mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Friday, January 17, 2014

99 Cahaya di Langit Eropa Tapi Gratis




Yang gratis itu tetap saja menarik. Menyambut tawaran menonton gratis, di bioskop berkelas, di kursi VIP pula, tentu tidak ada pantangan sedikitpun bagi saya, he he he. Barangkali ini bawaan masa kecil saya yang tidak pernah absen kalau ada layar tancap di kampung yang pasti gratis. Kalau sekarang, saya tinggal cari waktu dan jam yang tepat saja. Kalau waktu ada, sikon mendukung,  go!

Tiket menonton gratis yang langsung dihadiahkan oleh Hanum Salsabiela Rais, penulis buku 99  Cahaya di Langit Eropa, yang diperoleh istri saya di majelis pengajiannya, saya manfaatkan dengan baik penuh antusias di Cinema  XXI, Pondok Indah Mall, Jakarta, Kamis Malam, 16 Januari 2014.  Ditemani istri, popcorn, dan secangkir kopi dingin (pakai es) yang tidak boleh dibeli kecuali di sana, saya menikmati pemandangan kota Vienna, Paris, dan sekilas Cardoba di bagian akhir. Kira-kira total 100 menit saja, tidak termasuk beberapa menit iklan di bagian awal.

“Kenapa diputus ya?” tanya saya heran ketika tanda-tanda film mau berakhir sudah ditampilkan di layar.

“Apanya?” istri saya balik bertanya heran.

Saya baru sadar kalau istri saya belum baca bukunya.  Saya beruntung, jauh hari sebelum menapaki kaki ke teater dingin XXI ini, saya telah membeli buku tentang perjalanan ini di Gramedia. Walaupun  belum sempat membaca tuntas, lumayan juga. Saya jadi bisa membandingkan 99 Cahaya di Langit Eropa versi buku dan versi film. Yang versi buku adalah karya asli  Hanum Salsabiela, putri sang tokoh reformasi 1998, Amin Rais dan versi film adalah buah tangan Guntur Soeharjanto.

Di buku, kota terakhir yang dikunjungi Hanum dan Rangga adalah Istambul. Di film, kunjungan Hanum dan suaminya itu  hanya sampai di Cardoba, Spanyol. Cordoba itu pun digambarkan sekilas saja. Entahlah,  mungkin yang belum tampil akan dimasukkan ke edisi lanjutannya.  Kita tunggu.

Menurut saya, Acha Septriasa dan Abimana Arysatya bermain cantik dengan peran masing-masingnya sebagai Hanum dan Rangga. Dua sejoli  yang satu cantik dan satu ganteng, yang baru kali ini saya temukan wajahnya di film, berhasil digiring oleh sang sutrdara, Guntur Soeharjono,  dari satu scene ke scene lain sebagai karakter point of view.  Perlu diketahui, point of view (POV) film ini berpindah-pindah antara tokoh Hanum dan Rangga selaku karakter utama.  Ekspresi wajah, gerak, dan bicara kedua bintang muda berbakat ini cukup berhasil mempresentasikan karakter Hanum dan Rangga versi buku.

Sayangnya, walaupun Raline Shah, bintang yang juga tak kalah cantik ini,  telah  bermain maksimal  sebagai seorang imigran Turki lengkap dengan kerudung ala Turki, dan cucuran airmata sebagai seorang ibu muda dengan persoalan anak kesayangannya, belum sepenuhnya mampu menggambarkan tokoh Fatma Pasha dalam versi buku.  Ini menurut saya.

Fatma Pasha seharusnya pribadi yang mampu membuat orang mendapatkan hidayah melalui keluruhan akhlak dan ketinggian intelektualnya.

Ini bukan pengalaman saya yang pertama menonton film hasil adaptasi buku. Tidak mudah memang mengubah content sebuah karya tulis menjadi karya sinematografi.  Kesulitan itu sudah saya ramalkan bahkan sebelum berangkat ke bioskop. Buku karya Hanum Salsabiela tentang Eropa ini sarat dengan deskripsi. Kalau yang dideskripsikan Hanum adalah tata ruang Viena, Paris, dan Cordoba masa kini, tentu dengan mudah sang sutradara  mengerahkan juru kamera merekam apa yang ada sekarang. Tapi yang dideskripsikan wartawati putri tokoh politik Indonesia ini adalah kota-kota besar di Eropa dalam dimensi sejarah. Wow, betapa sulitnya kembali ke zaman penyebaran Islam untuk pertama kali di Eropa. Saya kira belum ada sutradara Indonesia sekapasitas itu. Kalau pun ada, produsernya mungkin yang belum ada. Kalau penonton, sih  banyak. Apalagi komentator.

Saya bisa bayangkan betapa beratnya sineas Indonesia memfilmkan deskripsi  penulis seperti di dalam paragraf berikut. Coba simak.
“Islam dulu pernah menjadi sumber cahaya terang benderang ketika Eropa diliputi abad kegelapan. Islam pernah bersinar sebagai peradaban paling maju di dunia, ketika dakwah bisa bersatu dengan pengetahuan dan kedamaian, bukan dengan teror atau kekerasan.”
Yang paling memungkinkan difilmkan dengan budget yang sedang, dengan jumlah kamera terbatas, tentulah paragraf ini:
Tinggal di Eropa selama 3 tahun adalah arena menjelajah Eropa dan segala isinya. Hingga akhirnya aku menemukan banyak hal lain yang jauh lebih menarik dari sekedar Menara Eiffel, Tembok Berlin, Konser Mozart, Stadion Sepakbola San Siro, Colloseum Roma, atau gondola gondola di Venezia. Pencarianku telah mengantarkanku pada daftar tempat-tempat ziarah baru di Eropa. Aku tak menyangka Eropa sesungguhnya juga menyimpan sejuta misteri tentang Islam.”
Karena sulitnya, yang misteri akhirnya dibiarkan menjadi misteri dengan hanya diungkapkan di dalam film secara narasi dengan suara Acha Septriasa yang memerankan Hanum di latar belakang. Narasi di latar belakang yang terlalu banyak ini, dari awal sampai akhir, membuat sebagian penonton yang terbiasa menonton film silat menjadi  gundah gulana. Bagi yang terbius dengan film-film serial Tom & Jerry tentu akan menilai film ini terlalu lambat.

Tapi terus terang, gabungan ucapan, senyum dan sorot mata Marion Latiner menerangkan kepada Hanum tentang bagaimana Napoleon Bonaparte membuat garis lurus antara Paris dan Makkah Al-Mukarramah sungguh mendebarkan jantung. Saya suka dengan scene ini. Saya suka dengan caranya mengerakkan tangan menunjukkan betapa lurusnya garis itu. Selain itu, scene tentang sengatan aroma ikan asin Indonesia yang menyengat hidung Austria seperti bau kaos kaki tentu juga menarik. Yang perlu saya pujikan pada film ini adalah penataan dialog antar tokoh yang tidak perlu repetitif seperti yang sering ditemukan  pada film-film murahan.

Secara keseluruhan, untuk menikmati pemadangan kota-kota di Eropa: Vienna, Paris, dan Cordoba, masa kini, film ini lumayanlah. Setidak tidaknya, saya menjadi berbisik kepada istri, “Bagaimana kalau kita ke Eropa liburan tahun depan?  Ngiri nih!”

Dan, Istri cukup meresponnya dengan kerlingan mata sambil senyum dikulum,  dengan ekspresi harap namun sulit mepercayainya.

Untuk mengenal seperti apa sepak terjang perjuangan islamisasi Eropa di zaman Kara Mustafa Pasha, yang menurut Hamun menggunakan pedang dan meriam, dan membandingkannya dengan yang diajalankan oleh Hanum sendiri berbekal hadiah sepotong ikan asinnya untuk tetangga, atau  yang dijalankan Fatima Pasha dengan traktirannya di café kepada tamu yang usil, atau yang dijalankan Marion Latiner di Paris dengan kesediaannya mengantarkan tamu ke pusat unseen story of Islam di sekitar menara  Eiffel, menurut saya, belum bisa diandalkan.

Perjuangan Islam mestinya sangat dramatis, dan bahkan tragis. Lebih-lebih di Eropa. Terus terang, menikmati goresan kalimat-kalimat yang dirangkai Hanum Salsabiela  dan Rangga Almahendra di buku jauh lebih mempesona dibanding di Film ini. Ini karena di bukunya pun, banyak sekali narasi yang sudah pasti tak mungkin semuanya dapat diterjemahkan ke dalam bentuk gambar.

Sebenarnya, kalau Hanum konsisten memperlakukan karya tulisnya itu sebagai karya fiksi murni, dia tak perlu sungkan-sungkan mengekplorasi semuanya itu dengan menghadirkan karakter-karakter fiktif namun dramatis. Dia tulis dalam show not tell. Dia tinggal masukkan tokoh-tokoh protagonist dan antagonist yang lebih bervariasi. Ini tentu akan lebih mudah difilmkan. Bahkan, sebagai karya sastra pun ini akan lebih mudah dapat pengharagaan.

Tapi, kalau penulis yang juga wartawati ini  berada dalam keraguan apakah buku 99 Cahaya di Langit Eropa ini enaknya dijadikan fiksi atau non-fiksi, sehingga akhirnya muncul di area abu-abu antara karya jurnalistik dan sastra, memang sulit bagi penulisnya membuat eksplorasi maksimal.

Walau bagaimana pun juga, saya salut kepada sang penulis yang telah berbagi cerita dan pengalamannya tinggal di Eropa, yang pasti asyik,  maupun kepada sang sutradara yang sudah susah payah mengangkat karya tulis menjadi sebuah sinema yang menghibur sekaligus mendidik.

Hanum, teruslah berkarya untuk bangsa melalui pena dan tintamu.  Terimakasih atas tiket gratisnya, he he he.  Kalau nanti ada edisi lanjutannya, jangan lupa mengirim lagi tiket grtisnya untuk kami, bertiga. Salam, ya, untuk Papa.



0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail