mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Sunday, September 20, 2015

Herman Sira Manuk



Saya bertemu kawan lama, Herman Sira Manuk, di rumahnya di kawasan Gunung Ibul, Prabumulih --di rumahnya yang tergolong bukan rumah sederhana itu. Walaupun rambut beliau sudah mulai memutih, semangatnya tak tertandingi oleh saya. Didampingi oleh istrinya yang tampak masih awet muda di usianya yang lebih separo abad, kami membicarakan banyak hal.

Tahun 1991 yang lalu saya bertemu pertama kali dengan Pak Herman Sira Manuk  di Proyek Pengembangan Injeksi Air, Lapangan Limau, Prabumulih --Lapangan minyak milik Pertamina yang dikerjasamakan pengoperasiannya dengan Husky Oil International. Kami berada dalam satu tim yang sangat kompak. Saya membidangi fasilitas dan konstruksi peralatan sedangkan Pak Herman membidangi proses produksi dan injeksi air.

Bersama-sama dengan kawan-kawan lain, dari berbagai keahlian, proyek injeksi air di Limau dianggap berhasil dan bahkan menjadi rujukan untuk proyek yang sama di tempat lain. Laju produksi minyak yang awalnya 300 BOPD berhasil dinaikkan perlahan, bahkan pernah mencapai 15,000 BOPD.

Selama hampir 15 tahun kami bekerja sama, bahu membahu di lapangan Limau itu. Antara saya dan Pak Herman telah menjadi seperti keluarga.

Setelah kontrak kerjasama pengelolaan lapangan Limau berakhir, kami bersama-sama pindah ke proyek ekplorasi minyak di Batu Raja. Satu tahun di sana.

Karena proyek itu gagal --investornya ogah melanjutkan-- kami pun pindah ke proyek lapangan Bula, Maluku. Di Bula itu kami melanjutkan kerjasama dan kekeluargaan kami yang pernah terbentuk sebelumnya.

Tahun lalu, 2014, kami berpisah karena Pak Herman pensiun.

Sekarang, Pak Herman mengisi hari-harinya membangun ekonomi Indonesia dengan menjadi petani.

Di atas lahan 7 hektar, di daerah Suban, beliau bertani pohon Gaharu. Di atas lahan 7 hektar yang lain lagi, di Karang Endah, beliau bertani karet. Dulu, di lahan karet ini, beliau pernah bertani Melon tapi tidak berhasil. Melon dihentikan dan tanahnya ditanami karet.

Hampir 2 jam saya dan Pak Herman bertukar pikiran tentang masa depan ekonomi Indonesia, khusunya pertanian. Saya pun menceritakan kepada beliau bahawa saya sedang belajar bertani. Saya ceritakan betapa menyedihkannya harga karet. Sebagai petani, beliau merasakan itu.

Saya ceritakan  bahwa saya belajar bertani buah naga. Pohon naga di kebun saya menguning daunnya. Secepat kilat, pengagum buah naga itu menunjukkan cara-cara mengelola tumbuhan kaktus itu. Beliau pun menunjukkan puluhan pohon naga yang dipeliharanya di dalam pot di belakang rumahnya. Semua subur.

Dengan semangat, Pak Herman mengajak saya mendalami pertanian gaharu yang sekarang ditekuninya dan seluk beluknya. Dengan laptopnya, ia memperlihatkan  teknik terbaru mempercepat pertumbuhan bagian batang gaharu yang berkualitas premium --untuk ekspor- mengggunakan bakteri yang dikembangbiakkan sendiri di belakang rumahnya yang memanfaatkan air kucuran AC yang ditampun drum plastik.

Satu lagi yang membuat saya terkejut, Pak Herman mengajak saya melihat masa depan pertanian jengkol. "Orang yang tidak sadar masa depan jengkol, adalah orang yang tidak paham tentang realitas," katanya semangat. Level saya baru sebatas penggemar goreng jengkol yang diberi cabe merah atau hijau.

Yang sangat mengejutkan, Pak Herman menantang saya bertani kelor, tanaman yang saking terkenalnya, dijadikan pepatah di negeri kita "dunia tak selebar daun kelor". Pak Herman menyerahkan pada saya satu artikel tentang bertani keloryang baik, sebuah kajian seorang pakar berdasarkan kaidah-kaidah Al-Quran. Al-Quran? Bukankah beliau seorang Katolik?

Putra Flores yang pernah senasib dengan saya -- kami pernah sama-sama jadi guru ketika kami mahasiswa: Pak Herman guru SMP di Apelembang sedangkan saya guru SMA di Bandung -- itu sungguh luar biasa.  Beliau sahabat sekaligus mentor yang baik.

Walaupun agama kami berbeda, sejak dulu antara kami sering berdiskusi tentang berbagai hal, termasuk tentang agama. Beliau seorang penganut Katolik yang taat. Saya selalu meilihat beliau berdoa sebelum makan. Di rumahnya bertebaran buku-buku agama.  Kalau diskusi tentang minyak, pertanian, dan peternakan jangan ditanya lagi. Bukan hanya sering tapi selalu.

Semoga saya bisa menyediakan waktu menerima tawaran Pak Herman meninjau berbagai lahan pertanian budidaya tanaman masa depan itu, termasuk gaharu, jengkol, dan kelor. Sebelum kami berpamitan,  si kakek yang sudah punya dua cucu itu menawari saya meninjau dua jenis tanaman lain yang akan booming di Indonesia, yaitu daun swasembada dan kapulaga.

Selamat sukses ya Pak Herman.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail