Breaking

Friday, January 8, 2010

Friday, January 08, 2010

Liburan akhir tahun


Malam ini kami sekeluarga berkumpul di Sentul, menikmati libur panjang. Malam ini adalah malam pertama. Walaupun hujan lebat, angin kencang, cuaca dingin menyelimuti bukit Sentul, namun senyum seluruh peserta membuat pemimpin rombongan sedikit terhibur. Sayalah sebagai pemimpin rombongan ini. Sarah, anak ketiga, menggelari saya "raja seminggu." Kami memang rencanakan liburan ini seminggu. Anak-anak kebetulan libur, sementara saya memang meliburkan diri, alias ambil cuti.
Di liburan kali ini, kami memang tidak lengkap karena tidak semuanya ikut. Haifa, anak sulung memilih tidak bergabung karena katanya banyak tugas kuliah, tanggung kalau ikut berlibur. Adnin, anak nomor dua, juga tidak bergabung karena persiapan ujian akhir yang sudah di ambang pintu. Hanya Sarah, anak ketiga, dan Faruq, si bungsu,yang meramaikan perjalanan dengan nasyid-nasyid dan keributan-keributan kecil mereka. Oh ya, di perjalanan berangkat tadi siang, Sarah mendendangkan nasyid "Tirakat Poligami" dan Faruq mendendangkan "Sunnah Berjuang." Saya memukul-mukul stir sebagai pengganti gendang pengiring. Kami menyimak dengan penuh haru, senyum-senyum simpul sambil mata berkaca-kaca, tersindir habis.
Kedua istri, Ema dan Yussy, alhamdulillah ikut serta. Masing-masing bawa sekopor pakaian seolah-olah mau bertamasya ke planet lain. Padahal cuma ke Sentul. Bahagia rasanya ketika kedua istri seiya-sekata, berkasih sayang, bekerja sama. Yang berat sama dipikul, yang ringan sama dijinjing. Kalau ada, sama-sama dimakan, kalau nggak ada, sama-sama puasa. Ketika shalat, kedua istri memakmumi. Saya berharap liburan ini akan menguatkan lagi sendi-sendi dalam rumah tangga. Kami masih belajar dan terus akan belajar.
Harus jujur saya akui, memang tak mudah menata rumah tangga, dengan model yang sudah langka di akhir zaman ini. Masih terlalu jauh capaian kami dari apa yang diharapkan oleh Tuhan. Masih banyak error di sana sini. Air mata belum seratus persen bisa dihentikan. Tapi saya bersyukur karena kami sudah sepakat untuk terus berjuang memperbaiki diri. Sayalah yang diamanahi Tuhan sebagai pemimpin untuk menjadi yang paling bertanggung jawab. Air mata tak boleh lagi sia-sia berurai, kecuali airmata takutkan Tuhan.
Khususnya, selama perjalanan dan liburan kali ini, kami bersama-sama akan kembali mengkaji minda-minda mursyid kami, Abuya Ashaari At Tamimi, untuk dimantapkan. Semacam muhasabah. Yang lupa akan sama-sama dikenang kembali, yang baru akan sama-sama dipahamkan. Konflik-konflik besar akan sama-sama diperkecil, konflik kecil akan sama-sama dilenyapkan. Tenggang rasa akan disuburkan. Dada akan dilapang-lapangkan. Semoga keluarga ini akan menjadi surga sebelum surga. Mungkin kah?
Alhamdulillah, kuliah perdana yang saya angkat malam ini untuk direnungkan dan didiskusikan bertajuk "Taubat Palsu". Tajuk ini terasa relevan, khususnya untuk menyadarkan diri saya sendiri yang belum mampu taubat dengan sebenar-benarnya. Mungkin karena judulnya menyeramkan, atau karena saya memang belum layak menyampaikannya, sehingga tak seorangpun yang memberi ulasan. Semua diam, senyum ke kiri, senyum ke kanan. Mudah-mudahan bukan karena takut akan judulnya itu, tapi karena memang sudah pada bertaubat.
Bagaimana pendapat Anda?
Wallahu a'lam.
Friday, January 08, 2010

Hari ibu


Rasulullah bersabda, "Surga itu di telapak kaki ibu." Itulah renungan kita pagi ini. Bukan karena mau ikut-ikutan memperingati hari ibu, tapi sekedar memesongkan sedikit ingatan kepada manusia yang sering terlupakan dalam hidup kita. Hiruk pikuk kesibukan kita setiap hari, kita lalai bahwa ada sesosok insan yang tidak boleh kita lupakan dalam hidup kita, ibu.
 Bagi saya hari ibu itu tidak hanya di tanggal 22 Desember. Bagi saya hari ibu itu setiap hari. Saya tidak mau memperingati hari ibu sekali setahun. Setiap hari saya harus memperingatinya. Demikian juga hari ayah. Saya memperingati hari ayah setiap hari. Saya memperingati hari ibu dan ayah dengan memanjatkan do'a setiap hari, bahkan 5 kali dalam sehari semalam, " Tuhan, ampunkan dosaku dan dosa kedua orang tuaku, rahmati mereka sebagaimana mereka merahmati aku ketika aku masih kecil."
 "Ketika aku masih kecil?
 "Ya, ketika masih kecil."
 Coba kenangkan. Kalaulah Tuhan tidak berikan di hati ayah dan ibu saya, rasa kasih sayang pada anaknya, mungkinkah saya akan menjadi dewasa seperti sekarang ini? Kalau ibu tidak memberikan air susunya, adakah makluk di dunia ini yang akan sudi menyusui? Adakah yang sudi memandikan, membersihkan najis dan daki saya, yang mengusir nyamuk dan lalat yang menggangu, yang mencarikan obat ketika saya sakit? Adakah yang sanggup berjaga bermalam-malam tak tidur ketika saya demam? Adakah yang peduli dengan saya?
 Bagiamana pendapat Anda?
 Wallahu a'lam.
Friday, January 08, 2010

Tahun baru Islam


Secara lahiriah, pergantian hari sama saja dari hari ke hari. Mulai dari matahari terbit, tenggelam, dan terbit lagi. Demikianlah berulang setiap hari. Tapi, bila pergantian hari itu menandai pula pergantian tahun, semuanya terasa berbeda. Ada ruh yang berbeda. Saya merasakan hari ini jauh berbeda dari hari kemarin. Kemarin kita masih berada di tahun 1430H, namun hari ini sudah berada di tahun 1431. Walaupun pergantian waktu hanya sehari, tapi terasa seperti pergantian setahun.
 Subhanallah. Tanpa terasa, kita sudah berada kembali di bulan Muharram, di tahun yang baru ini. Ada sejumlah hal yang mesti kita muhasabahkan. Semua kegagalan, kekhilafan, keteledoran, kelalaian, ketololan selama setahun yang lalu mesti diinsafi dan ditaubatkan serta tak boleh terulang kembali. Ada sejumlah agenda pula yang mesti kita susun.
 Muharram adalah bulan kemenangan. Kemenangan bagi yang berjuang tentunya. Yang tidak berjuang tak kan merasakannya. Sepanjang sejarah, Tuhan telah anugerahkan berbagai kemenangan di Bulan Muharram. Kemenangan apakah gerangan yang kita harapkan dari Tuhan di Muharram ini?
 Saidina Umar Ibnu Khatab, telah meresmikan penggunaan Tahun Islam sebagai ukuran tahun bagi kita semua, yang tahun pertamanya adalah tahun terjadinya hijrah Rasulullah dan para sahabat dari Mekah ke Medinah. Padahal, banyak peristiwa bersejarah lainnya dalam kehidupan Rasulullah: kelahirannya, pengangkatannya menjadi hakim bagi kaum Quraisy, pernikahannya dengan Khadijah, pengangkatannya jadi Rasul, masuk Islamnya Umar, isra' dan mi'raj, Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandak, Perang Hunain, Umratul Qadha, Perjanjian Hudaibiyah, Futuh Makkah, dan wafatnya. Semua itu adalah peristiwa yang tidak mungkin kita lupakan. Mengapa justru yang dipilih menjadi tahun pertama adalah tahun hijrahnya?
 Jangan-jangan, karena hijrah pertanda lahirnya daulah. O, kalau begitu, semoga di Bulan Muharram tahun ini, Tuhan beri kita daulah. Kalaupun belum Tuhan rezkikan daulah yang sesungguhnya, setidak-tidaknya , kita berharap Tuhan anugerahkan tapaknya dulu, yaitu keluarga yang sakinah.
 Wallahu 'alam.
Friday, January 08, 2010

Kentut dan rokok


Memang masyarakat kita ini aneh. Kalau ada yang kentut di tengah ramai, mereka marah dan ramai-ramai menutup hidung dan mencari tahu siapa pelakunya dengan celenguk kesana kemari. Semua memasang tampang garang, seperti layaknya mau menangkap teroris.
"Lu yang kentut ya?"
"Siapa sih yang kentutnya bau mercon begini?"
"Aduh sial nih orang"
Yang lucunya, yang kentutpun ikut celengung-celenguk tanpa merasa bersalah, seolah-olah dia juga sedang mencari pelakunya. Ini satu lagi kepribadian bangsa kita yang mungkin jarang diangkat di media masa.
Tapi kalau ada yang merokok, menghembuskan asap tembakau, di dalam bis, bahkan di dalam masjid, mereka tenang-tenang saja. Bahkan mereka seperti ikut menikmatinya tanpa ada keinginan menutup hidung, apalagi mencari tahu pelakunya.
Ironis memang. Padahal, apalah bahayanya kentut dibanding asap tembakau. Kentut hanya mengandung sedikit gas H2S yang sudah jenuh, tidak menyebabkan bahaya apapun bila terisap atau bahkan sengaja diisap, sementara tembakau mengandung 52 jenis racun, yang siap melumpuhkan saraf-saraf vital manusia.
Yang menimbulkan masalah dari kegiatan merokok itu adalah ketika asapnya dihembuskan oleh si perokok. Orang yang tidak merokok, dengan terpaksa ikut mengisap racun-racun dari gas tembakau yang memenuhi udara karena ia harus bernafas. Lebih-lebih lagi, asap rokok itu bercampur pula dengan bau mulut si perokok, yang sudah beberapa hari tidak sikat gigi. Alamak, ampuun....
Tapi, kalau si perokok bersedia mengisap asapnya dan terus menelannya sampai habis, tanpa ada yang keluar ke udara, saya kira tidak begitu bermasalah. Biar saja dia tanggung sendiri resikonya, tanpa mengajak orang lain terlibat.
Kentut, jelas tidak membahayakan. Setidak-tidaknya kentut tidak seberbahaya asap rorok. Sampai hari ini, pernah nggak membaca pernyataan dari lembaga manapun, termasuk WHO, bahwa kentut dapat menyebabkan kanker paru-paru, impotensi, darah tinggi, kerusakan janin, dsbnya? Kalau rokok? Di setiap persimpangan jalan (terutama di kota-kota) selalu terpampang papan reklame raksasa bertuliskan peringatan itu. Bahkan peringatan itu dibuat oleh pabrik rokok itu sendiri. Saking jujurnya mereka itu.
Mungkin, kalau mau ditimbang-timbang juga supaya lebih fair, yang dianggap bermasalah pada kentut, adalah aromanya itu saja. Bunyinya? Ah, saya kira itukan termasuk musik alternatif, seperti juga rap, rock 'n roll, dll. Janganlah terlalu dibesar-besarkan. Itu hanya faktor sosialisasi dan cara pandang antropologis masing-masing budaya.
Aroma kentut merupakan faktor makanan. Makanan yang dikonsumsi masyarakat kita, kebanyakan dari jenis-jenis yang menyebabkan bau tak sedap pada gas knalpotnya. Itu masalah kecil dan dapat diatasi secara kreatif. Anda tinggal menghindari makanan-makanan itu sebisanya. Kalau kita ada niat menghadiri pesta, rapat, atau pertemuan apapun yang melibatkan banyak orang, pastikan beberapa jam sebelumnya, Anda tidak mengkonsumsi makanan yang menyebabkan kentut menjadi bau. Tapi, kalau kita memang berniat menyendiri, silakan. Toh, hanya kita sendiri yang akan menikmati aroma seribu bunga itu, kan? Daftar makanan-makanan itu dapat dibaca di majalah-majalah tentang kesehatan atau, kalau perlu, tanyakan ke puskesmas-puskesmas terdekat, tak perlu sampai ke WHO segala.
Saya kira sudah waktunya kita mengubah paradigma kita tentang kentut dan rokok ini, sebelum keduanya menjadi issu nasional. Aduh, ini tulisan tentang rokok atau tentang kentut sih?

 

Bagaimana pendapat Anda?

 

Wallahu a'lam
Friday, January 08, 2010

Keadilan Tuhan

Tuhan adalah zat yang Maha Kuasa (qudrat) dan Maha Berkehendak (iradat)

Dua sifat itu menyatu tanpa dapat dipisah-pisahkan

Di atas dasar qudrat dan iradat Nya itu, Dia tebarkan rahmatNya.

Itulah sebabnya Dia menamakan diriNYa, Yang Maha Rahman.

DiwajibkanNYa diriNya menyayangi makhlukNya.

Karena sayangNya itulah, Dia tegakkan keadilan.

Di atas keadilanNya diciptakan segala sesuatu berbeda-beda.

DiciptaNya hidup yang beraneka ragam, tak ada yang sama.

DiciptaNya makhluk yang beraneka rupa, tak ada yang sama

DiciptaNya nasib yang beraneka bentuk, tak ada yang sama.

Kau tanya, mengapa Tuhan buat malam berbeda dengan siang?

Kau tanya, mengapa Tuhan buat laki-laki berbeda dengan perempuan?

Kau tanya mengapa Tuhan gempakan Padang, bukan Palembang?

Kau tanya mengapa Tuhan keringkan kampungku, bukan kampungmu?

Aku jawab, itulah keadilanNya.

Dia adil karena Ia menyayangi makhlukNya.

Dia menyayangi makhlukNya karena itu kehendakNya

Dia kuasa menjalankan semua kehendakNYa.

Sedikit kuasa dan kehendak yang ada pada pada makhluk, adalah pemeberianNYa.

Dia bisa cabut bila-bila masa.

Karena Dia Tuhan yang Maha Perkasa

Sementara, aku dan engkau hanyalah hamba.

Kini engkau mau apa?

Masihkah kau pikir adil itu sama rata?

wallahu a'lam

Friday, January 08, 2010

Istilah tentang zakat

Dengan kalimat yang sederhana zakat saya pahami sebagai "proses penyucian jiwa melalui penyerahan sebagian harta kita kepada pihak lain". Membayar zakat merupakan rukun Islam setelah shalat. Begitu pentingnya kedudukan zakat sebagai suatu proses ibadah kepada Allah, di dalam Al-Quran , perintah zakat telah digandengkan dengan perintah shalat lebih dari 35 kali. Selain itu, zakatpun dibicarakan panjang lebar menggunakan istilah lain: infak dan sedekah. Samakah atau berbedakan ketiga-tiga istilah itu?

 Mari kita mulai.

 Dalam Al-Quran, Allah tidak hanya menggunakan kata zakat tetapi juga kata infak dan sedekah. Kalimat yang sederhana yang saya sebutkan di atas merupakan gabungan makna ketiga istilah zakat, infak dan sedekah. Satu kata tidak cukup. Manusia perlu dibawa kepada pemahaman yang jauh lebih komprihensif. Begitu rincinya aspek zakat ini, sampai-sampai Tuhan menggunakan dua istilah selain zakat, yaitu infak dan sedekah. Walaupun ketiga istilah ini bermaksud sama, namun penggunaan istilah yang berbeda akan memperlihatkan satu aspek itu dari dimensi yang berbeda.

 Saya ingin mengulangi pernyataan saya yang semula dengan susunan yang berbeda. Pada dasarnya zakat, infak dan sedekah mempunyai satu makna yang sama yaitu menyucikan jiwa dengan cara mengeluarkan sebagian harta sebagai hak Tuhan kepada pihak lain yang ditunjuk Tuhan. Jadi, mau disebut zakat, mau disebut infak, ataupun mau disebut sedekah, yang dimaksud adalah sama. Perbedaannya hanya terletak dari dimensi yang ditekankannya.

  Mari kita lanjutkan dengan melihat satu persatu.

Kata zakat digunakan untuk menunjukkan bahwa pengeluaran hak Tuhan kepada pihak yang ditunjuk oleh Tuhan itu bertujuan untuk menyucikan manusia. Jadi, yang ditekankan di sini adalah tujuanya. Jiwa kita harus disucikan dari rasa kebergantungan kepada harta benda dan harus dikembalikan kepada kemerdekaannya yang penuh dengan rasa bertuhan dan rasa kehambaan. Si pembayar zakatlah yang menjadi tujuan, bukan Tuhan ataupun pihak lain yang ditunjuk sebagai sasaran zakat. Jangan pernah mengira zakat bertujuan melenyapkan kemiskinan orang lain. Kemiskinan merupakan ujian dari Tuhan. Jangan pula mengira zakat akan memperkaya Tuhan. Di sini seolah-olah Tuhan mengatakan, "Engkaulah yang Aku tuju dari syariat zakat itu."

 Penggunaan kata infak digunakan untuk menunjukkan bahwa proses penyucian itu dilakukan dengan cara mengeluarkan sebagian harta dari harta yang kita peroleh dari usaha kita. Dengan kata infak, Tuhan ingin menunjukkan proses apa yang terjadi dalam zakat. Proses penyucian jiwa harus berwujud sebuah amal lahiriah. Seperti juga shalat, walaupun bertujuan mengingat Tuhan, ia harus dilakukan berupa berdiri, rukuk, sujud, serta amalan lahiriah lainnya. Amal lahiriah zakat adalah mengeluarkan sebagian harta dari harta perolehan usaha. Tidak seluruhnya harus dikeluarkan. Sebagian saja. Proses inilah yang akan memicu terjadinya perang di dalam jiwa manusia. Harta yang sudah susah payah dikumpulkan, kini harus dikeluarkan. Inilah dia perang melawan kerakusan, kekikiran, dan cinta dunia.

 Kata sedekah digunakan untuk menunjukkan bahwa pengeluaran sebagain harta itu karena ia merupakan hak Tuhan. Bersedekah artinya membenarkan atau mengakui adanya hak Tuhan. Dengan kata sedekah, Tuhan menjelaskan sebab musabab zakat. Tuhan berkata, "Di dalam harta yang kau peroleh ada hak Aku." Bersedekah berarti menunaikan hak Tuhan, menyerahkan bagianNya kepadaNya. Mengeluarkan sedekah berarti memisahkan hak Tuhan dan hak kita. Betapapun diperoleh melalui usaha yang halal, harta itu tidak boleh dikonsumsi seluruhnya untuk keperluan hidup kita sendiri. Hak Tuhan harus dikeluarkan. Hak kita boleh kita konsumsi, namun hak Tuhan harus diserahkan kepada pihak yang ditunjuk Tuhan sendiri, melalui wakil-wakilNya. Dalam hal ini, Allah telah menunjuk Rasul sebagai wakil Nya. Rasul kemudian melantik para pengumpul (amilin) untuk mengumpulkan hak Tuhan tersebut dan menyerahkannya kepada pihak yang ditunjuk Tuhan.

 Sebagai peringkas, saya ingin menekankan sekali lagi.

 Bila kita sebut zakat, infak, atau sedekah, sebutan itu bermakna sama: barang yang itu-itu juga, hanya tekanannya yang berbeda. Hakikat zakat, infak, atau sedekah adalah menyerahkan hak Tuhan dari harta perolehan usaha kita kepada pihak lain yang ditunjukNya untuk penyucian jiwa kita sendiri dari sifat-sifat tercela. Sebutan zakat lebih menekankan pada tujuannya, infak lebih menekankan pada prosesnya, sedangkan sedekah lebih menekankan sebabnya.

 Wallahu a'lam

  
 

Jufran Helmi

Friday, January 08, 2010

Kutunggu Ibuku di Setiap Malam Lebaran


Tiga hari menjelang lebaran tiba, waktu itu, sebuah bungkusan dihantarkan tetangga ke rumah kami. Aku dan ibuku berebutan membuka bungkusnya. Ibuku menang karena memang badannya lebih panjang.

 Ibuku tersenyum, "Ini hadiah untukmu, wahai anakku. Bacalah!"

 Sehelai kain berwarna coklat muda. Ada garis-garis coklat tua berjajar, disilangi garis-garis putih keabuan dengan arah tak beraturan. Kulihat pula ada motif persegi kecil memenuhi bidangnya. Bukan satu warna. Ada beberapa warna lagi. Kombinasi yang sangat brilian. Aku lupa detailnya. 

Yang jelas, halusnya tenunan sangat terasa di pipi. Selembar kertas tertempel padanya bertuliskan "Untuk kemenakanku yang telah khatam mengaji, yang tak pernah rompang puasa, dan tak pernah bolos taraweh. Terimalah hadiah ini. Salam, Mak Tuo"

 Aku melompat girang. Langitpun terasa lebih terang dari biasanya. Jam segini, biasanya aku sudah mengeluh lapar kepada Ibu dan menanyai pakai apa kita berbuka di sore hari. Tapi aneh. Hadiah dari kakak ibuku telah membuatku kenyang. Aku tak peduli lagi apakah akan berbuka dengan ketan atau dengan lemang.

 Kain itu kukepit erat. "Ini milikku… ini milikku…ini milikku…", kataku. Langit dan bumi seperti aku yang punya semuanya. Ibukupun tak berhak menyentuhnya lagi. Sekali Ibu menarik kain itu, kan kutarik kembali. Hadiah ini bukan untuknya, tapi untukku. Marahkah ibuku? Tidak. Dia ikut gembira. Aku memang anak lucu yang masih lugu.

 Tentang pujian Mak Tuo? Aku pura-pura tak peduli apa penilaiannya padaku. Toh ibuku tak akan bocorkan rahasiaku. Beliau tak tahu bahwa aku masih mengeja mana yang wau mana yang fa. Beliau tak tahu kalau aku masih sering menyelinap ke dapur di tengah siang, namun tetap ikut berbuka ketika beduk berbunyi. Beliaupun tak tahu kalau ketika imam mulai sujud, sebenarnya aku dan kawan sering menyelinap keluar saf dan bergabung dengan kawan pegurau sambil menonton lomba petasan. Yang penting hari ini hadiah sudah di tanganku. Aku ingin sebuah baju kebesaran yang harus terjelma segera. Segera dan segera. Aku harus tampil beda. Sebelum kawan-kawanku beriringan ke tanah lapang di pagi lebaran.

 "Tenang anakku. Bajumu pasti jadi. Ibu ingin melihat senyummu di hari idul fitri.", kata ibu mesra.

 "Bagaimana bisa tenang Bu? Tukang jahit yang tinggal di seberang pematang, kemarin terpaksa memulangkan sebagian kain orang. Dia tak sanggup jahitkan sebelum lebaran. Istrinya jadi juga melahirkan, walaupun hampir keguguran." sahutku kencang.

 "Tak apa, wahai anak Ibu. Kau tahu kan? Tuhan telah rezkikan pada Ibu kemahiran menjahit sejak ibu gadis lagi. Nenek yang ajarkan. Hanya saja selama ini Ibu tak punya peluang . Ayah selalu membelikan ibu baju kodian. Hari ini Tuhan berikan tantangan. Tenanglah! Tiga hari cukup memadai. Ibu akan jahitkan untukmu baju bagus untuk kau ikut sembahyang ke tanah lapang."

 "Jangan lupa Bu, dua saku di kiri kanan", kataku.

 "Ya, dua saku" jawab ibuku pendek.

 "Kerahnya bebentuk belitan. Jangan menjulur seperti alang-alang", kataku lagi.

 "Ya, belitan. Ibu paham"

 "Sebuah lipatan mesti ada di belakang di atas pinggang. Menurut teman, itu lambang kejantanan.", kataku serius.

 Ibu senyum. Tak sangka kalau anaknya sudah bisa pula melucu seperti dirinya. "Ya, tenanglah, kapan Ibu bisa bekerja kalau usulannya bertubi-tubi? Semua akan Ibu buat sesuai selera terkini. Kau lihat nanti, kawan-kawanmu pun pasti iri. Eh, jangan-jangan, gara-gara ini,selepas lebaran Ibu bakal kebanjiran pesanan jahitan."

 ***

 Sejak itu, tiba-tiba saja aku menjadi rajin mengaji. Setidak-tidaknya di depan ibuku. Sengaja kupindahkan tempat mengajiku tak jauh dari tempat ibu menjahit baju. Sengaja kupantau detik demi detik. Jam demi jam, ku tunggu hari mendebarkan itu. Hari di saat-saat aku berjalan bersama kawan beriringan dan aku di depan. 
Tidak ada saat yang lebih membahagiakan ku saat ini kecuali ketika kulihat ibuku bekerja di mesin jahitnya mengayunkan kaki, sementara tangannya menggeser-geser kain dan membersihkan benang.

 Ibuku memang hebat. Dia tahu seleraku. Dia tahu bagaimana memelihara kegirangan-kegiranganku. Tak tahulah apa nasibku kalau dulu sampai aku dilahirkan oleh ibu yang lain. Sering kubisikkan "Tuhan, inilah ibuku. Kau tak salah Tuhan. Aku tak mau berpindah ibu sampai kapan-kapanpun. Sekali ia ibuku selamanya ia akan jadi ibuku. Air susunya telah bersusun menjadi tulang belulangku. Dalam aliran darahku ada peluhnya. Seluruh kulitku telah bersaksi akan kelembutan belaiannya. Bila aku menangis, dia usapkan jemarinya di atas pipiku. Bila aku demam, dia buatkan aku remasan daun empelam. Tak boleh olehnya satu seranggapun boleh melukaiku."

 ***

 Tak lama berselang. Di malam lebaran. Ibupun memanggilku, "Pakailah bajumu ini."
 Secepat kilat ku berlari. Girangku tak tertahankan. Ku buka semua baju yang dibadan. Ku tatap semua sambungan benang, garis-garisnya, tepi-tepinya. Secepat kilat pula baju itu telah terpasang di badan.

 Awalnya senyumku masih belum putus, persis seperti awal ketika aku berlari menuju ibu untuk mencoba baju baru. Kancingnyapun aku pasang satu demi satu. Namun entah mengapa, dengan perlahan senyumku memudar. Wajahku memuram. Kulihat wajah ibu dalam keheranan.

 "Bu, " kataku. "Kok ada yang ganjil? Di ketiak terasa seperti menyempit"

 Kucoba mengangkat tangan kanan kemudian tangan kiri, bagian bahu menjadi mengkerut. Ku gerak-gerakkan badanku. Kucoba mengepas-ngepaskannya. Kuulang-ulangi. Ibupun ikut membantunya. Aku merasa tak nyaman. Baju ini begitu sempit.

 "Ya, Ibu paham. Maafkan ibu sayang, ya." katanya sambil menarik nafas dalam. Dalam sekali.

 "Ya Allah, ampunkan aku." bisiknya.

 "Baju apa ini? Jelek sekali." kataku, sambil kukerutkan keningku dan kupertemukan kedua alisku seperti seekor anjing bertemu musuh lamanya.

 Akupun meraung raung. Ku sambung-sambung raungan itu. Kadang-kadang pelan namun kadang-kadang tinggi membumbung. Kubaling-balingkan suaraku. Kuulang-ulangi berkali-kali makianku, "Jelek sekali….jelek sekali….".

 Kuhentak-hentakkan kakiku. Aku tak peduli bahwa yang ada di depanku itu adalah ibu yang sangat mengasihiku. Yang tak pernah merasakan letih lelah membesarkan aku. Yang tak pernah menghardikku. Entah mengapa, tetap saja kubelalakkan mataku ke matanya..

 "Tenanglah anakku. Hanya sedikit kerutnya." katanya mencoba menenangkanku.

 "Sedikit apa?" kataku membentak keras.

 "Bukalah kembali , akan Ibu perbaiki ."

 " Tidak. Ibu jahat. Ibu bohong. Ibu penipu."

 Kulihat Ibu masih dalam wiridnya. Tak tahu apa yang sedang dibacanya. Kubuka baju itu. Kulanjutkan memeriksanya. Kubolak balikkan. Ku pukul tangan Ibu ketika ia ingin mengambilnya dariku.

 "Sakunya? Kok cuma satu? Tak dengarkah Ibu bahwa sakunya mesti satu di kiri dan satu di kanan, ah?" bentakku keras sekali.

 "Ya Ibu dengar. Ibu lupa." suara Ibu lirih.

 "Mana lipatan di punggung?", sambungku.

 "Aduh…ya Allah, maaf Ibu juga lupa? Tuhan telah buat Ibu lupa", suara Ibu sudah hampir tak terdengar.

 "Kerahnya, ya ampun seperti daun lidah buaya. Aku tak suka.", kataku lagi.

 Dadaku marah, gemuruh. Nafasku bagaikan badai puting beliung yang menghempas tebing dan merobohkan dahan-dahan. Aku semakin meninggikan suara. Kulemparkan baju itu tepat di wajah ibuku.

 Tak hanya sekali. Ku ambil baju itu, kulempar sekali lagi.

 "Puas?… aku malu Bu. Aku tak mau pakai baju ini.Titik" kataku seperti seorang panglima perang yang mengganas setelah kalah dalam medan perundingan.

 "Sabar anakku, malam ini akan Ibu selesaikan. Ibu janji. Besok engkau bisa berlari-lari gembira bersama kawan di lapangan. Tidurlah, hari sudah malam."

 "Tak mungkin. Sebentar lagi pagi sudah tiba." raunganku pun bersambung.

 Entah mengapa penilaianku kepada ibu menjadi berbeda. Tak ada makhluk yang lebih jahat dalam pandanganku kecuali ibuku. Kurengut-rengutkan telekungnya. Kupukul-pukul badannya. Kucakar tangannya ketika ia mencoba menjinakkanku dengan usapannya di kepalaku.

 "Ibu jahat… ." sambil kuteruskan tangisanku.

 Tak tahan juga ibuku dalam ketenangannya. Kulihat ibu mengepitkan kedua bibirnya. Kulihat bibirnya bergetar. Diletakkannya telapak tangan kirinya tepat di atas dada kirinya. Airmatanya menetes satu persatu. Terdengar juga oleh ku suara halusnya, " Ya allah…ya Allah.. Ya Allah.." Kulihat ia berusaha mengusap-usap alisnya dengan jari tangan kanannya. Tak tahu apa yang sedang disembunyikannya. Aku lihat air matanya perlahan mengalir membasahi pipinya yang lembut. Kulihat dia menahan suara dalam-dalam. Jauh di dalam dada. Kulihat tubuhnya berguncang. Namun ia tetap berupaya tenang.

 Tapi, aku tak mau tahu apa yang dia rasakan waktu itu. Setanku tak mau tertipu. Suaraku terus meninggi. Kutatap wajah ibu dengan penuh kebencian. Kukepal-kepalkan tinjuku. Kutendang-tendangi apa yang ada di sekitarku. Kursi, panci, dan dan lemari.

 "Ibu harus perbaiki malam ini juga. Aku benci…benci…..benci…." bentakku keras mengancam.

 "Ya sayang. Tapi kau maafkan ibu kan?" kata ibuku lembut. Lembut sekali.

 Aku diam sebentar. Kutarik nafasku dalam-dalam.

 "Bu, akan aku tunggu malam ini sampai baju ini jadi" jawabku tegas sambil menggertakkan rahang dan geraham.

 Ibupun kembali ke mesin jahitnya. Kulihat ibu mengurak benang-benang yang sudah terpasang. Kulihat Ibu mulai memotong sisa-sisa kain. Kulihat Ibu sengaja tersenyum dan menampakkan senyumannya berulang-ulang. Namun matanya berlinang. Bola matanya tak nampak jelas lagi olehku tertutup airmata yang menggenang. Aku tak tahu apakah Ibu masih bisa melihat dengan jelas sehingga tangannya mungkin akan tertusuk jarum jahitan.

 Malampun semakin melenyap. Ibu terus bekerja. Tetanggapun sudah menyepi. Suara takbir mesjid yang tadinya riuh kini tak terdengar lagi. Aku tak sanggup penuhi lagi sumpahku menunggu baju jadi. Aku tertidur tak jauh dari kaki ibu.

 ***

 Subuh-subuh aku terbangun. Suara riuh takbiran idul fitri kembali berkumandang dari pengeras suara mesjid. "Itu pasti suara kawan-kawanku yang lebih senang takbiran daripada sembahyang", bisikku dalam hati.

 "Sudah bangun sayang?" sapa Ibu mesra ketika aku mulai terjaga dan berdiri.

 "Aku diam" di dadaku masih ada kebencian. Masih ada dendam. Aku masih sangsi apakah aku berani ke lapangan hari ini dengan baju yang memalukan?"

 "Ke suraulah dulu sembahyang," kata Ibu. "Selepas wirid baju ini siap kau kenakan. Ibu akan selesaikan sedikit lagi. Sedikit lagi. Sabar ya anak Ibu."

 Aku berangkat ke surau dengan lesu. Mungkin karena pulasnya tidur semalam atau dinginnya subuh, suasana hati tak sekeras malam tadi. Dengan sarung di pundak, ku berjalan pelan. Kutatap fajar di timur yang mulai terang. Kuresapi dinginnya angin kota Bukittiinggi yang sepi. Belum lagi begitu jauh berjalan, kudengar suara muazin mengumandangkan azan. Azan pertama di hari idul fitri. Suara itu mengalun-alun menyampaikan salam selamat datang kepada hamba-hamba Tuhan. Seolah suara itu berkata, "Wahai hamba-hamba Tuhan, datanglah…datanglah… sembahyanglah…sembahyanglah. Sembayang lebih Tuhan suka dari pada tiduran. "

 Tiba-tiba aku teringat akan ibuku yang masih menjahit di rumah. Semalam kulihat ia sedang bekerja memperbaiki bajuku di mesin jahitnya. Rasanya tadi, ketika aku bangun ia masih di situ.

 "Tak tidurkah ia semalaman?" bisikku dalam hati. "Ya Allah, Ya Tuhan" aku mendekapkan kedua telapak tanganku ke dada. "Ibu…maafkan aku.."

 Kubatalkan perjalananku ke surau. Rasa iba kepada Ibuku pun mulai muncul. Kuputar tubuhku. Aku berlari pulang. Sesampai di rumah, kudekap lengan ibu, "Bu mari kita ke Surau, kita bersembahyang"

 "Biarlah nak, sekali ini Ibu di rumah saja. Tak usah kau cemaskan Ibu. Berangkatlah, agar Ibu selesaikan bajumu sedikit lagi. Tinggal sakunya saja."

 "Tak perlu Bu," kataku menggeleng. "Sakunya cukup satu."

 "Betulkah?"

 Ibupun mengibaskan baju itu dan mengembangkannya di depan ku. Sambil ditatapnya wajahku

 "Lihat, bagus kan? Lengannya tak berkerut lagi. Ibu sudah buat lebih besar. Ibu telah ubah guntingannya. Ibu lebih hati-hati kali ini. Maafkan Ibu ya, kemarin Ibu tergopoh. Maafkan ya sayang"

 "Ya Bu," aku mengangguk malu. "O bagus sekali Bu. Rapi sekali."

 Kegiranganku tak terkirakan saat itu. Tapi wajah ibu nampak sayu sekali oleh ku subuh ini. Pucat, sepucat langit ketika fajar hampir datang. Kuulangi menatap wajahnya yang masih tersembunyi di balik telekung. Tatapannya lemah tak berarah.

 Darahku berdesir kencang. Kutempelkan tanganku perlahan di dahinya. Kuusapkan jemari halusku di alisnya, terus ke pipi, terus ke dagunya.

 "Ibu demam?" tanyaku perlahan.

 Ibuku menggeleng.

 "Ibu letih?"

 Sekali lagi ia menggeleng.

 Ibu mencoba mengalihkan pembicaraan. "Aduh ..masih ada yang lupa, lipatan punggungnya."

 Secepat kilat kujawab "Cukup apa adanya Bu. Ini sudah cukup" jawabku.

 "Betulkah? Terimakasih anakku kalau begitu." Ibupun mencium pipiku."Maafkan Ibu. Ibu telah berdosa membuatmu tak bahagia.". Ibu menangis.
 Kedekap ibuku erat-erat. Kuciumi tangannya. Aku menangis sejadi-jadinya dalam pelukannya.

 ***

 Kini, di setiap menjelang idul fitri, di siangnya lebih-lebih lagi di malamnya, aku sering teringat akan ibuku yang telah tiada. Ingin rasanya aku terbang ke alamnya menjemputnya dan merayakan idul fitri bersamanya. Rasanya ingin di malam idul fitri kulihat ibu berbaring di atas dipanku dengan selimutku sementara aku menjahitkan baju untuknya. Akan kubuatkan dua saku di kiri dan kanan. Kan kubuatkan pula lipatan di bagian punggungnya. Tak akan kubiarkan kantuk menyerang. Sepanjang malam. Ya, sepanjang malam. Kan kutuntaskan baju itu sampai subuh datang. Karena ku ingin melihat senyuman ibuku di hari idul fitri.

 Tapi tak mungkin kini. "Ya Allah, kemanakah senyuman ibuku kan kulihat lagi hari ini?" Yang tinggal kini hanyalah pusaranya. Yang tinggal hanya nisannya di taman baqa, di bawah jembatan layang Tanah Abang. Sejarah tak mungkin diputar ulang. Aku takut, wahai Tuhan, kalau ibuku tak ridha dengan aku, celakalah aku sepanjang zaman…sepanjang zaman.

 "Ibu, izinkan aku datang di hari lebaran mencium nisanmu. Aku akan datang dengan baju bersaku satu tanpa ada lipatan."

Friday, January 08, 2010

Berhakkah saya disalami di hari raya?


Sebentar lagi akan bermunculan ucapan selamat berhari raya minal aidin wal faizin. Sekarangpun sebagiannya sudah bermunculan. Sayapun biasanya melakukan itu: menuliskannya dan kemudian mengirimkannya melalui berbagai media. Kawan-kawanpun melakukan hal yang sama, menuliskannya dan mengirimkannya. Saya pun gembira menerima ucapan itu. Anda juga bukan?
Namun kadang-kadang terpikir oleh saya begini, "Apakah saya berhak menerima ucapan selamat itu? Apakah hari raya ini untuk saya? Jangan-jangan ucapan untuk saya itu sesungguhnya salah alamat."
Saya membayangkan begini. Saya, Anda dan kawan-kawan lain sama-sama memasuki satu universitas. Kita sama-sama belajar, sama-sama mendapatkan PR dari guru, dan sama-sama mengikuti ujian. Anda memang rajin demikian juga kawan-kawan lain rajin. Saya tahu itu. Anda sering menahankan kantuk bermalam-malam dan menahankan lapar demi terselesaikannya tugas-tugas. Pihak sekolahpun kemudian mengumumkan bahwa anda lulus. Hari wisudapun kemudian dijadwalkan.
Tapi saya? Saya sering bolos, dalam kelas sering menguap, dan sering tidak mengumpulkan PR. Anda sudah bisa bayangkan, bukan? Wajarkah kalau saya lulus? Tidak! Dan, saya memang ternyata dinyatakan, "tidak lulus".
Tapi, di hari wisuda semua tamu-tamu menyalami kita. Mereka menyalami Anda dan menyalami saya juga. Mereka mengucapkan selamat, "selamat ya…, selamat ya…." Mereka memeluk kita dan mendoa'akan masa depan kita selepas kelulusan ini. Salahkah mereka? Mereka memang tidak pernah mengecek siapa yang sungguh lulus dan siapa yang tidak. Mereka memang orang baik-baik dan selalu berprasangka baik. Setahu mereka bahwa kita sama-sama siswa sekolah itu dan semestinya sama-sama diwisuda tahun ini.
Ya Allah, alangkah malunya saya karena saya hanya seorang pecundang di tengah-tengah kerumunan para pemenang. Senyum kita mungkin sama. Kilatan minyak rambut kita sama. Bahkan, mungkin kemeja saya lebih rapi dibanding kemeja Anda. Tapi, saya bukan wisudawan seperti Anda dan mereka.
Kawan, itulah rasa hati yang muncul ketika menghadapi hari raya idul fitri seperti ini, hari para shaaimin diwisuda. Hari saat-saat ketaqwaan orang-orang beriman diumumkan Tuhan. Tuhan melantik satu demi satu mereka menaiki tangga ketaqwaan yang lebih tinggi. Merekapun sesama mereka saling mengucapkan selamat hari raya, minal 'aidin wal faizin. Merekapun satu demi satu disalami tetamu karena mereka memang lulus. Mereka berjaya melewati penggemblengan madrasah Tuhan: Ramadhan. Puasa mereka sempurna. Taraweh dan tahajjud mereka tak kurang. Bacaan Alquran khatam. Mereka berjaya menaklukkan kemalasan demi kemalasan, mengunci mulut dari gunjingan. Hari-hari Ramadhan diisinya dengan perjuangan. Malam hari bagaikan rahib dan siang bagaikan singa di hutan.
Namun saya Ya Allah, kemana muka ini akan disurukkan? Haruskah saya lari dan menyembunyikan kepala seperti seeokor burung onta ketika berhadapan dengan srigala? Saya tak berhak menerima ucapan itu. Saya malu. Saya tidak lulus dan rasanya memang tak pantas lulus. Puasa saya hanyalah puasa badan. Saya tak sanggup mempuasakan nafsu dan mempuasakan mulut, hati, pikiran dan perasaan. Tapi, ucapan selamat hari raya pun telah sampai ke alamat saya. Bagaimana ini?
Itu tentang saya, kawan. Sekali lagi ini tentang saya. Bukan sindiran. Tolong dirahasiakan. Ini rahasia kita berdua: Anda dan saya.
Untuk Anda, saya tetap akan mengucapkan, "Selamat berhari raya, minal 'aidin wal faizin". Anda berhak berhari raya, insyaallah. Tapi, jangan lupa memaafkan kesalahan saya, ya!. Mudah-mudahan dengan kemaafan itu, Tuhan tutupi segenap kelaian saya. Kalau ada peluang, singgahlah atau nanti saya yang singgah.
Salam,

 

Jufran Helmi
Friday, January 08, 2010

Wajah Mursyid

Menarik juga membaca jawaban Ust Abu Sangkan dalam bukunya "Abu Sangkan Menjawab" terhadap pertanyaan sesorang tentang mursyid. Menurut Ust Abu Sangkan kita tidak boleh membayangkan wajah mursyid atau yang lain selain Allah dalam zikrullah karena itu termasuk syirik.

Saya bepikir, kalau kita tidak boleh membayangkan selain Allah, apakah mungkin kita membayangkan Allah? Kalau membayangkan Allah tak mungkin, sementara membayangkan selain Allah tidak diperkenankan, apakah kita mampu tidak membayangkan apa-apa, alias kosong?.

Membayangkan Allah jelas suatu kemustahilan. Tak ada satupun yang menyerupai Allah. Bukan hanya yang ril, bahkan yang khayalan skalipun tak akan menyerupai Allah.

Kalau kita kait-kaitkan Allah dengan alam semesta, seperti gunung meletus, laut yang meluap, dll untuk membayangkan kekuasaan Allah, artinya kita tetap membayangkan makhluk Allah, bukan Allah. Gunung, laut, matahari, manusia, hewan, adalah contoh-contoh ciptaan Allah.

Sekarang, kalau kita hanya bisa membayangkan makhluk, mengapa kita tidak memilih makhluk ciptaan terbaik Allah untuk dibayangkan, yaitu manusia. Dan kalau kita harus memilih di antara sekian banyak manusia yang akan dibayangkan, alangkah lebih dekatnya kita kepada Allah kalau yang kita pilih itu adalah orang-orang yang paling dekat dengan Allah. Itulah orang-orang yang bertaqwa.

Mursyid adalah orang yang kita yakini paling taqwa di antara orang-orang taqwa yang ada sekarang. Mustahil kita akan menganggap seseorang sebagai mursyid kalau kita masih melihat kekurangannya dari sisi taqwa.

Menurut saya, sebaik-baik bayangan yang muncul ketika kita berzikir adalah wajah mursyid

Friday, January 08, 2010

Mount Nebo


Tahukah anda dimana Mount Nebo itu? Maunt Nebo adalah nama satu gunung atau semacam dataran tinnggi yang dikelilingi lembah. Mount Nebo terletak di daerah perbatasan Palestina dan Yordania. Siang itu, di Bulan Mei 2005, saya dengan izin Allah sampai di puncak gunung Mount Nebo.
 Bersama kawan-kawan dari Rufaqa (sekarang Global Ikhwan), kami mengendarai kendaraan berangkat dari Amman menelusuri lembah barat Yordania yang berbatu dan berliku-liku. Dalam waktu tiga jam, kami sampai di Mount Nebo.
 Apa yang menarik dari Mount Nebo? Tempat itu terasa kering dan panas tapi dikelilingi pohon zaitun yang subur dan rindang. Sebagian pohon zaitun itu kabarnya telah berumur ratusan tahun, bahkan ribuan tahun dengan dahannya yang besar-besar. Dari puncak Mount Nebo yang kering tapi banyak ditumbuhi pohon Zaitun itu terlihat dengan jelas, ke arah barat, dataran tinggi Palestina yang subur. Subhanallah.
 "Ya Allah, oh itukah kiranya Palestina itu?". Dari sini, Palestina sangat jelas. Menghijau.Dengan menuruni satu lembah saja sebenarnya kita langsung sampai di Palestina. Saya dan beberapa kawan yang semuanya murid Abuya Ashaari Muhammad, terpesona merasakan kebesaran Tuhan dan kasihNya pada kami. Tak pernah saya menyangka sebelumnya bahwa suatu ketika saya akan sampai di sini, di tempat yang kisahnya diabadikan dalam Al-Quran dan dikenang sepanjang zaman.
 Kisahnya begini. Mount Nebo adalah tempat yang sangat bersejarah. Dulu, Bani Israil bersama pemimpin mereka, Nabi Musa, diperintahkan Tuhan hijrah dari Mesir ke Palestina. Karena pilihan hidup sudah tidak ada lagi di Mesir karena kejamnya pemerintahan Fir'aun, merekapun berangkatlah. Dengan peetolongan Tuhan, mereka berhasil lolos dari kejaran Fir'aun di laut Merah. Jauh sekali perjalanan yang mereka tempuh, hingga sampailah mereka di Mount Nebo.
 Nabi Musa telah memilih tempat ini sebagai tempat tinggal sementara. Merekapun tinggallah di sana. Perjalanan mereka belum berakhir karena belum sampai ke Palestina. Karena letihnya berjalan dan berpindah-pindah sebagian mereka mulai merasa betah tinggal di Mount Nebo, padahal dari sini tanah Palestina yang subur itu sudah di depan pelupuk mata.
 Di tempat ini Tuhan nampakkan berbagai keajaiban yang Tuhan anugerahkan kepada Nabi Musa agar mereka yakin dengan janji Tuhan yang disampaikan kepada Musa. Sebelumnya, Tuhan telah tunjukkan keajaiban ketika mereka bisa lolos dari kejaran Fir'aun tapi tidak ditenggelamkan laut Merah. Di sini, ketika mereka menderita lapar, Tuhan datangkan makanan yang bermacam-macam: roti, daging, dan buah-buahan. Padahal mustahil rasanya akan ada hewan buruan di situ, lebih-lebih lagi buah-buahan dan roti. Ketika terik matahari, Tuhan datangkan awan yang menaungi mereka. Untuk minum dan mandi, Tuhan datangkan mata air dari batu setelah Musa memukulkan tongkatnya ke batu itu. Ada dua belas mata air yang letaknya berjauhan mengelilingi puncak Mount Nebo, sehingga setiap suku tak perlu berebutan, karena mereka punya masing-masing satu mata air.
 Sampai hari ini masih ada keduabelas mata air yang sangat jernih itu. Saya sempat berwudu' dengan air itu dan meminumnya.
 Tapi, alangkah bejatnya akhlak Bani Israil pada Musa. Mereka tak putus-putusnya mendebat dan membantah arahan-arahan pemimpin mereka itu. Mereka selalu menolak nasehat-nasehat Musa. Berbagai kekejian terus mereka lakukan, padahal hari demi hari mereka hidup dalam limbahan karunia Tuhan. Mereka tak hiraukan arahan pemimpin mereka, Musa. Bahkan mereka ragui janji Tuhan untuk mereka bahwa mereka akan mewarisi Palestina itu.
 Tuhan tidak izinkan Musa terus bersama mereka. Musa wafat di tempat ini. Kucar kacirlah mereka sepeninggal pemimpin mereka itu. Tapi, apa boleh dikata, mereka harus merasakan kepahitan hidup. Tak ada lagi kesenangan dan kemudahan hidup di Mount Nebo sepeninggal Musa. Akhirnya mereka hijrah juga dan melajutkan perjalanan ke Palestina, tanpa Musa. Konon kabarnya mereka mengusung jenazah Musa ke Palestina.
 Kini Mount Nebo tinggal menjadi saksi sejarah. Singgahlah di sini suatu saat nanti.
 Wallahu a'lam.
 Jufran Helmi