mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Friday, January 10, 2014

Ijab Kabul Putri Sulung

Beberapa hari sebelum hari pernihakan putri sulung saya yang berlangsung  5 Januari 2014, entah bercanda entah serius seorang kerabat di luar pulau mengirim pesan  singkat melalui akun facebook saya. Katanya, “Kalau ijab kabul nanti, awas jangan sampai menangis cengeng, ya. Kalau menangis, bisa batal lho.”

Sontak saja saya tertawa dalam hati membaca pesan itu. Ah mana mungkin saya cengeng. Tidak mungkinlah saya akan menangis melafazkan ijab kabul di hari penuh kebahagiaan,  di hadapan calon menantu, dan disaksikan oleh orang banyak. Gengsi dong.

Apa yang dikhawatirkan kawan itu ternyata terjadi di saat saya sudah berada dalam prosesi ijab kabul, he he he.  Kalaulah saya tidak berjuang keras melawan gemuruh haru di hati yang membuncrat dari dalam, hampir-hampir saja saya tidak sanggup menyelesaikan kalimat  ”Saya nikahkan engkau dengan anak saya dengan mahar ….”

Untunglah, kalimat yang terbata-bata saya ucapkan itu selesai juga akhirnya sampai titik dan dapat diterima sah oleh para saksi. Untung pula, yang menjadi salah seorang saksi adalah kakak kandung saya sendiri yang paling tua. Kalau tidak, mungkin saya akan mengulangi kembali. Oh, malunya.

Kalimat ijab kabul itu ringan di lidah tapi berat di ucapan. Mungkin ada yang mengira kalau saya sedang tidak bahagia pada waktu itu. Saya justru sedang bahagia-bahagianya. Saya bahagia karena anak sulung saya,  perempuan pula, melepaskan masa lajangnya menikah dengan lelaki pilihannya. Tak mungkin seorang ayah tidak bahagia melihat anaknya tumbuh dewasa dan kemudian menikah dengan baik-baik.

Yang muncul di hati adalah rasa haru, bukan ketidakbahagiaan. Rasa itu di luar kendali. Tiba-tiba saja, ketika saya melafazkan kalimat ijab secara perlahan, kata perkata, sambil meresapi maknanya, rasa haru bercampur gamang berkecamuk di hati. Timbul pikiran instan: sudahkah saya sebagai ayah membekali anak saya dengan ilmu, bimbingan, arahan sehingga dia nanti sanggup menghadapai badai rumah tangga yang bisa menerpa secara tiba-tiba?

O, rasanya belum. Inilah yang membuat saya galau, gamang, cemas, dan grogi.

Rasanya baru kemarin anak itu lahir, merangkak, dan bersekolah. Walau anak sulung itu sudah berusia 24 tahun kini, baru kemarin rasanya anak itu masih merengek-rengek minta uang jajan.  Sepertinya, jarum jam  tiba-tiba berputar cepat menunjuk suatu waktu ketika  anak itu meminta restu untuk dinikahkan. Sudah dewasakah dia?

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya tidak ada yang tiba-tiba di dalam alam ini.  Semua pergerakan waktu sudah tertata sedemikian rupa.  Sayalah yang sering lengah dan tidak hirau dengan lajunya pergerakan waktu. Saya mungkin sering lupa kalau waktu tidak pernah mengenal perlambatan, percepatan, dan lebih-lebih lagi mundur.  Waktu, sampai kapanpun,  berjalan maju dengan laju yang tetap. Waktu datang dan pergi menggilas segalanya.  Rambut yang hitam tiba-tiba putih oleh waktu. Kulit yang mulus tiba-tiba keriput.

Merugilah orang-orang  seperti saya yang membiarkan waktu  berlalu begitu saja.  Janganlah terkejut ketika kita  belum mencukupkan bimbingan kepada anak perempuan kita, tiba-tiba saja  anak itu sudah dewasa, dan harus berpindah tangan kepada suaminya.  Jangan pula terkejut, kalau biasanya kita dipangil akang atau uda, tiba-tiba dipanggil kakek. Oh, waktu cepat berlalu.

Dalam haru, setelah pelafazan akad nikah di hari Ahad itu, hanya satu kalimat yang sanggup saya bisikkan di telinga  Rio, sang menantu, “Pimpinlah Haifa, anak saya, dengan pimpinan yang baik.”  Saya titipkan anak saya kepada suaminya itu untuk dipimpin.

Sebenarnya, untuk mengantisipasi kegamangan menghadapi hari pernikahan anak itu, saya telah menyandera tiga orang kerabat saya untuk datang. Penyanderaan dalam arti positif.  Barangkali memang rezeki saya sedang baik, mereka pun hadir.

Yang pertama adalah Adinda Khaidir Azwar. Saya selalu menambahkan gelar Al-Hafizdi belakang namanya bila memperkenalkan anak muda ini kepada orang lain.  Al-HafizItu bukan gelar main-main.  Itu adalah gelar yang biasa diberikan bagi penghafal Al-Quran.  Beliau memang seorang penghafal 30 juz Al-Quran dan sekaligus pembaca Al-Quran yang fasih walaupun usia beliau masih sangat muda. Kalau beliau hadir di masjid Ar-Rahmah, mesjid di dekat rumah saya tinggal di Raffles Hills Cibubur, beliaulah yang didaulat jamaah menjadi imam. Sesuai tuntunan Rasulullah, yang paling fasih bacaan Al-Quran dan paling banyak hafalannya adalah yang paling layak mengimami shalat.  Suaranya yang merdu mengantar ayat-ayat Tuhan itu ke relung hati kami yang keras bagaikan batu.

Sebelum hari pernikahan anak saya, saya daulat Ustaz Khaidir untuk melantunkan ayat-ayat Alquran sebelum aqad nikah. Saya senang karena beliau pun mengabulkan permintaan saya itu. Bergemalah kalam ilahi yang agung itu memenuhi ruangan akad nikah, Sasana Kriya, TMII, walaupun sejenak.

Yang kedua adalah seorang kerabat yang dulu sama-sama aktif dengan saya di Masjid Salman-ITB.  Beliau adalah Muhammad Furqan Al-Faruqiy yang sebetulnya adalah seorang insinyur teknik fisika. Tapi, karena beliau berkutat mendalami Al-Quran bersama majelis yang dibinanya, Majlis  Al Quran di Pusat Dakwah Al Quran Bina Qolbu Jakarta, beliau layak saya sandera untuk beberapa menit untuk mengajari kami bagaimanana menerapkan Al Quran di dalam kehidupan berumah tangga.  Penulis buku “Belajar dari Kejatuhan Iblis dan Nabi Adam, AS”  yang inspiratif itu, alhamdulilllah hadir dan menyampaikan nasihat-nasihatnya. Menurut saya, nasihat yang disampaikan Ustaz Furqan sangat runtut dan sangat layak kami jadikan referensi kehidupan.

Orang ketiga adalah Kang Jonih Rahmat. Semua kawan yang banyak berurusan dengan minyak dan gas bumi mestinya kenal beliau.  Sebagai pejabat tinggi di lingkungan SKKMIGAS, saya tahu kalau beliau sibuk dalam berbagai perjalanan baik di dalam maupun ke luar negeri mengurus minyak dan gas di Indonesia.  Saya maklum itu tapi saya perlu beliau. Untuk mengatasi kegamangan saya melepaskan anak menikah, saya tak segan-segan meminta beliau hadir mendoakan kami sekeluarga. Alhamdulillah beliau juga datang.  Dan beliau pun mendoakan kami sekeluarga dengan doa yang sangat menyentuh. Gabungan doa dan nasihat sekaligus.

Pilihan saya pada Kang Jonih untuk memimpin doa adalah karena saya yakin kalau orang yang paling menyayangi anak yatim pastilah paling makbul doanya. Walaupun Kang Jonih seorang geologist senior, pakar eksplorasi migas,  dan sebenarnya bisa hidup berlimpahan harta dengan seluruh pendapatannya, tapi beliau memilih hidup sederhana bersama hampir seratus  anak yatim yang dibinanya bersama istri tercinta. Di sebuah rumah sederhana di Ciomas, Bogor,  pria sederhana tapi penulis dua bukubest seller Gramedia ”Malaikat Cinta” dan “Kitab Kebaikan” itu, hidup menyantuni anak-anak yatim piatu.

Setelah ijab kabul di pagi hari, walimah pun diadakan di siang hari. Di kenduri yang terbatas dihadiri keluarga dan karib kerabat itu,  saya berhasil pula menahan Ust Muhammad Said, seorang guru agama, pimpinan sebuah pesantren dari Jayapura, untuk memberikan doa pembukaan walimah. Saya mohon beliau bertahan di lokasi resepsi padahal beliau sesungguhnya segera menuju bandara berangkat kembali ke Papua.

Ada beberapa kawan  yang hanya menyampaikan doa dan ucapan selamat melalui sms, email, atau facebook karena tidak sempat hadir.  Itu juga lumayan. Saya maklum dengan berbagai hambatan mereka untuk hadir. Doa dari jarak jauh pun bagi saya begitu penting. Saya tidak punya kekuatan kecuali kekuatan doa.

Walaupun demikian, banyak juga sahabat yang meluangkan waktu hadir menyertai kegembiraan kami sekeluarga dalam kenduri sederhana itu. Saya sungguh terharu dan berlelehan air mata menjabat tangan atau memeluk kerabat-kerabat itu satu persatu, apalagi sebagiannya adalah sahabat-sahabat lama yang puluhan tahun tidak bertemu.
Bercampurlah acara walimah pernikahan itu keluarga, tetangga, guru, pembimbing, dan kawan-kawan, baik kawan sepertumbuhan, sepermainan, seperguruan, sepengajian, dan ataupun  seperjuangan. Bercampurlah haru dan bahagia sekaligus.

Untuk yang hadir maupun yang tak hadir,  saya mengucapkan terimakasih  atas perhatian dan doanya masing-masing, baik doa untuk si sulung yang menikah itu maupun doa untuk ayahnya, ibu-ibunya, maupun adik-adiknya.  Saya minta maaf atas seluruh kekurangan pelayanan yang pasti jauh dari sempurna. Walaupun air mata tak tertahankan dan rasa haru yang dalam, kehadiran para kerabat di acara ijab kabul yang disusul resepsi sederhana itu sungguh menggembirakan.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail