mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Sunday, September 20, 2015

Istanbul



Jakarta. 18 September 2015, Jum'at sore. Cuaca cerah, Langit berawan.

Tidak sampai satu jam setelah saya memesan secangkir kopi pahit expesso double shot di cafe Bengawan Solo --yang terletak bersebelahan dengan pintu keluar terminal D kedatangan, Bandara Sukarno Hatta -- pesawat Qatar Airlines yang berangkat dari Doha pukul 02.00 waktu setempat diumumkan mendarat di Jakarta dengan selamat.

Jarum jam tangan saya menunjukkan pukul 15.20. Pisang goreng baru saya makan separo, Masih ada satu lagi yang masih utuh. Pop Mie sudah habis, tinggal kuahnya saja.

Pesawat Qatar Airline itu membawa istri saya, Yussy Akmal, beserta lima orang kawannya dari Istanbul, Turki. Dia nemperkenalkan satu persatu temannya itu, bahkan foto bersama dulu, tapi saya lupa nama-nama mereka satu persatu, kecuali beberapa orang.

Sejak rencana keberangkatannya ke Istanbul sepuluh hari yang lalu, saya sudah membayangkan betapa indahnya kota tua yang dulu bernama Constantinopel itu. Saya belum pernah ke sana.

Rencana saya ke Istanbul sih sudah ada, tapi sampai sekarang masih rencana. Istri saya ternyata mendahukui saya ke sana. Rezeki Tuhan memang tidak bisa ditebak-tebak. Saya yang berencana, Yussy yang berangkat. He he he.

Sebelum istri saya berangkat meninggalkan Jakarta tempo hari saya bilang, "Tolong pinjamkan saya mata untuk melihat bekas-bekas penaklukan Sultan Muhammad Al-Fatih tahun 1453 M yang lalu di Istanbul. Kunjungi pusaranya. Bacakan Al-Fatihah atas nama saya."

Ketika kemarin ia mendarat di Jakarta, pesan itu pula yang saya tanyakan pertama kali. "Apa kabar Istanbul? Apa kabar Sultan Muhammad Al-Fatih?"

Ia tertawa lebar. "Indah, indah, indah."

Orhan Pamuk, novelis Turki peraih hadiah Noble dalam bidang sastra 2006 menulis, "Jika dunia ini ada satu kota yang menjadi ibukotanya, maka Istanbul yang paling sesuai."

Saya kurang paham mengapa novelis kondang peraih Noble sastra tu sampai berkata demikian. Apakah karena Istanbul terletak di perbatasan benua Asia dan Eropa, atau karena Istanbul menyimpan misteri sejarah Byzantium? Apakah karena romantisme kisah yang diangkat Orhan di dalam novelnya itu? Entahlah.

Buya Hamka menceritakan dalam bukunya, Sejarah Ummat Islam, bahwa ketika usai perang Khandak dulu, ketika para sahabat berada di sebuah batu, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa Ummat Islam akan mengambil alih Constantinopel. Beliau SAW bersabda, "Pastilah kamu kelak akan menaklukkan kota Constantinopel. Maka yang sebaik-baiknya pemimpin adalah pemimpin yang memimpin penaklukan itu. Dan, sebaik-baiknya pasukan adalah pasukannya."

Telah berulang-ulang upaya yang dilakukan kaum muslimin, kata Buya Hamka, menaklukkan kota bersejarah itu, termasuk upaya yang dilakukan sahabat nabi, Abu Ayub Al-Anshary. Semua upaya itu gagal sampai akhirnya Sultan Muhammad, sultan generasi ketujuh Khilafah Usmaniah, berhasil menaklukkannya. Kepada Sultan Muhammad diberi gelar Al-Fatih. Dialah sebagai peletak dasar-dasar pemerintahan Islam di Istanbul menggantikan pemerintahan Romawi Timur yang telah berkuasa puluhan abad.

ANTV beberapa waktu lalu menayangkan sinetron kisah cinta dan konflik berdarah di dalam istana Kesultanan Usmaniah di Istanbul. Sayangnya, kisah itu hanya menayangkan sepenggal kisah Istambul, yaitu tentang kesultanan Usmaniah generasi kesepuluh, Sultan Sulaiman yang bergelar Sulaiman Yang Agung. Kisah cinta rumah tangganya berakhir tragis berdarah-darah.

Walaupun penggarapan sinetron berjudul Abad Kejayaan itu bagus dan menarik, sehingga hampir setiap malam saya ikuti, saya mempertanyakan kesahihan ceritanya. Apakah seburuk itu karakter Sultan Sulaiman yang mau saja dikendalikan Hurem, istrinya, hingga ia tega membunuh anak kandungnya, Mustafa.

Sudah dapat saya duga, istri saya tidak akan mungkin membahas Istanbul di masa penaklukan Sultan Muhammad Al-Fatih atau di masa konfliknya di masa Sultan Sulaiman dan istri Huremnya itu.

Dari pada bercerita panjang lebar tentang sejarah, ketika sampai di rumah, Yussy memilih menyodorkan pada saya sebuah buku sebagai oleh-oleh. Judulnya "Istanbul, City of Civilization." karya Erdem Yucel.

Ia sendiri sibuk menyusun pernik-pernik yang entah untuk apa gunanya. Saya memilih membenamkan mata ke dalam buku itu saja.

Wow, perpadauan teks dan foto tentang Istanbul tersusun rapi dalam buku setebal 143 halaman itu. Disinggung di sana sedikit tentang sejarah kota tua itu, sejak ia masih bernama Constatinopel di zaman Byzantium, sampai dengan zaman ini, ketika ia sudah menjadi metroolitan yang padat di bawah Presiden Erdogan.

Saya pun menarik sebuah buku, Sejarah Umat Islam, karya Buya Hamka, yang hampir berdebu di rak buku saya, sebagai pembanding.

Saya terbang ke Istanbul sendirian, menyaksikan kota favorit Orhan Pamuk itu dari dekat, seolah-olah saya sedang berdiri di atas jembatan suspensi sepanjang 165 m yang menghubungkan Beylerbeyi dan Ortakoy, yang terkenal dengan nama Bosphorus Bridge, sambil menikmati kebab panas dan es krim Dondurma yang dingin di kerongkongan, ditambah sepotong kue pastry Borek dan Baklava yang rasanya manis dan gurih.

Saya masuk Arasta Bazzar, lalu bingung memilih karpet sutra, wol, atau katun, atau  mengambil karpet berbahan sintetis, namun semuanya ditenun rapi berbunga-bunga. Ada pula teko porcelain mirip lampu Aladin dengan ukiran biru safir.

Saya seperti orang bodoh sambil berdiri sok tahu, menengadah, mencoba mengeja-eja huruf Romawi kuno yang tertulis di tugu Hippodrome Obelisk yang silau oleh pantulan sinar matahari.

Saya masuk ke Blue Mosque yang baru saya tahu kalau warnanya biru setelah kita berada di dalam bangunannya yang dingin, dan bersitektur ganjil itu.

Pasti, pasti, saya tidak lupa masuk Hagia Sophia melalui pintu keramatnya, Imperial Gate, lalu menoleh ke atas, menelusuri kubah, altar, dan dinding yang membuat bulu roma saya merinding. Speechless.

Setelah halaman terakhir saya buka, saya baru sadar, kalau saya bukan di Istanbul tapi di Cibubur, masih di rumah. Istri saya yang baru datang dari Istambul, tapi ia malah membiarkan Erdem Yucel bercerita kepada saya tentang  Istanbul melalui bukunya itu.

Wahai Istanbul, tunggu ya. Tahun depan saya ke sana. He he he.

Tunggu aku di sisi jembatan Bosphorusmu sebelah selatan, dekat benteng kecil milik Romawi itu berdiri, atau di Spice Bazaaar. Terserah engkau. Semoga tahun  depan nilai tukar Rupiah terhadap Lira tak separah yang sekarang.

Ada yang mau ikut?

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail