mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Monday, November 23, 2009

Mengapa menulis cepat?


Bayangkan ide-ide kita seperti butiran-butiran buah tasbih. Bayangkan pula otak penyimpan ide-ide itu bagaikan sebuah gudang raksasa yang terdiri dari ribuan lantai. Setiap lantai dibagi menjadi ribuan cluster. Setiap cluster dibagi lagi menjadi ribuan kamar. Di setiap kamar terdapat ribuan lemari. Di setiap lemari terdapat ribuan laci. Di setiap laci terdapat ribuan kotak. Terakhir di setiap kotak terdapat butiran-butiran ide yang bulat seperti buah tasbih yang jumlah juga ribuan. Bisakah Anda membayangkan kapasitas otak penyimpan ide itu?
 
Setiap Anda membaca, melihat atau mendengar, sejumlah ide-ide baru yang berasal dari luar akan masuk ke otak. Secara otomatik, ide-ide itu akan ditempatkan ke salah satu kotak bercampur dengan Anda yang sudah ada di sana. Setiap Anda berpikir, menimbang atau merasa sejumlah ide akan beranak menghasilkan sejumlah ide yang lain. Ide-ide yang sudah berada di otak mampu melakukan regenerasi secara cepat menghasilkan ide-ide baru. Demikianlah setiap saat ide-ide di dalam otak itu bertambah, baik tambahan dari luar maupun tambahan karena beranak.
 
Sebagai tambahan, semua ide, baik yang lama, yang baru masuk, ataupun yang baru dilahirkan saling terkait satu sama lain. Ide-ide itu tidak berdiri sendiri. Mereka bisa menarik sekaligus ditarik oleh ide lain. Jika satu ide distimulus, ide-ide yang terkait akan mengalami stimulus yang sama dan siap bereaksi.
 
Ketika muncul niat menulis, akal manusia akan menarik satu demi satu ide dari kotak-kotak secara acak dan membariskannya satu persatu dalam barisan yang rapi di depan pintu keluar. Ketika jari Anda sudah begerak di atas kertas atau di keyboard mengetik, ide yang tegak terdepan akan meloncat keluar dan berubah menjadi satu kata. Ide yang dibelakangnya segera menyusul dan berubah menjadi kata juga. Demikian seterusnya satu demi satu ide meloncat berubah menjadi kata yang bersusun-susun membentuk kalimat. Kalimat mengelompok membentuk paragraf. Sampai akhirnya selesailah satu wacana lengkap.
 
Ketika satu butir ide sudah meloncat, apa yang terjadi dengan barisan ide yang masih berada di otak? Ide yang paling dekat dengannya langsung bergerak mengambil tempat kosong yang telah ditinggalkannya tadi dan langsung siap untuk meloncat pada giliran berikutnya. Demikian seterusnya sampai ke belakang. Ini berarti bergeraknya satu ide akan memprovokasi seluruh ide yang telah di dalam barisan untuk begerak maju. Bukan itu saja, ide yang masih di dalam kotakpun akan terprovokasi mengambil tempat di dalam barisan untuk keluar. Ide-ide yang sudah hamil tua akan terprovokasi menggelontorkan anaknya. Analogi ini menjelaskan mengapa ketika seseorang menulis, pikiran di dalam otak menjadi aktif. Ide-ide yang sebelum menulis tidak muncul, sekarang bermunculan dan berebutan.
 
Gerakan ide tidak sama. Mereka membentuk pola gerakan yang beragam. Ada yang merayap seperti keong namun kadang-kadang dia mesti keluar lebih dulu untuk mendampingi ide yang sudah meloncat. Ada ide yang bergerak meloncat-loncat seperti kanguru, tubruk sana tubruk sini tanpa peduli siapa di depan siapa di belakang padahal belum tentu terkait langsung dengan apa yang sedang ingin kita tulis. Ada yang melesat secepat belalang mengambil setiap tempat yang kosong. Diperlukan atau tidak, dia tidak peduli. Ada juga yang melenggak-lenggok, bergerak sambil menebar pesona, ada yang berjalan ragu, sambil terus melihat ke kiri dan ke kanan.
 
Faktor inilah yang berpotensi menimbulkan kekacauan dan memacetkan pintu keluar. Saya ingin menulis tentang manusia, ide tentang manusia berjalan lambat, sementara ide tentang malaikat malah berkejaran berebutan. Bila gerakan itu tidak tertata dengan baik, akan terjadilah salip menyalip, tubruk menubruk. Semua berebut menuju pintu keluar, sementara peluang meloncat hanya satu demi satu. Di sinilah akal mesti berperan dan bertindak sebagai penjaga gawang.
 
Laju meloncatnya ide tergantung kecepatan Anda menulis. Bila kecepatan menulis sama atau lebih cepat dari laju bergeraknya ide-ide di dalam otak, maka tanpa kesulitan ide akan mengalir dengan lancar. Tapi bila Anda menulisnya pelan, apa lagi sebentar-sebentar berhenti, maka akan terjadi penumpukan dan kekacauan di pintu keluar. Bayangkan kemacetan arus manusia di pintu keluar sirkus, tatkala sedang terjadi kebakaran.
 
Fenomena inilah yang sering disebut 'ngadat', atau sering disebut kehabisan ide. Saya pernah bertanya kepada seorang sahabat tentang perkembangan proyek menulisnya. Dia ringan dia mengatakan, "kehabisan ide, 'ngadat'." Mana mungkin ide habis. Ide tidak habis, tetapi bertumpuk-tumpuk di pintu keluar. Pintu masih Anda buka karena Anda masih terpana di depan alat tulis, tapi satupun ide tidak ada yang meloncat. Berjam-jam Anda menunggu sambil menguap. Anda terpaksa harus membaringkan diri beberapa jam menghabiskan bercangkir-cangkir kopi sampai barisan itu tertib kembali atau beritirahat total beberapa hari sampai seluruh ide kembali ke kotaknya masing-masing untuk bisa dibariskan kembali kapan-kapan.
 
Menulis cepat bertujuan mengimbangi laju gerakan pikiran sehingga gerakan di otak berjalan tertib. Menulis lambat menyebabkan rangsangan di otak sedikit sehingga ide-ide yang pasif kurang terstimulus untuk bereaksi. Menulis dengan sering berhenti, gerakan ide menjadi tidak beraturan, saling tubruk yang akhirnya membuat kekacauan.
 
Penulis sering berhenti ketika sedang menulis dengan banyak sebab. Salah satunya adalah karena tergoda dengan kesalahan ejaan dan tanda baca pada kalimat sebelumnya. Dia merasa tergangu dengan itu sehingga memilih berhenti mengalirkan ide untuk memperbaiki ejaan tadi. Penghentian yang lain disebabkan karena ada perasaan bahwa ide yang keluar adalah ide yang bukan diharapkan, melenceng dari tujuan semula. Apapun alasannya, penghentian yang sering-sering dan mendadak itu mengakibatkan kacaunya gerakan aliran ide.
 
Untuk mencegah suasana seperti itu, jangan mengedit sambil menulis. Biarkan ide mengalir dengan leluasa, merdeka. Imbangi dengan menuliskannya secepatnya. Pengeditan dapat dilakukan nanti setelah semua ide yang akan ditulis keluar seluruhnya.
 
Ada satu tips menulis yang perlu juga untuk dicoba: menulis tanpa layar monitor. Layar monitor sengaja dimatikan atau ditutup kertas agar kita tidak berkesempatan melihat apa yang sedang kita tulis. Godaan mengedit sambil menulis terhindarkan.
 
Bagimana pendapat Anda?
 
 
Wallahu a'lam

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail