mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Sunday, August 15, 2010

Akal


Akal adalah sebuah potensi yang terdapat di dalam ruh manusia untuk mencerap informasi, mengolah, mengorganisasikan, dan menyimpannya. Akal ini merupakan salah satu kejadian yang ajaib dalam diri manusia. Semua manusia mengakui ini. Akal begitu sentral karena akal adalah pusat kesadaran manusia itu sendiri. Akal ini merupakan ruh manusia. Dalam diri manusia memang terdapat unsur ruh yang berada bersama jada lahiriahnya. Ruh inilah yang memancarkan cahaya akal. Ruh itu dinamakan ruh tamyiz.


Yang membedakan manusia dengan hewan adalah akal itu. Pada hewan terdapat ruh hayah yang mengendalikan metabolisme jasadnya: makan, minum, tidur, bergerak dan berkembang biak. Tapi, hewan tidak memiliki bahagian ruh yang memiliki akal seperti manusia. Hewan hanya mengenal dunia ini melalui panca indranya semata, sedangkan manusia, selain dapat memanfaatkan panca indra, dia dapat juga menggunakan akal.


Seperti hewan, manusia juga mempunyai ruh hayah untuk mengendalikan proses kehidupannya. Kehidupan manusia memerlukan makan, minum, bergerak dan berkembang biak. Karena itu, orang yang tidak mendayagunakan akalnya sering disamakan derajatnya dengan hewan. Orang yang menyuruh orang lain untuk tidak menggunakan akalnya sama dengan orang yang menyuruh orang lain menjadi hewan.


Artinya, kalau ada sekelompok orang yang berdiskusi sesama mereka dan dalam diskusi itu mereka sepakat untuk tidak menggunakan akal, maka kelompok itu seperti kumpulan hewan. Hewan-hewan yang tidak berakal ini, bukan saja tidak bisa menerima data empirik dari kejadian alam raya, bahkan mereka tidak akan dapat menerima doktrin-doktrin agama. Inilah hakikat sabda Rasulullah yang mengatakan bahwa agama itu akal. Agama hanya untuk yang berakal.


Akal memang hebat. Tapi, betapapun hebat, akal itu tetap terbatas kemampuannya. Tuhan tidak menciptakan akal untuk menerima segalanya tanpa batas. Alam ini terlalu luas untuk dipahami akal. Hidup ini terlalu kompleks untuk dimengerti oleh akal. Kalau akal itu tidak dihadapkan dengan wahyu Allah, dalam hal ini AlQuran dan As Sunnah, akal hanya akan mengumpulkan data-data empirik saja yang diperolehnya melalui penginderaan dan pengalaman.


Data-data empirik itu akan diolah oleh akal untuk menghasilkan keputusan-keputusan penting. Coba bayangkan, betapa beresikonya kerja akal itu. Betapa tidak akuratnya keputusan yang dibuat oleh akal bila ia hanya menerima data-data yang sangat terbatas. Karena kekurangan data itu, akal terpaksa melakukan tafsiran, peramalan, perekaan, khayalan, dll. untuk hal-hal yang diluar jangkauannya. Tidak mengherankan, jika orang yang dikendalikan akal semacam ini sebagian besar tersesat dari jalan yang benar, karena mereka terlalu jauh menyeret akalnya ke zona di luar kapasitasnya.


Berbeda dengan kondisi itu, kalau akal disodorkan dengan wahyu Tuhan, wahyu akan menghantarkan akal untuk melihat secara berimbang. Akal akan melihat bahwa alam ini bukan hanya alam fisik yang tercerap oleh indera yang lima. Alam ini bukan hanya data-data statistik yang dirumuskan dari laboratorium. Akal akan memahami bahwa alam ini jauh lebih luas dan kompleks sampai ke suatu wilayah yang tidak dapat dijamah oleh akal itu sendiri. Ada alam syahadah; ada alam ghaib. Ada yang zahir; ada yang bathin. Ada yang maknawi; ada yang rohani. Dan yang lebih penting ada Sang Pencipta dan Pengendali alam itu. Pemahaman itu hanya diperoleh akal melalui wahyu Allah.


Sudah pasti bahwa yang menyodorkan wahyu Allah itu kepada akal adalah iman, yaitu iman yang bersemai di dalam hati atau ruh manusia itu. Iman akan memaksa akal menerima wahyu Allah itu.


Akhirnya, dapat kita lihat hubungan yang sangat jelas antara iman dan kerja akal serta kaitannya dengan kesesatan seseorang. Bermula dari iman yang lemah, iman itu tidak mampu memaksa akal menerima wahyu Allah. Di lain pihak, nafsu yang ada juga di dalam diri manusia memaksa akal menolak wahyu. Akal akhirnya bekerja tanpa wahyu di bawah kendali hawa nafsu. Tersesatlah manusia itu.


Intinya, yang menyesatkan manusia itu bukanlah akal, melainkan hawa nafsu. Karena lemahnya iman, hawa nafsu menjadi raja diri manusia yang mengendalikan kerja akal.




Wallahu a'lam
Bagaimana pendapat Anda?

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail