mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Sunday, August 22, 2010

Ibadah


Barangkali, ada kaitannya dengan pengklasifikasian bab-bab dalam kitab fiqih klasik, sehingga orang salah faham dengan ibadah. Biasanya, dalam kitab fiqih itu ada bab ibadah, bab mua'malah, bab jinayah, bab munakahah, bab siasah, dll. Kalau kita buka lebih lanjut, di dalam bab ibadah, ada pasal mengenai taharah, shalat, puasa, zakat, haji, zikir dan do'a, dll. Di dalam bab mu'amalah ada fasal perniagaan, hutang-piutang, waris, dll. Dalam bab munakahah biasa ada fasal tentang nikah, talak, rujuk, pembinaan anak, dll. Demikian seterusnya hingga semua bab diuraikan dengan fasal-fasal yang lebih rinci.


Secara sederhana, kalau ditanya kepada orang Islam, yang awam tentunya, apa itu ibadah. Jawaban mereka biasanya berkisar pada ibadah <em>mahdah</em> yang dibicarakan dalam bab ibadah dalam kitab fikih itu. Jadi, mereka bukan tidak beralasan menyebutkan itu semua. Barangkali, tidak banyak yang menyebutkan bahwa berekonomi, berpolitik, bersains-teknologi itu ibadah. Barangkali, bahkan akan terdengar janggal bila ada yang berani berkata kalau buang air besar di WC itu juga ibadah.


Bagaimana sesunnguhnya Islam meletakkan ibadah ibadah ini dalam kerangka keyakinan manusia?


Perhatikan bagaimana Allah berfirman tentang ibadah ini:
"Tidakkah Aku perintahkan engkau kecuali untuk beribadah kepada Allah, dengan memurnikan keta'atan dalam agamaNya dengan semurni-murninya? " (QS 98:5)


Ayat ini berarti bahwa ibadah itu jauh lebih luas daripada yang didefiniskan masyarakat Islam umumnya. Kalau Allah mengatakan bahwa tidak ada yang diperintahkanNya kecuali ibadah, artinya tidak boleh satupun kegiatan dalam hidup ini yang bukan ibadah. Jangankan persoalan seperti ekonomi, positik, sosial, dan pendidikan, aktifitas keseharian seperti bersin, buang air, hubungan suami-istri, tidur, makan, dan minum mesti menjadi ibadah.


Kalau kita gagal menjadikan perbuatan-perbuatan tersebut ibadah, artinya perbuatan itu sia-sia atau bahkan jadi maksiat dalam pandangan Allah, sebagai lawan dari ibadah.


Dalam ayat itu saja, sebenarnya masih banyak ayat-ayat lain yang serupa, terpampang bahwa ukuran keluar atau tidaknya dari kerangka ibadah adalah agamaNya. Dan, sudah barang tentu, yang punya autoritas terhadap agamaNya hanyalah Rasululullah SAW saja.


Secara bertubi-tubi, di ayat yang lain dalam AlQuran, Allah membentangkan jalan bagi manusia untuk sampai ke dalam ibadah. Ibadah yang berupa ketaatan pada Allah dalam sembarang amal itu, harus didorong oleh rasa takut dan cinta pada Allah. Ketaatan itu pula tidak boleh keluar dari koridor agamaNya.


Wallahu a'lam
Bagaimana pendapat Anda?

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail