mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Friday, May 18, 2012

Setting

Setting adalah salah satu diantara lima elemen cerita. Bersama-sama dengan plot, karakter, tema, dan style, setting menjadi sebuah elemen yang membangun satu cerita secara keseluruhan.

Cerita yang saya maksud termasuk cerita fiksi ataupun non-fiksi. Bedanya hanya terletak apakah cerita itu ril ada atau cerita itu bercampur antara yang ril dan yang imajiner.

Kalau plot mengandung istilah pengantar, rising up, climaks, rising down, serta resolusi, maka setting mengandung istilah setting ruang dan setting waktu. Di dalam setting itu seluruh karakter, baik protagonis dan antagonis akan beraksi, berkelahi, berdialog, dll.

Bayangkan setting itu adalah tata panggung. Sebuah panggung yang dilengkapi dengan back-drop lukisan raksasa sebuah kota yang sibuk yang terlihat dari jendela kaca. Kota yang terlihat itu terdiri dari deretan gedung pencakar langit, kendaraan yang sedang macet, lalu lintas manusia. Di panggung sendiri ada tempat tidur, kursi sofa, dan meja belajar yang tua. Seluruh perkakas yang ada di panggung adalah perkakas sebuah kamar hotel murahan dan kuno.Dari keseluruhan terlihatlah bahwa setting yang dirancang itu sebuha kamar hotel murah dan kuno yang terletak di tengah kota metropolitan yang megah dan ramai.

Setting pun harus menggambarkan waktu dan zaman. Apakah waktunya siang hari atau malam hari. KAlau malam, tentu ada cahaya lampu. Kalau siang, ada cahaya matahari. Zaman pun harus tergambar dari setting. Apakah setting pada tahun 1920, 2010, atau 2090.

Di dalam setting ruang dan waktu itulah, karakter akan beraksi, berlaga, atau bercakap-cakap. Dari keseluruhan setting akan tergambar budaya, geografi, suhu, dsb.

Karena cerita akan bergerak mengikuti plot, setting ibarat gerbong, plot ibarat rel, sedangkan karakter adalah penumpang kereta api yang berada dalam gerbong.


Ada beberapa kaidah dasar dalam menulis setting. Saya akan sebutkan beberapa saja.

1. Detail.
Setting mesti detail. Jangan malas menulis detail. Gunakan berbagai strategi: simile, metafora,personafikasi

2. Gunakan deskripsi penginderaan.
Satu penginderaan terlalu kering. Gunakan lebih dari dua.Misalanya 3 atau 4.

3. Gunakan eksposisi intelektual. Untuk hal-hal yang tak mungkin dideskripsikan secara visual, gunakan pendekatan eksposisi ilmiah. Eksposisi ini bisa eksposisi dari sudut fisika, kimia, biologi, asstronomi, ekonomi, sosiologi, psikologi, kedokteran, sastra, bahasa, dll.

4. Ambil yang penting.
Lupakan hal yang tak penting atau yang sudah diketahui banayk orang. Jangan tulisakan semuanya. Masih perlukan anda menuliskan warna daun, warna langit, dll?  Rasanya, itu tak terlalu penting. Anak kecil juga ttahu kalau daun warnanya hijua. Tapi kalau daunnya berwarna aneh, perlu dimasukkan dalam setting..

5. Show not tell.
Show artinya tunjukkan apa yang nampak sebelum menjelaskan. Kata "air matanya menetes" lebih show dibanding "ia menangis".

Dari pengalaman para penulis fiksi, setting cerita diperoleh dari berbagai sumber, diantaranya:

1. Pengalaman sendiri ketika mengunjungi suatu tempat
Pengalaman sendiri merupakan sumber yang paling utama. Seluruh aspek emosional telah terpaut dalam pengalaman itu sehingga dengan mudah pengalaman berubah menjadi setting yang apik. Tidak ada seorang penulis pun yang sudah  mengunjungi semua tempat yang ada di dunia ini.

2. Mendengar pengalaman yang dituturkan atau ditulis orang lain.
Pengalaman orang lain pun tak kalah serunya. Jangan sia-sakan kesempatan bertemu dengan orang-orang yang sudah pernah ke suatu tempat. Dengarkan cerita mereka. Baca buku cerita mereka.

3. Menelaah berbagai informasi tentang suatu tempat memalui "Google"
Mesin Google menyediakan banyak informasi yang tersedia di dunia maya, baik itu dokumen, foto, atau video. Berbagai informasi dengan mudah didapatkan. Anda tak repot-repot terbang ke ruang angkasa kalau hanya untuk menulis setting ruang angkasa. Klik Google tentang ruang angkasa. Anda dapat menemukan berbagai foto, video, atau penjelasan tentang ruang angkasa.

4. Hasil imajinasi
Menariknya menulis fiksi adalah karena Anda dapat menulis setting imajiner. Termasuk dalam hasil imajinasi ini adalah hasil pengalaman yang diperkaya dengan berbagai informasi lain, atau penggabungan berbagai informasi dan pengalaman ke dalam satu setting.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail