mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Sunday, September 20, 2015

Musajik Usang





Bangunan ini dulu kala adalah sebuah mesjid jami', yaitu mesjid yang menjadi pusat kehidupan spiritual warga desa kami, Desa Kota Marapak, Kecamatan Ampek Angkek, Sumatera Barat. Sejak telah dibangunnya bangunan mesjid yang baru sebagai mesjid jamik, bangunan tua ini pun menyandang nama "Musajik Usang."

Kalau Anda sampai di kota Bukittinngi -- kota dingin, yang di zaman Belanda disebut Fort De Kock -- Anda tinggal melanjutkan perjalanan beberapa kilometer ke arah timur melalui jalan raya menuju Pekan Baru sampai batas kota, Garegeh. Dari Garegeh, kurang dari 3 km, Anda sampai di suatu persimpangan tiga, namanya Simpang Pinang Balirik. Dari sana, Anda berbelok ke utara, menulusuri jalan desa yang kecil yang agak menurun sejauh 2 km. Sampailah Anda di Balai, pusat Desa, Koto Marapak yang saya maksudkan.

Di Balai ini, Anda akan menemukan Mesjid Jamik Koto Marapak yang baru. Kira-kira 100m dari mesjid baru itu, ke arah barat, terletak Musajik Usang yang ada di foto ini.

Tidak ada data sejarah yang cukup akurat kapan mesjid tua yang dinamakan Musajik Usang itu dibangun. Dari gaya arsitektur dan lokasinya, saya memperkirakan mesjid ini di bangun abad ke 14-15 M, sebelum kedatangan penjajah belanda. Lebih tepatnya di bangun di zaman para wali ketika dunia Islam dipimpin oleh Kesultanan Usmaniah di Turki. Wallahu a'alam.
Seingat saya, ketika akhir 60-an, awal 70-an, ketika saya di tahun-tahun pertama SD, mesjid itu sudah tidak digunakan lagi. Masyarakat desa kami telah beralih ke mesjid baru yang lebih besar yang dibangun dengan struktur tiang dan lantai beton yang lebih kokoh serta di lokasi yang lebih strategis, Balai. Balai adalah alun-alunnya desa Koto Marapak. Balai mudah dijangkau dari seluruh penjuru Desa sehingga mesjid baru lebih sesuai di sana.
Sejak diaktifkannnya mesjid baru yang juga dinamakan sebagai mesjid jamik itu, berpindahlah seluruh kegiatan spiritual masyarakat ke mesjid baru yang gagah dengan kubah besar dan menara yang menjulang ke angkasa itu. Maka, berangsur-angsur pula mesjid lama itu berubah status menjadi usang. Orang-orang pun menyebutnya Musajik Usang. Kami, anak-anak menjadikan mesjid lama itu tempat bermain-main sandiwara-sandiwaraan.

Yang usang pada Musajik Usang itu tentulah bangunannya saja. Nilainya tetap tinggi. Di tempat itulah dulu nama Alllah dikumandangkan dan dimuliakan. Bangunan kayu itu sekarang memang sudah lapuk. Lantainya tak mungkin lagi diinjak. Dindingnya miring. Lokasinya pun tidak lagi strategis. Wajarlah kalau akhirnya para pemimpin masyarakat ketika itu memutuskan mendirikan mesjid baru sebagai pengganti.

Tapi, walaupun sudah ada mesjid baru, tak seorangpun yang tega meruntuhkan atau merobohkan mesjid tua itu betapapun telah diberi nama Usang. Inilah yang uniknya. Mungkin, tak seorangpun di desa saya dapat melupakan karya seni tingkat tinggi berupa ukiran yang menghiasi tiang dan dindingnya. Di dinding dan tiang Musajik Usang itu memang terpahat asma-asma Allah yang agung dan sejumlah ayat-ayat suci Al-Quran. Baru saja kita masuk ke dalam ruang utama mesjid itu, hati menjadi tentram dengan menatap ukiran itu.

Di atas mihrab (ruang untuk Imam) ada mihrab yang dibuat tinggi, namanya mihrab mu'azin. Terdapat tangga untuk naik ke mihrab mua'azin itu. Itu bukan ruang ornamen. Ruang itu adalah tempat mu'azin mengumandangkan azan. Saya masih ingat, biasanya ada 3-4 orang mu'azin yang mengumandangkan azan secara serentak sehingga azan terdengar ke seluruh desa.

Yang paling tidak dapat saya lupakan adalah struktur atapnya yang berjenjang tiga dan jumlah jendelanya yang dua puluh.

Atapnya yang berjenjang tiga mengisyaratkan adanya 3 tahapan pejalanan manusia menuju Tuhan: (1) Islam, (2) Iman, dan (3) Ihsan.
Tahap Islam adalah tahap elementer. Di tahap ini seseorang dituntut mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan Nya. Itulah kepatuhan. Tahap selanjutnya, kepatuhan saja tidak cukup. Setelah adanya kepatuhan, sesorang harus membuktikan kepatuhan itu dengan takut dan cinta Allah. Itulah tingkat kedua yang dinamakan iman. Iman pun belum cukup jika seseorang belum ikhlas beribadah hanya untuk Allah. Itulah tingkat ketiga yang dinamakan ihsan.
Hebat sekali falsafah arsitektur Musajik Usang itu. Tiga jenjang atapnya menunjukkan adanya tiga tahap perjalanan menuju Tuhan: Iman, Islam, dan Ihsan.

Jendelanya yang dua puluh mengisyaratkan adanya dua puluh sifat Tuhan. Mazhab Asy'ariah mengajarkan adanya dua puluh sifat Tuhan (wujud, qidam, baqa, mukhalatul lil hawaditsi, qudrah, iradah, ilman, hayyan. dst) yang merupakan pintu mengenal Allah. Barang siapa yang mengenal keduapuluh sifat itu, ia akan mengenal Allah. Kalau ia mengenal Allah, maka ia akan menempuh jalan Allah.

Bangunan mesjid boleh runtuh, kayu-kayunya boleh lapuk karena itu sunnatullah, namun manusia tidak boleh lupa falsafah hidup yang diajarkan oleh pendahulu kita melalui simbol-simbol, termasuk simbol-simbol yang mereka buat di mesjid. Dari Allah kita berasal dan kepada-Nya kita menuju. Tiga tahapan yang tidak boleh kita lupa: islam-iman,-ihsan dan sifat 20 Allah.

salam,

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail