mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Thursday, November 5, 2009

Bila istri jadi wanita ruh


Mungkin ada suami yang khawatir, 'Apa jadinya istri saya setelah menjadi perempuan ruh?" Mungkin dalam hatinya terpikir apakah istrinya nanti akan kembali lengkap dengan wajah, rupa, sosok yang selama ini dikenalnya, atau akan kembali dengan sosok yang jauh berbeda. "Apakah ia akan kembali tanpa jasad atau jasad yang sudah berubah yang disesuaikan dengan rasa hatinya yang terkini? Itu soal jasad fisik. Selain itu, tentu ada juga yang berpikir apakah istrinya nanti tak akan lagi memiliki nafsu dan akal.

"Perempuan ruh" sesungguhnya hanyalah satu istilah untuk menunjukkan sosok perempuan yang rohnya telah dibersihkan dan disucikan. Ruhnya telah dikembalikan kepada fitrah semula jadi penciptaannya. Kini ruhnya menjadi ruh yang merdeka, bebas, dan bahkan bisa terbang kemana-mana. Bahkan ruh dari 'perempuan ruh" akan mampu menerbangkan jasadnya.

Waktu akan wafat, Rasululullah SAW pernah berpesan, "Annisa'…., annisa'!" Pesan itu bermakna, "Jagalah perempuan, jagalah perempuan!". Begitu pedulinya Rasulullah tentang perempuan, sampai-sampai di akhir hayat, beliau masih menyempatkan menyampaikan wasiat itu. Pastilah itu wasiat yang sangat penting yang tak boleh diabaikan begitu saja.

Rasulullah pernah mengingatkan kita bahwa sesungguhnya perempuan itu terbuat dari tulang rusuk laki-laki. Jika dibiarkan tanpa pimpinan, ia akan terus bengkok . Tapi jika diluruskan secara paksa dan keras, ia akan patah. Rasulullah juga mengingatkan bahwa dibandingkan dengan laki-laki, pengaruh hawa nafsu perempuan terhadap hatinya sembilan kali dibandingkan dengan laki-laki sementara pengaruh akalnya hanya sepersembilan dari lakik-laki. Artinya, hati perempuan lebih condong kepada pengaruh hawa nafsu dibandingkan dengan akal. Kenyataannya memang kita melihat perempuan lebih bersifat emosional dalam melihat sesuatu.

Tapi Mahahebat Tuhan. Tuhan ciptakan manusia berpasangan. Perempuan harus hidup dengan seorang laki-laki yang dengan laki-laki itu mereka akan saling berbagi kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kekurangan potensinya dari sisi rasional akan disempurnakan oleh akal suaminya. Kelebihannya dari sisi emosional akan menutupi kekurangan suaminya.

Kini istri sedang mengikuti proses pengembalian fitrah perempuan di baqwah bimbingan guru mursyid. Proses ini pastilah proses yang tidak mudah. Ada dua sebab. Pertama, kenyataan bahwa ruh bersifat ghaib. Hanya orang yang diberi jalan untuk itu saja yang bisa melakukan penempaan ruh. Kedua, pengaruh hawa nafsu yang telah berurat berakar sehingga telah menggeser cahaya fitrah dari tampuknya. Hal kedua inilah yang sering membuat kita kadang-kadang sering salah tebak dengan "curahan hati". Kita mengira itu berasal dari suara fitrah, padahal sebenarnya itu adalah letupan hawa nafsu yang telah bersarang di hati.

Kalau proses pengembalian ruh perempuan ini benar-benar berhasil, maka para suami akan melihat istri-istri akan kembali pulang dengan sosok yang sangat berbeda.

Istri akan menjadi lebih taat kepada suami. Mengapa? Fitrah perempuan diciptaakan sebagai makmum kepada suaminya. Banyak sebab luaran yang telah menggeser fitrah ini sehingga banyak istri hanya memandang laki-laki yang di rumahnya itu hanyalah seorang suami saja. Tidak sepenuhnya kesalahan perempuan. Sering-sering ini justru dipicu oleh sikap suami yang lebih pantas sebagai makmum.

Sesungguhnya lelaki itu adalah pemimpin perempuan. Di rumah, selain sebagai pemimpin ia merangkap sebagai suami. Peran sebagai pemimpin nampaknya telah lama tertutup. Yang nampak hanyalah peran sebagai suami. Karena itu kita lihat betapa mudahnya istri memasamkan muka kepada suaminya. Ia lupa bahwa ia memasamkan muka kepada pemimpin ynag dilantik Tuhan.

Istri akan menjadi sumber kasih sayang dalam rumah tangga. Alangkah indahnya kasih sayang itu. Alangkah hausnya kita dengan kasih sayang itu. Sayang sekali, kasih sayang sudah tidak ada di mana-mana sehingga repaotlah orang mencarinya kemana-mana. Padahal, sumber kasih sayang itu ada di rumah, yaitu pada ruh istri. Hawa kebendaan yang menyelimuti ruh istri telah menutupi pancaran kasih sayang itu sehingga rumah tangga menjadi gersang. Persatuan dalam rumah tak bisa diwujudkan karena tak ada tali yang mengikat, yaitu kasih sayang. Perempuan ruh akan menjadi resource kasih sayang yang tak habis-habisnya.

Istri akan menjadi sayap kiri perjuangan. Perempuan ruh akan menempatkan dirinya sebagai pemangkin semangat juang suaminya. Suami yang telah kehilangan harapannya akan kembali bersinar karena ia tak dilepas berjuang sendirian. Istri akan mendampinginya.

Istri akan menjadi fondasi penegakan syariat di dalam rumah tangga. Rasa takut dan cintakan Tuhan telah begitu menguasai dirinya. Halusnya jiwa perempuan lebih mudah untuk lebih cepat menerima rasa bertuhan. Hawa-hawa kebendaan akan sirna dari lubuk hatinya. Ini semua merupakan buah dari pendisiplinan shalat dan wirid.

Bagaimana menurut Anda?

Wallahu a'lam

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail