mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Thursday, September 9, 2010

Kasih Sayang


Kalau ditanyakan kepada seseorang apa yang paling diingatnya kalau dikatakan "<em>ibu</em>". Rasanya akan jarang yang menjawab bahwa ibu adalah simbol "<em>kasih sayang</em>". Saya boleh menebak, kebanyakan kita akan menjawab bahwa ibu adalah perempuan yang melahirkan kita. Hanya itu. Karena, memang hanya itulah yang sanggup diingat manusia kini tentang peranan ibunya. Tak lebih dari itu.
Bahkan, mungkin hari ini, kata "ibu" tidak lagi mengingatkan orang dengan kata "<em>menyusui</em>", "<em>memelihara"</em> , atau kata "<em>mendidik</em>". Fenomena sosial menunjukkan mulai banyak anak yang tidak menyusu pada ibunya lagi, tetapi menyusu pada sapi. Demikian juga, mulai banyak anak yang tidak dipelihara ibunya sendiri, tapi dipelihara oleh orang lain. Lebih-lebih lagi dididik. Sudah mulai jadi trend, anak dibiarkan tumbuh begitu saja tanpa didikan sang ibu. Dengan hilangnya peran-peran penting pembawa kasih sayang ibu itu, manusia pun lupa bahwa sesungguhnya ibu adalah simbol kasih sayang.
Secara fitrahnya, ibu sebenarnya adalah simbol "<em>kasih sayang</em>" antar manusia. Lihatlah, bila kita diminta menggambarkan sebuah model ideal kasih sayang sesama manusia, kita akan teringat dengan kasih sayang antara ibu dan anaknya. Betapa indahnya kasih sayang itu. Ia benar-benar tulus tanpa pamrih. Kasih sayang itu berlandaskan pengorbanan bukan berdasarkan manfaat atau keperluan. Tak seorangpun akan sanggup menderita demi orang lain, lebih-lebih lagi bila orang lain itu menyakitinya, melebihi penderitaan ibu demi anaknya.
Fitrah ibu ini, rasanya, ada kaitan dengan rahim ibu. Semua kita terlahir dari satu rongga yang terletak di dalam tubuh ibu yang bernama<em> rahim</em>. Ia dinamai sama seperti salah satu nama Allah "<em>Ar Rahim</em>" yang berarti <em>kasih sayang</em>. Sesuai dengan namanya, di dalam rahim itulah bermula kasih sayang ibu pada kita. Kasih sayang memancar ke seluruh tubuh kita, terasa oleh seluruh saraf dan mengalir ke seluruh nadi darah. Maka, selama sembilan bulan pertama kehidupan, kita diperkenalkan dengan kasih sayang hingga ia begitu terdefinisi dalam ingatan kita. Selama sembilan bulan di dalam rahim ibu itu, kita merasakan apa itu kasih sayang sebelum kita keluar ke dunia ini.
Baru saja kita lahir, keluar dari rahim ibu itu, kita menjerit sekeras-kerasnya. Itu pertanda ketidakbahagiaan. Kita mulai merasakan ada yang hilang dari dalam diri kita. Itulah kasih sayang. Sebagai akibatnya, setelah manusia itu lahir ke dunia, ia begitu haus dengan kasih sayang. Kasih sayang menjadi keperluan hidup seperti perlunya kita akan makanan dan minuman. Kalau di suatu ketika kita merasakan ada kasih sayang, kita akan bahagia. Kita akan bahagia berada di tengah-tenga orang yang menyayangi. Tapi, tatkala kita tidak memperoleh kasih sayang dari orang-orang di sekitar kita, kita akan benar-benar menderita. Itulah fitrah yang telah Allah ciptakan di dalam hati manusia. Kasih sayang sangat menentukan kebahagiaan manusia.
Sebenarnya, kasih sayang yang diharapkan antar manusia adalah kasih sayang seperti kasih sayang ibu dan anak itu. Idealnya memang seperti itu. Mungkin kadarnya tidak akan persis sama dari orang perorang. Dengan mendekati saja, manusia akan cukup bahagia. Hal itu karena kasih sayang, sesungguhnya, adalah pancaran kasih sayang Allah. Allah lah yang menebarkan kasih sayangNya kepada makhlukNya. Pada seorang ibu, pancaran itu telah dibentuk melalui fitrahnya. Tapi, kasih sayang antar manusia mesti dibangun dengan suatu upaya sungguh-sungguh berlandaskan keimanan. Karena ia bersumber dari Allah, bukan tidak mungkin kasih sayang dapat dihadirkan di hati manusia walaupun mereka tidak mempunyai hubungan darah seperti ibu dan anak. Kalaulah model seperti itu bisa diwujudkan antar manusia, damailah dunia ini karena keperluan hidup yang asas itu terpenuhi.
Karena kasih sayang adalah keperluan hidup, Allah meminta manusia untuk saling memberi kasih sayang. Rasulullah diminta memulai gerakan kasih sayang ini melalui da'wah dan perjuangannya. Orang tua diminta memberi kasih sayang kepada anaknya. Anak-anak diminta memberi kasih sayang kepada orang tua. Sesama kerabat, keluarga, suami-istri diminta agar saling menyayangi. Yang tua diminta menyayangi yang muda. Yang kaya menyayangi yang miskin. Pemimpin wajib menyayangi rakyat. Rakyat pun wajib menyayangi pemimpinnya. Kasih sayang menjadi sebuah keperluan yang sangat penting dan vital dalam hubungan antar manusia. Tanpa kasih sayang manusia akan menderita.
Tapi malangnya kita, hal ini tidak disadari. Betapa banyak anak-anak yang akhirnya <em>broken home</em> karena kehilangan kasih sayang dari keluarganya. Yang ada dalam keluarganya hanya kebencian. Maka pergilah mereka mendapatkan kasih sayang ke tempat lain. Betapa banyak pasangan suami-istri akhirnya harus berpisah karena tak menemukan kasih sayang dalam rumah tangga. Betapa banyak pula pemberontakan rakyat terjadi kepada para pemimpin karena mereka tidak memperoleh kasih sayang.
Karena begitu pentingnya kasih sayang, kasih sayang menjadi sentral ajaran Islam. Islam adalah agama kasih sayang. Setelah manusia membangun hubungan dengan Allah dalam wujud <em>takut dan cinta</em>, manusia harus menjalin hubungan sesamanya. Tali yang menghubungkan antar sesama manusia adalah <em>tali kasih sayang</em>. Allah memuji orang-orang yang berjuang sekuat tenaga memperkuat tali ini. Sebaliknya, Allah mencerca orang-orang yang memutuskannya. Rasulullah bersabda, " <em>Tidak akan masuk surga orang-orang yang memutuskan tali kasih sayang."</em>
Dalam kehidupan kita sekarang kasih sayang adalah barang langka. Kehidupan kita sudah dipenuhi oleh hubungan ekonomi, politik, atau sosial. Kasih sayang sudah dikubur. Semua diukur dengan uang dan barang. Padahal kasih sayang inilah yang membawa manusia ke dalam kebahagiaan. Ia lebih berharga dibanding harta benda. Tanpanya, manusia benar-benar akan menderita. Tapi mengapa kita tak sungguh-sungguh memperjuangkannya hingga ia benar-benar tegak? Kapankah datangnya pemimpin yang akan mengikat hubungan indah itu kembali?
Wallahu a'lam
Bagaimana pendapat Anda?

 
  • Wuryaningsih Budiastuti, Andi Budiman Melihat fenomena yg terjadi sekarang kayaknya kita butuh training akan arti pentingnya " kasih sayang " demi sebuah hidup dan kehidupan yg lebih bermakna . Trima kasih . Mencerahkan !
    Yesterday at 4:10am via Jufran Helmi
    @Andi. Ide yang bagus
    Yesterday at 4:16am · LikeUnlike ·

    Facebook Mobile · LikeUnlike ·

    Pakop Dahlan and Marieska Verawaty like this.

  • Ersis Warmansyah Abbas Semakin menkajubkan Pak ... lanjut
    Yesterday at 4:18am · LikeUnlike ·

  • Jufran Helmi
    @Pak Ersis. subhanallah.
    Yesterday at 4:29am · LikeUnlike ·

  • Marieska Verawaty Kasih sayang bisa tumbuh dan semakin subur dengan keinginan selalu memberi tanpa memikirkan mendapatkan balasan ... pikirkan bagaimana selalu memberi ... hilangkan harapan untuk mendapatkan balasan ... mudah2han kasih sayang tumbuh dan subur ...
    Yesterday at 4:31am · LikeUnlike ·

  • Mang Edhok

    Tapi ada hal yang mengganjal dipikiran saya. Dari data kriminal yang masih kami ingat disimpulkan: Ibu (terutama) ibu muda yang terhimpit tekanan ekonomi bisa berbuat jauh lebih kejam dari yang kita duga. Dan yang mengherankan lagi fenomena...
    See MoreYesterday at 5:08am · LikeUnlike ·

  • Yogaswati Dewi
    "Kasih sayang".., adalah suatu perasaan. Ia berbeda dengan "nalar/logika". Nalar bisa diterima dan dijalankan melalui pengamatan dan pengetahuan. Kita bisa sangat mempercayai dan memegang nya secara konsisten mis. suatu teori matematika...
    See MoreYesterday at 6:14am · LikeUnlike ·
  • Erryk Kusbandhono Marilah kita jalinkan kasih sayang sesama kita, kian lama makin pudar, nampak gersang di hati ini. Kita siram kembali dg air iman yg suci, dg menabur budi di dlm hati ini. Berkasih sayang perintah Allah..
    -Nada Murni-
    Yesterday at 6:50am via Endah Kurniadarmi

    Kasih sayang saat ini tidak menjadi prioritas untuk diajarkan. Setiap orang merasakan dan mempelajari dengan kemampuan indranya masing2. Apakah kita masih mengelola hal-hal bersifat material? Rasional? Ntahlah... kebutuhan untuk mengajarkan...
    See MoreYesterday at 9:19am · LikeUnlike ·

    Facebook Mobile · LikeUnlike ·

  • Jufran Helmi
    @Marieska. Kalau hawa nafsu memang maunya hanya menerima tanpa memberi. Baginya memberi itu menyusahkan, merugikan. Itulah sebabnya kasih sayang mesti menggeser kedudukan hawa nafsu itu.

    @Mang Edhok. Kadang-kadang kita nggak habis fikir, se...
    See MoreYesterday at 9:39am · LikeUnlike ·
  • Wuryaningsih Budiastuti Sebagai ibu yang 'biasa-biasa' aja, saya sih hanya meyakini bahwa yang dari hati akan sampai ke hati juga. Semoga anak-anak kita mengerti apa yang menjadi cita-cita dan doa orang tuanya....amiin
    Yesterday at 9:40am · LikeUnlike ·

  • Jufran Helmi
    @Wuryaningsih. Siip. Saya setuju.
    Yesterday at 9:47am · LikeUnlike ·


  • Erryk Kusbandhono
    @ Pak Jufran; Hehe, terlalu berat pak. Kalau dimasukkan lagu religi islami terpopuler, iya. Coz, saya dulu mengenal nasyid ini masih kecil tapi s/d skrg masih hafal. Salut & bangga buat Abuya; Bapak Nasyid Islami..
    Yesterday at 10:02am via
    Facebook Mobile · LikeUnlike ·



0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail