mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Thursday, September 16, 2010

Semantik Islam, Iman, ihsan

Untuk melihat makna Dienul Islam, yang dalam bahasa kita disebut agama Islam, rasanya menarik juga kalau kita menelaah 3 kata kunci yang sering disebut sebagai 3 elemen dasar Al-Islam: islam, iman, dan ihsan. Ketiga kata tersebut dirangkaikan oleh Rasulullah dalam sebuah dialog dengan Jibril yang sangat terkenal itu. Apa hakikat dari ketiga unsur itu? Saya harap Anda sedikit sabar mengikuti penjelasan saya berikut ini. Kita akan telusuri kata-kata itu secara semantik, mulai dari makna leksikal sampai epistimologinya.

Kita lihat secara leksikal terlebih dulu. Kata-kata islam, iman, dan ihsan mempunyai makna yang sendiri-sendiri yang kelihatannya tidak saling mengait. Ketiga kata itu berasal dari rumpun yang berbeda. Tapi, ketiga kata itu telah dikenal oleh bangsa Arab dalam bermacam-macam penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, itu bukan kata asing bagi mereka.

Kata islam adalah bentuk masdar dari wazan "aslama, yusallimu, islaaman", yang artinya menyerah, tunduk, atau taat. Kalau ditelusuri, kata tersebut merupakan turunan dari kata "salama, yaslimu, salaaman" yang bermakna damai, tenang, atau selamat. Kalau digabung, islam berarti sebuah kepatuhan yang tujuannya adalah keselamatan.

Kata iman adalah bentuk masdar dari kata "aamana, yu'mimu, imaanan" yang artinya percaya, mempercayai, atau meyakini. Kata itu merupakan turunan dari kata "amana, ya'minu, amnan" yang berarti aman atau mengamankan. Kalau kita gabung pula seperti kita menggabung makna islam, iman berarti suatu keyakinan yang tujuannya adalah kemananan diri.

Kata ihsan adalah bentuk masdar dari wazan "ahsana, yuhsinu, ihsaaanan" yang artinya sempurna, lebih sempurna, atau menyempurnakan. Kata itu merupakan turunan dari wazan "hasana, yahsinu, hasanan" yang berarti baik atau berbuat baik. Sekali lagi kita menggabung maknanya, ihsan itu adalah sesuatu yang lebih sempurna yang tujuannya berbuat kebaikan dan mafaat.

Jangan berhenti dulu. Sekarang mari kita lihat secara epistimologis. Istilah Islam, yang bermakna kepatuhan itu, telah dipilih Alllah sebagai nama agama ini. Pasti ada maksud Allah memilih itu. Menurut saya, pemilihan itu dengan jelas menunjukkan bahwa Allah menjadikan kepatuhan pada hukumNya sebagai identitas agama ini. Siapa yang patuh pada hukum Allah, dia muslim. Yang tidak patuh adalah non-muslim alias kafir. Sudah barang tentu tingkat kepatuhan akan bebeda-beda pada setiap individu manusia.

Seluruh isi alam semesta, menurut Allah, pun telah patuh. Mereka pun muslim. Seluruh alam raya, mulai dari jamadat yang mikro sampai yang makro, tunduk dan patuh kepada hukum-hukum Allah. Bila manusia bisa menyertai mereka dalam kepatuhan itu, manusia akan selamat. Sebaliknya, bila manusia hidup berbeda dengan mereka, padahal manusia ada bersama mereka, manusia akan celaka dan sengsara.

Tapi, cukupkah kalau sekedar taat dan patuh bagi manusia sebagaimana tunduk dan patuhnya alam raya? Jelas tidak. Bukankah manusia dicipta sebagai makhluk yang mempunyai kelebihan dibandingkan dengan alam semesta? Bukankah manusia ini khlaifah Allah di alam raya ini? Pasti ada bedanya.

Manusia telah diberi kelebihan berupa hati dan akal sehingga keselamatannya tidak cukup hanya sekedar taat secara lahiriah saja. Di situlah letak bedanya. Walaupun hati dan akal manusia berkendak, manusia diminta menundukkannya juga pada kehendak Tuhan. Kalau tidak, akal manusia akan sangat liar sehingga akhirnya dapat membahayakan manusia itu sendiri. Keyakinan akan Allah merupakan hasil dari penundukan akal kepada Allah. Maka, dengan keras Allah menolak ketaatan manusia yang bukan didasarkan keyakinan. Disinilah esensi iman yang dituntutkan sebagai simbol ketaatan manusia yang berbeda dari alam lainnya.

Terakhir, perlu direnungkan dalam-dalam, bahwa manusia bukan sembarang makhluk dengan semua kelebihannya itu. Allah menyatakan bahwa manusia diutus sebagai khalifah Allah. Wajarlah kalau kehadirannya mesti membawa kebaikan bagi seluruh alam. Dengan sederhana kita bisa melihat bahwa sekedar taat walaupun yakin ternyata tidaklah cukup. Ia dituntut memahami tujuan ketaatan dan keyakinan itu. Tujuan yang paling sempurna adalah Allah, karena Dialah sumber dari semua kebaikan itu. Itulah esensi ihsan.

Kalau ketiga kata itu: islam, iman dan ihsan, kita lihat sebagai sebuah terminologi berdasarkan AlQuran dan AsSunnah, terdapat hubungan semantik yang sangat erat antara ketiganya. Ternyata ketiga-tiganya digunakan dalam makna yang saling berhubungan. Hubungannya bukanlah hubungan sinonimi seperti yang banyak dipahami orang, melainkan hubungan hiponimi atau meronimi. Maksudnya, makna kata yang satu telah tercakup dalam kata lainnya.

Maksudnya, Islam mempunyai makna yang paling umum dalam ketiga kata tersebut. Iman lebih lempit dan ihsan adalah yang paling sempit. Di dalam makna Islam telah tercakup iman dan ihsan. Sedangkan dalam iman tercakup ihsan.

Kalau saya gambarkan makna kata islam dengan sebuah lingkaran, kata iman akan berbentuk lingkaran yang lebih kecil yang keseluruhan bagiannya berada di dalam lingkaran makna islam. Makna kata ihsan sendiri akan berbentuk lingkaran yang lebih kecil lagi dari iman yang keseluruhannya berada di dalam lingkaran makna iman. Dengan kata lain, seorang muhsin pastilah mukmin, sementara tidak semua yang mukmin adalah muhsin. Semua mukmin pastilah muslim sedangkan tidak semua muslim adalah mukmin.

Kita bisa analogikan hubungan semantik islam, iman, dan ihsan dengan hubungan semantik makna hewan, mamalia, dan sapi. Semua sapi adalah mamalia dan semua mamalia adalah hewan. Itu juga berarti bahwa tidak semua hewan adalah mamalia, dan tidak semua mamalia adalah sapi. Penganologian itu akan menyimpulkan bahwa semua muhsin adalah mukmin dan semua mukmin adalah muslim. Penganalogian juga berarti bahwa tidak semua muslim adalah mukmin dan tidak semua mukmin adalah muhsin.

Wallahu a'lam.
Bagaimana pendapat Anda?

Wednesday, September 15, 2010

Mana Istri-Istri Sang Pencerah?

Saya kagum dengan Hanung Brahmantyo atas karya terbarunya "Sang Pencerah", sebuah karya sinematografi yang mengangkat momen sejarah yang berumur lebih dari 100 tahun di Kauman, Jogja, ke layar lebar untuk dinikmati di masa kini. Saya yang awalnya sudah cukup kagum dengan KH. Ahmad Dahlan, berkat film yang berdurasi lebih dari dua jam itu, menjadi lebih kagum lagi. Saya berhasil dipesona oleh Sutradara muda berbakat itu melalui rentetan episode-episode yang mengundang derai air mata. Sang mujaddid yang ternyata nama aslinya Darwis itu muncul di hadapan saya, terdeskripsi dengan jelas, ketika ia memulai gerakan pencerahannya menerobos keganasan kaum jahiliyah di masa itu.

Tapi, setelah episode terakhir berlalu, saya kecewa. Mengapa?

Saya dulu, bermula di Salman tahun 80-an, pernah berangan-angan menjadi mujjadid. Cita-cita kan mesti tinggi, he he he. Bayangan saya waktu itu, kehidupan seorang mujaddid begitu menakjubkan. Dengan bismilah, saya pun memulai gerakan itu, bukan gerakan tajdid, tapi gerakan mengumpulkan biografi para mujaddid dan membaca berhari-hari.

Apakah saya akhirnya jadi mujaddid? Ternyata tidak. Rencana saya itu urung di tengah jalan setelah saya tahu kalau ternyata sebelum melakukan tajdid di tengah ummat, seorang mujaddid harus mentajdid diri dan keluarganya terlebih dulu. Ini jelas-jelas sebuah tantangan yang sangat berat bagi saya maupun bagi siapa saja yang ingin mereformasi.

Hanyalah sebuah dagelan yang sama sekali tidak lucu bila seseorang menyeru manusia masuk ke dalam Islam sementara dia berada di luarnya, atau separoh di dalam dan separoh di luar. Orang berbondong-bondong masuk Islam, dia sendiri kafir.

Akhirnya, saya memilih untuk mengislamkan diri sendiri lebih dulu sebelum saya menjadi seperti lilin yang digambarkan Iqbal, menerangi sekitarnya namun leleh. Tapi anehnya, sampai ke hari ini, islamisasi diri itu tak kunjung pula selesai. Rencana tajdid tak kunjung dimulai. Film Sang Pencerah keduluan menyentak saya yang tertidur cukup lama dalam menggapai cita-cita perjuangan.

Seorang pejuang untuk sebuah tajdid atau reformasi memang harus mengislamkan diri dan keluarganya terlebih dulu. Kalau tidak, dia akan dipinggirkan orang. Secara fitrah, orang umumnya lebih tertarik kepada keislaman Sang Mujaddid dan keluarganya itu ketimbang gagasan-gagasan pencerahannya dengan segala dalil-dalil. Itulah sebabnya, sebelum ia keluar memimpin masyarakat, ia mesti tunjukkan terlebih dulu kepemimpinannya terhadap rumah tangga dan keluarganya. Orang awam akan mudah berkata, "Memimpin keluarga saja tak becus, apatah lagi memimpin orang banyak."

Keberhasilan kepemimpinan pejuang sejati adalah perpanjangan kepemimpinannya dalam rumah tangganya. Rumah tangga adalah miniatur masyarakat yang akan direformasinya itu.

KH. Ahmad Dahlan adalah seorang pejuang yang berjaya. Ini sebuah bukti sejarah. Beliau berhasil meletakkan dasar pendidikan modern yang berbasis Islam di tengah masyarakat Islam yang ortodoks. Tanpa harus diceritakan secara rincipun, orang akan tahu bahwa perjuangan itu pasti disokong oleh peran sang istri yang tak bisa dihilangkan begitu saja. Bagi seorang pejuang sejati, istri akan menjadi kawan perjuangan bukan lawan. Istri akan mengobati luka-luka hati akibat pahit getirnya perjuangan. Istri akan meniupkan ruh kasih sayang dan perhatian tatkala orang-orang menghembuskan permusuhan.

Siti Walidah, istri Sang Pencerah, yang terkenal dengan panggilan Nyai Ahmad Dahlan itu, tampil mempesona mengobarkan api perjuangan sang suami, bahkan di saat-saat api itu hampir-hampir padam. Api itu berkobar kembali mendenyutkan nadi dan vena Sang Pencerah. Saya bangga dengan Nyai Dahlan. Saya bangga dengan Kiyai Dahlan. Tapi, saya kecewa dengan Hanung Bramantyo.

Saya tidak tahu apakah ia kekurangan data sejarah yang memang selalu terkena sensor penguasa setiap orde? Ataukah ia kurang nyali, takut film yang berbiaya mahal ini tidak laku di pasaran? Atau ada pesan sponsor agar ia jangan macam-macam. Hanung yang bisa menjawab.

Mana istri-istrinya yang lain?

Istri Kiyai Dahlan bukan hanya Siti Walidah. Beliau mempunyai empat istri. Sang Pencerah yang pernah bermukim di Makkah dalam waktu yang lama itu, adalah pemimpin sebuah keluarga poligami. Sejarah telah mencatat nama-nama istri beliau: (1) Siti Walidah, yaitu sepupunya, yang dikenal juga sebagai Nyai Ahmad Dahlan, (2) Nyai Abdullah, seorang janda Haji Abdullah, (3) Nyai Rum, adik Kyai Munawir Krapyak, (4) Nyai Aisyah, adik ajengan Penghulu Cianjur. Setelah salah seorang istrinya meninggal, beliau menikah lagi dengan yang istri ke-5, Nyai Yasin Pakualaman.

Saya tidak meminta Hanung memfokuskan "Sang Pencerah" nya pada masalah poligami, karena topik itu akan menjadi bumerang pagi pemasaran film bermutu itu. Ibu-ibu dan aktifis perempuan bukan saja akan memboikot, tapi akan melakukan demo besar-besaran di depan HI berhari-hari, yang akhirnya terpaksa menyeret keikutsertaan pemerintah. Ingat kasus Aa' Gym.

Biarlah Sang Pencerah tetap pada judul yang dipilih. Judul itu bukan saja sangat menarik, tapi juga sangat penting diangkat. Tetaplah fokus pada gerakan tajdid, pembaruan, atau pencerahan yang memang sedang ditunggu-tunggu bangsa ini untuk kedua kalinya dengan segala suka dan dukanya. Namun, melenyapkan satu latar belakang sejarah sang tokohnya, tentu sebuah khilaf yang cukup serius.

Saya yakin Hanung sadar akan hal itu. Buktinya, latar belakang masa kecil Darwis ketika masih mandi di sungai tak luput dari perhatiannya. Bahkan ia tak melupakan latar belakang gerakan tajdid yang sedang melanda Mekkah yang dipelopori oleh Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al-Afghani. Bahkan, nama Syekh Jamil Jambek di Bukittinggi ikut di sebut-sebut, padahal barangkali relevansinya sangat kecil untuk kasus ini.

Akan tetapi, sungguh sayang seribu sayang, mengapa Hanung tidak menyebutkan sepatah katapun, kalaupun bukan seepisode, istri-istri Kiyai selain Nyai Siti Walidah itu?

Mungkin Hanung memang belum merasakan bagaimana memimpin sebuah keluarga poligami sehingga secara emosional, dia tidak melihat beda antara poligami dan monogami. Karena itu, dia belum tahu betapa seluk beluk poligami merupakan kancah candra dimuka yang paling efektif melatih kepemimpinan seorang calon pejuang. Wajarlah, kalau upaya menampilkan latar belakang keluarga Kiyai Dahlan yang sesungguhnya tak termaksimalkan.

Tapi, terus terang, tidak kecil apa yang sudah dibuat seluruh tim Sang Pencerah ini. Saya tetap acungkan jempol. Ini sebuah karya besar. Saya menghimbau kawan-kawan untuk tidak melewatkan kesempatan menontonnya. Saya bahkan berharap, untuk berikutnya Hanung dan kawan-kawan wajib mengangkat tokoh lain seperti KH. Hasyim Asy'ari ataupun tokoh pejuang lainnya.

Tapi, jangan lupa ya, Nung. Tampilkan poligaminya agar saya tak kecewa lagi.

Wallahu a'lam
Bagaimana pendapat Anda?

Tuesday, September 14, 2010

Tranformasi Iman melalui tariqah

Hampir semua kita sepakat bahwa iman akan melahirkan rasa takut dan cinta pada Tuhan. Kalau iman pada Tuhan itu benar-benar ada di hati, orang itu akan takut dengan Tuhan. Rasa takut akan melahirkan ketaatan pada hukum Tuhan. Jadi mustahil orang yang beriman bermaksiat.

Yang nampaknya kurang disepakati di kalangan penda'wah adalah bagaimana memasukkan iman itu ke dalam objek da'wahnya. Sebagian mengira iman bisa ditumbuhkan melalui transfer ilmu. Maka diadakanlah berbagai majlis ilmu, diterbitkanlah buku-buku Islam sebanyak mungkin, didirikanlah sekolah-sekolah keilmuan Islam, diadakan seminar, training keislaman,dll. Hasilnya? Ya, "ilmu" . Trasnfer ilmu hasilnya ilmu. Ilmu memang bertambah luar biasa. Masyarakat menjadi lebih faham dengan Islam. Orang-orang menjadi lebih pandai berbicara dan menulis tentang Islam. Banyak yang lebih pandai berdalil dan berhujjah. Di mana-mana bermunculan label-label Islam.

Bagaimana dengan iman? Bahwa masih buruknya akhlak dan banyaknya maksiat merupakan petunjuk bahwa iman ternyata tidak bertambah dengan bertambahnya ilmu. Bahkan iman bisa berkurang dengan sangat drastis meskipun ilmunya tidak berkurang. Bukti itu banyak sekali. Orang awam saja melihat bukti-bukti itu dengan kasat mata.

Adalah Hasan Al-Bishri, orang yang sering disebut-sebut sebagai tokoh yang pertama sekali mencetuskan secara sistematik bahwa iman tidak bisa ditumbuhkan melalui ilmu. Beliau menawarkan suatu proses yang disebut tariqah (jalan spiritual). Istilah tariqah sendiri tidak pernah dipakai di zaman Nabi. Namun, beliau yakin bahwa Nabi menggunakan cara tersebut menumbuhkan iman para sahabatnya. Sahabat yang sering disebut sebagai model aplikasi tariqah Nabi adalah gurunya sendiri, yaitu Saidina Ali Bin Abu Thalib. Proses tariqah nabi sering dirujukkan juga kepada proses yang dilakukan Nabi kepada sahabat yang tinggal di asrama masjid Nabi yang dipanggil Ahlu Shuffah.

Ciri khas tariqah terletak pada 3 unsur penting: mursyid, murid, dan metoda yang disebut suluk. Di dalam tariqat, mursyid bukan sekedar guru. Mursyid adalah pemimpin spiritual yang berfungsi sebagai guru sekaligus pembimbing. Fungsi pembimbing jauh lebih dominan. Karena itu keberadaan mursyid ini mutlak karena dipandang sebagai wasilah bagi mengalirnya iman ke dada murid. Untuk fungsi itu, mursyid harus memiliki tingkat iman yang tinggi, jauh lebih tinggi dibandingkandengan murid. Tanpa tingkat iman yang tinggi ini, ia tidak mungkin berfungsi sebagai transformer iman yang akan mencetuskan iman di hati para murid.

Murid, atau sering disebut salik, sendiri adalah orang yang secara sengaja menempuh tariqat tanpa paksaan. Kerelaan itu biasanya diikat dengan suatu bai'ah dengan mursyid.

Suluk adalah suatu metoda yang terpadu dan terpimpin. Suluk terdiri dari berbagai penugasan, latihan, dll yang harus dilakukan secara istiqamah. Metoda pun bertingkat-tingkat. Metode adakalanya seragam bagi semua murid, tapi adakalanya berbeda-beda tergantung pada individu. Tapi, inti dari semua metoda adalah "pergaulan" yang rapat antara murid dengan mursyid. Pergaulan yang rapat dan komunikasi intensif antara murid dan mursyid dipandang sebagai metoda yang paling ampuh dalam transformasi iman.

Tariqah terdiri 3 paket : (1) penyadaran, (2) pemahaman, dan (3) penghayatan. Walaupun paket-paket itu dimulai secara bertahap: 1,2 dan 3; namun akhirnya ketiga paket berjalan secara simultan. Yang perlu dicatat adalah bahwa pada semua paket itu, murid harus selalu terhubung rapat dengan mursyid.

Pada paket penyadaran, murid dibawa kepada rasa perlu dengan agama dan Tuhan. Paket ini diberikan pada tahap yang paling awal. Dalam paket ini, Nabi tidak terlalu mempermasalahkan berbagai interpretasi berbeda tentang identitas keislaman seseorang. Sepanjang dia tertarik dengan Islam dan bersedia bergabung dengan Islam, mereka dipandang muslim. Bahkan Nabi sendiri sering memberikan definisi Islam yang berbeda-beda sesuai dengan keadaan mereka masing-masing.

Pada paket pemahaman, murid dibawa kepada proses transfer ilmu. Ada ta'lim. Rasulullah memulakan paket ini dengan memperkenalkan Allah serinci-rincinya. Inilah yang dikenal dengan istilah "awwaluddin ma'rifatullah.

Pada paket yang ketiga, murid dibawa kepada pengamalan spiritual. Murid dibawa kepada satu kondisi sehingga dia merasakan bagaimana rasanya beragama itu. Murid tidak hanya diberitahu tentang sifat-sifat Allah, tapi mereka dibawa merasakan sifat-sifat Allah itu. Ma'rifatullah pada paket kedua dipadukan dengan pegamalan lahiriah (syariat) dan pengamalan batiniah (hakikat).

Islam adalah kepatuhan pada syariah. Islam pada tahap yang paling elementer tidak mempersoalkan apa sebab ia patuh. Yang penting ia patuh. Apapun sebab kepatuhannya, keislamannya diakui oleh Allah dan Rasul. Maqam pertama adalah islam. Tapi, kepatuhan semacam itu tidak ada jaminan selamat. Allah hanya menerima kepatuhan karena Allah saja. Inilah yang disebut iman, sebagai maqam kedua. Ada satu maqam lagi. Kepatuhan karena Allah masih belum sempurna. Di maqam ketiga, Allah menghendaki semua kepatuhan mesti ditujukan hanya untuk Allah. Inilah Ihsan.

Kalau kita kaitkan tariqat dengan ketiga maqam itu, ini berarti bahwa tariqah adalah satu proses terpadu dan terpimpin yang ditempuh oleh seseorang untuk berpindah dari maqam islam, menuju iman, dan kemudian naik ke ihsan. Maqam Islam adalah maqam pijakan awal. Maqam iman adalah maqam cukup. Maqam ihsan adalah maqam sempurna. Buah dari proses tariqah itulah yang dinamakan taqwa. Maqam tertinggi manusia adalah muttaqin, orang yang bertaqwa.

Jadi, tariqah adalah proses transformasi iman, bagi seorang muslim menuju maqam tertinggi muttaqin.

Wallahu a'lam
Bagaimana pendapat Anda?

Monday, September 13, 2010

Identitas Keislaman


Kita harus mengakui bahwa sebagian besar kita, masyarakat Indonesia, terlahir sebagai muslim. Identitas keislaman yang kita anut di Indonesia pun ternyata tidak muluk-muluk. Bila seseorang ketika lahirnya diazankan dan ketika kanak-kanak disunat, kita sudah anggap ia muslim. Kalau tidak tinggal shalat 5 waktu dan puasa Ramadhan, ia sudah tergolong muslim yang taat. Bila membayar zakat dan mengerjakan haji, lebih-lebih lagi, ia sudah bisa dianggap muslim yang sangat taat. Bahkan, bila seseorang yang sudah pandai berkhutbah di mimbar, di Indonesia tidak lagi dipandang sebagai muslim yang taat, tetapi sudah dipandang sebagai ulama.
Identitas semacam itu sebenarnya tidak salah. Allah sendiri yang melegalkannya. Dalam Surah Al Hujurat ayat 14-18 tentang orang-orang Badui yang mengaku beriman, Allah mengingatkan Rasulullah bahwa mereka hanya tidak boleh menggunakan identitas sebagai mukmin. Allah melegalkan kalau mereka mengaku muslim.
Jadi, memang sesederhana itulah identitas keislaman. Bila seseorang sudah mengucapkan dua kalimah syahadah, maka terlindunglah darah dan hartanya sebagai muslim. Kalau seseorang itu terlihat shalat, maka bolehlah ia kalau mati dikuburkan dengan cara Islam. Kalau simbol-simbol Islam telah menempel pada diri dan keluarganya, termasuk di KTP, tak layak lagi seorangpun yang boleh mengira dia sebagai non muslim. Ya, sederhana sekali. Jadi kalau kita refleksikan ke masyarakat Indonesia, tidak salah kalau ada yang menghitung bahwa muslim di sini lebih dari 95%.
Pertanyaannya, mengapa akhlak Islam tidak berlaku pada masyarakat Islam yang mayoritas itu?
Agama ini memang bernama Islam. Tapi esensi agama ini adalah keimanan, bukan keislaman. Iman dan Islam suatu hal yang berbeda. Manusia boleh mentaati syariat Islam dengan motif apapun untuk bisa disebut muslim, tapi keta'atan yang diakui Allah hanyalah keta'atan yang didasarkan Iman. Buktinya, orang-orang Badui boleh diakui keislamannya. Bahkan orang-orang-orang munafikpun diakui keislamannya. Tapi mereka bukan mukmin.
Nah, berapa banyak mukmin inilah yang menjadi persoalan besar kita. Yang muslim jelas banyak. Bahkan, negara yang paling banyak muslimnya di dunia adalah Indonesia. Yang baru kita sensus adalah jumlah muslim, bukan jumlah mukmin. Yang kita klaim sebagai mayoritas di Indonesia adalah muslim, bukan mukmin.
Sementara, yang menjamin seseorang itu tidak bermaksiat bukanlah keislamannya, melainkan keimanannya. Hal itu disebabkan karena hanya iman yang melahirkan rasa takut pada Allah, sementara Islam tidak. Iman melahirkan takut dan cinta di hati seperti garam melahirkan rasa asin di lidah. Orang yang takut pada Allah tidak akan berani bermaksiat pada Nya.
Kalau kita melihat identitas keislaman baru di sisi ritualnya, seperti syahadat, shalat, puasa, zakat, haji, alquran, atau berbagai upacara keagamaan, kita baru berbicara dimensi yang terluar dari agama ini. Kita belum memasuki esensinya, yaitu iman.
Kalau iman saja belum kita masuki, bagaimana mungkin kita menyinggung masalah yang jauh lebih ke inti, yaitu ihsan. Padahal, sudah menjadi ijma' bahwa dienul Islam ini terdiri dari tiga elemen: islam, iman, dan ihsan. Sementara, akhlak yang sering kita pertanyakan itu, tidak lain dan tidak bukan, adalah buah dari gabungan islam, iman dan ihsan itu.
Jadi, tidak nampaknya akhlak Islam berlaku di tengah masyarakat muslim, besar kemungkinan karena mukmin di Indonesia memang sangat minoritas di tengah-tengah mayoritas muslim itu. Yang mukmin itu sedikit artinya yang takut bermaksiat hanya sedikit. Artimya, yang berakhlak Islam itu sedikit. Jumlah itu terlalu terlalu sedikit dibandingkan dengan yang tidak mukmin sehingga tidak mungkin mewakili masyarakat muslim secara keseluruhan. Berapa persen? 1 sampai 2% mungkin masih terlalu banyak. Wallahu a'lam.
Di zaman Rasulullah sendiri, jumlah mukmin memang lebih sedikit dibanding muslim. Tapi perbedaannya tidak terlalu banyak. Yang tidak mukmin tapi muslim, ketika itu, hanya beberapa orang Badui ditambah beberapa orang munafik. Tapi, di masyarakat kita sekarang, perbedaan itu sangat signifikan. Muslimnya mayoritas sedangkan mukminnya minoritas. Jadi, jangan terlalu banyak berharap perbaikan akhlak mendasar seperti yang diharapkan akan segera terjadi di Indonesia.
Kalau begitu, yang harus segera diupayakan di Indonesia, untuk terbentuknya akhlak bangsa yang baik, adalah transformasi yang sesegera mungkin dari muslim ke mukmin. Untuk melakukan transformasi itu jelas tidak mudah. Pertama, kita harus tahu terlebih dahulu apa iman itu. Kita harus paham apa yang membuat iman bertambah dan berkurang. Ini berarti persoalan aqidah.
Kemudian, kita harus tahu pula bagaimana iman itu bisa tertransfer ke dada seseorang. Apakah iman itu tertransfer melalui transfer ilmu, seperti yang banyak diduga, atau melalui metoda lain. Ini berarti persoalan tasawuf.
Terus terang, banyak yang keliru mengira iman berbanding lurus dengan ilmu agama. Ini jelas tidak sesuai dengan fakta. Telah terlalu banyak bukti ketidaksingkorannya itu. Tapi sayangnya, sistem da'wah Islam, baik melalui sekolah resmi ataupun ceramah-ceramah, masih berorientasi pada transfer ilmu.
Bagaimana pendapat Anda?
Wallahu A'lam

Sunday, September 12, 2010

Tamu itu telah benar-benar pergi.


Astagrifulllah,
Tamu itu telah benar-benar pergi.
Sepuas hati menangislah, namun jarum jam tak mungkin berbalik arah.
Apa arti gembiraku ketika datangnya dan sedihku ketika perginya?
Jika jawadah bawaannya terbiar basi?
Apa arti sukaku di ketibaannya dan dukaku di keberangkatannya?
Bila ia singgah aku pun gelisah.
Apa arti tawaku ketika menyambutnya dan ratapku ketika melepasnya?
Bila aku lebih berhajat dengan syahwat? 
Jantungku bukan saja seperti batu, 
Tapi bahkan lebih batu daripada batu-batu.
Berduri yang lebih tajam daripada semua duri
Berbau busuk yang lebih busuk daripada semua yang busuk.
Tak ada arti bagiku kilap intan dan mutiara.
Karena ternyata aku lebih suka dengan tinja manusia.
Tuhan,
Biarkan aku mengetuk pintuMu.
Biarkan aku berlindung dalam belas-kasihMu.
Aku relakan tamu itu pergi.
Biarlah kutunggu sampai ia kembali.


1 Syawal 1431 H / 10 September 2010






Comment ·Like · Hasan Hariri, Heri Hermawan Subhanaalloh...
Saturday at 11:37am via Risza Agustina Entah apa yg bs menggambarkan penyesalan ats kesalahan dan kekalahan ini, saya tlh gagal pak, hanya rintihan harapan kan d beri kesmptn tuk bjumpa dg nya lg dg kondisi lbh baik.. Amin
Saturday at 12:08pm via Suparmana Hs Waktu telah sirna, tak sempat menjamunya dengan selayaknya.....
Saturday at 2:12pm · Like ·
Facebook Mobile · Like ·
Facebook Mobile · Like ·
Jusuf Fateh, Pakop Dahlan and 3 others like this.

Share

  • Endah Kurniadarmi Beginilah adanya kita, demikianlah usaha yang telah dilakukan, semuanya sudah menjadi sebuah kenangan. Ada rasa sesal, namun kita tidak boleh larut dalam penyesalan. Paling tidak selepas Ramadhan, perbuatan kita menjadi lebih baik lagi.Selamat berekspresi!
    Saturday at 5:11pm · Like ·
  • Jufran Helmi
    @Herri, Risza, Suoarmana, dan Endah. Kadang-kadang sesuatu yg berharga itu terasa berharganya setelah ia hilang. Ketika dia di depan mata, kita cendrung menyia-nyiakannya. Saya setuju, kalau kita tak boleh putus asa. Kita bangunkan jiwa ini sehingga Ramadhan tahun depan, kita sunguh-sungguhi.
    Saturday at 5:49pm via Jufran Helmi
    @Herri, Risza, Suoarmana, dan Endah. Kadang-kadang sesuatu yg berharga itu terasa berharganya setelah ia hilang. Ketika dia di depan mata, kita cendrung menyia-nyiakannya. Saya setuju, kalau kita tak boleh putus asa. Kita bangunkan jiwa ini sehingga Ramadhan tahun depan, kita sunguh-sungguhi.
    Saturday at 5:53pm via Ersis Warmansyah Abbas Pergi dalam tertanam di dada; Amin
    Saturday at 8:19pm · Like ·
    Facebook Mobile · Like ·
    Facebook Mobile · Like ·
  • Jufran Helmi
    @Pak Ersis. Insyaallah Pak
    10 hours ago · Like ·
  • Yogaswati Dewi

    Bahkan aku telah berbuat suatu kesalahan lagi...
    Oh, Astagfirullah.. Astaghfirullah...
    kalaulah bukan karena Kasih sayangMu ya Robbi.. tentulah hamba telah menjadi orang yang merugi..
    Semoga setiap detik kita senantiasa mampu beristighfar da...
    See More10 hours ago · Like ·
  • Jufran Helmi
    @Yogas. Amiin

Saturday, September 11, 2010

Tamu itu kini telah mohon pamit


Wahai diri,
Kemanakah akan kau surukkan wajahmu hari ini?
Jiwamu yang seharusnya telah kembali fitri,
Ternyata masih penuh daki.
Yang seharusnya berhias taqwa,  ternyata masih berselimut  hawa.
Tak malukah,
Bila orang menyangka engkau pemenang  yang baru pulang?
Padahal engkau seorang pecundang?
Wahai diri,
Sesal pun hari ini tiada lagi guna.
Ini hari perpisahan, bukan lagi persiapan.
Tamu pembawa rahmat itu kini telah siap berangkat.
Tinggallah engkau sendiri, meratap dan sekarat.
Esok  ia akan berlalu bersama janji Tuhan untuk keampunan dan pembebasan.
Janji yang begitu terang,
Namun tak mampu menyeruak nafsu-mu yang penuh karat berlipat-lipat.
Burhan-burhan Tuhan telah di depan retinamu.
Namun, aqal-mu menapisnya dengan kejam.
Matahari yang sudah condong, bertambah condong, dan semakin condong,
Tak mampu membuatmu ber-taubat.
Oh, jiwa yang tak insaf-insafnya.
Engkau masih lebih suka di sini di maqam ini.
Kau kekalkan tubuh-fana mu, padahal ia akan binasa.
Tapi kau fanakan tubuh-kekal mu, padahal ia sahabat setia.
Hilang sudah furqan Tuhan dari jiwamu.
Hingga  kau lupa mana haqikat mana mafsadat.
Wahai diri,
Tamu itu kini telah mohon pamit.
Relakanlah,  dan  tak perlu menjerit .
Karena seharusnya kau  tahu semua penawaran ada limit.
Apa boleh buat, walaupun panenmu cuma secubit
Tinggallah engkau dengan lambaian
Sepi mengubur harapan.
Tamu mubarak itu akan pamitan
Tahun depan untukmu belum tentu dijadwalkan.
Minta ampunlah pada Tuhan.
Wahai diri,
Alangkah malangnya nasibmu.
Akan lebih malang lagi,
Bila hari  ini engkau masih sempat berseri-seri.
Tak tahu diri.

 
 ________
Bingkisan untuk semua kawan saya di FB, yang semakin hari semakin rapat.
Saya minta maaf atas kata-kata yang tak pantas dalam semua notes saya sepanjang Ramadhan ini, juga notes-notes sebelumnya. Barangkali banyak pilihan kata yang tak layak hingga menyakitkan. Ampun maaf.
Terimakasih atas semua komentar yang sungguh sangat berarti.  Minal 'aidin wal faaizin. Mohon maaf lahir dan batin.

 
Wallahu A'lam
Comment ·Like · Farida Ariany and Risza Agustina Astagfirullah.. Ktk dtg'y bln itu saya sllu deg2an memikirkan mampukah saya meraih berkah ramadhan ? Dan stlh bln itu berlalu saya sllu mrs sedih memikirkan akankah saya bs bjumpa kmbli dg bln itu..
September 9 at 2:57pm via Erry Damajanti Ya Allah...semoga kita dipertemukan lagi dengan Ramadhan yang penuh berkah tahun depan..., sedih berpisah dengan bulan penuh berkah ini. Selamat hari Raya Isul Fitri...mohon maaf lahir dan bathin ya pak..
September 9 at 3:27pm · Like ·

Facebook Mobile · Like ·

Erry Damajanti like this.

Share
  • Ersis Warmansyah Abbas Introspeksi ...
    September 9 at 3:59pm · Like ·

  • Erryk Kusbandhono Sama2, pak. Mohon maaf bila comment2 saya ada yg tdk berkenan di hati siapa saja yg membaca..
    September 9 at 4:01pm via Yussy Akmal Muhasabah...,jadi malu.Semoga اللَّهُ izinkan bertemu lagi dengan Ramadhan.
    September 9 at 4:30pm via Pakop Dahlan Semoga kita bisa bertemu lagi dengan ramadhan yg akan datang amin.., terima kasih atas tausiah pak jufran yg telah menemani selama ramadhan, walau tidak bertemu, tapi dekat di hati, ditunggu tulisan pencerah hati edisi syawal.. Maaf lahir dan batin..
    September 9 at 5:47pm via Andi Budiman Trima kasih ! Mencerahkan !
    September 9 at 7:15pm via Wuryaningsih Budiastuti

    Manusia sebagai hamba tidak dapat mengklaim apakah ibadahnya pasti diterima sementara orang lain tidak, atau sebaliknya. Siapa tau keduanya diterima, atau tidak keduanya. Yang bisa dilakukan adalah terus ikhtiar dalam takwa; seraya berharap...
    See MoreSeptember 9 at 8:51pm · Like ·

    Facebook Mobile · Like ·

    Facebook Mobile · Like ·

    Facebook Mobile · Like ·

    Facebook Mobile · Like ·

  • Faricha Hasan Sama2, pak Jufran.. Maaf jg atas khilaf, -yg pastinya tak sy sengaja.

    Smg kita bs dipertemukan dgn Ramadlan yg akan datang, dlm keadaan yg lebih baik.

    Met 'Idul Fitri, pak Jufran..^^
    September 9 at 9:26pm via Jusuf Fateh

    Bagaimanakah mungkin perpisahan diiringi dengan tawa gembira? Lihatlah nafsu yang menggelora, di seluruh penjuru jiwa, ia telah membutakan makna di hari yang fitri ini.
    Wahai Tuhan pemilik jiwa, anugerahkanlah kepada kami kerinduan akan Bul...
    See MoreSaturday at 4:44pm · Like ·

    Facebook Mobile · Like ·

  • Jufran Helmi
    @ All. Semoga muhasabah ini menjadi pemicu semangat kita untuk lebih baik di masa yang akan datang. Terimakasih atas komentar-komentarnya.
    10 hours ago · Like ·

Friday, September 10, 2010

Pagi beriman, malam amnesia.


<em>"Pagi beriman, siang lupa lagi. Sore beriman, malam amnesia." </em>Demikianlah Gigi mengalunkan kalimat-kalimat itu setiap jam sahur sepanjang Ramadhan tahun ini mengiringi sinetron "<em>Para Pencari Tuhan</em>". Di akhir dan di awal "<em>para pencari Tuhan' </em>itu berakting, Gigi melukiskan sebuah komunitas di dunia ril tentang sekelompok orang memahami hakikat Tuhan dan mendefinisikan iman.
Kalimat itu sungguh menyayat hati dan menyingung perasaan.Tapi mau diapakan lagi, karena ia memang sebuah gambaran fenomena hidup kita sehari-hari. Bukan saja kehidupan sekelompok orang muda seumur Gigi, tapi bukan tak mungkin kalau itu kehidupan sebagian kita, sekelompok eksekutif, pejabat, wakil rakyat, pengusaha, atau bahkan ulama. Kalau kelompok itu ada, sungguh memilukan. Itu artinya kiamat memang sudah hampir tiba. Sore beriman, malam amnesia.
Amnesia adalah kondisi yang sangat mengerikan. Amnesia adalah gangguan ingatan. Seseorang yang amnesia adalah seseorang yang lupa dengan dirinya. Ia lupa siapa dia sesungguhnya. Ia lupa dengan kejadian masa lalunya dan sama sekali tidak bisa meraba masa depannya. Dia bisa gembira di tengah kesedihan. Atau, sebaliknya ia sedih ketika seharusnya ia gembira. Siapakah mereka? Anak saya kah? Anak Anda kah? Atau, kemenakan kita semua.
Yang jadi fenomena bukan amnesianya. Yang fenomena adalah bahwa di pagi hari ia masih terlihat beriman. Mungkin ia shalat subuh diiringi pula dengan do'a-do'a. Mungkin ia mengisi pagi dengan membaca Alquran sebelum bersiap-siap berangkat ke dunia kerja atu bisnis. Itu semua adalah tanda-tanda keimanan seseorang. Gigi mengatakan, "<em>Pagi beriman</em>." Pagi, iman masih menyelimuti dirinya.
Apa yang terjadi setelah siang? Ketika otaknya sudah mulai berpikir tentang kerja. Dia sudah berada di lingkungan kerjanya dalam dunia bisnis ataupun politik. Pikiran mulai mengarah pada target-target yang harus dicapai. Akalnya sedang diramu memprediksi omset yang harus terjadi hari ini. Di saat itu, iman buyar. Tatkala siang menjelang, ia lupa bahwa ia adalah orang beriman. Ia lupa bahwa subuh tadi dia adalah seorang hamba Tuhan yang berikrar akan sehidup semati dengan iman. Namun apa yang terjadi, dia tampil sendiri tanpa iman. Iman sudah ditinggalkannya di belakang atau sengaja dilupa-lupakannya. Ia tak mau terganggu oleh atribut-atribut keimanan, halal ataupun haram. Ia kini merasa sebagai makhluk yang merdeka dari Tuhan.
Coba bayangkan tatkala iman sudah tidak di hati seseorang. Halal-haram tak tampak lagi bedanya. Yang ada hanyalah target-target bisnis atau politik yang harus dicapai. Semuanya uang dan hanya uang.
Sepulang dari dunia kerja, sesampai di rumah. Semuanya berubah kembali seketika. Apa yang terjadi di luar tadi telah dilupakannya, seperti tak berkesan apa-apa lagi. Seperti apa ia melupakan imannya di waktu siang, begitu pula ia melupakan perilaku siangnya di sorenya. Iman kini datang kembali seperti tanpa malu. Tampillah ia dengan wajah berimannya. Shalat maghrib, berdo'a, berwirid, membaca Alquran. Imannya seolah bertengger begitu ketat seperti semula, hingga tak ingin berpisah dari dirinya.
Tapi, tak lama setelah itu, malam pun datang. Kini lebih mengerikan. Ia bukan saja lupa bahwa ia manusia beriman, tetapi bahkan ia lupa bahwa ia manusia. Kawannya malam itu, kalau bukan <em>putaw</em>, ya <em>kokain</em>, <em>heroin</em>, <em>ganja</em>, atau <em>shabu</em>. Dia bukan manusia lagi, tapi amnesia.
Saya tidak tahu siapa yang telah menginspirasi Gigi. Pagi ia beriman, siangnya ia lupa dengan imannya itu. Sore beriman, tapi malamnya ia sudah amnesia karena menelan narkoba. Tapi kalau fenomena ini ada, ini benar-benar tanda akhir zaman sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Baginda Rasulullah SAW, " <em>Akan datang suatu zaman ketika seseorang di pagi hari beriman, di sorenya kafir. Di sore hari beriman, di paginya kafir</em>. " Na'uzubillahi min zalik.
Wallahu a'lam
Bagaiamana pendapat Anda?

 
  • Sarah Mahmudatun Nabila, Mang Edhok

    Fragmen seperti banyak terjadi belakangan ini, seolah secara perlahan menguak jati diri yang sebenarnya manusia Indonesia. Ada sebagian orang yang menganalisa penyebabnya 1. Karena kita keturunan orang2 yang dijajah, diajari hidup secara fe...
    See MoreYesterday at 7:00am · LikeUnlike ·

    Marieska Verawaty, Adnin Fairuzy Putri and 3 others like this.

  • Wahyu Mappadeceng betulll..
    Yesterday at 7:03am via Faricha Hasan Astaghfirullah.
    Itulah, -mungkin-, mengapa kita perlu istiqomah.
    Yesterday at 8:00am via Agus Purwantoro Amin3x, met iedhul ditri mhn maaf lahir bathin, slm ntuk klg ...
    Yesterday at 8:03am via Erryk Kusbandhono Allahummakhtim lanaa bil iiman, allahummakhtim lanaa bis islaam, allahummakhtim lanaa bihusnil khootimah. Amin..
    Yesterday at 8:14am via Andi Budiman Trima kasih , insyaallah smg kita dpt menjauhi dari hal 2 yg amnesia .
    Yesterday at 9:04am via Ersis Warmansyah Abbas Dendanga bermakna Armand; inspirasi bagus menatap kenyataan
    Yesterday at 9:12am · LikeUnlike ·

    Facebook Mobile · LikeUnlike ·

    Facebook Mobile · LikeUnlike ·

    Facebook Mobile · LikeUnlike ·

    Facebook Mobile · LikeUnlike ·

    Facebook Mobile · LikeUnlike ·

  • Jufran Helmi
    @Mang Edhok. Ulasan yangmnedalam. Jadi ltambah lengkap tulisan ini dengan ulasan itu.
    @Wahyu. siip
    @ Faricha. lebih perlu lagi beriman yang sebenar-benar iman.
    @ Pak Agus. Selamat idul fitri.
    @Erryk. amiin
    ...
    See MoreYesterday at 9:23am · LikeUnlike ·
  • Faricha Hasan Ya, Pak.. Sebenar-benar iman. ^^

    Tp kan kadar iman seseorang kadang tebal kadang tipis, jd . . . .
    Yesterday at 9:53am via Jufran Helmi
    @Faricha. Harus ada upaya memupuknya
    Yesterday at 9:55am · LikeUnlike ·

    Facebook Mobile · LikeUnlike ·




Thursday, September 9, 2010

Kasih Sayang


Kalau ditanyakan kepada seseorang apa yang paling diingatnya kalau dikatakan "<em>ibu</em>". Rasanya akan jarang yang menjawab bahwa ibu adalah simbol "<em>kasih sayang</em>". Saya boleh menebak, kebanyakan kita akan menjawab bahwa ibu adalah perempuan yang melahirkan kita. Hanya itu. Karena, memang hanya itulah yang sanggup diingat manusia kini tentang peranan ibunya. Tak lebih dari itu.
Bahkan, mungkin hari ini, kata "ibu" tidak lagi mengingatkan orang dengan kata "<em>menyusui</em>", "<em>memelihara"</em> , atau kata "<em>mendidik</em>". Fenomena sosial menunjukkan mulai banyak anak yang tidak menyusu pada ibunya lagi, tetapi menyusu pada sapi. Demikian juga, mulai banyak anak yang tidak dipelihara ibunya sendiri, tapi dipelihara oleh orang lain. Lebih-lebih lagi dididik. Sudah mulai jadi trend, anak dibiarkan tumbuh begitu saja tanpa didikan sang ibu. Dengan hilangnya peran-peran penting pembawa kasih sayang ibu itu, manusia pun lupa bahwa sesungguhnya ibu adalah simbol kasih sayang.
Secara fitrahnya, ibu sebenarnya adalah simbol "<em>kasih sayang</em>" antar manusia. Lihatlah, bila kita diminta menggambarkan sebuah model ideal kasih sayang sesama manusia, kita akan teringat dengan kasih sayang antara ibu dan anaknya. Betapa indahnya kasih sayang itu. Ia benar-benar tulus tanpa pamrih. Kasih sayang itu berlandaskan pengorbanan bukan berdasarkan manfaat atau keperluan. Tak seorangpun akan sanggup menderita demi orang lain, lebih-lebih lagi bila orang lain itu menyakitinya, melebihi penderitaan ibu demi anaknya.
Fitrah ibu ini, rasanya, ada kaitan dengan rahim ibu. Semua kita terlahir dari satu rongga yang terletak di dalam tubuh ibu yang bernama<em> rahim</em>. Ia dinamai sama seperti salah satu nama Allah "<em>Ar Rahim</em>" yang berarti <em>kasih sayang</em>. Sesuai dengan namanya, di dalam rahim itulah bermula kasih sayang ibu pada kita. Kasih sayang memancar ke seluruh tubuh kita, terasa oleh seluruh saraf dan mengalir ke seluruh nadi darah. Maka, selama sembilan bulan pertama kehidupan, kita diperkenalkan dengan kasih sayang hingga ia begitu terdefinisi dalam ingatan kita. Selama sembilan bulan di dalam rahim ibu itu, kita merasakan apa itu kasih sayang sebelum kita keluar ke dunia ini.
Baru saja kita lahir, keluar dari rahim ibu itu, kita menjerit sekeras-kerasnya. Itu pertanda ketidakbahagiaan. Kita mulai merasakan ada yang hilang dari dalam diri kita. Itulah kasih sayang. Sebagai akibatnya, setelah manusia itu lahir ke dunia, ia begitu haus dengan kasih sayang. Kasih sayang menjadi keperluan hidup seperti perlunya kita akan makanan dan minuman. Kalau di suatu ketika kita merasakan ada kasih sayang, kita akan bahagia. Kita akan bahagia berada di tengah-tenga orang yang menyayangi. Tapi, tatkala kita tidak memperoleh kasih sayang dari orang-orang di sekitar kita, kita akan benar-benar menderita. Itulah fitrah yang telah Allah ciptakan di dalam hati manusia. Kasih sayang sangat menentukan kebahagiaan manusia.
Sebenarnya, kasih sayang yang diharapkan antar manusia adalah kasih sayang seperti kasih sayang ibu dan anak itu. Idealnya memang seperti itu. Mungkin kadarnya tidak akan persis sama dari orang perorang. Dengan mendekati saja, manusia akan cukup bahagia. Hal itu karena kasih sayang, sesungguhnya, adalah pancaran kasih sayang Allah. Allah lah yang menebarkan kasih sayangNya kepada makhlukNya. Pada seorang ibu, pancaran itu telah dibentuk melalui fitrahnya. Tapi, kasih sayang antar manusia mesti dibangun dengan suatu upaya sungguh-sungguh berlandaskan keimanan. Karena ia bersumber dari Allah, bukan tidak mungkin kasih sayang dapat dihadirkan di hati manusia walaupun mereka tidak mempunyai hubungan darah seperti ibu dan anak. Kalaulah model seperti itu bisa diwujudkan antar manusia, damailah dunia ini karena keperluan hidup yang asas itu terpenuhi.
Karena kasih sayang adalah keperluan hidup, Allah meminta manusia untuk saling memberi kasih sayang. Rasulullah diminta memulai gerakan kasih sayang ini melalui da'wah dan perjuangannya. Orang tua diminta memberi kasih sayang kepada anaknya. Anak-anak diminta memberi kasih sayang kepada orang tua. Sesama kerabat, keluarga, suami-istri diminta agar saling menyayangi. Yang tua diminta menyayangi yang muda. Yang kaya menyayangi yang miskin. Pemimpin wajib menyayangi rakyat. Rakyat pun wajib menyayangi pemimpinnya. Kasih sayang menjadi sebuah keperluan yang sangat penting dan vital dalam hubungan antar manusia. Tanpa kasih sayang manusia akan menderita.
Tapi malangnya kita, hal ini tidak disadari. Betapa banyak anak-anak yang akhirnya <em>broken home</em> karena kehilangan kasih sayang dari keluarganya. Yang ada dalam keluarganya hanya kebencian. Maka pergilah mereka mendapatkan kasih sayang ke tempat lain. Betapa banyak pasangan suami-istri akhirnya harus berpisah karena tak menemukan kasih sayang dalam rumah tangga. Betapa banyak pula pemberontakan rakyat terjadi kepada para pemimpin karena mereka tidak memperoleh kasih sayang.
Karena begitu pentingnya kasih sayang, kasih sayang menjadi sentral ajaran Islam. Islam adalah agama kasih sayang. Setelah manusia membangun hubungan dengan Allah dalam wujud <em>takut dan cinta</em>, manusia harus menjalin hubungan sesamanya. Tali yang menghubungkan antar sesama manusia adalah <em>tali kasih sayang</em>. Allah memuji orang-orang yang berjuang sekuat tenaga memperkuat tali ini. Sebaliknya, Allah mencerca orang-orang yang memutuskannya. Rasulullah bersabda, " <em>Tidak akan masuk surga orang-orang yang memutuskan tali kasih sayang."</em>
Dalam kehidupan kita sekarang kasih sayang adalah barang langka. Kehidupan kita sudah dipenuhi oleh hubungan ekonomi, politik, atau sosial. Kasih sayang sudah dikubur. Semua diukur dengan uang dan barang. Padahal kasih sayang inilah yang membawa manusia ke dalam kebahagiaan. Ia lebih berharga dibanding harta benda. Tanpanya, manusia benar-benar akan menderita. Tapi mengapa kita tak sungguh-sungguh memperjuangkannya hingga ia benar-benar tegak? Kapankah datangnya pemimpin yang akan mengikat hubungan indah itu kembali?
Wallahu a'lam
Bagaimana pendapat Anda?

 
  • Wuryaningsih Budiastuti, Andi Budiman Melihat fenomena yg terjadi sekarang kayaknya kita butuh training akan arti pentingnya " kasih sayang " demi sebuah hidup dan kehidupan yg lebih bermakna . Trima kasih . Mencerahkan !
    Yesterday at 4:10am via Jufran Helmi
    @Andi. Ide yang bagus
    Yesterday at 4:16am · LikeUnlike ·

    Facebook Mobile · LikeUnlike ·

    Pakop Dahlan and Marieska Verawaty like this.

  • Ersis Warmansyah Abbas Semakin menkajubkan Pak ... lanjut
    Yesterday at 4:18am · LikeUnlike ·

  • Jufran Helmi
    @Pak Ersis. subhanallah.
    Yesterday at 4:29am · LikeUnlike ·

  • Marieska Verawaty Kasih sayang bisa tumbuh dan semakin subur dengan keinginan selalu memberi tanpa memikirkan mendapatkan balasan ... pikirkan bagaimana selalu memberi ... hilangkan harapan untuk mendapatkan balasan ... mudah2han kasih sayang tumbuh dan subur ...
    Yesterday at 4:31am · LikeUnlike ·

  • Mang Edhok

    Tapi ada hal yang mengganjal dipikiran saya. Dari data kriminal yang masih kami ingat disimpulkan: Ibu (terutama) ibu muda yang terhimpit tekanan ekonomi bisa berbuat jauh lebih kejam dari yang kita duga. Dan yang mengherankan lagi fenomena...
    See MoreYesterday at 5:08am · LikeUnlike ·

  • Yogaswati Dewi
    "Kasih sayang".., adalah suatu perasaan. Ia berbeda dengan "nalar/logika". Nalar bisa diterima dan dijalankan melalui pengamatan dan pengetahuan. Kita bisa sangat mempercayai dan memegang nya secara konsisten mis. suatu teori matematika...
    See MoreYesterday at 6:14am · LikeUnlike ·
  • Erryk Kusbandhono Marilah kita jalinkan kasih sayang sesama kita, kian lama makin pudar, nampak gersang di hati ini. Kita siram kembali dg air iman yg suci, dg menabur budi di dlm hati ini. Berkasih sayang perintah Allah..
    -Nada Murni-
    Yesterday at 6:50am via Endah Kurniadarmi

    Kasih sayang saat ini tidak menjadi prioritas untuk diajarkan. Setiap orang merasakan dan mempelajari dengan kemampuan indranya masing2. Apakah kita masih mengelola hal-hal bersifat material? Rasional? Ntahlah... kebutuhan untuk mengajarkan...
    See MoreYesterday at 9:19am · LikeUnlike ·

    Facebook Mobile · LikeUnlike ·

  • Jufran Helmi
    @Marieska. Kalau hawa nafsu memang maunya hanya menerima tanpa memberi. Baginya memberi itu menyusahkan, merugikan. Itulah sebabnya kasih sayang mesti menggeser kedudukan hawa nafsu itu.

    @Mang Edhok. Kadang-kadang kita nggak habis fikir, se...
    See MoreYesterday at 9:39am · LikeUnlike ·
  • Wuryaningsih Budiastuti Sebagai ibu yang 'biasa-biasa' aja, saya sih hanya meyakini bahwa yang dari hati akan sampai ke hati juga. Semoga anak-anak kita mengerti apa yang menjadi cita-cita dan doa orang tuanya....amiin
    Yesterday at 9:40am · LikeUnlike ·

  • Jufran Helmi
    @Wuryaningsih. Siip. Saya setuju.
    Yesterday at 9:47am · LikeUnlike ·


  • Erryk Kusbandhono
    @ Pak Jufran; Hehe, terlalu berat pak. Kalau dimasukkan lagu religi islami terpopuler, iya. Coz, saya dulu mengenal nasyid ini masih kecil tapi s/d skrg masih hafal. Salut & bangga buat Abuya; Bapak Nasyid Islami..
    Yesterday at 10:02am via
    Facebook Mobile · LikeUnlike ·



Wednesday, September 8, 2010

Infaq fi sabilillah


Allah tidak hanya memerintahkan hamba-hambaNya beribadah, tetapi juga memberi mereka rezki berupa makanan, minuman, pakaian, perumahan untuk keperluan hidup mereka. Walaupun demikian, Allah mengingatkan agar manusia jangan salah mengerti tentang hakikat semua pemberian itu. Melalui NabiNya, Dia mengajarkan bahwa pemberian Allah itu ada maksud dan tujuannya. Manusia tidak boleh semena-mena dengan pemberian Tuhan.
Allah mengingatkan bahwa di balik kenikmatan harta benda itu, terdapat ujian yang sangat besar. Kalau manusia tidak hati-hati, bukan nikmat yang akan dia peroleh, tetapi malapetaka yang akan menghancurkan hidupnya. Betapapun manusia sangat berhasrat dengan nikmat harta, dia diminta agar tidak lalai dari mengingat Allah, baik ketika mencari maupun membelanjakannya.
Dari proses mengingat Allah itu, lahir sabar dan syukur. Kita akan bersabar ketika harta itu tak cukup atau serba kekurangan. Kita akan bersyukur tatkala ia cukup atau mulai berlebih. Sabar membuat kita tak tergoda untuk menempuh segala cara. Syukur membuat kita tak kikir atau tergoda untuk bermewah-mewah.
Satu doktrin terpenting dalam Islam adalah bahwa harta itu bukan milik mutlak kita. Harta itu hanyalah titipan Allah. Manusia hanya memegang kepemilikan sementara. Allah yang memberi dan manusia boleh memiliki untuk sementara waktu untuk tujuan yang terbatas. Walaupun harta benda itu pemberian, manusia wajib bekerja untuk memilikinya. Allah mencela orang-orang yang hanya meminta-minta dan menunggu pemberian orang lain, sekalipun kadang-kadang Allah memberi melalui pemberian orang lain. Setiap orang mesti ada ikhtiar untuk memperoleh rezki sesuai peluang dan kemampuan masing-masing.
Untuk itu, Allah telah tebarkan dalam alam ini berbagai tanda bagi memperoleh rezki. Allah nampakkan banyak jalan, walaupun tidak semua jalan boleh ditempuh. Allah halalkan pertanian, perniagaan, pertambangan, peternakan, industri, jasa, dan pertukangan, tetapi Allah haramkan pencurian, pelacuran, penyuapan, dan perjudian. Allah halalkan berbagai perkongsian, tetapi Allah haramkan tipu-menipu, zalim-menzalimi, dan khianat-mengkhianati.
Ujian keimanan terbesar yang Allah berikan kepada hambaNya dalam masalah harta adalah bahwa betapapun harta itu diperoleh melalui ikhtiar di jalan yang benar, sebagian harta itu mesti diinfakkan ke jalan Allah. Harta itu tidak boleh dikonsumsi sendiri. Sebagian rezki yang diperoleh itu merupakan hak Allah. Hak Allah itu didedikasikannya sebagai hak fakir miskin, hak karib kerabat, hak ibnu sabil, hak orang-orang yang baru masuk Islam, dan hak perjuangan fi sabilillah. Allah meminta agar hak-hak Nya itu ditunaikan sebelum harta itu dimanfaatkan oleh si pemilik harta.
Allah berfirman, " <em>Dari sebagian rezki yang Allah berikan, mereka infakkan ke jalan Allah</em>." Infak fi sabilillah itu pada dasarnya adalah menunaikan hak Allah ke jalan-jalan yang Allah tentukan.
Infak yang ditujukan kepada sasaran-sasaran tertentu disebut shadaqah. Allah yang mengatur secara spesifik sasaran shadaqah. Allah menentukan jumlah minimum yang harus dibayar yang disebut zakat. Zakat artinya shadaqah minimum, sementara shadaqah itu sendiri tidak memiliki batas maksimum. Jadi, zakat dan shadaqah merupakan istilah lain infak fisabilllah dengan kriteria-kriteria tertentu.
Batas minimum infak fi sabilillah yang dinamakan zakat itu terdiri dari nisab, haul dan kadarnya. Misalnya, Allah telah menetapkan kadar 2.5% untuk uang dengan nisab 87 gram emas dengan haul 1 tahun. Demikianlah Allah menetapkan nisab, haul dan kadar yang berbeda pada hasil pertanian, barang perdagagan, hasil tambang, hasil peternakan. Allah telah menggandengkan kewajiban mengeluarkan zakat ini bersama-sama dengan kewajiban mengerjakan shalat sebagai asas keislaman seseorang.
Jumlah maksimum infak fi sabilillah itu tidak ada. Sebagai sebuah shadaqah, sebuah pembuktian keimanan seseorang, Allah membuka peluang selebar-lebarnya, untuk menginfakkan lebih dari sekedar yang diwajibkan. Demkianlah perilaku ini telah diterapkan oleh pada sahabat rasulullah dalam berinfak. Memereka menginfakkan harta mereka demi merebut cinta Allah.
Mereka yakin bahwa apapun yang mereka infakkan ke jalan Allah itu adalah sebuah tabungan, sebuah pengeluaran yang tideak hilang. Dengan tabungan itu mereka berharap akan memperoleh taqwa. Mereka yakin, di yaumul akhir, semua tabungan itu akan dikembalikan utuh ditambah dengan hasilnya yang berlipat ganda.
Wallahu a'lam
Bagaimana pendapat Anda?

 
  • Marieska Verawaty, Erryk Kusbandhono Penjelasan yg cukup komprehensif, pak. Moga zakat dibagi-bagikan oleh aghniya' tahun ini tdk menelan korban spt tahun2 lalu. Memang, diperlukan institusi yg handal tuk memenej hal ini..
    Tuesday at 3:24pm via Jufran Helmi
    @Erryk. Sebenar masih panjang. Sementara kita cukupkan segitu dulu
    Tuesday at 3:45pm · LikeUnlike ·

    Facebook Mobile · LikeUnlike ·

    Frans. Nadeak and Yussy Akmal like this.

  • Ersis Warmansyah Abbas Pas dipraktikkan .... menjelang Idul Fitri,
    Tuesday at 5:43pm · LikeUnlike ·

  • Yogaswati Dewi

    Kang Jufran, banyak ditulis tentang "keajaiban bersedekah" yang telah terbukti dialami banyak orang. Allah menjanjikan sedekah yang dilakukan dgn ikhlas akan dibalas dgn pahala ibaratnya sebutir padi yang tumbuh menjadi tujuh tangkai dan t...
    See MoreYesterday at 12:11am · LikeUnlike ·

  • Jufran Helmi
    @Yogas. Salah satu buah sekularisme yang telah merasuki orang-orang beriman adalah bahwa kita hanya akan meyakini suatu kebenaran bila terlihat faktanya atau nampak logika ilmiahnya. Kadang-kadang kita memang sulit menerima pernyataan Alla...
    See MoreYesterday at 12:30am · LikeUnlike ·
  • Endah Kurniadarmi Zakat dalam bayangan saya, masih memiliki kekurangan teknis yaitu zakat belum diurus secara optimal, jujur dan kemanfaatan masa depan. Zakat juga dalam prosesnya banyak dilakukan individu karena ketidakpercayaan terhadap lembaga yang ada, namun karena prosesnya memungkinkan terjadi penyelewengan, maka mustahik juga menjadi 'Greedy' sehingga berebut, ingin saling mendahului, bahkan nenek atau anak kecil yang lemah masih dibiarkan berdesak-desakan: satu sistem yang tidak manusiawi. Ah...
    Yesterday at 9:12am · LikeUnlike ·

  • Jufran Helmi
    @Endah. Benar sekali. Zakat masih centang perenang. Tapi, lambat laun, akan lebih baik, insyaalah. Yang penting, semangat zakat jangan pudar. kalau lembaga penyalur zakat tidak ada yang becus kelihatannya, kita salurkan sendiri saja. Akan datang sebentar lagi seorang pemimpin yang bisa dipercaya.
    Yesterday at 9:45am · LikeUnlike ·

  • Satria Iman Pribadi

    Saya punya pandangan Beda Kang. Makna tersirat yang jarang dilihat orang adalah, perintah berzakat yang banyak di al-Qur-an berarti adalah juga perintah untuk mencari nafkah yang melebihi nisab. jadi ini bukan perintah pasif, tapi aktif. Bu...
    See MoreYesterday at 12:53pm · LikeUnlike ·

  • Satria Iman Pribadi

    Kalau kita punya pemahaman ini, Kita umumnya atau rata-rata mampu dan mudah menyumbang setara 10 sampao 50 mobil untuk kepentingan ummat, punya rumah minimal 3 kamar, mampu dan sudah membiasakan anak kursus berenang, berkuda dan memanah/men...
    See MoreYesterday at 1:03pm · LikeUnlike ·

  • Satria Iman Pribadi

    Ustad Yusuf Mansur selelu berpromosi agar kita berdo'a menjadi orang yang mampu memberi makan banyak fakir miskin (maka kita harus jadi cukup kaya dulu atau cukup harta utk beli makanan tsb). Maka seharusnya diteruskan agar kita jadi orang ...
    See MoreYesterday at 1:17pm · LikeUnlike ·

  • Yogaswati Dewi Kang Iman.., setuju..., semangatt!! semoga perjuangannya di BP bisa jadi percontohan un ke daerah lain. Saya dengar di BP juga konon polisinya paling bersih ya.., tidak ada permainan d pinggir jalan.. Smg sukses dunia akhirat..
    Yesterday at 3:17pm · LikeUnlike ·


  • Jufran Helmi
    @ Satria. Subhanallah. Ulasan inilah yg ditunggu-tunggu.sangat kompresensive. Insyaallah semua kawan bisa memahaminya. Saya setuju dg jalan berpikir sprti itu. Allah tdk pernah meminta kita miskin. Bahkan kemiskinan itu justru yg berbahay...
    See More23 hours ago via Facebook Mobile · LikeUnlike ·


Tuesday, September 7, 2010

Shalat


Shalat adalah tiang agama. Menegakkannya dipandang telah menegakkan agama. Meninggalkannya berarti telah meninggalkan agama. Itulah sebabnya mengapa shalat menjadi fokus paling besar dalam Islam setelah mentauhidkan Allah. Shalat diperintahkan kepada Rasulullah di awal kerasulannya sebelum da'wah serta tugas-tugas lainnya diperintahkan karena shalat dipandang sebagai asas seluruh amal dan ketaatan kepada Allah.
Secara lahiriah, shalat hanya terdiri dari rangkaian ucapan pendek-pendek yang dilakukan mengiringi suatu rangkaian gerakan tubuh, mulai dari takbir sambil beridiri hingga salam sambil duduk. Tapi, secara bathiniah shalat adalah satu bentuk komunikasi intensif antara seorang hamba dengan Allah. Melalui shalat, seorang hamba menyampaikan puja dan pujinya kepada Zat yangmenguasai dirinya, yaitu Allah SWT.
Seseorang dalam shalatnya sengaja berdiri dalam keadaan suci lahir dan batin di atas alas yang suci berpakaian yang juga suci. Ia menghadapkan wajahnya seolah-olah kepada Allah, seraya menyampaikan ikrar, pujian, takbir, tahmid, syahadat, ta'awudz, tilawah Alquran, do'a, tahyat, dll. Secara lahirian dia tidak melihat Allah. Orang lain pun hanya melihat dia berdiri menghadap ke arah dinding sambil berkomat kamit, kemudian rukuk, sujud, atau duduk. Walaupun demikian, secara batiniah dia sedang bercakap-cakap dengan Allah dalam suatu perjumpaan yang sangat privasi.Itulah shalat.
Dari awal sampai akhir, dia meleburkan rasa harap, cinta dan rinduNya kepada Zat yang sangat ditakuti dan digeruninya itu. Hatinya menghadap Allah secara <em>khusu'</em> dan takut karena begitu yakinnya ia dengan perjumpaan itu. Dadanya gemuruh sehingga barangkali lafaznya terbata-bata karena ketakutan itu.
Walaupun hanya memakan waktu beberapa menit untuk setiap kali shalat dan hanya terjadi lima kali dalam sehari semalam, shalat itu sedemikian penting sehingga meninggalkannya dianggap dosa besar. Allah menjadikan shalat sebagai amal yang pertama di periksa di yaumul akhir. Allah menolak amal orang yang meninggalkan shalat. Dalam pandangan Allah, kesolehan suatu amal tergantung dari shalatnya.
Makna terbesar shalat bukan terletak pada gerakan lahiriahnya itu. Gerakan itu hanya sekedar wadah bagi sebuah aktifitas ruhaniah. Bahkan bagi yang tidak mampu melakukan gerakan-gerakan tertentu, seperti tidak bisa berdiri karena sakit, boleh diganti duduk. Tapi tidak ada toleransi bagi khusu'. Allah menunutut setiap shalat yang dilakukan mesti dalam keadaan khusu'. Walaupun khusu' itu berat, ia mesti diperjuangkan dan diupayakan semaksimal mungkin. Allah mau setiap shalat merupakan pertemuan yang paling syahdu tanpa gangguan konsentrasi. Semua hal yang akan mengganggu kekhusu'an mesti ditepis sejak awal.
Secara ruhaniah, shalat adalah zikrullah dan munajat. Seorang yang shalat adalah seseorang yang sedang mengetuk pintu belas kasihan Allah pada dirinya. Dia datang menghadap Allah sebagai hamba yang tak berdaya pada jadwal-jadwal yang telah Allah tetapkan. Tanpa disiplin diri, seseorang akan kehilangan momen indah dalam memuja, memuji, dan berikrar di hadapan Allah SWT pada saat yang paling tinggi nilainya itu.
Begitu besar pengaruh gerakan ruhaniah shalat, sampai-sampai orang yang mampu mengerjakannya secara istiqomah, akan tercegah dari keji dan mungkar. Di akhirat, dia termasuk orang paling bahagia. Setiap masuk waktu shalat diserukan agar manusia memburu shalat sebagai pintu menuju kebahagiaan (al falah. Rasulullah meminta kita mengajarkan resep kebahagiaan ini kepada anak-anak kita sejak mereka masih kanak-kanak sebagai hadiah terbesar orang tua pada anaknya. Mudah-mudahan, dengan shalat dia akan raih kabahagiaan di dunia dan lebih-lebih lagi di kahirat.
Ingin bahagia dunia akhirat? Mari, sempurnakanlah shalat.
Wallahu a'lam
Bagaimana pendapat Anda?

 
  • Yus Sudarso, Ersis Warmansyah Abbas Tiang agama ... sambungan manusia dan Pencipta ...
    Monday at 9:57am · LikeUnlike ·

    Wuryaningsih Budiastuti and 2 others like this.

  • Andi Budiman Amin ! Makin Mencerahkan ! Trima kasih .
    Monday at 10:10am via Jufran Helmi
    @Pak Ersis. Ya begitu
    @Andi. Semoga ada manfaatnya.
    Monday at 10:11am · LikeUnlike ·

    Facebook Mobile · LikeUnlike ·

  • Erryk Kusbandhono Sholat hanya dikerjakan secara seremonial saja tdk cukup, dibutuhkan kekhusu'an agar membekas dlm kehidupan..
    Monday at 4:52pm via Jufran Helmi
    @Erryk. Dia disebut shalat justru karena ada khusu'nya itu.
    Monday at 7:20pm via Yogaswati Dewi Mudah-mudahan saya dan keluarga pun dapat menympurnakan shalat. InsyaAllah.. Amin.. Terimakasih telah menngingatkan.
    Tuesday at 11:54pm · LikeUnlike ·

    Facebook Mobile · LikeUnlike ·

    Facebook Mobile · LikeUnlike ·

  • Jufran Helmi
    @Yogas. Amiin. Demikian juga do'a Nabiullah Ibrahim dulu, " Wahai Tuhan, jadikanlah aku penegak shalat, juga anak keturunanku."
    Yesterday at 12:32am · LikeUnlike ·

  • Jusuf Fateh Bismillaah,Harapan seorang kekasih kepada Kekasihnya adalah keralaan, keinginan seorang kekasih kepada Kekasihnya adalah perjumpaan. Semoga kita dianugerahi kemanisan dalam beribadah, sebagaimana mereka yang terdahulu merindui-Mu.
    Yesterday at 12:38am · LikeUnlike ·

  • Jufran Helmi
    @Yusuf. Ya itulah, Suf. Shalat mestinya momen yang paling dirindukan. Bagaimana mungkin seorang kekasih tak rindu berjumpa kekasihnya. Dan bagaimana mungkin seorang kekasih tak mempersiapkan perjumpaannya dengan kekasih yang dirindunya itu.
    Yesterday at 12:46am · LikeUnlike ·

  • Jusuf Fateh
    @Pak Jufran : Karena begitu banyak khazanah yang mengisi cawan hati kita, hingga rindu yang hakiki terselubung oleh rindu yang palsu dan fana. Perlu ditegaskan dan diingatkan dari waktu ke waktu tujuan penciptaan kita yang sebenarnya : 'be...
    See MoreYesterday at 12:52am · LikeUnlike ·
  • Jufran Helmi
    @Yusuf. Sebagai seorang manusia yang dikerubungi hawa nafsu, mujahadah itu sangat tinggi nilainya di hadapan Allah.
    Yesterday at 12:56am · LikeUnlike ·

  • Jusuf Fateh
    @Pak Jufran: Ya Syeikh, disitulah proses takwa berlangsung. Yang menyerah akan merugi, yang berjuang dan berkorban sungguh-sungguh akan mengecap manisnya buah Iman.
    Yesterday at 1:00am · LikeUnlike ·

  • Jufran Helmi
    @Yusuf. Mantap. lagi i'tikaf nih?
    Yesterday at 1:03am · LikeUnlike ·


  • Jusuf Fateh Heheh semoga Allah perkenankan ( i'tikaf ) Syeikh :)
    Yesterday at 1:05am · LikeUnlike ·



Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail