mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Monday, September 29, 2008

Siapa bilang menulis itu gampang?

Bagi saya, walaupun menulis tak sesulit merancang pesawat Soyuz-19, tapi ia juga tak semudah memasang rantai sepeda buatan Belanda tahun 1920. Akhir-akhir ini, saya sering membaca pernyataan "Menulis itu gampang" dari banyak pihak, padahal dulu, beberapa tahun yang lalu, hanya Arswendo, penulis yang namanya tak asing lagi dalam dunia tulis menulis, yang berani menyatakan itu dalam bukunya Mengarang Itu Gampang. Kini, entah karena sungguhan atau karena latah, berbagai penawaran kursus atau pelatihan menulis , menggunakan trik "menulis itu gampang" untuk memancing pelanggan . Mungkin maksud mereka adalah untuk memotivasi dan memberitahu bahwa mereka punya cara khusus untuk menjadikan menulis itu gampang. Andrias Harefa, salah seorang diantaranya, ikut-ikut mengatakan "Menulis hanyalah keterampilan tingkat sekolah dasar", yang intinya tidak jauh berbeda dari pernyataan Arswendo bahwa menulis itu gampang.

Bagi yang tidak hati-hati, bisa terkecoh dengan kalimat-kalimat semacam itu. Bahkan, sebagian mungkin malah bisa terlena sehingga mereka merasa tidak perlu belajar lagi. Seseorang mungkin akan mengartikan bahwa jika sekarang dia sudah menjadi sarjana, dia tak perlu lagi belajar menulis.

Coba cermati siapa yang membuat pernyataan itu. Andrias Harefa atau Arswendo atau penulis populer lainnya, bukan? Bagi mereka mungkin benar bahwa menulis itu gampang. Mereka telah lama menjadi penulis professional. Mereka sudah punya jam terbang yang lama dalam dunia tulis menulis. Coba sekarang tanya kepada mereka cara membuat pesawat terbang. Apakah mereka berani mengatakan bahwa membuat pesawat terbang itu gampang? Saya yakin mereka tak akan berani mengatakan demikian, karena mereka belum pernah belajar untuk itu.

Maksudnya, bagi mereka menulis itu gampang karena mereka telah sangat terbiasa untuk itu. Hal ini tentu tidak dapat diberlakukan pada semua orang. Untuk hal yang belum mereka biasakan, seperti membuat kapal terbang misalnya, bagi mereka pasti tetap sulit.

Sekarang coba tanya Habibie bagaimana cara membuat kapal terbang. Semua akan terkejut, termasuk Arswendo, ketika beliau menjawab, "Membuat pesawat terbang itu gampang." Sama dengan pernyataan Arswendo, pernyataan Habibie berlaku hanya untuk dirinya sendiri, yang sudah makan asam garam di sana.

Jam terbang dalam suatu bidang menentukan gampang atau tidaknya suatu pekerjaan. Bagi seseorang yang jam terbangnya sudah tinggi, maka tidak ada pekerjaan yang sulit. Semuanya gampang. Tapi bagi yang jam terbangnya sedikit, atau mungkin belum punya sama sekali, suatu pekerjaan akan terasa sulit. Itu wajar dan alamiah, tidak ada yang aneh.

Dulu sebelum saya bisa naik sepeda, berenang, menyetir mobil, mengetik dengan komputer seperti sekarang, semua pekerjaan itu bagi saya sulit. Tapi, karena didorong oleh motivasi bahwa saya harus bisa betapapun sulit, saya sekarang berani mengatakan bahwa bersepeda, berenang, menyetir mobil dan mengetik dengan komputer itu gampang sekali. Jam terbang saya sudah cukup meyakinkan itu gampang. Semakin sulit pekerjaan itu, semakin termotivasi saya mempelajarinya. Kalau dulu saya menggampangkannya, pastilah sampai sekarang saya belum akan menguasai semuanya itu.

Maksud saya, jangan sampai demi memicu seseorang untuk mempelajari sesuatu, kita menggampangkan suatu masalah. Alih-alih memicu semangat belajar, penggampangan malahan akan membuat seseorang menjadi malas belajar. " Ah, gampang kok".

Bagi saya menulis itu sulit. Buktinya, sampai hari ini masih berat rasanya untuk dapat menuliskan ide-ide dalam bentuk rangkaian kalimat. Kalau diucapkan atau bahkan dipidatokan tidak sesusah itu. Tapi, setiap mau dituliskan, ide itu lenyap begitu saja seolah-olah ide-ide itu tidak bersahabat sedikitpun dengan alat tulis saya. Baru saja saya memegang alat tulis, ide-ide yang tadinya banyak itu beterbangan tanpa ada sisa. Saya akhirnya hanya mampu membuat tulisan sepanjang beberapa kalimat atau paragraf yang pendek, setelah itu behenti.

Saya tidak sendirian. Saya mengenal orang-orang berpendidikan tinggi sampai ke tingkat doktor bahkan professor. Mereka tidak menulis setiap harinya, Satu-satunya karya mereka adalah berupa skripsi, tesis, atau disertasi yang mereka ajukan sewaktu memperoleh gelar akademis itu. Selepas itu, mereka tidak menulis lagi. Apakah orang-orang ini pantas dikatakan tak punya bahan untuk ditulis?

Padahal, banyak di antara mereka adalah tenaga-tenaga professional di berbagai bidang. Tenaga professional yang menerjunkan dirinya berpuluh-puluh tahun menangani sesuatu. Ada guru, dosen, insinyur, manajer, pebisnis, pendakwah, dll. Tak mungkin rasanya kalau dikatakan mereka tak punya cukup bahan untuk ditulis. Padahal untuk menulis fiksi, misalnya, yang diperlukan hanya sekedar imajinasi. Tak mungkin orang-orang ini tidak punya imajinasi. Saya yakin mereka memiliki ilmu dan pengalaman segudang untuk ditulis. Tapi, mengapa mereka belum bisa menuliskannya?

Kurang motivasi? Belum tentu. Beberapa di antara mereka sering mengatakan bahwa mereka ingin menulis. Mereka juga mengatakan iri dengan orang-orang yang pandai menulis.

Jawaban yang paling tepat untuk pertanyaan di atas hanya satu. Mereka belum pandai menulis. Mereka bukan tak ingin menulis. Mereka tidak bisa merangkai kalimat, mengubah apa yang ada dalam pikiran dan perasaan menjadi tulisan. Setiap mereka mencoba merangkainya, pikiran dan perasaan tadi menghilang dengan tiba-tiba. Tiba-tiba saja mereka tak punya kata -kata. Mereka diam seribu bahasa. Tapi, kalau disuruh menjelaskannya secara lisan, ide-ide itu bermunculan kembali.

Jadi, yang mereka belum kuasasi adalah menaklukkan jari untuk menulis, bukan menaklukkan lidah. Barangkali, jari mereka banyak tulangnya, sementara lidah sungguh tak bertulang.

Sebenarnya ketidakbisaan menulis itu tidak aneh. Seseorang pada dasarnya dilahirkan di bumi tanpa bisa apa-apa. Proses belajarlah yang membuat seseorang menjadi bisa kepada sesuatu. Jika orang-orang itu belum bisa menulis, karena memang mereka belum mempelajarinya. Kalau sebagian mereka sudah pernah mempelajarinya, mereka mungkin belum mebiasakan diri mengamalkannya. Sementara, menulis itu memerlukan pembiasaan. Jadi, wajar kalau mereka tidak bisa menulis.

Hanya saja ada orang-orang tertentu yang tetap berpegang dengan pernyataan bahwa menulis itu gampang. Menulis adalah keterampilan tingkat SD. "Saya sudah lama tamat SD". Mereka menggampangkan masalah. Akhirnya mereka merasa tak perlu belajar menulis lagi. Hari demi hari mereka hanya menunggu datangnya ide untuk ditulis. Merekapun tak menghasilkan apa-apa. Kalau waktu memperoleh gelar akademis, mereka berhasil menyelesaikan karya tulis mereka, mungkin karena waktu itu ada faktor pemaksa yang membuat mereka tak bisa lari.

Saya sendiri punya pandangan lain dalam hal ini. Karena adanya kesadaran bahwa menulis itu sulit, atau tidak gampang, maka saya masih memiliki motivasi untuk belajar menulis. Saya tidak peduli apakah menulis itu keterampilan tingkat SD atau tingkat universitas. Saya hanya tahu bahwa saya belum bisa menulis. Saya baru bisa bicara, dan kalau menulis, aduh minta ampun.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail