mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Friday, January 8, 2010

Jati diri bangsa Indonesia


Kalau ditanya tentang Indonesia, saya bisa becerita panjang lebar. Bahkan Anda akan terkejut membaca cerita saya tentang Indonesia. Saya tinggal mengutip lagu-lagu lama tentang Indonesia, mulai dari lagu "Lambaian Pulau Kelapa", "Dari Sabang Sampai Merauke", sampai "Kolam Susu"nya Koesplus. Tapi kalau saya harus bercerita tentang jati dirinya, lidah saya jadi kelu, jari jemari saya macet, rada semutan.
Bung Taufik Ismail, dulu, meberi judul kumpulan puisinya dengan "Aku Malu Jadi Orang Indonesia." Terus terang, saya berbeda dengan beliau. Saya belum sampai pada "malu" jadi orang Indonesia. Bangga juga tidak, karena belum nampak yang layak dibanggakan. Ya antara malu dan bangga, alias biasa-biasa saja. Cuma sekarang sedikit agak stress mengenangkan jati dirinya yang amburadul.
Setahu saya Indonesia ini negara yang sangat luas. Bentangan Sabang Merauke pada peta Indonesia, kalau kita pindahkan ke peta Eropa, wilayahnya akan melintasi London sampai Baghdad. Artinya melintasi 27 negara. Antara Pulau Talaut di posisi terutara dan Pulau Rote terselatan akan melintasi 19 negara di Eropa. Seluruh barang tambang tersedia lengkap dan berlimpah di bawah tanahnya. Mana ada tanaman yang tidak bisa tumbuh di tanahnya. Katanya, batu saja bisa tumbuh.
Tapi, ketika disebut identitas bangsanya, yang pertama terngiang di dalam pikiran saya adalah kemiskinan mayoritas rakyatnya. Masyarakatnya miskin di atas semua kelimpahan sumberdaya alam. Yang kaya ada juga, tapi hanya segelintir saja.
Pertama sekali saya bekerja di perusahaan minyak tahun 90-an. Saya ditugaskan di Kampung Limau, kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Mengingat harga minyak sangat tinggi waktu itu, ditambah dengan begitu strategisnya industri minyak di negeri ini, saya membayangkan bahwa saya akan berada di suatu kampung perminyakan, kampung dolar. Saya akan berada di satu tempat yang menjadi tumpuan pembangunan, karena penghasil minyak yang besar penopang pembangunan di tempat lain. Saya membayangkan Kampung Limau seperti Houston di Amerika Serikat yang juga daerah penghasil minyak.
Ternyata jauh panggang dari api. Bayangan saya keliru. Daerah penghasil minyak di Indonesia berbeda dengan di negara lain. Di sini, walaupun daerah itu menyemburkan minyak ribuan barel perhari, menghasilkan dolar. Dolarnya menjelma jadi jalan tol dan gedung-gedung mewah di Jakarta atau kota-kota lain di jawa, daerah penghasil minyak tidak mesti terbangun. Kampung Limau contohnya. Minyaknya berlimpah, namun Anda akan terkejut kalau masih banyak penduduk tinggal di rumah-rumah berlantai tanah. Mesjidnya ditinggali kambing. Banyak dari mereka yang masih memasak dengan kayu bakar karena tak mampu membeli minyak tanah.
Pekerjaan saya juga telah mengantar saya ke lokasi lain yang juga penghasil minyak . Saya sudah lama beraktifitas di Kampung Bula di Pulau Seram, Maluku. Terakhir, sayapun berada beberapa lama di Kampung Kuala Simpang di Aceh. Apa yang saya lihat di daerah-daerah itu, tidak jauh berbeda dengan Limau. Saya menyaksikan betapa tidak berimbangnya pemanfaatan hasil minyak bagi daerah penghasil minyak itu. Minyak menyembur terlalu jauh, sehingga tak dapat dinikmati oleh penduduk setempat. Mereka hanya menyaksikan sisa limbah minyak yang mengotori kampung mereka.
Inilah jati diri bangsa yang sangat khas: miskin.
Itu baru tentang miskin harta. Kemiskinan ini semakin bertambah-tambah. Selain miskin harta, bangsa ini miskin ilmu dan miskin iman. Kalau miskin harta saja sudah kita anggap serius, terbayangkankah oleh Anda akibat miskin ilmu dan miskin iman?
Tapi saya tak malu. Saya hanya pasrah. Barangkali memang baru sampai disini nasib kita. Saya masih menyimpan sedikit harapan bahwa sebentar lagi bangsa ini akan bangkit. Saya yakin dengan ucapan Rasulullah SAW ketika di perang Khandak mengatakan bahwa Islam akan bangkit untuk keduakalinya di akhir zaman di satu bangsa di sebelah timur. Saya yakin, tempat yang dimaksudkan Nabi adalah bangsa kita, dalam hal ini Indonesia.
Bagaimana pendapat Anda?
Wallahu a'lam.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail