya adalah perasaan: perasaan cukup.  Merasa cukup pada yang ada, itulah kaya.  Merasa kurang, kurang, dan terus kurang, itulah miskin dan sebenar-benarnyakemiskinan, betapapun hidup dalam kelimpahan harta benda.

Salam.

















Saturday, August 16, 2014

Saturday, August 16, 2014

No Tipping Please!

Suatu siang, anak-anak mengajak saya ke sebuah mall mentereng di Jakarta.  "Mumpung libur,  kita lihat-lihat buku atau jalan-jalan saja," kata mereka. Saya menurut.

Ketika mobil kami memasuki tempat parkir, seluruh petugas parkir berseragam rapi -- baju putih dan celana panjang hitam -- sibuk dengan perannya masing-masing. Laki-laki dan perempuan. Mereka sangat necis dengan seragam yang membalut tubuh mereka yang mayoritas rampaing itu. Dengan sopan dan cekatan, salah seorang mereka menuntun kami  ke tempat parkir yang kosong. Kami merasa terlayani dengan baik.


Yang menarik saya, ketika petugas-petugas parkir itu  membelakang,  di bagian punggung baju mereka  dekat pundak,  ada sebuah tulisan dengan huruf kapital berwarna hitam:


NO TIPPING.


Tulisan itu menyolok mata. Tertulis dalam huruf kapital. Warnanya kontras dengan warna baju mereka yang putih. Tulisan itu sangat jelas terbaca dari kejauhan sekalipun.


Saya membayangkan,   pasti gagah juga rasanya jika  baju seragam aparatur negara, mulai dari presiden, menteri, dirjen,  gubernur, kabag, kadin, pantia tender,  ditulis "NO TIPPING" di punggungnya.


Slogan itu juga dapat dipasang di kantor-kantor, di rumah, atau di mobil-mobil dinas. Slogan sederhana yang memberi ingatan kepada siapapun.


Akan lebih bagus lagi, bila setiap mereka memulai pembicaraan apapun dengan tamu-tamunya, dengan senyum ia berkata, "No tipping, please!"

Friday, August 1, 2014

Friday, August 01, 2014

Membantu untuk pemerintahan baru yang bersih, efektif, dan efisien

Sebelum ini saya pernah membagi ada dua kubu yang dihadapi Jokowi. Pertama: kubu pro-prabowo dan kedua: kubu anti-jokowi.

Kubu pro-prabowo saya lihat lebih gentle. Mereka menjagokan Prabowo menjadi presiden, bukan Jokowi. Mereka berjuang membuat Prabowo unggul. Tapi, setelah Prabowo tidak terpilih di pilpres, mereka kemudian menerima kekalahan Prabowo secara legowo. Mereka sadar betul bahwa pengkultusan seseorang tidak banyak gunanya. Kalah dan menang adalah hal biasa. Yang kalah tak mesti berguling-guling di tanah, memukul-mukul diri meratapi nasib, sedangkan yang menang juga tak perlu meloncat-loncat penuh euforia.

Kalaupun kubu ini sedang berupaya menggugat perolehan Prabowo ke MK, gugatan mereka legal dan profesional. Mereka datang baik-baik dengan membawa bukti-bukti, bukan hanya slogan-slogan yang tidak berguna. Bahkan, mereka membantu menyediakan bukti-bukti lain yang mungkin dapat digunakan oleh tim hukum Prabowo. Setidak-tidaknya mereka membantu menyusun file gugatan biar tak tercecer.

Sikap mereka satu. Jika MK nanti memutuskan Prabowo menang, mereka pasti akan membantu Prabowo sebagai presiden. Tapi, bila MK menolak gugatan Prabowo, mereka pun akan mengakui Jokowi sebagai presiden. Itulah sikap positif kubu ini. Nama mereka layak diabadikan dalam sejarah demokrasi Indonesia.

Berbeda jauh dari kubu pertama, kubu kedua, kubu anti-jokowi, panas menggelegak. Kemenangan Jokowi membuat hati mereka terbakar hangus. Tidur mereka tak nyenyak. Emosi mereka hampir-hampir tak terkendali. Materi-materi kampanye hitam atas Jokowi yang beredar tempohari mereka file baik-baik untuk disebarluaskan kembali bila waktunya nanti dengan berbagai improvisasi. Tak sabar rasanya mereka menunggu suasana idul-fitri berakhir karena mereka ingin segera meluncurkan kembali serangan pada Jokowi. 

Sejak awal sekali, saya lihat, kubu kedua ini memang tidak suka dengan anak muda kelahiran bantaran sungai yang kurus dan miskin yang secara mencengangkan melaju ke RI-1 dan sukses itu. Jokowi bagi mereka adalah bagaikan manusia yang harus dimusnahkan dari muka bumi. Wajah Jokowi sama sekali tidak sedap untuk mereka tatap. Cara tertawa Jokowi membuat usus besar mereka melilit dan berkerut sehingga lambung mereka mengeluarkan hawa busuk melalui kerongkongan. Dengan hati yang sakit terkoyak-koyak dan terluka mereka tidak tahan melihat sepak terjang para relawan pendukung Jokowi, yang benar-benar rela, yang tak habis-habisnya mendukung sang idola. Mereka pun kehabisan dalil. Dalil aqli dan naqli.

Setelah kubu kedua ini gagal mengganjal Jokowi, secara memalukan, di pilpres yang lalu, mereka sedang menyusun strategi mengganjal di tahapan berikutnya. Ini kabar yang sudah beredar di kalangan mereka. Jika tidak sukses di MK, katanya, mereka akan mengganjal Jokowi di pelantikan Oktober. Jika itu gagal lagi, mereka akan meng-impeach Jokowi di tengah jalan seperti impeachment untuk Gusdur tempohari. Kalau perlu, mereka akan menghentikan Jokowi di detik-detik terakhir pemerintahannya 2019 yang akan datang. 

Wow, betapa dahsyatnya dendam kesumat, ya. Dendam yang beranak dan berketurunan. Semoga tak seorang pun dari keluarga kita bagian dari kubu kedua ini, insyaallah.

Setahu saya, di sini ( di forum ini) tidak ada kubu kedua ini. Kalau pun ada,  ya barangkali hanya satu atau dua orang saja, dan pengaruhnya pun minor. 

Kita semua, warga yang mayoritasnya mengutamakan kepentingan ummat, memilih berpikir waras dan tidak akan menggubris kelompok yang penuh dendam kesumat itu. Kalau bisa, kita malah ikut serta menyadarkan mereka agar kembali ke jalan yang benar. 

Kalau tak bisa menyadarkan mereka, fokus kita membantu Presiden Jokowi memerintah negeri ini tidak terganggu. Hanya satu tujuan kita yaitu berdirinya negeri yang adil dan makmur dalam ampunan Allah SWT. 


Ada tiga langkah cepat, menurut saya, membantu pemerintahan ke depan yang bersih, efektif, dan effisien:

1. Beri masukan kepada Jokowi-JK menyusun tim-tim kuat yang jujur, amanah, cerdas, dan komunikatif. Beliau bedua menungggu masukan-masukan konstruktif dari semua pihak. Silakan masukan nama-nama yang dianggab berbahaya bagi republik ini dan nama-nama yang dianggap baik. Mari berpartisipasi di:


atau


2. Beri masukan kepada Jokowi-JK tentang program-jangka pendek yang bersifat urgen dan mendesak yang harus diselesaikan pada 3-12 bulan pertama.

3. Beri masukan kepada Jokowi-JK program-program jangka panjang untuk meletakkan pembangunan berkesinambungan sampai 25 tahun mendatang.

Itu saja yang bisa sampaikan. Mohon maaf lahir dan batin. Minal 'aidin wal faidzin.

Saturday, July 26, 2014

Saturday, July 26, 2014

Yth Pak SBY

Sabar, ya Pak. Kemarin anggaranmu dituding BOCOR. Sekarang pemilumu dituding CURANG.  Untunglah Bapak tidak mudah termakan puji dan caci. Karena sesungguhnya puji dan caci tak selalu masif, sistematis, dan berstruktur.  Ia selalu datang dan pergi sesuai kepentingannya.

Salam