mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Sunday, April 15, 2012

Pemanjat Kelapa


Jika kera bisa cemburu, maka yang paling pantas mereka cemburui adalah Sutan Rangkayo Mudo. Gara-gara ia muncul tiba-tiba sebagai tukang panjat kelapa, sebagian pekerjaan yang biasa dikerjakan kera berpindah-tangan kepadanya. Sejak itu, jam panjat kera di kampung Bayur jadi berkurang.

Keterampilan Sutan memanjat memang luar biasa.  Kalau memanjat, ia tak ubahnya seperti orang yang sedang merangkak di atas batang kelapa yang rebah saja, padalah batang yang dipanjatnya itu tegak perkasa beratus meter menjulang ke udara. Perut atau lututnya tak pernah sekali pun menyentuh batang yang dipanjatnya itu. Hanya telapak tangan dan telapak kakinya saja yang menempel mantap tanpa pernah terpeleset. Dengan sangat cekatan, ia memindah-mindahkan posisi tangan dan kaki bergantian sambil bergerak ke atas.

Bila baru saja ia diberi aba-aba untuk mulai memanjat, dalam waktu satu menit, Sutan sudah sampai di ketinggian 60 meter. Dalam dua menit ia sudah dua kali lebih tinggi. Artinya, kecepatan panjatnya adalah 1m/detik. Dengan kecepatan panjat seperti itu, ia pun kebanjiran order dari penduduk kampung Bayur yang rata-rata hidup dari berjualan kelapa di samping berjualan ikan laut.

"Aku memadukan ilmu mekanika dan metafisika," jawab Sutan dengan pongah ketika seorang anak muda mencoba menggali rahasia kehebatan pemuda yang juga berprofesi sebagai rentenir itu.

"Kalau memutar uang, " lanjutnya, "aku berguru pada ibuku. "

"Tapi, kalau panjat-memanjat, aku berguru pada makhluk di alam rohani yang tak terlihat oleh mata, hua ha ha," kata Sutan dengan sombong, sambil memukul-mukul pundak kawannya yang bertanya itu.

Betapapun kecepatan memanjat Sutan belum sepenuhnya mengalahkan kera, tapi kera-kera di kampung Bayur itu hanya pandai memilah antara kelapa tua dan muda. Sedangkan, Sutan Rangkayo Mudo mempunyai kelebihan lain.

Untuk kelapa muda, ia bisa membedakan mana kelapa yang sesuai untuk diminum bayi, diminum anak-anak, dan diminum perempuan hamil. Untuk kelapa tua, ia bisa memilih mana kelapa yang sesuai untuk santan rendang , santan gulai ikan, santan lemang, dan santan serbaguna. Lebih-lebih lagi, ia pun bisa menjadi konsultan untuk memilihkan pelepah yang layak dipakai untuk rangka atap rumah atau kandang anjing.

"Sabar ya, George," kata Bujang Kureh, suatu hari, berbisik ke telinga kera miliknya yang melongo, melihat atraksi Sutan di atas batang kelapa yang tinggi menjulang. Kera betina milik Kureh itu kini sudah jarang dapat pesanan memanjat lagi.

Bila banyak gadis-gadis yang menontonnya memanjat, Sutan pun tak lupa memainkan akrobat berpindah dari pelepah yang satu ke pelepah yang lain seperti siamang. Untuk akrobat ini, ia tak memungut tambahan bayaran.

Bagi gadis-gadis kampung Bayur pengagum ilmunya itu, konstruksi wajah Sutan memang terbilang lucu. Wajah Sutan tidak jelek , tapi jelas tidak tampan. Kalau satu garis ditarik dari pertengahan keningnya ke pertengahan dagunya, titik tengah hidungnya tidak persis berada di garis itu seperti hidung kebanyakan orang. Hidung Sutan agak bergeser sedikit ke samping kanannya. Lubang hidungnya besar sebelah. Bukan itu saja, keunikan wajahnya ditunjang oleh rahangnya yang agak mendongak, sehingga kalau ia marah wajahnya terlihat seperti jajaran genjang. Walaupun demikian, ia termasuk pemuda yang percaya diri.

Wajah unik itu ditunjang oleh lehernya yang panjang dan kurus. Turun naik jakunnya terlihat jelas kalau ia sedang menelan. Serasi dengan lehernya itu, badannya pun panjang. Ia tampak lebih tinggi bila berada di kerumunan orang-orang. Walaupun ia kikir dengan uang, ia tak kikir bila ditugasi urusan menggantungkan lampu petromak ke tempat yang tinggi di setiap ada kenduri khatam Quran. Karena tubuhnya yang tinggi itulah, jabatan sebagai pengurus lampu tak lepas dari dirinya di setiap kepanitiaan.

Badannya memang kerempeng sehingga tujuh pasang tulang rusuknya tampak berbaris kalau ia tak berbaju. Tapi, otot pangkal lengannya berisi, gempal. Itu mungkin karena ia memang seorang pemanjat bayaran. Otot itulah yang selalu dipamerkannya bila ada yang menantangnya berkelahi.

Sebenarnya, Sutan sudah lama menaruh hati kepada Rubayah. Waktu Rubayah masih sekolah di ibtidaiyah. Ia selalu membuntuti gadis kecil itu ketika berjalan pulang dari madrasah.

"Saya hanya menjaganya dari terkaman babi hutan," kata Sutan berkilah ketika suatu kali ada kawan yang mengolok-olok kebiasannya itu.

Rubayah kecil yang tak faham apa-apa tentang asmara itu hanya bisa ternganga ketika suatu hari pemuda yang lebih tua 20 tahun itu nekad melamarnya jadi istri.

Ketika Rubayah sudah di usia kawin, Sutan melamarnya untuk kedua kalinya. Ia datang membawa penganan kesukaan orang tua Rubayah. Berikat-ikat rambutan, duku, pisang, dan petai tak lupa dibawanya sebagai mahar lamaran. Karena lakunya tidak menaruh simpati, ia pun pulang dengan tangan hampa.

Yang paling mengejutkan ialah ketika Sutan nekad datang untuk ketiga kalinya ketika Rubayah baru sepekan melahirkan Malin Kundang. Ia tahu kalau suami Rubayah itu tak akan pernah pulang lagi sejak perahunya ditemukan orang karam di tengah laut. Ia tahu kalau Rubayah kini tinggal berdua dengan anak satu-satunya yang masih bayi dan yatim itu.

"Percayalah, Rubayah. Anakmu ini memerlukan ayah pengganti untuk ia bersandar ketika susah dan tempat bergurau ketika senang. Akulah orang yang tepat untuk itu. Kita sama-sama memerlukan. Engkau janda, aku pun duda," katanya meyakinkan Rubayah.

Rubayah hanya diam. Sambil terus memasangkan baju untuk anak kecilnya itu, Rubayah melemparkan senyum hambar. Rubayah sudah mendapat kabar bahwa Sutan Rangkayo Mudo itu sudah beristri tiga. Dan, ketiga-tiga istrinya terlantar begitu saja. Tidak diceraikan dan juga tidak dinafkahinya. Sekarang, seperti manusia tanpa beban, ia mendatangi Rubayah, memasang perangkap bagi calon mangsanya yang keempat.
Firasat Rubayah berkata, "Engkau bajingan tengik. Engkau musang berbulu ayam."

"Maaf ya, Tuan. Biarlah saya membesarkan anak ini sendirian." jawab Rubayah sopan sambil menebar senyum di wajahnya yang bersih. Tapi dalam hati ia berkata," Aku tak mau anakku punya ayah seorang pembohong, seorang laknat."

"Biarlah dengan tanganku sendiri, kutunaikan amanah ayah Malin hingga ia menjadi orang, " lanjut Rubayah dengan suara sopan.

Berpuluh hujat dan depat dilemparkan Sutan Rangkayo Mudo. Setiap itu pula, Rubayah menepis dengan sopan, dengan argumentasi yang tersusun secara logika. Berpetak-petak sawah dan kebun serta berbungkah emas, perak, dan tembaga simpanannya, yang entah ada entah tidak, ikut disebut-sebut Sutan untuk dipamerkan kepada Rubayah. Tapi, janda muda itu tetap tak tergoda. Setiap hujah Sutan dijawab oleh Rubayah dengan cerdik cendikia, sehebat jawaban Sokrates di pengadilan seperti yang ditulis Plato di dalam Apologia.

 Akhirnya, Sutan Rangkayo terpaksa pulang. Tak diminumnya secangkir teh yang terhidang dari tadi. Ia keluar dari rumah Rubayah sambil sedikit membungkukkan badannya yang panjang agak tidak terantuk pintu depan, kemudian ia menuruni tangga rumah Rubayah sambil menenteng kembali bawaannya.

 "Ia akan tahu pembalasanku, " geramnya dengan hati yang mangkal.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail