mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Thursday, August 28, 2008

UNTUKMU ABUYA*


Ketika aku melihat wajahmu, terbayang olehku luasnya pandanganmu. Ketika ku sentuh jemari dan retak tumit kakimu, terbayang oleh ku beratnya beban yang kau pikul dalam menelusuri jalan. Pelipismu dan dahimu menunjukkan wibawa. Dari senyummu tergambar kasih.
Salahkah aku jika aku membayangkan wajah Rasul seperti wajahmu? Kalaupun bukan wajah rasul, setidak-tidaknya wajahmu mirip wajah khalifahnya.
Aku tak dapat membayangkan wajah Rasulullah. Aku mengenalnya hanya melalui potongan-potongan sirah dan sunnah, melalui buku, lisan ayah ibu, dan lisan guru di sekolah. Rinduku tak kan tertahan untuk berjumpa dengannya. Buah cintamu yang dalam pada Rasul Allah itu, kini kau pantulkan untuk zaman ini. Bagaikan bulan memantulkan cahaya matahari ke bumi. Aku di bumi. Ketika ku lihat bulan, teringat aku akan matahari.
Aku tidak bisa mengeja ucapanmu, kata demi kata. Telingaku terlalu tuli oleh hiruk pikuk dunia. Tapi, setitik air mukamu bicara lebih hebat dari seribu artikulasi. Yang bagaikan peluru tajam merobek-robek jantungku. Senyum Ummi Nur, Kejujuran Ummu Jah, dan Keramahan Ummu 'Ain padaku, berpadu melahirkan cinta seorang ibu untuk anaknya yang telah lama hilang.
Engkau tidak membedakan anak keturunan dan murid asuhan. Engkau pandang mereka satu ikhwan. Oh ramainya majlismu, bagaikan telaga jernih dan teduh, yang didatangi para pengembara yang haus.
Aku datang ke Labuan dengan satu pertanyaan. Kini aku pulang dengan seribu jawaban. Aku datang ke Labuan dengan satu keraguan. Kini aku pulang dengan segudang keyakinan.
Kini aku mesti bangkit dari keterlenaan duniawi yang berurat di hati.
Tempatkan aku wahai Abuya di medan juang. Medan yang pernah, sedang, dan akan kau lalui. Tempatkan aku dalam barisan ikhwan yang dijanjikan. Yang sedang menebarkan kasih di medan peperangan di bawah satu pimpinan.
Tapi jangan kau tempatkan aku terlalu di depan. Aku masih lemah menerima cabaran. Tapi jangan pula engkau tempatkan aku terlalu di belakang. Aku takut tercecer barisan dan tersesat jalan.
Aku mesti ikut berjuang seperti engkaupun berjuang. Membawa manusia kepada Tuhan. Membawa manusia berkasih sayang.
Dekaplah daku dalam kejauhan. Senyumlah padaku bila-bila masa daku dalam kesepian. Aku mayat yang dimandikan, Engkau yang memandikannya. Aku kayu yang diukir, Engkau yang mengukirnya.
Ya Allah berilah Abuya dan Keluarga kekuatan lahir dan bathin, raga dan jiwa, dalam membimbing kami mencintai-Mu, mengikut Rasul-Mu dan mengasihi sesama


Jufran Helmi
( Aku tulis dalam pesawat terbang antara Labuan dan Kuala Lumpur 10 Jan 2003 malam)

*Abuya Syeikh Imam Ashari Muhammad At-Tamimi

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail