mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Friday, October 22, 2010

Keliru Pikir dalam Logika


    "Pak Harto lengser dan pemerintah Orde Baru bubar disebabkan oleh demo besar-besaran yang terjadi menjelang bulan Mei 1998. Karena itu, demo yang serupa pasti akan mengakiri pula pemerintahan SBY."
     Kalau ada yang bepikir seperti itu, orang itu telah melakukan setidak-tidaknya dua kekeliruan berpikir. Kekeliruan pertama disebut post hoc propter hoc. Yang kedua disebut false analogy.
     Kekeliruan post hoc propter hoc adalah keliru dalam melihat rangkaian peristiwa. Beberapa peristiwa terjadi berangkai: yang satu mendahului yang lain. Peristiwa yang mendahului, dengan ringannya, dianggap sebagai penyebab peristiwa yang didahului. Kekeliruan falsa analogy adalah keliru karena terlalu berani menarik kesimpulan dengan menyerupakan satu peristiwa dengan peristiwa lain tanpa melihat seberapa sama variabel-variabelnya.
     Bila ada seorang yang jatuh sakit dan disakiti sebelum terjadi tsunami, logiskah kalau dipandang ia sebagai penyebab terjadinya Tsunami? Kalau ada yang yang berbuat demikian, maka itulah contoh lain dari kekeliruan post hoc propter hoc itu. Kekeliruan itu tak berbeda dengan kelirunya seseorang yang mengira kokok ayam sebelum matahari terbit sebagai sebab terbitnya matahari.
      Demo 1998, yang saya sebut di atas tadi, tentu akan berbeda dengan demo 2010, dan tak sama pula dengan demo 1966. Masalah di tahun 1998 tak sama dengan masalah di tahun 2010, dan lebih tak sama lagi dengan masalah di tahun 1966. Penganalogian demo dengan demo di masa yang berbeda atau tempat yang berbeda jelas suatu kekeliruan, bila semua variabelnya tidak dibandingkan dengan cermat. Itu namanya false analogy.
Bahkan, kalau diperiksa lebih lanjut, kekeliruan ketiga ,hasty generalization, sering pula menyertai false analogy membentuk kekeliruan yang lebih serius lagi. Saya menyebutnya keliru di atas kekeliruan. Fakta yang menunjukkan betapa banyaknya demo yang dibuat di berbagai tempat, namun tidak menggoyang sama sekali sebuah pemerintahan, sudah cukup sebagai pembukti kekeliruan berpikir yang membayangkan runtuhnya pemerintahan SBY melalui demo.
     Saya tidak bermaksud membahas tentang demo, pemerintahan Orde Baru, dan apalagi pemerintahan SBY. Itu hanya contoh saja. Contoh di atas hanyalah sebagian dari apa, yang di dalam logika, dinamakan keliru pikir. Saya justru tertarik dengan berbagai kasus yang semakin hari semakin nampak, yang menunjukkan gejala keliru pikir yang semakin akut. Saya justru ingin mengajak semuanya, tanpa kecuali, untuk belajar kembali ke pangkal.
     Dalam ilmu logika, semuanya ada 28 keliru pikir (istilah aslinya: the
fallacies) yang didaftarkan oleh Irving M. Copi, dalam Introduction to Logic, dan Monroe C. Beardsley, dalam Thinking Straight.
     Anda tak perlu membaca kedua buku itu lagi bila Anda kurang berminat. Semua bentuk dan bentuk kekeliruan itu telah diringkaskan dengan sangat bagus dalam sebuah buku yang berjudul Logika, terbitan RajaGrafindi, Jakarta, 2010, karya Mundiri. Buku ini terbit pertama kali tahun 1994. Kini, buku ini telah dicetak ulang untuk ke- 13 kalinya. Nah, saya ingin mengatakan bahwa buku ini, meminjam moto Tempo sejak tempo dulu, enak dibaca dan perlu. Tidak main-main kalau saya berani merekomendasikan buku ini agar dibaca oleh para aktifis perjuangan di berbagai medan dan lini, pejabat negara, anggota DPR, para penulis, dan bahkan para demonstran.
     Sebagai seseorang yang nampaknya pakar logika, Mundiri (si penulis buku ini) cukup mahir meringkaskan daftar keliru pikir (the fallacies) itu dalam satu bab yang dijadikannya bab teraakhir bukunya yang terdiri dari 15 bab itu. Melalui 14 bab sebelumnya, kalimat-kalimat Mundiri mengalir lincah. Barangkali, sebuah kekeliruan kalau saya memandang karya Mundiri ini sebagai buku filsafat, karena buku itu terlalu enak dibaca, tak ubahnya seperti sebuah buku pop, dan jauh dari kesan berfilsafat. Tapi, kalau mau dipandang sebagai buku pop, mungkin saya keliru juga, karena semua materi yang dibahas adalah materi berat yang menjadi tulang punggung filsafat itu sendiri.
     Dengan kalimat yang pendek-pendek yang berkoherensi tinggi, contoh yang apik, dan definisi yang menggigit, pikiran penulis mengalir dengan sangat lancar bab demi bab. Sekali-sekali pembaca akan dihentakkannya dengan berbagai perumpamaan yang sangat logis. Dari sana, baru kita tahu, bahwa yang selama ini dipandang logis, ternyata tidak logis. Tak heran kalau banyak ucapan para petinggi negara menjadi tertawaan orang ramai kalau salah nalar. Buku ini sangat sistematis, ringkas. Saya memandang buku ini sangat cocok dibaca oleh bangsa kita, yang semakin hari semakin kehilangan akal sehatnya.
     Menurut Mundiri, yang diambilnya dari salah satu dari 25 referensi yang dicantumkannya di akhir buku, asal kata logika adalah logos, dari bahasa Latin, yang bermakna perkataan. Dalam bahasa Arab, logika dipadankan dengan kata mantiq, yang juga bermakna sama: perkataan. Mengapa perkataan? Bepikir itu, katanya, adalah berkata-kata, dan berkata-kata itu adalah berpikir. Sehingga, kata adalah pikiran.
      Walaupun logika sebagai sebuah ilmu dinisbatkan kepada Aristoteles, namun kaum Sofis, Socrates, dan Plato tetap dianggap sebagai perintis awalnya. Bahkan, diyakini oleh banyak pakar, bahwa orang yang pertama kali menggunakan kata logos bukanlah Aristoteles, tetapi kaum Zeno dari Citium, yang hidup jauh sebelum Aristototeles berbicara panjang lebar tentang logika. Wallahu a'lam.
     Walaupun demikian, keenam buku karya Aristoteles: De Interpretatiae, Anlitica Priora, Analitica Posteriora, Topika, dan De Sophistics, merupakan inti dari ilmu logika, yang disebut logika klasik. Sejak itu, ilmu logika menjadi bagian penting filsafat, bahkan boleh dikatakan sebagai rohnya. Tanpa logika, filsafat telah jadi bangkai. Ilmu logika berkembang dari satu stase ke stase lain sampai mencapai suatu bentuk yang disebut sebagai logika modern. Maka, pada giliran berikutnya, bersama-sama dengan matematika dan bahasa, logika menjadi tulang punggung pengembangan berbagai cabang ilmu sampai ke zaman ini.
     Umat Islam pada abad ke-2 H (abad ke-8 M) ramai-ramai belajar ilmu logika yang mereka sebut sebagai ilmu mantiq. Mereka menterjemahkan karya Aristoteles ke dalam bahasa Arab. Al Farabi dan Al Kindi, disebutkan sebagai sebagian nama tokoh-tokohnya itu. Walaupun beberapa ulama, seperti Imam Nawawi memfatwakan ilmu logika haram, namun jumhur ulama memandang bahwa hukumnya boleh (mubah). Para ulama Islam telah meyakini bahwa Allah mewajibkan manusia berpikir secara logis, menggunakan akal sehat, dan mengumpulkan fakta-fakta melalui oberservasi empiris.
Fakta telah menunjukkan bahwa manfaat Imu Mantiq tak terelakkan lagi, bahkan dalam pengembangan ilmu-ilmu keislaman seperti ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu sejarah, ilmu fiqih, dll. Tak terbayangkan rasanya, kalau kaidah-kaidah logika atau yang dalam bahasa Arabnya disebut mantiq ini tidak dikusai oleh para ulama zaman sebelum kita, kita akan menemukan banyak sekali pertentangan logis dalam karya-karya mereka itu di zaman ini.
     Logika adalah kaidah dalam menalar (reasoning), yang terdiri dari kaidah dalam memilih proposisi, fakta, argumen untuk suatu kesimpulan. Logika juga berisi kaidah menguji kebenaran tiap fakta atau proposisi, dan kaidah menautkan mereka satu sama lain. Bila proses itu berjalan dengan benar, maka akan dihasilkan proposisi baru yang sangat berguna bagi pengetahuan manusia. Logika mencakupi kedua metoda berpikir: deduksi dan induksi, lengkap dengan seluruh cabang-cabangnya: silogisme, generalisasi, analogi, hubungan kausalitas, dll.
     Mundiri menjelaskan, dalam buku yang serba ringkasnya ini, bagaimana melahirkan sebuah definisi yang benar, eksplanasi yang logis, dan sampai kepada bagaimana melahirkan sebuah teori. Sebuah teori yang berasal dari proses induksi, yang digunakan pada sains modern, betapapun tidak pernah mencapai kebenaran 100%, sudah dapat dipandang sebagai sebuah kebenaran. Tentu saja, kebenaran ilmiah itu bukanlah kebenaran mutlak. Secermat-cermatnya proses induksi ilmiah dilakukan, manusia hanya dapat mencapai kebenaran relatif, sebagai sebuah probabilitas.
     Buku ini memang ditujukan sebagai pendamping mata kuliah logika bagi mahasiswa S1. Namun, saya menilai tidak salah kalau buku ini dibaca dan dicermati oleh siapa saja yang ingin berpikir logis, termasuk siapa saja yang selama ini merasa sudah sangat logis karena sudah mengondol gelar S3, professor, ulama, cendikiawan, dll. Tak ada biografi penulis di halaman belakang buku ini. Saya kira ini bagus, supaya kita tak terjebak kepada keliru pikir fallacy of abusing (menyerang argumen dengan menyerang pribadi pencetusnya). Barangkali, dengan belajar kembali ilmu logika, mengenal kembali bagaimana menalar dengan baik dan mengenal kembali berbagai jebakan berpikir yang menghasilkan keliru pikir, bangsa ini akan menjadi lebih baik. Insyaallah.
Wallau a'lam
Bagaimana pendapat Anda?

Saturday, October 16, 2010

Maqam dan Makam


Dua orang Indonesia pernah hampir bertengkar tatkala mereka berbeda persepsi tentang monumen yang terletak di depan ka'bah. Apakah itu "maqam Ibrahim" atau "makam Ibrahim"? Kalau diteruskan, mungkin, mereka akan berbunuhan tatkala berbincang tentang "nafsu" dalam makna yang satu, dan "nafsu" dalam makna yang lain lagi.

Apa pasal? Mereka terjebak pada perbedaan makna kata yang mirip bunyinya dan berlaku secara luas, mentang-mentang sama-sama tak pernah kuliah di linguistik. Lebih-lebih lagi, kata-kata itu merupakan bagian dari kajian nilai-nilai keislaman. Rasanya, perlu pula kita kupas permasalahan perbedaan itu.

"Maqam" dan "makam", sama bunyinya namun tak sama maknanya. Para pihak berpegang pada definisi masing-masing. Mereka pun bertengkar. Pasti lebih parah lagi, kalau seandainya mereka berdiskusi tentang "nafsu", sambil "bernafsu" pula. Bisa-bisa mereka benar-benar akan berbunuhan. Saya tak paham apakah itu karena bawaan bangsa ini memang senang bertengkar atau kita ini bangsa yang sudah sangat kaya dengan kosa kata.

"Maqam" berasal dari bahasa AlQuran yang berarti tempat berpijak, atau biasa juga dipakai sebagai tempat berdiri untuk menggapai tempat yang lebih tinggi. Misalnya, saya mau memasang lampu di kamar. Karena saya pendek, maka saya ambil sebuah bangku. Bangku itu adalah maqam saya. Kaum sufi menggunakan istilah maqam untuk menamai tahapan pencapaian kualitas ruhani. Mereka biasa mengatakan, "Perjalanan ruhani akan melewati tujuh maqam." Nah, yang di depan ka'bah itu adalah maqam Ibrahim, bukan makamnya, karena ia adalah batu yang digunakan Nabi Ibrahim ketika meninggikan ka'bah.

Kata, "makam" dalam bahasa kita bermakna kuburan. Makam wali-wali, misalnya, jangan diartikan sebagai level kerohanian para wali seperti muraqabah, musyahadah, dll. Makam para wali adalah kuburan wali-wali, tempat jenazah para wali ditempatkan selepas kewafatannya. Ziarah makam wali-wali sangat dianjurkan oleh tokoh-tokoh sufi untuk mengingati mati. Kita tahu bahwa Nabi Ibrahim wafat di Pelestina dan dikuburkan di sana. Jadi, makam Ibrahim ada di Palestina, bukan di Makkah.

Bagaimana dengan nafsu? "Nafsu", dalam bahasa Arab dan juga dalam Alquran, diartikan sebagai jiwa (soul), sesuatu yang immaterial yang terdapat dalam tubuh manusia yang di dalamnya terdapat berbagai daya. "Nafsu" dalam pengertian ini tidak boleh dibunuh. Membunuh nafsu sama artinya dengan membunuh diri. Tapi, nafsu, dalam bahasa Indonesia, dipahami sebagai birahi, dan cendrung berkonotasi negatif. Orang Indonesia sangat jijik melihat orang yang makan bernafsu. Siapa yang berani mengatakan, "Pak SBY, misalnya, "memimpin dengan nafsu?"

Al Quran sendiri tidak pernah menggunakan kata "nafsu" untuk menggambarkan birahi manusia, tetapi menggunakan kata "hawa". Kalau kita gunakan kata "hawa" memaknai birahi, orang Indonesia akan berpikir bahwa yang kita kita maksud adalah "rasa pada kulit", seperti kita sering menyebut "Bandung berhawa dingin". Nanti, orang akan mengelompokkan "hawa nafsu" bersama-sama dengan "hawa dingin", "hawa panas", "hawa sejuk", dll.

Itu baru dua contoh kepusingan yang saya sebutkan. Silakan cari contoh-contoh lain yang sering membuat orang keliru memahami terminologi AlQuran menggunakan terminologi lokal. Kepusingan itu terjadi ketika terminologi AlQuran diterjemahkan bulat-bulat dengan kata Bahasa Indonesia yang mirip bunyinya atau tulisannya seperti kedua contoh di atas. Kosa bahasa Indonesia yang dipilih itu sering sudah terlanjur didefiniskan berbeda dengan maksud yang diinginkan.

Coba juga kita perhatikan, jangan -jangan ada beda antara taqwa (bahasa AlQuran) dan takwa (bahasa Indonesia, ikhlas (bahasa Al Quran) dan ikhlas (bahasa Indonesia) , tafakur (bahasa AlQuran) dan tafakur (bahasa Indonesia), sabar (bahasa AlQuran) dan sabar (bahasa Indonesia) . Saya belum cek dengan baik. Coba buka AlQuran dan buka pula kamus Bahasa Indonesia. Jangan-jangan, pasangan-pasangan kata itu berbeda makna.

Contoh kata kata juga sering disalahartikan adalah kata "pahit" dalam kalimat, "Sampaikanlah kebenaran itu walaupun pahit." Coba renungkan, apakah "pahit" yang dimaksud adalah pahit bagi si pendengar sehingga pendengar itu harus demam dua hari dua malam ketika penyampaian itu menyakitkannya? Ataukah "pahit" itu pahit bagi si pembicara sehingga ia mesti bermujahadah sebelum berbicara?

Wallahu a'lam
Bagaimana pendapat Anda?

Monday, October 4, 2010

Imam Mahdi



Kisah-kisah tentang Imam Mahdi telah dituliskan dengan sangat rinci, ilmiah, dan komprihensif oleh seorang ulama besar bernama Ali bin Husamuddin (w 975 H) dalam bukunya Al Burhan Fi 'Alamat Mahdi Akhir Az Zaman. Buku ini diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia berjudul Imam Mahdi, Kedatangannya Pasti, Bukan Sekadar Mitos, dan ditebitkan oleh Pustaka Inner, Bandung,tahun 2004.

Di tengah hiruk pikuk akan harapan ummat akan tegaknya kembali keadilan dan kemakmuran yang kedua kalinya, sebagaimana pernah ditegakkan dulu di zaman Rasulullah dan khulafa rasyidin, rasanya buku ini elok sekali untuk disimak. Saya tidak bermaksud mempengaruhi opini siapapun untuk berinterpretasi tentang Imam Mahdi. Saya hanya melihat, dengan membaca buku ini, setidak-tidaknya deskripsi tentang Imam Mahdi dan berbagai peristiwa yang terjadi di zamannya, akan lebih jelas bagi para "pencari kebenaran". Bukanlah berarti, satu buku ini sudah cukup untuk meluruskan berbagai anggapan tentang Imam Mahdi. Tapi, setidak-tidaknya, diskusi tentang Imam Mahdi menjadi lebih terarah.

Tokoh sentral yang dibahas adalah Imam Mahdi, seorang yang disebutkan oleh Rasulullah SAW sebagai khalifah Rasulullah yang terakhir sebelum datangnya hari Kiamat. Tokoh ini sangat terkenal. Pada zaman ini, dan juga zaman-zaman sebelum kita, banyak dibicarakan. Walaupun demikian, kontroversi tentang ciri-ciri dan interpretasi tentangnya tak pernah berakhir.

Dalam kata pengantar bukunya, penulis yang bernama lengkap Ali bin Husamuddin bin Abdul malik bin Qadhi Khan Al Muttaqi Asy Sadzili ini, mengatakan bahwa bukunya itu adalah hasil penyusunan ulang karya Imam As Suyuti, seorang ulama besar yang menghafal puluhan ribu hadis, yang berjudul Al-'Urf al-Wardi f i Akhbar al-Mahdi . Penyusunan ulang bertujuan agar bab-bab pembahasan lebih terklasifikasi dengan baik. Hadis-hadis yang dicantumkan dalam karya As Sayuti itu sama sekali tidak dikuranginya. Bahkan, sejumlah hadis-hadis tentang topik yang sama yang berasal dari karya Imam As Suyuti lainnya yang berjudul Jam'u al Jawami' telah ditambahkan ke sana.

Selain itu, penulis yang juga dikenal dengan karya-karya yang banyak itu, Ali Husamuddin telah menambahkan pula di dalam bukunya itu hadis-hadis yang berasal dari kitab karya Allamah Yusuf bin Yahya As-Sulami yang berjudul 'Iqd ad-durar fi Akhbar Mahdi al-Muntazhar. Penambahan itu hanya sebagian kecil hadis sebagai pelengkap, karena sebagian besar hadis yang dibicarakan dalam karya As Sulami itu telah terdapat didalam kedua karya As Suyuti.

Jadi, dengan penggabungan itu, semua hadis yang berasal dari ketiga buku tenang Al-Mahdi telah disatukan. Besar kemungkinan, deskripsi tentang Imam Mahdi berdasarkan hadis-hadis, dalam buku ini, sangat komprehensif. Bahkan, dalam buku ini, penulis menyebutkan pula analisis para ulama hadis tentang tingkat keshahihan hadis-hadis yang dikutip.

Selama ini sebagian masyarakat baru mengenal empat khalifah utama yang disebut khulafa rasyidin, yang secara berturut-turut , Saidina Abu Bakar (r.a) , Saidina Umar bin Khatab (r.a), Saidina Usman bin Affan (r.a), dan Saidina 'Ali bin Abu Thalib (r.a). Sebenarnya, dari berbagai hadis, Rasulullah SAW sudah menyebutkan bahwa akan ada satu lagi yang tergolong khulafa rasyidin yang akan dilahirkan menjelang hari kiamat. Beliau bernama Muhammad bin Abdullah
(r.a) yang digelari Al Mahdi. Sebuah nama yang sangat mirip dengan nama Rasulullah SAW sendiri. Bahkan nama ayah dan ibunya mirip dengan nama ayah dan ibu Rasulullah.

Tapi, Muhammad bin Abdullah Al Mahdi ini bukan nabi dan bukan rasul, sehingga beliau tidak akan menerima wahyu, apalagi akan membuat syariat baru. Beliau tidak bersifat ma'shum sebagaimana nabi-nabi dan rasul-rasul. Secara nasab, beliau tergolong ahlul bait karena masih mempunyai garis keturunan yang bersambung kepada Rasulullah melalui Siti Fathimah, putri bungsu Rasulullah SAW.

Muhammad bin Abdullah Al Mahdi, atau sering disingkat dengan Imam Mahdi, disebutkan, akan berhasil menegakkan keadilan dan kemakmuran di akhir zaman, menegakkan kembali kasih sayang di seluruh dunia, membebaskan Baitul Maqdis dari tangan Yahudi, dan juga membebaskan Masjidil Haram dari penguasaan pemerintah yang zalim. Di zamannyalah akan datang Dajjal, sang pendusta. Di bawah pimpinan Imam Mahdi, sang pendusta kelas kakap itu akan ditaklukkan.

Rasulullah SAW memang tidak menyebutkan secara persis saat kelahirannya. Wajarlah, kalau interpretasi tentang ini berbeda-beda dari mulut ke mulut. Rasulullah hanya mengisyaratkan bahwa ia akan dilahirkan sebelum kiamat terjadi. Kelahiran Imam Mahdi merupakan salah satu tanda bahwa kiamat sudah hampir tiba. Dia akan dibai'at sebagai pemimpin di musim haji, di depan Ka'bah, antara hajar aswad dan maqam Ibrahim. Hadis-hadis Nabi menyebutkan beberapa ciri fisiknya seperti gigi seri yang teratur, berkening lebar, bertahi lalat di pipi sebelah kanan. Beliau dilukiskan sebagai seorang yang sangat pemurah, pemberani dan kharismatik yang akan mempopulerkan kembali sunnah rasul yang telah pudar dari masyarakat.

Yang tidak kalah menarik dalam pembahasan buku ini adalah pertemuan Imam Mahdi dengan sekelompok pemuda yang berasal dari masyriq (timur) sebelum pembebesan Baitul Maqdis. Boleh menjadi diskusi kita, dimana sebenarnya wilayah timur yang disebut sebagai masyriq itu.

Imam Mahdi bertemu dengan pemuda-pemuda masyriq itu di suatu tempat di Khurasan ketika mereka membai'at Imam Mahdi sebagai pemimpim. Selanjutnya pemuda-pemuda itu menjadi pengikut-pengikut Imam Mahdi yang paling setia dan menyertainya dalam berbagai penaklukan setelah itu, termasuk pembebasan Baitul Maqdis.

Pemuda-pemuda dari timur itu adalah sekelompok pemuda yang digambarkan berjiwa seperti besi. Mereka adalah sekelompok pemuda yang taat beribadah dan gigih berjuang. Digambarkan dalam satu metofora yang cantik, "Malam, mereka seperti rahib, tapi kalau siang bagaikan singa." Tatkala sampai kepada mereka berita pembai'atan Al Mahdi di Makkah, mereka pun bergegas untuk bergabung menyertainya.

Menurut salah satu hadis dari Nu'aim bin Hammad, mereka menyusul Imam Mahdi ke Khurasan setelah mereka mendengar bahwa beliau ada di sana. Mereka terdiri dari 4000 orang di bawah pimpinan seorang pemuda bani Tamim yang bernama Syu'aib bin Sholeh. Pemuda dari bani Tamim yang memimpin mereka ini adalah seorang pemuda yang kharismatik dan pemberani. Kulitnya kuning seperti sawo matang, bertinggi sedang, dan berjanggut tipis. Itu sebagian ciri fisik yang digambarkan oleh hadis.

Rombongan ini membawa sebuah bendera berwarna hitam. Mereka memakai peci yang juga hitam sedangkan pakaian mereka putih. Salah seorang dari mereka bertugas sebagai pemegang bendera. Dia adalah seorang pemuda yang masih belia dari bani Hasyim, yang bernama Haris Al Haras. Disebutkan bahwa Haris al Haras ini masih ada hubungan keluarga dengan Imam Mahdi, sama-sama alhul bait. Di telapak tangan kanannya ada tahi lalat. Dalam satu hadis dikatakan bahwa ia berkaki pincang. Pemuda bani Hasyim yang bernama Haris Al Haras inilah yang pernah dikira telah terbunuh di satu peperangan, dan ternyata ia masih hidup.

Setidak-tidaknya, buku yang sangat berguna ini menyimpulkan bahwa Muhammad bin Abdullah Al Mahdi, Syu'aib bin Sholeh pemuda dari bani Tamim, dan Haris Al Haras pemuda dari bani Hasyim adalah tiga tokoh yang berbeda yang bertemu dalam satu misi perjuangan yang sama, memperjuangkan tegaknya kembali sunnah Rasulullah di akhir zaman.

Wallahu a'lam
Bagaimana pendapat Anda.

Friday, October 1, 2010

Maqam Muttaqin


Apa makna muttaqin yang sesungguhnya? Terus terang, mencari makna leksikal kata taqwa dalam analisis semantik termasuk sulit. Kata itu sendiri, dalam perbendaharaan kata-kata Bahasa Arab, termasuk dalam kelompok kata-kata asing (gharib) yang jarang dipakai dalam percakapan sehari-hari. Karena itu, makna harafiah kurang tepat untuk digunakan.

Berbeda dengan tiga kata lain yang merupakan basis bagi taqwa, yaitu islam, iman, dan ihsan. Ketiga kata itu dikenal dengan sangat akrab oleh orang-orang Arab sebagai bahasa sehari-hari.

Secara terminologis, seorang yang bertaqwa (muttaqin) memiliki ciri sebagai seorang yang telah berihsan (muhsin). Beberapa ayat Al Quran menegaskan itu. Di lain pihak, secara terminologis juga, ihsan itu sendiri mengandung makna islam dan Iman di dalamnya. Maka dapat disimpulkan bahwa di dalam taqwa terkandung makna ketiga kata itu. Seseorang muttaqin adalah seorang muhsin, yang juga bermakna bhawa dia adalah muslim dan mukmin.

Muslim adalah orang yang taat pada sistem Tuhan (perintah, larangan, dan petunjuk-petunjukNya). Mukmin tidak hanya ta'at, tetapi juga yakin. Ia taat dalam keadaan yakin akan siapa yang ditaatinya itu. Keyakinan itu tumbuh dari tahu, kemudian kenal, dan terakhir yakin akan Allah. Inilah yang dinamakan ma'rifat. Muhsin bukan saja taat dan yakin, tetapi juga sadar. Ia taat dan yakin dalam keadaan sadar penuh akan siapa yang ditaati dan diyakini itu. Dalam ketaatannya itu, ia merasa berhadapan dengan Allah. Seorang muhsin akan diliputi oleh perasaan dilihat Allah (muraqabah). Lebih tinggi lagi, seorang muhsin akan diliputi perasaan melihat Allah (musyahadah).

Muttaqin adalah maqam tertinggi. Muttaqin adalah orang yang memetik buah islam, iman, dan ihsannya itu. Karena itu, seorang muttaqin adalah orang yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan dalam ibadahnya. Buah ibadah sesungguhnya akan diperoleh di level muttaqin itu. Buah itu bukan berbentuk harta benda, tetapi berbentuk sejumlah sikap yang tertanam dalam dirinya, menyatu dalam perbuatan, pikiran, dan perasaannya. Sikap itu juga yang tampak dari perilakunya sehari-hari.

Walaupun sulit menemukan makna leksikal kata taqwa secara semantik, namun kita dapat melihatnya dari ciri-ciri muttaqin sebagai yang digambarkan Allah dalam Alquran. Makna inilah yang penting.

Tiga kelompok ayat-ayat berikut ini merupakan gambaran tiga tingkatan muttaqin.

Ciri-ciri muttaqin yang paling elementer digambarkan pada QS 2: 2-5. Mereka adalah orang yang (1) beriman pada yang ghaib, (2) menegakkan shalat, (3) meninfakkan sebagian rezki mereka, (4) meyakini Al Quran dan kitab-kitab suci terdahulu, (5) meyakini kehidupan di akhirat. Mereka adalah orang yang mendapat petunjuk dan kebahagiaan di dunia.

Ciri-ciri muttaqin pada level intermediate digambarkan pada QS 3: 133-135. Mereka adalah orang yang (1) tetap berinfak baik dalam keadaan lapang ataupun sempit, (2) menahan marah dan mudah memaafkan orang lain, (3) cepat-cepat ingat pada Allah ketika terlanjur berbuat dosa , segera minta ampun dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Dengan tegas Allah mengatakan bahwa mereka adalah seorang muhsin. Ganjaran bagi mereka bukan saja petunjuk dan kebahagiaan di dunia, tetapi bagi merereka ampunan dan surga.

Ciri-ciri muttaqin pada level advance digambarkan pada QS 51: 15-23. Mereka adalah orang-orang yang (1) mengambil apa-apa saja yang datang dari Allah sebagai sebuah ketetapan, (2) sedikit tidur di waktu malam dan istigfar di waktu sahur, (3) pada harta mereka sudah ada alokasi (budget), baik untuk yang meminta maupun yang malu meminta, dan (4) meelihat tanda-tanda Tuhan di bumi, dalam diri, dan di langit. Allah menegaskan sekali lagi bahwa mereka adalah muhsin. Dan, ganjaran bukan sekeda surga, tapi surga yang penuh kenikmatan.

Wallahu a'lam
Bagaimana pendapat Anda?

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail