Breaking

Friday, November 20, 2009

Friday, November 20, 2009

Ai, ternyata menulis itu memang sangat mudah. He he he.


Tulislah dulu satu kalimat, satu saja. Kalimat pendek boleh. Anda akan tahu bahwa menulis itu ternyata memang mudah . Tulislah lagi satu kalimat kedua sebagai pengiringnya. Anda akan rasakan bagaimana pikiran Anda mulai bangun dan menuntun Anda menulis kalimat yang ketiganya. Ikutilah tuntutan itu. Dengarkan suara hati. Ubahlah suara itu menjadi kalimat-kalimat berikutnya, sampai ia beriring-iringan seperti gerbong kereta api.
Setelah itu, Anda akan mulai merasakan aliran pikiran yang berbaris seperti serdadu Nazi, melompat keluar satu persatu karena takut dibunuh, berubah bentuk menjadi kalimat demi kalimat. Kini alirannya hampir tak bisa dibendung lagi. Otak menggelinjang. Botol pikiran itu kini telah seperti kehilangan sumbatnya. Mengalir dan mengalir.
Ai, ternyata, saya baru tahu menulis itu memang mudah, bahkan sangat mudah. Lihat, saya sudah selesaikan dua paragraf. Ajaib, bukan?
Saya ada cerita lama yang sedikit memalukan. Geli rasanya kalau diingat-ingat kembali. Suatu ketika dulu, tahun 80-an, saya bertemu satu buku yang ditulis oleh seorang penulis novel sohor Arswendo Atmowiloto yang berjudul, "Mengarang itu Gampang." Anda pernah baca buku itu? Terus terang, saya marah dan tersinggung.
Saya jawab, "Ah, siapa bilang mengarang itu gampang?" Kalaulah mengarang atau menulis itu gampang, tidaklah saya harus bersusah payah mencari tempat fotokopi yang murah sepanjang Gang Pelesiran di Bandung untuk mengopi "text book" asing, berbahasa asing, ditulis oleh orang asing, yang dipakai dalam kuliah, yang harga buku aslinya membuat kepala pening. Kalau menulis itu mudah, dosen-dosen itu pasti telah menuliskan kuliahnya dalam diktat-diktat yang pasti harganya terjangkau. Mengapa pula harus pakai buku tulisan orang lain? Bukankah di kampus sehebat ini, banyak pakar, bertaraf internasional, jebolan sekolah-sekolah antar bangsa? Tapi, buktinya tidak. Buku-buku agamapun pada waktu itu hampir seluruhnya karya terjemahan. Waktu itu kami banyak membaca buku2 tulisan ulama Mesir, Pakistan, dan Iran.
Saya punya bukti lain bahwa mengarang atau menulis tidak gampang. Tahukah Anda bahwa pernah juga dulu saya paksakan menulis dan mengirimkannya ke salah satu bulletin di kampus. Bulletin yang sama sekali tidak terkenal. Eh, tulisan itu ditolak mentah-mentah. Sang redaktur mengirimkan naskahnya kembali ke alamat saya, penuh dengan coretan dengan menyelipkan sebuah note, "Tulisan ini bagus, tapi maaf tidak bisa kami muat."
Apa salahnya, coba. Topiknya seingat saya tentang jin. Menarik bukan? Membicarakan jin waktu itu lebih menarik daripada membicarakan manusia. Tapi, mengapa tidak bisa dimuat?
Saya menuduh Arswendo Atmowiloto telah membuat lelucon besar. Dia meremehkan pekerjaan menulis seolah-olah setiap orang bisa melakukannya. "Gampang, gampang, tulislah!" Buktinya? Bukan saya saja, saya melihat ribuan intelektual, sarjana, dosen, mahasiswa, insinyur, dokter, ustaz, kiyai, manajer, bergelimpangan tidak bisa menulis. Inikah yang disebut "gampang" itu?
"Oh, mereka mungkin tidak punya bahan." Tak punya bahankah seorang professor?
"Oh, mungkin tak punya waktu." Selama 40, 50, bahkan 60 tahun? Tak bisa kah menyisihkan waktu untuk beberapa hari untuk sebuah buku atau beberapa jam untuk sebuah artikel?
Waktu itu, saya yakin hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menulis. Yang lain hanya berhak untuk membaca. Logikanya nampak seperti itu, harus lebih banyak pembaca dari penulis. Lha, kalau semua orang menulis, siapa lagi yang membacanya?. Orang yang sudah biasa menulis, kebetulan diberi rezki kemampuan menulis, seperti Arswendo tentu akan mengatakan menulis itu gampang. Pak Habibi juga akan mengatakan bahwa membuat pesawat terbang itu gampang. Kalau begitu apakah semua orang bisa membuat pesawat terbang seperti Pak Habibi?
Begitu sulitnya menuangkan pikiran ke dalam tulisan itu, sampai-sampai saya pikir saya ditakdirkan hanya untuk membaca bukan untuk menulis. Menulis saya anggap keterampilan luar biasa yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu yang IQ nya jauh di atas saya. Orang yang IQ nya sekelas saya, terimalah nasib untuk menjadi pembaca saja seumur hidup, jangan bermimpi jadi penulis. "Menulis tak kalah sulitnya dari merancang pesawat ruang angkasa, biar pakarnya saja" pikir saya.
Akhirnya untunglah saya bertemu juga dengan orang-orang pilihan, penulis-penulis yang senang berbagi ilmu. Mereka menempeleng "mental block" yang sangat memalukan itu. Mereka membantu mencabik-cabik "frame" berpikir saya, dan membantu melepaskan kaca mata kuda yang saya pasang sendiri untuk mengekang potensi yang sudah Tuhan anugerahkan pada saya. Saya anggap mereka orang-orang yang baik hati. Tuhanlah yang mengirim mereka pada saya. Alhamdulillah.
Menulis itu ternyata mudah. Bahkan sangat mudah. Sekarang saya ingin minta maaf kepada Arswendo karena sudah berprasangka buruk. "Mas, mengarang itu ternyata memang gampang, bahkan sangat gampang" Hua ha ha ha. Begitu gampangnya, sehingga tidak diperlukan kursus mengarang. Hua ha ha ha.
Kalaupun masih terasa sulit dalam menulis, itu hanya akibat kegamangan seperti gamangnya penganten baru menaiki ranjang pengaten di minggu-minggu pertama. Para penulis senior mengatakan bahwa sulitnya menulis seperti sulitnya belajar menyetir mobil pertama kali, tubruk sana tubruk sini. Keringat bercucuran, tapi menyenangkan. Kalau sudah sehati, menyetir mobil itu bisa sambil ngobrol, makan kacang atau chatting di HP.
Aduh maaf, jadi terlalu panjang nnarasinya.
Bagaimanapun juga, kursus atau workshop untuk membangkitkan motivasi dan memantapkan teknik-teknik khusus dalam kepenulisan, seperti teknik narasi, argumentasi, eksposisi, sastrawi, dll, sah-sah saja diikuti. Biayanya toh tidak seberapa dibanding dengan manfaatnya.
Anda berani menerima tantangan? Let's go...
Wallahu a'lam.
Friday, November 20, 2009

Menulislah dengan nama Allah karena menulis itu ibadah


Kaidah pertama Q'Writing adalah meletakkan "mindset" atau minda di hati bahwa menulis itu ibadah kepada Allah SWT. Menulis merupakan perintah Allah kepada hamba-hambaNya. Karena itu, menulis harus dilaksanakan karenaNya, untukNya, dan di atas jalanNya. Inilah yang dimaksukan dengan menulis adalah ibadah. Sebelum otak dijejali dengan seperangkat teori, teori ini dulu.
 Tidak terbayang betapa indahnya menulis, menghentak-hentakkan jari dengan lembut di atas keyboard atau menggoreskan pena di kertas, menuliskan pikiran dan perasaaan sementara hati penuh dengan rasa bertuhan dan rasa kehambaan? Apalagi kalau kita menulis selepas shalat dan wirid. Proses itu tidak hanya dapat menumbuhkan rasa bertuhan yang semakin dalam di hati yang menulis, tapi juga dapat memberikan keinsafan kepada yang membaca. Dan alangkah sia-sianya apa yang kita tulis, namun hati dipenuhi dengan hasrat duniawi, kepentingan emosional dan kebendaan. Menulis seperti itu pasti sangat menjemukan.
 Menulis yang paling indah adalah menulis sambil mendengarkan dendang hari nurani.Tidak hanya mengadalkan pandangan akal pikiran, tetapi mendengarkan bisikan hati nurani. Korek-koreklah sedikit celah-celah hati itu dan dengarkan kumandang suara Tuhan melaluinya. Kenang-kenangkan Tuhan. Kenang-kenangkan kemahapengawasannya, bahwa dia terus menerus mengawasi kita, melihat, mendengar, dan terus menerus berbicara dengan kita. Dengarkanlah baik-baik petunjuk-petunjukNYa. Perhatikan peringatan-peringatanNya. Jangan terlalu percaya dengan bisikan nafsu walau terasa sangat memberi harapan. Visualisasi nafsu di depan mata kita adalah tipu daya seperti fatamorgana.
 Mulailah menulis dengan menyebut namaNya, Ingat-ingatlah Dia selalu selama menulis, Ketika sampai waktu untuk menghadapNya, berhentilah menulis, tunaikanlah terlebih dulu kewajiban-kewajiban kepadaNya. Setelah itu, lanjutkanlah menulis kembali. Tak usah gopoh. Akhirilah tulisan Anda dengan memasrahkan kembali hasilnya kepadaNya, dengan rasa cemas, rasa was-was kalau-kalau Allah tak redha. Minta ampunlah kepadaNYa.
 Pikiran dan perasaan yang tertuang dalam tulisan Anda akan menjadi tulisan yang memiliki ruh, daya ledak yang dahsyat, bukan tulisan yang ompong, kosong. Tulisan-tulisan itu, betapapun sederhana, singkat, padat akan menjadi asas pembangunan peradaban manusia. Manusia bisa terhibur dan terobati dengannya.Tulisan ini akan menghiasi sejarah, sepanjang zaman. Betapapun jasad kita sudah terkubur, tulisan-tulisan itulah yang akan menggantikan keberadaan kita di dunia ini, sampai-sampai orang lupa bahwa sesungguhnya kita sudah wafat.
 Kita boleh menuliskan hal-hal yang sederhana saja dalam tulisan yang singkat, satu atau dua paragraf. Kalau mau boleh tulis yang berat-berat, berjilid-jilid. Kalau perlu berpeti-peti. Kalau mampu menuliskan rahasia alam semesta ini, tentang energi kuantum, DNA, biologi molekuler, nuklir, dll, tulislah, kenapa tidak? Kalau mau menulis tentang dinamika manusia, ekonomi, politik, sejarah, dll, tulislah, tidak usah ragu-ragu. Kalau tidak mampu menulis yang berat-berat, tulis yang ringan-ringan saja, tentang masa kanak-kanak yang lucu, tentang kawan yang jahil, tentang kecoa yang menjijikkan, dll. Kita boleh menuliskan pengalaman, pengamatan, bahkan khayalan. Khalayalan juga bisa, mengapa tidak? Menulis cerita fiksi itu sesungguhnya menuliskan khayalan. Sebagian besar anak-anak belajar menulis dengan menulis khayalan-khayalannya. Berkelanalah ke seluruh alam jagat raya ini. Tuliskanlah hasil pengelanaan itu dengan kata dan kalimat. Syaratnya cuma satu. Apapun yang ditulis, bagaimanapun gayanya, kapanpun waktunya, jangan lepaskan dengan rasa bertuhan dan rasa kehambaan.
 Mulailah dengan menyebut nama Allah, "Bismillahirrahmanirrahim, dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang." Bisikkan ke dalam hati, "Wahai Tuhan, izinkan aku menuliskan pikiran dan perasaanku. Tidaklah ada maksudku kecuali mengikuti perintahMu dan demi tegaknya kebaikan-kebaikanMu. Aku hanya seorang hamba, sementara Engkau adalah Tuhanku. Bimbinglah aku. Curahkanlah ke hatiku ilmu. Jangan biarkan setan dan nafsu mengganguku sehingga tercabut rasa takut dan cintaku pada Mu." Dengan cara itu, insyaallah akan lahir tulisan-tulisan yang mencerahkan bukan meresahkan, tulisan-tulisan yang membawa kebaikan bukan kehancuran. Alangkah indahnya dunia ini, jika semua tulisan yang beredar di buku-buku, majalah, media-media elektronik, blog-blog, website adalah tulisan-tulisan yang lahir dari 'abid-abid, yang hatinya penuh dengan rasa bertuhan dan rasa kehambaan.
 Inilah yang saya katakan dengan menulis adalah ibadah kepada Allah. Selama ini, ada sebagian kawan kita yang berpikir bahwa ibadah itu hanya untuk urusan taharah, shalat, zakat, haji, membaca Alquran, zikir, dan do'a saja. Di sekitar itu saja kita harus kaitkan dengan Tuhan. Itu keliru. Jangan pakai lagi ajaran itu. Seluruh aktifitas kita sejak bangun tidur sampai tidur lagi, dan bahkan dalam tidur sekalipun, harus menjadi ibadah, terkait dan dikaitkan dengan Tuhan dan syariatNya. Di mesjid kita beribadah, di pasar kita beribadah, di kantor beribadah, di kendaraan kita beribadah, bahkan di toilet atau kamar mandipun kita beribadah.
 Dengan indah dalam Al Quran surat Al Qalam, ayat 1 tertulis "Nun, walqalami wama yasturun." Demi pena, dan apa-apa yang ditulis. Betapa agungnya kegiatan tulis menulis dalam padangan Allah. Alangkah ruginya jika urusan yang seagung ini dijadikan sesuatu yang tidak berharga, tersia-sia, hanya karena mengejar mimpi duniawi belaka. Menulis mari menulis. Kita bangun lagi kasih sayang melalui tulis menulis. Menulislah karena Allah, untuk Allah dan di atas jalan Allah.
 Bagaimana menurut pendapat anda?
 Wallahu a'lam.

Tuesday, November 17, 2009

Tuesday, November 17, 2009

Terinspirasi dari bloger


Saya bangga bisa berkenalan dan belajar dengan dua tokoh yang saya anggap sebagai inspirator kepenulisan saya: Andrias Harefa dan Edy Zaqeus. Oh ya, juga Her Suharyanto. Ketiga-tiganya dari Writer Scholen, sebuah lembaga pengembang kemampuan personal, khususnya menulis. Awalnya saya akan belajar menulis secara autodidak saja. Malu-maluin rasanya sudah tua masih belajar menulis. Tapi saya pikir-pikir, saya mungkin sudah tidak punya waktu lagi, karena bahan yang akan ditulis banyak bukan main. Otak sudah penuh, lemaripun penuh. Untuk dapat jalan pintas, saya urungkan niat bermalu-malu itu. Saya nekat juga akhirnya mengikuti workshop kepenulisan yang diadakan oleh mereka. Setelah itu, saya lanjutkan dengan membaca buku-buku tulisan mereka yang khusus membicarakan perkara kepenulisan dan tak lupa saya kunjungi blog-blog mereka yang sangat inspiratif, karena mereka memang termasuk blogger. Andrias di http://andriasharefa.com, Edy di http://ezonwriting.wordpress.com, dan Her Suharyanto di http://jurutulis.com


Perlu diketahui akhir-akhir ini, saya suka mengunjungi blog-blog yang beredar di dunia maya. Sebagian blog itu saya cari sendiri melalui google atau yahoo, dan sisanya hasil link dari blog-blog yang sudah saya kunjungi terlebih dulu. Mungkin karena sudah kompak untuk saling membaca, biasanya para bloger itu menyediakan link ke blog-blog lain yang mereka rekomendasikan yang mereka namakan blog teman atau blog tetangga. Menarik sekali memang. Satu blog terbuka, yang lain akan susul menyusul.


Karena blogging kemana kemari, baru-baru ini mentor saya bertambah satu lagi dalam kepenulisan. Beliau adalah Ersis Warmansyah Abbas. Belum lama ini, saya dikejutkan oleh satu blog dengan tajuk "Menulis tanpa berguru, http://webersis.com. Saya belum pernah bertemu muka. Pertemuan satu-satunya melalui dunia maya saja. Menurut saya, inilah blog yang paling getol membicarakan tentang menulis. Bahkan saya sempat berpikir jangan-jangan sudah terlalu getol. "Pokoknya tulis, " itu katanya.


Berbeda dengan Andrias dan Edy yang menganggap workshop atau kursus kepenulisan perlu, Ersis malah mempertanyakan apa perlu adanya workshop atau kursus menulis diadakan. Bagi dia kursus itu menghabiskan waktu dan uang saja. Bagi Ersis menulis ya menulis. Tidak ada cara belajar menulis kecuali menulis tiap hari. Terus menulis sebanyak-banyaknya. Tidak bisa menulis yang panjang-panjang, tulis yang pendek. Bahan tulisan tersebar di mana-mana.


Untuk membakar semangat, saya sempat terbakar tapi tidak sampai hangus, pikiran Ersis ini boleh juga dipakai. Saya dibuat gregetan membaca tulisan-tulisannya. Dan saya setuju bahwa teknik menulis adalah keterampilan yang dipelajari di SD. Andrias pernah mengatakan itu juga pada saya. Hanya saja mungkin, kita tidak boleh abaikan adanya fakta, ternyata banyak orang yang tidak bisa menulis padahal bahan yang akan ditulisnya bertumpuk-tumpuk. Ersis sendiri yang sering mengatakan bahwa dosen-dosen lebih senang memamerkan buku orang yang sudah dia baca, bukan buku yang dia tulis, padahal dia mampu bercerita di depan kelas berjam-jam. Kalau ia mau menulis apa yang dia ceritakan itu, berpuluh-puluh buku akan lahir di tangannya. Saya kira ini benar-benar menyinggung perasaan para intelektual. Mungkin sebagian bertobat dan terus menulis, dan sebagian lagi berdendam pada Ersis.


Kalau saya gabungkan pemikiran Ersis dengan pemikiran Andrias dan Edy, intinya sama. Ada overlappingnya. Workshop atau kursus yang dipandang perlu oleh Andrias dan Edy, ternyata memang bertujuan membangkitkan motivasi, bukan belajar menyusun kata menjadi kalimat dan seterusnya menjadi pargaraf. Dosen-dosen yang diceritakan Ersis sebenarnya memang tidak memerlukan pelajaran menulis dalam arti menyusun kalimat, melainkan perlu suntikan motivasi. Jadi saya pikir, kursus menulis sah-sah saja, sebagai wadah pembangun motivasi. Bagi yang melihat bahwa faktor motivasi merupakan ganjalannya selama ini, maka ikutlah kursus. Bagi yang sudah memilikinya, silakan langsung memulai. Kalau saya, kayaknya masih perlu motivator.


Apapun yang mereka katakan dan apapun perbedaan pendapat masing-masing, ketiga orang ini telah menginspirasi saya. Dari inspirasi itu, sayapun telah menjelajah ke blog-blog lain yang tak terhitung jumlahnya, yang semuanya bicara tentang kepenulisan. Fiksi dan non fiksi sudah bercampur aduk. Yang ilmiah, yang pop, yang gaul telah menjadi satu. Kini giliran saya untuk menyiapkan teori baru dalam kepenulisan yang saya namakan "QuantumWriting", he he he.


Orang lain boleh berteori, mangapa pula saya tidak boleh? Ingat, antara Quantum dan Writing, sengaja tidak pakai spasi, biar nampak gagah.


Sudah banyak buku yang menggunakan kata Quantum, tidak masalah. Tenang saja. Tak usah malu-malu. Sebagian besar yang terjadi di dunia tulis menulis adalah tiru meniru dan ekor mengekor. Yang penting tidak membajak. Quantum itu sendiri istilah yang diambil dari Fisika modern yang mengoreksi fisika klasik tentang energi. Fisika klasik melihat energi sebagai suatu yang kontinu (kontinum) yang bergerak semacam gelombang, sementara Fisika modern melihat energi sebagai suatu paket yang teputus-putus yang dipancarkan yang besarnya berbanding lurus dengan masa dan kecepatan berpangkat dua, yang disebut Quantum


Karena menulis ternyata bukanlah masalah keterampilan, melainkan masalah energi, maka tepatlah kalau teori ini dinamakan dengan Quantum juga. Seperti saya sampaikan tadi, sebelum ini telah banyak buku yang menggunakan nama kuantum (pakai huruf "k") untuk menunjukkan antara energi dan kecepatan. Karena masa tetap, maka energi akan berbanding lurus dengan kecepatan. Semakin tinggi kecepatan semakin tinggi energi yang diperoleh. Para penulis senior telah membuktikan hubungan yang sangat jelas antara kecepatan menulis dan energi motivasi. Motivasi yang tinggi meningkatkan kecepatan menulis berkali-kali. Demikian juga kecepatan menulis menaikkan energi motivasi. Semakin cepat semakin energik.


Formula dalam QuantumWriting tidak diambil dari satu dua orang penulis hebat. Teori ini diramu dari lebih sepuluh penulis-penulis yang mau berbagi kepenulisan mereka melalui blog-blog. Mereka telah menelorkan buku-buk best seller di bidangnya masing-masing sebagai bukti kepenulisan mereka. Tak perlu disebutkan satu persatu nama mereka di sini. Mereka di antaranya penulis fiksi dan sebagian non fiksi. Sebagian mereka adalah penulis ilmiah, penulis pop dan sebagian lagi penulis gaul. Di dalam QuantumWriting ada paket-paket kecil tulisan, persis seperti kuantum energi. Namun setiap paket itu berdaya ledak yang tinggi. Setiap paket berdiri sendiri. Walaupun pendek secara materi tetapi dikerjakan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Ingat besarnya energi berbanding lurus dengan kecepatan berpangkat dua. Meminjam istilah Hernowo Hasim, teori ini adalah hasil pengikatan makna dari sejumlah teori.


QuantumWriting akan berisi metoda membangitkan semangat menulis dan metoda memproduktifkan tulisan. Formula ini diharapkan pula akan memberikan motivasi bagi para pencinta tulis-menulis dan memberikan metoda singkat dan padat bagaimana menjadi produktif dalam menulis. Semogalah lahir generasi yang yang akan membangun peradaban yang lebih baik di masa depan karena kita memulainya dari elemen asas membangun peradaban itu sendiri, yaitu menulis.


Anda ingin bisa menulis seperti penulis-penulis besar? Pelajari QuantumWriting! Selamat datang di dunia tulis-menulis yang menyenangkan. Para blogger, sila mengakses teori ini melalui http://batubertulis.blogspot.com


Bagaimana pendapat anda?


Wallahu a'lam.


 

Sunday, November 8, 2009

Sunday, November 08, 2009

Maqam hati


Fitrah semula jadi hati adalah tempat bertumpunya rasa bertuhan dan rasa kehambaan manusia. Hati telah dilengkapi dengan berbagai instrumen untuk itu seperti penglihatan , pendengaran, perenungan, pemahaman, dan perasaan. Hati mampu untuk menembus cakrawala.

Namun perjalanan hidup tidaklah selurus itu. Hawa nafsu yang selalu menginginkan kelezatan, kenyamanan, kemudahan, popularitas, kepentingan diri selalu menghempus dan mempengaruhi hati. Kelaparan dan kehausan jasad jugs ikut mempengaruhi hati. Lama kelamaan rasa bertuhan dan rasa kehambaan itupun lenyap dan digantikan oleh rasa keduniaan, tskut lapar, takut mati. Itulah sebabnya ketika kepentingan dunia kita terganggu, rasa sakitpun muncul di hati. Hatipun merasa tenang jika dunia terasa sudah di tangan.

Maqam tertinggi hati sebenarnya adalah ketika hati sudah tak pedih lagi dengan hinaan, cacian, kekurangan fasilitas duniawi. Coba simak bait berikut yang ditulis oleh Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad At Tamimi.

"Hatiku tidak susah diwaktu aku di hina,
tidak bersedih diwaktu aku menderita.
Aku tidak sedih diwaktu aku disisihkan,
tidak menderita ketika aku dicacimaki dan difitnah.
Aku tahu itu semua penghapusan dosa"

Hati yang sudah kembali rasa bertuhan dan rasa kehambaannya tak gelisah lagi dengan segala kepentingan duniawi. Yang dia cemaskan adalah ketika hubungannya dengan Tuhan terganggu. Dia cemas kalau-kalau Tuhan berpaling darinya.

Lagi-lagi bait dari Abuya Ashaari Muhammad At Tamimi:

"Tapi aku sedihkan dosa-dosa yang kulakukan,
Orang yang sepertiku ini sudah pasti tidak terlepas dari pandangan.
Aku sedihkan adalah kesalahan dan kesilafanku akan dosa-dosaku setiap hari memburuku.
Takut pintu syurga tertutup untukku, pintu neraka terbuka untukku"

Bagaiman menurut Anda?

Wallahu a'lam

Friday, November 6, 2009

Friday, November 06, 2009

Sariawan dan menulis


Ternyata ada hubungan antara sariawan dengan menulis. Mau tahu? Hampir sejak seminggu yang lalu saya di serang sariawan. Posisinya tepat di tepi lidah sebelah kiri, luka memanjang. Kalau dipakai bicara, sakitnya bukan main, karena ia menggeser ke geraham kiri. Tapi kalau dibawa makan yang pedas, tak terasa apa-apa. Entah sariawan atau hanya luka bekas tergigit, saya tak tahu pasti.

Akibat sariawan, saya harus mengurangi frekuensi berbicara. Kalaupun saya paksakan, saya akan "mengaduh". Ada beberapa obat yang sudah saya coba, nampaknya tidak mempan. Padahal di sisi lain, saya tidak mungkin berhenti berkomunikasi, baik untuk keperluan pribadi ataupun keperluan pekerjaan. Terutamanya keperluan pekerjaan. Setiap pagi biasanya saya harus diskusi dengan kawan melalui telepon.


Sebagai konsekuensinya, saya harus menulis. Kini terpaksa pakai e-mail atau chating sebagai pengganti telepon langsung. Saya jadi teringat guru-guru menulis saya yang bersusah payah memaksa saya menulis dan menulis, namun tak menulis juga. Gara-gara sariawan saya jadi terpaksa menulis. Bahkan sekarang malah jadi susah menghentikannya. Ada-ada saja yang ingin saya tulis.


Tak disangka hal yang kelihatannya tak terkait, ternyata terkait erat: sariawan dan menulis.


Walaupun ada hikmahnya, saya tetap berharap sariawan saya sembuh juga. Do'akan ya!. Dan, Anda jangan sama sekali berharap kena sariawan dulu seperti saya untuk mulai menulis.


Bagiamana pendapat Anda?


Wallahu a'lam


 

Friday, November 06, 2009

Perempuan?


Kaum lelaki sering iri dengan perempuan. Mengapa tidak? Perempuan dianugerahi Tuhan perasaan yang lebih sensitif. Ruhnya lebih halus. Akibatnya, rasa bertuhan dan rasa kehambaan lebih mudah menyentuh mereka sementara para lelaki harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan rasa itu. Akal,rasio, dan logika sering mengaburkan Tuhan dalam pandangan Laki-laki. Padahal rasa bertuhan dan rasa kehambaan merupakan aset terbesar hidup manusia. Sungguh, manusia yang paling beruntung di dunia adalah manusia yang memiliki kedua rasa itu. Laki-laki lebih sombong, angkuh, bahkan berani melawan Tuhan. Lihat Fir'aun, si lelaki penantang Tuhan.
 

Perasaan yang lebih sensitif pada perempuan memungkinkan mereka lebih menimbang rasa pada orang lain, lebih peka pada penderitaan orang lain, lebih iba melihat kesusahan orang lain. Itulah sebabnya mereka mudah mengulurkan kasih dan sayang. Lebih mudah memaafkan kesalahan orang. Sementara laki-laki lebih bebal, muka tembok, dan kadang-kadang lebih tidak tahu diri. Laki-laki lebih sulit meminta maaf dan memafkan. Lihat, hampir semua api peperangan di dunia dicetuskan oleh kaum laki-laki.
 

Anak-anak lebih dekat kepada ibu. Itu pasti. Kalau ada masalah pada anak, mereka akan mendatangi ibu-ibu mereka. Kalau ada konflik antara ibu dan ayah, anak-anak akan berpihak pada ibu. Sembilan bulan anak-anak terikat dengan rahim ibu mereka. Dua tahun berikutnya anak-anak meminum air susu ibu mereka. Laki-laki? Laki-laki hanya jadi panitia. Pantaslah kalau Rasulullah mengatakan bahwa surga ada di telapak kaki ibu. Maksudnya, anak-anak lebih nyaman dengan ibu dari pada dengan ayahnya.
 

Dan yang paling membuat laki-laki iri dengan perempuan adalah bahwa Tuhan menjadikan surga lebih dekat kepada perempuan. Untuk masuk surga seorang perempuan hanya dituntut mengerjakan yang wajib, meninggalkan yang haram, dan menta'ati suami. Bahkan dikabarkan bahwa do'a kaum perempuan akan mengguncangkan Arsy dan lebih mudah dikabulkan Tuhan. Malin Kundang berubah jadi batu karena do'a perempuan, yaitu ibunya.
 

Oh ya satu lagi yang membuat laki-laki iri. Perempuan tak usah payah-payah mengurus sendirian rumah tangganya. Dia bisa berbagi, sementara laki-laki mesti sendiri. Sendiri dan sendiri lagi. Aduh kacian deh laki-laki….
 

Bagaimana menurut Anda?
 

Wallahu a'lam.
 

Thursday, November 5, 2009

Thursday, November 05, 2009

Bila istri jadi wanita ruh


Mungkin ada suami yang khawatir, 'Apa jadinya istri saya setelah menjadi perempuan ruh?" Mungkin dalam hatinya terpikir apakah istrinya nanti akan kembali lengkap dengan wajah, rupa, sosok yang selama ini dikenalnya, atau akan kembali dengan sosok yang jauh berbeda. "Apakah ia akan kembali tanpa jasad atau jasad yang sudah berubah yang disesuaikan dengan rasa hatinya yang terkini? Itu soal jasad fisik. Selain itu, tentu ada juga yang berpikir apakah istrinya nanti tak akan lagi memiliki nafsu dan akal.

"Perempuan ruh" sesungguhnya hanyalah satu istilah untuk menunjukkan sosok perempuan yang rohnya telah dibersihkan dan disucikan. Ruhnya telah dikembalikan kepada fitrah semula jadi penciptaannya. Kini ruhnya menjadi ruh yang merdeka, bebas, dan bahkan bisa terbang kemana-mana. Bahkan ruh dari 'perempuan ruh" akan mampu menerbangkan jasadnya.

Waktu akan wafat, Rasululullah SAW pernah berpesan, "Annisa'…., annisa'!" Pesan itu bermakna, "Jagalah perempuan, jagalah perempuan!". Begitu pedulinya Rasulullah tentang perempuan, sampai-sampai di akhir hayat, beliau masih menyempatkan menyampaikan wasiat itu. Pastilah itu wasiat yang sangat penting yang tak boleh diabaikan begitu saja.

Rasulullah pernah mengingatkan kita bahwa sesungguhnya perempuan itu terbuat dari tulang rusuk laki-laki. Jika dibiarkan tanpa pimpinan, ia akan terus bengkok . Tapi jika diluruskan secara paksa dan keras, ia akan patah. Rasulullah juga mengingatkan bahwa dibandingkan dengan laki-laki, pengaruh hawa nafsu perempuan terhadap hatinya sembilan kali dibandingkan dengan laki-laki sementara pengaruh akalnya hanya sepersembilan dari lakik-laki. Artinya, hati perempuan lebih condong kepada pengaruh hawa nafsu dibandingkan dengan akal. Kenyataannya memang kita melihat perempuan lebih bersifat emosional dalam melihat sesuatu.

Tapi Mahahebat Tuhan. Tuhan ciptakan manusia berpasangan. Perempuan harus hidup dengan seorang laki-laki yang dengan laki-laki itu mereka akan saling berbagi kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kekurangan potensinya dari sisi rasional akan disempurnakan oleh akal suaminya. Kelebihannya dari sisi emosional akan menutupi kekurangan suaminya.

Kini istri sedang mengikuti proses pengembalian fitrah perempuan di baqwah bimbingan guru mursyid. Proses ini pastilah proses yang tidak mudah. Ada dua sebab. Pertama, kenyataan bahwa ruh bersifat ghaib. Hanya orang yang diberi jalan untuk itu saja yang bisa melakukan penempaan ruh. Kedua, pengaruh hawa nafsu yang telah berurat berakar sehingga telah menggeser cahaya fitrah dari tampuknya. Hal kedua inilah yang sering membuat kita kadang-kadang sering salah tebak dengan "curahan hati". Kita mengira itu berasal dari suara fitrah, padahal sebenarnya itu adalah letupan hawa nafsu yang telah bersarang di hati.

Kalau proses pengembalian ruh perempuan ini benar-benar berhasil, maka para suami akan melihat istri-istri akan kembali pulang dengan sosok yang sangat berbeda.

Istri akan menjadi lebih taat kepada suami. Mengapa? Fitrah perempuan diciptaakan sebagai makmum kepada suaminya. Banyak sebab luaran yang telah menggeser fitrah ini sehingga banyak istri hanya memandang laki-laki yang di rumahnya itu hanyalah seorang suami saja. Tidak sepenuhnya kesalahan perempuan. Sering-sering ini justru dipicu oleh sikap suami yang lebih pantas sebagai makmum.

Sesungguhnya lelaki itu adalah pemimpin perempuan. Di rumah, selain sebagai pemimpin ia merangkap sebagai suami. Peran sebagai pemimpin nampaknya telah lama tertutup. Yang nampak hanyalah peran sebagai suami. Karena itu kita lihat betapa mudahnya istri memasamkan muka kepada suaminya. Ia lupa bahwa ia memasamkan muka kepada pemimpin ynag dilantik Tuhan.

Istri akan menjadi sumber kasih sayang dalam rumah tangga. Alangkah indahnya kasih sayang itu. Alangkah hausnya kita dengan kasih sayang itu. Sayang sekali, kasih sayang sudah tidak ada di mana-mana sehingga repaotlah orang mencarinya kemana-mana. Padahal, sumber kasih sayang itu ada di rumah, yaitu pada ruh istri. Hawa kebendaan yang menyelimuti ruh istri telah menutupi pancaran kasih sayang itu sehingga rumah tangga menjadi gersang. Persatuan dalam rumah tak bisa diwujudkan karena tak ada tali yang mengikat, yaitu kasih sayang. Perempuan ruh akan menjadi resource kasih sayang yang tak habis-habisnya.

Istri akan menjadi sayap kiri perjuangan. Perempuan ruh akan menempatkan dirinya sebagai pemangkin semangat juang suaminya. Suami yang telah kehilangan harapannya akan kembali bersinar karena ia tak dilepas berjuang sendirian. Istri akan mendampinginya.

Istri akan menjadi fondasi penegakan syariat di dalam rumah tangga. Rasa takut dan cintakan Tuhan telah begitu menguasai dirinya. Halusnya jiwa perempuan lebih mudah untuk lebih cepat menerima rasa bertuhan. Hawa-hawa kebendaan akan sirna dari lubuk hatinya. Ini semua merupakan buah dari pendisiplinan shalat dan wirid.

Bagaimana menurut Anda?

Wallahu a'lam

Sunday, October 25, 2009

Sunday, October 25, 2009

Satu istri tak cukup?


Kawan saya bertanya, "Tak cukupkah satu istri?" Dia nampaknya gerah sekali menanggapi isu poligami yang diangkat kembali oleh media masa dan nampaknya ia tak sependapat kalau ada yang mengatakan, "Salah satu fitrah laki-laki adalah mengawini lebih dari satu perempuan." Dia tak percaya kalau laki-laki mampu mencintai empat perempuan sekaligus. Pernyataan ini dipandangnya tidak ilmiah dan mengada-ada, "ngawur", diskriminatif, dan sangat mendiskreditkan perempuan. Banyak kaum perempuan akan langsung tegak berdiri dan berteriak menentangnya, "Enak aja," kata mereka. Orang-orang yang merasa sebagai aktifis perempuan dan pejuang kesamaan gender, baik laki-laki atau perempuan, akan naik pitam dan marah.

Mari kita lihat sebentar.

Sebagian besar laki-laki saat ini memang memilih hidup dengan satu istri. Semua pejabat negara, presiden, para mentri, anggota DPR tampil dengan satu istri. Dalam formulir-formulir resmipun hanya disediakan satu form nama istri. Bahkan di facebook anda hanya boleh mendaftarkan satu istri. Pegawai negeri, TNI dan Polri yang disiplin, pasti punya satu istri, alias monogami. Kalau tidak, mereka sudah lama dipecat. Banyak kawan di lingkungan saya memang hidup dengan cara ini. Ayah ibu saya sendiri hidup dengan cara ini pula. Saudara-saudara saya hanya punya satu istri. Tapi bolehkah ini disimpulkan bahwa semua laki-laki selayaknya hidup dengan satu istri?

Karena begitu banyaknya dan populernya hidup dengan satu istri, ada pihak mengira inilah tabiat laki-laki yang benar. Laki-laki yang normal adalah laki-laki yang hanya mengawini satu perempuan seumur hidupnya. Laki-laki ini dipandang sebagai laki-laki yang setia. Rumah tangga monogami semacam ini dijadikan model rumah tangga yang ideal.

Sekarang mari kita lihat kenyataan yang lain. Betulkah semua laki-laki merasa cukup dengan satu istri? Menutup matakah kita kepada kasus-kasus yang lain yang hari demi hari selalu bermunculan ke permukaan? Bagaimanakah cara kita menanggapi kenyataan ini?

Mari kita lihat beberapa fakta sebelum kita menjadi hakim. Saya akan perlihatkan beberapa kasus saja kepada Anda.

Kasus pertama: laki-laki yang di samping menikahi satu perempuan secara resmi, menikahi juga perempuan lain secara "sirri" atau sembunyi-sembunyi. Banyakkah? Tidak terlalu banyak memang, tapi juga tidak bisa dikatakan sedikit.

Di setiap acara, dia memang muncul dengan satu istri yang resmi. Di rumahnya terpampang hanya satu foto istri. Bahkan anak-anaknyapun mengenal hanya satu istri ayahnya. Di kartu keluarga, dia cantumkan satu istri. Tapi, sebetulnya dia punya satu atau dua istri lagi yang tak pernah dimunculkan ke depan publik. Kenyataan sosial ini memunculkan istilah "istri simpanan" dan pernikahan "bawah tangan".

Beberapa pejabat, pengusaha, tokoh publik, selebritis, artis, ulama, kiai pesantren, dan bahkan preman tertangkap berkasus ini. Nikah sirri dipilih, biasanya, karena mereka takut pada istri , orang tua, mertua , anak atau kawan sejawat. Mereka takut karir bisnis atau politik mereka terganggu bila pernikahan mereka diresmikan dan dibuat terbuka, tetapi mereka takut juga dengan zina. Betapapun disembunyikan, lambat laun, akhirnya, banyak juga yang terbongkar. Ketika terbongkar, kasus ini biasanya menyisakan kepedihan yang sangat dalam bagi anak-anak, istri, mertua dan keluarga besarnya yang ujung-ujungnya adalah pembunuhan, perceraian, dan permusuhan. Kemungkinan besar masih banyak lagi kasus semacam ini yang belum terungkap.

Kasus kedua: laki-laki yang menggauli perempuan lain tanpa melalui pernikahan resmi. Berapa banyak pula kasus ini? Bayangkan sajalah. Anda pasti tahu. Istilah mereka, "hanya pacaran."

Hanya satu perempuan yang dinikahi sebagai istri, yang lain digauli di luar pernikahan. Perempuannya itu bisa tetap atau bisa juga diganti-ganti karena tidak ada ikatan pernikahan. Yang jelas perempuan itu tidak dinikahi. Jadi kata mereka, "tidak ada pertangungjawaban moril". Perempuan-perempuan itu biasanya berasal dari kalangan istri-istri kesepian atau remaja "broken home". Istilah lain yang terkenal adalah "perselingkuhan". Di depan istri dan anak-anak, ia tampil berlakon sebagai seorang suami yang setia.

Kasus ketiga: Ada laki-laki yang membeli perempuan-perempuan yang dia perlukan. Mereka menggaulinya dengan imbalan materi: uang atau fasilitas lainnya. Semboyan mereka, "Kalau bisa beli satenya, mengapa harus pelihara kambingnya?"

Adakah lembaga riset yang telah menghitung kasus ini? Yang jelas, "sales point"nya tersebar dimana-mana, dari model kaki lima, "door to door", sampai model "hypermart". Bahkan sebagiannya adalah berlokasi yang legal yang dipungut cukai oleh pemerintah daerah. Metoda marketingnya pun canggih: mulai iklan baris, tele-marketing, MLM, sampai berbasis internet.

Kasus keempat: laki-laki yang mengambil paksa perempuan-perempuan lain. Biasanya, perempuan-perempuan yang mereka ambil paksa adalah perempuan-perempuan yang berada dalam kekuasaannya, seperti pembantu rumah tangga, pegawai, dll. Bahkan ada yang mengambil paksa anaknya sendiri yang masih di bawah umur. Istilah yang populer adalah "pelecehan seksual". Tidak sedikitkah kasus ini?

Kalau boleh kita merenung sejenak, tidakkah kita mau melihat bahwa sesungguhnya ada yang timpang dalam hukum sosial kita. Selama ini kita memandang laki-laki yang menikahi satu perempuan secara resmi sebagai lelaki yang ideal, baik hati, dan adil sementara kita tidak pernah peduli apakah di samping istri resmi itu dia punya perempuan lain. Sebaliknya kita memandang rendah kepada lelaki yang menikahi lebih dari satu perempuan secara resmi dan terbuka dan menghimpunnya dalam satu rumah tangga.

Islam ternyata memandang secara berbeda. Fitrah penciptaan laki-laki tidak bisa dihalang dengan sistem apapun. Satu laki-laki tidak dicipta untuk satu perempuan melainkan untuk beberapa perempuan. Itu bagian dari sunnatullah. Tabiat itu telah tertanam dalam kejadian jasad dan rohnya sejak semula jadi. Setuju atau tak setuju, tabiat itu telah ada begitu saja sejak dia dilahirkan sebagai laki-laki dan telah berlangsung seumur peradaban manusia.

Karena sistem sosial tidak memberi tempat yang layak bagi berlakuknya fitrah ini, maka terjadilah penyimpangan. Terjadilah "main belakang". Masyarakat harus membayar mahal kerusakan dan kehancuran akibat berlakunya sistem sosial yang tidak sesuai dengan fitrah insaniah ini.

Islam memandang lain. Islam mengharamkan zina namun Islam membenarkan poligami. Poligami dalam pandangan Islam berbeda dengan poligami dalam pandangan masyarakat. Rasulullah dan para sahabatnya telah mencontohkan praktek poligami yang dapat diterima oleh Allah. Pernikahan dalam Islam adalah pernikahan yang sakral, resmi dan terbuka. Dalam Islam, seorang laki-laki boleh menikah dengan satu, dua, tiga atau empat perempuan. Pernikahan monogami atau poligami harus bersifat terbuka dan resmi. Tidak ada satupun pernikahan yang boleh ditutup-tutupi. Semua istri saling kenal mengenal. Anak-anak yang terlahir dari istri yang berbeda pun saling kenal mengenal. Mereka saling bantu membantu dan bekerjasama membangun satu rumah tangga di bawah satu kepemimpinan.

Orang-orang awam mengira pernikahan sirri adalah poligami. Tidak! Sekali lagi saya katakan, "Tidak."

Dalam pandangan Islam, pernikahan sirri bukan poligami. Mana boleh dalam Islam, pernikahan disembunyikan. Itu berbahaya sekali. Banyak sekali permasalahan yang akan muncul akibat penyembunyian suatu pernikahan. Pernikahan menyebabkan berlakunya hukum hubungan kekeluargaan, anak kandung, anak tiri, mertua, hukum waris, hukum pernikahan bersaudara, hukum mahram, hukum aurat, dll. Mana mungkin memberlakukan semuanya itu dalam pernikahan sirri. Islam tidak membenarkannya.

Saya pernah berdiskusi dengan kawan saya, seorang aktifis perempuan yang gencar menentang poligami dan takut sekali kalau suaminya berpoligami. Dia mengangkat banyak kasus. Dari kasus-kasus yang disebutkannya itu, barulah saya tahu bahwa kasus-kasus itu ternyata adalah kasus pernikahan sirri. Saya jelaskan pada dia bahwa Islampun menentang pernikahan sirri seperti yang ditentangnya itu. Kalau masyarakat mengatakan bahwa itu poligami, saya katakan itu poligami palsu, poligami sontolyo, poligami ngawur. Akad nikah memang boleh tidak diramai-ramaikan, tidak dikendurikan, namun pelaksanaan rumah tangganya harus terbuka, tidak boleh secara sembunyi-sembunyi.

Dengan demikian, kasus istri simpanan, selingkuhan, pelacuran, dan pelecehan seksual bukanlah poligami yang dibenarkan Islam. Poligami yang dibenarkan Islam hanyalah berhimpunnya beberapa istri dalam satu rumah tangga dengan satu suami melalui pernikahan resmi dan terbuka. Dalam rumah tangga itu tidak ada perbedaan status istri, status anak. Semuanya bekerjasama membangun keselamatan dan kesejahteraan bersama.

Tidak mudah memang membangun rumah tangga semacam ini. Rumah tangga semacam ini hanya bisa dibangun dalam basis jamaah dengan pembinaan yang terus menerus. Karena dengan demikian, rumah tangga akan berjalan secara terpimpin dan terbina. Dengan alasan itulah, bagi laki-laki yang tak mampu, tetap diberi peluang sebesar-besarnya mendirikan rumah tangga monogami saja.



Wallahu a'lam.



Jufran Helmi


Sunday, October 25, 2009

Mengapa berpoligami?


Poligami tidak pernah basi-basinya dibicarakan. Dan hebatnya, dalam setiap pembicaraannya, selalu saja muncul kontroversi. Walaupun sekarang pembicaraan poligami tidak seramai beberapa tahun terakhir, namun pembicaraan ini terus saja muncul, terutama ketika beberapa kasus poligami artis, pejabat, atau selebritis berulang dan diangkat media masa. Poligami diributkan kembali setelah muncul Klub Poligami yang digagas oleh Global Ikhwan sejak peluncurannya tanggal 17 Oktober 2009 yang lalu di Bandung.

Penentang dan pendukung selalu bermunculan dengan argumentasi masing-masing. Dua agama besar, Yahudi dan Nasrani, secara resmi melarang poligami. Penganut setia kedua agama itu pasti menentang poligami. Islam menghalalkan poligami, tapi hanya menghalalkannya sampai dengan empat istri. Kaum perempuan, terutama yang terlebih dulu sudah punya suami, lebih banyak menentang dengan alasan poligami adalah kejahatan rumah tangga yang menyakitkan perempuan. Kaum lelaki, secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan istrinya, lebih condong setuju dan mendukung poligami.

Setelah diamati secara rinci, ternyata tidak semua perempuan menentang poligami. Sebagian perempuan ternyata memberikan apresiasi yang baik dan mendukung poligami dan bahkan mereka sukses menjalankannya. Perempuan yang belum bersuami banyak yang mendukung poligami, karena menggadis atau menjanda sampai tua bukan cara hidup yang normal sementara menunggu bujangan atau duda tidak semudah yang dibayangkan. Yang terasa ganjil tentunya adalah adanya sebagian laki-laki yang ikut-ikut menentang poligami. Terserahlah. Apapun juga, berapa persen pendukung dan berapa persen penentang belum ada riset yang menghitungnya.

Di tengah kontroversi itu, Global Ikhwan, satu organisasi sosial kemasyarakatan, yang anggota-anggotanya bergiat dalam membangun kembali peradaban Islam di semua bidang, memilih untuk mempraktekkan saja poligami daripada melibatkan diri dalam polemik yang tak berkesudahan. Tak disangka-sangka, telah tercatat lebih dari 300 keluarga poligami di kalangan Global Ikhwan. Di antaranya merupakan keluarga poligami dengan 4 istri, sebagian lagi dengan 3 istri dan sisanya sebagian besar masih berstatus 2 istri. Praktek ini sudah dilakukan sejak lama. Bahkan dari keluarga poligami ini telah lahir anak-anak dan cucu-cucu yang juga mempraktekkan poligami. Di Golbal Ikhwan, poligami dilakukan secara terbuka, legal, terstruktur, rapi, dan terkendali. Berbagai program dibuat dalam rangka pembinaan keluarga-keluarga ini seperti kursus-kursus Keluarga Bahagia, Kursus Poligami, Kursus Istri-Istri, dan kursus terkait lainnya. Program yang terkini adalah peluncuran Klub Poligami, sebagai wadah silaturrahim, komunikasi, dan pembinaan bagi keluarga poligami.

Dari pertemuan di Hotel Grand Aquilla, tanggal 17 Oktober 2009 yang lalu, pihak Global Ikhwan telah menjelaskan banyak hal tentang poligami, baik sebab, latar belakang, maupun tujuan jamaah Global Ikhwan mempraktekkan dan memperjuangkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Di bawah ini saya buatkan beberapa catatan-catatan untuk menjadi renungan bagi kita semua. Catatan ini tidak bersifat menggurui, tapi sekedar untuk dikongsikan bagi kita semua demi kecintaan kita kepada Allah SWT. Silang pendapat tentu tak bisa dihalangi. Anggaplah catatan ini sebagai salah satu titik pandang saja tanpa menafikan pendapat-pendapat yang lain.

Ada tiga sebab poligami dibenarkan dalam Islam:

1. Poligami diperintahkan oleh Allah SWT, yang perintahnya tercantum dalam dalam Alquran, Surat An Nisa' ayat 3. Harus diakui adanya khilafiah dalam memahami tafsiran perintah itu. Ada yang memandang sunat dan ada yang memandang mubah saja. Apapun pendapatnya, semua ulama sepakat atas kehalalannya. Semua mengakui ayat itu memberikan keizinan untuk laki-laki yang uzur secara syar'i.

2. Poligami dipraktekkan oleh Rasulullah SAW dan juga dipraktekkan oleh para sahabat Nabi, tabiin, tabiuttabiin dan orang-orang shaleh sepanjang zaman, sehingga telah menjadi tradisi orang-orang sholeh. Fakta sejarah ini tidak terbantahkan.

3. Poligami mempunyai banyak sekali manfaat. Walaupun demikian, bila tidak dilaksaknakan dengan benar, poligami akan meninggalkan banyak mudharat. Islam tidak membenarkan praktek poligami serampangan yang direkayasa sendiri oleh para pelakunya. Sekedar beristri banyak bukanlah poligami dalam pandangan Islam. Poligami yang dibenarkan adalah poligami yang dipraktekkan sebagaimana dipraktekkan oleh Rasulullah, shahabatnya, dan shalafussoleh.

Berikut adalah sejumlah catatan manfaat poligami yang dilaksanakan sesuai tuntunan ajaran Islam. Manfaat-manfaat yang lain dapat dijadikan sebagai bahan diskusi.

1. Poligami adalah penyaluran resmi, sah, halal, dan bermartabat bagi laki-laki yang tidak dapat hidup dengan satu istri. Ada laki-laki yang sanggup hidup dengan satu istri, namun ada yang tidak. Untuk yang tidak, poligamilah jalan keluarnya, karena Islam tidak membenarkan pernikahan sirri, perselingkuhan, pelacuran dan pelecehan seksual. Peselingkuhan dan pelacuran hanya dipraktekkan oleh masyarakat jahiliah dari dulu sampai ke hari ini. Lokasi-lokasi pelacuran dilegalkan oleh mereka. Berita tentang perselingkuhan dan pelacuran sudah menjadi berita harian. Bahkan di kalangan penganut agama yang secara resmi melarang poligami, tak putus-putusnya kasus perselingkuhan dan pelacuran dikabarkan.

2. Poligami adalah langkah praktis untuk membuktikan kasih sayang dan pembelaan kepada perempuan yang belum bersuami. Kenyataan dalam masyarakat bahwa jumlah kaum perempuan lebih banyak di banding laki-laki. Jika semua pasangan suami istri bertekad untuk menjalankan keluarga monogami, akan ada sejumlah perempuan yang harus menyendiri sampai ajal menjemputnya. Demikian pula dengan perempuan yang suaminya pendek umur, ia akan menjanda bersama sejumlah anak-anaknya sampai ia mati. Padahal keperluan mereka akan suami tak bisa digantikan dengan penyediaan sandang, pangan, papan saja. Adakah solusi selain poligami?

3. Poligami adalah gelanggang membina kepemimpinan suami. Kebanyakan suami dari keluarga monogami takut pada istrinya. Akibatnya, istrilah yang menjadi pemimpin rumah tangga. Semua urusan rumah tangga diserahkan pada istri. Suami-suami yang takut istri ini tidak hanya terjadi pada orang awam saja, tetapi juga terjadi di kalangan intelektual, ulama, bahkan pemimpin politik dan negara. Poligami akan meningkatkan wibawa seorang suami dan mengembalikan kepemimpinan kepadanya. Tidak ada arena latihan kepemimpinan yang lebih efektif dibanding di dalam keluarga poligami.

4. Poligami membantu melumpuhkan nafsu perempuan. Perempuan dicipta dengan nafsu yang jauh lebih banyak dibanding laki-laki. Perempuan yang monogami cendrung akan menguasai suaminya sehingga tak ada lagi kawalan terhadap nafsunya. Padalah nafsu-nafsu itu akan menghancurkan kaum perempuan. Poligami ternyata dapat membantu perempuan melumpuhkan nafsu-nafsu itu, sehingga lahirlah perempuan-perempuan dengan berakhlak mulia, tawadhu', dan tidak cinta dunia. Gelanggang poligami membantu membakar mazmumah.

5. Poligami adalah gelanggang mempraktekkan rasa syukur bagi perempuan atas nikmatnya kesempatan bersuami dengan cara mengkongsikannya dengan perempuan lain. Mengkongsikan nikmat Tuhan dengan orang lain merupakan salah satu cara mensyukuri nikmat itu. Selain itu, poligami akan meringankan beban istri dalam mengurus rumah tangga, karena dengan beberapa istri dimungkinkan berbagi tugas dan peranan.

6. Poligami memungkinkan suami dan istri semakin berpeluang mendekatkan diri dengan Tuhan. Istri yang berpoligami lebih banyak waktu bermunajat dengan Tuhan, terutama ketika suaminya bersama dengan madunya. Suamipun akan lebih berpeluang lebih dekat dengan Tuhan karena dia memerlukan lebih banyak pertolongan Tuhan dalam menafkahi istri-istrinya dan menghadapi perangai-perangainya.

7. Poligami melatih suami menerapkan kasih sayang dan kesabaran dalam mengikat hati manusia. Dalam keluarga poligami, harta benda tak akan dapat menyatukan hati istri-istri. Istri-istri hanya bisa disatukan dengan iman, kasih sayang, kelembutan, dan komunikasi yang baik. Pemimpin yang mahir menerapkan kasih sayang dalam kepemimpinannya sangat ditungu-tunggu oleh masyarakat.

8. Poligami mengangkat harkat martabat kaum perempuan. Istri-istri pertama akan dipandang sebagai pejuang karena membela orang lain. Istri-istri pendatang akan terbela dan lebih leluasa bergelanggang karena ada statusnya bersuami.

9. Poligami melahirkan lelaki yang mampu menjadi ayah yang terampil, sabar, telaten mendidik anak-anak yang terlahir dari ibu yang berbeda-beda, dan menyatukan mereka ke dalam satu visi yang sama.Ibu-ibu yang banyak akan membuat anak-anak lebih terkawal, terpantau.

10. Poligami memungkinkan lahirnya keluarga besar dengan anak yang banyak. Rasulullah akan bangga dengan banyaknya ummatnya.

Wallahu a'lam

Jufran Helmi

Tuesday, October 28, 2008

Tuesday, October 28, 2008

Teknik Penciptaan Modus


Ada tiga modus dalam suatu wacana yaitu modus deskripsi, narasi, dan eksposisi. Deskripsi artinya melukiskan suatu objek dengan kata-kata. Narasi artinya menceritakan suatu kejadian dengan kata-kata. Sedangkan eksposisi artinya menerangkan pengertian sesuatu, baik objek maupun konsep dengan kata-kata. Deskrpisi, narasi, dan eksposisi dipergunakan silih berganti dalam satu wacana.
DESKRIPSI
Seorang deskriptor yang piawai mampu membawa pembacanya bertualang menembus ruang dan waktu. Dia mampu membawa pembaca memasuki gua-gua persembunyian para gerilyawan, memasuki pasar-pasar becek dan bau, memasuki mal mewah. Deskriptor mampu membawa pembaca bertualang ke kota-kota manapun secara menakjubkan, baik kota modern, kota kuno, dan bahkan kota fantasi di ruang angkasa. Mengapa demikian?
Deskripsi adalah bagian dari tulisan yang memanfaatkan kosa kata yang dapat mengaktifkan indra pembaca. Deskripsi menggunakan kata-kata yang dapat membawa membaca melihat, mendengar, mencium, mengecap, dan meraba.
Ketika seorang deskriptor menuliskan kata-kata indah, cantik, buruk, belang, silau, terang, dll pembaca seolah-olah akan melihatnya karena kata-kata itu dapat mengaktifkan syaraf penglihatan pembaca. Kalau dia menggunakan kata-kata seperti busuk, sumpek, anyir, dll, pembaca akan menutup hidungnya. Syaraf penciumannya langsung bekerja. Kata-kata seperti renyah, kelat, sedap akan mengaktifkan kelencar air liur. Demikianlah kata-kata tertentu dapat mengaktifkan indra-indra manusia.
Jika Anda mendeskripsikan sesuatu, bayangkanlah bahwa Anda sedang membawa pembaca Anda untuk melihat, mendengar, mencium, mengecap dan meraba apa yang sedang Anda deskripsikan itu. Bahkan deskripsi yang baik mampu membawa pembaca memiliki efek-efek psikologis seperti benci, marah, jijik, senang, bernafsu dll. Inilah yang diistilah oleh para ahli dengan show not tell.
Maksudnya, jika Anda ingin pembaca Anda merasa benci dengan seseorang yang jahat, Anda jangan mengatakan bahwa dia jahat. Deskripsikanlah orang itu. Aktifkan penglihatan pembaca agar ia melihat langsung sosoknya, tatapan matanya, giginya, dan pakaiannnya. Perlihatkan caranya memukul orang, menganiaya orang. Gunakan kata-kata indria. Dengan demikian pembaca akan menyimpulkan bahwa orang itu benar-benar jahat. Memang itulah yang ingin Anda sampaikan bahwa dia jahat, tapi dengan cara deskriptif yang teliti, Anda hanya menggiringnya menyimpulkan hal yang sama dengan Anda. Cerdas bukan?
Deskripsi yang cerdas dapat menstimulasi emosi. Tulisan yang dilengkapi dengan deskripsi semacam ini dapat menghidupkan tulisan sehingga enak dibaca. Walaupun demikian penulis non fiksi harus hati-hati dalam menulis deskripsi untuk stimulasi emosi ini. Bisa-bisa tokoh yang Anda deskripsikan itu membantah tulisan Anda dan memperkarakan Anda ke polisi.
Karena takut menjadi fitnah itulah, penulis non fiksi selalu memasukkan tokoh aku dalam narasinya. Semua stimulasi emosi dilimpahkan kepada tokoh aku sehingga tokoh-tokoh lain cukup dijelaskan apa adanya sesuai data yang tersedia. Tulisan feature (jurnalisme sastrawi) menggunakan trik ini.
Salah satu sebab manusia menciptakan cerita fiksi adalah agar penulis mampu membuat deskripsi yang dalam terhadap suatu tokoh, waktu, tempat atau suatu kejadian agar memberikan stimulasi yang sedalam-dalamnya kepada pembaca. Hal ini tidak masalah karena tokohnya fiktif. Bahkan kadang-kadang tempat dan kejadiannya semuanya fiktif.
Deskripsi fiktif hanya memberikan pesan-pesan moral saja kepada pembacanya di samping keindahan seni berbahasa. Semua data, nama, tempat, dan bahkan kejadian yang dideskripsikan tidak dapat dijadikan pegangan yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Di sinilah kelebihan sekaligus kekurangan fiksi di bandingkan dengan non fiksi.
NARASI
Bernarasi artinya membawa pembaca Anda memasuki perjalananan dalam dimensi waktu. Anda membawanya berada dalam adegan-adegan dari waktu ke waktu. Berbeda dengan deskripsi yang menjelaskan bentuk fisik suatu objek seperti warna, bau, bentuk, rasa, dll, narasi menjelaskan kejadian.
Karena narasi adalah penjelasan tentang kejadian, selalu di dalamnya ada plot dan adegan. Plot adalah garis waktu sedangkan adegan adalah kejadian yang terjadi dalam satu waktu yang bersambung. Perhatikan narasi berikut.
Saya sedang makan ketika saya mendengar suara orang berjalan di depan pintu. Saya berhenti mengunyah dan menoleh ke pintu. Tak lama kemudian saya mendengar ketukan. Saya berkata dalam hati, "siapa yah? Malam-malam begini bertamu." Saya lalu berdiri dan bergerak pelan ke pintu dengan penuh penasaran. Padahal di mulut saya masih ada makanan yang belum selesai saya kunyah.
Tulisan di atas adalah narasi. Plotnya ditunjukkan oleh kata-kata ketika, tak lama kemudian,dan lalu. Kejadian diungkapkan dengan kata-kata seperti sedang makan, mendengar, berhenti mengunyah, mendengar ketukan pintu, dll. Rangkaian kejadian dalam waktu yang besambung tersebut dipandang sebagai satu adegan. Bila kejadian itu sudah berpindah ke titik waktu yang berjauhan, kejadian yang baru di pandang satu adegan lagi. Jadi, satu adegan bukan satu kejadian tapi sekumpulan kejadian dalam waktu yang sangat bersambung tanpa terputus.
Dalam prakteknya, deskripsi dan narasi sering dipakai bersamaan. Ketika seorang penulis mengisahkan suatu kejadian di suatu ruang tertentu, penulis sekaligus mendeskripsikan ruangan itu agar pembaca bukan saja mengikuti kejadiannya tapi juga melihat gambaran suasana ruangan tempat kejadian itu terjadi. Bahkan dengan ditambahkan deskripsi tentang tokoh-tokohnya, pembaca akan merasakan bahwa ia ada di tempat kejadian itu.
Ciri khas utama narasi adalah kejadian. Namun, setiap kejadian ada tokoh, tempat, waktu, adegan, dan plot. Tokoh adalah orang yang terlibat dalam kejadian itu, baik sebagai pelaku, penderita ataupun penyerta. Tokoh bisa orang pertama (seolah-olah penulis cerita) yang menggunakan kata ganti aku atau saya. Tokoh bisa orang ketiga (penulis seolah-olah hanya saksi) yang menggunakan kata ganti dia atau ia. Setiap kejadian ada tempat, dan setiap kejadian ada saatnya. Beberapa kejadian dapat diceritakan dalam waktu yang tidak terputus. Kumpulan kejadian tersebut walaupun dalam bentangan waktu yang panajang disebut adegan. Waktu terjadinya kejadian harus berada dalam satu garis waktu yang dinamakan plot. Plot tidak harus maju. Kadang-kadang plot bisa juga mundur, atau bahkan maju mundur.
Karena adanya tokoh di dalam narasi, manmbahkan kutipan langsung percakapan tokoh-tokoh berupa dialog-dialog membuat pembaca mendengarkan sendiri apa yang mereka katakan. Cara ini membuat narasi lebih hidup. Dengan membaca dialog-dialog itu pembaca akan tahu dengan sendirinya karakteristik tokoh yang tidak diceritakan oleh penulis. Berikut ini contoh narasi yang dilengkapi dengan dialog.
"saya benci dengan orang yang suka jam karet" kata Ani dalam hati. Sudah berjam-jam dia duduk menunggu, masih belum ada tanda-tanda suaminya datang. "Brengsek" katanya."Aku tak mau ke sini lagi besok-besok" sambil menghempaskan pantatnya ke tempat duduk di ruang tunggu terminal itu.
Narasi bisa fiktif dan bisa fakta tergantung Anda. Bila Anda membuat narasi fiktif, jangan Anda gunakan nama tokoh yang ril dalam cerita itu kalau Anda tidak mau diperkarakan ke pengadilan. Gunakanlah tokoh fiktif untuk narasi yang fiktif. Namun, jika Anda ingin menuliskan narasi yang benar-benar terjadi, pastikan semua dialog, data, waktu dan kejadian akurat dan dapat dibuktikan.
EKSPOSISI
Bila Anda menyebutkan suatu konsep atau istilah, sebaiknya Anda tidak boleh melewatkannya begitu saja tanpa memberi penjelasan apa yang Anda maksud dengan konsep itu. Anda perlu menejelaskan definisinya, baik dengan menjabarkan contohnya, menyebutkan kelompoknya, menyebutkan pengingkarannya. Cara seperti ini disebut eksposisi.
Dengan eksposisi, penulis memberikan kepahaman. Berbeda dengan deskripsi yang berorientasi untuk menghidupkan indra, eksposisi bertujuan menghidupkan syaraf pemahaman.
Anda mungkin suatu ketika mengatakan bahwa tulisan yang baik itu adalah tulisan yang menghinosis pembaca. Dalam kalimat itu ada kata menghipnosis. Anda tentu tak ingin pembaca Anda salah memahami apa yang Anda maksud dengan menghipnosis itu. Untuk itu kemudian Anda menejelaskan bahwa menghipsnosis berarti memberikan kesan yang dalam bagi pembaca dan memotivasinya untuk berbuat sesuatu. Anda dapat menambahkan bahwa menghipnosis bukan menyihir seperti yang dilakukan tukang santet. Andapun mungkin menambahkan lagi bahwa tulisan yang menghipnosis adalah tulisan yang menerapkan teknik-teknik retorika di dalamnya. Anda di sini berarti telah membuat sebuah eksposisi terhadap kata atau istilah hipnosis.
Mendefinisikan suatu istilah atau konsep termasuk ke dalam membuat eksposisi. Anda juga membuat eksposisi bila anda menjelaskannya dengan memberikan contoh, ilustrasi, pembanding, bukti, alasan atau Anda membuat klasifikasi. Pokoknya, eksposi membuat pembaca Anda terangguk-angguk ketika membaca dan dalam hatinya berkata, "ya…ya… ya, saya faham sekarang." atau "o… itu toh maksudnya."
Bersama-sama dengan deskripsi dan narasi, penggunaan eksposisi membuat tulisan Anda benar-benar hidup dan berbobot. Anda dapat menyelipkan eksposisi di tengah narasi. Anda dapat memasukkan eksposisi yang diselingi deskripsi. Ketiga modus tersebut akan bekerja bersama-sama. Narasi akan membawa membaca berada dalam dimensi waktu. Deskripsi akan membawa pembaca mengindera segala yang ada dengan keterlibatan emosi. Eksposisi akan membawa pembaca memahami apa yang terlihat maupun yang terjadi itu secara nalar. Penulis yang piawai tidak kan pernah melewatkan kombinasi ini. Eureka!
Sebelum kita beralih ke topik lain, saya harus menyampaikan kepada Anda bahwa ada sebagian ahli memasukkan persuasi dan argumentasi ke dalam modus wacana. Sebenarnya persuasi dan argumentasi bukanlah modus melainkan sifat suatu wacana yang dipengaruhi oleh maksud dan tujuan penulisan. Wacana yang bersifat persuasif ditujukan untuk mempengaruhi pembaca agar ia mau melakukan sesuatu yang diharapkan penulis. Wacana yang bersifat argumentatif ditujukan untuk mendebat suatu keyakinan agar pembaca meninggalkannya dan bersedia menerima keyakinan yang baru. Wacana yang bersifat informatif ditujukan untuk memberikan kepahaman dan pengertian kepada pembaca. Wacana yang bersifat rekreatif ditujukan untuk menghibur pembaca.
Walaupun semua sifat itu dapat dipisah-pisahkan, namun kenyataannya tulisan yang hebat mengandung kombinasi sifat-sifat itu. Satu wacana besifat menghibur karena bahasa yang digunakan adalah bahasa yang menyejukkan, sederhana, dan ringan. Tapi jangan lupa, secara implisit, penulis membawa pembaca kepada keyakinan tertentu dan membawa pembaca melakukan sesuatu, dan tak ketinggalan pula menyelipkan beberapa informasi yang berguna.
Untuk keempat sifat wacana tadi, semua modus yang sudah kita bahas di atas dapat dipakai. Kita dapat memasukkan deskripsi, narasi dan eksposisi ke dalam wacana persuasif. Demikian juga kita dapat memasukkan ketiga modus ke dalam wacana argumentatif, informatif dan rekreatif.