mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Friday, January 8, 2010

Rindu Rasulullah di penghujung tahun

Teman FB saya, Ibu Fatimah Adam, mengatakan malam ini organisiasi yang beliau pimpin di Banjarmasin tidak mengadakan hiburan rakyat seperti tahun-tahun sebelumnya. Kegiatan diganti dengan bakti sosial, kunjungan ke rumah anak yatim, yang diisi dengan tausyiah. Subhanallah. Mudah-mudahan itu bukan karena hanya bertepatan dengan malam Jum'at atau terkait pilkada, namun karena telah munculnya kesadaran baru untuk kembali kepada Tuhan.

 Kawan saya Ibu Nurhayati, telah menulis bahwa ia sekeluarga telah bertekad tidak akan merayakan tahun baru dengan tiupan terompet, tetapi menggantinya dengan muhasabah atau instrospeksi diri, sesuai dengan sebuah hadis yang kebetulan tak sengaja ditemukan. Ini juga satu contoh yang perlu ditiru.

 Siang tadi saya ajak keluarga jalan-jalan di Jakarta, sambil menjemput anak sulung ke bandara. Saya melihat di beberapa persimpangan jalan terpampang spanduk undangan untuk menghadiri acara tahun baru berupa zikir bersama. Dari spanduk-spanduk itu saja, setidak-tidaknya sudah ada empat tempat yang berbeda di Jakarta yang menggelar acara zikir bersama. Belum lagi kalau kita masukkan tempat-tempat lain yang mengadakan zikir bersama namun tidak pasang spanduk. Tempat-tempat itu pasti banyak sekali. Ini berarti secara perlahan, tapi pasti, kegiatan tahun baru yang biasanya diisi dengan pesta pora, musik jingkrak junkrik, mulai digeser ke arah yang lebih bermakna, yaitu. muhasabah. Sambil muhasabah, kita mengenangkan Tuhan. Saya kira, ini pertanda baik.

 Saya sekeluarga memilih di rumah saja. Kebetulan kawan-kawan dari Jamaah Global Ikhwan, malam ini mendengarkan tausiah dari Ibu Dr. Gina Puspita bertempat di Bandar Global Ikhwan, Sentul. Walaupun saya tidak hadir di Sentul, namun saya dapat mendengarkannya melalui tele-conference, menggunakan jaringan XL. Ibu Gina mengangkat topik tentang rindu kepada Rasulullah SAW. Berbagai persoalan pribadi, keluarga dan bangsa kita bermunculan, karena kita telah kehilangan Tuhan sebagai akibat tak rindu lagi dengan Rasul. Kehilangan Tuhan, berarti kita kehilangan petunjuk-petunjukNya, kehilangan pertolonganNya, dan bahkan kita kehilangan role model (uswatun hasanah) yang Tuhan sediakan untuk kita. Padahal Tuhan telah persiapkan Rasulullah SAW sebagai jembatan menuju cintaNya. Jalan itu hanya bisa dibangun melalui rindu Rasulullah.

 Kawan saya Makhfud telah menulis di notesnya bagaimana Salahuddin Al Ayyubi akhirnya dapat mengerahkan tentaranya mengambil alih kembali Palestina setelah beliau berhasil menanamkan rasa rindu di hati tentara-tentaranya akan Rasulullah SAW. Inilah awal munculnya peringatan Maulidur Rasul, untuk menanamkan rasa rindu akan Rasulullah SAW. Topik Salahuddin ini rasanya paling relevan di saat sekarang ini. Sepertinya ada kemiripan perjuangan Salahuddin dan perjuangan kita sekarang ini.

 Kalaulah muhasabah diri ini sungguh-sungguh kita programkan, barangkali muhasabah yang paling tepat dan relevan saat ini adalah muhasabah sejauh mana rasa rindu akan Rasulullah sudah tertanan di hati kita. Bila belum, sebuah upaya mesti kita buat segera. Semoga tahun 2010 adalah tahun rindu Rasulullah betapapun berbagai kegiatan atau resolusi telah kita susun untuk setahun ke depan.

 Selamat tahun baru, selamat bersyukur, selamat bersabar, selamat dari maksiat lahir dan batin. Insyaallah besok, kita mulai hari-hari kita dengan rindu Rasulullah. Mari.

 Bagaimana menurut Anda?

 Wallahu a'lam

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail