Breaking

Thursday, October 26, 2023

Thursday, October 26, 2023

Dover Castle Hostel

Kalau Anda malas tinggal di Hotel - karena bosan, atau budget pas-pasan, pilihan tempat tinggal di London adalah hostel. Hotel dan hostel hanya beda satu huruf: s. Tapi dari segi harga jauh berbeda. Kenyamanannya? Ya, pasti juga berbeda sesuai harga.

Kalau di hotel Anda tingal sendiri atau berdua sekamar, di hostel Anda tinggal rame-rame. Ada hostel yang menawarkan tinggal 8 orang sekamar dan ada pula yang 18. Bahkan ada yang 40 orang. Sebuah kamar seperi aula disulap jadi kamar tidur. Dipan-dipanya dibuat bertingkat. Kesan pertama, Anda mengira itu geladak kapal. "

Di Dover Castle Hostel saya sekamar dengan 12 orang. Ada India dan pakistan. Ada juga yang berasal dari Eropa seperti Jerman dan Belanda. Mereka rata-rata anak muda yang gemar keliling dunia dengan hanya membawa ransel. Istilah kerennya backpacker.

Karena pagi jam 8 pagi sudah berangkat dan baru pulang setelah jam 9, mubazir sebenarnya membayar sewa hotel yang mahal. Kalau di Waldorf Hilton Anda harus merogoh kantong 5 juta rupiah semalam, di hostel Dover Castel cukup 250 ribu saja.

Walaupun ditempati ramai-ramai, kamarnya bersih tidak pengap. Dilengkapi pemanas udara untuk melawan hawa dingin di luar. Ada cafe yang menyediakan makanan dan minuman bagi yang mau beli. Yang malas beli, tersedia dapur untuk memasak. Tinggal beli sayur, telor, atau mie di minimarket, lalu masak sendiri.

Untuk mencuci, tersedia mesin-mesin cuci yang disewakan. Operasikan sendiri. Cucian langsung sampai kering. Tersedia pula setrika bagi yang mau tampil lebih necis.

Karena tidak mungkin meletakkan kopor di kamar karena sempit, terdapat ruang penyimpan kopor. Ke kamar cukup bawa satu tas kecil atau ransel yang berisi handuk, peralatan mandi, dan carger HP.

Kamar mandi dipakai bergantian, tapi handuk dan peralatan mandi harus disiapkan sendiri. Airnya hangat. Biar tidak antri, bangunlah sebelum subuh dan mandi duluan sebelum orang lain mandi.

Air botol dijual di cafe. Tapi kalau mau lebih hemat, minum air keran saja. Langsung minum, tidak perlu direbus, kecuali Anda mau bikin kopi. Perebus air juga ada kalau mau.

Itulah indahnya tinggal di hostel. Banyak kawan. Setelah Anda jalan keluar, berpakaian rapi, naik bus atau tube toh tidak ada yang akan mengesan kalau Anda tidak menginap di Waldrof selama berkunjung di London. Kalau hanya sekedar kesan, toh siang hari tinggal mampir ke Waldorf, anda selfie di lobi hotel mewah itu. Gratis.



Thursday, March 7, 2019

Thursday, March 07, 2019

Mind Mapping

Mind Mapping pada dasarnya sebuah aktifitas menggambar menggunakan kertas dan pensil-warna warni. 

Yang membedakannya dari menggambar umumnya adalah bahwa yang digambarkan MindMapping bukan objek fisik, tapi sebuah proses yang terjadi di dalam neuron dan dendrite otak ketika kita sedang berpikir. 

Dengan trik dan teknik sederhana, memadukan meta cognitif dan kinestetik, aktifitas MindMapping terbukti membantu seseorang berpikir secara sistem, sekaligus analitis dan kritis. 

Bukan itu saja, MindMapping juga membantu seseorang berpikir lebih generatif dan kreatif; memutus kebuntuan. 

Metoda MindMapping sangat cocok dipakai bagi yang sering berhadapan dengan pikiran yang kompleks dan menantang seperti yang sering dialami para business analyst, entrepreneur, philospher, project manager, strategic planner, autodidactic learner, writer, designer, engineer, politician, dan artist.


Friday, July 13, 2018

Friday, July 13, 2018

Desa Usaruk, PNG

Desa Usaruk, kurang lebih setengah jam penerbangan helikopter dari Madang, Papua New Gunea.

Ngeri juga melihat mereka datang menghampiri helikopter kami yang baru mendarat. Masing-masing memegang golok yang panjangnya hampir sehasta. Ada yang menyiapkan bambu runcing.

Eh, di luar dugaan. Ternyata mereka baik dan ramah. Kami disambut dengan kalungan bunga dan senyum persahababatan. Tidak paham apa yang mereka sampaikan. Namun dari raut muka tergambar kalau mereka senang walaupun tersirat juga kewaspadaannya.

Bapak-bapak dan anak-anak berebut minta salaman. Ibu-ibunya minta foto bersama --eh saya yang minta.

Mereka manyajikan melon, mentimun, dan kelapa muda sebagai penghormatan kepada kami yang telah berkenan meyinggahi mereka.



Friday, July 13, 2018

Kembali dari Papua New Guinea

Perjalanan yang cukup meletihkan. Akhirnya mendarat kembali di Singapura setelah beberapa hari bertualang di Papua New Guinea.

Sebelum check in di Jackson Airport di Port Morseby sempat berdikusi panjang lebar dengan petugas tourism di sana tentang banyak hal. Salah satunya diskusi tentang sejarah menyatunya bangsa Papua dan bangsa New Guinea menjadi Papua Ne
w Guinea (PNG). Awalnya ada dua blok. Blok utara adalah New Guinea. Mereka mayoritas. Blok Selatan, Papua. Minotitas. Lalu mereka sepakat mendirikan satu negara merdeka.

Setelah diceritakan, baru saya ngeh kalau orang papua lebih kecil badannya dibanding orang new guinea. Hidung mereka pun lebih kecil di samping kulitnya yang tidak terlalu hitam. Tapi, kebiasaan mengunyah pinang sama.
Friday, July 13, 2018

Kampung Daun

Kampung daun yang tidak sekedar nama, tapi benar-benar rimbun dedaunnya. Lumayan menyingkirkan diri sejenak dari polusi udara Jakarta.
Friday, July 13, 2018

Jus Pinang Khas Aceh

Di Aceh ternyata sudah ada yang mengetahui khasiat pinang muda: meningkatkan stamina. Stamina batin lagi.

Kalau di PNG, pinang mentah dikunyah begitu saja, di Aceh pinang dijadikan jus. Satu gelas jus pinang itu dibuat dari lima butir pinang muda yang diblender bersama satu butir telor ayam kampung, sepotong jahe. dan sesendok madu.

Rasa pahit bawaan pinang memang berkurang tapi masih terasa kelat di lidah. Apakah stamina bertambah? Belum tahu. Tapi, efek instannya langsung terasa. Badan menjadi lebih hangat, dahi berkeringat, dan kepala sedikit goyang-goyang.

Mungkin, kalau minumnya rutin baru akan terasa efeknya pada stamina, termasuk stamina batin.

Mau coba? Datanglah ke Aceh. Tepatnya di Idi.

Thursday, July 12, 2018

Thursday, July 12, 2018

Petai di London

Di London ada yang menjual petai. Ada yang jual berarti karena ada yang membeli. Siapakah gerangan? Saya tidak yakin kalau yang membelinya adalah rakyat jelata. Siapa tahu menu utama keluarga kerajaan Ingris Raya adalah petai dan dan sambal terasi. Kita saja yang belum tahu.

Saya menemukan petai dijual di Grrard Street, kawasan yang dikenal sebagai China Town, London, bersama sayur-mayur lainnya. Ada kacang panjang, kubis, wortel. Tidak hanya satu supermarket yang menjualnya di sana.

Yang membuat saya tidak senang adalah bahwa petai dan sayur mayur itu tidak berasal dari Indonesia. Dari label yang ditempel pada kemasannya yang rapi itu terbaca bahwa itu dari Thailand.

Lha, kemana petai asal indonesia? Habis dikonsumsi dalam negeri? Atau tidak tahu cara mengekspornya ke luar negeri? Saya khawatir petai malah suatu ketika akan diimport seperti garam dan kedele.

Petai - juga sayur mayur yang lainnya - padalah hanya dikemas secara sederhana pakai plastik, lalu divakum. Terlihat rapi, bersih, dan higinis. Mesin pembuat kemasan seperti itu pun dijual di Jakarta. Setidaknya tidak sulit di dapat. Mengemasnya adalah pekerjaan sederhana, tidak perlu oleh seorang insinyur. Tidak ada alasan sebenarnya untuk tidak mau mengkespor produk-produk seperti itu.

Kalau pesawat terbang gagal kita ekspor ke luar negeri, masa petai juga harus gagal juga?

Ayo, mari kita pikirkan bersama. Hasil pertanian Indonesia berlimpah. Tanahnya yang subur menghasilkan ratusan varietas palawija dan buah. Tidak perlu pengolahan lebih lanjut yang rumit. Tinggal dikemas rapi lalu dikirim ke London -- dan kota-kota di Eropa lainnya.

Kita punya ubi jalar, singkong, daun singkong, kentang, cempedak, rebung, pakis, mentimun.

Mengapa sayur mayur itu dibiarkan membusuk dan harganya jadi murah? Mengapa tidak diekspor saja. Pasar di london seperti Brorough, dan bahkan Harrods menampungnya. Ayo bungkus.

Thursday, July 12, 2018

Berburu buku di Foyles

Kalau di Indonesia, Foyless ini mungkin setara Gramedia. Toko buku utama. Cabangnya ada dimana-mana.

Kalau gramedia pusatnya di jalan Matraman, Jakarta, Foyles pusatnya di Charing Cross Road, London. Kalau Anda turun kereta tube di stasiun Totenham Court, jalan kaki sedikit ke arah tenggara sejauh 200 m. Posisinya di sebelah kanan, nyaris berhadapan dengan Phoebix Theatre.

Ukuran tokonya lebih luas dari Gramedia Matrraman. Terdiri dari 7 lantai. 6 lantai full buku, 1 lantai yang paling atas untuk cafe.

Jumlah dan variasi buku tak terhitung. Mulai dari bacaan anak-anak sampai bacaan khusus dewasa. Buku agama tidak hanya tentang Kristen dan Islam, tapi juga Yahudi, Sinto, Khonghucu, -- juga Shikh.

Semua buku bisa Anda baca sambil berdiri. Silakan dibaca sampai habis asalkan daya tahan lutut Anda masih mencukupi dan mata Anda belum berair.

Strategi saya begitu saja. Capek berdiri, saya jongkok. Mungkin lebih dari sepuluh buku yang saya baca - tentunya tidak sampi tamat. Pulangnya tidak perlu mampir ke kasir karena tidak ada yang dibeli.

Thursday, July 12, 2018

Ngopi, London

Salah satu strategi mengusir dingin di London dan meringankan penat di sendi lutut setelah jalan kaki dengan jarak yang sudah tak terhitung jauhnya: masuk ke cafe lalu pesanlah secangkir kopi hangat. Istitahat sejenak.

Cafe untuk itu bertebaran di mana-mana -- hampir di setiap penggal jalan, setiap stasiun, setiap shoping center. Salah satu cafe pilihan saya adalah Nero Coffee.

Nero Coffee menawarkan sajian dan menu kopi ala Italia. Expresso dan Cappucino ada. tapi di Nero ada beberapa variasi tergantung jenis topping yang diminta. Kesukaan saya adalah Cappucino dengan topping bubuk kayumanis. Belum diseruput, aroma khas kayumanisnya telah lebih dulu sampai di kerongkongan melalui hidung.

Yang membuat hati agak senang, Nero Coffee mengimpor biji kopi kering dari Indonesia. Sayangnya, barista brewokan yang melayani saya hari ini tidak tahu apakah kopi Indonesia itu Gayo, Sidikalang, Liwa, Bali, atau Toraja. Eh malah dia balik bertanya apa bedanya.

Terpaksalah saya menjelaskan sedikit banyak macam-macam kopi asal Indonesia, termasuk beberapa proses panen dan penjemurannya. Setahu saya banyak barista tidak tahu hal itu. Mereka mengira lezatnya kopi hanya tergantung pada proses roasting atau brewing. Padahal proses awalnya -- sejak proses panen, pengeringan, pengelupasan kulit, dan peyimpanan juga mempengaruhi rasa akhir kopi.

Semoga saja penjelasan serba singkat dari saya itu mampu membuat Nero Coffee konsisten mengambil kopi Indonesia, tidak berpaling ke Brazilia atau Vietnam -- dua negara pesaing Indonesia dalam hal kopi di pasaran internasional.

Sebenarnya saya ingin sekali menjelaskan satu varietas kopi Indonesia yang bercita rasa istimewa: kopi luwak. Saya pernah dengar kalau kopi luwak dicekal masuk Eropah karena dipandang jijik dan tidak menghargai hak asasi binantang. Mereka tidak tahu kalau yang kita minum itu biji kopi yang sudah sangat bersih dari kotoran luwak. Luwaknya pun dipelihara baik-baik, tidak disakiti.

Sayang sekali barista berlogat British yang sangat kental itu terlalu sibuk. Pembeli yang antri membuat dia tidak fokus lagi. Lain kali, mungkin harus saya bawa saja sebungkus sampel kopi luwak asli untuk diuji coba. Biar orang-orang Ingris tahu rasa.

Thursday, July 12, 2018

Pelatihan Instruktur Mind Mapping

13 peserta. Kebetulan, negara asalnya cukup beragam: Saya Indonesia. Yang lain ada Singapura, Jerman, India, Columbia, Swiss, China, Taiwan, Nigeria, Perancis, Jerman, USA, Emirat Arab, dan Inggris. Kami berkumpul di London, di hotel Waldorf Hilton, membahas perkembangan terakhir penggunaan mind mapping, sebuah metoda dan alat berpikir yang diciptakan oleh Tony Buzan.

Tony Buzan adalah seorang pemikir Inggris yang telah mendedikasikan hidupnya untuk meneliti kerja otak. Suatu bidang ilmu yang dinamakan meta cognitive: berpikir bagaimana otak berpikir. Hasil riset panjangnya itu adalah mind mapping.

Mind mapping telah hampir 4 dekade diperkenalkan di sekolah-sekolah. Bahkan materinya telah diintegrasikan dengan berbagai cabang ilmu. Metoda canggih ini terbukti tidak semakin usang. Penggunaannya justru semakin meluas -- merambah ke hampir semua aktifitas yang memerlukan aktifitas berpikir secara kreatif (creative thinking) di dalamnya.

System thinking yang banyak dipakai oleh para insinyur, lateral thinking yang dipakai para filosuf, atau visual thinking yang dipakai para penggiat marketing adalah sebagian cakupan aplikasi mind mapping.

Acara yang dipandu oleh Liz Oseland, seorang wanita cerdas nan elok rupa itu -- kelahiran Wales, UK -- terlaksana sejak 5 Feb sampai dengan 7 Feb 2018. Acara berlangsung meriah. Serius dan santai, penuh dinamika.

Berpikir kreatif, inovatif, dan sistemik ternyata tidak harus kaku dan monoton. Sebaliknya, berpikir kreatif justru memerlukan canda, humor. Itu adalah bagian dari kerja alamiah otak: tepatnya otak kanan.

Hampir tidak ada bidang kehidupan yang tidak bisa diterapkan mind mapping di dalamnya. Metodanya sederhana namun terbukti ampuh. Sepanjang bidang kerja itu memerlukan kreatifitas di dalamnya, ia memerlukan mind mapping. Sebut saja contohnya: pendidikan, penulisan, bisnis, manajemen, dan bahkan sosial politik.

Selain mereview ulang proses mind mapping klasik yang dibuat secara manual--yang hanya menggunakan pena warna-warni dan kertas, dibahas pula di acara ini mind mapping secara digital, yaitu dengan software canggih iMindMap produksi OpenGenius. Masing-masing mengandung kelebihan dan kekurangannya.

Saya dan ke 12 peserta lainnya tersebut telah diberi lisensi - selaku Tony Buzan Licensed Instructor -- untuk mengajarkan Mind Mapping ke seluruh dunia, terkhusus di negara masing-masing, terhitung 7 Februari 2018. Kami juga mendapat hak jual atas iMindMap, kalau mau jualan.


Thursday, July 12, 2018

Pelatihan Mind Mapping

Apa itu mind mapping? Secara rinci dapat Anda baca di puluhan buku dan puluhan artikel yang ditulis oleh penemunya, Toni Buzan.

Tapi secara sederhana bisa dijelaskan seperti berikut.

Dalam kehidupan, manusia sering menyepelekan masalah pikiran mereka, jika ada kesalahan, mereka langsung mengganggap mereka bodoh.

Padahal pikiran Anda tidaklah bodoh, dan mungkin jika Anda pernah mendengar kata mind mapping, Anda akan tau bagaimana pikiran Anda menyampakain informasi yang begitu rumit untuk dijelaskan dengan mudah.

Mind mapping atau peta pikiran merupakan suatu cara yang digunakan untuk mempelajari suatu konsep berdasarkan bagaimana manusia menyimpan berbagai informasi kemudian menjabarkan informasi tersebut kedalam suatu metode.

Metode dalam pemahaman peta pikiran ini sangat efektif untuk mengetahui sejauh mana otak dalam menyimpan informasi. Manusia memang dikarunia kemampuan dalam hal penyimpanan otak yang berbeda-beda. Namun pada dasarnya otak bekerja untuk menyimpan dan menjabarkan informasi dari sumber dengan pola yang hampir sama.

Otak kita, menyimpan informasi pada sel saraf yang bercabang-cabang dan jumlahnya memang cukup banyak. Jangan pikirkan bahwa otak akan menyimpan informasi pada sel saraf yang berbentuk kotak dan tersusun sangat rapi. Otak akan menyimpan informasi yang didapatkannya pada sel sarat yang tidak beraturan dan bercabang.

Mind mapping memberikan gambaran bahwa ketika kita menyimpan informasi yang hampir sama dengan cara kerja otak, hal ini akan jauh lebih baik. Informasi yang tersmpan pada otak yang disimpan dengan baik akan memberikah hasil yang lebih baik untuk proses belajar Anda. Mind mapping difungsikan sebagai cara untuk menuliskan bagian utama dari titik tengah dan juga memikirkan cabang-cabang ataupun tema turunan yang keluar dari titik tengan yang dimaksudkan tersebut.

Mempelajari bagaimana membuat mind mapping memang bukan hal yang sulit namun bukan pula hal yang mudah jika Anda belum pernah mencobanya. Membuat mind mapping atau membuat peta pikiran adalah hal yang paling baik untuk menjadikan pikiran Anda semakin berkembang dalam mempelajari sesuatu.

Thursday, July 12, 2018

Mind Mapping

Ringkasnya, mind mapping adalah satu metodologi di dalam mengorganisasikan aliran ide-ide ketika sedang berpikir, baik ketika merancang sesuatu, merencanakan sesuatu, atau menemukan solusi dari satu masalah.

Metodanya sederhana: hanya menggunakan kata kunci, garis lengkung, gambar, simbol dan warna. Metoda ini lahir dari hasil riset yang dilakukan peneliti Inggris, Tony Buzan, tentang bagaimana cara kerja otak dan bagaimana cara berpikir genius dunia seperti Micaele Angelo, Einstein dll. Metoda ini sekarang dipakai di Boeing, NASA, Google, Harvard.

Thursday, July 12, 2018

Foyles, London

Menelusuri rak demi rak buku di Foyles seperti tidak akan cukup waktu sebulan. Toko buku besar di London ini seperti museum buku yang memaparkan khasanah ilmu melalui media kata-kata dan kalimat.

Walaupun disediakan bangku untuk duduk membaca di dekat rak, saya tetap tidak mampu menelusir seluruh rak yang tersebar di enam lantai. Bertahan hanya di kelompok buku filsafat, rak buku-buku sejarah juga menggoda. Ketika melihat buku sejarah, buku psychologi menantang pula. Begitu seterusnya dari buku anak sampai dewasa, buku tentang seni, sosial, engineering, dan agama. Habislah waktu, satu pun kategori tidak ada yang tercermati intensif.

Lutut sudah bergetar, mata berair, perut pun lapar. Hari sudah malam. Ini pertanda harus segera meninggalkan toko buku ini.

Dari pada tidak membeli satu pun buku, akhirnya saya putuskan membeli dua sebelum melangkah keluar. Keduanya tentang berpikir kreatif: The Art of Creative Thinking dan Ideas are Your Currency. Keduanya karya Rod Judkins, seorang pengajar kreatifitas kesohor.

Kedua buku tersebut akan saya tambahkan ke dalam bahan pelatihan mind mapping yang akan diluncurkan di Jakarta tidak lama lagi.
Thursday, July 12, 2018

John Harvard Public Library

John Harvard public library, di Southwark, London. Duduk sejenak menata rencana perjalanan, mencari ide, menikmati hasil sumbangan Harvard University untuk mengenangkan John Harvard, leluhur mereka.

John Harvard adalah pendiri Harvard University di Amerika Setikat. Dia lahir di sini, di Southwark. London, tahun 1607. Di usia 30 tahun dia berlayar ke Amerika Serikat dan kemudian mendirikan sekolah yang sampai sekarang dikenal dengan sekolah yang sangat bergengsi, Harvad University.

Perpustakaan John Harvard ini berisi ribuan buku yang dapat dibaca dan dipinjam gratis. Penuh dengan koleksi karya sastra, dari yang klasik sampai yang modern.

Ada rak khusus karya Virginia Woolf, Agatha Christie, dan William Shakespere. Ada karya JK Rowling juga. Penggemar sastra dijamin tidak akan jenuh di sini. Puisi, prosa, sonet, novel ada semua. Cara pengklasifikasiannya sangat baik. Jangan lupa mencatat semua inspirasi yang muncul.

Semua buku ditata rapi, diberi bungkus plastik. Ambil satu, lalu pilih tempat duduk yang paling nyaman.

Sambil baca, teresedia pula kopi hangat. Tapi, kopi harus bayar. Baca gratis, minum bayar. Kalau budget terbatas, seperti saya, cukup baca saja nggak usah minum.

Thursday, July 12, 2018

Buckingham


Salah waktu. Inginnya, ke Buckingham mengunjungi Ibunda Ratu Elizabeth, he he he. Setidaknya, bisalah berjumpa dengan salah seorang keluarga istana, entah itu Pangeran Charles atau Pangeran William. Sayangnya, sampai di sana gerbang istana sedang ditutup. Kata satpam yng sedang berjaga di luar: sedang ada parade pergantian pengawal istana.

Memang, banyak sekali orang berkumpul di luar. Entah mereka hanya ingin melihat parade atau ingin berjumpa Sang Ratu juga. Kalau mereka mau berjumpa juga, wah gawat ini. Bisa tidak kebagian semua.

Acara paradenya lama pula lagi. Pegal.

Ya sudah. Berarti tidak ada rezki berjumpa orang yang paling disanjung di seluruh Kerajaan Britania Raya ini.
Thursday, July 12, 2018

Menggambar untuk Kreatifitas

Salah satu cara mengasah kreativitas adalah mengasah otak kanan.

Latihannya sederhana. Ambil kertas dan arang atau pensil. Duduk dengan rileks. Perhatikan satu objek di depan Anda, lalu gambarlah. Biarkan lengan Anda digerakkan oleh otak Anda ketika otak itu mempersepsi objek yang anda gambar.

Gambarlah setiap garis, lengkung, dan bidang yang benar-benar Anda lihat, bukan menggambar yang Anda pikir Anda lihat. Gunakan otot lengan, bukan otot pergelangan. Itu ilmu dasar yng saya peroleh dari Francine Lawrence dan Susie Hoyle pada kelas mengambar pagi ini, bertempat di Arts Theatre, City Academy, London.

Ketika masih anak-anak dulu, mrnggambar adalah kegemaran saya. Saya selalu menggambar gunung Merapi dan Singgalang yang di depannya terbentang sawah yang luas. Ada jalan berumput, ada pedati. Ada kapal terbang fna awan. Entah bagaimana, kerbiasaan menggambar itu terhenti begitu saja. Barangkali ada sangkaan kalau menggambar hanya untuk anak-anak.

Apa boleh buat, hari ini belajar kembali menggambar. Persepsi bahwa menggambar sangat kekanak-kanakan harus dibasmi. Saya kira saya siswa tertua di City Academy untuk kelas Speed Drawing. Eh, ternyata, nenek Kristy dan kakek Buck yang menjadi kawan sekelas saya usianya masing-masing 78 dan 79 tahun. Haruskah saya malu? Oh, no.

Thursday, July 12, 2018

Menggambar Mengasas Otak Kanan

Menggambar sebuah objek langsung di atas kertas jauh lebih imajinatif, inspiratif, dan kreatif dibanding memotretnya dengan kamera.

Yang dilakukan ketika memotret hanya mengatur fokus, aperture, dan speed. Hanya itu. Apalagi kalau pakai kamera auto, yang dilakukan hanya membidik lalu mengklik. Selesai. Gampang sekali.

Adakah proses berpikir di sana? Sedikit sekali, hampir tidak ada. Hampir tidak ada proses kontemplasi kecuali ketika memilih sudut pandang pemotretan. Hasilnya memang bagus. Tapi itu bukan hasil kerja otak, tapi kerja kamera

Dengan menggambar, pertama Anda akan terbiasa mengamati objek secara cermat. Anda akan mengamati setiap perubahan bidang pada objek. Kedua, Anda harus meterjemahkan hasil pengamatan itu menjadi garis. Selain perubahan bidang, Anda harus megamati perubahan warna dari setiap bidang. Semakin dalam dan detail Anda mengamati, semakin banyak garis dan warna yang akan Anda tangkap.

Disinilah kekuatan menggambar pada kerja otak: pengamatan pada setiap detail. Otak kiri mengamati bidang, otak kanan mengamati warna.

Setiap pengamatan yang cermat akan memancing pikiran kritis dan pikiran kreatif. Para genius besar menyadari manfaat ini dan mengamalkannya dalam proses berpikir mereka.

Dari konsep inilah mengapa menggambar dijadikan sebagai salah satu alat kreatifitas.

Lumayan bisa mengikuti kelas menggambar hari ini bersama Francine Lawrence dan Susie Hoyle.

Tanpa diduga, imajinasi saya yang pernah muncul ketika kanak-kanak dulu, lalu menghilang, perlahan dibangkitkan kembali. Dengan konsep dasar yang diajarkan itu, puluhan objek dapat pindah ke atas kertas.



Thursday, July 12, 2018

City Academy London

Untuk bisa sekolah di London, tidak harus bertahun-tahun. Memang benar ada sekolah formal yang memakan waktu 3 sampai 5 tahun --atau bahkan lebih-- dengan seperangkat gelar akademik mentereng. Sebutlah London School of Economics, University of London, dll.

Tapi, juga ada institusi pendidikan yang hanya menawarkan sekolah kurang dari satu tahun: misalnya 3 sampai 6 bulan. Sebutlah Le Cordon Bleu, sekolah kuliner dan pattisery kesohor yang sudah berdiri sejak 1895.

Untuk orang seperti saya: budget terbatas, waktu terbatas, namun ingin merasakan pula pendidikan di London, ada sekolah yang durasinya hanya mingguan, bahkan harian. Mau tahu? Salah satu lembaga yang menawarkan pilihan waktu sependek itu adalah City Academy.

City Academy, London, menawarkan waktu belajar yang sangat flexible. Tidak perlu tahunan atau bulanan. Cukup mingguan atau harian. Anda bisa kuliah di sela-sela wisata ke sana.

Bidang kajiannya pun bervariasi. Mulai dari bisnis, lifeskill, bahasa, dan seni. Ada seni lukis, seni tari, seni drama, seni menyanyi. Ada keterampilan menulis, junalistik, cinamatografi, fotografi, desain. Kuliah-kuliah itu dibagi ke dalam paket-paket kelas berdurasi pendek dan dibagi pula dalam beberapa level. Setiap orang boleh memilih kelas dan level mana yang dia perlukan.

Berbeda dengan institusi pendidikan lain yang lokasinya terpusat di satu tempat, tempat belajar di City Academy malah menyebar di beberapa gedung di seluruh London seperti di Sadler's Wells, Soho Theatre, Art Theatre, dan The Old Finsbury Town Hall.

Lembaga ini didirikan tahun 2006 di sebuah gedung tua Prudential di Holborn. Peluncuran pertama yang disiarkan langsung melalui TV Channel 4 waktu itu telah menarik perhatian banyak kalangan di dalam dan luar London. Masyarakat ternyata telah meresponsnya secara positif. Terbukti, sampai dengan 2017, telah tercatat lebih dari 150,000 alumni dari 20,000 kelas. Bahkan lokasi kelas yang awalnya hanya 4 lokasi, kini telah tersebar di 50 tempat di seluruh London.

Pengajarnya diambil dari berbagai professional yang bersedia berbagi ilmu. Siswanya pun bervariasi dari yang masih remaja 18 tahun (minimum) hingga yang tua 80 tahun. Mulai dari yang pemula sampai yang advance.

Untuk bisa tercatat sebagai salah seorang alumni London dan tidak mau sekolah lama-lama, saya memilih untuk mendaftar di City Academy saja. Saya telah mengikuti salah satu kelasnya, yaitu kelas Speed Drawing. Di kelas yang hanya satu hari dan berlokasi di Art Theatre itu, saya sudah dipertemukan dengan dua orang illustrator professional selaku guru: Francine Lawrence dan Susi Hoyle.

Tentulah tidak sama materi yang diberikan di kelas yang satu hari dengan yang satu tahun. Tapi setidaknya, bersama 15 kawan sekelas lainnya, kami dibekali juga prinsip-prinsip dasar yang nantinya bisa dikembangkan sendiri secara otodidiak. Akhirnya saya tahu juga betapa mudah dan menariknya kelas menggambar dengan teori yang sangat sederhana.

Secara tidak sengaja saya melihat betapa kreatifnya ide pendirian institusi pendidikan yang bernama City Academy itu -- lembaga yang mempertemukan para professional yang senang berbagi ilmu dengan para pencari ilmu yang terbatas budgetnya, terbatas waktunya.

Sebagai alumni, saya sekarang berpikir apakah mungkin suatu saat kita bisa mendirikan sekolah semacam City Academy London di Jakarta atau kota lain? Manfaatnya banyak benar.

Monday, July 9, 2018

Monday, July 09, 2018

Creativite Thinking Project Management

Project Management tidak boleh hanya mengandalkan prosedur baku dan kaku melulu. Berbagai persoalan yang muncul dalam pengelolaan proyek memerlukan proses berpikir kreatif, pengumpulan fakta yang kreatif, pengambilan keputusan yang kreatif, dan pemecahan masalah yang kreatif.

Setidaknya ada tiga pemdekatan berpikira yang sangat diperlukan dalam project management:
1. System Thinking
2. Lateral Thinking
3. Design Thinking