mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Friday, January 8, 2010

Kentut dan rokok


Memang masyarakat kita ini aneh. Kalau ada yang kentut di tengah ramai, mereka marah dan ramai-ramai menutup hidung dan mencari tahu siapa pelakunya dengan celenguk kesana kemari. Semua memasang tampang garang, seperti layaknya mau menangkap teroris.
"Lu yang kentut ya?"
"Siapa sih yang kentutnya bau mercon begini?"
"Aduh sial nih orang"
Yang lucunya, yang kentutpun ikut celengung-celenguk tanpa merasa bersalah, seolah-olah dia juga sedang mencari pelakunya. Ini satu lagi kepribadian bangsa kita yang mungkin jarang diangkat di media masa.
Tapi kalau ada yang merokok, menghembuskan asap tembakau, di dalam bis, bahkan di dalam masjid, mereka tenang-tenang saja. Bahkan mereka seperti ikut menikmatinya tanpa ada keinginan menutup hidung, apalagi mencari tahu pelakunya.
Ironis memang. Padahal, apalah bahayanya kentut dibanding asap tembakau. Kentut hanya mengandung sedikit gas H2S yang sudah jenuh, tidak menyebabkan bahaya apapun bila terisap atau bahkan sengaja diisap, sementara tembakau mengandung 52 jenis racun, yang siap melumpuhkan saraf-saraf vital manusia.
Yang menimbulkan masalah dari kegiatan merokok itu adalah ketika asapnya dihembuskan oleh si perokok. Orang yang tidak merokok, dengan terpaksa ikut mengisap racun-racun dari gas tembakau yang memenuhi udara karena ia harus bernafas. Lebih-lebih lagi, asap rokok itu bercampur pula dengan bau mulut si perokok, yang sudah beberapa hari tidak sikat gigi. Alamak, ampuun....
Tapi, kalau si perokok bersedia mengisap asapnya dan terus menelannya sampai habis, tanpa ada yang keluar ke udara, saya kira tidak begitu bermasalah. Biar saja dia tanggung sendiri resikonya, tanpa mengajak orang lain terlibat.
Kentut, jelas tidak membahayakan. Setidak-tidaknya kentut tidak seberbahaya asap rorok. Sampai hari ini, pernah nggak membaca pernyataan dari lembaga manapun, termasuk WHO, bahwa kentut dapat menyebabkan kanker paru-paru, impotensi, darah tinggi, kerusakan janin, dsbnya? Kalau rokok? Di setiap persimpangan jalan (terutama di kota-kota) selalu terpampang papan reklame raksasa bertuliskan peringatan itu. Bahkan peringatan itu dibuat oleh pabrik rokok itu sendiri. Saking jujurnya mereka itu.
Mungkin, kalau mau ditimbang-timbang juga supaya lebih fair, yang dianggap bermasalah pada kentut, adalah aromanya itu saja. Bunyinya? Ah, saya kira itukan termasuk musik alternatif, seperti juga rap, rock 'n roll, dll. Janganlah terlalu dibesar-besarkan. Itu hanya faktor sosialisasi dan cara pandang antropologis masing-masing budaya.
Aroma kentut merupakan faktor makanan. Makanan yang dikonsumsi masyarakat kita, kebanyakan dari jenis-jenis yang menyebabkan bau tak sedap pada gas knalpotnya. Itu masalah kecil dan dapat diatasi secara kreatif. Anda tinggal menghindari makanan-makanan itu sebisanya. Kalau kita ada niat menghadiri pesta, rapat, atau pertemuan apapun yang melibatkan banyak orang, pastikan beberapa jam sebelumnya, Anda tidak mengkonsumsi makanan yang menyebabkan kentut menjadi bau. Tapi, kalau kita memang berniat menyendiri, silakan. Toh, hanya kita sendiri yang akan menikmati aroma seribu bunga itu, kan? Daftar makanan-makanan itu dapat dibaca di majalah-majalah tentang kesehatan atau, kalau perlu, tanyakan ke puskesmas-puskesmas terdekat, tak perlu sampai ke WHO segala.
Saya kira sudah waktunya kita mengubah paradigma kita tentang kentut dan rokok ini, sebelum keduanya menjadi issu nasional. Aduh, ini tulisan tentang rokok atau tentang kentut sih?

 

Bagaimana pendapat Anda?

 

Wallahu a'lam

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail