mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Saturday, September 4, 2010

Zindik


Pada dasarnya ruh kita memiliki kapasitas yang luar biasa. Hasil penelitian sains modern dan nash agama (AlQuran dan AsSunnah) mendukung pernyataan itu. Kapasitas ruhani itu pula bisa ditingkatkan melalui berbagai terapi dan latihan-latihan. Penelitian ilmiah tentang itu sebenarnya belum selesai. Banyak misteri pengalaman ruhani yang belum terungkap: sebutlah seperti kemampuan indra ke-6, kemampuan telepati, hypnosis, mimpi, yaqazah, dll. Sains modern masih berbicara separuh yakin dan separuh ragu tentang topik-topik itu.
Sementara itu, upaya manusia yang tidak berpijak pada sains, betapapun diremehkan oleh orang-orang yang mengaku terpelajar, masih terus berjalan. Kita tahu, usaha untuk melatih ruh itu tidak hanya dikenal dalam Islam, tetapi dikenal juga pada agama lain ataupun pahaman animisme atau atheisme. Kita tahu bahwa dunia kerohanian itu telah diramaikan oleh berbagai kalangan yang beraneka ragam: praktek perdukunan, paranormal, mentalist, hypnosist, spiritualisme, dan berbagai nama lainnya.
Islam, sebagai agama sempurna, ternyata tidak melewatkan masalah ini. Semua hal yang menjadi topik kajian dengan nama spritualisme dll itu ternyata sudah tercakup dalam Islam. Bagi kawan-kawan yang terlalu banyak mengaji di bidang ilmu fiqih, memang akan terasa asing dengan istilah-istillah itu, karena memang ilmu fiqih lebih berorientasi pada hukum syariah yang lahiriah saja. Tapi, bagi yang mempelajari ilmu tasawuf , istilah-istilah itu jadi makanan sehari-hari.
Walaupun tasawuf bagian dari ilmu Islam, mengarungi dunia tasawuf perlu sedikit hati-hati. Ada banyak tariqat (lebih tepat yang menamakan dirinya tariqat). Mereka kebetulan menggunakan berbagai istilah dalam tasawuf, seperti syariat, hakikat, makrifat, mujorobat, karamah, wali, mursyid, dll, namun sebenarnya ia tidak berasal dari Islam. Maka banyaklah penyimpangan di dalamnya.
Dalam Islam jelas. Tasawuf mesti berpijak di atas landasan aqidah dan syariah. Menyimpang dari dasar itu, tertolak keislamannya. Imam Malik berkata, "Tasawuf tanpa fiqih adalah zindik."
Karena itu, untuk memastikan suatu tariqat itu berasal dari Islam dan mursyidnya berjalan di jalan Allah, kita memang harus selalu membuka akal dan mata hati, seraya terus bermunajat dengan Allah agar senantiasa dibimbingNya pada jalan yang lurus. Jangan berhenti untuk mengakrabi aqidah dan syariah. Jangan putus berhubungan dengan AlQuran. Itulah senjata utama menemukan mursyid dan menemukan tariqat yang shahih.
Nanti, Allah sendiri yang akan mendatangkan satu sebab sehingga tersingkaplah topeng-topeng mursyid palsu itu. Kita akan memergoki bahwa dia tak layak jadi mursyid. Kita akan diperlihatkan oleh Allah berbagai inkonsistensi dalam dirinya. Ingatlah, bahwa kemungkaran itu sesungguhnya rapuh. Kalau sudah begitu, tidak usah menyesali apa yang sudah kita tempuh. Anggaplah itu satu estase yang memang harus kita lalui dalam hidup. Berpindahlah segera ke jalan yang lain. Begitulah seterusnya sampai kita benar-benar berada di jalan yang benar.
Wallahu a'lam
Bagaiaman pendapata Anda?

 
  • Wuryaningsih Budiastuti, Ersis Warmansyah Abbas Makasih, pengetahuan baru ... bagi saya
    September 4 at 6:20pm · LikeUnlike ·

    Marieska Verawaty, Jusuf Fateh and 2 others like this.

  • Jusuf Fateh

    Bismillaah,

    Islam itu agama yang sempurna baik dari segi ilmunya maupun pengamalannya semua mempunyai sistem yang teratur dan tepat, yang pada akhirnya akan membawa manusia pada keredhaan Tuhannya.

    Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kita ...
    See MoreSeptember 4 at 10:52pm · LikeUnlike · Mang Edhok Setuju bahwa tasawuf mesti berpijak di atas landasan aqidah dan syariah. Kenapa? Ya sederhananya begini. Tasawuf itu trademarknya Islam kalau agama non-Islam mau dompleng2 ya jangan, pakailah istilah laen. Itu urusan dia sendiri. Tapi Islam memiliki aturan sendiri. Kalau mengaku Islam seseorang tidak cukup hanya mengatakan. Sholatnya juga lima waktu titik. Tidak. Syarat lain yang digariskan Islam juga harus diikuti.
    September 5 at 12:59am · LikeUnlike ·

    1 personLoading... ·

  • Jufran Helmi
    @Yusuf dan Mang Edhok. Uraiannya lengkap sekali dan menambahkan materi pada judul ini. Semoga yang lain mendapat manfaat.
    September 5 at 11:13am · LikeUnlike ·

  • Yogaswati Dewi Benar Kang Jufran.., dengan senantiasa berlindung kepada Allah, meski ilmu baru sedikit, IA Maha Membimbing kita pada yang benar dan mempertlihatkan pada yang salah ya...sebagian, sebagian...terus saja dalam proses learning kita di kehidupan...
    Monday at 7:26am · LikeUnlike ·


  • Jufran Helmi
    @Yogas, sebodoh-bodohnya manusia, dia tidak dilahirkan sebagai kertas kosong. Di hatinya sudah ada iman dan ilmu. Dia pun dilengkapi akal. Dengan modal itu saja, dia sudah bisa melihat sedikit banyak yang benar dan yang salah. Cobalah tanya nurani kita tentang satu hal yang kita lihat. Nurani yang paling dalam bisa merasakan ini benar ini salah.
    Monday at 10:10am · LikeUnlike ·



    Pasted from <http://www.facebook.com/note.php?saved&&note_id=432343048777>




0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail