mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Friday, December 18, 2009

Strategi tiga kata.


Keadaan yang paling menyiksa ketika akan mulai menulis adalah memilih satu ide untuk dimunculkan utuk ditulis. Kalau dikatakan tidak ada ide, tidak mungkin, karena terasa ide-ide bersiliweran dalam lintasan pikiran. Ide itu seperti banyak, tapi tidak satupun yang dapat ditangkap untuk dijadikan bahan tulisan. Ada satu strategi yang diterapkan oleh penulis-penulis professional, yaitu strategi tiga kata.
 Anda mau belajar cara menulis? Mudah. Ambil saja tiga kata secara acak, tulis di komputer Anda. Cara ini memang harus pakai komputer, karena tulisan itu harus bisa di"insert", di 'delete", dll. Anda tidak perlu mencari apa hubungan kata-kata itu. Pilih saja. Apapun tiga kata yang tersirat cepat di pikiran, tuliskan langsung. Anda harus bekerja cepat. Jangan banyak pikir. Hanya tiga kata. Kata benda semua, kata sifat semua, atau campuran, tidak masalah. Pokoknya tiga kata.
 Baiklah. Misalkan Anda sudah menemukan tiga kata, yaitu: rumah, monyet, kembung. Saya sendiri juga tidak pernah memikirkan ketika saya memilih ketiga kata itu sebagai misal. Nah, sekarang tuliskan secara berurut, semuanya pakai huruf besar agar nantinya mudah ditandai mana tiga kata itu. Pisahkan ketiga kata tersebut dengan tanda "titik".
 RUMAH. MONYET. KEMBUNG.
 Sekarang tataplah ketiga kata itu sedikit agak lama. Biarkan pikiran Anda membayangkan wujudnya. Dengan ajaib, Anda akan melihat beberapa ide berdatangan yang akan berkerumun di sekitar masing-masing kata. Anda sendiri tidak dapat mengelak dari ide-ide tamu yang tidak diundang itu. Ambillah beberapa di antaranya tuliskan, baik di depan maupun di belakang kata awal yang tiga. Itulah sebabnya Anda harus pakai komputer agar bisa menyelipkan kata-kata baru, "insert".
 Waktu saya menatap ketiga kata itu, saya menangkap beberapa kata, dan saya tuliskan. Coba lihat hasilnya.
 RUMAH nenek jauh dari kota. MONYET meloncat-loncat di hutan. Minum air terlalu banyak, bisa KEMBUNG.
 Tatap sekali lagi dengan sangat cepat. Biarkan ide-ide mengalir. Setiap ide itu muncul, tuliskan. Dalam contoh saya, saya akan menambahkan seperti berikut.
 RUMAH nenek jauh dari kota. Perjalanan ke sana memakan waktu berjam-jam. Kalau berjalan malam, begitu mengerikan karena perjalanan ke sana melewati hutan-hutan belantara. Berjalan siang, sangat menyenangkan. Saya bisa berhenti sejenak, melepaskan lelah sambil melihat MONYET meloncat-loncat di hutan. Waktu berhenti, saya bisa duduk-duduk sambil makan dan minum. Tapi hati-hati. Minum air terlalu banyak, bisa menyebabkan KEMBUNG.
 Ha ha ha. Sudah mulai nampak kaitannya, kan? Bahkan sudah berbentuk sebuah paragraf yang cantik. "Lanjutkan. Lanjutkan," seperti kata Pak SBY tempo hari. Anda kini dapat menambahkan lagi kalimat atau bahkan memecah paragraf.
 Saya selalu rindu dengan kampung. Rindu dengan nenek. Rindu dengan hutan. RUMAH nenek jauh dari kota. Perjalanan ke sana memakan waktu berjam-jam. Betapapun jauhnya, saya selalu merindukan perjalanan pulang ke kampung karena saya akan berjumpa nenek dan berjumpa hutan.
 Saya senang berjalan siang. Kalau berjalan malam, begitu mengerikan karena perjalanan ke sana melewati hutan-hutan belantara. Berjalan siang, sangat menyenangkan. Kita bisa berhenti sejenak, melepaskan lelah sambil melihat MONYET meloncat-loncat di hutan. Waktu berhenti itu, kita bisa duduk-duduk di rumput sambil makan dan minum. Tapi hati-hati. Minum air terlalu banyak, bisa menyebabkan KEMBUNG.
 Baiklah, silakan melanjutkan. Saya kan ke rumah nenek dulu. Permisi.
 
 

Wallauhu a'lam.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail