mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Wednesday, January 15, 2014

Berjumpa Rasulullah SAW Melalui Mimpi atau Yaqazah

Rabiul Awwal, lebih khusus 12 Rabiul Awwal, adalah hari yang paling banyak dipergunakan untuk berbicara atau berbincang-bincang tentang Rasulullah SAW.  Itu bukan sebagai keharusan tapi hanya kebiasaan saja. Bukan kelahiran beliau saja yang menjadi fokus perbincangan antara kita di saat maulid seperti ini, tapi juga kehidupan sampai kewafatan beliau.  Yang tak kurang diperbincangkan adalah pengalaman spiritual yang dialami beberapa orang berupa perjumpaan dengan manusia utusan Tuhan itu melalui mimpi.  Semoga Allah limpahkan salawat dan salam kepada sang teladan ummat itu serta keluarga dan pengikut yang senantiasa rindu dengan beliau.

Dalam tulisan ini, saya ingin berbicara sedikit perihal bermimpi bertemu Rasulullah.  Saya termasuk yang belum pernah bermimpi bertemu baginda SAW, walaupun saya sangat menginginkannya.

Seorang sahabat saya menanyakan kalau kita bermimpi bertemu Rasulullah dan di dalam mimpi itu kita mendapatkan arahan dari beliau untuk melakukan sesuatu, apakah menjalankan arahan itu  merupakan sesuatu yang bersifat wajib? Saya tidak tahu persis apakah kawan ini memang pernah bermimpi demikian atau ia hanya berandai-andai. Yang tidak bisa disangkal adalah bahwa mimpi bertemu Rasulullah sangat didambakan oleh kaum muslimin.

Yang menjadi dasar keimanan kaum muslimin adalah sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh beberapa perawi hadis yang mengatakan bahwa barang siapa yang bermimpi bertemu Rasulullah, sesungguhnya orang itu benar-benar telah berjumpa dengan Rasulullah karena setan tidak bisa meniru wajah Rasul itu. Nah, kalau di dalam mimpi itu Rasulullah menyuruh orang itu melakukan sesuatu, timbul persoalan apakah perintah itu wajib dijalankan atau boleh ditinggalkan.

Bukankah taat pada Rasul adalah wajib?

Tidak ada yang salah dengan peristiwa mimpi dengan Rasulullah. Setiap orang dapat mengalaminya. Bila kerinduan sesorang kepada Rasululllah sedemikian besarnya, Allah sering meresponsnya dengan cara mempertemukan orang itu dengan Rasulullah di dalam mimpi atau di dalam yaqazah.

Mimpi berbeda sedikit dengan yaqazah. Mimpi terjadi di dalam tidur sedangkan yaqazah adalah sejenis mimpi tapi terjadi ketika seseorang tidak tidur.  Yaqazah dapat terjadi ketika seseorang dalam keadaan diam,  zikir,  atau merenung.  Bisa juga yaqazah terjadi ketika seseorang sedang mengerjakan pekerjaan tertentu.

Walaupun berbeda juga dengan mimpi, pada hakikatnya yaqazah adalah mimpi juga.  Hanya tidur dan tidak tidur saja yang membedakannya.  Karena yaqazah ini tidak dialami oleh banyak orang seperti halnya mimpi, sangat sulit meyakinkan beberapa orang awam kalau yaqazah ini benar-benar bisa terjadi.

Peluang bisa bermimpi dengan Rasulullah adalah satu anugerah yang besar dan luar biasa bagi orang-orang yang beriman.  Kerinduan akan Rasul sering berbuah mimpi dengan beliau. 

Orang-orang tertentu bahkan dapat mengalami yaqazah.  Orang yang beriman sangat merindukan peristiwa itu. Bahkan, Syekh Yusuf An-Nabhani menulis satu buku khusus tentang bagaimana menjemput mimpi dengan Nabi ini. Beliau mengatakan di dalam buku itu bahwa salah satu hikmah bershalawat atas Nabi secara konsisten adalah diperjumpakannya kita oleh Allah dengan Rasulullah SAW melalui mimpi atau yaqazah.

Berbahagialah siapa saja yang pernah bermimpi ataupun beryaqazah dengan Rasulullah SAW tersebut. Semoga mimpi itu merupakan respons pengakuan Allah atas rasa rindu kita yang sangat dalam pada diri uswatun hasanah itu. Pesan-pesan yang diterima dari Rasulullah melalui mimpi itu tentulah pesan-pesan yang berharga.

Tapi, perlu diketahui oleh kita semua bahwa bagi manusia biasa yang bukan nabi atau rasul, tidak ada jaminan dari Allah bahwa informasi/pesan yang kita peroleh dari mimpi atau yaqazah itu sebagai sesuatu yang pasti benar.

Mimpi manusia biasa masih mengandung isyarat atau simbol-simbol yang tak mudah dipahami akal.  Selain itu, mimpi manusia biasa itu bisa diinteferensi oleh obsesi nafsu manusia itu sendiri, dan bahkan dapat diintererensi oleh setan. Bukan tidak ada kebenaran dalam mimpi, tapi kebenarannya sudah tercampur-campur dengan berbagai hal, termasuk nafsu dan setan.

Makanya, dalam syariat Islam, ada tuntunan Rasulullah SAW  tentang apa yang harus kita lakukan kalau kita bermimpi. Tak semua mimpi boleh diceritakan pada orang lain, dan tak semua informasi dari mimpi boleh disebarluaskan.

Allah hanya menjamin kebenaran mimpi para nabi dan rasul (QS:48:27). Bagi orang-orang selain nabi dan rasul, mimpinya masih memerlukan ta’bir (penafsiran akan makna yang sebenarnya). Dan, ta’bir mimpi itu tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Bahkan, tidak semua nabi memiliki kemampuan mena’bir mimpi orang lain seperti kemampuan nabi Yusuf, a.s.

Karena itu, bagi kita yang bukan nabi dan rasul, jadikanlah mimpi itu sebagai sumber inspirasi saja, bukan sumber informasi, karena tidak ada jaminan kebenaran informasi di dalamnya. Sepanjang isi mimpi itu tidak menyalahi syariah dan akal, silakan saja dituruti. Telah banyak orang, seperti pengusaha, seniman, dan saintist yang membuktikan kesuksesannya setelah terinspirasi dari mimpi.

Tapi, jangan lupa, banyak pula orang yang kecewa setelah mengikuti apa kata mimpinya.
Tapi, kalau mimpi itu memberikan informasi yang menyalahi syariah dan akal sehat, jangan sekali-kali dituruti, walaupun yang memberi informasi di dalam mimpi itu mengaku Rasulullah.
Ingat, setan bisa mengaku sebagai Rasulullah walaupun tidak bisa menyerupai wajah beliau. Kalau setan itu datang dan mengaku Rasul, kita yang tidak mengenal wajah Rasul yang asli tentu tidak akan akan mengenalinya.

Seluruh imam mujtahid telah sepakat untuk tidak mendasari ijtihad mereka dari mimpi ataupun yaqazah. Padahal, bermimpi atau beryaqazah pastilah sesuatu yang bukan mustahil terjadi pada mereka juga karena mereka manusia biasa. Mereka justru menutup rapat-rapat isi mimpi dan yaqazah mereka itu untuk orang lain agar tidak disalahpahami, kecuali untuk hal-hal tertentu dengan alasan yang tertentu juga. Dalam semua keputusan ijtihad, mereka  mendasarkannya pada Al Quran dan As Sunnah, dan juga ijma’ ataupun ijtihad ulama yang mendahului mereka.

Kembali kepada pertanyaan semula, “Bagaimana kalau salah seorang bermimpi dengan Rasulullah, dan dalam mimpi itu beliau menyuruh melakukan sesuatu?”
Menurut saya, melakukan sesuatu yang halal tidak salah dalam pandangan syariah dan akal. Silakan melakukannya. Tidak apa-apa, bukan? Tapi bila sesuatu itu adalah sesuatu yang haram, perintah itu wajib ditinggalkan.  Semoga kita terhindar dari pendekatan setan yang dengan lihainya yang dapat menggunakan sarana mimpi berjumpa Rasulullah sebagai alat menipu manusia.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail