mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Sunday, September 20, 2015

Angga




Beberapa orang yang mengaku pernah bertemu lelaki berusia sekitar 14 tahun ini, tidak ada yang mampu mengingat namanya.

"Namanya susah diingat, tidak familiar sebagai nama Indonesia," tulis salah seorang sahabat FB saya, Wahyu Muqsita Wardana, di atas wall-nya. "Saya memanggilnya Angga, bukan nama sebenarnya."

Angga sering terlihat berdiri sendirian menunggu sesuatu di sekirar Mesjid Salman ITB. Kadang-kadang ia muncul sore, kadang-kadang pagi. Ia susah diajak bicara karena pemalu, dan sepertinya takut dengan orang lain.

Kalau ada yang mendekat, ia cendrung menjauh. Jika ada yang nekat mengejarnya, ia memilih lari.  Jadilah seperti orang main kucing-kucingan atau kejaran-kejaran. Sebagian anak perempuan malah takut pada tatapan matanya yang kadang terlihat menggoda.

Diperlukan keterampilan khusus mendekati remaja bergejala introvet itu. Kalaupun ada yang berhasil mengajaknya bicara, harus bicara dalam bahasa Inggris. Walaupun pemuda itu berwajah kadang-kadang terlihat seperti wajah Indonesia, campuran Melayu-Bule, ia sama sekali tidak paham bahasa Indonesia. Logatnya kental logat Bule. Bahasa Inggrisnya bagus.

Karena sikap menghindarnya itu, sebagian warga Mesjid Salman atau ITB lebih memilih untuk menganggapnya orang gila saja. Isu sebagai anak gila itu lebih terkenal sebagai identitas dirinya sehingga anak itu terbiar, kumal, dan menggelandang sekian lama. Tidak ada yang sudi mendekatinya secara serius.

Wahyu --dan beberapa orang yang mengomentari wall Wahyu di FB dan mengaku berhasil berbicara dengan remaja aneh ini -- mengatakan kalau Angga telah dua tahun tinggal di Indonesia. Ia bukan warganegara Indonesia. Ia anak orang Inggris yang menikah dengan orang Indonesia.

Angga tidak tahu siapa ibunya. Setelah menghabiskan masa kanak-kanaknya di Inggris, ia merasa tidak diakui oleh ayah ataupun keluarganya di Ingrris, maka ia pun berangkat ke Indonesia. Mungkin ingin mencari ibunya atau kelaurga ibunya. Ia tidak terbuka.

Sesampai di Indonesia, ia tidak menemukan ibunya atau seorang keluarga yang berkenan menampungnya. Ia pun menggelandang.

Bahkan seluruh dokumen identitas dirinya, paspor, visa, KTP, atau apa saja tidak ada. Kalau ditanya, Angga mengaku kalau dokumen itu diambil orang lain. Ia pun tidak bisa menjelaskan siapa orang yang dimaksudkan itu.

Banyak yang melihatnya kalau ia sering mampir ke Mesjid Salman , bukan untuk shalat, tapi untuk sekedar mencuci muka di tempat berwudu'

Ada juga yang mengatakan kalau Angga pandai melafazkan basmalah dan alhamdulillah. Ada yang yang pernah mendengarka lafaz-;afaz itu.  Ia jarang senyum. Sekali senyum, ia tampak sangat bahagia. Wajahnya yang tampan seperti bersinar di bawah sinar matahari di balik wajah dan jaket dan kaosnya yang kotor dan lusuh.

Angga, siapakah Engkau sebenarnya? Saya penasaran. Tunggu ya, saya akan ke Bandung, ke Mesjid Salman. Saya akan ajak kamu ngobrol di kantin mesjid itu. Kalau kamu suka kopi, kita minum kopi sama-sama.  Kamu boleh belajar azan dengan saya.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail