mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Wednesday, January 15, 2014

Mengendalikan Banjir Kok Repot?

13897074571615484472
Banjir di Jakarta (sumber foto: google)

Mengendalikan banjir itu sederhana saja, tidak perlu repot.  Pengendalian banjir dimulai dengan mengenali hukum-hukum air.  Air secara fitrahnya mengalir dari tempat yang tinggi menuju tempat yang rendah bila kepada air itu tidak ditambahkan energi.
Karena itu, air hujan yang mencurah dari langit akan merayap dipermukaan bumi mencari tempat yang rendah.  Sebagian air yang kebetulan menemui pori-pori tanah akan meresap ke dalam tanah,  sebagian lagi yang tidak terserap akan terus mengalir menuju tempat-tempat rendah lainnya dimana pun.

Bila tempat yang rendah itu kebetulan sebuah selokan, air akan masuk ke dalam selokan itu. Tapi, bila selokan itu penuh atau tersumpat,  air akan mengalir ke tempat rendah lainnya. Nah, bila tempat rendah itu adalah masjid, restoran, bahkan istana presiden, air akan masuk ke sana. Air tenyata tidak peduli tempat yang rendah itu tempat apa. Tempat maksiat ataupun tempat ibadah bagi air sama.

Inilah hukum air. Setelah kita mengenal hukum alam air, pengendalian banjir hanyalah penyediaan sarana yang cukup  sehingga air  itu mengalir sesuai hukum-hukumnya.  Sederhana bukan?

Begitu sederhanya persoalan banjir itu, penyelesaiannya tidak perlu harus pakai teriak-teriak, tuding sana tuding sini.  Penyelesaian banjir tidak perlu harus dikait-kaitkan dengan isu politik, dll.  Pada tingkat individu, cukup pastikan bahwa di tempat Anda ada selokan yang dasarnya lebih rendah dari halaman rumah, ukuran selokan itu cukup menampung seluruh aliran air, dan selokan itu bersambung tanpa tersumbat dengan selokan lain, parit, kali, atau sungai yang dasarnya lebih rendah lagi dan ujungnya bermuara ke laut.

Ketika seorang kawan saya begitu semangat menceritakan bahwa rumahnya terendam banjir, saya ikut pilu dan menyampaikan rasa berduka cita.  Tapi, saya bertanya pada dia. “Adakah selokan di sana?

“O, ada,” jawabnya ringkas.  ”Selokan itu tidak mampu menampung air lagi.”

“Sudahkah  Anda pastikan ukuran selokan itu memadai untuk menampung hujan yang turun? Dan apakah selokan itu bersambung ke selokan lain yang lebih rendah menuju ke laut?”  tanya saya kepad kawan itu.

“Wah, itu kan tugas Pemda,”  jawabnya.

Nah, inilah persoalan yang sebenarnya. Kawan saya itu dengan tenang tinggal di satu perumahan dan tidak pernah berpikir apakah di komplek perumahan itu ada selokan yang ukurannya memadai secara volume dan selokan itu bersambung ke selokan lain, parit, kali, atau sungai yang ujungnya bermuara ke laut.

Ketika isu selokan itu saya tanyakan, dengan enteng dia menjawab bahwa itu urusan Pemda.  Aha. Jadi, urusan dia hanya tinggal di rumah itu dengan tenang, setiap hari asyik menonton TV. Setenang itu ia tinggal di sana, tentu lebih tenang lagi  pak RT, pak RW, pak Lurah, atau pak Walikotanya.

Kalau demikian cara berpikir kita masing-masing, wajar saja kalau kita terpaksa bersibuk ria bila musim hujan tiba. Kita akan menyaksikan dengan mata kepala sendiri sejumlah air yang tidak menemukan jalan ke laut tiba-tiba mampir bertamu ke rumah kita, numpang menginap di ruang tidur, ruang belajar, dan dapur. Kita akan menyaksikan kalau air itu ternyata  tidak dapat pula dibujuk pergi ataupun dipaksa meninggalkan rumah kita betapapun berbagai tudingan penyebab banjir telah kita lemparkan ke mana mana dengan emosi.

Kalaulah kawan saya itu punya mata dan telinga hati, tentu ia akan mendengar  dan melihat bahwa air itu sebenarnya sedang marah, mengamuk, karena tidak diberikan jalan ke laut.
Mengendalikan banjir pada ahkikatnya hanyalah memastikan tersedianya selokan, parit, kali, atau sungai yang lebih rendah,  sebagai tempat air yang tidak terserap tanah mengalir ke laut. Mengendalikan banjir artinya juga  memastikan ukuran selokan, parit, kali, dan sungai itu cukup menampung volume air yang akan mengalir. Mengendalikan banjir  artinya hanyalah menjaga jangan sampai selokan, parit, kali, dan sungai itu mengalami penyempitan atau penyumbatan.
Begitu sederhananya pengendalian banjir, mengapa sepertinya  masyarakat bahkan pemerintah menemukan jalan buntu?

Urus selokan maka selesailah urusan banjir.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail