mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Monday, October 27, 2008

Tahapan Menulis Wacana


Sekarang sampailah kita pada pembahasan tentang tahapan menulis wacana secara ringkas dari awal sampai akhir yang terdiri dari: (1) menangguk ide, (2) memilih topik dan menetapkan tema, (3) menguraikan tema dan mengumpulkan bahan, (4) menyusun kerangka, (5) menulis draf, (6) memperkaya dan menghaluskan tulisan, (7) membuat judul, (8) menyunting akhir. Setiap tahapan tersebut berikut ini akan kita bahas satu persatu agar dapat dijadikan acuan.
Menangguk ide.
Menangguk ide adalah langkah pertama menulis wacana. Kita tidak akan pernah bisa menulis sebelum kita mempunyai ide yang akan ditulis. Kalaulah menulis itu diumpamakan seperti memasak ikan sampai ia siap untuk dihidangkan, maka diperlukan ikan yang mentah. Ide adalah ikan mentah itu. Lezatnya masakan ikan itu tidak hanya tergantung dari kepandaian si juru masak menaburkan bumbu-bumbu, tapi juga tergantung dari jenis ikan mentahnya.
Pembaca tertentu adakalanya menyerahkan sepenuhnya kepada juru masak untuk memilih ikan dan teknik memasaknya, sedangkan yang lain lebih menyukai ikan-ikan tertentu dan cara memasak tertentu.
Demikian juga dengan menulis. Adakalanya Andalah yang memilih ide yang akan di tulis dan Anda pula yang menentukan cara memasak dan memilih bumbu-bumbunya. Namun, pada kesempatan lain Anda sudah disodorkan idenya, dan yang tinggal bagi Anda hanya cara menulisnya. Yang manapun yang terjadi, ide yang akan ditulis dan sajian menulisnya harus menarik minat pembaca dan sudah barang tentu menarik minat Anda pula sebagai penulis.
Disinilah terletaknya seni mencari ide yang akan ditulis sebagai wacana itu. Penulis tidak hanya berpikir kesukaannya saja, tapi dia juga harus mempertimbangkan selera pembaca. Benar bahwa dia harus menulis apa yang dia suka, kalau tidak demikian, ia akan kehilangan motivasi menulis. Namun itu tidak cukup. Kalau dia tidak mempertimbangkan selera pembaca, tulisannya tentu akan sia-sia, dilemparkan sebelum diselesaikan.
Kehadiran ide untuk ditulis merupakan suatu misteri. Kadang-kadang ide itu datang tiba-tiba tanpa diundang. Kadang-kadang ide itu harus diburu. Bahkan, pemburuannyapun kadang-kadang tidak menghasilkan apa-apa. Tidak adanya ide inilah yang selalu dijadikan alasan bagi yang enggan untuk mulai menulis sehingga akhirnya terus menunda penulisan.
Orang-orang tertentu mempunyai banyak ide untuk ditulis sedangkan orang yang lain terasa buntu dengan ide. Bagi orang tertentu selalu didatangi ide-ide yang tidak diundang berlimpah ruah sampai-sampai ia bingung harus mendahulukan yang mana. Tapi orang yang lain sibuk memburu ide namun selalu terhalang untuk menangkapnya hingga ia kembali dengan tangan kosong.
Saya menawarkan dua metoda untuk menangkap ide yang saya peroleh dari pengalaman banyak penulis profesional. Walaupun adakalanya ide itu datang tanpa diundang, sebagai penulis, kita tidak boleh bergantung pada ide jenis ini. Kita tidak boleh hanya menunggu sampai datangnya ide yang belum tahu kapan datangnya . Kita harus berperilaku sebagai nelayan yang siap mengharungi lautan luas untuk menangkap ikan. Kita mesti menyiapkan perahu, jala, tangguk dan kail untuk menangkap berbagai macam ikan itu. Kita akan terus mencari tanpa henti. Jika dapat satu, kita boleh langsung mengolahnya menjadi masakan yang lezat, kemudian kita mencari lagi. Boleh juga kkita tabung dulu ikan itu untuk nantinya kita masak sekaligus.
Seperti itulah kita berburu ide dilautan masalah yang ada dalam kehidupan ini. Kita layari dunia maya menggunakan search engine seperi Google atau Yahoo. Kita teluri halaman emi halaman majalah dan Koran. Kita telusuri buku-buku di perpustakaan, dll. Dapay satu ide, langsung tulis. Bisa jug aide itu ditabung dulu agar nanti ditulis pada kesempatan lain.
Agar perburuan kita itu efektif dan efisien, sebelum mengarungi lautan topik yang maha luas, kita membatasi dulu wilayah yang yang akan kita tuju berdasarkan kriteria kesukaan kita dan kesukaan pembaca. Setiap saat kita dapat mempersempit wilayah pencarian itu sampai akhirnya kita menangkap ide, berupa sebuah tema yang pas untuk kita dan untuk pembaca.
Walaupun kita berburu, kita jangan lengah dengan ide yang mungkin saja datang tanpa diundang. Untuk menangkap ide yang datang tanpa diundang itu, kita harus selalu membiasakan diri membawa alat tulis kemanapun kita pergi. Bahkan kalau mau tidur, kita letakkan alat tulis kita di sebelah dipan, kalau-kalau dalam tidur kita dapat ilham untuk ditulis. Biasanya ide itu bisa saja datang di tempat atau saat kita sedang tidak siap sehingga tidak mungkin untuk mengolahnya saat itu juga seperti sedang tidur, mandi atau sedang bergegas untuk berangkat bekerja. Untuk saat itu, ide itu cukup dicatat saja dulu apa adanya walaupun ide itu baru satu kata.
Kita mesti segera mencatatnya sebelum ide itu meluap. Catat apa saja yang ada. Bertemu satu kata, tulis satu kata itu. Bertemu satu frasa, tulis frasa itu. Syukur-syukur ide itu dapat dituangkan dengan kata lebih banyak seperti satu paragraf atau mungkin dapat dituangkan dalam satu halaman kertas dalam bentuk sinopsisnya . Pokoknya, kita mencatat ide-ide itu segera sebelum semuanya hilang dalam sekejap.
Nanti dalam kesempatan yang pas, kita membongkar catatan-catan itu kembali dan mengolahnya lebih jauh untuk menjadi suatu wacana yang lengkap dengan suasana yang lebih tenang.
Yang terbaik dari kedua proses antara menunggu atau berburu adalah menjalankan keduanya karena salah satu diantaranya tidak dapat saling menggantikan.
Memilih Topik dan Menetapkan Tema
Ketika suatu ide itu berbetuk satu kata atau satu frasa, ide itu disebut topik. Apabila ide itu dapat dituliskan dalam bentuk satu kalimat, ia dinamakan tema. Perbedaan antara tema dan topik adalah seperti perbedaan sekelompok ikan yang masih di kolam dan seekor ikan yang sudah di tangan. Ketika kita menyebutkan sekelompok ikan di kolam, kita baru menetapkan batasan-batasan jenis ikan yang ada di dalamnya. Tapi, kalau ikan itu sudah di tangan, kita dapat melihat jenis ikan itu secara spesifik. Kita tahu warnanya, bentuknya, bahkan kita sudah dapat membayangkan bagaimana rasanya kalau ikan itu nanti digoreng atau direbus.
Ini berarti sebelum menulis, ide-ide yang tadinya berupa topik-topik harus dapat dirumuskan dalam bentuk tema, yaitu suatu bentuk yang sudah jelas. Format tema biasanya dalam berbentuk kalimat sedangkan topik masih berbentuk kata atau frasa.
Kalau Anda katakan bahwa Anda akan menulis tentang "kepemimpinan", Anda baru menemukan topik. Ansda bisa membatasi topik menjadi topik yang lebih spesifik dengan menambahkan kata lain seperti "kepemimpinan di era reformasi" atau "kepemimpinan di Indonesia di era reformasi". Selain itu, Anda dapat merumuskan topik itu dalam satu kalimat yang lengkap, maka Anda berarti sudah memiliki tema tulisan. Contoh tema Anda adalah "Masyarakat Indonesia bwerada dalam kebingungan untuk memilih seorang yang benar-benar pemimpin dalam arti yang sesungguhnya sejak banyaknya iklan penawaran diri sebagai pemimpin bertebaran di media massa". Kalimat itu adalah tema tulisan yang sudah padat, ringkas dan sangat spesifik. Subjeknya jelas yaitu masyarakat Indonesia. Predikat utamanya juga jelas yaitu berada dalam kebingungan. Predikat keterangannya juga jelas yaitu untuk memilih seorang yang benar-benar pemimpin dalam arti yang sesungguhnya dan sejak banyaknya iklan penawaran diri sebagai pemimpin bertebaran di media massa.
Jika saya sudah dapat mewujudkan ide saya dalam wujud kalimat seperti itu, saya sudah menyelesaikan tahapan kedua, yaitu penetapan tema tulisan.
Menguraikan Tema Sambil Mengumpulkan Bahan
Kalau ikan sudah di tangan, langkah selanjutnya adalah mengumpulkan bahan-bahan lain yang diperlukan untuk memasak ikan itu. Anda akan mungkin memerlukan bahan penanambah seperi sayur-sayur. Anda juga memerlukan bumbu-bumbu penyedap.
Begitu juga dengan menulis, Anda memerlukan data-data, gambar, ilustrasi, contoh, kutipan, konsep, dll. Semua bahan itu diperlukan untuk menuliskan wacana yang lengkap. Jika terasa bahwa bahan tidak cukup, Anda harus mempersempit tema menjadi sesuatu yang terjangkau oleh kemampuan kita mengumpulkan bahan-bahan. Jika bahan terasa lengkap, bolehlah kita mulai memerinci tema tadi menjadi sub-sub tema. Sub tema dirinci lagi menjadi sub-sub yang lebih kecil, sampai Anda mempunyai satu unit yang tidak dapat diperkecil lagi.
Unit terkecil inilah yang nantinya akan menjadi satu paragraf dalam wacana.
Agar pemecahan ini berjalan dengan kreatif, pemecahan dilakukan terus menerus tanpa diselingi dengan pengelompokan ide-ide maupun penyuntingan. Semua pikiran yang mendorong untuk mengoreksi atau mengelompokkan harus dilawan. Kita biarkan otak kita bekerja hanya untuk mengurai tema. Pada tahapa ini penguraian pikiran ini akan berjalan ke semua arah, tanpa peduli urutan dan pengelompokannya.
Metoda brainstorming dan cara berpikir radiant yang dikembangkan oleh Tony Buzan lengkap dengan sistem mind- mappingnya, sangat bagus untuk diaplikasikan dalam proses ini.
Pengelompokan dan penyuntingan pikiran-pikiran dilakukan setelah pemecahan tema untuk sementara dianggap selesai. Pengelompokan dilakukan ketika penulis merasakan bahwa semua pikiran tidak ada yang unik, baru, atau menarik lagi untuk dipecah-pecahkan. Walaupun demikian pemecahan masih dapat dilakukan kembali selama pengelompokan terjadi.
Ingat, satu unit pikiran adalah pikiran yang akan dituangkan dalam satu paragraf.
Menyusun Kerangka
Bentuk tulisan yang sudah siap ditulis adalah bentuk kerangka yang sering disebut outline. Kerangka (outline) adalah bentuk penyajian unit-unit pikiran dalam bentuk point-point dalam suatu barisan yang rapi sesuai dengan tujuan wacana. Walaupun dalam bentuk poin-poin, dalam kerangka, kita sudah melihat bagian pendahuluan, bagian pembahsan, dan bagian penutup. Kita juga dapat melihat berapa paragraf yang akan membangun wacana itu walaupun setiap paragraf muncul hanya sebagai sebuah poin pikiran.
Kerangka karangan bagi penulis sama dengan peta rute perjalanan bagi para penjelajah alam. Tanpa itu mereka akan tersesat. Kerangka karangan bagaikan blue print bagi tukang yang sedang membangun bangunan. Tanpanya, bangunan tidak akan berbentuk sesuai yang diharapkan.
Seorang pelukispun, sebelum ia melukiskan detail-detail lukisannya, akan membuat kerangka lukisan terlebih dahulu. Setelah kerangkanya memberi gambaran yang cukup jelas, barulah ia akan melukiskan detailnya. Kalau tidak demikian, lukisan yang dihasilkan tidak akan proporsional. Bagian yang harusnya dominan menjadi tidak dominan. Bagian yang harusnya kecil malah menjadi besar.
Kerangka karangan dalam dunia tulis menulis sangat penting, terutama untuk menulis sebuah karya dengan tema yang cukup luas dan bahan yang banyak.
Memang ada beberapa penulis mengatakan bahwa tidak perlu membuat kerangka karangan terlebih dulu. Mungkin yang dimaksudkan dia adalah agar kita tidak terganggu untuk mulai menulis. Penulis professionalpun menggunakan kerangka. Setidak-tidaknya, kerangka itu mereka simpan di dalam kepala, bukan di kertas.
Ada yang mengatakan, ketika seseorang sudah menyelesaikan kerangka karangan, dia sudah menyelesaikan separuh pekerjaan menulis wacananya. Sekarang dia tinggal merampung separuh lagi dengan menulis draf, memperkaya bahasan, menghaluskan, menyunting, dan memberi judul.
Menulis Draf
Sekarang sampailah pada tahapan terpenting, yaitu mengubah unit-unit pikiran yang terkecil dalam kerangka karangan menjadi paragraf-paragraf. Proses ini dimulai dengan memilih kata-kata dan diteruskan dengan menyusunnya menjadi kalimat-kalimat untuk mengungkapkan setiap satuan pikiran. Setiap satu satuan pikiran awalnya diungkapkan dengan satu kalimat saja. Tapi, bila satu kalimat tersebut terasa tidak cukup untuk mengungkapkan satu unit pikiran secara tuntas dan jelas, maka beberapa kalimat dapat ditambahkan lagi. Yang penting, setiap kalimat yang ditambahkan itu tidak membahas satuan pikiran yang lain, tetapi hanya memperjelas pikiran yang pertama tadi. Jika demikian, rangkaian kalimat itu akan membentuk satu rangkaian yang saling terkait yang disebut paragraf.
Sebenarnya, semakin sedikit jumlah kalimat, paragraf itu lebih baik dan lebih efektif. Bahkan penulis-penulis tertentu senang menggunakan pararaf dengan satu atau dua kalimat saja. Tapi tentu jangan dipaksakan begitu. Kalimat yang terlalu sedikit dalam satu paragraf terasa kaku untuk dibaca karena ada elemen informasi yang tidak selesai sehingga menimbulkan pertanyaan bagi pembaca. Paragraf semacam ini tidak tuntas.
Demikianlah seterusnya, setiap poin-poin yang ada dalam kerangka karangan berubah menjadi paragraf-paragraf. Jika semuanya ada sepuluh poin, maka akan ada sepuluh paragaraf. Jika anda menambahkan atau mengurangkan paragraf, berarti anda telah menambahkan atau mengurangkan poin dalam kerangka.
Selama menulis draf, kita jangan banyak diganggu oleh kegiatan menyunting. Proses penyuntingan selama penulisan draf akan mengganggu kreatifitas penulisan. Menulis terus menerus tanpa henti banyak digunakan oleh penulis professional agar mereka tidak mau kehilangan aliran pikiran. Pikiran yang muncul langsung ditulis tidak peduli apakah pikiran itu sebagai subjek atau predikat. Bahkan tidak peduli apakah pikiran itu kelanjutan atau sama sekali lain dari pikiran sebelumnya. Pada proses ini, mereka lebih berkonsentrasi pada aliran pikiran.
Cara seperti ini disebut fast writing, yaitu menulis cepat tanpa menghiraukan ejaan, tanda baca, dan tata bahasa dalam satu target waktu tertentu, misalnya 25 menit. Cara ini banyak ditempuh selain untuk mencegah kebuntuan pikiran tapi juga untuk meningkatkan kreatifitas menulis.
Memperkaya dan Menghaluskan Tulisan
Memperkaya bahasan artinya menambahkan lagi bahasa yang sudah dibuat dalam bentuk draf, baik berupa tambahan data, paragraf, gambar, ilustrasi, contoh, dll. Menghaluskan tulisan artinya menambal-nambal di tempat yang bolong atau memangkas di tempat yang terlalu menonjol.
Biasanya, setelah semua satuan pikiran telah berubah menjadi paragraf-paragraf, kalau dibaca belum tentu menjadi sebuah bacaan yang enak dibaca yang semua pikiran mengalir dengan lancar. Di banyak tempat terjadi ketidaktuntasan sementara di tempat lain terjadi pembahasan yang terlalu berlebihan. Di banyak tempat mungkin terjadi pengulangan-pengulangan yang tidak perlu, dll.
Sekarang, dalam tahap ini, giliran penulis untuk menghaluskan tulisannya. Pengahalusan itu bisa menambahkan kalimat-kalimat baru dalam paragraf yang sudah ada atau bahkan mungkin menghilangkan sebagiannya. Penghalusan juga berarti menambahkan atau mengurangi satu unit paragraf secara utuh. Tujuan penghalusan adalah mendapatkan tulisan yang tuntas, padu, dan indah.
Membuat Judul
Pemberian judul mutlak menjadi satu tahap sendiri. yang tidak dapat dianggap remeh. Sebenarnya, judul dapat diberikan pada waktu menyusun tema atau pada waktu menyusun kerangka. Namun yang paling baik, judul dilakukan setelah penghalusan tulisan. Artinya, judul diberikan ketika sudah mendekati selesainya penulisan.
Walaupun demikian pemberian judul tidaklah kaku. Kapan dibuatnya tidak menjadi persoalan yang penting. Semuanya mempunyai kelebihan dan kekurangan tersendiri.
Yang perlu diingat adalah bahwa judul merupakan wajah tulisan kita. Orang bisa tertarik membaca atau sama sekali berpaling sering disebabkan oleh judul. Kalau begitu, betapapun judul telah mencul di awal-awal penulisan, judul harus dikaji ulang sebelum tulisan dianggap selesai.
Pembuatan lebih dari satu judul kemudian memilih yang terbaik juga merupakan cara pemberian judul yang sangat direkomendasi. Bahkan melibatkan kawan, keluarga, atau sebagian calon target pembaca melalui survey banyak dilakukan oleh penulis professional.
Banyak bahan yang dapat dipakai menjadi judul. Bahan yang paling mudah adalah tema karangan itu sendiri yang ditambahi satu dua kata atau dikurangi satu dua kata sehingga menarik dan provokatif. Tetapi tidak mesti demikian. Judul bisa diambil dari sumber yang lain atau mungkin dibuat dari kata-kata tersendiri.
Apapun judulnya dan bagaimanpun cara pengambilannya, judul harus mencerminkan isi karangan disamping harus menarik. Banyak tulisan yang bagus dan bermutu isinya tapi dilewatkan banyak orang karena judulnya sama sekali tidak menarik.
Menyunting Akhir
Di tahapan ini, penguasaan tatabahasa, tanda baca, dan ejaan mulai digunakan hati-hati. Bahkan ada penulis yang memanfaatkan jasa editor di tahapan ini. Di tahap ini, semua kata dan kalimat diuji dan dikoreksi secara tatabahasa. Penempatan titik, koma, dan tanda baca lainnya dikoreksi secara tuntas. Penulisan huruf kapital, istilah-istilah tetentu pada tahap ini akan dipermasalahkan cara penulisannya.
Itulah sebabnya mengapa, sebagian besar pengarang menempatkan tahapan ini pada tahapan terakhir. Kalau tahapan ini disatukan dengan tahapan penulisan draf, biasanya terjadi gangguan kelancaran aliran pikiran. Alih-alih menuliskan pikiran, kita akan sibuk dengan kegiatan tulis-hapus secara berulang-ulang. Dengan cara ini karangan tak akan pernah selesai.
Demikianlah kedelapan tahapan menulis wacana yang diuraikan secara ringkas. Dalam kesempatan yang akan datang, saya akan menguraikan panjang lebar setiap tahapan itu, masing-masing dalam satu artikel tersendiri.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail