mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Friday, December 18, 2009

Bukan si Ucup


Ada seorang pekerja bangunan yang sedang bekerja di lantai 13 sebuah gedung. Tiba-tiba seorang berteriak-teriak, "Ucup… Ucup… Anak perempuanmu Soleha mati karena kecelakaan… Ucup…!" Karena panik, orang itu langsung meloncat lewat jendela.
 Ketika hampir mendekati lantai 9, dia baru ingat bahwa dia tidak punya anak perempuan bernama Soleha. Setelah hampir mendekati lantai 5, dia baru sadar bahwa dia belum menikah, apalagi punya anak. Dan, ketika hampir menyentuh tanah, dia baru sadar kalau namanya bukanlah Ucup.
 Hua ha ha ha…..
 Cerita itu dikisahkan oleh kawan saya, Andrias Harefa dan Hendri Bun, dalam bukunya "Be Happy".
 Waktu pertama mendengarkan cerita itu dibacakan oleh anak saya di mobil, saya tertawa terpingkal-pingkal. Rasanya lucu sekali. Cerita itu memang dikemas sedemikian rupa agar pembaca tertawa. Judul bukunya saja tentang tertawa. Saya sendiri heran juga, apanya yang lucu. Kami sekeluarga yang ada di mobil ikut tertawa. Sebagian tertawa karena mendengarkan cerita itu, sebagian lagi mungkin tertawa karena melihat saya tertawa. Soalnya, tertawa saya bisa membuat orang tertawa.
 Tapi, sekarang mari kita berhenti sebentar. Coba kita renungkan cerita apa yang sebenarnya diceritakan kawan saya itu. Itu cerita yang sungguh tragis. Seorang buruh bangunan, yang tiba-tiba panik mendengarkan kisah kecelakaan. Dalam waktu sekejap, dia memutuskan untuk bunuh diri. Dalam proses bunuh diri itu dia baru tersadar bahwa keputusannya itu keliru karena informasi yang dia terima keliru. Tapi apa boleh buat. Nasi sudah jadi bubur. Tubuhnya yang mungkin kekar, maklumlah buruh, sekarang sudah remuk seperti tape. Tragis bukan?
 Perenungna kita akan mencoba menjawab rasa hati yang muncul, "Kok mudahnya orang panik ya?" Berita kecelakaan saja membuat orang panik. Apalagi berita-berita tentang bencana, kiamat, dll. Apakah sekarang hati manusia begitu lemah sehingga begitu mudah untuk panik, atau apakah sekarang terlalu banyak hal-hal yang mudah memanikkan.
 "Mengapa orang terlalu mudah mengambil keputusan untuk bunuh diri?" Sedikit-sedikit mau bunuh diri. Tidak naik jabatan, mau bunuh diri. Suami berselingkuh, mau bunuh diri. Istri minggat, mau bunuh diri. Boss garang, mau bunuh diri. Kawan tidak bayar hutang, mau bunuh diri. Jangan-jangan, nasi anguspun, mau bunuh diri.
 "Mengapa penyesalan selalu datang terlambat, ketika nasi sudah jadi bubur? Coba bayangkan, alangkah sialnya nasib orang yang meloncat tadi. Setelah hampir remuk badannya terhempas di tanah, baru dia sadar bahwa dia bukan Ucup dan masih bujangan. Waduh.
 Lebih dalam, kisah itu seharusnya memeras air mata, membuat kita mengusap-usap dada menahankna pedih di hati. Kita akan teringat dengan nasib bangsa kita yang punya pemuda-pemudi dengan kecerdasan emosional dan spiritualnya sangat rendah. Mereka bukan saja miskin harta, miskin ilmu, dan miskin pengalaman, bahkan miskin iman. Memilih jalan pintas bunuh diri, menunjukkan dia orang yang termiskin di dunia.
 Tapi saya yakin itu cerita fiktif. Kawan saya, Andrias Harefa, memang piawai bermain kata melalui pena. Itulah hebatnya pena. Cerita yang tragis, menyedihkan, dan bahkan mengerikan bisa diubah formatnya menjadi lelucon. Saya teringat dengan pepatah bahwa pena bisa lebih tajam dari pedang. Sekarang tergantung dari tangan yang mengayunkan pena itu. Ia bisa digunakan untuk mengupas mangga di siang yang gerah, atau menguliti orang hingga berdarah-darah.
 Bagiman pendapat anda?
 Wallau a'lam.
  

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail