mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Monday, January 20, 2014

Sastra Indonesia Bangkit bersama Tenggelamnya Van der Wijck


Saya belum lahir ketika itu, September 1962, ketika sastrawan Pramoedia Ananta Toer  pertama kali mengait-ngaitkan novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, karya Buya Hamka (1938), dengan novel Sous les Tilleulskarya Jean-Baptiste Alphonse Karr (1832) dalam versi bahasa Arabnya hasil terjemahan Mustafa Lutfi al-Manfaluti. Konon kabarnya, isu itu kemudian menjadi polemik yang seru di kalangan para ahli.

Yang saya tahu kemudian adalah isu plagiasi yang dihembuskan oleh segelintir sastrawan anggota Lekra yang berafiliasi dengan komunis di masa itu tidak bertahan lama. Provokasi mereka tidak sanggup menangkis argumentasi pembelaan dari begawan sastrawan hebat Indonesia  sekelas H.B. Jasin, A Teew, dll. Mungkin inilah yang dikatakan pepatah lama, anjing menggonggong kafilah berlalu.

Fakta yang terjadi setelah itu, alih-alih lenyap dari peredaran, roman karya ulama besar Indonesia itu justru terus bergulir tanpa bisa dibendung memasuki relung hati anak bangsa ini dan menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah, baik di Indonesia maupun di Malaysia. Karya ini terukir sebagai karya monumental dalam sejarah sastra Indonesia menembus dimensi waktu. 

Karya yang dianggap karya terbaik Buya Hamka dalam bidang fiksi itu menandai bangkitnya sastra Indonesia. Sastra Indonesia justru menggeliat bangkit bersama kisah tenggelamnya sebuah kapal Belanda yang benamaVan Der Wijck dalam perjalanan dari Surabaya ke Batavia (Jakarta).

Lama sekali bentangan waktu antara pertama kali saya mengenal nama Zainuddin dan Hayati, dua tokoh sentral cerita ini yang dideskripsikan melalui kalimat-kalimat oleh Buya Hamka, sampai dengan kemunculan mereka dalam bentuk sosok yang bergerak di layar lebar. 

Rasanya, ketika itu saya masih di SMP, tahun 1975-1977, dan belum tahu lagi apa itu sastra dan apa itu bukan sastra, ketika guru bahasa Indonesia memperkenalkan novel itu kepada kami paragraf demi paragraf. Saat itu kami hanya belajar untuk mengenal apa itu plot, karakter, dan setting di dalam sebuah karya fiksi, dengan mengambil tugas membahas karya pujangga itu.

Kini, di tahun 2014 ini, tepatnya Ahad malam Senin, 19 Januari 2014, saya baru merasakan denyut getaran adegan demi adegan dalam novel klasik ini dalam bentuk karya film dengan judul yang sama, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Film ini membongkar kembali memori saya yang telah hilang tentang jalan ceritanya, lebih-lebih nama karakternya.

Satu kata penting dari saya tentang film ini: HEBAT.

Sunil Soraya, sang sutradara, dengan seluruh anggota timnya yang pasti tidak sedikit,  tidak bekerja sia-sia. Hasil kerja keras yang konon kabarnya memakan waktu tidak kurang  5 tahun dan menelan biaya yang tidak sedikit itu akhirnya mampu memukau penonton Indonesia seperti saya untuk duduk selama kurang lebih 3  jam, tegang.  Durasi selama itu ternyata tidak membuat pinggang  saya pegal.

Sejak awal, Zainuddin (diperankan Herjunot Ali) bermain sangat pas dengan pasangannya Hayati (diperankan Pevita Pearse) di film ini. Keduanya, bersama tokoh lain:  Azis (diperankan Rahadian) dan Muluk ( Randy Danistha), berhasil mengaduk-aduk emosi.

Saya menyesal telah menganggap remeh nasihat teman yang sedang terbaring di Rumah Sakit Pertamina karena gejala stroke yang dideritanya. Ketika saya menjenguknya, dia menasihati saya agar membawa handuk kecil kalau mau menonton  film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck itu.

“Handuk?”

“Ya, untuk mengelap air mata,” katanya serius.

Film dengan plot kisah cinta di alam Minangkabau bernuansa waktu 1930-an itu  benar-benar mengalirkan air mata saya berburai membasahi pipi.  Malu juga rasanya kalau penonton sebelah tahu saya duduk berguncang ketika harus mengubur haru di dada. Kisah cinta Zainuddin dan Hayati adalah kisah cinta berbalut adat, agama, dan nafsu. Walaupun ada ilmu, manusia ternyata tetap tidak sempurna: terkadang dendam, terkadang iba. Sakit dan mati adalah bayaran yang selalu diminta oleh cinta karena manusia memang makhluk yang lemah tidak berdaya.

“Pisang tak akan berbuah dua kali,” jawab Zainuddin dengan dendam membara ketika Hayati menyatakan permohonan maafnya setelah kekasihnya itu sadar kalau ia terlanjur berkhianat dan terlanjur mengukur cinta dengan kemiskinan. Cinta tapi takut melarat adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Manusia juga, jika seorang sahabat yang di suatu ketika tidak peduli agama, justru tiba-tiba datang menghembuskan asma Tuhan di lubuk hati yang sedang gelisah sedangkan yang berilmu agama tidak mampu melawan nafsunya sendiri.

Kisah Tenggelamnya Kapal Van der Wicjk yang telah diedarkan sejak 76 tahun yang lalu namun baru diluncurkan sebagai film di pertengahan Desember 2013 tahun lalu itu bercerita tentang drama manusia, lengkap dengan karakter-karakternya yang saling berlawanan arah.

Alur kisah yang runut namun klimaksnya tidak tunggal  (tidak seperti kebanyakan cerita) berhasil ditata oleh sang penulis skenario film ini menjadi sebuah plot dengan konflikasi yang apik dalam bentuk multi climax. Klimaks-klimaks kecil  di akhir setiap episodenya berhasil disusun membangun klimaks yang lebih besar sebelum akhirnya ketragisan ending-nya  (kematian Hayati) terkeskplorasi sempurna.  Ini bukan kerja mudah. Siapapun yang pernah mencoba menulis novel, apalagi kemudian memindahkannya menjadi skenario film, pasti galau ketika berhadapan dengan situasi ini. Tidak aneh kalau penulisan skenario film ini kabarnya direvisi berkali-kali sehingga memakan waktu dua tahun sampai rampung.

Kisah tragis Pendeka Sutan (ayah Zainuddin) yang ada di bagian awal novel  yang membunuh pamannya di Batipuh dan membuatnya terbuang  ke Jawa, kemudian ke Makassar, sama sekali tidak disentuh dalam film ini. Ini mungkin disengaja karena kisah yang akan diangkat harus langsung tertuju kepada tokoh utama. Tim sinematografi ini cukup cerdas karena latar belakang ayah Zainuddin langsung terinformaasikan kepada penonton melalui suara Mak Base, pengasuh Zainuddin waktu kecil, bersamaan dengan ketibaan Zainuddin di rumah keluarga ayahnya di Batipuh, Padang.

Terus terang, Tragedi seperti Romeo & Juliet karya William Shakespare belum seberapa hebat dibandingkan dengan tragedi Zainuddin dan Hayati ini.

Adegan yang layak mendapat acungan jempol saya dalam film ini adalah adegan ketika Hayati mengucapkan sumpah sehidup semati kepada Zainuddin di pinggir sungai dengan setting hutan. Dengan pepatah-petitih khas Minangkabau, Pevita Pearce pandai sekali mengatur sorot matanya yang tajam ke arah Herjunot Ali melukiskan bagaimana seorang gadis lugu harus menahan malu berjanji di hadapan seorang lelaki kekasihnya. Herjunot Ali yang memainkan peran Zainuddin berlogat Bugis pandai pula menampakkan hatinya yang luluh oleh gadis Minang yang lembut yang bernama Hayati itu. Orang seperti saya yang pernah mendalami seni peran walaupun sebentar tahu bahwa betapa tidak mudahnya memelintir lima emosi: sedih, benci, cinta, harap, cemas, dalam satu adonan akting.

Adegan lain yang saya suka adalah adegan ketika Reza Rahadian (memerankan Azis) ketika menitipkan Hayati kepada Zainuddin. Reza yang pernah bermain hebat sebagai Habibi pada kisah  Habibi dan Ainun berhasil menampakkan bahwa sesungguhnya Azis yang arogan itu juga seseorang yang lemah juga, di dalam keputusasaannya,  ketika menitipkan Hayati kepada Zainuddin.

Kalau saya boleh berterus terang tentang momen yang membuat airmata saya mengalir sampai ke dagu dan teringat dengan handuk kecil yang tidak saya bawa itu adalah momen ketika Hayati terkejut, kemudian jatuh tersimpuh dengan bibir yang bergetar dan mata terbelalak, melihat lukisan wajahnya terpampang di ruang kerja Zainuddin setelah  Muluk (diperankan Randy Danistha) menarik kain penutupnya. Itu adegan bagus sekali.

Sayangnya,  Randy Danistha yang bagus di adegan itu kurang ekspresif di adegan lain yang menurut sasya sangat penting, yaitu ketika  ajal Hayati sudah dekat, di rumah sakit tempat penumpang kapal Van der Wijck yang naas itu dievakuasi. Mungkin, sutradara sengaja membuat aktingnya seperti itu agar fokus penonton kepada Zainuddin dan Hayati tidak pecah.

Tapi, sebenarnya, kalau ekspresi Randy yang memerankan tokoh Muluk itu dipoles sedikit ketika itu, sehingga sejalan dengan ekpresi Zainuddin, maka saat-saat Zainuddin membacakan talqin di telinga Hayati kemudian menciumi wajah dan bibir Hayati yang telah menjadi mayit itu, akan menjadi saat-saat yang paling memilukan.  Artinya, adegan yang sepertinya disiapkan sebagai klimaks ultimum itu betul-betul ultimum.

Musik latar, gabungan kolosal, romantis, dan abstrak  yang dihadirkan oleh Nidji  di setiap momen-momen dramatis film ini tidak boleh dianggap kecil. Justru, emosi puncak penonton ketika melihat ratap tangis menjadi begitu menyayat hati karena permainan musik latar ini. Begitu cerdasnya, suara manusia yang sedang berteriak histeris justru dihilangkan dan digantikan dengan suara musik yang menegakkan bulu roma.

Hampir-hampir saja saya meninggalkan kantong plastik yang berisi buku yang baru saja dibeli di bawah jok kursi Sinema 21 itu ketika film itu usai, jika penonton yang duduk di sebelah tidak mengingatkan saya. Film usai dengan sebuah resolusi khas semua kisah-kisah tragedi umumnya. Ketika film itu usai, saya pun tidak peduli lagi dengan isu plagiasi, saduran, kiai cabul, atau istilah lain yang dilemparkan oleh sastrawan yang cemburu kepada Buya HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) dengan karya hebatnya ini.

Entah mengapa, saya tiba-tiba menjadi begitu optimis kalau penulis novel dan sineas berbakat Indonesia akan bermunculan satu persatu setelah ini, setelah hadirnya karya sastra klasik Indonesia ini di pentas sinematografi. Mereka akan tahu kalau karya-karya indah percintaan atau romantisme versi Indonesia bisa juga tampil tanpa harus mengumbar nafsu bila serius menggarapnya.

Tontonlah, untuk bagi yang belum menonton. Jangan lupa membawa handuk kecil, ya.




Friday, January 17, 2014

99 Cahaya di Langit Eropa Tapi Gratis




Yang gratis itu tetap saja menarik. Menyambut tawaran menonton gratis, di bioskop berkelas, di kursi VIP pula, tentu tidak ada pantangan sedikitpun bagi saya, he he he. Barangkali ini bawaan masa kecil saya yang tidak pernah absen kalau ada layar tancap di kampung yang pasti gratis. Kalau sekarang, saya tinggal cari waktu dan jam yang tepat saja. Kalau waktu ada, sikon mendukung,  go!

Tiket menonton gratis yang langsung dihadiahkan oleh Hanum Salsabiela Rais, penulis buku 99  Cahaya di Langit Eropa, yang diperoleh istri saya di majelis pengajiannya, saya manfaatkan dengan baik penuh antusias di Cinema  XXI, Pondok Indah Mall, Jakarta, Kamis Malam, 16 Januari 2014.  Ditemani istri, popcorn, dan secangkir kopi dingin (pakai es) yang tidak boleh dibeli kecuali di sana, saya menikmati pemandangan kota Vienna, Paris, dan sekilas Cardoba di bagian akhir. Kira-kira total 100 menit saja, tidak termasuk beberapa menit iklan di bagian awal.

“Kenapa diputus ya?” tanya saya heran ketika tanda-tanda film mau berakhir sudah ditampilkan di layar.

“Apanya?” istri saya balik bertanya heran.

Saya baru sadar kalau istri saya belum baca bukunya.  Saya beruntung, jauh hari sebelum menapaki kaki ke teater dingin XXI ini, saya telah membeli buku tentang perjalanan ini di Gramedia. Walaupun  belum sempat membaca tuntas, lumayan juga. Saya jadi bisa membandingkan 99 Cahaya di Langit Eropa versi buku dan versi film. Yang versi buku adalah karya asli  Hanum Salsabiela, putri sang tokoh reformasi 1998, Amin Rais dan versi film adalah buah tangan Guntur Soeharjanto.

Di buku, kota terakhir yang dikunjungi Hanum dan Rangga adalah Istambul. Di film, kunjungan Hanum dan suaminya itu  hanya sampai di Cardoba, Spanyol. Cordoba itu pun digambarkan sekilas saja. Entahlah,  mungkin yang belum tampil akan dimasukkan ke edisi lanjutannya.  Kita tunggu.

Menurut saya, Acha Septriasa dan Abimana Arysatya bermain cantik dengan peran masing-masingnya sebagai Hanum dan Rangga. Dua sejoli  yang satu cantik dan satu ganteng, yang baru kali ini saya temukan wajahnya di film, berhasil digiring oleh sang sutrdara, Guntur Soeharjono,  dari satu scene ke scene lain sebagai karakter point of view.  Perlu diketahui, point of view (POV) film ini berpindah-pindah antara tokoh Hanum dan Rangga selaku karakter utama.  Ekspresi wajah, gerak, dan bicara kedua bintang muda berbakat ini cukup berhasil mempresentasikan karakter Hanum dan Rangga versi buku.

Sayangnya, walaupun Raline Shah, bintang yang juga tak kalah cantik ini,  telah  bermain maksimal  sebagai seorang imigran Turki lengkap dengan kerudung ala Turki, dan cucuran airmata sebagai seorang ibu muda dengan persoalan anak kesayangannya, belum sepenuhnya mampu menggambarkan tokoh Fatma Pasha dalam versi buku.  Ini menurut saya.

Fatma Pasha seharusnya pribadi yang mampu membuat orang mendapatkan hidayah melalui keluruhan akhlak dan ketinggian intelektualnya.

Ini bukan pengalaman saya yang pertama menonton film hasil adaptasi buku. Tidak mudah memang mengubah content sebuah karya tulis menjadi karya sinematografi.  Kesulitan itu sudah saya ramalkan bahkan sebelum berangkat ke bioskop. Buku karya Hanum Salsabiela tentang Eropa ini sarat dengan deskripsi. Kalau yang dideskripsikan Hanum adalah tata ruang Viena, Paris, dan Cordoba masa kini, tentu dengan mudah sang sutradara  mengerahkan juru kamera merekam apa yang ada sekarang. Tapi yang dideskripsikan wartawati putri tokoh politik Indonesia ini adalah kota-kota besar di Eropa dalam dimensi sejarah. Wow, betapa sulitnya kembali ke zaman penyebaran Islam untuk pertama kali di Eropa. Saya kira belum ada sutradara Indonesia sekapasitas itu. Kalau pun ada, produsernya mungkin yang belum ada. Kalau penonton, sih  banyak. Apalagi komentator.

Saya bisa bayangkan betapa beratnya sineas Indonesia memfilmkan deskripsi  penulis seperti di dalam paragraf berikut. Coba simak.
“Islam dulu pernah menjadi sumber cahaya terang benderang ketika Eropa diliputi abad kegelapan. Islam pernah bersinar sebagai peradaban paling maju di dunia, ketika dakwah bisa bersatu dengan pengetahuan dan kedamaian, bukan dengan teror atau kekerasan.”
Yang paling memungkinkan difilmkan dengan budget yang sedang, dengan jumlah kamera terbatas, tentulah paragraf ini:
Tinggal di Eropa selama 3 tahun adalah arena menjelajah Eropa dan segala isinya. Hingga akhirnya aku menemukan banyak hal lain yang jauh lebih menarik dari sekedar Menara Eiffel, Tembok Berlin, Konser Mozart, Stadion Sepakbola San Siro, Colloseum Roma, atau gondola gondola di Venezia. Pencarianku telah mengantarkanku pada daftar tempat-tempat ziarah baru di Eropa. Aku tak menyangka Eropa sesungguhnya juga menyimpan sejuta misteri tentang Islam.”
Karena sulitnya, yang misteri akhirnya dibiarkan menjadi misteri dengan hanya diungkapkan di dalam film secara narasi dengan suara Acha Septriasa yang memerankan Hanum di latar belakang. Narasi di latar belakang yang terlalu banyak ini, dari awal sampai akhir, membuat sebagian penonton yang terbiasa menonton film silat menjadi  gundah gulana. Bagi yang terbius dengan film-film serial Tom & Jerry tentu akan menilai film ini terlalu lambat.

Tapi terus terang, gabungan ucapan, senyum dan sorot mata Marion Latiner menerangkan kepada Hanum tentang bagaimana Napoleon Bonaparte membuat garis lurus antara Paris dan Makkah Al-Mukarramah sungguh mendebarkan jantung. Saya suka dengan scene ini. Saya suka dengan caranya mengerakkan tangan menunjukkan betapa lurusnya garis itu. Selain itu, scene tentang sengatan aroma ikan asin Indonesia yang menyengat hidung Austria seperti bau kaos kaki tentu juga menarik. Yang perlu saya pujikan pada film ini adalah penataan dialog antar tokoh yang tidak perlu repetitif seperti yang sering ditemukan  pada film-film murahan.

Secara keseluruhan, untuk menikmati pemadangan kota-kota di Eropa: Vienna, Paris, dan Cordoba, masa kini, film ini lumayanlah. Setidak tidaknya, saya menjadi berbisik kepada istri, “Bagaimana kalau kita ke Eropa liburan tahun depan?  Ngiri nih!”

Dan, Istri cukup meresponnya dengan kerlingan mata sambil senyum dikulum,  dengan ekspresi harap namun sulit mepercayainya.

Untuk mengenal seperti apa sepak terjang perjuangan islamisasi Eropa di zaman Kara Mustafa Pasha, yang menurut Hamun menggunakan pedang dan meriam, dan membandingkannya dengan yang diajalankan oleh Hanum sendiri berbekal hadiah sepotong ikan asinnya untuk tetangga, atau  yang dijalankan Fatima Pasha dengan traktirannya di café kepada tamu yang usil, atau yang dijalankan Marion Latiner di Paris dengan kesediaannya mengantarkan tamu ke pusat unseen story of Islam di sekitar menara  Eiffel, menurut saya, belum bisa diandalkan.

Perjuangan Islam mestinya sangat dramatis, dan bahkan tragis. Lebih-lebih di Eropa. Terus terang, menikmati goresan kalimat-kalimat yang dirangkai Hanum Salsabiela  dan Rangga Almahendra di buku jauh lebih mempesona dibanding di Film ini. Ini karena di bukunya pun, banyak sekali narasi yang sudah pasti tak mungkin semuanya dapat diterjemahkan ke dalam bentuk gambar.

Sebenarnya, kalau Hanum konsisten memperlakukan karya tulisnya itu sebagai karya fiksi murni, dia tak perlu sungkan-sungkan mengekplorasi semuanya itu dengan menghadirkan karakter-karakter fiktif namun dramatis. Dia tulis dalam show not tell. Dia tinggal masukkan tokoh-tokoh protagonist dan antagonist yang lebih bervariasi. Ini tentu akan lebih mudah difilmkan. Bahkan, sebagai karya sastra pun ini akan lebih mudah dapat pengharagaan.

Tapi, kalau penulis yang juga wartawati ini  berada dalam keraguan apakah buku 99 Cahaya di Langit Eropa ini enaknya dijadikan fiksi atau non-fiksi, sehingga akhirnya muncul di area abu-abu antara karya jurnalistik dan sastra, memang sulit bagi penulisnya membuat eksplorasi maksimal.

Walau bagaimana pun juga, saya salut kepada sang penulis yang telah berbagi cerita dan pengalamannya tinggal di Eropa, yang pasti asyik,  maupun kepada sang sutradara yang sudah susah payah mengangkat karya tulis menjadi sebuah sinema yang menghibur sekaligus mendidik.

Hanum, teruslah berkarya untuk bangsa melalui pena dan tintamu.  Terimakasih atas tiket gratisnya, he he he.  Kalau nanti ada edisi lanjutannya, jangan lupa mengirim lagi tiket grtisnya untuk kami, bertiga. Salam, ya, untuk Papa.



Thursday, January 16, 2014

Mengapa Tidak Semua Bis di Busway?


Sumber foto: google

Tujuan busway dibuat di Jakarta sangat jelas, yaitu agar warga Jakarta lebih senang naik bis kota daripada naik kendaraan pribadi, bukan?.  Bila jalur bis diisolir dari kendaraan lain, bis akan lebih mudah melaju. Penumpang bis yang jumlahnya jauh lebih banyak dari penumpang kendaraan pribadi akan lebih cepat sampai di tujuan. Ujung-ujungnya peminat bis meningkat.

Cita-cita seperti ini benar. Artinya, pemerintah sudah berpihak kepada kepentingan orang yang lebih banyak.  Dan, nyatanya sekarang sejumlah jalan di Jakarta telah dilengkapi busway. Antusias masyarakat menyambutnya pun nampak.

Sayangnya, bukan saja jalur khusus bis ini disalahgunakan oleh kendaraan yang bukan bis, istilah busway  itu sendiripun salah kaprah.  Busway (baca baswei) itu didefinisikan secara salah ucap sebagai  sejenis bis, atau sebagai bis yang lebih besar dari bis biasa, bukan sebagai sebuah jalur.

Kadang-kadang terasa lucu, memang, ketika misalnya ada yang ngomong, “Ada motor yang ditabrak busway dan pengendara motor itu masuk ke kolongnya.”  Busway, di sini, diartikan kendaraan, kan?.  Yang dimaksud busway  sehari hari adalah bis Trans Jakarta.  Karena sudah salah kaprah begini, pasti banyak yang bingung kalau saya berkata, “Sepeda motor itu pasti  ngebut di atas busway.”

Malah untuk menyebutkan jalurnya, sering ditambahkan pula kata “jalur” lagi, sehingga menjadi jalur busway. Padahal, busway itu sendiri seharusnya berati jalur, yaitu jalur yang disiapkan khusus untuk bis atau bus.  Artinya, hanya kendaraan berbentuk bis atau bus yang boleh menggunakan jalur itu. Jenis kendaraan lain tidak.

Baiklah, saya kebetulan kali ini tidak berminat membahas kajian semantik atau linguistik.Terserahlah mau disebut apa, yang penting untuk memudahkan komunikasi, yang saya maksud busway di tulisan ini adalah “jalur untuk bis” , bukan “bis” nya itu sendiri.  Saya hanya sedang ada sedikit unek-unek untuk mengurangi macet di Jakarta dengan memaksimalkan penggunaan jalur khusus bis yang bernama busway itu. Harapannya, yang  punya kebijakan dalam pengaturan transportasi di Jakarta berkenan mempertimbangkannya.

Karena pasti dibangun dengan uang yang tidak sedikit dan dengan caci maki yang tak kurang-kurang kepada penggagasnya, sewajarnyalah kalau busway yang sudah ada ini,  harus difungsikan dengan baik dan benar.

Maksimalkan dong penggunaannya!

Caranya, jangan hanya larang mobil pribadi atau sepeda motor masuk busway. Tapi, wajibkan semua kendaraan berbentuk bis, baik bis besar, bis mini, atau bis mikro menggunakannya. Seburuk-buruknya bis mikro seperti Metromini mestinya juga digolongkan sebagai bis karena penumpangnya banyak.

Sepeda motor yang masuk busway silakan ditilang. Mobil-mobil  pribadi yang berpenumpang kurang dari 10, silakan ditilang. Tapi, bis yang tidak  masuk ke busway mesti ditilang juga.  Itu baru tepat sesuai nama busway yang sudah susah payah diserap dari bahasa asing itu.

Tujuannya,  busway benar-benar khusus digunakan untuk bis saja, sedangkan jalur  non-busway (jalur di luar busway), khusus juga untuk kendaraan yang bukan bis. Ini baru mantap.

Saya merasa miris melihat sebuah jalan protokol yang sudah dilengkapi jalur khusus bis di sisi kanannya, ada halte spesial pula, ada jembatan khusus, tapi jalur itu nampak kosong.  Hanya sekali-sekali jalur ini dilintasi oleh bis merah Trans Jakarta. Yang diperbolehkan masuk busway kan baru Trans Jakarta, sedangkan jumlah kendaraan jenis ini masih sangat sedikit.

Sementara itu,  di sisi kiri jalan,  sejumlah bis: Metromini, Mayasari Bakti, dll yang berpuluh-puluh jumlahnya berjubel berebut lahan dengan sepeda-motor dan mobil-mobil pribadi. Wajarlah kalau kendaraan-kendaraan kecil tergoda berpindah masuk ke jalur busway yang terlihat memang kosong.

Saya tak habis pikir mengapa busway yang mentereng dan mewah, yang dilengkapi pembatas khusus dan kadang-kadang dilengkapi pula dengan pengawalan khusus itu, hanya untuk bis Trans Jakarta saja. Bagaimana dengan Metromini, Kopaja, Mayasari Bakti, dll? Apakah bis-bis seperti itu tidak didefinisikan sebagai bis? Apa definisi bis kalau begitu?

Coba kita bayangkan baik-baik. Kalau busway yang sudah tersedia di jalan-jalan tertentu di Jakarta itu diberikan kepada bis umuml ainnya,  para pengguna bis akan bertambah jumlahnya karena naik bis jelas akan lebih cepat sampai di tujuan. Setidak-tidaknya,  akan bertambah satu alasan lagi warga Jakarta menggunakan bis, baik bis besar atau pun bis mikro sejenis Metromini.

Bagaimana dengan desain pintu pada kebanyakan bis di kiri?

Mudah.Karena pintu-pintu bis itu telah terlanjur dibuat di sebelah kiri sementara halte yang ada di busway terletak di kanan,tinggal kita ubah arah perjalanannya saja. Arah jalannya dibuat berlawanan dengan yang sekarang: dibalik.

Andapasti tahu apa yang saya maksud  “dibalik”. Kalau sekarang di jalur busway, bis berjalan ke utara dan halte bis berada di sisi kanannya. Sekarang, di jalur yang sama, arah perjalanan diubah jadi ke selatan sehingga halte menjadi di sisi kirinya.

Pada halte-halte yang lantainya tinggi, tinggal tambah tangga turun ke lantai bis agar ibu-ibu yang menggunakan rok atau kebaya tidak ragu melangkah.

Bagi bis Trans-Jakarta, perubahanini jelas tidak bermasalah karena bis gede ini mempunyai pintu di kedua sisinya.

Pengubahan arah bis di jalur khusus bis itu bukan saja akan memungkinkannya semua jenis bis menggunakan busway, tapi juga akan membuat pengemudi kendaraan pribadi dan pengendara sepeda motor berpikir tujuh kali sebelum masuk jalur khusus itu, ngeri! Mana ada yang berani adu kambing dengan bis.

Ini salah satu ide menambah daya tarik warga Jakarta menggunakan bis. Semakin banyak yang naik bis, secara bertahap jalanpun akan semakin lengang oleh mobil-mobil kecil.

Untukjangka panjang,  ide untuk menambah daya tarik penggunaan bis tentu bukan ini saja. Untuk jangka panjang perlu dicari ide-ide lain lagi secara lebih kreatif, misalnya memperbanyak bis-bis dengan desain yang lebih bagus, manusiawi, dan nyaman.  Kita perlu bis yang tempat duduknya lapang sehingga bila kita kebagian duduk di pinggir tidak harus termiring-miring. Kalau perlu, bis dilengkapi toilet dan cafe di bagian belakangnya. Kita perlu juga bis-bis yang semuanya ada wifi sehingga kalau kita bosan tidur, tinggal chatting  dengan kawan.

Selain itu, kita jelas perlu menambah lagi jumlah jalur khusus bis di Jakarta. Di jalan tol pun harus ada jalur khusus bis, busway. Saya sering melihat bis berpenumpang puluhan orang berdesakan dengan mobil pribadi yang isinya satu orang, padahal itu di jalan tol. Kasihan ibu-ibu yang ada di dalamnya. Sudah berdiri, wajahnya berburai peluh sehingga make-up nya luntur karena bis yang ditumpanginya merayap menerobos macet berjam-jam.

Jalan-jalanyang sudah terlanjur kecil dan sempit, dedikasikan sepenuhnya menjadi busway. Yang tidak suka naik bis, silakan jalan kaki.

Oh ya,jangan lupa, nanti kita perlu juga ada ojekway, jalur khusus untuk ojek dan sepeda motor.

Mencari Solusi Terbaik Banjir Jakarta

Tulisan saya yang berjudul “Mengendalikan Banjir Kok Repot” mendapatkan kritisisasi aneka rasa dari beberapa kerabat dekat.  Sebagiannya kritik manis, sebagian lagi pedas. Yang asam adalah yang terletak antara manis dan pedas.  Yang pedas adalah yang keberatan dengan penyederhanaan yang saya buat pada masalah banjir yang super kompleks, super rumit. Menurut kawan ini, mengannggap masalah banjir Jakarta sebagai masalah yang sedehana adalah sebuah kekeliruan berpikir. Waduh.

Saya sebenarnya bukan menyederhanakan. Masalah banjir memang seharusnya masalah yang sangat sederhana. Yang aneh, menurut saya, justru yang menganggap masalah banjir sebagai masalah yang ruwet yang saking ruwetnya tidak bisa dicarikan solusi. Tinggal tunggu Jakarta tenggelam.

Masalah banjir hanya masalah bagaimana berkompromi dengan air. Dan, air itu adalah makhluk Tuhan yang sangat taat hukum-hukum yang mengaturnya. Air tidak kong kali kong. Air tidak mengenal suap-menyuap, gratifikasi, sogok-menyogok, pencitraan, dll. Air hanya mau satu hal:  kita mengikuti hukum-hukumnya. Kalau kita tidak ingin air menggangu tidur kita, menggenangi Jakarta, berilah ia jalan ke laut. Hanya itu.

Kalau kita memandang persoalan banjir Jakarta di hilir, kita tentu melihat sesuatu yang ruwet. Orang Jakarte bilang “sudah kadung ruwet.” Tapi lihat di hulu dong.

Di hilir, di dalam masalah banjir memang telah bertumpuk berbagai masalah. Ada masalah sosial, ekonomi, politik, budaya, dll. Ada masalah sampah, masalah PSK, masalah PILKADA, masalah gembel, masalah arogansi orang-orang keren, masalah SARA, dll.  Saking kompleksnya masalah itu, sulit kita melihat mana ujung dan mana pangkal, mana sebab dan mana akibat. Daripada letih mencari ujung pangkal masalah yang ada pada banjir, setiap pihak lebih memilih berteriak saja: menteri tidak bisa membuat tata ruang,  gubernur tidak becus mengurus IMB, oknum PU mengorupsi dana proyek, DPRD tidak bisa menyusun Perda yang jelas dan tegas, masyarakat tidak sadar kalau membuang sampah tidak boleh sembarangan, alam tidak bisa diprediksi, dll. Dan bahkan, ada yang berpikir tawakkal, “Tuhan sedang menguji kita.”

Ujung-ujungnya: ruwet.

Setiap musim hujan di Jakarta, di setiap tahun, di setiap itu pula acara saling tuding itu berlangsung dengan seru. Setiap orang menyalahkan yang lain dan yang disalahkan membela diri sambil melemparkan kesalahana ke pihak lain, persis permainan sepak takraw: saling lembar, saling tendang.

Debat di TV, di kantor DPRD, dan di warung kopi sama serunya. Sementara itu, hujan terus turun,  mencurah-curah dari langit. Sebagian lagi air berbodong-bondong datang dari Bogor memberondong Jakarta.  Air-air itu, tanpa mau dibujuk, bertahan di Jakarta untuk beberapa hari berpesta ria menghajar segala yang berdiri, meneggelamkan segala yang ada. Tidak dipedulikannya apakah yang ditenggelamkannya itu kantor lurah, rumah sakit bersalin, rumah ibadah,  atau rumah maksiat.

Cara saya mencari penyelesaiannya sederhana saja. Saya duduk merenung sambil memegang sebuah pensil dan di hadapan saya ada selembar kertas berukuran A3 yang saya posisikan memanjang. Di atas kertas itu saya gambarkan seekor ikan yang sudah habis dagingnya. Yang tinggal hanya tulang-tulangnya.  Mr. Kauro Ishikawa, yang konon disebut-sebut sebagai penemu metoda berpikir ini,  menamakan gambar saya itu diagram fishbone, tulang ikan. Bentuknya memang mirip dengan tulang ikan.  Di depan mulut ikan itu saya tulis kata “BANJIR JAKARTA”.

Satu garis lurus saya buat menghubungkan kepala ikan  di sisi kanan dan ekor ikan di sisi kiri. Garis ini adalah representasi dari tulang utama. Menusuk tulang utama itu,  saya gambarkan garis-garis cabang . Di atas setiap satu garis cabang, saya tuliskan satu kata yang merupakan jawaban saya “Apa yang menyebabkan banjir di Jakarta?”

Selanjutnya, menusuk pada garis cabang, saya gambar lagi garis ranting yang di atasnya saya tulis jawaban berikutnya ” apa pula yang menjadi sebab di atas sebab terjadinya banjir di Jakarta?”.  Demikianlah seterusnya, gambar tulang itu akhirnya bercabang-cabang, kemudian beranting-ranting. Setiap ranting, beranting lagi lagi sampai beberapa tingkatan.  Di atas setiap garis cabang dan ranting-ranting  itu terdapat sebuah kata. Kata-kata itulah “sebab”, atau “sebab di atas sebab”. Yang paling jauh dari tulang utama merupakan “pangkal dari semua sebab”.

Tidak berhenti di situ, saya pun memilah mana sebab yang dapat dikendalikan manusia dan mana sebab yang hanya bergantung kepada qudrat dan iradat Tuhan.  Saya juga memilah mana yang masuk akal dan mana yang hanya sekedar lucu-lucuan. Dari proses itulah akhirnya saya menemukan bahwa sebab dari segala banjir di Jakarta adalah tidak tersedianya saluran air yang sesuai dengan hukum-hukum air yang mengantarkan air itu ke laut.
Sederhana bukan? Kalau sesederhana itu, mengapa harus dibuat ruwet?

Bukan di Jakarta tidak ada selokan. Ada selokan tapi kekecilan. Ada selokan tapi buntu. Ada selokan tapi lantainya datar sehingga air tidak bisa mengalir. Ujung-ujungnya selokan itu hanya assesoris.

13898595352023114353
Sumber foto: google

Hukum-hukum air menghendaki saluran air berkapasitas alir (flowrate) yang  lebih besar daripada total laju alir air gabungan hujan dan kiriman. Artinya, diperlukan dimensi volume  yang benar: panjang, lebar, dan dalam, serta dimensi perbedaan level (slope). Menurut hukum-hukum air pula, seluruh saluran air itu mesti bersambung sampai ke laut tanpa ada buntu atau penyempitan (bottle neck), apapun yang menyempitkannya itu.

Volume saja tidak cukup bagi saluran air. Diperlukan kemiringan yang memadai agar air bisa mengalir.  Air tidak akan mengalir bila salurannya datar atau kemiringannya terlalu kecil. Ingat pula, yang dijadikan referensi untuk menetapkan kemiringan saluran air adalah permukaan laut ketika laut sedang pasang naik, bukan sedang pasang surut. Begitu sederhanya hukum air bukan?

O, ada kawan yang berteriak, “Untuk membangun fasilitas diperlukan lahan dan dana yang tidak sedikit, Bung.”

Jelas dong. Mana ada yang gratis. Kalau kita ingin air itu mengalir ke laut, kita harus menyediakan lahan dan dana untuk itu.  Saya tidak menafikan keperluan itu. Mau tak mau, suka tak suka, kalau kita mau air tidak menggenangi Jakarta, kita mesti sediakan saluran untuknya.  Hanya itu yang diminta oleh air.  Lahan dan dana harus kita upayakan agar saluran itu bisa dibuat.  Membangunnya jelas tidak gratis. Bila dana proyek itu harus pula dikorupsi sebagiannya, ya harus disediakan dana yang jauh lebih besar dibanding yang diperlukan untuk membangun saluran air itu.

“Bagaimana solusi untuk wilayah yang tidak mungkin lagi dibuat miring pada saluran airnya karena wilayah itu sudah selevel atau bahkan di bawah permukaan laut?”
Solusinya hanya ada dua.

Pertama, wilayah itu dikosongkan dan wilayah itu dibuat taman kota saja. Di musim panas wilayah ini akan jadi taman main anak-anak sedangkan di musim hujan jadi kolam memancing ikan.

Kedua, dibuatkan sebuah  waduk untuk menampung air dari wilayah yang rendah itu. Level permukaan waduk ini harus dikontrol agar selalu di bawah permukaan laut.  Tujuannya agar air dari wilayah yang rendah ini tetap bisa dialirkan ke waduk itu  Untuk pengendalian level permukaan waduk itu, hanya ada satu jalan: memompa isinya keluar untuk akhirnya dialirkan ke laut  juga. Konsekuensinya harus ada pompa. Berarti harus ada energi untuk menggerakkan pompa itu.

Silakan pilih mana yang lebih disukai.

Kalau alternatif membangun waduk yang dipilih, membangunnya di lepas pantai, tentu akan lebih effisien karena tidak mengambil tempat di darat. Air buangannya tinggal dibuang ke laut lepas. Kalau ada yang mau tahu bentuknya seperti apa, mari ikut saya ke Belanda, tepatnya ke Prins Alexander Polder yang terletak di sebelah timur kota Roterdam, saya akan perlihatkan betapa sederhanya orang Belanda berpikir bekompromi dengan air. Bahkan, mereka memanfaatkan angin sebagai sumber energi bagi pompa. Air pompaan dibuang ke laut lepas. Air dari wilayah-wilayah yang berada di bawah permukaan laut dialirkan ke waduk ini. 
Biayanya pasti mahal, tapi idenya sederhana.

Intinya, kalau kita berjuang keras dan berhasil membangun jalan tol untuk mobil di Jakarta yang lahan dan dananya pasti tidak sedikit,  tentu kita mampu membangun jalan tol untuk air. Kita berhasil pula menyediakan lahan untuk busway, sediakan juga dong lahan untuk waterway. Pemerintah berhasil memulai proyek MRT, tolong dong pikirkan juga proyek  WRT (water rapid transport). Kita, jangan hanya memikirkan hak-hak asasi manusia untuk bergerak, pikirkan juga bahwa air pun punya hak untuk bergerak. Kalau hak-haknya terzalimi, tunggulah balasannya.

Kawan yang skeptis masih bertanya, “Bagaimana kalau sudah payah-payah membangun, saluran atau waduk itu tidak dirawat? “

Ya, rawat dong. Apapun yang tidak dirawat akan rusak dan tidak berfungsi. Cinta suami istri saja kalau tidak dirawat akan berubah jadi benci. Apatah lagi saluran air. Betapapun sedikit sampah yang  dimasukkan ke saluran air itu, akan membuat penyumbatan di waktu yang lama

Wednesday, January 15, 2014

Mengendalikan Banjir Kok Repot?

13897074571615484472
Banjir di Jakarta (sumber foto: google)

Mengendalikan banjir itu sederhana saja, tidak perlu repot.  Pengendalian banjir dimulai dengan mengenali hukum-hukum air.  Air secara fitrahnya mengalir dari tempat yang tinggi menuju tempat yang rendah bila kepada air itu tidak ditambahkan energi.
Karena itu, air hujan yang mencurah dari langit akan merayap dipermukaan bumi mencari tempat yang rendah.  Sebagian air yang kebetulan menemui pori-pori tanah akan meresap ke dalam tanah,  sebagian lagi yang tidak terserap akan terus mengalir menuju tempat-tempat rendah lainnya dimana pun.

Bila tempat yang rendah itu kebetulan sebuah selokan, air akan masuk ke dalam selokan itu. Tapi, bila selokan itu penuh atau tersumpat,  air akan mengalir ke tempat rendah lainnya. Nah, bila tempat rendah itu adalah masjid, restoran, bahkan istana presiden, air akan masuk ke sana. Air tenyata tidak peduli tempat yang rendah itu tempat apa. Tempat maksiat ataupun tempat ibadah bagi air sama.

Inilah hukum air. Setelah kita mengenal hukum alam air, pengendalian banjir hanyalah penyediaan sarana yang cukup  sehingga air  itu mengalir sesuai hukum-hukumnya.  Sederhana bukan?

Begitu sederhanya persoalan banjir itu, penyelesaiannya tidak perlu harus pakai teriak-teriak, tuding sana tuding sini.  Penyelesaian banjir tidak perlu harus dikait-kaitkan dengan isu politik, dll.  Pada tingkat individu, cukup pastikan bahwa di tempat Anda ada selokan yang dasarnya lebih rendah dari halaman rumah, ukuran selokan itu cukup menampung seluruh aliran air, dan selokan itu bersambung tanpa tersumbat dengan selokan lain, parit, kali, atau sungai yang dasarnya lebih rendah lagi dan ujungnya bermuara ke laut.

Ketika seorang kawan saya begitu semangat menceritakan bahwa rumahnya terendam banjir, saya ikut pilu dan menyampaikan rasa berduka cita.  Tapi, saya bertanya pada dia. “Adakah selokan di sana?

“O, ada,” jawabnya ringkas.  ”Selokan itu tidak mampu menampung air lagi.”

“Sudahkah  Anda pastikan ukuran selokan itu memadai untuk menampung hujan yang turun? Dan apakah selokan itu bersambung ke selokan lain yang lebih rendah menuju ke laut?”  tanya saya kepad kawan itu.

“Wah, itu kan tugas Pemda,”  jawabnya.

Nah, inilah persoalan yang sebenarnya. Kawan saya itu dengan tenang tinggal di satu perumahan dan tidak pernah berpikir apakah di komplek perumahan itu ada selokan yang ukurannya memadai secara volume dan selokan itu bersambung ke selokan lain, parit, kali, atau sungai yang ujungnya bermuara ke laut.

Ketika isu selokan itu saya tanyakan, dengan enteng dia menjawab bahwa itu urusan Pemda.  Aha. Jadi, urusan dia hanya tinggal di rumah itu dengan tenang, setiap hari asyik menonton TV. Setenang itu ia tinggal di sana, tentu lebih tenang lagi  pak RT, pak RW, pak Lurah, atau pak Walikotanya.

Kalau demikian cara berpikir kita masing-masing, wajar saja kalau kita terpaksa bersibuk ria bila musim hujan tiba. Kita akan menyaksikan dengan mata kepala sendiri sejumlah air yang tidak menemukan jalan ke laut tiba-tiba mampir bertamu ke rumah kita, numpang menginap di ruang tidur, ruang belajar, dan dapur. Kita akan menyaksikan kalau air itu ternyata  tidak dapat pula dibujuk pergi ataupun dipaksa meninggalkan rumah kita betapapun berbagai tudingan penyebab banjir telah kita lemparkan ke mana mana dengan emosi.

Kalaulah kawan saya itu punya mata dan telinga hati, tentu ia akan mendengar  dan melihat bahwa air itu sebenarnya sedang marah, mengamuk, karena tidak diberikan jalan ke laut.
Mengendalikan banjir pada ahkikatnya hanyalah memastikan tersedianya selokan, parit, kali, atau sungai yang lebih rendah,  sebagai tempat air yang tidak terserap tanah mengalir ke laut. Mengendalikan banjir artinya juga  memastikan ukuran selokan, parit, kali, dan sungai itu cukup menampung volume air yang akan mengalir. Mengendalikan banjir  artinya hanyalah menjaga jangan sampai selokan, parit, kali, dan sungai itu mengalami penyempitan atau penyumbatan.
Begitu sederhananya pengendalian banjir, mengapa sepertinya  masyarakat bahkan pemerintah menemukan jalan buntu?

Urus selokan maka selesailah urusan banjir.

Berjumpa Rasulullah SAW Melalui Mimpi atau Yaqazah

Rabiul Awwal, lebih khusus 12 Rabiul Awwal, adalah hari yang paling banyak dipergunakan untuk berbicara atau berbincang-bincang tentang Rasulullah SAW.  Itu bukan sebagai keharusan tapi hanya kebiasaan saja. Bukan kelahiran beliau saja yang menjadi fokus perbincangan antara kita di saat maulid seperti ini, tapi juga kehidupan sampai kewafatan beliau.  Yang tak kurang diperbincangkan adalah pengalaman spiritual yang dialami beberapa orang berupa perjumpaan dengan manusia utusan Tuhan itu melalui mimpi.  Semoga Allah limpahkan salawat dan salam kepada sang teladan ummat itu serta keluarga dan pengikut yang senantiasa rindu dengan beliau.

Dalam tulisan ini, saya ingin berbicara sedikit perihal bermimpi bertemu Rasulullah.  Saya termasuk yang belum pernah bermimpi bertemu baginda SAW, walaupun saya sangat menginginkannya.

Seorang sahabat saya menanyakan kalau kita bermimpi bertemu Rasulullah dan di dalam mimpi itu kita mendapatkan arahan dari beliau untuk melakukan sesuatu, apakah menjalankan arahan itu  merupakan sesuatu yang bersifat wajib? Saya tidak tahu persis apakah kawan ini memang pernah bermimpi demikian atau ia hanya berandai-andai. Yang tidak bisa disangkal adalah bahwa mimpi bertemu Rasulullah sangat didambakan oleh kaum muslimin.

Yang menjadi dasar keimanan kaum muslimin adalah sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh beberapa perawi hadis yang mengatakan bahwa barang siapa yang bermimpi bertemu Rasulullah, sesungguhnya orang itu benar-benar telah berjumpa dengan Rasulullah karena setan tidak bisa meniru wajah Rasul itu. Nah, kalau di dalam mimpi itu Rasulullah menyuruh orang itu melakukan sesuatu, timbul persoalan apakah perintah itu wajib dijalankan atau boleh ditinggalkan.

Bukankah taat pada Rasul adalah wajib?

Tidak ada yang salah dengan peristiwa mimpi dengan Rasulullah. Setiap orang dapat mengalaminya. Bila kerinduan sesorang kepada Rasululllah sedemikian besarnya, Allah sering meresponsnya dengan cara mempertemukan orang itu dengan Rasulullah di dalam mimpi atau di dalam yaqazah.

Mimpi berbeda sedikit dengan yaqazah. Mimpi terjadi di dalam tidur sedangkan yaqazah adalah sejenis mimpi tapi terjadi ketika seseorang tidak tidur.  Yaqazah dapat terjadi ketika seseorang dalam keadaan diam,  zikir,  atau merenung.  Bisa juga yaqazah terjadi ketika seseorang sedang mengerjakan pekerjaan tertentu.

Walaupun berbeda juga dengan mimpi, pada hakikatnya yaqazah adalah mimpi juga.  Hanya tidur dan tidak tidur saja yang membedakannya.  Karena yaqazah ini tidak dialami oleh banyak orang seperti halnya mimpi, sangat sulit meyakinkan beberapa orang awam kalau yaqazah ini benar-benar bisa terjadi.

Peluang bisa bermimpi dengan Rasulullah adalah satu anugerah yang besar dan luar biasa bagi orang-orang yang beriman.  Kerinduan akan Rasul sering berbuah mimpi dengan beliau. 

Orang-orang tertentu bahkan dapat mengalami yaqazah.  Orang yang beriman sangat merindukan peristiwa itu. Bahkan, Syekh Yusuf An-Nabhani menulis satu buku khusus tentang bagaimana menjemput mimpi dengan Nabi ini. Beliau mengatakan di dalam buku itu bahwa salah satu hikmah bershalawat atas Nabi secara konsisten adalah diperjumpakannya kita oleh Allah dengan Rasulullah SAW melalui mimpi atau yaqazah.

Berbahagialah siapa saja yang pernah bermimpi ataupun beryaqazah dengan Rasulullah SAW tersebut. Semoga mimpi itu merupakan respons pengakuan Allah atas rasa rindu kita yang sangat dalam pada diri uswatun hasanah itu. Pesan-pesan yang diterima dari Rasulullah melalui mimpi itu tentulah pesan-pesan yang berharga.

Tapi, perlu diketahui oleh kita semua bahwa bagi manusia biasa yang bukan nabi atau rasul, tidak ada jaminan dari Allah bahwa informasi/pesan yang kita peroleh dari mimpi atau yaqazah itu sebagai sesuatu yang pasti benar.

Mimpi manusia biasa masih mengandung isyarat atau simbol-simbol yang tak mudah dipahami akal.  Selain itu, mimpi manusia biasa itu bisa diinteferensi oleh obsesi nafsu manusia itu sendiri, dan bahkan dapat diintererensi oleh setan. Bukan tidak ada kebenaran dalam mimpi, tapi kebenarannya sudah tercampur-campur dengan berbagai hal, termasuk nafsu dan setan.

Makanya, dalam syariat Islam, ada tuntunan Rasulullah SAW  tentang apa yang harus kita lakukan kalau kita bermimpi. Tak semua mimpi boleh diceritakan pada orang lain, dan tak semua informasi dari mimpi boleh disebarluaskan.

Allah hanya menjamin kebenaran mimpi para nabi dan rasul (QS:48:27). Bagi orang-orang selain nabi dan rasul, mimpinya masih memerlukan ta’bir (penafsiran akan makna yang sebenarnya). Dan, ta’bir mimpi itu tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Bahkan, tidak semua nabi memiliki kemampuan mena’bir mimpi orang lain seperti kemampuan nabi Yusuf, a.s.

Karena itu, bagi kita yang bukan nabi dan rasul, jadikanlah mimpi itu sebagai sumber inspirasi saja, bukan sumber informasi, karena tidak ada jaminan kebenaran informasi di dalamnya. Sepanjang isi mimpi itu tidak menyalahi syariah dan akal, silakan saja dituruti. Telah banyak orang, seperti pengusaha, seniman, dan saintist yang membuktikan kesuksesannya setelah terinspirasi dari mimpi.

Tapi, jangan lupa, banyak pula orang yang kecewa setelah mengikuti apa kata mimpinya.
Tapi, kalau mimpi itu memberikan informasi yang menyalahi syariah dan akal sehat, jangan sekali-kali dituruti, walaupun yang memberi informasi di dalam mimpi itu mengaku Rasulullah.
Ingat, setan bisa mengaku sebagai Rasulullah walaupun tidak bisa menyerupai wajah beliau. Kalau setan itu datang dan mengaku Rasul, kita yang tidak mengenal wajah Rasul yang asli tentu tidak akan akan mengenalinya.

Seluruh imam mujtahid telah sepakat untuk tidak mendasari ijtihad mereka dari mimpi ataupun yaqazah. Padahal, bermimpi atau beryaqazah pastilah sesuatu yang bukan mustahil terjadi pada mereka juga karena mereka manusia biasa. Mereka justru menutup rapat-rapat isi mimpi dan yaqazah mereka itu untuk orang lain agar tidak disalahpahami, kecuali untuk hal-hal tertentu dengan alasan yang tertentu juga. Dalam semua keputusan ijtihad, mereka  mendasarkannya pada Al Quran dan As Sunnah, dan juga ijma’ ataupun ijtihad ulama yang mendahului mereka.

Kembali kepada pertanyaan semula, “Bagaimana kalau salah seorang bermimpi dengan Rasulullah, dan dalam mimpi itu beliau menyuruh melakukan sesuatu?”
Menurut saya, melakukan sesuatu yang halal tidak salah dalam pandangan syariah dan akal. Silakan melakukannya. Tidak apa-apa, bukan? Tapi bila sesuatu itu adalah sesuatu yang haram, perintah itu wajib ditinggalkan.  Semoga kita terhindar dari pendekatan setan yang dengan lihainya yang dapat menggunakan sarana mimpi berjumpa Rasulullah sebagai alat menipu manusia.

Friday, January 10, 2014

Kondomisasi = Sex Bebas

Ketika lokalisasi Kramat Tunggak digusur dan diganti menjadi islamic center, Menteri Kesehatan Ibu Mboi bereaksi keras. Beliau mengungkapkan kalau beliau tidak sependapat dengan penghilangan lokalisasi pelacuran.  Saya sempat berpikir kalau Ibu ini jangan-jangan mantan germo.

Saya tidak paham cara berpikir seorang ibu, seorang dokter, dan seorang menteri yang ternyata keberatan dengan pengubahan lokasi pelampiasan nafsu sex bebas menjadi tempat pembinaan spritual berdasarkan agama. Proyek yang seharusnya didukung penuh oleh pemerintah, malah dianggap tidak tepat.

Saya kurang paham ketidaksetujuan beliau itu lantaran yang dibangun adalah islamic center bukan pusat kegiatan agama lain, atau beliau memang ingin lokalisasi sex bebas perlu diabadikan dan negara perlu memfasilitasinya. Sebenarnya, tidak ada cara yang paling tepat mengembalikan moral bangsa ini kecuali melalui agama.

Agama mungkin masih dianggap phobia. Atau agama masih dianggap tidak ada kait merngait dengan dunia kesehatan dan kedokteran.

Bagi Ibu ini, sex bebas adalah hak asasi. Setiap manusia berhak melampiaskan hasrat sexnya dengan segala cara, apakah melalui pernikahan atau melalui perselingkuhan, atas dasar suka sama suka atau atas dasar jual-beli. Pemerintah wajib menyediakan sarana bagi pelaku sex bebas itu. Kalau sarana ini ditiadakan, kita telah melanggar hak asasi penting melampiaskan nafsunya secara bebas. Itulah sebabnya beliau berjuang agar tempat seperti Kramat Tunggak perlu dibangun oleh negara.

Propanda penggunaan kondom yang sekarang  dilancarkan oleh Kementrian  Kesehatan yang digagas Ibu Moi juga tidak dapt ditafsirkan atau dipahamkan kecuali sebagai upaya memfasilitasi pelaku sex bebas itu.  Kalau bukan untuk mereka, kepada siapa sasaran kondomisasi ini?  Untuk pasangan suami istri yang tetap? Jelas bukan.

Kalau tujuannya untuk membasmi HIV, logika sederhana saja mengharuskan kita membasmi sebab-sebab awal HIV itu. Sebab awal penularan HIV adalah adanya sex bebas. Mengapa bukan menghentikan sex bebas itu yang  menjadi fokus? Mengapa kita justru fokus mengajari pelaku sex bebas dengan jurus-jurus aman, dengan menghimbau mereka untuk menggunakan kondom.

Program ini benar-benar telah menambahkan coreng moreng pemerintahan yang ada sekarang. Sudahlah banyak kasus yang belum terselesaikan, pemerintah menambah lagi kasus baru: fasilitasi sex bebas.

Haifa Siti Jufrani

Kang Jonih, demikian beliau akrab dipanggil, adalah kerabat saya sesama alumni aktifis Masjid  Salman-ITB  angkatan 80-an. Di samping kegiatan super sibuk beliau di SKKMIGAS, sebagai Spesialis Utama bagi Sekretaris SKKMIGAS, ustaz yang bernama lengkap Jonih Rahmat ini  adalah juga pengasuh hampir seratus anak yatim dan du’afa di rumah kediamannya di Ciomas,  Bogor.  

Di sisi lain kehidupannya, beliau nampaknya gemar menuliskan berbagai pengalaman sehari-hari hasil pengamatan dan perenungan atas berbagai kejadian, dalam bentuk catatan-catatan. Tidka main-main, sebagian catatan-catatan itu telah diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, hingga kini sudah dua buku.  Buku pertama adalah “Malaikat Cinta”. Buku kedua adalah “Buku Tentang Kebaikan”. Seluruh isi  catatan-catatan itu, menurut saya, layak dijadikan sumber inspirasi oleh siapapun yang membaca.

1389162186483107272
Sumber: Akun Facebook Jonih Rahmat
Saya termasuk beruntung karena di hari akad nikah anak saya pada 5 Januari 2014 yang lalu, di Taman Mini Indonesia Indah, beliau berkenan hadir dan menyampaikan doa penutupan setelah prosesi aqad nikah itu.  Saya lebih beruntung lagi karena setelah itu beliau menuliskan liputan acara akad nikah itu dalam bentuk sebuah tulisan yang dihadiahkannya  untuk  saya sekeluarga.

Karena isi tulisan itu layak disimak dan demi untuk berbagi ilmu dan kebahagiaan dengan kawan-kawan,  berikut saya kutipkan tulisan itu secara utuh  di Kompasiana. Selamat menikmati.

HAIFA SITI JUFRANI

Tadi pagi, saya meluncur ke arah Taman Mini. Ada rasa khawatir di hati, kalau-kalau seperti beberapa kali nyaris terjadi- saya telat tiba di lokasi.

Alhamdulillah, pagi itu banyak warga Jakarta masih menikmati istirahat di kediamannya masing-masing, sementara turis-turis domestik dan para tamu undangan ke pernikahan di Jakarta dari kota-kota sekitarnya, belum pada tiba. Jalanan lenggang. Sepuluh menit dari pukul tujuh, saya sudah berada di dalam Gedung Sasana Kriya, The Venue at TMII, demikian tertulis di kaca pintu masuk itu gedung.

Begitu saya membuka pintu yang terbuat dari bahan kaca itu, rasa segar dan sejuk menerpa badan dan menyentuh qalbu. Angin segar datang dari pendingin udara di dalam ruangan; yang menyejukkan qalbu muncul dari pengeras suara yang mengalunkan selawat yang merdu.

“Yaa Nabie salaam ‘alaika.
yaa Rasuul salaam ‘alaika
yaa Habieb salam ‘alaika
shalawaattullaah ‘alaika
Anta syamsun anta badrun
Anta nuurun fauqa nuurin
Anta iksieruw_ wa ghaalie
Anta mishbaahush-shuduuri
Asyraqal badru ‘alainaa
fakhtafat minhul buduuru
mitsla husnika maa ra-ainaa
qaththu yaa wajhas suruuri
Yaa habiebie yaa Muhammad
yaa ‘aruusal khaafiqaini
yaa muayyad yaa mumajjad
yaa imaamal qiblataini.”

Meja dan kursi  yang diselimuti kain putih bersih -untuk acara akad-  sudah rapi terpasang. Di depan, kiri, dan kanannya berbaris kursi-kursi untuk para tamu undangan. Kecuali beberapa orang panitia dan kerabat dekat mempelai, gedung masih sepi. Calon pengantin pria dan wanita beserta keluarga besarnya, barangkali, masih di ruang rias.

Memanfaatkan waktu, saya keluar gedung menuju rumah ibadah di depan Sasana. Bakda salat beberapa rakaat di Masjid Diponegoro, itu saya kembali ke tempat akan diselenggarakannya akad nikah. Pembawa Acara baru saja memulai tugasnya.  Mempelai pria, ayah pihak wanita, petugas dari Kantor Urusan Agama, dan saksi-saksi sudah siap sedia menghadap meja.

Hari ini, Minggu, 5 Januari 2014, sahabat saya, Jufran Helmi, mengundang banyak orang. Ia akan menikahkan Haifa, putri sulungnya.

Bagi saya, ini adalah undangan ketiga kalinya dari kawan ini. Pada undangan pertama di sebuah hotel bintang lima di Jakarta, yang juga dihadiri oleh selebritis dan menteri, beberapa tahun lalu, saya berhalangan hadir. Tetapi, dua anak kami datang mewakili. Undangan kedua yang diselenggarakan di hotel paling besar di Jalan Dr. Djudjunan, Terusan Pasteur, Bandung, saya dan istri, alhamdulillah, bisa mengikuti. Acara di Grand Aquila itu, belakangan saya tahu, ternyata diliput banyak media dan menjadi berita yang rada-rada menghebohkan. Mengapa? Karena ia  mengangkat masalah poligami berdasarkan syariat.  Acara itu diselenggarakan oleh Global Ikhwan. 

“Saya dan kedua istri dihadirkan karena keluarga kami adalah keluarga poligami,” Uda Jufran menjelaskan.

Bapak Penghulu memimpin prosesi akad nikah dengan singkat dan jelas. Ayah calon mempelai wanita menggenggam telapak tangan calon menantunya. Dengan suara berat, namun mantap, insinyur mesin yang ustaz ini berkata:

“Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Rio Satria Muhammad bin Syukri Agus Tanjung dengan putri saya, Haifa Siti Al-Kautsar dengan mas kawin cincin dan seperangkat alat salat, tunai!”

“Terima nikahnya saya dengan Haifa Siti Al-Kautsar binti Jufran Helmi dengan mas kawin cincin dan seperangkat alat salat, tunai!” Rio, pemuda tampan, berserban ala Pangeran Diponegoro, dengan sigap dan tegas menyambut ijab.

“Baarakallaahu laka wa baaraka ‘alaika wa jamaa baina kumaa fie khoier,” penghulu beserta hadirin serentak mendoakan pengantin.

Setelah penyerahan mas kawin dan  disusul dengan saling memasangkan cincin oleh pengantin, petugas KUA meninggalkan ruangan, bergegas ke tempat lainnya. Acara dilanjutkan dengan nasihat pernikahan.

Taushiah disampaikan oleh Ustaz lulusan Teknik Fisika  ITB, Al-Mukarom Bapak Muhammad Furqan Al Faruqiy*. Isi ceramah terbilang ringkas, padat, dan penuh makna.

Penceramah, antara lain, menyampaikan bahwa dengan pernikahan ini, suami harus sayang kepada istri;  istri menyayangi suami. Kendatipun sudah berpisah rumah dengan ibu dan ayah, seorang suami dan istri harus makin hormat dan sayang kepada ibu dan ayah; juga kepada ayah dan ibu dari suami, ayah dan ibu dari istri.

Dalam hidup berumah tangga, mesti akan ada topan godaan yang akan menerpa. Karena itu,  suami dan istri harus mempelajari dan mengerti management conflict. Dengan ini ia akan mampu memainkan peran dalam menghadapi godaan dan cobaan yang datang menghadang.
Untuk mempersiapkan kehadiran anggota baru dalam rumah tangga, kedua pengantin baru perlu belajar bagaimana mendidik dan bersikap bijak terhadap anak. Sehingga, nanti, saat sang buah hati hadir di tengah-tengah keluarga, kedua orangtua sudah siap membimbingnya.
“Alhamdulillah, sekarang, kursus-kursus parenting, ada di mana-mana. Manfaatkanlah waktu yang ada untuk menimba ilmu demi kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga! Bersiap-siaplah menyambut kedatangan anak-anak yang saleh-salehah!”

Ustaz yang dawam salat malam, ini juga menyebutkan bahwa ikatan pernikahan di dalam Al-Qur’an disebut sebagai mietsaaq. “Kata miestaaq mempunyai makna jauh lebih kuat dan hebat dibanding perjanjian-perjanjian biasa atau kontrak-kontrak di perusahaan.”
Mietsaaqan ghaliedzaa adalah perjanjian yang berat, perjanjian  yang kokoh dan agung. Selain dalam pernikahan, hanya dua kali Allah Swt., menyebut kata-kata ini di dalam kitab suci. Semuanya dalam peristiwa sangat besar dalam sejarah umat beragama.
Pertama, ketika Allah mengambil janji para Nabi ulul azmi:

Wa idz akhadznaa minannabiyyiena mietsaaqahum wa minka wa min nuuhi wa ibrahiema wa muusaa wa ‘iesaa ibni maryama, wa akhadznaahum mietsaaqan ghaliedzaa (Al-Ahzab:37).
Dan, kedua, saat Allah mengangkat Bukit Tursina di atas kepala Bani Israil dan meminta mereka berjanji setia di hadapan Allah:

Warafa’naa fauqahumuththuura biemietsaaqihim waqulnaalahumudkhulul baaba sujjadaw_wa qulnaa lahum laa ta’duu fissabti wa akhadznaa minhum mietsaaqa gholiedzaa (An-Nisaa: 154).
Dan, yang ketiga adalah dalam ikatan pernikahan:
…wa akhadzna minkum mietsaaqan ghaliedza (An-Nisaa: 21).
Mengapa Allah mensejajarkan penggunaan kata-kata mitsaaqa ghaliedzaa untuk peristiwa pernikahan dengan perjanjian para nabi dan perjanjian dengan Bani Israil itu?
Jawabnya adalah bahwa pernikahan merupakan sebuah kejadian yang agung, peristiwa sangat besar. Ia tidak saja disaksikan kedua orangtua, kerabat, dan para sahabat; melainkan…disaksikan pula oleh Allah dan para malaikat di langit tinggi!

Dan, dengan kalimat sederhana, ijab dan kabul, terjadilah perubahan sangat besar, perubahan luar biasa di antara kedua insan.  Dengan dua kalimat itu, yang haram menjadi halal, yang maksiat menjadi ibadat, kekejian menjadi kesucian, dan kebebasan berubah menjadi tanggung jawab.

Mubaligh bergamis dan berpeci putih, ini menutup khotbahnya dengan doa yang sangat indah.
Sebelum sungkeman, saya menyisip hendak menyampaikan bingkisan khusus untuk sahabat, pasangan Uda Jufran dan Ema – ayah dan ibu dari Haifa; dan sebagai hadiah bagi Kedua Mempelai. Persembahan itu berupa untaian kalimat panjang yang saya ambil dari Alquran, hadis Nabi saw., orang-orang saleh terdahulu, dan para kiai.

Mempelai wanita bersimpuh di lutut ibu dan ayahnya, demikian pula pengantin pria. Tetes-tetes air mata menambah syahdunya suasana. Air mata ayah-ibu yang akan melepas putri dan putranya. Air mata anak karena sesal atas salah dan dosa yang pernah mereka perbuat, selama ini. Rasa kurang berbakti, ketika hendak pergi meninggalkan ayah dan bunda, terasa sekali.

Ketika hadirin antre menyalami pengantin, saya diajak ke ruang sebelah, mengikuti antrean lainnya: santapan bakda akad. Sehabis menikmati soto ayam yang panas dan sedap, lama saya berbincang dengan seorang kerabat mempelai pria dan seorang bapak kawan sekantor Mas Nono (Dr. Pariatmono Sukamdo. Apa kabar Mas Nono? Lama tak bersua). Kemudian, karena shohibul bayt tidak terlihat di ruang utama, lantaran sedang pada berganti pakaian, saya memijat-mijat telepon seluler. Melalui pesan pendek,  saya berpamitan kepada yang punya hajat, meneruskan perjalanan menuju undangan lainnya di Jakarta Selatan.

Semoga Haifa dan Rio, hidup sehat bahagia. Allah karuniakan kepada mereka kehidupan yang sakinah, mawaddah, warahmah,  penuh dengan curahan rahmat-Nya.  Semoga mereka berdua menjadi pemererat tali silaturahmi kedua keluarga besar, dan dikarunia putra dan putri yang menyejukkan hati -yang kelak akan menjemput kedua orangtuanya, dalam rida-Nya. Aamiin.

Sasana Kriya, TMII, pagi hari; dan Jagorawi, sore hari, 5 Januari 2014.
Salam,
jr

Catatan:
Tulisan ini adalah Kado dari kami sekeluarga untuk Uda Jufran, Ema, serta Haifa dan Rio. Haifa adalah nama depan putri Uda Jufran - Ema; Siti adalah nama tengah (middle name) pengantin wanita. Di Masyarakat Sunda (Sukabumi termasuk di dalamnya), orang biasa menambahkan kata Siti di depan nama wanita yang disayang atau dihormati. Jadi, kata “Siti” di judul tulisan bukan saja nama tengah sang putri, melainkan pula representasi sebutan wanita mulia cq. untuk nama ibunya. Di samping itu, orang-orang Jawa Barat, sebagian besar, memanggil ibunya dengan sebutan “Ema”. Semoga kepada Ema, Allah tambah karuniakan kemulian para ibu. Sedangan, tambahan huruf “i” pada kata Jufran, melambangkan “dinasti”, pam, marga (dalam makna positif, dan tidak dalam arti yang sedang ramai diberitakan). Bagi Rio, mempelai pria, Haifa, Siti, dan Jufrani, sejak ijab-kabul tadi, adalah bagian yang tak terpisah dengan diri Anda. Bersama mereka, beramal salehlah sebanyak-banyaknya dalam menggapai rida-Nya. Dari Jufrani inilah, kelak, semoga lahir pemuda-pemudi saleh dan pintar yang menyebarkan manfaat yang luas bagi umat, memberikan rasa aman dan nyaman kepada siapa pun yang berada di sekitarnya.

*Ustaz Muhammad Furqan Alfaruqiy adalah penceramah yang insinyur. Ia lulus dari Teknik Fisika ITB. Beliau, selain membina Majelis Al-Quran Indonesia, Pusat Da’wah Al Quran Bina Qolbu, di Jakarta,  juga adalah pengurus Keluarga Alumni Masjid Salman-ITB. Ustaz berpenampian kalem ini, juga adalah penulis buku “Belajar dari Kejatuhan Iblis dan Nabi Adam, as.”

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail