mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Sunday, September 20, 2015

Prabumulih



Pembangunan sarana fisik penunjang ekonomi Prabumulih, saya pikir perlu di simak. Mulai dari batas kota di sebelah timur, KM 15, sampai ke perlintasan kereta api (dekat RS lama) telah bertaburan ruko di kiri kanan jalan. Sebagian ruko-ruko itu masih kosong, sedang ditawarkan untuk disewakan atau dijual. Namun, sebagian lagi telah ada kegiatan perniagaannya.

Bisnis makanan dan kuliner terlihat menggeliat. Setidak-tidaknya ada puluhan ramah makan dan restoran serta beberapa caffee.
Kalau 7 tahun lalu, sentra bisnis berada di bagian barat kota. Sekarang sentra itu telah bergeser ke timur. Tujuh tahun lalu, RM Siang Malam kesepian sendiri di Cambai. Tapi, sekarang RM itu terihat terdesak oleh kegitan usaha lain di kiri dan kanannya.

Jalan Padat Karya , dulu bekas jalan pipa gas Pertamina, kini sudah sangat ramai. Kalau malam hari, susasana di jalan ini sangat romantis karena adanya cafe-cafe baru yang buka sampai malam.

Penataan pedagang makanan sepanjang rel kereta api di depan kantor Polsek Prabumulih Timur cukup mengesankan. Lokasi ini coco dibuat menjadi sentra penjualan makanan kecil. Kalau lokasi ini dikembalikan sampai Lapangan Prabujaya akan sangat ideal. Saya teringat bagaimana pemerintah Surabaya mengorgnisir pusat penjualan makanan kecil, pusat jajanan serba ada. Cara ini ideal untuk dicontoh dan doterapkan di Prabumulih.

Saya kira, pembangunan kantor walikota,  kantor plores, rumah wali kota,  kantor pertanahan, dan RSU di sebelah timur menjadi  pemicu ramainya para pemilik modal berinvestasi ke sebelah timur.

Pusat pasar tradisional sedang dibangun dan ditata ulang supaya lebih modern. Saya sempat melihat beberapa kios kain, ikan asin, dan ayam potong yang belum terlalu tinggi aktifitasnya dibandingkan pasar yang lama. Lokasi yang dipilih sebagai pasar tradisional yang modern itu adalah lokasi pasar yang lama di tambah lokasi bekas terminal. Telah dibangun sky-bridge yang cukup cantik. Yang menghubungkan kedua pasar itu.

Yang masih menjadi kendala adalah penataan parkir dan pedagang kaki-lima. Kalaulah pemerintah kota Prabumulih meniru kota Surabaya dalam pengelolan parkir dan pedagang kaki lima, saya kira itu ide bagus. Beberapa waktu yang lalu, saya bertemu Ibu Risma, walikota Surabaya, dan beliau menceritakan bagaimana perpakiran dan PKL di Surabaya yang ruwet akhirnya terselesaikan.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail