mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Thursday, January 16, 2014

Mengapa Tidak Semua Bis di Busway?


Sumber foto: google

Tujuan busway dibuat di Jakarta sangat jelas, yaitu agar warga Jakarta lebih senang naik bis kota daripada naik kendaraan pribadi, bukan?.  Bila jalur bis diisolir dari kendaraan lain, bis akan lebih mudah melaju. Penumpang bis yang jumlahnya jauh lebih banyak dari penumpang kendaraan pribadi akan lebih cepat sampai di tujuan. Ujung-ujungnya peminat bis meningkat.

Cita-cita seperti ini benar. Artinya, pemerintah sudah berpihak kepada kepentingan orang yang lebih banyak.  Dan, nyatanya sekarang sejumlah jalan di Jakarta telah dilengkapi busway. Antusias masyarakat menyambutnya pun nampak.

Sayangnya, bukan saja jalur khusus bis ini disalahgunakan oleh kendaraan yang bukan bis, istilah busway  itu sendiripun salah kaprah.  Busway (baca baswei) itu didefinisikan secara salah ucap sebagai  sejenis bis, atau sebagai bis yang lebih besar dari bis biasa, bukan sebagai sebuah jalur.

Kadang-kadang terasa lucu, memang, ketika misalnya ada yang ngomong, “Ada motor yang ditabrak busway dan pengendara motor itu masuk ke kolongnya.”  Busway, di sini, diartikan kendaraan, kan?.  Yang dimaksud busway  sehari hari adalah bis Trans Jakarta.  Karena sudah salah kaprah begini, pasti banyak yang bingung kalau saya berkata, “Sepeda motor itu pasti  ngebut di atas busway.”

Malah untuk menyebutkan jalurnya, sering ditambahkan pula kata “jalur” lagi, sehingga menjadi jalur busway. Padahal, busway itu sendiri seharusnya berati jalur, yaitu jalur yang disiapkan khusus untuk bis atau bus.  Artinya, hanya kendaraan berbentuk bis atau bus yang boleh menggunakan jalur itu. Jenis kendaraan lain tidak.

Baiklah, saya kebetulan kali ini tidak berminat membahas kajian semantik atau linguistik.Terserahlah mau disebut apa, yang penting untuk memudahkan komunikasi, yang saya maksud busway di tulisan ini adalah “jalur untuk bis” , bukan “bis” nya itu sendiri.  Saya hanya sedang ada sedikit unek-unek untuk mengurangi macet di Jakarta dengan memaksimalkan penggunaan jalur khusus bis yang bernama busway itu. Harapannya, yang  punya kebijakan dalam pengaturan transportasi di Jakarta berkenan mempertimbangkannya.

Karena pasti dibangun dengan uang yang tidak sedikit dan dengan caci maki yang tak kurang-kurang kepada penggagasnya, sewajarnyalah kalau busway yang sudah ada ini,  harus difungsikan dengan baik dan benar.

Maksimalkan dong penggunaannya!

Caranya, jangan hanya larang mobil pribadi atau sepeda motor masuk busway. Tapi, wajibkan semua kendaraan berbentuk bis, baik bis besar, bis mini, atau bis mikro menggunakannya. Seburuk-buruknya bis mikro seperti Metromini mestinya juga digolongkan sebagai bis karena penumpangnya banyak.

Sepeda motor yang masuk busway silakan ditilang. Mobil-mobil  pribadi yang berpenumpang kurang dari 10, silakan ditilang. Tapi, bis yang tidak  masuk ke busway mesti ditilang juga.  Itu baru tepat sesuai nama busway yang sudah susah payah diserap dari bahasa asing itu.

Tujuannya,  busway benar-benar khusus digunakan untuk bis saja, sedangkan jalur  non-busway (jalur di luar busway), khusus juga untuk kendaraan yang bukan bis. Ini baru mantap.

Saya merasa miris melihat sebuah jalan protokol yang sudah dilengkapi jalur khusus bis di sisi kanannya, ada halte spesial pula, ada jembatan khusus, tapi jalur itu nampak kosong.  Hanya sekali-sekali jalur ini dilintasi oleh bis merah Trans Jakarta. Yang diperbolehkan masuk busway kan baru Trans Jakarta, sedangkan jumlah kendaraan jenis ini masih sangat sedikit.

Sementara itu,  di sisi kiri jalan,  sejumlah bis: Metromini, Mayasari Bakti, dll yang berpuluh-puluh jumlahnya berjubel berebut lahan dengan sepeda-motor dan mobil-mobil pribadi. Wajarlah kalau kendaraan-kendaraan kecil tergoda berpindah masuk ke jalur busway yang terlihat memang kosong.

Saya tak habis pikir mengapa busway yang mentereng dan mewah, yang dilengkapi pembatas khusus dan kadang-kadang dilengkapi pula dengan pengawalan khusus itu, hanya untuk bis Trans Jakarta saja. Bagaimana dengan Metromini, Kopaja, Mayasari Bakti, dll? Apakah bis-bis seperti itu tidak didefinisikan sebagai bis? Apa definisi bis kalau begitu?

Coba kita bayangkan baik-baik. Kalau busway yang sudah tersedia di jalan-jalan tertentu di Jakarta itu diberikan kepada bis umuml ainnya,  para pengguna bis akan bertambah jumlahnya karena naik bis jelas akan lebih cepat sampai di tujuan. Setidak-tidaknya,  akan bertambah satu alasan lagi warga Jakarta menggunakan bis, baik bis besar atau pun bis mikro sejenis Metromini.

Bagaimana dengan desain pintu pada kebanyakan bis di kiri?

Mudah.Karena pintu-pintu bis itu telah terlanjur dibuat di sebelah kiri sementara halte yang ada di busway terletak di kanan,tinggal kita ubah arah perjalanannya saja. Arah jalannya dibuat berlawanan dengan yang sekarang: dibalik.

Andapasti tahu apa yang saya maksud  “dibalik”. Kalau sekarang di jalur busway, bis berjalan ke utara dan halte bis berada di sisi kanannya. Sekarang, di jalur yang sama, arah perjalanan diubah jadi ke selatan sehingga halte menjadi di sisi kirinya.

Pada halte-halte yang lantainya tinggi, tinggal tambah tangga turun ke lantai bis agar ibu-ibu yang menggunakan rok atau kebaya tidak ragu melangkah.

Bagi bis Trans-Jakarta, perubahanini jelas tidak bermasalah karena bis gede ini mempunyai pintu di kedua sisinya.

Pengubahan arah bis di jalur khusus bis itu bukan saja akan memungkinkannya semua jenis bis menggunakan busway, tapi juga akan membuat pengemudi kendaraan pribadi dan pengendara sepeda motor berpikir tujuh kali sebelum masuk jalur khusus itu, ngeri! Mana ada yang berani adu kambing dengan bis.

Ini salah satu ide menambah daya tarik warga Jakarta menggunakan bis. Semakin banyak yang naik bis, secara bertahap jalanpun akan semakin lengang oleh mobil-mobil kecil.

Untukjangka panjang,  ide untuk menambah daya tarik penggunaan bis tentu bukan ini saja. Untuk jangka panjang perlu dicari ide-ide lain lagi secara lebih kreatif, misalnya memperbanyak bis-bis dengan desain yang lebih bagus, manusiawi, dan nyaman.  Kita perlu bis yang tempat duduknya lapang sehingga bila kita kebagian duduk di pinggir tidak harus termiring-miring. Kalau perlu, bis dilengkapi toilet dan cafe di bagian belakangnya. Kita perlu juga bis-bis yang semuanya ada wifi sehingga kalau kita bosan tidur, tinggal chatting  dengan kawan.

Selain itu, kita jelas perlu menambah lagi jumlah jalur khusus bis di Jakarta. Di jalan tol pun harus ada jalur khusus bis, busway. Saya sering melihat bis berpenumpang puluhan orang berdesakan dengan mobil pribadi yang isinya satu orang, padahal itu di jalan tol. Kasihan ibu-ibu yang ada di dalamnya. Sudah berdiri, wajahnya berburai peluh sehingga make-up nya luntur karena bis yang ditumpanginya merayap menerobos macet berjam-jam.

Jalan-jalanyang sudah terlanjur kecil dan sempit, dedikasikan sepenuhnya menjadi busway. Yang tidak suka naik bis, silakan jalan kaki.

Oh ya,jangan lupa, nanti kita perlu juga ada ojekway, jalur khusus untuk ojek dan sepeda motor.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail