Breaking

Showing posts with label Kepenulisan. Show all posts
Showing posts with label Kepenulisan. Show all posts

Saturday, May 26, 2012

Saturday, May 26, 2012

Plot

Satu cerita dibangun oleh serangkaian kejadian yang bersusun dan saling terkait. Satu kejadian adakalanya diceritakan sebagai latar belakang kejadian yang lain. Plot adalah susunan kejadian-kejadian itu.

Kalau diumpamakan satu kejadian itu seperti seperti sebuah gerbong, plot adalah relnya. Satu gerbong akan menarik gerbong lainnya. Tapi, gerakan gerbong secara keseluruhan ditentukan oleh relnya.

Dalam menciptakan cerita fiksi, seorang penulis seabaiknya membangun plot terlebih dahulu. Setelah polt jadi, di atas plot itulah kejadian demi kejadian dikisahkan.

Saturday, May 19, 2012

Saturday, May 19, 2012

Karakter

Secara mudahnya, karakter adalah ciri-ciri para pemain yang dilibatkan ke dalam cerita. Tanpa ciri-ciri yang lengkap, cerita akan terasa kaku dan tidak hidup. Karena itu, daftar para pemain belum dapat disebut karakter.

Misalnya dalam satu cerita pembunuhan, di dalam cerita itu ada tokoh pembunuh dan ada tokoh yang terbunuh. Barangkali ada pula tokoh yang menjadi pembantu si pembunuh. Mungkin juga ada pula tokoh yang menjadi saksi pembunuhan. Pembunuh, korban pembunuhan, pembantu pembunuhan adalah daftar para pemain atau pemeran. Semkain komplek cerita itu, semakin banyak pemain yang ditampilkan. Dalam suatu pembunuhan mungkin ditampilkan pula orang-orang yang lari ketakutan di lokasi pembunuhan. Mungkin juga ada polisi. Lebih jauh, ada pula keluarga si terbunuh dan si pembunuh, dst. Ringkasnya, cerita pad dasarnya adalah aksi yang dilakukan oleh para pemain cerita itu, baik pemain utama yang menjadi sorotan ataupun pemain figuran yang muncul sebagai peramai suasana.

Dalam suatu cerita yang hidup, penulis tidak cukup hanya menyebutkan peran dari para pemain itu. Para pemain itu harus digambarkan karakternya. Misalnya pemain yang berperan sebagai pembunuh, laki-laki atau perempuan kah ia? masih muda atau sudah tua? Bagaimana keadaan fisiknya: gemuk, kurus, tinggi, pendek? Di sampai karakter fisik yang dapat dibayangkan secara visual, perlu pula dijelaskan karakter psikisnya, perilakunya, latar belakangnya, dll.

Sekali satukarakter telah diperkenalkan, karakter itu harus tetap sampai cerita itu berakhir. Misalnya, di dalam episode pembunuhan di lokasi, Anda sudah mengatakan bahwa si pembunuh itu seorang laki-laki yang masih muda. Ketika si pembunuh itu diceritakan di episode lain di kantor polisi, si pembunuh harus tetap sebagai laki-laki muda. Jangan, tiba-tiba ia sudah berubah menjadi perempuan tua.

Karena karakater tidak dituliskan sekali gus tapi dicicil sepanjang jalan cerita, agar tidak lupa, para penulis professional membuat semacam daftar karakter setiap pemain. Ia boleh menambahkan karakter-karakter setiap pemain dengan leluasa, tapi ia harus hati-hati kalau mengurangi atau mengubahnya. Kalau ia mengurangi atau mengubah, maka seluruh penjelasan yang telah dibuat sebelumnya di dalam cerita  mesti diubah.


Friday, May 18, 2012

Friday, May 18, 2012

Setting

Setting adalah salah satu diantara lima elemen cerita. Bersama-sama dengan plot, karakter, tema, dan style, setting menjadi sebuah elemen yang membangun satu cerita secara keseluruhan.

Cerita yang saya maksud termasuk cerita fiksi ataupun non-fiksi. Bedanya hanya terletak apakah cerita itu ril ada atau cerita itu bercampur antara yang ril dan yang imajiner.

Kalau plot mengandung istilah pengantar, rising up, climaks, rising down, serta resolusi, maka setting mengandung istilah setting ruang dan setting waktu. Di dalam setting itu seluruh karakter, baik protagonis dan antagonis akan beraksi, berkelahi, berdialog, dll.

Bayangkan setting itu adalah tata panggung. Sebuah panggung yang dilengkapi dengan back-drop lukisan raksasa sebuah kota yang sibuk yang terlihat dari jendela kaca. Kota yang terlihat itu terdiri dari deretan gedung pencakar langit, kendaraan yang sedang macet, lalu lintas manusia. Di panggung sendiri ada tempat tidur, kursi sofa, dan meja belajar yang tua. Seluruh perkakas yang ada di panggung adalah perkakas sebuah kamar hotel murahan dan kuno.Dari keseluruhan terlihatlah bahwa setting yang dirancang itu sebuha kamar hotel murah dan kuno yang terletak di tengah kota metropolitan yang megah dan ramai.

Setting pun harus menggambarkan waktu dan zaman. Apakah waktunya siang hari atau malam hari. KAlau malam, tentu ada cahaya lampu. Kalau siang, ada cahaya matahari. Zaman pun harus tergambar dari setting. Apakah setting pada tahun 1920, 2010, atau 2090.

Di dalam setting ruang dan waktu itulah, karakter akan beraksi, berlaga, atau bercakap-cakap. Dari keseluruhan setting akan tergambar budaya, geografi, suhu, dsb.

Karena cerita akan bergerak mengikuti plot, setting ibarat gerbong, plot ibarat rel, sedangkan karakter adalah penumpang kereta api yang berada dalam gerbong.


Ada beberapa kaidah dasar dalam menulis setting. Saya akan sebutkan beberapa saja.

1. Detail.
Setting mesti detail. Jangan malas menulis detail. Gunakan berbagai strategi: simile, metafora,personafikasi

2. Gunakan deskripsi penginderaan.
Satu penginderaan terlalu kering. Gunakan lebih dari dua.Misalanya 3 atau 4.

3. Gunakan eksposisi intelektual. Untuk hal-hal yang tak mungkin dideskripsikan secara visual, gunakan pendekatan eksposisi ilmiah. Eksposisi ini bisa eksposisi dari sudut fisika, kimia, biologi, asstronomi, ekonomi, sosiologi, psikologi, kedokteran, sastra, bahasa, dll.

4. Ambil yang penting.
Lupakan hal yang tak penting atau yang sudah diketahui banayk orang. Jangan tulisakan semuanya. Masih perlukan anda menuliskan warna daun, warna langit, dll?  Rasanya, itu tak terlalu penting. Anak kecil juga ttahu kalau daun warnanya hijua. Tapi kalau daunnya berwarna aneh, perlu dimasukkan dalam setting..

5. Show not tell.
Show artinya tunjukkan apa yang nampak sebelum menjelaskan. Kata "air matanya menetes" lebih show dibanding "ia menangis".

Dari pengalaman para penulis fiksi, setting cerita diperoleh dari berbagai sumber, diantaranya:

1. Pengalaman sendiri ketika mengunjungi suatu tempat
Pengalaman sendiri merupakan sumber yang paling utama. Seluruh aspek emosional telah terpaut dalam pengalaman itu sehingga dengan mudah pengalaman berubah menjadi setting yang apik. Tidak ada seorang penulis pun yang sudah  mengunjungi semua tempat yang ada di dunia ini.

2. Mendengar pengalaman yang dituturkan atau ditulis orang lain.
Pengalaman orang lain pun tak kalah serunya. Jangan sia-sakan kesempatan bertemu dengan orang-orang yang sudah pernah ke suatu tempat. Dengarkan cerita mereka. Baca buku cerita mereka.

3. Menelaah berbagai informasi tentang suatu tempat memalui "Google"
Mesin Google menyediakan banyak informasi yang tersedia di dunia maya, baik itu dokumen, foto, atau video. Berbagai informasi dengan mudah didapatkan. Anda tak repot-repot terbang ke ruang angkasa kalau hanya untuk menulis setting ruang angkasa. Klik Google tentang ruang angkasa. Anda dapat menemukan berbagai foto, video, atau penjelasan tentang ruang angkasa.

4. Hasil imajinasi
Menariknya menulis fiksi adalah karena Anda dapat menulis setting imajiner. Termasuk dalam hasil imajinasi ini adalah hasil pengalaman yang diperkaya dengan berbagai informasi lain, atau penggabungan berbagai informasi dan pengalaman ke dalam satu setting.

Thursday, May 17, 2012

Thursday, May 17, 2012

Elemen Cerita

Cerita, yang dalam bahasa Inggris dinamakan story,  adalah karangan yang menuturkan peristiwa atau kejadian dalam satu susunan tertentu untuk satu maksud tertentu. Yang dituturkan oleh sang pengarang di dalam suatu cerita bisa kejadian atau peristiwa sebenarnya (benar-benar terjadi) atau kejadian atau peristiwa rekaan pengarangnya saja. Yang pertama di sebut true story sedangkan yang kedua disebut fiksi. Kedua jenis itu dibagi lagi menjadi bebagai genre yang beraneka ragam dengan karakterisktiknya masing-masing.

Cerita yang di dalamnya tercampur peristiwa yang sebenarnya dan peristiwa rekaan, ada yang mengelompokkannya sebagai fiksi dan ada pula yang memasukkanya ke dalam kelompok tersendiri yang dinamakan faksi. Faksi adalah true story yang diberi bumbu-bumbu rekaan pengarang (based on true story).Walaupun ada unsur kejadian yang sebebenarnya, unsur rekaan yang ditambahkan menjatuhkannya ke dalam fiksi. Saya memilih untuk memasukkan faksi ke dalam fiksi.

Kedua kelompok cerita tersebut, baik true story atau fiksi, mengandung beberapa elemen pokok. Biasanya, elemen pokok cerita itu disusun dalam satu formula yang mengandung 5 kata tanya dalam bahasa Inggris: who, what, where, when, why, how

Who did what where and when, why and how.

Artinya, suatu cerita harus mengandung informasi tentang:

1. Kejadian itu sendiri (what)
2. Pelaku  (who)
3. Ruang (where) dan Waktu (when)
4. Alasan (why) dan cara (how)

Sebenarnya,  poin 1 dan 2 saja sudah merupakan elemen cerita yang lengkap. Namun, dengan menambahkan poin 3 dan 4 suatu cerita akan semakin lengkap.

Ucup memukul Udin.

Satu kalimat di atas sudah merupakan sebuah cerita yang lengkap. Cerita itu sudah mengandung poin 1 dan 2. Kejadiannya adalah sebuah pemukulan.Pelakunya adalah Ucup dan Udin. Ucup yang memukul sedangkan Udin yang dipukul. 

Bila ditambahakan poin 3, cerita kan semakin lengkap.

Ucup memukul Udin di halaman sekolah tadi pagi.

Tempat kejadian adalah di halaman sekolah. Waktunya tadi pagi. 

Tapi, kalau pengarang cerita itu mau, cerita itu dapat dilengkapi lagi dengan menambahkan keterangan berupa alasan dan cara Ucup memukul Udin.

Ucup memukul Udin di halaman sekolah tadi pagi. Ucup sangat marah karena ia merasa telah dipermalukan oleh Udin. Ucup mendekati Udin dan  langsung memegang  kerah baju Udin dengan tangan kirinya. Dengan sekuat tenaga, ia kemudian mengepalkan tinju kanan dan mengayungkannya hingga tinju itu bersarang tepat di perut Udin. Udin melenguh "Aduh!" sambil membungkukkan badan dan memegang perut yang kena pukulan Ucup tadi.

Bila pengarang berkenan lagi, karakter Udin dan Ucup dapat ditambahkan. Seperti apa penampilan Ucup dan Udin. Sifat-sifat Ucup dan Udin dapat pula disisipkan. Selain itu dapat pula ditambahkan setting ruang halaman sekolah tempat kejadian dan setting waktu kejadian. Penambahan-penambahan itu akan menjadikan cerita semakin hidup karena pembaca dapat menghayatinya secara sempurna. Di sinilah peran sastra mengolah suatu cerita menjadi semakin hidup.

Agar cerita itu dapat dipahami dan dihayati oleh pembaca secara hidup, tidak cukup satu kejadian yang diceritakan. Pengarang perlu menceritakan kejadian-kejadian lain yang terjadi sebelum dan sesudah kejadian itu. Sebagai tambahan, pengarang perlu pula menjelaskan hubungan logis semua kejadian-kejadian itu. Semua pelaku, baik yang terlibat secara penuh ataupun secara sambil lalu, harus diceritakan karakteristiknya. Dimana dan kapan setiap kejadian itu terjadi mesti digambarkan secara rinci.

Untuk menyusun semuanya itu, dalam sastra dikenal beberapa istilah.

Plot
Karakter
Setting
Style
Tema

Plot adalah runtutana semua kejadian, yaitu bagaimana kejadian-kejadian itu tersusun secara kronologis. Suatu kejadian yang mendahului itu mungkin menjadi sebab bagi kejadian yang di belakangnya.

Karakter adalah ciri-ciri para pelaku cerita, baik ciri fisiknya ataupun tingkah lakunya. Ada pelaku utama yang karakterisktiknya disorot habis-habisan dan ada pelaku tambahan yang muncul secara sambil lalu. Ada karakter protagonis, yang diajadikan figur pahlawan, dan ada yang antagonis, pembangkang.

Setting adalah adalah tata ruang tempat kejadian berlangsung dan tata waktu. Setting mengungkapkan objek dan keadaanya di lokasi ke jadian.

Style adalah teknik atau strategi pengarang dalam memanfaatkan unsur-unsur bahasa dalam bercerita.Termasuk dalam style adalah pemilihan kata (diksi), majaz (tropes), skema (scheme) dan modus (mode). Pengorganisasian pesan serta pemilihan sudut pandang (point of view) juga bagian dari style.

Tema adalah pesan moral yang ingin disampaikan pengarang dalam cerita itu.

Wednesday, January 20, 2010

Wednesday, January 20, 2010

Menulis menyembuhkan


Sebelum ini mungkin belum banyak yang tahu, termasuk saya, kalau menulis ternyata dapat membantu penyembuhan penyakit. Bukan hanya penyembuhan penyakit yang berkaitan dengan kejiwaan, tapi menulis membantu penyembuhan penyakit fisik juga. Pasien yang menderita penyakit tetentu, diminta menulis perasaannya yang terdalam tentang sesuatu, bahkan kejadian traumatisnya di masa lalu. Biarlah dia menulis dalam deraian air mata. Ternyata, proses itu akan membantu penyembuhannya. Luar biasa.
 James W. Pennebaker, dalam bukunya "Writing To Heal" telah membuat satu kesimpulan penelitiannya bahwa orang yang secara teratur menulis tentang peristiwa-peristiwa yang traumatis dan menyedot emosi, 43% lebih jarang ke dokter dibandingkan dengan yang tidak pernah menulis. Orang-orang ini juga nampak lebih sehat, dinamis, ceria. Mereka nampak lebih siap secara mentalitas.
 Penelitian itu mulai dilakukan oleh Pennebaker a tahun 1980, disponsori oleh National Science Foundation dan National Institute of Mental Health. Penelitian ini lebih jauh menyimpulkan bahwa ketika menulis, denyut jantung melambat, tekanan darah menjadi sedikit turun dan sistem pertahanan tubuh meningkat. Ketika seseorang baru saja selesai menulis cerita-cerita traumatis, dia memang akan sedih. Tapi, dalam jangka panjang, keteraturan menulis akan membangun optimisme dan perasaan sehat padanya.
 Menulis dapat mengeluarkan unek-unek yang menjadi sebab stress. Menulis tentang hal-hal yang menekan jiwa akan memberikan pelepasan emosional yang mebangkitkan rasa puas dan lega.
 Pada April 1999, penelitian ini telah menunjukkan hasil yang lebih jauh bahwa menulis telah terbukti mempercepat penyembuhan pasien penderita asthma dan rheomatoid arthritis. Penelitian juga menunjukkan perbaikan yang luar biasa keadaan pasien AIDS setelah ia membiasakan menulis. Di sini, bukan hanya saja penyembuhan penyakit kejiwaan yang secara langsung terpengaruh dengan menulis, juga penyakit fisik.
 Adanya perasaan gundah, gelisah atau pikiran yang kacau tidak menentu akan menyebabkan stress. Penyelesaiannya biasanya dengan menceritakan kepada pihak lain. Karena menulis sebenarnya juga berbicara, maka daripada menceritakannya kepada pihak yang belum tentu bertanggung jawab, menulis merupakan jalan keluarnya.
 Ada pengakuan seorang ibu yang menahankan gundah dalam jiwanya. Sikap suaminya akhir-akhir ini ditambah lagi dengan berita gossip tentang suaminya, telah membuat ibu itu stress. Rasa cemburu, benci, marah, rindu bercampur-campur aduk. Perasaan itu telah begitu menyiksanya. Tak cukup lagi airmata, kadang-kadang dia memilih untuk berteriak seperti orang gila. Banyak kawan-kawan yang bersedia membantu dan memancing-mancing agar dia mau bercerita. Tapi ibu ini masih punya kesadaran bahwa menceritakan aib keluarga kepada orang lain termasuk dosa. Dia mencoba bertahan untuk tidak menceritakannya kepada orang lain karena menyangkut privaci suaminya. Sudah menjadi komitmennya sejak awal pernikahan untuk tidak menceritakan aib suami. Tapi, kalau dibiarkan, pikiran gundah itu sungguh menyiksanya.
 Tak lama setelah itu, ibu itu menemukan satu cara yang tak disangka-sangka sebelumnya. Ia menggunakan HP nya untuk menulis. Kebetulan HP ibu ini punya fasilitas untuk menulis dan selam ini belum pernah dimanfaatkannya. Mulailah ia menulsikan rasa hatinya itu, sekalimat demi sekalimat. Beribu-ribu karakter tanpa terasa sudah dituliskannya. Sudah barang tentu, setiap menulis, ibu itu berurai air mata.
 Katanya, setiap dia selesai menuliskan sesuatu perasaan, sejumlah stress berkurang. Dilakukannya proses ini terus menerus. Pagi bangun tidur, dia menulis. Siang menulis. Malam menulis. Kapanpun dia menyimpan satu pikiran atau perasaan, dituliskannya. Sebelum tidur dia menulis lagi. Sampai akhirnya legalah perasaannya. Stress hilang.
 Suatu cara yang sangat cerdas, stress hilang aib tertutup. Inilah yang disebut, rambut tercabut, tepung tak berserak.
 Bagi orang yang tidak punya minat menulis, jika dia mengalami masalah seperti perempuan tadi, tentulah akan memilih "curhat" sebagai penghilang stress. Dicarilah kemana-mana telinga yang mau mendengarkan. Kawan-kawanpun biasanya banyak yang menawarkan dan biasanya senang hati mendengar karena fitrah orang untuk mendengar cerita yang aneh aneh. Karena memang tak ada jaminan semua yang dicurhatkan itu menjadi rahasia, maka banyaklah kasus curhat akhirnya menyengsarakan yang bersangkutan. Aib tersebar kemana-mana.
 Masih mau memilih curhat kepada tetangga atau kawan dekat? Atau curhat melalui tulisan? Curhat berisko, Bro.
  Menulis akan membantu mengurangi stress. Ungkapkanlah seluruh pikiran dan perasaan melalui tulisan. Simpan tulisan itu baik-baik kalau Anda tidak mau ada yang tahu. Setelah nanti pikiran anda tenang, editlah tulisan-tulisan itu. Apa yang Anda kira hanya sebagai curhat, bisa berubah menjadi buku best seller. Mau mencoba?


Bagaimana pendapat Anda?
 Wallahu A'lam

Tuesday, January 12, 2010

Tuesday, January 12, 2010

Go blog!


Bagi anda yang gemar tulis menulis, mudah-mudahan belum terlalu ketinggalan kalau saya masih menyarankan Anda membuat satu blog di internet. Terserah di penyedia yang mana. Karena memang banyak penyedia yang menawarkan jasa baiknya. "Go blog" tak mesti goblok, bukan? He he he. Dua bunyi yang berdekatan, namun maknanya berseberangan seratus delapan puluh derajat.
"Hare gene, masih buat blog?" Ada yang berkomentar bahwa esensi blog sudah tergantikan oleh facebook. Satu sisi memang ya, tapi satu sisi lain masih belum. Mungkin sebagian kawan melihat betapa cepatnya respons para pembaca facebook dibanding pembaca blog, sehingga mereka menyimpulkan, "Kita pindahan ke facebook aja yok."
Ada beberapa fitur yang membuat facebook memang lebih unggul untuk mempublikasikan tulisan secara instan dibandingkan blog. Facebook sangat cepat mempublikasikan dan sekaligus cepat pula menyampaikan respons para pembacanya. Tulisan seperti sahut-sahutan. Begitu cepatnya, sehingga mengasyikkan. Para facebooker menjadi seperti orang mabok. Hari-hari hanya diisi dengan kegiatan FB-an (istilah baru di dunia internet). Wajarlah kalau seorang guru khawatir kalau-kalau muridnya lebih senang FB-an dibanding mengerjakan PR. Padahal, jangankan murid, gurunya saja lebih-lebih lagi. Satu tulisan saya secara bercanda saja di "wall atau di "note" facebook direspon kawan hanya dalam hitungan detik, sementara satu tulisan yang sudah saya siapkan secara susah payah di blog, sudah hampir dua tahun belum direspons siapapun. Akhirnya saya respons sendiri.
Namun, saya melihat fitur-fitur tertentu pada blog masih belum tergantikan sampai saat ini oleh facebook. Blog memungkinkan tulisan Anda dibaca oleh semua pengguna internet tanpa orang tersebut mendaftarkan diri (alias sign up) terlebih dulu. Ini tidak terjadi di facebook. Selain itu, format tulisan yang sudah dibuat sebaik mungkin, akan tetap utuh ketika dikirim ke blog sementara ke facebook, formatnya bubar. Selain itu, fitur pengelompokan tulisan berdasarkan kategori, tanggal, bulan, dan tahun dalam blog, belum tergantikan oleh facebook. Secara fleksibel, saya masih menyarankan, pakai keduanya saja.
Blog adalah sejenis website yang awalnya diciptakan sebagai wadah menulis diary secara online. Umurnya lebih tua dibanding facebook. Nama awalnya adalah "On Line Diary" yang diluncurkan tahun 1994 oleh sebuah provider, MIT Media Lab. Uji coba itu sukses besar, sehingga banyak yang memanfaatkannya. Diam-diam, manusia itu ternyata tidak malu-malu lagi memberitahu orang lain curahan rasa hatinya. Buktinya, diary yang biasanya sangat rahasia dan privacy, sejak itu mulai dipublikasikan ke semua orang. Semakin banyak yang tahu, semakain senang menulisnya. Lahirlah wesite-website serupa silih berganti, dari tahun ke tahun, dengan evolusi nama: online-diary, online-journal, online-log, web-log, dan terakhir disingkat blog. Nama terakhir ini, nampaknya disepakai dan penulisnya disebut bloger. Sampai akhir 2007, tercatat 112 juta blog yang terdaftar di 5 provider blog terbesar: Windows Live Spaces, Community Server, WordPress, Blogger, dan TypePad. Tahun 2010 ini tentu jauh lebih besar lagi.
Dulu, ketika baru pertama berkenalan dengan dunia blog, saya buat 4 blog. Nafsu besar tenaga kurang. Mengurus 4 blog ternyata memusingkan kepala. Satupun tidak ada yang terurus. Daripada menyusahkan diri sendiri, sekarang saya cukupkan satu saja. Yang lain saya hapus. Blog yang satu -satunya itupun, kadang-kadang tidak dibenahi juga. Wajarlah kalau tampilannya masih sangat primitif. Tapi, silakan dilihat-lihat, walaupun isinya belum ter"update" seratus persen.
http://jufranhelmi.blogspot.com

Kadang-kadang, kalau Google dan Yahoo bermurah hati, mereka akan antar Anda ke alamat itu secara tepat. Tapi, lebih sering tidak. Memang, kedua mesin pencari yang katanya hebat itu, agak sombong dan angkuh. Kalau ada yang cari, blog saya biasanya diletakkannya pada urutan yang ke seribuan bahkan lebih. Saya lagi berpikir keras bagaimana caranya supaya kedua makhluk itu bisa menempatkan blog saya di urutan nomor satu, atau setidak-tidaknya urutan 10 besar. Kan kasihan sama kawan-kawan saya yang terpaksa harus menekan tombol "next page" 40 kali, baru berjumpa saya. Saya tak sampai hati.
Apapun juga, punya blog masih menarik.
Yang menariknya adalah bahwa blog termasuk sarana yang bagus menyimpan dan mengarsipkan tulisan. Saya masih melihat tulisan yang saya kirim ke blog 3 tahun yang lalu, masih utuh di sana. Saya baru ingat bahwa saya ada tulisan di blog itu setelah seorang kawan menemukannya secara tidak sengaja melalui Google kira-kira sebulan yang lalu. Saya saja sudah lupa.
Kemenarikan lain, mengirim tulisan ke blog sangat mudah. Bila Anda menggunakan Microsoft Word, Anda tinggal menggunakan shortcut yang sudah secara default tersedia untuk mengirim tulisan kepada 5 provider blog besar yang sudah dikenali secara baik.
Yang paling menarik adalah bahwa nampaknya menulis di blog, diam-diam dapat mengasah kemampuan menulis. Sudah banyak buktinya. Mantan bloger satu demi satu telah berhasil menjadi penulis buku best seller.
Dua hari yang lalu saya menghadiri peluncuran buku karya kawan saya, Anang YB yang berjudul "Kerja di Rumah, Emang Napa?" Saya baru tahu kalau buku itu ternyata kumpulan tulisan-tulisannya di blog. Ini artinya, Anang YB membuktikan diri menjadi sebagai salah seorang blogger yang berhasil menerbitkan tulisan-tulisannya di blog menjadi buku, di samping bloger lain seperti Ersis Warmansyah Abbas dengan serial "Menulis Mudah"nya, Raditya Dika dengan serial "Kambing Jantan"nya, Chappy Hakim dengan "Cat Rambut Orang Yahudi"nya, dan Dewi Rieka dengan serial "Anak Kos Dodol"nya.
Kalau begitu, mari "go blog" tanpa harus goblok.
Bagaimana pendapat Anda?
Wallahu a'alam.

Friday, January 8, 2010

Friday, January 08, 2010

Menulis di facebook!


Website Facebook diluncurkan pertama kali pada bulan Februari 2004 oleh seorang mahasiswa Harvard University, Mark Zuckerberg, yang waktu itu masih berumur 20 tahun. Website yang pada awalnya hanya ditujukan sebagai media komunikasi antar mahasiswa Harvard saja, kini telah menjadi sebuah media komunikasi, social network, terpopuler di dunia dengan pengguna lebih dari 350 juta orang. Jumlah itu terus bertambah seiring dengan bertambahnya berbagai fitur, termasuk bertambahnya bahasa pengantarnya yang sekarang sudah mencapai 75 bahasa di dunia.
Bergabung dalam komunitas facebook menurut saya termasuk langkah yang positif bila Anda ingin membiasakan menulis. Facebook memang tidak diciptakan sebagai sarana publikasi tulisan seperti blog yang telah berkembang terlebih duhulu. Tapi di facebook terdapat sarana yang memungkinkan kita menulis secara leluasa. Ada aplikasi "status" dan "notes." Melalui kedua aplikasi ini, kita bisa mempublikasikan tulisan kita secara instan. Dalam hitungan detik, sebuah tulisan akan langsung terbaca oleh orang lain. Memang facebook tidak seluas blog yang bisa dibaca oleh semua orang di seluruh dunia secara instan. Tulisan di facebook hanya dapat dibaca oleh orang yang tedaftar sebagai "friend" saja, atau sedikit bisa diperluas dan dipersempit sesuai dengan setting privacy yang dibuat. Setidak-tidaknya, yang bisa mengakses facebook, hanya seseorang yang punya akun di dalamnya. Selain itu, format huruf-huruf di facebook tidak mudah diubah-ubah seperti di blog.
Tapi, menurut saya tidak apa-apa. Yang membuat facebook lebih disukai karena ada aplikasi notifikasi yang menyebabkan sebuah pesan atau tulisan cepat sampai kepada teman-teman. Sekarang Anda selesai menulis, dalam hitungan detik, anda dapat mempublikasikannya. Secepat itu pula kawan-kaan Anda mengatahui isinya. Dengan adanya fasilitas facebook mobile, pesan itu benar-benar tambah cepat sampainya. Semakin cepat tulisan kita sampai ke pembaca, semakin kita bergairah menulis lagi. Untuk pembiasaan proses menulis, website ini sangat positif. Itu penilaian saya.
Terlebih-lebih lagi Anda punya komunitas yang eksklusif yang terdiri dari kawan-kawan yang memang sama-sama berminat dalam membangun dunia tulis menulis, Anda bisa memanfaatkan teknologi ini untuk mewujudkan cita-cita Anda membiasakan diri menulis. Respon cepat yang diberikan kawan-kawan akan memberi kenikmatan tersendiri. Itu pengalaman saya. Tahu ada orang membaca saja dengan menaruh simbol "jempol", saya sudah merasa cukup dihargai. Lebih-lebih lagi ada kawan yang memberi komentar, ulasan, kritik, tambahan data, informasi tentang sumber bahan. Semua itu positif bagi proses pembiasaan menulis.
Saya bergabung dengan facebook sekitar pertengahan, eh awal tahun 2009 yang lalu. Awal-awal bergabung, saya belum begitu tertarik karena belum tahu apa manfaatnya. Anak sayalah yang merekomendasikan agar saya membuka sebuah akun di facebook. Dia pula yang mengajarkan pada saya bagaimana melakukannya. Waktu itu perasaan saya biasa-biasa saja. Saya isi data-data pribadi: nama, alamat, tanggal lahir, riwayat pendidikan, riwayat kerja, dll. Saya masukkan pula satu foto saya yang terbaru. Atas anjuran anak saya, saya masukkan pula foto-foto saya zaman dulu. Katanya, siapa tahu kawan-kawan saya yang lama tidak mengenali lagi wajah karena faktor usia. Saya tentu tidak masukkan semua foto saya. Saya kan bukan mau buat pameran foto-foto di facebook. Foto-foto itu hanya sekedar orang mudah mengenali saya.
Sungguh luar biasa. Saya kaget. Seorang teman saya waktu di SMA, yang sudah terpisah dengan saya selama 30 tahun, tiba-tiba muncul di facebook dan menyapa saya. Dia mengaku telah lama mencari saya. Sayapun sudah rindu dengan dia. Dia kawan saya yang paling akrab karena kami punya kegemaran yang sama pada banyak pelajaran di sekolah, walaupun dia selalu mengungguli saya dalam prestasi belajar. Lewat facebook, saya bertemu dia lagi, setelah sekarang dia menjadi seorang pengusaha di bidang real estate yang terkenal di Jakarta.
Sejak itu saya mulai senang mengutak-atik aplikasi "friend" pada facebook. Kalau tidak "add", ya "confirm" . Satu demi satu kawan lama bermunculan bersamaan dengan bertambahnya kawan-kawan baru. Melalui facebook saya bertemu dengan kawan-kawan yang sama-sama kuliah di Bandung, Palembang dan Jakarta. Juga saya berjumpa kembali dengan kawan-kawan lama yang dulu seasrama, sekerja, sekursus, sehobbi, seseminar, sekampung, setetangga, sejamaah, sepengajian, sepupu, seipar, sesuku, dll. Pokoknya serba "se". Mereka semua telah menjadi orang-orang penting di negeri ini. Ada yang jadi tentara, politikus, pengusaha, dosen, professor, ilmuwan, penulis, dll. Ada yang tingggal di Indonesia, dan tidak sedikit yang sekarang tinggal di hampir seluruh belahan bumi di dunia ini. Aduh sedapnya. Rasanya tak susah lagi kalau mau ke luar negeri, saya tinggal kontak kawan-kawan lama saya saja.
Bukan itu saja, facebook telah membuat saya berteman dengan banyak kawan baru dari berbagai kalangan, berbagai umur, berbagai ras, berbagai suku, berbagai hobi, berbagai nasib, berbagai profesi, berbagai kepentingan, berbagai kehalian, berbagai organisasi, berbagai kelamin, dan berbagai agama. Nilai positif yang saya ambil dari semua ini adalah peluang bersilaturahim dan berbagi informasi, pengetahuan dan pengalaman.
Tanpa saya sadari, tiba-tiba saja terbentuk sebuah komunitas virtual yang kebetulan sama-sama menaruh minta dalam dunia tulis menulis, dunia perbukuan. Jadi saja, facebook menjadi sarana berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang dunia buku dan dunia tulis menulis.
Kembali ke facebook sebagai sarana yang dapat Anda manfaatkan dalam pembiasaan menulis. Aplkasi "status" dan aplikasi "notes" merupakan pilihannya. "Status" dapat digunakan untuk mempublikasikan tulisan-tulisan pendek, sekitar puluhan kata, "notes" untuk tulisan yang panjang. Kedua aplikasi itu memungkinkan Anda membaca secara instan komentar dari kawan-kawan, baik itu koemtar positif, negatif, atau sekedar gurau. Andapun bisa masukkan foto, biar tulisan Anda lebih mengesankan.
Sebagai sebuah teknologi, facebook tentu punya kelemahan-kelemahan. Mana ada buatan manusia yang sempurna. Saya hanya mengingatkan. Sebagai sebuah teknologi pula, facebook juga bagaikan pisau berfungsi ganda. Anda bisa memakainya untuk mengupas mangga. Tapi bila tidak hati-hati, Andapun bisa mencelakakan diri sendiri dan bahkan mencelakan orang lain. Waspadalah.
Bagaimana pendapat Anda?
 
Wallahu a'lam.
Friday, January 08, 2010

Terima tantangan menulis


Salah satu jurus membiasakan menulis adalah menerima tantangan menulis yang ditawarkan kawan atau pihak manapun. Kalau Anda sudah bergabung dengan Facebook, ada kekhasan sendiri dari metoda ini. Kadang-kadang menemukan sendiri ide yang akan ditulis memakan waktu yang lama. Duduk bemenung-menung, membuka buku, menonton TV, belum dapat ide juga. Saya yakin, itu bukan karena tidak ada ide di kepala. Itu justru karena terlalu banyaknya ide. Semua ide berebutan keluar, tindih menindih sesamanya, sehingga sampai di luar, ide itu sudah lemas, tidak bisa lagi dikembang-biakkan. Tak ada satupun ide yang masih segar yang siap beranak, berkembang biak. Ujung-ujungnya batal menulis.
 Satu hal yang menarik adalah, ketika Anda membuka akun Facebook kawan melalui wall Anda, terbacalah bahwa dia meminta Anda menulis satu topik. Nah, ini dia. Anda berbisik, "Ini tantangan." Anda mulai berpikir dengan topik yang ditawarkan, kemudian Anda putar otak, Anda akan menemukan berbagai ide yang berkaitan dengan topik yang diminta.
 Tantangan akan memicu saraf-saraf neuron Anda bereaksi. Tiba-tiba saja, topik yang ditantangkan kawan tadi berdiri tegak dengan perkasa di otak Anda. Dia akan berfungsi menjadi magnet untuk menarik ide-ide lain. Dia akan bertindak pula menertibkan aliran ide. Maka dengan tenang Anda akan menuliskan ide-ide itu secara runtut.
 Ini kisah sebenarnya. Ada satu program yang ditawarkan kawan saya di facebook, Ersis Warmansyah Abbas, untuk membuat buku bersama di awal 2010. Setiap orang diminta mengirimkan satu artikel setiap hari. Artikel-artikel itu harus ditulis dengan topik yang ditetapkan setiap hari. Tulisan yang terpilih, akan dimasukkan dalam kompilasi tulisan, dan akan nenajadi bagian dari buku yang akan diterbitkan. Tantangan menarik bukan?
 Tantangan itu saya amati telah memicu enzim adrenalin saya dan kawan-kawan yang lain. Sibuklah semuanya berpikir, mencari bahan, merenung dengan segala macam cara. "Masa gue nggak bisa sih,' bisik masing-masing.
 Pada hari yang sudah dijadwalkan, ada yang dengan lega menulis, merasakan ide mengalir dengan deras. Hal itu karena topik yang ditawarkan pas di hati. Atau setidak-tidaknya , idenya sudah lama berada di pintu keluar. Tantangan menulis membuat ide itu langsung meloncat., menari-nari, bahkan tak terbendung lagi.
 Ada juga yang "keblinger" meneruskan kalimat demi kalimat. Berjam-jam menatapi layar monitor yang masih kosong. Topik yang ditawarkan terasa jauh dari suasana hati. Topiknya tentang hutan, sementara hati sedang berpikir tentang bintang. Topik tentang integritas bangsa, sementara hati sedang mengatur strategi menunda pembayaran utang. Walaupun demikian, nampaknya semangat menulis tidak kehilangan akal. Sambung menyambung , akhirnya jadi juga sebuah artikel atau puisi.
 Otak nampaknya memerlukan tantangan seperti itu. Otak yang dimanja, akan tidur mendengkur. Seribu alasan akan disodorkannya untuk menyelamatkan dirinya dari tuduhan, tidak kreatif.
 Sebenarnaya tak perlu menunggu ada tantangan buku bersama. Menulis komentar terhadap tulisan kawan di akun Facebook juga satu tantangan yang bisa memicu enzim kreatifitas. Ketika seorang kawan mengetag tulisannya ke akun kita, sebenarnya kawan tersebut mengharapkan kita memberi umpan balik, bukan sekedar membaca. Ia ingin kita memberi sedikit ulasan berupa komentar. Syukur-syukur kalau komentarnya dapat memberi masukan data, ide, dan koreksian. Tag kawan sebenarnya satu tantangan yang sangat baik juga. Kalau betul Anda memang sedang dalam proses mengasah pembiasaan menulis, mengapa Anda tidak manfaatkan tantangan itu?
 Tuliskan komentar Anda walaupun satu kalimat. Jangan hanya sekedar mengirim "jempolan". Labih parah lagi kalau Anda tidak meresponsnya sama sekali. Proses itu akan memicu ide-ide kreatif bekerja. Ide Anda kan terstimulasi. Tidak sedikit, para komentator menemukan ide tulisan bermula dari proses menulis komentar-komentar itu. Saya malah menemukan satu ide bisnis yang sangat berharga melalui sebuah komentar yang ditulis kawan.
 Ya, tentu tak semua orang begitu. Ada pula yang tidak menggubris tantangan menulis itu sama sekali. Kalaupun sekali digubrisnya, dijadikannya bahan olok-olokan saja. Ya, saya hanya menyimpulakn bahwa orang itu memang tidak berminat mengasah ketajaman penulisannya melalui sebuah tantangan yang benar-benar positif.
 Saya ingatkan sekali lagi. Dengan menerima tantangan, Anda sudah punya satu ide awal. Beranjak dari ide itu, Anda akan menarik ide-ide lain untuk bemunculan. Yang idenya dapat mengalir dengan lancar, ia berhasil menulis satu, dua, atau tiga artikel sekali gus. Bagi yang tersendat-sendat,mungkin menulis ala kadarnya. Tapi itu sudah lebih baik daripada sekedar bermuram durja, bersengat hati karena selalu ditag oleh kawan. Selamat menerima tantanga menulis dari kawan-kawan.
 Bagainmana pendapat Anda?
 Wallahu a'lam.

Friday, December 18, 2009

Friday, December 18, 2009

Cara tercepat mendapatkan ide tulisan


Pembiasaan menulis dimulai dengan langsung menulis. Jangan buat perencanaan apapun, baik dalam bentuk plot maupun outline. Jangan risaukan ide, karena pengalaman para penulis menunjukkan bahwa ide datang ketika sedang menulis. Mencari ide berjam-jam merupakan tindakan yang sanagt keliru.
 Keadaan paling menyiksa yang dialami ketika seseorang ingin mencoba menulis ialah ketika ia duduk termenung berjam-jam di depan komputer atau kertas tulis, tanpa menuliskan satu kalimatpun. Layar monitor atau kertas masih kosong melompong. Bertumpuk bahan telah tersedia di meja. Otak sudah terasa panas, namun tak satu kalimatpun yang terjelma. Ketika muncul satu kalimat, secepat itu pula jarinya menghapusnya kembali. Bahkan ketika dia berhasil menuliskan satu paragraf, tanpa belas kasihan, paragraf itu akan dihajar habis-habisan. Seolah-olah ada dua personal dalam dirinya, yang satu Sang Ilham dan yang satu lagi Sang Editor yang kejam. Berjam-jam hatinya berbisik, "Aduh, belum ada ide yang dapat saya tulis. Dari tadia, saya masih sedang menyusun rencana apa yang akan ditulis."
 Apakah situasi seperti ini pernah menimpa Anda? Saya pernah.
 Coba ingat-ingat kembali apa saja yang telah Anda kerjakan sejak pagi tadi sampai dengan saat ini. maksud saya pekerjaan selain menulis seperti mandi, sarapan pagi, membersihkan sepatu, dll. Adakah pekerjaan-pekerjaan itu direncanakan terlebih dulu? Misalnya, sebelum Anda mengerjakannya, Anda susun dulu langkah-langkahnya. Saya kira tidak. Saya yakin, hampir semua pekerjaan itu berlangsung dengan spontan, begitu saja. Pertanyaan sederhana, "Kalau pekerjaan yang lain dapat Anda lakukan tanpa perencanaan, mengapa menulis tidak?"
 Sekarang saya ingin sampaikan kepada Anda satu hal yang sangat penting. Ini adalah rahasia terbesar dari penulis-penulis hebat. Mereka ternyata menulis tanpa membuat perencanaan apapun. Mereka bahkan mulai menulis di saat di otak mereka tidak ada satu idepun untuk ditulis. Mereka langsung siapkan alat tulis seperti pena dan kertas, atau komputer, mereka langsung menulis satu kalimat yang muncul saat itu secara spontan di pikiran mereka sebagai kalimat pertama. Ketika kalimat pertama telah dituliskan, mereka langsung menulis kalimat kedua dan membiarkan kalimat itu keluar apa adanya sebagai respons atas kalimat pertama. Setelah itu, merekapun melanjutkan menulis kalimat ketiga. Mereka biarkan jari mereka bergerak terus, menulis kalimat demi kalimat yang sambung-menyambung. Demikian seterusnya, perlahan-lahan sampai mereka selesaikan beberapa kalimat. Mereka belum akan berhenti sampai mereka menulis tiga sampai lima paragaraf secara asal-asalan.
 Mereka menulis tanpa membebankan pikiran kepada satu rencana apapun. Joe Vitale dalam "Hypnotic Writing" melaporkan bahwa Eric Butterworth, penulis ratusan buku, artikel, dan sandiwara radio, selalu memulai harinya dengan menulis asal-asalan. Bahkan penulis fiksi produkstif Ray Bradbury setiap hari menuliskan apa saja yang ada di otaknya untuk sampai muncul satu ide yang tepat. Pamusuk Eneste mengumpulkan hasil wawancara dengan lebih dari 30 orang penulis top sastra Indonesia. Sebagian besar mereka mengaku menemukan ide apa yang akan ditulis di saat mereka sedang menulis. Kalaupun mereka punya satu ide sebelum menulis, entah mengapa ketika mulai menulis, mereka akan menuliskan ide yang sama sekali lain.
 Nasihat penulis-penulis hebat itu hanya satu. Mulailah menulis dan Sang Ilham akan datang sendiri setelah dia mengendus aroma kalimat-kalimat Anda. Dia akan duduk di samping Anda mendiktekan apa yang akan Anda tulis berikutnya. Jangan percaya kepada mitos bahwa menulis dimulai dengan adanya ide, Merdekakan pikiran itu. Jangan belengu arahnya. Biarkan otak menemukan ide-ide yang akan dituliskan.
 Berhentilah berpikir bahwa menulis memerlukan outline atau plot sebelumnya. Outline atau plot itu dapat dibangun kapan saja selama menulis. Kalau kebetulan ia sudah ada sebelum menulis, silakan ditulis. Kalaupun belum ada, tetaplah mulai menulis. Anda tinggal berhenti sebentar ketika sudah ada ide mengenai outline dan plot itu. Outline atau plot yang terlalu dini, yang diharapkan membantu, kadangkala dapat membelengu pikiran. Pikiran seolah-olah sudah dipasung pola geraknya ke satu arah, sementara ia sedang menemukan rute kreatifitasnya ke arah yang lain. Karena adanya pemaksaan itulah, sering terjadi kemacetan dan kebuntuan.
 Logika sederhanya begini. Kalau kita menulis dengan relaks, santai, dan perasaan ringan tanpa beban, sel-sel otak akan lebih leluasa bergerak, bukan? Otak lebih mudah mengalamai stimulus dan ide yang tersimpan dalam tempat penyimpannya mulai bergerak aktif. Ingat bahwa semua ide yang ada di dalam otak itu saling kait mengait. Satu saja bergerak, yang lain akan ikut begerak. Pengalaman telah membuktikan bahwa ilham datang pada saat itu. Pikiran kreatif akan muncul tiba-tiba di saat kita sedang menuliskan ide-ide dalam beberapa paragraf awal. Jangan kuatir kalaupun Anda memerlukan lima atau enam paragraf secara asal-asalan.
 Ketika ide-ide mulai bermunculan aktif, saat itulah kita harus mempercepat penulisan mengikuti gerak hati dan pikiran. Jangan mengeditnya sampai satu ketika Sang ilham berhenti mendiktekan ide-ide. Biarkan jari bergerak dan terus bergerak. Istirahatkan Sang Editor Anda yang kejam itu. Bahkan ketika jari mulai terasa ingin berhenti, tuliskan apa saja, seperti kata sambung "dan", "atau", "karena", "tetapi" dll di belakang kalimat yang baru saja selesai Anda tulis sehingga Anda terpaksa menambahkan kalimat lain setelah itu.
 Contohnya Anda baru saja menulis, "Pagi ini hati saya terasa nyaman." Tiba-tiba Anda kehabisan ide. Jangan berhenti menulis. Tulis salah satu kata sambung di belakangnya, seperti kata sambung "karena". Tulisan Anda akan berbunyi, "Pagi ini hati saya terasa nyaman, karena....." Pikiran Anda akan merespons kata "karena" itu dengan kalimat sambungannya seperti "istri saya baru saja pulang." Silakan mencoba.
 Jangan edit. Sekali lagi jangan edit. Ada saatnya nanti, entah kapan, Sang Editor Anda ditugasi bekerja. Bukan saat ini.
 Bagaimana pendapat Anda?
 
 

Wallau a'lam.
Friday, December 18, 2009

Menulis refleksi (renungan)


Refleksi atau renungan berbentuk semacam tulisan ringkas, spontan yang secara prinsip sama dengan diary di dalam cara penulisannya: ringan, harian, reflektif, personal, subjektif, ringkas. Namun refleksi berbeda dari diary di sisi topik. Refkeksi fokus pada satu topik yang tercermin dari judulnya, sementara diary tidak. Bila Anda menulis refleksi dengan beberapa topik, setiap topik ditulis terpisah dengan judul masing-masing.
 Dalam kamus Webster diterjemahkan bahwa reflect artinya respons cepat atau tiba-tiba terhadap sesuatu. Dengan pengertian itu reflective writing adalah tulisan yang merupakan pikiran yang merespon sesuatu peristiwa yang terjadi ketika itu secara ringan, ringkas, dan sederhana. Kita sering menyebutkannya sebagai renungan, atau renungan harian.
 Adalah satu kebiasan pikiran untuk bekerja secara reflectif, merespon sesuatu tanpa sengaja, tanpa perencanaan. Tulisan seperti itu mudah dibuat dan banyak manfaatnya. Kita hanya menuliskan apa respon hati kita pada saat itu terhadap sesuatu. Misalnya hari itu ada seseorang yang buang angin di dalam bis. Baunya menyebar ke seluruh ruangan. Semua orang bertanya-tanya siapa yang berbuat kurang ajar itu. Bayangkan Anda ada di dalam bis itu. Tanpa melihat repon orang lain sekalipun, Anda pasti akan bereaksi spontan. Di pikiran Anda muncul berbagai pertanyaan, mungkin juga makian. Lebih-lebih lagi ketika Anda mulai melihat reaksi orang di sekitar Anda, pikiran dan perasaan Anda akan semakin bervariasi. Nah, tuliskan pikiran dan perasaan itu. Itulah reflective wtiting, disingkat dengan refleksi saja atau renungan.
 Ketika di malam hari, di waktu santai, Anda sedang menonton televisi. Sebutlah Anda sedang menonton berita tentang demo di Hari Anti Korupsi Sedunia, tempo hari. Pikiran Anda bergerak dengan sendirinya meilihat berbagai fenomena, mulai dari ramainya yang terlibat, tujuan demo yang tidak jelas, gangguan yang terjadi, serta sibuknya aparat keamanan. Sekarang ambillah alat tulis, dan tulislah. Tuliskan apa adanya. Ikuti aliran fikiran dan perasaan. Tuliskan tanggapan-tanggapan Anda secara spontan. Anda tidak perlu menulis panjang-panjang. Tulislah secukupnya. Kalau Anda masih fokus pada topik itu, tidak berpindah ke topik lain, itulah refleksi. Kini tinggal diberi judul dengan satu frasa yang menggambarkan topik tulisan.
 Ciri-ciri reflksi adalah tanpa perencaaan, tanpa outline, cepat, dan instan. Saat terpikir, saat itulah Anda menuliskannya. Refleksi bersifat personal, subjektif, dan ringkas. Bersifat personal karena tokoh utamanya memang si penulis, yaitu Anda sendiri dengan menggunakan kata ganti "saya" atau "aku". Gaya bahasanyapun, sangat personal.
 Refleksi bersifat subjektif karena tulisan itu cendrung berisi persepsi atau penilaian pribadi yang kadang-kadang tidak ditunjang oleh data yang akurat. Anda tidak memerlukan referensi apapun, karena reflksi bukanlah karya ilmiah. Kalau Anda ragu, ya tulis saja di sana bahwa Anda ragu. Anda merasa benci dan jijik, ya tuliskan perasaan itu. Semakin banyak unsur perasaan terlibat, semakin hidup tulisan refleksi tersebut.
 Refleksi ringkas karena tulisan ini karena refleksi tidak bertele-tele berkepanjangan. Topiknya tunggal. Saya pernah membaca refleksi dari seorang penulis professional, hanya satu paragraf yang terdiri dari 3 kalimat pendek. Paling panjang, berkisar pada 100-500 kata. Biasanya ditulis harian. Kalau Anda sering membaca "Editorial" di Media Indonesia, atau "Tajuk Rencana" di Kompas, kedua tulisan itu termasuk refleksi, hanya saja mewakili dewan redaksi, bukan perorangan. "Catatan Pinggir" di Tempo, bisa disebut refleksi juga.
 Saya senang membaca refleksi yang ditulis banyak penulis. Di samping topik yang diangkat ringan, bervariasi, dan berubah dari hari kehari. Kadang-kadang jenaka, kadang-kadang serius juga. Unsur emosionalnya sangat kentara. Yang lebih penting, membaca refleksi terasa ada hubungan pribadi pembaca dengan si penulisnya, terasa seperti membaca surat dari seorang sahabat.
 Pengalaman menulis refleksipun sesuatu yang luar biasa. Pengalaman itu bukan saja membiasakan menulis, melainkan dapat mengeksplorasi pikiran dan perasaan secara bebas. Menulis refleksi, sarana terhebat membiasakan menulis sekaligus mencerahkan pikiran.
 Bagaimana pendapat Anda?
 Wallahu a'lam.