Breaking

Friday, December 18, 2009

Friday, December 18, 2009

Giat membaca dan lebih giat lagi menulis.


Membaca tanpa mengaitkannya dengan menulis akan sangat menjenuhkan. Bacaan yang terlalu banyak menyebabkan otak menjadi stagnasi dan malas berpikir. Menulis membuat semangat membaca tetap dipertahankan. Bahkan dengan menulis, gairah membaca menjadi bertambah-tambah. Itu disebabkan terjadinya regerasi ide yang dahsyat selama menulis sehingga otak memerlukan nput yang lebih banyak.
 Membaca membuat jumlah ide di dalam otak bertambah. Menulis membuat ide lebih banyak lagi pertambahannya. Kalau mau dibanding-bandingkan secara matematis, bisa jadi menulis menghasilkan re generasi ide dua tau tiga kali lebih banyak daripada membaca. Mengapa demikian?
 Ide yang sudah tersimpan di dalam sel otak itu bisa berkembang biak, beranak pinak, melalui stimulus berpikir. Kalau awalnya ada satu ide, kemudian Anda berpikir, ide itu berpotensi menghasilkan ide lain yang sama sekali baru. Bahkan kita sering terkejut dengan kemunculan ide-ide baru ini. Jumlahnya kadang-kadang di luar dugaan, berlimpah. Hal yang tidak terpikirkan sebelumnya, muncul di benak. "Ah ini dia", kata kita sambil tersenyum heran.
 Itulah hebatnya ciptaan Tuhan berupa otak dengan jumlah sel bertriliun-triliun. Kita sendiri heran dengan otak yang sepertinya kecil tapi seolah-olah tidak ada batas daya tampungnya."Nggak penuh-penuhnya."
 Ide akan bertambah dengan berpikir. Ide bisa beranak pinak dalam otak tanpa batas, bahkan dalam waktu yang sangat singkat, sesingkat kerdipan mata. Kelihatannya ide ini tidak perlu kawin dulu sebelum beranak, dan bahkkan tidak ikut KB. Menulis membuat proses berpikir ini lebih dinamis. Ketika kita menulis, otak akan terstimulus, sehingga ide-ide-ide baru akan bermunculan bertubi-tubi."Sampai pegal tuh tangan menulisnya."
 Membaca juga akan menambah ide di dalam otak. Apalagi dalam proses membaca kita memikirkan apa yang sedang dibaca. Hanya saja dari pengalaman, berpikir ketika membaca tidak seaktif berpikir ketika sedang menulis. Karena itu jumlah ide yang dihasilkan dalam membaca tidak sebanyak waktu menulis. Ini menjawab pertanyaan mengapa para jenius dunia menulis. Albert Einstein, Leonardo De Vinci, Isac Newton menulis. Ulama-ulama besar Islam seperti Al-Ghazali, Ibnu Sina, Ibnu Rusd meninggalkan karya tulis berjilid-jilid tebalnya. Bahkan mereka bukan saja meninggalkan buku-buku resmi yang dijadikan referensi di mana-mana, bahkan mereka meninggalkan catatan harian yang menjadi fenomena sampai ke hari ini.
 Membaca hukumnya wajib. Kita memerlukan tambahan ide dari luar. Tidak seluruh ide dapat dihasilkan oleh otak sendiri. Namun, kalau membaca terlalu banyak juga tidak bagus. Bukan tambah cerdas, tapi dapat membuat otak menjadi tumpul. Otak bisa menjadi stress. Hati menjadi terbebani, apalagi membaca tulisan atau buku yang hanya berisi ide, konsep, atau teori, bukan data-data atau fakta. Lebih-lebih lagi setelah membaca buku atau tulisan yang bertentangan dengan hati nurani.
 Bayangkan orang yang kebanyakan makan. Linglung. Begitulah gambaran orang yang terlalu banyak membaca. Lebih-lebih lagi, orang yang banyak membaca, tapi tidak pernah menulis. Persislah perumpamaanya dengan orang yang terus makan, tapi tidak pernah buang air besar. Mampat.
 Nampaknya perlu perimbangan yang memadai antara membaca dan menulis, agar proses berpikir menjadi optimum. Walaupun Anda selalu berpikir ketika sedang membaca, perlu juga Anda pertimbangkan untuk berpikir ketika menulis.Buktikan!
 Anda punya pendapat yang lin?
 Wallahu a'lam.

 

Friday, December 18, 2009

Dari catatan kuliah ke tulisan


Catatan kuliah mahasiswapun dapat disulap menjadi buku. Anda yang tidak mahasiswa lagi, tetap saja berkesempatan berbagai kuliah-kuliah lepas dalam berbagai bidang. Setiap kuliah dapat dituliskan ulang menjadi satu artikel.
 Dulu waktu saya mahasiswa terkesan bahwa satu-satunya proyek penulisan buku karya mahasiswa itu ialah skripsi, berupa hasil riset kecil-kecilan ala mahasiswa. Semua mahasiswa harus belajar metodologi penyusunannya, kandungannya, sistematikanya, dan lain-lain. Dari pengalaman, risetnya sendiri tidak susah, hanya memerlukan waktu sekitar tiga bulan, seluruh data sudah lengkap. Tapi, menuliskannya itu, benar-benar minta ampun. Enam bulan tidak selesai-selesai, sampai akhirnya datang tenaga ajaib yang bernama the power of "kepepet". Eh, jadi juga skripsi itu.
 Pengalaman itu menyisakan kesan yang mendalam, bahwa menulis itu memang berat. Padahal, menulis itu mudah. Saya terkejut ketika Bambang Trim mengutip pernyataan YB Mangunwijaya, bahwa menulis yang paling mudah adalah menulis skripsi, dan yang paling susah menulis buku anak. Masalahnya, sejak masuk ke kampus, sistem yang ada tidak menuntut pembiasaan menulis. Menulis tidak dibiasakan. Yang diperlukan hanya kebiasan membaca kemudian menjawab soal-soal test, yang sebagian besar pakai multiple choice.
 Bagi mahasiswa yang sekarang masih mengikuti kuliah-kuliah, ini waktunya mencoba program pembiasaan menulis yang menyatu dengan kuliah sehingga tidak terbirit-birit ketika harus menulis skripsi. Yang Anda perlukan dalam program inilah hanyalah catatan kuliah. Ya, catatn-catatan kuliah yang Anda buat tiap hari ketika mendengarkan celotehan dosen di ruang kelas. Anda mencatat, bukan?
 Ambil catatan-catatan kuliah Anda itu. Saya yakin, dalam catatan-catatan itu Anda tidak mencatat kalimat demi kalimat. Anda tidak akan jauh berbeda dengan mahasiswa umumnya yang mencatat kuliah dalam format poin-poin. Itulah cara tradisional yang banyak dipkaia.
 Kini tulis kembali catatan itu dalam format tulisan. Biar tidak terasa berat, Anda hanya menuliskan apa yang ada di catatan itu dalam bentuk kalimat-kalimat lengkap. Jangan hanya poin-poin. Anggap saja ada seorang kekasih anda (kebetulan kawan sekelas) tidak masuk kuliah karena sakit. Anda dimintanya menjelaskan isi kuliah itu kepadanya karena beberapa hari lagi akan ujian. Tapi sayang sekali Anda sekarang sedang sariawan berat, tidak bisa berbicara. Maka terpikirlah oleh anda untuk menjelaskan isi kuliah itu secara tertulis. Bayangkan itu. Duduklah menulis. Salin semuanya. Tidak perlu menambahkan data-data lain kecuali yang memang tercatat di situ. Anda hanya perlu menuliskannya. Kalau itu bisa Anda lakukan, catatan-catatan kuliah akan menjelma menjadi buku.
 Walaupun sebagian kita sudah tidak mahasiswa lagi, kita masih sering mengikuti kuliah-kuliah atau ceramah-ceramah, bukan? Anda yang mengikuti kelompok pengajian tertentu, setiap minggu atau hari-hari khusus, setidak-tidaknya Anda dan keluarga menghadiri ceramah-ceramah. Kalau anda mau mencatat ceramah itu, dan setiba di rumah mengubah catatan itu menjadi tulisan, jadilah satu artikel lengkap. Yang laki-laki, setiap Jum'at wajib mendengarkan khutbah. Dari pada tidur sambil duduk di masjid, mecatat khutbah tentu tidak dilarang. Sepulang ke rumah, Anda menuliskannya, jadi juga satu artikel. Bila beberapa artikel dikumpulkan jadi satu, itu merupakan cikal bakal yang sangat jelas untuk menjadi satu buku.
 Tujuan utamanya adalah membiasakan menulis sehingga membangkitkan ide-ide brilian Anda melalui proses menulis. Selain itu tulisan itu akan bermanfaat bagi kawan atau keluarga yang tidak sempat menghadiri ceramah, khotbah itu. Bahkan, tulisan itu bisa menjadi rujukan anda di suatu waktu nanti.
 Bagaiman pendapat Anda?
 Wallahu a'lam
 
 

Friday, December 18, 2009

Dari catatan workshop ke tulisan


Catatan selama workshop sungguh berlimpah ruah. Workshop biasanya berisi berbagai kulia, presentasi, atau ceramah dari para ahli, diskusi dengan peserta, dan ditambah dengan berbagai pameran yang diadakan oleh bidang promosi. Sebelum semua memori lenyap, tuliskanlah catatan ex workshop menjadi tulisan.
 Beberapa tahun yang lalu, saya berkesempatan mengikuti satu workshop hebat yang diadakan di sebuah hotel mewah di Bali, tentang lingkungan hidup. Acara yang sangat menarik: topiknya, pembicaranya, dan sudah barang tentu tempatnya. Di dalam workshop mahal itu dihadirkan dua keynote speaker petinggi pemerintahan di bidang lingkungan hidup. Dalam tiga hari berturut-turut ditampilkan pembicara yang bukan sembarang orang yang terdiri dari pakar-pakar lingkungan hidup, industri, perguruan tinggi dan LSM. Peserta yang hadirpun adalah professional dari berbagai bidang (termasuk saya kali ya? He he he). Saya, sebagai peserta biasa, duduk tertib di bangku empuk di ruang megah berhawa dingin mendengarkan pemakalah yang silih berganti.
 Sebagai peserta, selama workshop berlangsung, saya memanfaatkan dengan baik notepad, stabilo, dan pulpen mahal yang disediakan panitia untuk mencatat. Kami memang dibekali satu tas elegant lengkap dengan alat-alat tulis di dalamnya. Satu demi satu ide yang dilontarkan para pembicara sepanjang siangnya terliput di dalam catatan saya dalam bentuk poin-poin ringkas. Saya buat juga sedikit coretan dan sketsa di sana sini. Saya beri warna beberapa kata. Saya tidak mungkin mencatat kalimat demi kalimat setiap pembicaraan seperti layaknya wartawan bertulisan steno.
 Di malam harinya, dalam kesendirian saya di kamar hotel, selepas makan dan shalat, saya isi waktu dengan membuka-buka kembali catatan itu, sambil menonton acara TV yang tidak menarik, menunggu mata mengantuk. Betapa menariknya workshop itu. Dari catatan yang hanya berisi poin-poin itu saja, pikiran saya bisa mereview ulang seluruh pembicaran para pakar dengan rinci. Bukan itu saja, ide-ide cemerlang yang dilontarkan peserta lain di saat tanya-jawab di kelas atau diskusi lepas sambil berdiri di saat coffee-break, memperkaya khasanah saya mengenai lingkungan hidup.
 Ide-ide sayapun tanpa saya duga bermunculan deras, membersit-bersit, mengait-kait dengan ide para pembicara dan ide-ide peserta. Semua menyatu padu. Saya tidak bisa menahan diri untuk tidak membuat berbagai catatan tambahan dari ide-ide yang bermunculan itu. Demikianlah sepanjang empat malam, selama workshop, saya menemukan pencerahan intelektual, penyegaran pengetahuan, dan penemuan berbagai gagasan baru berkaitan dengan penyelesaian masalah lingkungan hidup yang waktu itu menjadi isu besar di mana-mana.
 Waktupun berlalu.
 Dua tahun kemudian, tanpa sengaja saya menemukan catatan workshop itu kembali di lemari file ketika saya mencari satu file yang lain. Catatan itu masih utuh dan rapi, tersimpan dalam sebuah map yang juga masih rapi. Saya ambil sedikit waktu untuk duduk membaca ulang seluruh lembaran catatan-catatan itu. Apa yang saya dapat?
 Saya sungguh terkejut. Saya tidak bisa menggambarkan kembali kaitan-kaitan ide yang tertulis dalam catatan itu secara utuh. Jangankan muncul ide baru, sebagian besar ide yang tertangkap selama workshop itu telah hilang dari memori saya. Catatan yang sekarang ada di tangan saya terlihat hanya seperti sobekan kertas yang tidak berharga, penuh coretan-coretan yang tidak berarti. Poin-poin yang tertulis tidak lagi terasa saling kait-mengait. Kata-kata yang saya selipkan, ada yang miring, tegak, dsb tidak nampak relevansi satu sama lain. Bahkan saya tidak bisa mengerti apa yang saya maksud dengan beberapa garis atau diagram yang banyak saya tambahkan dalam catatan itu. Hanya satu ide yang muncul pada waktu itu, "kertas-kertas ini layaknya dibuang saja daripada jadi sampah dalam lemari"
 Sekarang, setelah saya membiasakan menulis, terbayanglah oleh saya seandainya di malam-malam workshop di hotel mewah itu saya membuka laptop dan menulis. Saya tuliskan semua catatan itu dalam kalimat-kalimat yang lengkap, paragraf yang tersusun. Saya tuliskan seluruh ide yang dilontarkan kawan-kawan. Saya tambahkan lagi kalimat yang merupakan ekspresi dari ide-ide saya yang bermunculan yang tidak kalah briliannya dengan ide orang lain. Maka, setiap malam saya akan menghasilkan setidak-tidaknya tiga artikel yang komprehensif. Selama empat malam, berarti saya akan menulis 12 artikel. Sesampainya di rumah saya tulis lagi dua artikel lagi, satu pembukaan dan satu lagi penutup, sehingga total 14 artikel. Esoknya, saya kirimkan ke sebuah penerbit, maka lahirlah satu buku spektakuler, karya saya yang terdiri dari 14 bab yang masing-masingnya satu artikel, yang siap di baca oleh ribuan mungkin jutaan orang.
 Dasar bodoh.
 Itu tidak saya lakukan. Saya pulang dari workshop dengan melenggang-lenggang kangkung bagaikan seorang turis selepas beristirahat di sebuah resort wisata yang terkenal ke seluruh dunia. Saya pulang hanya menenteng souvenir yang sekarangpun sudah tidak tahu dimana berada. Saya pulang bukan sebagai seorang professional yang baru saja mencerahkan pemikirannya di sebuah ajang pertemuan ilmiah yang begengsi. Kini, apalah nilai seluruh catatan yang saya buat dengan antusias pada waktu itu, dengan pulpen mahal lengkap dengan tas elegantnya? Catatan itu kini tinggal coretan-coretan di atas kertas buram yang layak dibuang ke tong sampah. Jangankan bisa dipahami orang lain, saya saja tidak paham lagi isinya.
 Apakah Anda ingin workshop, seminar, kursus, penataran yang Anda ikuti, bernilai tinggi? Buatlah catatan-catatan ketika acara itu berlangsung. Setelah itu, tuliskanlah seluruh catatan itu dalam format tulisan yang lengkap di malam harinya, di saat ide-ide itu masih segar dalam ingatan. Tulisan itu tidak hanya akan bermanfaat untuk proses pembiasaan menulis, tetapi juga akan bermanfaat untuk referensi Anda sendiri di suatu saat nanti. Kalau dipublikasikan dalam blog atau buku, wah, jutaan manusia akan menarik manfaat pula. Tidak terbayangkah oleh Anda betapa besarnya manfaat menulis?
 Bagaimana dengan pengalaman Anda?
 
 

Wallahu a'lam.
Friday, December 18, 2009

Dari berbagai catatan ke tulisan


Membuat catatan sudah lazim dalam kehidupan akademis dan professional sebagai pengingat. Catatan dibuat biasanya dalam bentuk poin-poin. Secara tradisional, poin-poin tersebut disusun secara linier. Adapula inovasi baru, catatan dibuat dalam satu diagram yang dinamakan mindmapping. Adapula yang menggabungkan kedua bentuk catatan. Apapun bentuknya, catatan bukanlah pengingat yang dapat menyimpan informasi dalam waktu yang lama. Pengalaman menunjukkan, catatan hanya mampu mengingatkan beberapa bulan saja. Memindahkan catatan ke tulisan bertujuan untuk menyelamatkan isi catatan dari lupa serta membiasakan menulis secara instan dan cepat. Ubah format catatan menjadi tulisan, menulislah.
 Karena begitu banyak dan beragamnya bahan yang harus dimasukkan ke otak, mustahil kita bisa mengingat dengan baik. Setidak-tidaknya kita memerlukan sesuatu untuk mengingatnya untuk sementara waktu sampai ide-ide itu dipindahkan ke sarana penyimpan yang bisa lebih permanen, seperti tulisan. Sudah diketahui secara umum, bahwa cara terbaik untuk mengingat adalah dengan membuat catatan. Biar tidak lupa, ide-ide itu dicatat sementara di telapak tangan, atau di bungkus rokok, atau di kaca toilet. Dan, masih banyak cara lain lagi.
 Saya membiasakan diri, seperti juga kebanyakan orang lain, membuat catatan. Ini sudah merupakan kebiasaan yang mentradisi. Dalam perjalanan, saya mencatat menggunakan ponsel. Kebetulan, pada ponsel saya tersedia aplikasi "notes" atau "mobile word" yang dapat digunakan untuk mencatat. Selain itu, saya biasa menyelipkan pena di saku, yang siap membuat catatan-catatan kapan diperlukan. Di mobil selalu tersedia pena dan kertas. Di meja kantor saya tersedia kertas-kertas lepas yang dipotong-potong kecil. Untuk catatan yang lebih rapi, saya memang menyiapkan satu buku yang disiapkan untuk catatan, yaitu catatan serbaguna. Saya mencatat hasil-hasil meeting, hasil diskusi, daftar "to-do" dan lain-lain. Saya juga menyiapkan catatan khusus untuk mencatat hasil bacaan. Rasanya kurang puas membaca tanpa mencatat, termasuk ketika membaca Al quran. Saya tidak mau kalau ide yang saya peroleh dari bacaan yang sudah tersimpan di otak hilang begitu saja. Bagaimana dengan Anda?
 Karena memang begitulah sifat dari sebuah catatan, kita hanya tidak pernah menuliskan ide dalam tulisan yang lengkap. Maksudnya, kita tidak pernah mencatat dalam bentuk kalimat dan paragraf yang sempurna. Di samping tidak praktis, itu juga tidak mungkin. Kalau Anda sedang mencatat ceramah, pasti Anda tidak akan terkejar untuk mencatat seluruh kalimat yang diucapkan penceramah, bukan? Waktu membaca buku, Anda tidak akan menyalin kalimat demi kalimat.
 Banyak cara yang dikembangkan dalam membuat catatan. Cara yang konvensional adalah dengan mencatat setiap ide yang diwakili oleh satu kata atau frasa. Kata-kata ini disusun dalam kelompok-kelompok yang berjenjang (hirarki). Jarang pada catatan digunakan kalimat lengkap.
 Cara penyusunan kata berjenjang seperti ini disebut "linear" karena berurut secara tertib. Ini adalah cara konvensional dan lazim yang dianut oelh banyak orang. Bahkan kita telah memakainya sejak sekolah dasar dulu. Cara itu masih kita teruskan, walaupun sudah masuk ke dunia professional. Dengan cara ini kita mencatat hasil rapat, mencapat hasil diskusi, mencapat kegiatan proyek, mencatat pembicaraan dalam seminar, workshop, dll.
 Cara mencatat yang dikembangkan secara modern adalah adalah cara mencatat yang lebih kreatif. Cara ini diperkenalkan oleh pakar penggunaan otak dalam belajar, Tony Buzan. Dia memperkenalkan cara mencatat yang dinamakan "mindmapping ". Cara ini sangat praktis dan menyenangkan. Semua ide tetap diwakili kepada satu kata atau frasa kunci seperti biasanya catatan sistem konvensional. Yang berbeda adalah, kata-kata tidak disusun secara tertib dan berjejer ke bawah, melainkan disusun secara radial dan menggaunakan garis-garis pengait. Setiap ide mengait dengan ide lain secara radial. Ada satu ide yang berada di tengah. Ide itu diapandang sebagai ide sentral. Selalu kaitan ide terkait memusat menuju ide sentral ini. Menurut penelitiannya, seperti itulah kerja otak dalam mengingat ide-ide. Anda boleh mencoba mencatat cara ini ketika mempelajari sesuatu secara intensif, baik melalui literatur, artikel majalah/web, pengamatan, atau interview.
 Apapun cara ini, tentu punya kelemahan dan kelebihan dari orang ke seorang. Catatan tetap bersifat pengingat yang bersifat sementara. Catatan hanya berisi poin-poin ide. Catatan hanya bisa dipahami oleh yang menulisnya, yang sama sekali tiak komunikatif untuk orang lain. Dalam bentang waktu tertentu, catatan tidak mempunyai kemampuan mengingatkan lagi. Semua data yang tadinya tersimpan rapi di otak, dapat anda panggil kembali dengan mudah hanya dengan membaca sekilas semua catatan itu. Namun, setelah sekian lama, itu tidak terjadi lagi lagi. Anda akan sampai pada satu ketika melihat catatan sebagai sampah yang tidak berguna. Anda akan rasakan bagaimana lebih b=mudahnya mengingat dengan cara ini.
 Apapun catatan Anda, karena berisi kata-kata kunci saja berupa poin-poin, tidak ada yang memahami secara persis maksud catatan itu, kecuali Anda yang menuliskannya. Walaupun ditambahkan garis-garis pengait, tetap saja dia berupa simbol-simbol yang hanya dipahami oleh sipembuat catatan. Kini, jangan biarkan catatan-catatan tersebut hanya bisa dibaca sendiri dan menguap setelah sekian lama. Ubahlah poin-poinnya menjadi tulisan bernarasi lengkap agar mudah dibaca orang lain.
 Mengubah catatan menjadi tulisan pada dasarnya hanya mengubah format. Kalau dalam catatan, semua ide hanya diwakili satu kata atau frasa. Ide-ide hanya dikaitkan oleh pengelompokan (secara convensional) atau oleh garis-garis radial (secara modern). Dalam tulisan, ide-ide ditulis dalam rangkaian kalimat lengkap, paragraf lengkap. Kaitan antar ide hanya dihubungkan oleh keterkaitan antar kalimat. Sekarang fungsinya tidak lagi sebagai pengingat, tapi juga sebagai sumber data itu sendiri.
 Go! Go!
 Bagaiman pendapat Anda?
 Wallahu a'lam
  
Friday, December 18, 2009

Strategi tiga kata.


Keadaan yang paling menyiksa ketika akan mulai menulis adalah memilih satu ide untuk dimunculkan utuk ditulis. Kalau dikatakan tidak ada ide, tidak mungkin, karena terasa ide-ide bersiliweran dalam lintasan pikiran. Ide itu seperti banyak, tapi tidak satupun yang dapat ditangkap untuk dijadikan bahan tulisan. Ada satu strategi yang diterapkan oleh penulis-penulis professional, yaitu strategi tiga kata.
 Anda mau belajar cara menulis? Mudah. Ambil saja tiga kata secara acak, tulis di komputer Anda. Cara ini memang harus pakai komputer, karena tulisan itu harus bisa di"insert", di 'delete", dll. Anda tidak perlu mencari apa hubungan kata-kata itu. Pilih saja. Apapun tiga kata yang tersirat cepat di pikiran, tuliskan langsung. Anda harus bekerja cepat. Jangan banyak pikir. Hanya tiga kata. Kata benda semua, kata sifat semua, atau campuran, tidak masalah. Pokoknya tiga kata.
 Baiklah. Misalkan Anda sudah menemukan tiga kata, yaitu: rumah, monyet, kembung. Saya sendiri juga tidak pernah memikirkan ketika saya memilih ketiga kata itu sebagai misal. Nah, sekarang tuliskan secara berurut, semuanya pakai huruf besar agar nantinya mudah ditandai mana tiga kata itu. Pisahkan ketiga kata tersebut dengan tanda "titik".
 RUMAH. MONYET. KEMBUNG.
 Sekarang tataplah ketiga kata itu sedikit agak lama. Biarkan pikiran Anda membayangkan wujudnya. Dengan ajaib, Anda akan melihat beberapa ide berdatangan yang akan berkerumun di sekitar masing-masing kata. Anda sendiri tidak dapat mengelak dari ide-ide tamu yang tidak diundang itu. Ambillah beberapa di antaranya tuliskan, baik di depan maupun di belakang kata awal yang tiga. Itulah sebabnya Anda harus pakai komputer agar bisa menyelipkan kata-kata baru, "insert".
 Waktu saya menatap ketiga kata itu, saya menangkap beberapa kata, dan saya tuliskan. Coba lihat hasilnya.
 RUMAH nenek jauh dari kota. MONYET meloncat-loncat di hutan. Minum air terlalu banyak, bisa KEMBUNG.
 Tatap sekali lagi dengan sangat cepat. Biarkan ide-ide mengalir. Setiap ide itu muncul, tuliskan. Dalam contoh saya, saya akan menambahkan seperti berikut.
 RUMAH nenek jauh dari kota. Perjalanan ke sana memakan waktu berjam-jam. Kalau berjalan malam, begitu mengerikan karena perjalanan ke sana melewati hutan-hutan belantara. Berjalan siang, sangat menyenangkan. Saya bisa berhenti sejenak, melepaskan lelah sambil melihat MONYET meloncat-loncat di hutan. Waktu berhenti, saya bisa duduk-duduk sambil makan dan minum. Tapi hati-hati. Minum air terlalu banyak, bisa menyebabkan KEMBUNG.
 Ha ha ha. Sudah mulai nampak kaitannya, kan? Bahkan sudah berbentuk sebuah paragraf yang cantik. "Lanjutkan. Lanjutkan," seperti kata Pak SBY tempo hari. Anda kini dapat menambahkan lagi kalimat atau bahkan memecah paragraf.
 Saya selalu rindu dengan kampung. Rindu dengan nenek. Rindu dengan hutan. RUMAH nenek jauh dari kota. Perjalanan ke sana memakan waktu berjam-jam. Betapapun jauhnya, saya selalu merindukan perjalanan pulang ke kampung karena saya akan berjumpa nenek dan berjumpa hutan.
 Saya senang berjalan siang. Kalau berjalan malam, begitu mengerikan karena perjalanan ke sana melewati hutan-hutan belantara. Berjalan siang, sangat menyenangkan. Kita bisa berhenti sejenak, melepaskan lelah sambil melihat MONYET meloncat-loncat di hutan. Waktu berhenti itu, kita bisa duduk-duduk di rumput sambil makan dan minum. Tapi hati-hati. Minum air terlalu banyak, bisa menyebabkan KEMBUNG.
 Baiklah, silakan melanjutkan. Saya kan ke rumah nenek dulu. Permisi.
 
 

Wallauhu a'lam.
Friday, December 18, 2009

Dedew, si dodol yang ngekos di Jogja


Kemaren, selama perjalanan dari Medan ke Jakarta, saya ditemani Dedew. Anda sudah kenal dengan dia, kan? Maksud saya, Dewi Rieka Kustiantari, si anak kos dodol yang dulu pernah ngekos di Puri Cantika II, di belakang satu kampus keren, di Yogya. Bodi kerempeng. Selalu bawa pensil alis. Pandai bercerita. Semua ceritanya, ngawur-ngidul. Cerita-cerita itu benar-benar bikin saya sewot.
 "Ngebanyol banget nih, anak," bisik saya.
 Coba bayangkan, selama hampir setengah jam di ruang tunggu ditambah dua jam di pesawat, saya betul-betul terkesima menyimak cerita-cerita si cewek gokil ini. Di penerbangan kembali ke Jakarta ini, saya tidak bisa tidur sedikitpun, padahal waktu berangkat ke Medan tempo hari, saya tidur melulu. Dedew mampu mengembalikan khayalan saya ke dunia anak muda gaul, yang sebenarnya telah lama berlalu.
 Banyolan-banyolan Dedew memberi nostalgia tersendiri. Sebabnya, saya dulu, waktu masih mahasiswa di Bandung, memang sempat ngekos selama dua tahun sebelum pindah ke asrama mahasiswa. Hampir samalah kejailan-kejailan yang saya alami di tempat ngekos seperti Dedew. Yang beda mungkin nuansanya. Anekdot-anekdot saya, khas cowok. Saya jadi tahu dari Dedew bagaimana gaya kehidupan kos cewek-cewek ABG, centil.
 Bahasanya saja beda. Karena zamannya beda. Lho, saya kok nulis jadi ketularan pakai bahasa Dedew begini, ya? Jadi, gaul banget. Saya tidak menghitung dengan pasti. Kalau boleh saya terka, perbendaharaan kata baru, yang saya peroleh dari Dedew, mungkin lebih dari 500 kata. Sebagiannya, saya terka-terka saja maksudnya. Karena, kalaupun saya cari di kamus Besar Bahasa Indonesia, tidak akan ada. Waduh, rasanya zaman saya sudah terlalu terpisah dari zaman yang dilakoni si centil Dedew dan kawan-kawan dodolnya yang ngekos jauh dari ortu ini.
 Dedew mengaku pada saya sebagai seorang bocah petualang, gemar berkhayal, cinta menulis dan gila membaca. Bacaannya, bo, seabrek-abrek. Dia mengaku suka plin-plan, tapi mengaku juga bahwa banyak yang naksir. Sombong. Tapi penilaian saya, dia memang nampak ugal-ugalan namun baik hati. Dia toleran dengan kawan. Hemat dengan uang, sampai tahan mandi hanya sekali sehari demi kehematan. Dia anak muda yang idealis, yang tidak mau beli VCD bajakan. Kalaupun pernah sekali, katanya waktu itu ia begitu tak tahan, tapi kan segera kapok.
 Ini memang kejadian lucu. Dedew bilang bahwa dia paling pantang beli VCD bajakan. Tapi, waktu itu uang benar-benar lagi mepet. Ketika jalan lewat penjaja VCD bajakan di Yogya, dia mendengar stelan suara penyayi idolanya, Fadli, Group Padi, dari salah satu lapak. Terjadilah pertarungan di dalam hatinya, mau terus bertahan dengan idealisme atau menyerah untuk sekali ini. Dia bilang, "sekali ini aja deh, lain kali kan nggak." Sambil mengendap-endap, akhirnya dibelinya juga VCD itu. Alamak, setelah sampai di kos, baru dia tahu, di dalam VCD itu hanya satu saja video klip Padi. Sisanya campur-campur. Bahkan ada satu video klip, potongan film biru. "Waduh, aku tertipu," katanya. "Tapi, itu VCD, aku remuk-remuk dengan geram," lanjutnya tersipu-sipu.
 "Dedew… Dedew…, kecian deh" kata saya. Tidak terbayang oleh saya bagaimana perasaan orang tua masing-masing mereka, yang tinggal jauh. Seribu pertanyaan dan harapan menyatu dalam pikiran saya, "Ya Allah, semoga Tuhan lindungi anak-anak saya yang juga sedang ngekos. Jangan sampai kayak kawan-kawannya si Dedew ini."
 Cerita Dedew tentang bagaimana mereka menghadapi issu penampakan setan, telah membuat saya terpingkal-pingkal. Coba bayangkan cewek-cewek calon intelektual muda itu, yang katanya belajar kalkulus, statistik, agronomi, dan gemar mendaki gunung, ternyata penakut juga sama hantu. Itu lucu. Mereka tahan tidur bareng seperti sarden di satu kamar yang ventilasinya terbatas. Perang kentut pun terjadi. Tapi, demi keengganan menemui tamu yang tak diundang, yang tidak berwujud manusia, yang akan mengetok pintu pukul 2 dinihari, mereka sanggup menikmati tidur berhimpit-himpit sampai pagi.
 Di tengah banyolan Dedew yang mengundang tawa, tentu ada juga banyolan yang mengundang derai air mata. Ini unik. Tawa diselingi air mata. Atau airmata bermandikan tawa. Ciileh. Kisah bagaimana akhirnya mereka kapok berulang-tahun dengan gaya tarzanisme, justru membuat saya terharu. Coba bayangkan, di tengah malam, masih pakai daster, sambil menangis, mereka membobong kawan yang mereka kerjain ke rumah sakit karena pingsan. Cerita lain lagi, tentang dua kawannya, anak orang kaya, yang berebut beasiswa untuk anak yang tidak mampu, betul-betul megundang simpati. Dedew piawai meramu kisah-kisah lucu, konyol dan jenaka dalam nuansa yang kadang-kadang mencekam dan kadang mengharukan.
 Bule jangkung yang duduk di sebelah kanan saya di pesawat, sempat terheran-heran melihat tingkah polah saya yang kadang-kadang terguncang-guncang menahan tawa, tapi kadang-kadang mengusap air mata, dari celah-celah kaca mata.
 Tak terasa saya sudah sampai di Jakarta. Waktu pesawat sudah sempurna mendarat, seluruh penumpang dipersilakan keluar, saya bergegas berdiri mengambil ransel di kotak bagasi, dan dengan sigap menalikannya di punggung, bagaikan seorang anak muda, seumur Dedew.
 Bapak yang tadinya duduk di sebelah kiri saya, yang di sepanjang perjalanan tidur itu, tiba-tiba menyapa, "Pak, bukunya tidak dibawa?"
 "Oh ya, terimakasih Pak" jawab saya, sambil mengambil buku itu dan memasukkannya ke ransel. Saya baru ingat, waktu saya mau berdiri tadi, buku karya Dewi Rieka, alias Dedew, yang saya baca untuk menemani saya sepanjang perjalanan itu, saya letakkan di kursi.
 Anda boleh baca buku itu, baik untuk hiburan, nostalgia atau untuk mengenal lebih jauh kisah-kisah anak muda ngekos jauh dari orang tua. Buku itu berjudul "Anak Kos Dodol", karya Dewi Rieka Kustiantiri, alias Dedew, diterbitkan oleh TransMedia Pustaka, Jakarta. Buku itu cetakan ke-11, 2009, tebal 191 halaman, berisi 33 kisah-kisah jenaka dari mahasiswa gokil. Selamat untuk Dedew, eh Dewi Rieka.
 Bagaimana pendapat Anda?
 Wallahu a'lam
Friday, December 18, 2009

Sukses


Dalam berbagai tulisan tentang sukses dan kesusksesan, sering disenaraikan nama-nama yang diklaim sebagai contoh orang-orang sukses. Nama-nama itu antara lain: Bill Gates, Bill Clinton, Nelson Mandela, Albert Einstein, Obama, Martin Luther King, Roosevelt, Alfa Edison, Anthony Robbin, Andre Wongso, Walt Disney, Shakespere, Hemingway, Mark Twain, Napoleon Hill, dan masih banyak lagi. Tokoh-tokoh yang sering diberitakan sebagai "guru-guru kesuksesan" sering menyebutkan sebagian nama-nama itu sebagai orang sukses.
 Padahal nama-nama orang tersebut di atas, sampai akhir hayatnya (kalau dia sudah mati) atau sampai hari ini (kalau dia masih hidup), setahu saya belum tahu bagaimana cara bersuci.
 Saya jadi bertanya-tanya, apa arti sukses yang dimaksudkan itu?
 Kalau sukses itu diartikan terkenal, berprestasi, kita harus masukkan nama-nama seperti Hitler, Musolini, Aidit, Jengis Khan, dkk sebagai orang-orang sukses. Siapa yang berani menyangkal prestasi Hitler?
 Kalau sukses itu itu diartikan sebagai orang yang pernah berbuat baik bagi kemanusiaan, waduh lebih sulit lagi menentukannya. Setiap orang punya daftar nama-nama orang baik dan orang jahat padanya. Seorang kiai yang baik menurut santri-santrinya, bisa jadi orang jahat menurut istri dan anak-anaknya. Saya ada seorang kawan yang begitu baik dalam pandangan kami, kawan-kawannya, namun konon kabarnya dia sedang diajukan kepada pengadilan agama sebagai suami yang jahat.
 Kalau sukses itu diartikan pernah berbuat sesuatu yang luar biasa, saya harus masukkan Tukul yang telah mengaku berhasil mencium lebih dari 300 perempuan cantik dalam acara "empatmata"nya. Menurut saya, itu luar biasa. Mang Sramin (bukan nama sebenarnya) juga termasuk orang sukses, karena katanya ia pernah bertapa selama empat puluh hari empat puluh malam tanpa makan nasi, kecuali ketupat. Dan Andapun pasti akan memunculkan nama-nama yang jauh lebih banyak. Jangan-jangan semua orang di bumi ini akan termasuk orang sukses, karena setidak-tidaknya pernah berbuat sesutu yang luar biasa dalam hidupnya.
 Sukses harus ada patokannya yang jelas. Harus ada referensinya, yaitu tujuan kedatangan hadirnya kita sebagai manusia.
 Kita tercipta sebagai manusia bukanlah pilihan kita. Sang Maha Penciptalah yang tahu untuk apa kita dicipta sebagai manusia. Mengapa dulu kita tidak dicipta sebagai seekor kelinci, nyamuk, atau mungkin hanya sebagai debu?
 Kita dicipta untuk menjadi hamba kepadaNya. Yang berhasil menempatkan diri sebagai hamba kepada Yang Maha Pencipta, yaitu Allah SWT, itulah orang sukses. Tuhan akan menyayangi hamba-hambaNya ini. Tuhan akan memanggil mereka "wali-waliKu".
 Bagaimana pendapat Anda?
 Wallahu a'lam.
Friday, December 18, 2009

ASI


Kalau kita hanya melihat dari sisi lahiriah: gizi, protein, zat-zat aktif pelindung tubuh, dll, maka sama saja ASI yang dikeluarkan ibu kandung dan ibu susuan (asalkan bukan ibu sapi). Kalaupun berbeda, berbedanya mungkin disebabkan makanan yang dikonsumsi sang ibu.
 Namun secara ruhaniah, samakah? Ada yang beralasan dengan tidak menyusunya Rasulullah SAW kepada ibu kandungnya.
 Secara ruhaniah jelas tak sama. Tidak akan sama ASI ibu kandung dan ibu susuan sebagai penaut kasih sayang di hati sang bayi. Ruh bayi memerlukan tali penaut. Tali itu diawali di dalam rongga rahim (namanya diambil dari salah satu nama Tuhan yang berarti Kasih Sayang). Kemudian pertautan itu disempurnakan selama dua tahun dalam aliran susu sang ibu kandung.
 Rasulullah SAW tidak perlu menyusu kepada ibu kandungnya karena pertautan hati Rasulullah langsung kepada Allah, tanpa perantaraan ibu. Rasulullah hendak ajarkan pada kita bahwa Kasih Sayang Tuhan lebih hebat dari kasih seorang ibu pada anakanya.
 Bagaimana pendapat Anda?
 Wallau a'lam
Friday, December 18, 2009

Bukan si Ucup


Ada seorang pekerja bangunan yang sedang bekerja di lantai 13 sebuah gedung. Tiba-tiba seorang berteriak-teriak, "Ucup… Ucup… Anak perempuanmu Soleha mati karena kecelakaan… Ucup…!" Karena panik, orang itu langsung meloncat lewat jendela.
 Ketika hampir mendekati lantai 9, dia baru ingat bahwa dia tidak punya anak perempuan bernama Soleha. Setelah hampir mendekati lantai 5, dia baru sadar bahwa dia belum menikah, apalagi punya anak. Dan, ketika hampir menyentuh tanah, dia baru sadar kalau namanya bukanlah Ucup.
 Hua ha ha ha…..
 Cerita itu dikisahkan oleh kawan saya, Andrias Harefa dan Hendri Bun, dalam bukunya "Be Happy".
 Waktu pertama mendengarkan cerita itu dibacakan oleh anak saya di mobil, saya tertawa terpingkal-pingkal. Rasanya lucu sekali. Cerita itu memang dikemas sedemikian rupa agar pembaca tertawa. Judul bukunya saja tentang tertawa. Saya sendiri heran juga, apanya yang lucu. Kami sekeluarga yang ada di mobil ikut tertawa. Sebagian tertawa karena mendengarkan cerita itu, sebagian lagi mungkin tertawa karena melihat saya tertawa. Soalnya, tertawa saya bisa membuat orang tertawa.
 Tapi, sekarang mari kita berhenti sebentar. Coba kita renungkan cerita apa yang sebenarnya diceritakan kawan saya itu. Itu cerita yang sungguh tragis. Seorang buruh bangunan, yang tiba-tiba panik mendengarkan kisah kecelakaan. Dalam waktu sekejap, dia memutuskan untuk bunuh diri. Dalam proses bunuh diri itu dia baru tersadar bahwa keputusannya itu keliru karena informasi yang dia terima keliru. Tapi apa boleh buat. Nasi sudah jadi bubur. Tubuhnya yang mungkin kekar, maklumlah buruh, sekarang sudah remuk seperti tape. Tragis bukan?
 Perenungna kita akan mencoba menjawab rasa hati yang muncul, "Kok mudahnya orang panik ya?" Berita kecelakaan saja membuat orang panik. Apalagi berita-berita tentang bencana, kiamat, dll. Apakah sekarang hati manusia begitu lemah sehingga begitu mudah untuk panik, atau apakah sekarang terlalu banyak hal-hal yang mudah memanikkan.
 "Mengapa orang terlalu mudah mengambil keputusan untuk bunuh diri?" Sedikit-sedikit mau bunuh diri. Tidak naik jabatan, mau bunuh diri. Suami berselingkuh, mau bunuh diri. Istri minggat, mau bunuh diri. Boss garang, mau bunuh diri. Kawan tidak bayar hutang, mau bunuh diri. Jangan-jangan, nasi anguspun, mau bunuh diri.
 "Mengapa penyesalan selalu datang terlambat, ketika nasi sudah jadi bubur? Coba bayangkan, alangkah sialnya nasib orang yang meloncat tadi. Setelah hampir remuk badannya terhempas di tanah, baru dia sadar bahwa dia bukan Ucup dan masih bujangan. Waduh.
 Lebih dalam, kisah itu seharusnya memeras air mata, membuat kita mengusap-usap dada menahankna pedih di hati. Kita akan teringat dengan nasib bangsa kita yang punya pemuda-pemudi dengan kecerdasan emosional dan spiritualnya sangat rendah. Mereka bukan saja miskin harta, miskin ilmu, dan miskin pengalaman, bahkan miskin iman. Memilih jalan pintas bunuh diri, menunjukkan dia orang yang termiskin di dunia.
 Tapi saya yakin itu cerita fiktif. Kawan saya, Andrias Harefa, memang piawai bermain kata melalui pena. Itulah hebatnya pena. Cerita yang tragis, menyedihkan, dan bahkan mengerikan bisa diubah formatnya menjadi lelucon. Saya teringat dengan pepatah bahwa pena bisa lebih tajam dari pedang. Sekarang tergantung dari tangan yang mengayunkan pena itu. Ia bisa digunakan untuk mengupas mangga di siang yang gerah, atau menguliti orang hingga berdarah-darah.
 Bagiman pendapat anda?
 Wallau a'lam.
  

Monday, November 30, 2009

Monday, November 30, 2009

Ternyata, tidak ada yang sulit


Siang tadi ketika saya sedang minum air jeruk peras hangat kesukaan saya setelah makan siang, saya membaca email kawan yang masuk tiba-tiba. Saya sampai tersedak karena minuman itu terhirup ke hidung. Ceritanya begini.

 Pagi tadi kawan saya itu menumpang mobil bossnya, bule Amerika, menuju satu tempat. Tiba-tiba mobil itu menabrak mobil yang di depan yang berhenti mendadak. Karena si boss terlihat merengut, dengan terbata-bata si supir minta maaf kepada boss bulenya itu.

 "Sorry Sir, I already brake-brake, but brake not eat. The wheel no his flower again," katanya lugas.

 Anda yang sudah puluhan tahun belajar tata bahasa Inggris pasti bingung menterjemahkannya, bukan? Tapi ajaib, si Bule itu justru mengangguk-angguk tanda mengerti. Yang dimaksudkan si supir tadi kalau kita terjemahkan kata perkata adalah begini:

" Maaf Pak, saya sudah rem-rem, tapi remnya tidak makan. Bannya tidak ada kembangnya lagi."

 Karena ia melihat si boss itu bersiap mau turun, mau marah kepada pengemudi yang mobil yang ditabrak, si supir menegah,"Sir, don't follow mix, let me only. If not wrong, the driver children fruit manager money. He stupid don't play. Let know taste." 

Maksud si Supir, "Pak, jangan ikut campur, biar saya saja. Kalau tidak salah, sopir itu anak buah manajer keuangan. Dia memang goblok bukan main. Biar tahu rasa."

Cerita kawan saya itu menunjukkan memang ada dua macam bahasa: bahasa gramatika dan bahasa kosa kata. Bahasa gramatika tersusun rapi sesuai dengan tatabahasa yang baku sedangkan bahasa kosa kata hanya mengadalkan kata. Susunannya terserah-terserah saja. Selama ini saya mengira untuk berkomunikasi hanya bisa pakai bahsa jenis pertama. Ternyata, terbukti bahasa jenis kedua, bahasa kosakata, juga ampuh. Cerita kawan saya tentang supirnya tadi sebagai bukti.

 Cerita ini mengingatkan saya dengan seorang kawan lama -- tak perlu saya sebutkan namanya-- yang mengeluh kepada boss bulenya yang selalu memberinya tugas tidak henti-henti, 

Dia bilang," Boss, little litle to me, litle litel to me, salary not up up."

Boss itu ternyata juga paham. 

 "Mengapa kemarin tidak masuk kerja?" tanya bossnya.

 "I am not delicious body, like enter the wind.".

 Semudah itukah berbicara dengan orang asing? Ya. Bagi orang seperti saya yang sudah hampir putus asa tidak bisa berbahasa Inggis, mari kita pindah dari berbahasa tatabahasa ke bahasa kosakata. Seperti yang di lakukan orang-orang itu.

Orang-orang itu tidak pernah membebani dirinya dengan aturan tatabahasa yang tidak manusiawi. Mereka bebaskan dirinya. Terbukti. Mereka tidak kurang kesempatan kerja, bahkan bekerja dengan orang asing dengan upah yang tinggi.

 Bagaimana menurut Anda?

Wallahu a'lam