mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Sunday, September 20, 2015

Indralaya



Mesjid Al Hijrah Indralaya tetap putih bersih di tengah-tengah debu-debu yang menutupi kampung Indralaya yang kering kerontang dan sibuknya mesin-mesin konstruksi melebarkan jalan ke kiri dan kanan.

Sebuah plank di depan mesjid masih jelas terbaca, "Shalatlah sebelum dishalatkan."

Ketika saya melintasi kampung yang menjadi titik temu 3 kota: Palembang, Prabumulih, dan Kayu Agung itu sedang giat-giatnya membangun. Ada pelebaran jalan. Ada galian pipa. Ada pembangunan ruko-ruko.

Sepertinya, semua pekerja tidak peduli dengan teriknya panas, debu, dan kekeringan. Proyek harus selesai sesuai target.

Syukurlah pengurus mesjid Al-Hijrah tak henti-hentinya mengingatkan mereka untuk shalat. Alangkah buruknya nasib kita, sudahlah kering, berdebu, tapi tidak pula shalat.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail