mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Monday, November 30, 2009

Pengalaman yang dimakan usia


Beberapa waktu yang lalu saya terlibat dengan pembicaraan ringan, secara tidak sengaja, dengan sorang manajer senior sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang perminyakan. Karena usianya, beliau akan memasuki pensiun tidak lama lagi.
 "Apa rencana kegiatan Bapak setelah pensiun?" tanya saya.
 "Ya, inilah yang sedang saya pikir-pikirkan," katanya ringan.
 Tiba-tiba dia menatap saya serius, "Saya tahu, tanpa kegiatan yang rutin, banyak sekali orang yang sudah pensiun menjadi cepat pikun, ya? Untuk mengisi pekerjaan yang mengandalkan fisik, rasanya tidak mungkin lagi bagi pensiunan. Apakah Anda punya saran?" tanyanya.
 Waktu itu saya sedang menulis. Tiba-tiba dengan spontan saya menjawab," Bagaimana kalau menulis?"
 "Menulis?" katanya sambil tertawa terbahak-bahak dan menepuk-nepuk bahu saya. "Anda silakan terus menulis. Anda boleh menyarankan apa saja kepada saya, kecuali menulis. Ha ha ha."
 "Apa salahnya menulis?" tanya saya sedikit agak heran. "Saya kira dengan menulis, Bapak dapat mengisi hari-hari yang panjang tanpa kegiatan fisik yang berarti. Menulis hanya pakai jari. Dan lagi, dengan menulis, pikiran akan terus bekerja mengolah seluruh informasi yang ada pada otak. Jelas, ini akan memperlambat pikun. Dengan menulis, Bapak bisa mewariskan pengalaman dan pengetahuan Bapak bertahun-tahun di bidang yang langka ini kepada anak cucu. Dengan menulis, Bapak bisa menasihati generasi muda agar lebih baik bertindak. Bahkan, kalau Bapak mau, tulisan Bapak bisa dikomersilkan pula."
 Dia menarik nafas panjang. Dari kerutan alisnya, otaknya seperti menggeliat keras. Menggeleng-geleng, kemudian mengangguk-angguk, tapi tidak pasti apa yang dianggukkannya. Tiba-tiba saja dia berdalih. "Saya membayangkan betapa sulitnya menulis itu. Saya tidak mampu. Bahkan saya tidak tahu dari mana saya memulainya. Saya heran dengan Anda. Saya ingin menulis seperti Anda, menuliskan pengalaman-pengalaman saya. Tapi....," tiba-tiba saja dia tidak melanjutkan kalimatnya.
 "Tapi apa Pak?" tanya saya memancing.
 "Apakah Anda bersedia mengajari saya?" katanya singkat.
 Terpikirlah oleh saya bahwa orang seperti Manajer Senior tadi tidak sedikit. Di berbagai pertemuan, saya sering menemui mereka. Mereka, yang saya maksudkan adalah kaum professional yang pada dasarnya memiliki segudang pengetahuan dan pengalaman. Mereka lulusan perguruan-perguruan tinggi ternama. Mereka telah ditempa oleh asam garamnya profesi. Mereka terlibat dalam berbagai workshop, seminar tentang profesi yang mereka tekuni. Namun karena profesi mereka tidak berhubungan langsung dengan tulis menulis seperti seorang wartawan atau sastrawan, mereka jarang menulis. Bahkan untuk menulis surat saja, sektretarisnyalah yang melakukannya.
 Mereka tersebar dalam label profesi yang bermacam ragam seperti insinyur, dokter, notaris, pengacara , pengusaha, manajer, direktur, guru, dosen, ustaz, kiai, dll. Bahkan di antara mereka telah berada di puncak karir yang sangat strategis. Mereka pasti memiliki pengetahuan dan pengalaman yang sangat berharga. Bahkan, mereka ada niat dan selalu berpikir untuk mewariskan pengetahuan itu untuk masa depan bangsanya. Tapi entah mengapa, mereka tidak dapat menuliskannya. Pengalaman dan pengetahuan mereka hilang begitu saja sampai mereka dimakan usia.
 Bagaimana pendapat Anda?
 
 

Wallahu A'lam

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail