mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Wednesday, January 20, 2010

Menulis menyembuhkan


Sebelum ini mungkin belum banyak yang tahu, termasuk saya, kalau menulis ternyata dapat membantu penyembuhan penyakit. Bukan hanya penyembuhan penyakit yang berkaitan dengan kejiwaan, tapi menulis membantu penyembuhan penyakit fisik juga. Pasien yang menderita penyakit tetentu, diminta menulis perasaannya yang terdalam tentang sesuatu, bahkan kejadian traumatisnya di masa lalu. Biarlah dia menulis dalam deraian air mata. Ternyata, proses itu akan membantu penyembuhannya. Luar biasa.
 James W. Pennebaker, dalam bukunya "Writing To Heal" telah membuat satu kesimpulan penelitiannya bahwa orang yang secara teratur menulis tentang peristiwa-peristiwa yang traumatis dan menyedot emosi, 43% lebih jarang ke dokter dibandingkan dengan yang tidak pernah menulis. Orang-orang ini juga nampak lebih sehat, dinamis, ceria. Mereka nampak lebih siap secara mentalitas.
 Penelitian itu mulai dilakukan oleh Pennebaker a tahun 1980, disponsori oleh National Science Foundation dan National Institute of Mental Health. Penelitian ini lebih jauh menyimpulkan bahwa ketika menulis, denyut jantung melambat, tekanan darah menjadi sedikit turun dan sistem pertahanan tubuh meningkat. Ketika seseorang baru saja selesai menulis cerita-cerita traumatis, dia memang akan sedih. Tapi, dalam jangka panjang, keteraturan menulis akan membangun optimisme dan perasaan sehat padanya.
 Menulis dapat mengeluarkan unek-unek yang menjadi sebab stress. Menulis tentang hal-hal yang menekan jiwa akan memberikan pelepasan emosional yang mebangkitkan rasa puas dan lega.
 Pada April 1999, penelitian ini telah menunjukkan hasil yang lebih jauh bahwa menulis telah terbukti mempercepat penyembuhan pasien penderita asthma dan rheomatoid arthritis. Penelitian juga menunjukkan perbaikan yang luar biasa keadaan pasien AIDS setelah ia membiasakan menulis. Di sini, bukan hanya saja penyembuhan penyakit kejiwaan yang secara langsung terpengaruh dengan menulis, juga penyakit fisik.
 Adanya perasaan gundah, gelisah atau pikiran yang kacau tidak menentu akan menyebabkan stress. Penyelesaiannya biasanya dengan menceritakan kepada pihak lain. Karena menulis sebenarnya juga berbicara, maka daripada menceritakannya kepada pihak yang belum tentu bertanggung jawab, menulis merupakan jalan keluarnya.
 Ada pengakuan seorang ibu yang menahankan gundah dalam jiwanya. Sikap suaminya akhir-akhir ini ditambah lagi dengan berita gossip tentang suaminya, telah membuat ibu itu stress. Rasa cemburu, benci, marah, rindu bercampur-campur aduk. Perasaan itu telah begitu menyiksanya. Tak cukup lagi airmata, kadang-kadang dia memilih untuk berteriak seperti orang gila. Banyak kawan-kawan yang bersedia membantu dan memancing-mancing agar dia mau bercerita. Tapi ibu ini masih punya kesadaran bahwa menceritakan aib keluarga kepada orang lain termasuk dosa. Dia mencoba bertahan untuk tidak menceritakannya kepada orang lain karena menyangkut privaci suaminya. Sudah menjadi komitmennya sejak awal pernikahan untuk tidak menceritakan aib suami. Tapi, kalau dibiarkan, pikiran gundah itu sungguh menyiksanya.
 Tak lama setelah itu, ibu itu menemukan satu cara yang tak disangka-sangka sebelumnya. Ia menggunakan HP nya untuk menulis. Kebetulan HP ibu ini punya fasilitas untuk menulis dan selam ini belum pernah dimanfaatkannya. Mulailah ia menulsikan rasa hatinya itu, sekalimat demi sekalimat. Beribu-ribu karakter tanpa terasa sudah dituliskannya. Sudah barang tentu, setiap menulis, ibu itu berurai air mata.
 Katanya, setiap dia selesai menuliskan sesuatu perasaan, sejumlah stress berkurang. Dilakukannya proses ini terus menerus. Pagi bangun tidur, dia menulis. Siang menulis. Malam menulis. Kapanpun dia menyimpan satu pikiran atau perasaan, dituliskannya. Sebelum tidur dia menulis lagi. Sampai akhirnya legalah perasaannya. Stress hilang.
 Suatu cara yang sangat cerdas, stress hilang aib tertutup. Inilah yang disebut, rambut tercabut, tepung tak berserak.
 Bagi orang yang tidak punya minat menulis, jika dia mengalami masalah seperti perempuan tadi, tentulah akan memilih "curhat" sebagai penghilang stress. Dicarilah kemana-mana telinga yang mau mendengarkan. Kawan-kawanpun biasanya banyak yang menawarkan dan biasanya senang hati mendengar karena fitrah orang untuk mendengar cerita yang aneh aneh. Karena memang tak ada jaminan semua yang dicurhatkan itu menjadi rahasia, maka banyaklah kasus curhat akhirnya menyengsarakan yang bersangkutan. Aib tersebar kemana-mana.
 Masih mau memilih curhat kepada tetangga atau kawan dekat? Atau curhat melalui tulisan? Curhat berisko, Bro.
  Menulis akan membantu mengurangi stress. Ungkapkanlah seluruh pikiran dan perasaan melalui tulisan. Simpan tulisan itu baik-baik kalau Anda tidak mau ada yang tahu. Setelah nanti pikiran anda tenang, editlah tulisan-tulisan itu. Apa yang Anda kira hanya sebagai curhat, bisa berubah menjadi buku best seller. Mau mencoba?


Bagaimana pendapat Anda?
 Wallahu A'lam

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail