mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Friday, August 13, 2010

Sunnah dan Hadis


Rasulullah SAW bersabda, "Telah aku tinggalkan untukmu dua perkara yang jika kamu berpegang dengan keduanya, kamu tidak akan tersesat selama-lamanya: Kitabullah dan sunnah RasulNya."

 
"Kitabullah" itu tidak lain adalah AlQuran sedangkan "sunnah RasulNya" adalah perbuatan, perkataan, dan persetujuan Rasullah SAW. Allah menurunkan petunjuk kepada manusia dalam satu paket yang tidak terpisahkan: AlQuran dan sunnah Rasul. Kedua-duanya akan menerangi hidup manusia dan menjadi rujukan indra dan akal untuk melihat hakikat segala sesuatu yang tidak terjangkau oleh akal. Akal manusia tidak akan mampu mencerna AlQuran tanpa tafsiran sunnah Nabi.

 
AlQuran itu sendiri adalah wahyu Allah dan sunnah Nabi itu juga wahyu Allah. AlQuran itu adalah wahyu dalam bentuk teks asli dari Allah sedangkan sunnah Nabi itu adalah tafsirnya yang diwujudkan dalam bentuk perbuatan, perkataan dan persetujuan Nabi. Jadi, Allah sendirilah yang menuntun Nabi melakukan sunnah itu untuk menterjemahkan teks AlQuran dalam kehidupan yang ril melalui wahyu. Allah berfirman, " Dia (Rasulullah) tidak akan mengucapkan sesuatu berdasarkan nafsunya. Ucapannya tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan (QS 53:3-4)." Karena itu telah ijma' para ulama bahwa sumber nilai Islam itu adalah AlQuran dan Sunnah Rasulullah SAW. Tanpa keduanya, manusia akan tersesat, karena terlalu banyak hal-hal dalam kehidupan yang tidak terjangkau akal kecuali dengan bimbingan wahyu: AlQuran dan sunnah.

 
Adakah hubungan antara sunnah Nabi dengan hadis Nabi? Ada yang mengira bahwa sunnah Nabi itu identik dengan hadis Nabi. Selalu saja ada orang yang menggunakan kedua istilah ini secara rancu. Hadis adalah sunnah; sunnah adalah hadis. Padahal ada jurang pemisah di antara keduanya. Sekilas hadis dan sunnah itu memang nampak sama. Mari, saya akan jelaskan sedikit banyak tentang perbedaan itu.

 
Secara harfiah, sunnah berarti perbuatan, jalan atau tradisi. Para ulama mendefinisikan bahwa sunnah Nabi itu meliputi perbuatan, perkataan dan persetujuan Nabi. Sunnah Nabi berfungsi untuk menjelaskan teks AlQuran secara lebih aplikatif yang dilengkapi dengan arahan-arahan dan contoh-contohnya sekaligus.

 
Yang dimaksudkan dengan perbuatan Nabi adalah apa saja yang dikerjakan Nabi dengan jasad lahiriahnya dan terlihat oleh mata orang banyak. Contohnya Rasulullah SAW duduk, berdiri, berjalan, mengangkat tangan, tertawa, tersenyum, berpaling, menangis, menyalami, dll. Semua perbuatan itu disebut sunnah Nabi. Apa yang dipakai Nabi, apa yang dimakan Nabi, dan apa yang dikerjakan Nabi adalah As Sunnah dalam kategori perbuatan.

 
Selain perbuatan, perkataan Nabi juga disebut sunnah Nabi. Nabi sering berbincang-bincang dengan para sahabatnya yang melibatkan perkataan. Dalam perbincangan itu, Nabi memberi penjelasan-penjelasan secara verbal, mulai dari hal yang ringan-ringan sampai dengan hal yang berat seperti perintah atau larangan. Perkataan Nabi tersebut biasanya dituliskan dengan format: Rasulullah SAW berkata, "..." atau Rasulullah SAW bersabda, "...".

 
Terakhir, persetujuan Rasulullah terhadap perkataan dan perbuatan sahabat juga disebut sunnah Rasul. Pada suatu ketika, mungkin Rasulullah berada di suatu tempat bersama sahabat sahabatnya. Misalnya, ketika itu, seorang sahabat melakukan satu perbuatan di hadapan Nabi. Kalau perbuatan itu salah, Nabi pasti akan menegurnya. Kalau perbuatan itu berkenan bagi beliau, Nabi akan membiarkannya atau bahkan memujinya. Diamnya Nabi pun dipandang bahwa beliau setuju atas perbuatan itu. Karena itu, diamnya Nabi dipandang sebagai sunnah.

 
Berbeda dengan itu, perkataan atau perbuatan sahabat Nabi yang dilakukan tanpa kehadiran Nabi tidak dapat dipandang sebagai sunnah Nabi, betapapun perkataan atau perbuatan itu tidak bertentangan dengan sunnah Nabi. Para sahabat begitu hati-hati dalam mengutip perkataan Nabi. Berbeda jauh dengan zaman ini, ketika orang dengan mudahnya menisbahkan pendapat pribadinya sebagai sunnah Nabi dan bahkan mengaku telah mendengarkan perkataan Nabi secara langsung.

 
Sunnah Nabi hanya dapat kita ketahui melalui kesaksian salah seorang sahabat yang hadir pada waktu sunnah itu terjadi. Rasulullah berpesan agar yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. Karena itu, berlomba-lombalah para sahabat yang hadir yang kebetulan menyaksikan sunnah itu terjadi menyebarkan kesaksian mereka kepada yang tidak hadir dalam bentuk khabar: berita atau cerita. Khabar itulah yang dinamakan "hadis".

 
Misalnya ada seorang sahabat berjumpa Rasulullah dan ketika itu dia melihat Rasulullah berdo'a sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Sesampai di rumah, sahabat ini bercerita kepada istrinya, " Saya berjumpa dengan Rasulullah dan saya melihat beliau berdo'a sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi." Cerita sahabat ini disebut hadis. Sang istri akan menceritakan pula kepada kawannya, "Saya mendengar khabar dari suami saya bahwa dia berjumpa Rasulullah dan ia melihat Rasulullah berdo'a mengangkat tangannya tinggi-tinggi." Cerita sang istri inipun disebut hadis Nabi. Seperti itulah hadis Nabi tersebar di kalangan sahabat kemudian bersambung penyebarannya sampai ke generasi tabi'in dan seterusnya bersambung pula ke generasi tabi'ut tabiin seperti sebuah rantai yang sambung bersambung. Orang yang menjadi mata rantai penyebaran hadis ini disebut sanad hadis.

 
Rantai penyebaran hadis secara lisan ini berakhir pada suatu masa ketika hadis-hadis yang tersebar ini dituliskan dalam kitab-kitab kumpulan hadis. Orang yang mengumpulkan hadis yang tersebar ini dan menuliskannya dalam kitab-kitab hadis disebut perawi hadis. Selanjutnya, penyebaran hadis berlangsung melalui kitab ini dari generasi ke generasi sampai ke generasi kita sekarang ini. Dan ini akan berlangsung sampai akhir zaman, sampai suatu masa nanti ketika Allah menghapus semua ayat AlQuran dan Hadis dari alam ini.

 
Sejumlah nama sahabat tercatat sebagai saksi sunnah Nabi yang hadisnya bersambung sampai ke zaman kita dan terbukukan oleh para perawi hadis dalam kitab-kitab kumpulan hadisnya. Nama-nama sahabat yang tercatat sebagai saksi sunnah Nabi dan menyebarkan hadis adalah Siti Aisyah, Ummu Salamah, Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdillah, dll.

 
Nama-nama yang tercatat sebagai pengumpul hadis dan menuliskannya dalam kitab kumpulan hadis adalah Bukhari, Muslim, Abu Daud, Turmudzi, Ibnu Majah, An Nasa'i, Ahmad bin Hambal, Malik bi Anas. Daraquthni, Al Hakim, dll.

 
Itulah perbedaan mendasar sunnah dnegan hadis. Penelitian tentang hadis dan sunnah pun berbeda. Penelitian tentang hadis meliputi studi untuk mengetahui apakah suatu hadis itu benar-benar shahih, meragukan, atau dusta. Karena sepanjang penyebaran hadis mulai dari sahabat sampai saat dibukukan oleh perawi hadis, berlangsung selama 300 tahun. Sepanjang itu, tidak tertutup kemungkinan adanya tambahan-tambahan dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Untunglah perawi hadis tidak aja membukukan hadis yang berhasil dikumpulkannya, tetapi juga menyeleksinya serta memberikan klasifikasi tingkat keshahihannya.

 
Sementara itu, penelitian sunnah meliputi studi untuk mengetahui sejauh mana suatu sunnah itu mewajibkan, menyunatkan, memakruhkan, mengharamkan, atau memubahkan suatu perbuatan. Suatu perkara diputuskan wajib, sunat, makruh, haram atau mubah, berdasarkan sunnah. Suatu keyakinan dianggap sah atau batil didasarkan juga pada sunnah.

 
Wallahu a'lam
Bagaimana pendapat Anda?

 
  • Lisa-Miss Lisa- Suryani, Anisatul Illiyin Penjelasan yg komprehensif/syamil, pak.
    August 15 at 6:35pm via Ersis Warmansyah Abbas Mkasih ilmunya Pak
    August 15 at 6:46pm · Like ·

    Facebook Mobile · Like ·

    Fajar Din, Marieska Verawaty and 2 others like this.

  • Wahyu Mappadeceng mantap.. trm ksh..
    August 15 at 7:23pm via Wahyu Mappadeceng mantap.. trm ksh..
    August 15 at 7:23pm via Yussy Akmal Alhamdulillah tambah ilmu... Terimakasih.
    August 15 at 8:17pm via Erryk Kusbandhono Shodaqollahul 'adhim wa shodaqo rosuluhun nabiyyul karim wa nahnu 'ala dzalika minasy syahidin..
    August 15 at 8:36pm via Erryk Kusbandhono Shodaqollahul 'adhim wa shodaqo rosuluhun nabiyyul karim wa nahnu 'ala dzalika minasy syahidin..
    August 15 at 8:36pm via Jufran Helmi For All: Sekedar hasil renungan di hari ketiga Ramadhan. Terlambat dipostingnya. Semoga bermanfat.
    August 15 at 9:19pm · Like ·

    Facebook Mobile · Like ·

    Facebook Mobile · Like ·

    Facebook Mobile · Like ·

    Facebook Mobile · Like ·

    Facebook Mobile · Like ·

  • Ema Manita Kuraesin Yaa Rasulullah rinduku kepadamu tiada terperi.Thanks UG pencerahannya !
    August 15 at 9:35pm via Nurhayati Fadjarudin jadi lebih memahami tentang sunnah dan hadis ... makasih pak ... Salam !
    August 16 at 6:09am · Like ·

    Facebook Mobile · Like ·

  • Jufran Helmi
    @Ema, semoga kerinduan kepada Rasulullah semakin bertambah
    @Bu Nung.Ya, sekedar notes.
    August 17 at 9:00pm · Like ·

  • Waskita Adijarto ada referensinya pak?
    August 18 at 5:41pm · Like ·

  • Jufran Helmi
    @Pak Was. Aduh, nggak sempat memastikan referensinya. Beberapa buku tentang ilmu mustalah hadis, sdkt banyak membahas ini.
    August 18 at 5:54pm via
    Facebook Mobile · Like ·

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail