Breaking

Friday, December 18, 2009

Friday, December 18, 2009

Bukan si Ucup


Ada seorang pekerja bangunan yang sedang bekerja di lantai 13 sebuah gedung. Tiba-tiba seorang berteriak-teriak, "Ucup… Ucup… Anak perempuanmu Soleha mati karena kecelakaan… Ucup…!" Karena panik, orang itu langsung meloncat lewat jendela.
 Ketika hampir mendekati lantai 9, dia baru ingat bahwa dia tidak punya anak perempuan bernama Soleha. Setelah hampir mendekati lantai 5, dia baru sadar bahwa dia belum menikah, apalagi punya anak. Dan, ketika hampir menyentuh tanah, dia baru sadar kalau namanya bukanlah Ucup.
 Hua ha ha ha…..
 Cerita itu dikisahkan oleh kawan saya, Andrias Harefa dan Hendri Bun, dalam bukunya "Be Happy".
 Waktu pertama mendengarkan cerita itu dibacakan oleh anak saya di mobil, saya tertawa terpingkal-pingkal. Rasanya lucu sekali. Cerita itu memang dikemas sedemikian rupa agar pembaca tertawa. Judul bukunya saja tentang tertawa. Saya sendiri heran juga, apanya yang lucu. Kami sekeluarga yang ada di mobil ikut tertawa. Sebagian tertawa karena mendengarkan cerita itu, sebagian lagi mungkin tertawa karena melihat saya tertawa. Soalnya, tertawa saya bisa membuat orang tertawa.
 Tapi, sekarang mari kita berhenti sebentar. Coba kita renungkan cerita apa yang sebenarnya diceritakan kawan saya itu. Itu cerita yang sungguh tragis. Seorang buruh bangunan, yang tiba-tiba panik mendengarkan kisah kecelakaan. Dalam waktu sekejap, dia memutuskan untuk bunuh diri. Dalam proses bunuh diri itu dia baru tersadar bahwa keputusannya itu keliru karena informasi yang dia terima keliru. Tapi apa boleh buat. Nasi sudah jadi bubur. Tubuhnya yang mungkin kekar, maklumlah buruh, sekarang sudah remuk seperti tape. Tragis bukan?
 Perenungna kita akan mencoba menjawab rasa hati yang muncul, "Kok mudahnya orang panik ya?" Berita kecelakaan saja membuat orang panik. Apalagi berita-berita tentang bencana, kiamat, dll. Apakah sekarang hati manusia begitu lemah sehingga begitu mudah untuk panik, atau apakah sekarang terlalu banyak hal-hal yang mudah memanikkan.
 "Mengapa orang terlalu mudah mengambil keputusan untuk bunuh diri?" Sedikit-sedikit mau bunuh diri. Tidak naik jabatan, mau bunuh diri. Suami berselingkuh, mau bunuh diri. Istri minggat, mau bunuh diri. Boss garang, mau bunuh diri. Kawan tidak bayar hutang, mau bunuh diri. Jangan-jangan, nasi anguspun, mau bunuh diri.
 "Mengapa penyesalan selalu datang terlambat, ketika nasi sudah jadi bubur? Coba bayangkan, alangkah sialnya nasib orang yang meloncat tadi. Setelah hampir remuk badannya terhempas di tanah, baru dia sadar bahwa dia bukan Ucup dan masih bujangan. Waduh.
 Lebih dalam, kisah itu seharusnya memeras air mata, membuat kita mengusap-usap dada menahankna pedih di hati. Kita akan teringat dengan nasib bangsa kita yang punya pemuda-pemudi dengan kecerdasan emosional dan spiritualnya sangat rendah. Mereka bukan saja miskin harta, miskin ilmu, dan miskin pengalaman, bahkan miskin iman. Memilih jalan pintas bunuh diri, menunjukkan dia orang yang termiskin di dunia.
 Tapi saya yakin itu cerita fiktif. Kawan saya, Andrias Harefa, memang piawai bermain kata melalui pena. Itulah hebatnya pena. Cerita yang tragis, menyedihkan, dan bahkan mengerikan bisa diubah formatnya menjadi lelucon. Saya teringat dengan pepatah bahwa pena bisa lebih tajam dari pedang. Sekarang tergantung dari tangan yang mengayunkan pena itu. Ia bisa digunakan untuk mengupas mangga di siang yang gerah, atau menguliti orang hingga berdarah-darah.
 Bagiman pendapat anda?
 Wallau a'lam.
  

Monday, November 30, 2009

Monday, November 30, 2009

Ternyata, tidak ada yang sulit


Siang tadi ketika saya sedang minum air jeruk peras hangat kesukaan saya setelah makan siang, saya membaca email kawan yang masuk tiba-tiba. Saya sampai tersedak karena minuman itu terhirup ke hidung. Ceritanya begini.

 Pagi tadi kawan saya itu menumpang mobil bossnya, bule Amerika, menuju satu tempat. Tiba-tiba mobil itu menabrak mobil yang di depan yang berhenti mendadak. Karena si boss terlihat merengut, dengan terbata-bata si supir minta maaf kepada boss bulenya itu.

 "Sorry Sir, I already brake-brake, but brake not eat. The wheel no his flower again," katanya lugas.

 Anda yang sudah puluhan tahun belajar tata bahasa Inggris pasti bingung menterjemahkannya, bukan? Tapi ajaib, si Bule itu justru mengangguk-angguk tanda mengerti. Yang dimaksudkan si supir tadi kalau kita terjemahkan kata perkata adalah begini:

" Maaf Pak, saya sudah rem-rem, tapi remnya tidak makan. Bannya tidak ada kembangnya lagi."

 Karena ia melihat si boss itu bersiap mau turun, mau marah kepada pengemudi yang mobil yang ditabrak, si supir menegah,"Sir, don't follow mix, let me only. If not wrong, the driver children fruit manager money. He stupid don't play. Let know taste." 

Maksud si Supir, "Pak, jangan ikut campur, biar saya saja. Kalau tidak salah, sopir itu anak buah manajer keuangan. Dia memang goblok bukan main. Biar tahu rasa."

Cerita kawan saya itu menunjukkan memang ada dua macam bahasa: bahasa gramatika dan bahasa kosa kata. Bahasa gramatika tersusun rapi sesuai dengan tatabahasa yang baku sedangkan bahasa kosa kata hanya mengadalkan kata. Susunannya terserah-terserah saja. Selama ini saya mengira untuk berkomunikasi hanya bisa pakai bahsa jenis pertama. Ternyata, terbukti bahasa jenis kedua, bahasa kosakata, juga ampuh. Cerita kawan saya tentang supirnya tadi sebagai bukti.

 Cerita ini mengingatkan saya dengan seorang kawan lama -- tak perlu saya sebutkan namanya-- yang mengeluh kepada boss bulenya yang selalu memberinya tugas tidak henti-henti, 

Dia bilang," Boss, little litle to me, litle litel to me, salary not up up."

Boss itu ternyata juga paham. 

 "Mengapa kemarin tidak masuk kerja?" tanya bossnya.

 "I am not delicious body, like enter the wind.".

 Semudah itukah berbicara dengan orang asing? Ya. Bagi orang seperti saya yang sudah hampir putus asa tidak bisa berbahasa Inggis, mari kita pindah dari berbahasa tatabahasa ke bahasa kosakata. Seperti yang di lakukan orang-orang itu.

Orang-orang itu tidak pernah membebani dirinya dengan aturan tatabahasa yang tidak manusiawi. Mereka bebaskan dirinya. Terbukti. Mereka tidak kurang kesempatan kerja, bahkan bekerja dengan orang asing dengan upah yang tinggi.

 Bagaimana menurut Anda?

Wallahu a'lam
Monday, November 30, 2009

Pengalaman yang dimakan usia


Beberapa waktu yang lalu saya terlibat dengan pembicaraan ringan, secara tidak sengaja, dengan sorang manajer senior sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang perminyakan. Karena usianya, beliau akan memasuki pensiun tidak lama lagi.
 "Apa rencana kegiatan Bapak setelah pensiun?" tanya saya.
 "Ya, inilah yang sedang saya pikir-pikirkan," katanya ringan.
 Tiba-tiba dia menatap saya serius, "Saya tahu, tanpa kegiatan yang rutin, banyak sekali orang yang sudah pensiun menjadi cepat pikun, ya? Untuk mengisi pekerjaan yang mengandalkan fisik, rasanya tidak mungkin lagi bagi pensiunan. Apakah Anda punya saran?" tanyanya.
 Waktu itu saya sedang menulis. Tiba-tiba dengan spontan saya menjawab," Bagaimana kalau menulis?"
 "Menulis?" katanya sambil tertawa terbahak-bahak dan menepuk-nepuk bahu saya. "Anda silakan terus menulis. Anda boleh menyarankan apa saja kepada saya, kecuali menulis. Ha ha ha."
 "Apa salahnya menulis?" tanya saya sedikit agak heran. "Saya kira dengan menulis, Bapak dapat mengisi hari-hari yang panjang tanpa kegiatan fisik yang berarti. Menulis hanya pakai jari. Dan lagi, dengan menulis, pikiran akan terus bekerja mengolah seluruh informasi yang ada pada otak. Jelas, ini akan memperlambat pikun. Dengan menulis, Bapak bisa mewariskan pengalaman dan pengetahuan Bapak bertahun-tahun di bidang yang langka ini kepada anak cucu. Dengan menulis, Bapak bisa menasihati generasi muda agar lebih baik bertindak. Bahkan, kalau Bapak mau, tulisan Bapak bisa dikomersilkan pula."
 Dia menarik nafas panjang. Dari kerutan alisnya, otaknya seperti menggeliat keras. Menggeleng-geleng, kemudian mengangguk-angguk, tapi tidak pasti apa yang dianggukkannya. Tiba-tiba saja dia berdalih. "Saya membayangkan betapa sulitnya menulis itu. Saya tidak mampu. Bahkan saya tidak tahu dari mana saya memulainya. Saya heran dengan Anda. Saya ingin menulis seperti Anda, menuliskan pengalaman-pengalaman saya. Tapi....," tiba-tiba saja dia tidak melanjutkan kalimatnya.
 "Tapi apa Pak?" tanya saya memancing.
 "Apakah Anda bersedia mengajari saya?" katanya singkat.
 Terpikirlah oleh saya bahwa orang seperti Manajer Senior tadi tidak sedikit. Di berbagai pertemuan, saya sering menemui mereka. Mereka, yang saya maksudkan adalah kaum professional yang pada dasarnya memiliki segudang pengetahuan dan pengalaman. Mereka lulusan perguruan-perguruan tinggi ternama. Mereka telah ditempa oleh asam garamnya profesi. Mereka terlibat dalam berbagai workshop, seminar tentang profesi yang mereka tekuni. Namun karena profesi mereka tidak berhubungan langsung dengan tulis menulis seperti seorang wartawan atau sastrawan, mereka jarang menulis. Bahkan untuk menulis surat saja, sektretarisnyalah yang melakukannya.
 Mereka tersebar dalam label profesi yang bermacam ragam seperti insinyur, dokter, notaris, pengacara , pengusaha, manajer, direktur, guru, dosen, ustaz, kiai, dll. Bahkan di antara mereka telah berada di puncak karir yang sangat strategis. Mereka pasti memiliki pengetahuan dan pengalaman yang sangat berharga. Bahkan, mereka ada niat dan selalu berpikir untuk mewariskan pengetahuan itu untuk masa depan bangsanya. Tapi entah mengapa, mereka tidak dapat menuliskannya. Pengalaman dan pengetahuan mereka hilang begitu saja sampai mereka dimakan usia.
 Bagaimana pendapat Anda?
 
 

Wallahu A'lam

Thursday, November 26, 2009

Thursday, November 26, 2009

Dari catatan ke tulisan


     Beberapa tahun yang lalu, saya berkesempatan mengikuti satu workshop hebat yang diadakan di sebuah hotel mewah di Bali, tentang lingkungan hidup. Acara yang sangat menarik: topiknya, pembicaranya, dan sudah barang tentu tempatnya. Di dalam workshop mahal itu dihadirkan dua keynote speaker petinggi pemerintahan di bidang lingkungan hidup. Dalam tiga hari berturut-turut ditampilkan pembicara yang bukan sembarang orang yang terdiri dari pakar-pakar lingkungan hidup, industri, perguruan tinggi dan LSM. Peserta yang hadirpun adalah professional dari berbagai bidang (termasuk saya kali ya? He he he). Saya, sebagai peserta biasa, duduk tertib di bangku empuk di ruang megah berhawa dingin mendengarkan pemakalah yang silih berganti.
     Sebagai peserta, selama workshop berlangsung, saya memanfaatkan dengan baik notepad, stabilo, dan pulpen mahal yang disediakan panitia untuk mencatat. Kami memang dibekali satu tas elegant lengkap dengan alat-alat tulis di dalamnya. Satu demi satu ide yang dilontarkan para pembicara sepanjang siangnya terliput di dalam catatan saya dalam bentuk poin-poin ringkas. Saya buat juga sedikit coretan dan sketsa di sana sini. Saya beri warna beberapa kata. Saya tidak mungkin mencatat kalimat demi kalimat setiap pembicaraan seperti layaknya wartawan bertulisan steno.
     Di malam harinya, dalam kesendirian saya di kamar hotel, selepas makan dan shalat, saya isi waktu dengan membuka-buka kembali catatan itu, sambil menonton acara TV yang tidak menarik, menunggu mata mengantuk. Betapa menariknya workshop itu. Dari catatan yang hanya berisi poin-poin itu saja, pikiran saya bisa mereview ulang seluruh pembicaran para pakar dengan rinci. Bukan itu saja, ide-ide cemerlang yang dilontarkan peserta lain di saat tanya-jawab di kelas atau diskusi lepas sambil berdiri di saat coffee-break, memperkaya khasanah saya mengenai lingkungan hidup.
     Ide-ide sayapun tanpa saya duga bermunculan deras, membersit-bersit, mengait-kait dengan ide para pembicara dan ide-ide peserta. Semua menyatu padu. Saya tidak bisa menahan diri untuk tidak membuat berbagai catatan tambahan dari ide-ide yang bermunculan itu. Demikianlah sepanjang empat malam, selama workshop, saya menemukan pencerahan intelektual, penyegaran pengetahuan, dan penemuan berbagai gagasan baru berkaitan dengan penyelesaian masalah lingkungan hidup yang waktu itu menjadi isu besar di mana-mana.
     Waktupun berlalu.
     Dua tahun kemudian, tanpa sengaja saya menemukan catatan workshop itu kembali di lemari file ketika saya mencari satu file yang lain. Catatan itu masih utuh dan rapi, tersimpan dalam sebuah map yang juga masih rapi. Saya ambil sedikit waktu untuk duduk membaca ulang seluruh lembaran catatan-catatan itu. Apa yang saya dapat?
     Saya sungguh terkejut. Saya tidak bisa menggambarkan kembali kaitan-kaitan ide yang tertulis dalam catatan itu secara utuh. Jangankan muncul ide baru, sebagian besar ide yang tertangkap selama workshop itu telah hilang dari memori saya. Catatan yang sekarang ada di tangan saya terlihat hanya seperti sobekan kertas yang tidak berharga, penuh coretan-coretan yang tidak berarti. Poin-poin yang tertulis tidak lagi terasa saling kait-mengait. Kata-kata yang saya selipkan, ada yang miring, tegak, dsb tidak nampak relevansi satu sama lain. Bahkan saya tidak bisa mengerti apa yang saya maksud dengan beberapa garis atau diagram yang banyak saya tambahkan dalam catatan itu. Hanya satu ide yang muncul pada waktu itu, "kertas-kertas ini layaknya dibuang saja daripada jadi sampah dalam lemari"
     Sekarang, setelah saya membiasakan menulis, terbayanglah oleh saya seandainya di malam-malam workshop di hotel mewah itu saya membuka laptop dan menulis. Saya tuliskan semua catatan itu dalam kalimat-kalimat yang lengkap, paragraf yang tersusun. Saya tuliskan seluruh ide yang dilontarkan kawan-kawan. Saya tambahkan lagi kalimat yang merupakan ekspresi dari ide-ide saya yang bermunculan yang tidak kalah briliannya dengan ide orang lain. Maka, setiap malam saya akan menghasilkan setidak-tidaknya tiga artikel yang komprehensif. Selama empat malam, berarti saya akan menulis 12 artikel. Sesampainya di rumah saya tulis lagi dua artikel lagi, satu pembukaan dan satu lagi penutup, sehingga total 14 artikel. Esoknya, saya kirimkan ke sebuah penerbit, maka lahirlah satu buku spektakuler, karya saya yang terdiri dari 14 bab yang masing-masingnya satu artikel, yang siap di baca oleh ribuan mungkin jutaan orang.
Dasar bodoh.
     Itu tidak saya lakukan. Saya pulang dari workshop dengan melenggang-lenggang kangkung bagaikan seorang turis selepas beristirahat di sebuah resort wisata yang terkenal ke seluruh dunia. Saya pulang hanya menenteng souvenir yang sekarangpun sudah tidak tahu dimana berada. Saya pulang bukan sebagai seorang professional yang baru saja mencerahkan pemikirannya di sebuah ajang pertemuan ilmiah yang begengsi. Kini, apalah nilai seluruh catatan yang saya buat dengan antusias pada waktu itu, dengan pulpen mahal lengkap dengan tas elegantnya? Catatan itu kini tinggal coretan-coretan di atas kertas buram yang layak dibuang ke tong sampah. Jangankan bisa dipahami orang lain, saya saja tidak paham lagi isinya.
     Apakah Anda ingin workshop, seminar, kursus, penataran yang Anda ikuti, bernilai tinggi? Buatlah catatan-catatan ketika acara itu berlangsung. Setelah itu, tuliskanlah seluruh catatan itu dalam format tulisan yang lengkap di malam harinya, di saat ide-ide itu masih segar dalam ingatan. Tulisan itu tidak hanya akan bermanfaat untuk proses pembiasaan menulis, tetapi juga akan bermanfaat untuk referensi Anda sendiri di suatu saat nanti. Kalau dipublikasikan dalam blog atau buku, wah, jutaan manusia akan menarik manfaat pula. Tidak terbayangkah oleh Anda betapa besarnya manfaat menulis?
     Bagaimana dengan pengalaman Anda?
 
 

Wallahu a'lam.

Wednesday, November 25, 2009

Wednesday, November 25, 2009

Menulis, berpikir dan berzikir


Secanggih-canggihnya otak menyerap, menyimpan, mengolah, dan mengembang-biakkan informasi melahirkan ide-ide, otak tidak lebih dari sekedar bagian tubuh yang tidak berdaya . Otak sama saja dengan bagian tubuh lain seperti mata dan telinga, tangan dan kaki yang sama-sama tidak berdaya walaupun yang satu terlihat lebih canggih dari yang lain karena perbedaan fungsinya.
Otak itu sama sekali tidak dapat berpikir. Walaupun terdiri dari triliunan sel dengan segala kerumitannya, otak tidak dapat mengolah informasi, palagi menghasilkan ide-ide. Sebenarnya, yang menjadi sutradara bagi proses berpikir otak adalah akal yang dipancarkan oleh ruh yang berada di belakang seluruh fungsi faal tubuh. Kalau tidak percaya, perhatikan tatkala ruh itu dicabut dari jasad, seketika itu juga seluruh jasad berubah jadi bangkai. Kemana perginya kejeniusan, kepakaran, kehebatan yang dibangun bertahun-tahun lamanya?
Sekarang mari kita lihat lebih jauh ke dalam ruh. Tuhan menciptakan ruh tidak dalam satu dimensi. Salah satu dimensinya adalah bagian yang berkemampuan berpikir yang dinamakan akal itu. Tapi sebenarnya, kalau kita kaji lebih jauh, akalpun ternyata bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, yang dapat menjalankan fungsinya sendiri. Ada satu dimensi lain ruh yang dinamakan hati-nurani yang berada pada pusat ruh itu sendiri. Di hati-nurani, Tuhan meletakkan rasa bertuhan sebelum ruh dihembuskan ke dalam jasad. Di hati nurani, Tuhan letakkan kesadaran sebagai manusia. Hati nurani diberi kemampuan merasa, termasuk merasa takut dan cinta. Sebenarnya hati-nurani inilah raja diri manusia itu dan inti daya ruh itu secara keseluruhan. Akal bekerja atas perintah hati-nurani ini. Benarlah ketika Rasulullah mengatakan, "Di dalam dada manusia ada sebuah gumpalan. Bila dia baik, baiklah manusia itu. Bila ia jahat, jahatlah manusia itu. Dia adalah Qalb (hati nurani)"
Betapapun hati diciptakan dalam fitrahnya baiknya, bisa berubah menjadi jahat karena di dalam ruh ada dimensi lain berupa hasrat manusiawi yang disebut hawa nafsu yang berhembus terus menerus ke dalam relung hati manusia. Hawa nafsu ini dipandang begitu jahat karena dia tidak merasa cukup bila manusia hidup apa adanya. Dia hembuskan keinginan untuk menggapai sebanyak-banyaknya harta benda, setinggi-tingginya jabatan. Bahkan hawa nafsu memasuki relung hati untuk menggantikan rasa bertuhan dan rasa kehambaan yang telah dibawa hati sejak awal penciptaannya.
Kita kembali ke akal. Alam raya ini, mulai dari proses penciptaannya, pembentangannya, strukturnya, macam ragam tingkah polah penghuninya, sampai dengan proses penghancurannya kelak, sangat menarik bagi akal. Manusia memang penasaran untuk mengetahui lebih banyak rahasia-rahasianya. Manusia dengan akalnya itu akan mengeksplorasi segala yang ada dalam alam semaksimal mungkin atau mungkin bahkan tanpa batas.
Tuhan memang memerintahkan kita untuk mendayagunakan akal: berpikir, membaca, mengamati, menganalisa apapun di dunia ini untuk memenuhi rasa ingin tahunya itu. Namun, bila hati-nurani kotor, dipenuhi oleh hawa nafsu yang jahat, seluruh potensi akal hanyalah melahirkan kejahatan. Akal akan mengembara secara liar, menabrak apapun, karena akal itu buta. Hati yang bersih, yang dipenuhi rasa takut dengan azab Tuhan dan selalu berharap akan kasih sayang Tuhan, akan mengendalikan perjalanan akal di atas rel yang benar, yaitu rel Allah. Fitrah hati memang takut dan cinta pada Tuhan. Hati yang kotor menyeret manusia ke jalan yang kotor juga. Otak, mata, telinga, tangan, dan kaki serentak bergerak kemana hati menghendaki.
Anda bisa bayangkan apa yang akan terjadi bila hawa nafsu berhasil menawan hati-nurani dan bersarang di dalamnya? Rasa bertuhan dipadamkannya dan diganti oleh rasa keduniaan dan kebendaan. Dengan serta merta negeri akhirat yang indah itupun sayup-sayup tak terlihat lagi. Wajah Tuhan yang Yang Maha Baik itu lenyap dari ingatan digantikan oleh wajah-wajah lain yang dikira lebih baik dan lebih memberi harapan: ayah, ibu, anak, istri, suami, saudara, mertua, majikan, atasan, bawahan, pelanggan, pemasok, investor, partner, kolega, presiden, dan sejumlah wajah-wajah duniawi lainnya.
Rasa kehambaan punah digantikan oleh rasa ego dan kepentingan diri, dengan semboyan, "Aku ingin hidup seribu tahun lagi." Setiap hari kita akan menepuk dada, sombong membanggakan diri, menghardik kesana kemari. Ada yang mencela sedikit saja, hati menjerit, sakitnya bukan kepalang. Ada yang puji sedikit saja, hati melambung-lambung, berbunga-bunga. Tidak ada rasanya yang lebih benar di dunia ini kecuali diri ini. Dunia ini "aku" yang punya. Orang lain cuma menompang, "ngontrak."
Disinilah urgensinya berpikir sambil berzikir. Berzikir adalah formula dari Tuhan untuk memelihara kebeningan hati. Berzikir akan menguatkan hati agar tidak mudah terpesong oleh serangan hawa nafsu. Berzikir menyebut nama Allah mencuatkan kembali suara nurani yang asli dan menyingkirkan hawa nafsu seperti terang fajar menggeser gelap malam.
Ketika Anda membaca apalagi menulis, akal akan terstimulasi untuk berpikir. Bila hati tidak tersambung dengan Allah, ide-ide yang akan disimpankan ke dalam sel-sel otak Anda adalah ide-ide liar. Akal yang tidak tersambung dengan hati yang takut Tuhan akan menyerap, menyimpan ide apapun, tidak peduli berguna atau tidak berguna, berbahaya atau tidak berbahaya bagi manusia. Inilah yang menyebabkan tidak sedikit para jenius dunia, penulis-penulis hebat yang tulisannya dibaca jutaan orang seperti Darwin, Karl Marx, Nitsche, menjadi sumber malapetaka kemanusian. Akal yang tersambung dengan hati yang selalu berzikir akan melahirkan ide-ide cemerlang, ide-ide untuk memanusiakan manusia. Lihatlah penulis-penulis hebat yang tulisannya cerah dan mencerakan seperti Al-Ghazali, Abdul Qadir Jailani, Facrurrozy, menjadi obat bagi penyakit kemanusiaan.
Mulailah menulis dengan menyebut nama Allah, "Bismillahirrahmanirrahim, dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang." Kemudian, bisikkan ke dalam hati munajat yang semisal dengan ini, "Wahai Tuhan, izinkan aku menuliskan pikiranku, demi mengikuti perintahMu dan tegaknya kebaikan-kebaikanMu. Aku hanya seorang hamba, sementara Engkau adalah Tuhanku. Bimbinglah aku. Curahkanlah ke hatiku ilmu. Jangan biarkan setan dan nafsu mengganguku sehingga tercabut rasa takut dan cintaku pada Mu." Tutuplah tulisan Anda seraya bersyukur dan minta ampunanNya.
Dengan cara itu, akan lahir di tulisan dengan ide-ide yang mencerahkan bukan meresahkan, tulisan-tulisan yang membawa kebaikan bukan kehancuran. Alangkah indahnya dunia ini, jika semua tulisan yang beredar di buku-buku, majalah, media-media elektronik, blog-blog, website adalah tulisan-tulisan yang lahir dari 'abid-abid, yang hatinya penuh dengan rasa bertuhan dan rasa kehambaan.
Bagaimana menurut Anda?
Wallahu a'lam.

Tuesday, November 24, 2009

Tuesday, November 24, 2009

Giat membaca dan lebih giat lagi menulis


Membaca membuat jumlah ide di dalam otak bertambah. Menulis membuat ide lebih banyak lagi pertambahannya. Kalau mau dibanding-bandingkan secara matematis, bisa jadi menulis menghasilkan ide dua tau tiga kali lebih banyak daripada membaca. Mengapa demikian?
 Ide yang sudah tersimpan di dalam sel otak itu bisa berkembang biak, beranak pinak, melalui stimulus berpikir. Kalau awalnya ada satu ide, kemudian Anda berpikir, ide itu berpotensi menghasilkan ide lain yang sama sekali baru. Bahkan kita sering terkejut dengan kemunculan ide-ide baru ini. Jumlahnya kadang-kadang di luar dugaan, berlimpah. Hal yang tidak terpikirkan sebelumnya, muncul di benak. "Ah ini dia", kata kita sambil tersenyum heran.
 Itulah hebatnya ciptaan Tuhan berupa otak dengan jumlah sel bertriliun-triliun. Kita sendiri heran dengan otak yang sepertinya kecil tapi seolah-olah tidak ada batas daya tampungnya."Nggak penuh-penuhnya."
 Ide akan bertambah dengan berpikir. Ide bisa beranak pinak dalam otak tanpa batas, bahkan dalam waktu yang sangat singkat, sesingkat kerdipan mata. Kelihatannya ide ini tidak perlu kawin dulu sebelum beranak, dan bahkkan tidak ikut KB. Menulis membuat proses berpikir ini lebih dinamis. Ketika kita menulis, otak akan terstimulus, sehingga ide-ide-ide baru akan bermunculan bertubi-tubi."Sampai pegal tuh tangan menulisnya."
 Membaca juga akan menambah ide di dalam otak. Apalagi dalam proses membaca kita memikirkan apa yang sedang dibaca. Hanya saja dari pengalaman, berpikir ketika membaca tidak seaktif berpikir ketika sedang menulis. Karena itu jumlah ide yang dihasilkan dalam membaca tidak sebanyak waktu menulis. Ini menjawab pertanyaan mengapa para jenius dunia menulis. Albert Einstein, Leonardo De Vinci, Isac Newton menulis. Ulama-ulama besar Islam seperti Al-Ghazali, Ibnu Sina, Ibnu Rusd meninggalkan karya tulis berjilid-jilid tebalnya. Bahkan mereka bukan saja meninggalkan buku-buku resmi yang dijadikan referensi di mana-mana, bahkan mereka meninggalkan catatan harian yang menjadi fenomena sampai ke hari ini.
 Membaca hukumnya wajib. Kita memerlukan tambahan ide dari luar. Tidak seluruh ide dapat dihasilkan oleh otak sendiri. Namun, kalau membaca terlalu banyak juga tidak bagus. Bukan tambah cerdas, tapi dapat membuat otak menjadi tumpul. Otak bisa menjadi stress. Hati menjadi terbebani, apalagi membaca tulisan atau buku yang hanya berisi ide, konsep, atau teori, bukan data-data atau fakta. Lebih-lebih lagi setelah membaca buku atau tulisan yang bertentangan dengan hati nurani.
 Bayangkan orang yang kebanyakan makan. Linglung. Begitulah gambaran orang yang terlalu banyak membaca. Lebih-lebih lagi, orang yang banyak membaca, tapi tidak pernah menulis. Persislah perumpamaanya dengan orang yang terus makan, tapi tidak pernah buang air besar. Mampat.
 Nampaknya perlu perimbangan yang memadai antara membaca dan menulis, agar proses berpikir menjadi optimum. Walaupun Anda selalu berpikir ketika sedang membaca, perlu juga Anda pertimbangkan untuk berpikir ketika menulis. Buktikan!
 Anda punya pendapat yang lain?
 Wallahu a'lam.
  
Tuesday, November 24, 2009

Menulis setiap hari


Menulis tiap hari. Itulah jawaban dari pertanyaan bagaimana cara membiasakan menulis. Penguasaan keterampilan berbahasa tulis, menuangkan ide ke dalam tulisan hanya bisa didapatkan melalui menulis sebanyak-banyaknya. Menyeimbangkan laju aliran pikiran dan kecepatan menulis juga melalui proses menulis sebanyak-banyaknya. Tidak ada teori lain dan cara lain, misalnya dengan memakan obat-obat tertentu. Caranya Cuma satu; ambil alat tulis dan menulislah sebanyak-banyaknya.
Untuk memastikan bisa menulis setiap hari, catatan harian (diary) bisa diandalkan. Hampir semua penulis-penulis hebat dan produktif, tidak terkecuali ilmuwan besar seperti Albert Einstein dan Leonardo Da Vinci, menulis catatan hariannya. Catatan harian adalah satu bentuk tulisan yang paling sederhana. Menulisnya ringan. Tidak memerlukan referensi. Tidak ada tekanan keharusan menulis dengan logis. Isinya sangat personal. Temanya boleh meloncat-loncat. Satu paragraf bicara tentang makanan, paragraf berikutnya tentang wisata, tempat berikutnya tentang kecoa yang menjengkelkan, dst.
Telah dibuktikan oleh banyak pakar kepenulisan, menulis catatan harian merupakan salah satu langkah pembiasaan menulis yang terbaik, tercepat dan teringkas. Anda bisa memulai kegiatan harian Anda di pagi hari dengan menulis catatan harian dan mengakhirinya di malam hari juga dengan menulis catatan harian. Kegiatan menulis lainnya seperti menulis buku, menulis makalah, menulis surat-surat bisnis dapat dilakukan diantara menulis kedua catatan harian itu.
Pagi hari setelah selesai shalat subuh dan wirid, Anda bisa menulis catatan harian berupa rencana kerja hari ini. Apa saja yang akan dikerjakan hari ini, tulislah. Kalau dulu Anda biasa menulis jadwal atau rencana harian dalam format poin-poin, sekarang harus diganti dengan menulis dalam kalimat yang lengkap, narasi yang lengkap. Anda dapat menceritakan siapa saja orang yang akan ditelpon atau ditemui hari ini dan akan membicarakan masalah apa. Anda juga bisa medeskripsikan tempat-tempat yang akan dikunjungi atau barang-barang yang akan dicari. Bahkan kalaupun Anda berencana untuk menulis sesuatu hari ini, Anda dapat menuliskan di catatan harian tentang apa dan kapan akan dimulai. Yang penting apapun rencana Anda, tulislah selengkap-lengkapnya dan sejelas-jelasnya. Walaupun catatan ini untuk konsumsi Anda sendiri dan bukan mau dipublikasikan, Anda tidak boleh menulisnya sekedar Anda saja yang mengerti. Bayangkan Anda menulis untuk diterbitkan di koran harian pagi ini.
Bahkan kalau ada satu isu aktual yang ingin Anda ulas, Anda bisa langsung menuliskannya sebagai bagian dari catatan harian itu sebagai pembukaan atau penutup. Apalagi kalau Anda mempunyai pandangan-pandangan tertentu, pikiran-pikiran tertentu yang muncul pagi itu, suatu kesempatan yang baik menuliskannya di dalam catatan itu. Catatan harian semacam ini akan sama dengan editorial atau tajuk rencana yang muncul di koran setiap hari.
Di malam hari, ketika Anda sudah mulai santai, selepas shalat 'Isya, wirid dan makan malam, setelah membantu anak-anak belajar, berbincang-bincang dengan keluarga, menonton TV atau membaca buku, sebelum berangkat ke tempat tidur, boleh juga menulis catatan harian malam. Catatan ini bisa mengulas atau mengomentari apa-apa saja yang menarik hati atau berkesan khusus bagi Anda di hari ini. Barangkali Anda bisa mengaitkannya dengan catatan harian pagi atau merupakan catatan yang berdiri sendiri. Intinya, tulislah apa saja. Merdekalah berekspresi.
Begitu sederhana dan mudahnya menulis catatan carian, ia tidak memerlukan tema, karena itu tidak diperlukan outline atau semacamnya. Catatan harian bertolak dari apa saja yang terpikir dan terasa pada hari itu. Bahkan Anda bisa menulisnya diselang-selingi dengan "ngobrol' dengan keluarga . Apapun yang ada di otak tuangkan. Apa saja yang anda rasakan tuliskan. Catatan harian bukanlah naskah ilmiah yang harus Anda pertanggungjawabkan kebenarannya.
Walaupun demikian , catatan-catatan itu dapat dianggap enteng menfaatnya. Dia dapat menjadi rujukan pada suatu saat. Bahkan membaca catatan harian di masa yang akan datang merupakan hiburan tersendiri. Saya kadang-kadang sering senyum sendiri membaca catatan harian saya yang saya buat ketika jadi mahasiswa dulu. Dan jangan lupa, catatan harian yang bermutu berpotensi diterbitkan jadi buku. Anda mungkin sudah tahu bahwa beberapa buku yang diterbitkan sekarang seperti "Cat Rambut Orang Yahudi", bahkan menjadi buku best seller, berasal dari catatan harian. Tahun 70-an kita pernah digemparkan oleh satu buku catatan harian Ahmad Wahib. Catatan harian Rosihan Anwar banyak yang diterbitkan juga.
Anda sudah atau belum punya catatan harian? Bagaimana pendapat Anda?

 

Wallahu a'lam

Monday, November 23, 2009

Monday, November 23, 2009

Mengapa menulis cepat?


Bayangkan ide-ide kita seperti butiran-butiran buah tasbih. Bayangkan pula otak penyimpan ide-ide itu bagaikan sebuah gudang raksasa yang terdiri dari ribuan lantai. Setiap lantai dibagi menjadi ribuan cluster. Setiap cluster dibagi lagi menjadi ribuan kamar. Di setiap kamar terdapat ribuan lemari. Di setiap lemari terdapat ribuan laci. Di setiap laci terdapat ribuan kotak. Terakhir di setiap kotak terdapat butiran-butiran ide yang bulat seperti buah tasbih yang jumlah juga ribuan. Bisakah Anda membayangkan kapasitas otak penyimpan ide itu?
 
Setiap Anda membaca, melihat atau mendengar, sejumlah ide-ide baru yang berasal dari luar akan masuk ke otak. Secara otomatik, ide-ide itu akan ditempatkan ke salah satu kotak bercampur dengan Anda yang sudah ada di sana. Setiap Anda berpikir, menimbang atau merasa sejumlah ide akan beranak menghasilkan sejumlah ide yang lain. Ide-ide yang sudah berada di otak mampu melakukan regenerasi secara cepat menghasilkan ide-ide baru. Demikianlah setiap saat ide-ide di dalam otak itu bertambah, baik tambahan dari luar maupun tambahan karena beranak.
 
Sebagai tambahan, semua ide, baik yang lama, yang baru masuk, ataupun yang baru dilahirkan saling terkait satu sama lain. Ide-ide itu tidak berdiri sendiri. Mereka bisa menarik sekaligus ditarik oleh ide lain. Jika satu ide distimulus, ide-ide yang terkait akan mengalami stimulus yang sama dan siap bereaksi.
 
Ketika muncul niat menulis, akal manusia akan menarik satu demi satu ide dari kotak-kotak secara acak dan membariskannya satu persatu dalam barisan yang rapi di depan pintu keluar. Ketika jari Anda sudah begerak di atas kertas atau di keyboard mengetik, ide yang tegak terdepan akan meloncat keluar dan berubah menjadi satu kata. Ide yang dibelakangnya segera menyusul dan berubah menjadi kata juga. Demikian seterusnya satu demi satu ide meloncat berubah menjadi kata yang bersusun-susun membentuk kalimat. Kalimat mengelompok membentuk paragraf. Sampai akhirnya selesailah satu wacana lengkap.
 
Ketika satu butir ide sudah meloncat, apa yang terjadi dengan barisan ide yang masih berada di otak? Ide yang paling dekat dengannya langsung bergerak mengambil tempat kosong yang telah ditinggalkannya tadi dan langsung siap untuk meloncat pada giliran berikutnya. Demikian seterusnya sampai ke belakang. Ini berarti bergeraknya satu ide akan memprovokasi seluruh ide yang telah di dalam barisan untuk begerak maju. Bukan itu saja, ide yang masih di dalam kotakpun akan terprovokasi mengambil tempat di dalam barisan untuk keluar. Ide-ide yang sudah hamil tua akan terprovokasi menggelontorkan anaknya. Analogi ini menjelaskan mengapa ketika seseorang menulis, pikiran di dalam otak menjadi aktif. Ide-ide yang sebelum menulis tidak muncul, sekarang bermunculan dan berebutan.
 
Gerakan ide tidak sama. Mereka membentuk pola gerakan yang beragam. Ada yang merayap seperti keong namun kadang-kadang dia mesti keluar lebih dulu untuk mendampingi ide yang sudah meloncat. Ada ide yang bergerak meloncat-loncat seperti kanguru, tubruk sana tubruk sini tanpa peduli siapa di depan siapa di belakang padahal belum tentu terkait langsung dengan apa yang sedang ingin kita tulis. Ada yang melesat secepat belalang mengambil setiap tempat yang kosong. Diperlukan atau tidak, dia tidak peduli. Ada juga yang melenggak-lenggok, bergerak sambil menebar pesona, ada yang berjalan ragu, sambil terus melihat ke kiri dan ke kanan.
 
Faktor inilah yang berpotensi menimbulkan kekacauan dan memacetkan pintu keluar. Saya ingin menulis tentang manusia, ide tentang manusia berjalan lambat, sementara ide tentang malaikat malah berkejaran berebutan. Bila gerakan itu tidak tertata dengan baik, akan terjadilah salip menyalip, tubruk menubruk. Semua berebut menuju pintu keluar, sementara peluang meloncat hanya satu demi satu. Di sinilah akal mesti berperan dan bertindak sebagai penjaga gawang.
 
Laju meloncatnya ide tergantung kecepatan Anda menulis. Bila kecepatan menulis sama atau lebih cepat dari laju bergeraknya ide-ide di dalam otak, maka tanpa kesulitan ide akan mengalir dengan lancar. Tapi bila Anda menulisnya pelan, apa lagi sebentar-sebentar berhenti, maka akan terjadi penumpukan dan kekacauan di pintu keluar. Bayangkan kemacetan arus manusia di pintu keluar sirkus, tatkala sedang terjadi kebakaran.
 
Fenomena inilah yang sering disebut 'ngadat', atau sering disebut kehabisan ide. Saya pernah bertanya kepada seorang sahabat tentang perkembangan proyek menulisnya. Dia ringan dia mengatakan, "kehabisan ide, 'ngadat'." Mana mungkin ide habis. Ide tidak habis, tetapi bertumpuk-tumpuk di pintu keluar. Pintu masih Anda buka karena Anda masih terpana di depan alat tulis, tapi satupun ide tidak ada yang meloncat. Berjam-jam Anda menunggu sambil menguap. Anda terpaksa harus membaringkan diri beberapa jam menghabiskan bercangkir-cangkir kopi sampai barisan itu tertib kembali atau beritirahat total beberapa hari sampai seluruh ide kembali ke kotaknya masing-masing untuk bisa dibariskan kembali kapan-kapan.
 
Menulis cepat bertujuan mengimbangi laju gerakan pikiran sehingga gerakan di otak berjalan tertib. Menulis lambat menyebabkan rangsangan di otak sedikit sehingga ide-ide yang pasif kurang terstimulus untuk bereaksi. Menulis dengan sering berhenti, gerakan ide menjadi tidak beraturan, saling tubruk yang akhirnya membuat kekacauan.
 
Penulis sering berhenti ketika sedang menulis dengan banyak sebab. Salah satunya adalah karena tergoda dengan kesalahan ejaan dan tanda baca pada kalimat sebelumnya. Dia merasa tergangu dengan itu sehingga memilih berhenti mengalirkan ide untuk memperbaiki ejaan tadi. Penghentian yang lain disebabkan karena ada perasaan bahwa ide yang keluar adalah ide yang bukan diharapkan, melenceng dari tujuan semula. Apapun alasannya, penghentian yang sering-sering dan mendadak itu mengakibatkan kacaunya gerakan aliran ide.
 
Untuk mencegah suasana seperti itu, jangan mengedit sambil menulis. Biarkan ide mengalir dengan leluasa, merdeka. Imbangi dengan menuliskannya secepatnya. Pengeditan dapat dilakukan nanti setelah semua ide yang akan ditulis keluar seluruhnya.
 
Ada satu tips menulis yang perlu juga untuk dicoba: menulis tanpa layar monitor. Layar monitor sengaja dimatikan atau ditutup kertas agar kita tidak berkesempatan melihat apa yang sedang kita tulis. Godaan mengedit sambil menulis terhindarkan.
 
Bagimana pendapat Anda?
 
 
Wallahu a'lam

Friday, November 20, 2009

Friday, November 20, 2009

Menulis hanya perlu pembiasaan


Setelah ditanamkan minda pertama bahwa menulis itu ibadah, minda kedua ialah bahwa menulis itu mudah. Sulitnya menulis hanya terjadi di minggu-minggu pertama kita memulai proses pembiasaan, seperti canggungnya penganten baru. Ini diakui oleh sebagian penulis-penulis berkaliber nasional dan internasional.
 Bambang Trim mengatakan bahwa menulis gampang-gampang susah. Artinya, gampangnya dua kali, susahnya sekali. Kesusahan itu akan hilang dengan sendirinya setelah proses pembiasaan berketerusan dengan berlatih setiap hari. Ersis Warmansyah Abbas mengumpamakan menulis dengan menyetir mobil.Waktu belajar, tubruk sana tubruk sini. Andrias Harefa mengumpamakan menulis seperti naik sepeda, awal-awalnya masih susah mencari titik keseimbangan. Edy Zaqeus mengumpamakan belajar menulis seperti jadi penganten.Grogi. Begitulah para penulis produktif itu menggambarkan bagaimana mudah atau susahnya menulis. Itu pengalaman ril mereka.
 Bagaimana dengan pengalaman anda? Mari berbagi.
 Ada teori yang mengatakan semua kita terlahir sebagai jenius. Mungkin benar mungkin tidak. Tetapi menulis tidak memerlukan kejeniusan itu. Kalaupun kita ditakdirkan jenius, kejeniusan itu mungkin diperlukan untuk yang lain, tapi bukan untuk menulis. Orang yang IQ nya pas-pasan seperti saya saja, bisa menulis he he he.
 Saya sudah ujicobakan teori ini kepada anak saya yang baru duduk di kelas 4 SD, menjelang naik ke kelas V. alhamdulillah berhasil. Begitu mudahnya menulis, anak itu sudah menulis satu artikel dalam beberapa jam saja. Kini sudah lahir puluhan artikel di tangannya.
 Anak kelas 4 SD sudah bisa menulis? Ya, karena keterampilan menulis itu adalah keterampilan sekolah dasar. Walaupun ia masih menulis cerita fiksi, alias khayalan, tidak apa, sebagai pemula. Sekarang dia sudah mulai menulis non fiksi juga, lengkap dengan referensi-referensinya, wow. Saya sekarang sedang melatih anak saya yang baru sekolah di taman kanak-kanak, Tadika Global Ikhwan, untuk menulis. Kalimat yang terdiri dari dua atau tiga kata sudah bisa dirangkainya, walaupun masih lambat tertatih-tatih. Jangan-jangan keterampilan menulis bukan lagi keterampilan tingkat SD tapi malah TK.
 Tentu saja Anda tidak boleh bandingkan tulisan anak saya itu dengan buku "Menjadi Manusia Pembelajar"nya Andrias Harefa atau novel "Laskar Pelangi" nya Andrea Hirata. Jelas, itu perbandingan yang tidak berimbnag. Saya hanya sekedar ingin menunjukkan bahwa menulis itu ternyata sangat mudah. Anak kecil saja bisa, yang tua pasti lebih bisa. Itu maksudnya.
 Menulis kan pada dasarnya hanya menyalin apa yang sedang anda pikirkan dan rasakan ke dalam simbol berupa huruf-huruf, membentuk kata yang bersusun menjadi kalimat untuk dipahami yang membaca. Sebaliknya, membaca adalah memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh si penulis menggunakan simbol yang sama. Dengan kombinasi menulis dan membaca maka terjadilah pertukaran pikiran dan perasaan dari orang ke orang. Waduh, memahami penjelasn ini saja, malah lebih sulit daripada menulis itu sendiri.
 Anda bisa membaca, bukan? Kalau bisa, berarti Anda telah mengetahui simbol-simbol berupa kata. Menulis adalah kebalikan membaca. Kalau begitu, alangkah mudahnya menulis itu karena kita hanya mengubah pikiran menjadi kata. Apa yang kita tulis adalah apa yang ada di dalam pikiran kita. Pikiran itu sendiri muncul setiap detik dalam kehidupan kita dalam jumlah yang berlimpah ruah dari detik ke detik, lebih cepat dari tarikan nafas.
 Anda setiap hari berbicara, bukan? Berbicara sama dengan menulis. Bedanya, simbol yang dipakai dalam berbicara adalah simbol lisan, berupa ucapan dan intonasi. Sementara dalam tulisan, kita menggunakan susunan kata dan tanda baca. Kalau Anda bisa bicara berjam-jam, begunjing, "ngrumpi", apalagi berceramah, mengajar, atau memberi kuliah, Anda pasti bisa menulis berjam-jam.
 Kalau sedang sendirian di mobil atau di kamar mandi, Anda sering berbicara sendiri. Apalagi sedang jengkel dengan orang lain, dengan istri, suami atau mertua, kita sering menggerutu sendiri, berjam-jam, bahkan berhari-hari. Sebenarnya Anda sedang menulis satu artikel, cuma di awang-awang. Ini semua pertanda Anda bisa menulis di kertas. Tinggal ambil alat tulis, beres.
 Kuncinya sederhana sekali rupanya. Ambillah alat tulis, kertas dan pena atau komputer. Tulislah dulu satu kalimat, satu saja, kemudian berhenti. Tulislah lagi satu kalimat kedua sebagai pengiringnya, berhenti lagi. Lanjutkan menulis kalimat yang ketiganya dan seterusnya. Anda akan merasakan bagaimana pikiran Anda mulai bangun dan terus mengalir. Anda akan merasakan aliran pikiran begitu deras, berbaris-baris seperti serdadu, melompat keluar satu persatu, berubah bentuk menjadi kalimat demi kalimat. Wow.
 Anda akan mengalami juga suatu waktu ketika alirannya hampir tak bisa dibendung lagi. Ketika itu aliran pikiran bahkan melebihi kecepatan tangan menulis. Bahkan sebagian penulis mengkau bisa lupa waktu, lupa istri, lupa suami. Ya, salah juga. Janganlah sampai sebegitunya. Semua penulis besar yang sudah menulis puluhan buku mengakui adanya keadaan ini, dan mereka punya istilah masing-masing yang lucu-lucu untuk menyebutkan keadaan ini. Ada yang menyebutnya dengan istilah "writing trances", "orgasmic writing", atau "writing on fly". Tidak ada yang ajaib. Tuhan telah buatkan untuk kita semua kemudahan itu. Bersyukurlah.
 Macet? Ya tidak apa-apa, tinggal berhenti sejenak. Nanti akan ada celahnya Anda untuk jalan kembali. Lha jalan di Jakarta saja tiap hari macet. "Itu saja kok repot?" kata Gus Dur. Tidak ada macet yang permanen. Menulis mari menulis. Menulis itu sangat mudah.
 Anda punya pandangan lain? Ayo, mari berbagi.
 Wallahu a'lam.
Friday, November 20, 2009

Ai, ternyata menulis itu memang sangat mudah. He he he.


Tulislah dulu satu kalimat, satu saja. Kalimat pendek boleh. Anda akan tahu bahwa menulis itu ternyata memang mudah . Tulislah lagi satu kalimat kedua sebagai pengiringnya. Anda akan rasakan bagaimana pikiran Anda mulai bangun dan menuntun Anda menulis kalimat yang ketiganya. Ikutilah tuntutan itu. Dengarkan suara hati. Ubahlah suara itu menjadi kalimat-kalimat berikutnya, sampai ia beriring-iringan seperti gerbong kereta api.
Setelah itu, Anda akan mulai merasakan aliran pikiran yang berbaris seperti serdadu Nazi, melompat keluar satu persatu karena takut dibunuh, berubah bentuk menjadi kalimat demi kalimat. Kini alirannya hampir tak bisa dibendung lagi. Otak menggelinjang. Botol pikiran itu kini telah seperti kehilangan sumbatnya. Mengalir dan mengalir.
Ai, ternyata, saya baru tahu menulis itu memang mudah, bahkan sangat mudah. Lihat, saya sudah selesaikan dua paragraf. Ajaib, bukan?
Saya ada cerita lama yang sedikit memalukan. Geli rasanya kalau diingat-ingat kembali. Suatu ketika dulu, tahun 80-an, saya bertemu satu buku yang ditulis oleh seorang penulis novel sohor Arswendo Atmowiloto yang berjudul, "Mengarang itu Gampang." Anda pernah baca buku itu? Terus terang, saya marah dan tersinggung.
Saya jawab, "Ah, siapa bilang mengarang itu gampang?" Kalaulah mengarang atau menulis itu gampang, tidaklah saya harus bersusah payah mencari tempat fotokopi yang murah sepanjang Gang Pelesiran di Bandung untuk mengopi "text book" asing, berbahasa asing, ditulis oleh orang asing, yang dipakai dalam kuliah, yang harga buku aslinya membuat kepala pening. Kalau menulis itu mudah, dosen-dosen itu pasti telah menuliskan kuliahnya dalam diktat-diktat yang pasti harganya terjangkau. Mengapa pula harus pakai buku tulisan orang lain? Bukankah di kampus sehebat ini, banyak pakar, bertaraf internasional, jebolan sekolah-sekolah antar bangsa? Tapi, buktinya tidak. Buku-buku agamapun pada waktu itu hampir seluruhnya karya terjemahan. Waktu itu kami banyak membaca buku2 tulisan ulama Mesir, Pakistan, dan Iran.
Saya punya bukti lain bahwa mengarang atau menulis tidak gampang. Tahukah Anda bahwa pernah juga dulu saya paksakan menulis dan mengirimkannya ke salah satu bulletin di kampus. Bulletin yang sama sekali tidak terkenal. Eh, tulisan itu ditolak mentah-mentah. Sang redaktur mengirimkan naskahnya kembali ke alamat saya, penuh dengan coretan dengan menyelipkan sebuah note, "Tulisan ini bagus, tapi maaf tidak bisa kami muat."
Apa salahnya, coba. Topiknya seingat saya tentang jin. Menarik bukan? Membicarakan jin waktu itu lebih menarik daripada membicarakan manusia. Tapi, mengapa tidak bisa dimuat?
Saya menuduh Arswendo Atmowiloto telah membuat lelucon besar. Dia meremehkan pekerjaan menulis seolah-olah setiap orang bisa melakukannya. "Gampang, gampang, tulislah!" Buktinya? Bukan saya saja, saya melihat ribuan intelektual, sarjana, dosen, mahasiswa, insinyur, dokter, ustaz, kiyai, manajer, bergelimpangan tidak bisa menulis. Inikah yang disebut "gampang" itu?
"Oh, mereka mungkin tidak punya bahan." Tak punya bahankah seorang professor?
"Oh, mungkin tak punya waktu." Selama 40, 50, bahkan 60 tahun? Tak bisa kah menyisihkan waktu untuk beberapa hari untuk sebuah buku atau beberapa jam untuk sebuah artikel?
Waktu itu, saya yakin hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menulis. Yang lain hanya berhak untuk membaca. Logikanya nampak seperti itu, harus lebih banyak pembaca dari penulis. Lha, kalau semua orang menulis, siapa lagi yang membacanya?. Orang yang sudah biasa menulis, kebetulan diberi rezki kemampuan menulis, seperti Arswendo tentu akan mengatakan menulis itu gampang. Pak Habibi juga akan mengatakan bahwa membuat pesawat terbang itu gampang. Kalau begitu apakah semua orang bisa membuat pesawat terbang seperti Pak Habibi?
Begitu sulitnya menuangkan pikiran ke dalam tulisan itu, sampai-sampai saya pikir saya ditakdirkan hanya untuk membaca bukan untuk menulis. Menulis saya anggap keterampilan luar biasa yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu yang IQ nya jauh di atas saya. Orang yang IQ nya sekelas saya, terimalah nasib untuk menjadi pembaca saja seumur hidup, jangan bermimpi jadi penulis. "Menulis tak kalah sulitnya dari merancang pesawat ruang angkasa, biar pakarnya saja" pikir saya.
Akhirnya untunglah saya bertemu juga dengan orang-orang pilihan, penulis-penulis yang senang berbagi ilmu. Mereka menempeleng "mental block" yang sangat memalukan itu. Mereka membantu mencabik-cabik "frame" berpikir saya, dan membantu melepaskan kaca mata kuda yang saya pasang sendiri untuk mengekang potensi yang sudah Tuhan anugerahkan pada saya. Saya anggap mereka orang-orang yang baik hati. Tuhanlah yang mengirim mereka pada saya. Alhamdulillah.
Menulis itu ternyata mudah. Bahkan sangat mudah. Sekarang saya ingin minta maaf kepada Arswendo karena sudah berprasangka buruk. "Mas, mengarang itu ternyata memang gampang, bahkan sangat gampang" Hua ha ha ha. Begitu gampangnya, sehingga tidak diperlukan kursus mengarang. Hua ha ha ha.
Kalaupun masih terasa sulit dalam menulis, itu hanya akibat kegamangan seperti gamangnya penganten baru menaiki ranjang pengaten di minggu-minggu pertama. Para penulis senior mengatakan bahwa sulitnya menulis seperti sulitnya belajar menyetir mobil pertama kali, tubruk sana tubruk sini. Keringat bercucuran, tapi menyenangkan. Kalau sudah sehati, menyetir mobil itu bisa sambil ngobrol, makan kacang atau chatting di HP.
Aduh maaf, jadi terlalu panjang nnarasinya.
Bagaimanapun juga, kursus atau workshop untuk membangkitkan motivasi dan memantapkan teknik-teknik khusus dalam kepenulisan, seperti teknik narasi, argumentasi, eksposisi, sastrawi, dll, sah-sah saja diikuti. Biayanya toh tidak seberapa dibanding dengan manfaatnya.
Anda berani menerima tantangan? Let's go...
Wallahu a'lam.