mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Wednesday, September 30, 2015

Si Nila


Entah bagaimana, saya jadi ingat si Nila. Anda kenal si Nila? Pasti ingat. Gara-gara dia, susu sebelanga Anda menjadi sia-sia.
Waspadalah!

Kita  boleh bangga dengan hasil kerja bertahun-tahun mengumpulkan susu, mengumpulkan harapan, mengumpulkan prestasi, dlsb. Tapi, karena satu kecerobohan kecil, setitik saja,  semua yang telah diupayakan itu bisa hancur berantakan.

Nila, nila...

Dalam organisasi, perusahaan, atau jamaah juga demikian. Bisa jadi, misi, visi, atau strategi kelompok itu baik. Orang-orangnya pun pilihan di antara orang-orang baik. Tapi, gara-gara segelintir orang buruk di dalamnya, keseluruhan kebaikan orang-orang baik itu akan dipersepsi sebagai buruk. Sayang sekali, bukan?

Waspadalah dengan si Nila.

"Karena nila setitik, rusak susu sebelanga."

Itulah salah satu nasihat terbaik nenek kita yang diperolehnya dari neneknya lagi, yang kalau kita hayati kembali hari ini, hasilnya akan luar biasa.

Monday, September 28, 2015

28 September 2015


Mau nggak mau, harus mau. Siap nggak siap, harus siap. Hidup ini adalah pertarungan. Kalah atau menang bukan di sini pengumumannya. Yang kalah hari ini, bisa jadi besok ia menang. Sebaliknya, yang menang, besok ia kalah.

"Sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan."

Nikmat dan ujian tentu ada pergilirannya. Tidak tahu akan hal ini, justru itulah masalahnya. Mari singsingkan lengan baju. Mari kerja, mari berupaya, mari berpikir, dan mari bertawakal.
Salam,

Sunday, September 20, 2015

Islamic Center



Ribuan kaum muslimin duduk khusuk mendengarkan paparan Syeikh Anis Thahir Jamal Al Indunisy, seorang ulama Saudi yang orangtuanya berasal dari Indonesia, bertempat di Jakarta Islamic Center, 26 Juli 2015.

Lebih dari dua jam, As Syeikh menjelaskan keuniversalan ajaran Islam dalam menyelesaikan berbagai masalah kehidupan manusia baik kehidupan individu ataupun kehidupan komunal, baik masalah kehidupan lokal maupun kehidupan international.

Beliau menekankan bahwa ketidaksukaan sebagian manusia pada Islam karena mereka tidak memahami Islam atau salah mengerti tentang Islam karena mereka tidak menggali Islam dari sumbernya yang asli: Al-Quran dan As-Sunnah. Mereka menggalinya dari sumber yang keliru.

Tidak sedikit orang-orang yang menuduh Islam sebagai agama teror padahal Islam mengecam terorisme itu, Islam mengecam kekerasan. Islam justru agama yang menjunjung tinggi kasih sayang.

Beliau mendoakan semoga ummat Islam di Indonesia, baik pemerintahnya, ulamanya, dan rakyatnya mampu memperlihatkan Islam yang sesungguhnya kepada dunia, menjadi saksi bagi dunia.

Wallahu a'lam.

Kue



Terima kasih banyak pada majalah Pastry & Bakery. Kami terkejut. Di edisi Agustus inì, anda telah mengangkat profil usaha kami, Yussy Akmal Cake & Bakery, sebagai cover story. Terimakasih banyak, ya.

Masyarakat Bandar Lampung  memang telah cukup lama mengenal salah satu produk kami, Pie Pisang Lampung, di samping puluhan jenis kue dan roti lainnya.

Pie pisang ini berbahan baku pisang Lampung asli yang dipadukan dengan pengolahan modern. Masyarakat Bandar Lampung telah menjadikannya oleh-oleh khas Lampung. Terlihat, di bandara Radin Intan telah mulai banyak yang menenteng tas kue berisi pie pisang dengan logo Yussy Akmal.

Sayangnya, jangkauan produk ini belum mencapai daerah yang luas. Padahal, sejak riset pertama kali dan uji coba berkali-kali, rasa pie pisang kami ini sangat pas untuk lidah Nusantara. Ini pernah diakui oleh seorang pakar kue Indonesia yang kesohor, Ny. Liem, ketika beliau datang berkunjung.

Karena itu, setelah majalah besar Pastry & Bakery menjadikannya cover story edisi Agustus 2015 ini, kami berharap pie pisang Lampung Yussy Akmal semakin dikenal masyarakat Indonesia.

Kami pun menjadi tertantang untuk melayani masyarakat dengan lebih baik melalui penyediaan kue dan roti yang halal, hygienis, dan lezat bermutu.

Kritik dan saran kawan-kawan tetap kami tunggu. Jika datang ke Bandar Lampung, jangan lupa mampir.

Semwntara, baru ada 3 outlet di Bandar Lampung:
Jl. ZA Pagar Alam, Kedaton (sebelah Enhai)
JL, Sudirman No. 17 (sebelah Gelael)
JL. Dahlia 10, Rawalaut.

Insyaalah, kami akan terus menjadikan usaha kami sebagai ibadah pada Allah SWT.

Salam hangat selalu.

Ibukuku Seorang Guru


Foto jadul, dibuat kira-kira tahun 60-an. Guru-guru SD Negeri Koto Marapak berpose di depan sekolah mereka yang sangat sederhana yang dibuat dari bahan kayu. Kedua dari kiri, duduk, adalah ibunda saya Fadhilah binti Martunus. Beliau guru setia sekolah itu.

Ibunda Fadilhah  lahir Agustus 1928 di Desa Koto Marapak, Bukittinggi, dan wafat Mei 2004 di Jakarta. Beliau dimakamkan di Keret Bivak Jakarta, pada makam yang sama dengan makam ayanda kami yang wafat  September 1987.

Sepanjang karirnya, ibunda Fadhilah telah mengabdikan diri sebagai guru sekolah dasar. Jiwa guru telah menguasai dirinya. Setelah usia pensiunpun, beliau terus mengajar dengan membuat  majlis pengajian al Quran di rumah untuk anak-anak. Murid-muridnya sekarang sudah tak terhitung jumlahnya dan tersebar kemana-mana, seantero negeri, dengan berbagai profesi.

Dari rahimnya, telah terlahir 2 anak perempuan dan 7  anak laki-laki. 1 anak laki -laki dan 1 perempuan telah wafat sebelum beliau wafat. Dari kesembilan anak itu, posisi saya adalah anak yang paling tengah. Beliau adalah ibu yang sangat penyayang, perempuan perkasa, pekerja keras, ulet, dan mempunyai banyak telenta.

Beliau dikenal kawan-kawannya sebagai seorang humoris dan berjiwa seni. Beliau mahir memainkan gitar, biola, dan harmonium. Beliau seorang story-teller yang baik. Beliau juga seorang pencinta hewan.  Sampai akhir hayatnya, beliau tidak tega memakan daging ayam atau bebek hanya karena tidak sanggup membayangkan hewan-hewan itu disembelih.

Beliau tidak suka dengan orang-orang yang menyakiti hewan dan merampas kemerdekaannya. Beliau pernah mengatakan pada saya bahwa hewan-hewan yang disakiti itu nanti akan mengadu pada Allah di yaumil akhir dan meminta pembalasan yang setimpal dari Allah.

Beliau adalah motivator saya. Salah satu motivasi saya untuk akhirnya memilih menjadi peternak ayam sekarang ini adalah dari beliau. Saya mengikuti saran beliau untuk memelihara unggas itu.

Salam,

Musajik Usang





Bangunan ini dulu kala adalah sebuah mesjid jami', yaitu mesjid yang menjadi pusat kehidupan spiritual warga desa kami, Desa Kota Marapak, Kecamatan Ampek Angkek, Sumatera Barat. Sejak telah dibangunnya bangunan mesjid yang baru sebagai mesjid jamik, bangunan tua ini pun menyandang nama "Musajik Usang."

Kalau Anda sampai di kota Bukittinngi -- kota dingin, yang di zaman Belanda disebut Fort De Kock -- Anda tinggal melanjutkan perjalanan beberapa kilometer ke arah timur melalui jalan raya menuju Pekan Baru sampai batas kota, Garegeh. Dari Garegeh, kurang dari 3 km, Anda sampai di suatu persimpangan tiga, namanya Simpang Pinang Balirik. Dari sana, Anda berbelok ke utara, menulusuri jalan desa yang kecil yang agak menurun sejauh 2 km. Sampailah Anda di Balai, pusat Desa, Koto Marapak yang saya maksudkan.

Di Balai ini, Anda akan menemukan Mesjid Jamik Koto Marapak yang baru. Kira-kira 100m dari mesjid baru itu, ke arah barat, terletak Musajik Usang yang ada di foto ini.

Tidak ada data sejarah yang cukup akurat kapan mesjid tua yang dinamakan Musajik Usang itu dibangun. Dari gaya arsitektur dan lokasinya, saya memperkirakan mesjid ini di bangun abad ke 14-15 M, sebelum kedatangan penjajah belanda. Lebih tepatnya di bangun di zaman para wali ketika dunia Islam dipimpin oleh Kesultanan Usmaniah di Turki. Wallahu a'alam.
Seingat saya, ketika akhir 60-an, awal 70-an, ketika saya di tahun-tahun pertama SD, mesjid itu sudah tidak digunakan lagi. Masyarakat desa kami telah beralih ke mesjid baru yang lebih besar yang dibangun dengan struktur tiang dan lantai beton yang lebih kokoh serta di lokasi yang lebih strategis, Balai. Balai adalah alun-alunnya desa Koto Marapak. Balai mudah dijangkau dari seluruh penjuru Desa sehingga mesjid baru lebih sesuai di sana.
Sejak diaktifkannnya mesjid baru yang juga dinamakan sebagai mesjid jamik itu, berpindahlah seluruh kegiatan spiritual masyarakat ke mesjid baru yang gagah dengan kubah besar dan menara yang menjulang ke angkasa itu. Maka, berangsur-angsur pula mesjid lama itu berubah status menjadi usang. Orang-orang pun menyebutnya Musajik Usang. Kami, anak-anak menjadikan mesjid lama itu tempat bermain-main sandiwara-sandiwaraan.

Yang usang pada Musajik Usang itu tentulah bangunannya saja. Nilainya tetap tinggi. Di tempat itulah dulu nama Alllah dikumandangkan dan dimuliakan. Bangunan kayu itu sekarang memang sudah lapuk. Lantainya tak mungkin lagi diinjak. Dindingnya miring. Lokasinya pun tidak lagi strategis. Wajarlah kalau akhirnya para pemimpin masyarakat ketika itu memutuskan mendirikan mesjid baru sebagai pengganti.

Tapi, walaupun sudah ada mesjid baru, tak seorangpun yang tega meruntuhkan atau merobohkan mesjid tua itu betapapun telah diberi nama Usang. Inilah yang uniknya. Mungkin, tak seorangpun di desa saya dapat melupakan karya seni tingkat tinggi berupa ukiran yang menghiasi tiang dan dindingnya. Di dinding dan tiang Musajik Usang itu memang terpahat asma-asma Allah yang agung dan sejumlah ayat-ayat suci Al-Quran. Baru saja kita masuk ke dalam ruang utama mesjid itu, hati menjadi tentram dengan menatap ukiran itu.

Di atas mihrab (ruang untuk Imam) ada mihrab yang dibuat tinggi, namanya mihrab mu'azin. Terdapat tangga untuk naik ke mihrab mua'azin itu. Itu bukan ruang ornamen. Ruang itu adalah tempat mu'azin mengumandangkan azan. Saya masih ingat, biasanya ada 3-4 orang mu'azin yang mengumandangkan azan secara serentak sehingga azan terdengar ke seluruh desa.

Yang paling tidak dapat saya lupakan adalah struktur atapnya yang berjenjang tiga dan jumlah jendelanya yang dua puluh.

Atapnya yang berjenjang tiga mengisyaratkan adanya 3 tahapan pejalanan manusia menuju Tuhan: (1) Islam, (2) Iman, dan (3) Ihsan.
Tahap Islam adalah tahap elementer. Di tahap ini seseorang dituntut mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan Nya. Itulah kepatuhan. Tahap selanjutnya, kepatuhan saja tidak cukup. Setelah adanya kepatuhan, sesorang harus membuktikan kepatuhan itu dengan takut dan cinta Allah. Itulah tingkat kedua yang dinamakan iman. Iman pun belum cukup jika seseorang belum ikhlas beribadah hanya untuk Allah. Itulah tingkat ketiga yang dinamakan ihsan.
Hebat sekali falsafah arsitektur Musajik Usang itu. Tiga jenjang atapnya menunjukkan adanya tiga tahap perjalanan menuju Tuhan: Iman, Islam, dan Ihsan.

Jendelanya yang dua puluh mengisyaratkan adanya dua puluh sifat Tuhan. Mazhab Asy'ariah mengajarkan adanya dua puluh sifat Tuhan (wujud, qidam, baqa, mukhalatul lil hawaditsi, qudrah, iradah, ilman, hayyan. dst) yang merupakan pintu mengenal Allah. Barang siapa yang mengenal keduapuluh sifat itu, ia akan mengenal Allah. Kalau ia mengenal Allah, maka ia akan menempuh jalan Allah.

Bangunan mesjid boleh runtuh, kayu-kayunya boleh lapuk karena itu sunnatullah, namun manusia tidak boleh lupa falsafah hidup yang diajarkan oleh pendahulu kita melalui simbol-simbol, termasuk simbol-simbol yang mereka buat di mesjid. Dari Allah kita berasal dan kepada-Nya kita menuju. Tiga tahapan yang tidak boleh kita lupa: islam-iman,-ihsan dan sifat 20 Allah.

salam,

SMP 3


Ini foto yang dibuat tahun 1975, 40 tahun lalu.  Kami murid-murid kelas I-B, SMP Negri No. 3 Bukittinggi, berseragam pramuka, berpose bersama ibu Wali Kelas. Walaupun belum berlatih baris berbaris ala Pramuka, kami wajib berseragam Pramuka terlebih dulu.

Di foto itu, saya berdiri di baris paling belakang, di atas bangku, no.2 dari kanan. Yang berdiri di sebelah kanan saya, no 3 dari kanan, adalah bintang kelas kami. Namanya Andefi. Berpikirnya sangat cepat. Jago ilmu ukur, aljabar, dan ilmu alam.  Saya kelimpungan  menghadapi kecerdasannya. Sekarang ia orang sangat penting di Kementrian Kehutanan.

Yang duduk di depan saya, no 2 dari kanan,  juga bintang kelas kami. Ia fasih berbahasa Ingris sejak kelas I SMP lagi. Namanya Yeni Rozimela. Sekarang ia guru besar Sastra Inggris, di UNP, Padang.

Photo Grid


Beberapa hari yang lalu, anak bungsu saya, Al Faruq, mengajari saya bagaimana menggunakan sebuah aplikasi android yang bernama Photo Grid. Setelah saya coba  petunjuk-petunjuk yang diajarkan, dan ternyata saya bisa, saya pikir banyak juga manfaat aplikasi ini.

Dengan aplikasi ini, saya bisa menyusun beberapa foto menjadi satu foto dengan berbagai macam konfigurasi tataletak. Posisi masing-masing foto dapat dengan mudah diubah suai. Bahkan pada foto bisa ditambahkan teks.

Terpikirlah oleh saya menyusun sebuah garis evolusi wajah saya sendiri dari waktu ke waktu. Saya lalu mengumpulkan ijazah dan sertifikat lama yang ada pasfotonya. Saya meminta tolong Adnin, anak kedua, men-scan-nya. Saya meng-crop-beberapa foto lain yang ada wajah saya. Dengan mengingat-ingat kapan foto itu dibuat,  saya pun menuliskan nama tahunnya.

Coba lihat, bagus bukan? Wajah saya telah berevolusi sejak tahun 1977, pertama mengalami pubertas, sampai tahun 2013. Ada yang mengatakan, di masa remaja saya pemalu, tapi setelah dewasa pemalunya hilang. Sebenarnya tidak demikian. Sampai sekarang pun saya masih orang pemalu. Bukankah, malu itu sebagian dari iman? He he he.

Mari buat garis evolusi wajah masing-masing. Siapa tahu ada seseorang yang pernah berpapasan dengan Anda beberapa tahun silam -- mungkin ketika Anda masih kecil tersasar di pasar, atau pernah satu sekolah, atau pernah menolak cinta Anda -- ia akan segera ingat pada Anda ketika berpapasan kembali hari ini.

Salam.

Kimmy



Rumah kami, di Jakarta, sekitar 2012, didatangi oleh seekor kucing Persia betina berbulu tebal. Badannya kurus, namun kombinasi warna bulunya sangat cantik. Hampir semua bagian perut berbulu putih. Kepala hitam, di bagian wajah ada segitiga putih.  Punggung dan ekor hitam. Tatapan matanya penuh makna.

Sudah kami tanyakan ke seluruh tetangga, tidak ada yang mengaku pemilik kucing itu. Kucing itu pun sepertinya tidak mau pergi dari tempat kami. Anak-anak pun senang. Akhirnya, kami sekeluarga berkomitmen menjadi penjaganya.

Kami beri ia kandang, lengkap dengan kasur, untuk tempat tidur. Selain makanan dan minuman, kami belikan juga ia sisir dan gunting kuku. Kalau ia termenung-menung, kami konsultasikan ia ke dokter untuk dapat vitamin. Secara perlahan ia tumbuh menjadi kucing yang sehat, gemuk, dan ceria. Bulunya bersih.

Hampir dua tahun  Kimmy --nama yang diberikan anak-anak kami untuknya-- bersama kami. Dua kali ia beranak, hasil perkawinannya dengan kucing tetangga. Sebagian anaknya ada yang hilang, sebagian lagi mati.

Sayangnya, pada suatu sore, hujan sangat lebat, kamipun sibuk dengan urusan masing-masing, kami lupa dimana Kimmy. Kami tidak memperhatikan apakah dia ada di rumah atau tidak. Malamnya, Kimmy tidak tidak ada.  Sibuklah kami mencarinya malam itu. Kimmy tidak ada. Kami berharap ia mungkin masih main di luar dan berharap ia kembali besoknya.

Besoknya, Kimmy tetap belum kembali. Lusa pun demikian. Berminggu-minggu kemudian kami tetap mencarinya, menanyai tetangga kalau-kalau ada yang melihat, mencari di selokan-selokan kalau-kalau ia mati disana.

Kami, akhirnya, merelakan kepergian Kimmy, dengan derai air mata, untuk selama-lamnya.

Tinggal kini hanya sebuah foto Kimmy dengan tubuh kurus dan wajah sayunya di saat pertama kali ia datang, lalu menjadi bagian dari keluarga kami. Bekas kandangnya masih ada, namun kami tak tega membuangnya.

Asap di Palembang



Setelah  menunggu, stand by, di dalam pesawat selama 1 jam 30 menit, karena jarak pandang yang belum cukup 1 km,  Batik Air, ID 6870, Boeing 737-800 berpenumpang kurang lebih 250 orang, akhirnya tinggal landas juga di Bandara Sukarno-Hatta menuju Palembang.

Kami mendarat di bandara Mahmud Badaruddin II pukul 8 pagi, hari ini.

Walaupun matahari beesinar, cuaca di Palembang tidak terlalu terik karena masih tertutup asap.  Belum tahu berapa meter jarak pandang. Tapi, yang pasti,  bangunan-bangunan di  kejauhan bercampur putih.

Tidak ada warna biru di langit.

Aktifitas di Palembang sepertainya berjalan normal.  Ada beberapa orang pakai masker, terutama yang mengendari sepeda motor.  Tapi sebagian besar tanpa masker. Yang merokok pun sepertinya tetap merokok dengan  tenang.

Rasa asap memang terasa di kerongkongan walaupun nafas masih bisa normal.

Jembatan Musi


Jembatan Musi sudah dua. Yang terbaru bediri di atas beberapa pondasi beton di asar sungai  yang masing-masingnya diapit oleh enam atau delapan tiang pancang.

Warna merah muda pada struktur membuat jembatan Musi II memancarkan keceriaan di tengah-tengah siang bolong yang berasap.

Semoga jembatan yang lama yang masih kokoh tidak cemburu. Hidup rukun damai, berbagi tugas, dan damai dalam melayani hilir mudik manusia melintasi Sungai Musi yang lebar membentang seperti samudera, tetapapun kabut asap menutupi keindahan sungai itu.

Rawa-Rawa di Palembang



Kapanlah rawa-rawa yang membentang sepanjang jalan Palembang-Indralaya ini dimanfaatkan menjadi lahan produktif?

Kalau misalnya digali, terus diberi air dari Sungai  Musi, apakah lahan luas ini bisa dijadikan tempat memelihara patin atau belida? Ini perlu perenungan mendalam. Kalau bisa, pempek ikan dan pindang Palembang akan membesar.

Pembuangunan jalan menuju ke sini menjadi dua jalur sedang berlangsung. Masa depan wilayah ini akan cerah, secerah warna Jembatan Musi II yang merah muda itu.

Seandainya wilayah ini tidak bisa diairi penuh menjadi kolam ikan, apakah tidak ada kemungkinan ditanami tanaman yang bisa tumbuh di rawa-rawa? Kalau ada, saya akan beternak kepiting air tawar di sela-sela tanaman itu.

Tapi, saya lihat alang-alang bisa tumbuh subur dan panjang-panjang. Kalau dijadikan makanan sapi, rasanya juga ideal.

Indralaya



Mesjid Al Hijrah Indralaya tetap putih bersih di tengah-tengah debu-debu yang menutupi kampung Indralaya yang kering kerontang dan sibuknya mesin-mesin konstruksi melebarkan jalan ke kiri dan kanan.

Sebuah plank di depan mesjid masih jelas terbaca, "Shalatlah sebelum dishalatkan."

Ketika saya melintasi kampung yang menjadi titik temu 3 kota: Palembang, Prabumulih, dan Kayu Agung itu sedang giat-giatnya membangun. Ada pelebaran jalan. Ada galian pipa. Ada pembangunan ruko-ruko.

Sepertinya, semua pekerja tidak peduli dengan teriknya panas, debu, dan kekeringan. Proyek harus selesai sesuai target.

Syukurlah pengurus mesjid Al-Hijrah tak henti-hentinya mengingatkan mereka untuk shalat. Alangkah buruknya nasib kita, sudahlah kering, berdebu, tapi tidak pula shalat.

Karet



Pak Udin mengawani saya ke tengah-tengah ladang karet yang tidak terganggu dengan kemarau. Walaupun sebagian daun menguning, masih tampak tanda-tanda kehidupan pada batang karet itu.

Sayangnya, harga karet jatuh sejatuh-jatuhnya. Karet yang biasanya Rp.20,000 per kg , sekarang hanya dihargai Rp.7,000 per kg.

Apa yang harus kita lakukan, Kawan?

Daunnya memang masih melambai, dan getahnya masih menetes dari batang ke dalam tempurung-tempurung penampung sadapan. Tapi, pembelinya pelit, tidak bersahabat.

Pak Udin, bersabar, ya. Yang penting, usaha kita halal. Suatu saat kelak, keadaan ini membaik. Tuhan mendengarkan jeritan kita.

Ayam



Tidak mudah beternak ayam di musim kemarau panjang ini. Bukan hanya air untuk kepeluan minum ternak ini yang kurang, asap akibat kebakaran hutan yang telah mengepung kawasan Sumatera Selatan, khusunya Prabumulih, telah membuat unggas-unggas jinak ini mengalami stress.

Musim kemarau dan berasap tahun ini telah membuat rasio pertumbuhan ayam di kandang kami  sangat buruk. FCR maksimum harusnya 1.55,. Di musim tidak berasap, FCR biasanya berkisar 1.40 sampai dengan 1.50. Tapi, di musim berasap ini, angkanya berkisar pada 1.60-1.65. Besarnya angka FCR itu menunjukkan pertumbuhan berat daging ayam tidak setara dengan konsumsi makanannya.

Belun lagi mortaliti (tingakat kematiannya). Dari 100 ekor, yang mati jangan lebih dari 3 ekor. Tapi sekarang, yang mati mencapai 12 ekor untuk setiap 100 ekor. Ayam-ayam yang stress , banyak bermenung-menung, sangat mudah mati.

Harga ayam tidak pula bagus. Di kandang, di Parbunulih, harga ayam hanya Rp. 12,000 /kg. Peternak benar-benar terpukul dapurnya. Pukulan itu semakin terasa karena penyerapan pasar pun minta ampun lambatnya.

Perlu pemikiran yang lebih kreatif untuk mengantisipasi kondisi-kondisi ini ke depan.

Di antara yang saya pikirkan adalah: mendapatkan bibit ayam yang lebih tahan asap, atau mencari semacam obat kuat yang membuat stamina ayam menjadi kuat.

Selain itu, mengurangi jumlah ayam menjadi 1/4 - 1/2 kapasitas juga perlu dipertimbangan agar kandang tidak terlalu padat.

Di atas semua itu sabar atas musibah ini serta syukur atas apa yang pernah dicapai adalah kunci dari segala-galanya. Peternak bisa bersabar, tapi bagaimana dengan ayam?

Herman Sira Manuk



Saya bertemu kawan lama, Herman Sira Manuk, di rumahnya di kawasan Gunung Ibul, Prabumulih --di rumahnya yang tergolong bukan rumah sederhana itu. Walaupun rambut beliau sudah mulai memutih, semangatnya tak tertandingi oleh saya. Didampingi oleh istrinya yang tampak masih awet muda di usianya yang lebih separo abad, kami membicarakan banyak hal.

Tahun 1991 yang lalu saya bertemu pertama kali dengan Pak Herman Sira Manuk  di Proyek Pengembangan Injeksi Air, Lapangan Limau, Prabumulih --Lapangan minyak milik Pertamina yang dikerjasamakan pengoperasiannya dengan Husky Oil International. Kami berada dalam satu tim yang sangat kompak. Saya membidangi fasilitas dan konstruksi peralatan sedangkan Pak Herman membidangi proses produksi dan injeksi air.

Bersama-sama dengan kawan-kawan lain, dari berbagai keahlian, proyek injeksi air di Limau dianggap berhasil dan bahkan menjadi rujukan untuk proyek yang sama di tempat lain. Laju produksi minyak yang awalnya 300 BOPD berhasil dinaikkan perlahan, bahkan pernah mencapai 15,000 BOPD.

Selama hampir 15 tahun kami bekerja sama, bahu membahu di lapangan Limau itu. Antara saya dan Pak Herman telah menjadi seperti keluarga.

Setelah kontrak kerjasama pengelolaan lapangan Limau berakhir, kami bersama-sama pindah ke proyek ekplorasi minyak di Batu Raja. Satu tahun di sana.

Karena proyek itu gagal --investornya ogah melanjutkan-- kami pun pindah ke proyek lapangan Bula, Maluku. Di Bula itu kami melanjutkan kerjasama dan kekeluargaan kami yang pernah terbentuk sebelumnya.

Tahun lalu, 2014, kami berpisah karena Pak Herman pensiun.

Sekarang, Pak Herman mengisi hari-harinya membangun ekonomi Indonesia dengan menjadi petani.

Di atas lahan 7 hektar, di daerah Suban, beliau bertani pohon Gaharu. Di atas lahan 7 hektar yang lain lagi, di Karang Endah, beliau bertani karet. Dulu, di lahan karet ini, beliau pernah bertani Melon tapi tidak berhasil. Melon dihentikan dan tanahnya ditanami karet.

Hampir 2 jam saya dan Pak Herman bertukar pikiran tentang masa depan ekonomi Indonesia, khusunya pertanian. Saya pun menceritakan kepada beliau bahawa saya sedang belajar bertani. Saya ceritakan betapa menyedihkannya harga karet. Sebagai petani, beliau merasakan itu.

Saya ceritakan  bahwa saya belajar bertani buah naga. Pohon naga di kebun saya menguning daunnya. Secepat kilat, pengagum buah naga itu menunjukkan cara-cara mengelola tumbuhan kaktus itu. Beliau pun menunjukkan puluhan pohon naga yang dipeliharanya di dalam pot di belakang rumahnya. Semua subur.

Dengan semangat, Pak Herman mengajak saya mendalami pertanian gaharu yang sekarang ditekuninya dan seluk beluknya. Dengan laptopnya, ia memperlihatkan  teknik terbaru mempercepat pertumbuhan bagian batang gaharu yang berkualitas premium --untuk ekspor- mengggunakan bakteri yang dikembangbiakkan sendiri di belakang rumahnya yang memanfaatkan air kucuran AC yang ditampun drum plastik.

Satu lagi yang membuat saya terkejut, Pak Herman mengajak saya melihat masa depan pertanian jengkol. "Orang yang tidak sadar masa depan jengkol, adalah orang yang tidak paham tentang realitas," katanya semangat. Level saya baru sebatas penggemar goreng jengkol yang diberi cabe merah atau hijau.

Yang sangat mengejutkan, Pak Herman menantang saya bertani kelor, tanaman yang saking terkenalnya, dijadikan pepatah di negeri kita "dunia tak selebar daun kelor". Pak Herman menyerahkan pada saya satu artikel tentang bertani keloryang baik, sebuah kajian seorang pakar berdasarkan kaidah-kaidah Al-Quran. Al-Quran? Bukankah beliau seorang Katolik?

Putra Flores yang pernah senasib dengan saya -- kami pernah sama-sama jadi guru ketika kami mahasiswa: Pak Herman guru SMP di Apelembang sedangkan saya guru SMA di Bandung -- itu sungguh luar biasa.  Beliau sahabat sekaligus mentor yang baik.

Walaupun agama kami berbeda, sejak dulu antara kami sering berdiskusi tentang berbagai hal, termasuk tentang agama. Beliau seorang penganut Katolik yang taat. Saya selalu meilihat beliau berdoa sebelum makan. Di rumahnya bertebaran buku-buku agama.  Kalau diskusi tentang minyak, pertanian, dan peternakan jangan ditanya lagi. Bukan hanya sering tapi selalu.

Semoga saya bisa menyediakan waktu menerima tawaran Pak Herman meninjau berbagai lahan pertanian budidaya tanaman masa depan itu, termasuk gaharu, jengkol, dan kelor. Sebelum kami berpamitan,  si kakek yang sudah punya dua cucu itu menawari saya meninjau dua jenis tanaman lain yang akan booming di Indonesia, yaitu daun swasembada dan kapulaga.

Selamat sukses ya Pak Herman.

Buah Naga



Mengherankan, pohon buah naga yang ditanam di tanah terbuka menguning daunnya dan calon buahnya malu-malu muncul. Tapi, yang ditanam di dalam pot, tumbuh subur. Ada apakah gerangan?

Kalau akibat kemarau panjang dan asap, mestinya kedua-dua phon naga ini menguning. Tapi, yang satu subur yang satu merana. Saya merasa telah berbuat tidak adil kepada makhluk Tuhan ini.

Saya mulai berpikir kalau ini semua mungkin karena tiang penunjang batang. Jenis tiangnya berbeda.

Buah naga yang menguning menggunakan tiang kayu, keadaannya pun sudah agak lapuk, sedangkan yang subur menggunakan tiang beton.

Barangkali tanaman ini tahu kalau tiang kayu tidak akan cukup kuat menobang berat tubuhnya yang akan terus membesar. Ia menjadi ragu untuk tumbuh. Kegaruannya itu diperlihatkannya dari rawut daunnya yag tidak segar.

Sebaliknya, yang bertiang beton mempunyai rasa percaya diri yang cukup. Ia menjalari tiang beton layaknya seekor naga.

Kalau begitu, semua tiang kayu harus diganti dengan tiang beton. Sepulang dari sini saya akan mampir di Gramedia mencari kalau-kalau ada teknik bertani buah naga yang baik dan benar.

Mari kita geliatkan ekonomi Indonesia seperti menggeliatnya seekor naga dengan bertani buah naga.

Pepaya



Pepaya ini tidak secara sungguh-sungguh ditanam apalagi dipelihara. Buktinya, tidak seorang pun di antara kami tahu jenis apa pepaya ini. Tapi anehnya, ia bisa tumbuh besar, subur, dan berbuah.

Hari ini, saya mecicipi sebuah pepaya yang matang di batang .

Bentuk luarnya seperti pepaya Bangkok: membesar ke ujung, tapi sebagian besar kulitnya kuning dan ukurannya kecil. Tidak seperti kebanyakan pepaya Bangkok yang kulitnya tetap hijau walaupun sudah matang.

Warna daging pepaya ini kuning, padahal pepaya Bangkok tahu saya merah.  Biji pepaya ini banyak sehingga repot memakannya. Rasa pepaya ini kurang manis, setidak-tidaknya dibandingkan beberapa varietas pepaya yang dijual di  Jakarta. Selain itu, batangnya terlalu jangkung bagi saya.

Saya kurang senang dengan pepaya berbatang tinggi, berbijik banyak, apalagi tidak manis. Batangnya yang tinggi  membuat pepaya ini susah dipetik. Kesuliatan memetiknya tidak terimbangi oleh rasanya yang kurang manis itu.

Tapi, kalau melihat subur tumbuhnya pepaya ini, saya menjadi bergairah untuk bertani pepaya di masa-masa yang akan datang. Tanah di sini tetlihat sesuai untuk tanaman semacam pepaya ini. Barangkali, karena kotoran ayam yang berlimpah di sini --berada di antara dua kandang ayam-- tanah menjadi subur. Ini harus dianggap peluang.

Saya tinggal mencari bibit pepaya dari varietas-varietas terbaik yang ada di pasaran seperrti Bangkok atau California yang rasanya telah terkenal seantero dunia untuk ditanam di sini. Dimanakah saya harus mencarinya?

Tapi, mengapa pula nama jenis pepaya harus nama tempat di luar negeri? Tidak adakah, misalnya, pepaya Depok, pepaya Cililitan, atau pepaya Koto Marapak?

Ismet Hasan



Siang tadi, saya bertemu dan berbincang dengan sahabat lama, Ismet Hasan, seorang ulama dan pengusaha sukses di Prabumulih. Untung saya bekesempatan bertemu beliau hari ini karena besok pagi beliau sudah harus berangkat ke Eropa. Pak Ismet yang rendah hati itu menjamu saya berbincang-bincang di toko kainnya yang baru.

"Apa beda toko Dusra yang baru ini dibandingkan Dusra lama yang berada di sebelah pasar Inpress," tanya saya membuka pembiacaraa.

"Di toko ini, semuanya import, sedangkan di tempat lama fokus produk lokal," jelas Pak Ismet sambil menunjuk bahan-bahan garmen gulungan yang terpajang di tokonya yang berasal dari China.

Pak Ismet adalah seorang sahabat sekaligus guru yang bersahaja. Ayahnya, Haji Hasan, yang merintis  perniagaan keluarga mereka pertama kali di Prabumulih dengan brand Dusra, Saya mengenal Pak Ismet ketika toko Dusra sudah berada di tangan Ismet Hasan.

Selain pengusaha, Pak Ismet juga dikenal sebagai seorang aktifis. Hampir pada seluruh kegiatan sosial kemasyarakatan, nama Ismet Hasan ada. Kalau bukan ketua, biasanya beliau jadi bendahara.

Dulu, ketika di Prabumulih diupayakan penyatuan seluruh khatib di bawah satu forum yang bernama FKAM (Forum Komunikasi Antar Masjid), Ismet Hasan adalah penggerak dan figur penting di sana di samping tokoh-tokoh lainnya.

Saya sering diajak oleh Pak Ismet berkenalan dengan tokoh-tokoh lain di Prabumulih dan mengikuti berbagai aktifitas sosial keagamaan.

Saya bersama beliau mengadakan pelatihaan kepememipinan remaja mesjid. Saya juga bersama beliau mendirikan forum usaha muslim berbentuk koperasi.

Pak Ismet bukan saja pembimbing saya dalam sosial keagamaan, tapi juga mentor saya dalam bidang bisnis.

Walaupun pertemuan kali ini tidak lama karena beliau harus siap berangkat besok ke Eropa dan saya juga ada acara lain, kami sudah merencanakan pertemuan berikutnya di Jakarta.

Prabumulih



Pembangunan sarana fisik penunjang ekonomi Prabumulih, saya pikir perlu di simak. Mulai dari batas kota di sebelah timur, KM 15, sampai ke perlintasan kereta api (dekat RS lama) telah bertaburan ruko di kiri kanan jalan. Sebagian ruko-ruko itu masih kosong, sedang ditawarkan untuk disewakan atau dijual. Namun, sebagian lagi telah ada kegiatan perniagaannya.

Bisnis makanan dan kuliner terlihat menggeliat. Setidak-tidaknya ada puluhan ramah makan dan restoran serta beberapa caffee.
Kalau 7 tahun lalu, sentra bisnis berada di bagian barat kota. Sekarang sentra itu telah bergeser ke timur. Tujuh tahun lalu, RM Siang Malam kesepian sendiri di Cambai. Tapi, sekarang RM itu terihat terdesak oleh kegitan usaha lain di kiri dan kanannya.

Jalan Padat Karya , dulu bekas jalan pipa gas Pertamina, kini sudah sangat ramai. Kalau malam hari, susasana di jalan ini sangat romantis karena adanya cafe-cafe baru yang buka sampai malam.

Penataan pedagang makanan sepanjang rel kereta api di depan kantor Polsek Prabumulih Timur cukup mengesankan. Lokasi ini coco dibuat menjadi sentra penjualan makanan kecil. Kalau lokasi ini dikembalikan sampai Lapangan Prabujaya akan sangat ideal. Saya teringat bagaimana pemerintah Surabaya mengorgnisir pusat penjualan makanan kecil, pusat jajanan serba ada. Cara ini ideal untuk dicontoh dan doterapkan di Prabumulih.

Saya kira, pembangunan kantor walikota,  kantor plores, rumah wali kota,  kantor pertanahan, dan RSU di sebelah timur menjadi  pemicu ramainya para pemilik modal berinvestasi ke sebelah timur.

Pusat pasar tradisional sedang dibangun dan ditata ulang supaya lebih modern. Saya sempat melihat beberapa kios kain, ikan asin, dan ayam potong yang belum terlalu tinggi aktifitasnya dibandingkan pasar yang lama. Lokasi yang dipilih sebagai pasar tradisional yang modern itu adalah lokasi pasar yang lama di tambah lokasi bekas terminal. Telah dibangun sky-bridge yang cukup cantik. Yang menghubungkan kedua pasar itu.

Yang masih menjadi kendala adalah penataan parkir dan pedagang kaki-lima. Kalaulah pemerintah kota Prabumulih meniru kota Surabaya dalam pengelolan parkir dan pedagang kaki lima, saya kira itu ide bagus. Beberapa waktu yang lalu, saya bertemu Ibu Risma, walikota Surabaya, dan beliau menceritakan bagaimana perpakiran dan PKL di Surabaya yang ruwet akhirnya terselesaikan.

Kerajinan Akrilik


Satu potensi tersembunyi Prabumulih yang belum terkespos keluar adalah pusat kerajian tangan yang berada di Jalan RA Kartini No.1, Prabujaya. Di sini diproduksi berbagai kerajinan tangan berbahan baku manik-manik akrilik dalam bentuk tas, dompet, bunga, kotak tissue, boneka, dan berbagai bentuk kreatif lainnya. Kombinasi berbagai bentuk manik --ada yang bulat, pipih, lengkung, dll-- dan kombinasi warnanya sangat memukau.

"Saya membuatnya sendiri dengan tangan," aku Susanti yang mengelola pusat kerajinan ini.

Selama ini, produk ini baru diketahui oleh beberapa orang tertentu yang memang sangat berminat dengan karya seni. Menurut saya, produk seperti ini sangat layak diperkenalkan ke luar, ke masyarakat luas, bukan saja Prabumulih, tapi juga Palembang,  Jakarta, atau kota-kota lainnya. Bahkan, ke manca negara.

Sebagai sebuah karya seni, produk-produk ni sangat eksklusif. Satu produk dibuat telaten dengan mengambil waktu sampai satu minggu. Di masa sulitnya okonomi kita mengimport barang-barang sekarang ini karena harga dollar yang tinggi, seharusny produk ini layak menjadi andalan ekonomi Indonesia untuk eksport.

Saya ambil beberapa jenis produk ini untuk saya bawa ke Jakarta hari ini. Mudah-mudahan, produk ini bisa saya daftarkan pada event INACRAFT 2016 mendatang. Semoga masyarakat Indonesia mengenal satu lagi karya putra-putri Indonesia.

Untuk yang ingin mengenal lebih lanjut, silakan berhubungan langsung dengan Santi: 0858 3826 6359, Pusat Kerajinan Manik-Manik Akrilik, Jl. RA Kartini No. 1, Prabujaya, Prabumulih.

Kerajinan Arklirik di Prabumulih



Satu potensi tersembunyi Prabumulih yang belum terkespos keluar adalah pusat kerajian tangan yang berada di Jalan RA Kartini No.1, Prabujaya. Di sini diproduksi berbagai kerajinan tangan berbahan baku manik-manik akrilik dalam bentuk tas, dompet, bunga, kotak tissue, boneka, dan berbagai bentuk kreatif lainnya. Kombinasi berbagai bentuk manik --ada yang bulat, pipih, lengkung, dll-- dan kombinasi warnanya sangat memukau.

"Saya membuatnya sendiri dengan tangan," aku Susanti yang mengelola pusat kerajinan ini.

Selama ini, produk ini baru diketahui oleh beberapa orang tertentu yang memang sangat berminat dengan karya seni. Menurut saya, produk seperti ini sangat layak diperkenalkan ke luar, ke masyarakat luas, bukan saja Prabumulih, tapi juga Palembang,  Jakarta, atau kota-kota lainnya. Bahkan, ke manca negara. 

Sebagai sebuah karya seni, produk-produk ni sangat eksklusif. Satu produk dibuat telaten dengan mengambil waktu sampai satu minggu. Di masa sulitnya okonomi kita mengimport barang-barang sekarang ini karena harga dollar yang tinggi, seharusny produk ini layak menjadi andalan ekonomi Indonesia untuk eksport.

Saya ambil beberapa jenis produk ini untuk saya bawa ke Jakarta hari ini. Mudah-mudahan, produk ini bisa saya daftarkan pada event INACRAFT 2016 mendatang. Semoga masyarakat Indonesia mengenal satu lagi karya putra-putri Indonesia.

Untuk yang ingin mengenal lebih lanjut, silakan berhubungan langsung dengan Santi: 0858 3826 6359, Pusat Kerajinan Manik-Manik Akrilik, Jl. RA Kartini No. 1, Prabujaya, Prabumulih.

Bank Sampah



"Ustaz, datanglah ke Bank Sampah Prabumulih," demikian pesan singkat yang yang disampaikan melalui FB  saya kemarin oleh seseorang yang mengaku bernama Siti Zulaiha.

Saya lupa siapa Siti Zulaiha itu. Saya sama sekali tidak mengerti apa bank sampah yang dibicarakannya  itu. Seumur hidup baru sekali ini saya mendengar istilah bank sampah.

Hari ini, sesampai di lokasinya, saya disambut orang yang bernama Siti Zulaiha itu, perempuan muda berjilbab putih, didampingi dua orang asistennya. Ia kemudian menjelaskan apa bank sampah itu. Saya pun mengerti, terpana, sekaligus terharu.

Seperti bank konventional, BSP (Bank Sampah Prabumulih) mempunyai nasabah dengan nomor rekening masing-masing. Setelah seseorang mendaftar sebagai nasabah, mengisi formulir, dan membayar uang pendaftaran, maka orang itu akan diberikan buku tabungan BSP.

Sebagai nasabah, orang itu boleh memasukkan sampah ke BSP kapan pun. Sampah itu bisa sanpah dari rumah sendiri atau sampah yang ia kumpulkan dari tetangga kiri kanan. Jika orang itu memilah-milah sampah itu berdasarkan kategori sampah dan mengangkutnya ke BSP, maka orang itu berhak atas uang jasa itu. Sampah-sampah yang dibawa itu akan  ditimbang petugas. Ke dalam buku tabungannya langsung dikreditkan nilainya sesuai dengan jenis sampah.

Sampah organik akan dinilai Rp.100/kg. Sampah kertas, koran bekas, dll diharga Rp500 /kg. Kardus Rp 1,200 /kg.

Gelas minuman dibedakan yang bening dengan yang warna. Yang bening Rp2000/g sedangkan yang warna Rp1000/kg. Kaleng soft dring seperti Sprite, Coca-Cola, dll dihargai cukup tinggi yaitu Rp6,000

Ada 27 kategori dan masing-masing kategori dengan harga yang bebeda-beda. Yang terendah adalah Rp.100/kg (sampah organik) dan yang tertinggi Rp. 35000/kg (sampah tembaga).

Setiap penyetoran sampah itu ke BSP, nilai tabungan nasabah akan bertamabah. Sekali dalam satu tahun, nasabah bisa mencairkan tabungannya itu dalam bentuk uang tunai. Jadi, rumanya bersih dari sampah, di akhir tahun ia mendapat uang. Sampah yang tadinya sesuatu yang menggangu kenyamanan dan sarang penyakit, sekarang menjaid sesuatu yang berharga.

Sampai hari ini tercatat 490 nasabah BSP. Untuk memudahkan pelayanan kepada masyarakat, BSP telah mendirikan unit-unit pelayan di berbagai lokasi, untuk mempermudah pengiriman sampah. Unit itu ada yang di sekolah, di pondok pesantren, di RT atau RW.

"Sekarang ada 22 unit pelayan, tersebar di seluruh kota Prabumulih, Ustaz'" kata Siti Zulaeha dengan semangat.

"Dikemanakan sampah-sampah itu?" tanya saya setelah melihat tumpukan sampah yang sudah terpilah dengan rapi sesuai kategorinya masing-masing.

Siti Zulaiha membawa saya ke dekat sebuah lemari pajang. Ia mengeluarkan sebuah keranjang anyaman dari dalam lemari. Ia memperlihatkan kepada saya. "Coba tebak, apa bahan keranjang ini."

Spontan saya menjawab, "rotan".

Pikiran saya memang mengatakan bahwa bahan baku keranjang yang dianyam cantik itu adalah rotan kualitas premium yang ada di Indonesia.

"Bahannya dalah koran bekas." Jelas Siti.

Saya menyengir. Sulit akal saya menerima kenyataan bahwa anyaman keranjang yang ada di tangan saya berasal dari kertas koran yang sudah sampah.

Saya baru terima kenytan itu ketika kepada saya diperlihatkan urutan prosesnya dari awal sampai menjadi kerajinan tangan yang sangat bagus.

Berpuluh-puluh produk lainnya diperlihatkan pada saya. Ada bekas bungkus sampo, ada bekas botol aqua, ada bekas botol coca cola. Semua bahan baku itu hampir tidak dikenali lagi karena sudah berubah wujudnya oleh tangan pemuda-pemudi Prabumulih berbakat.

"Kami dulunya remaja-remaja yang aktif di mesjid." Siti Zulaiha menjelaskan cikal bakal BSP yang dimulai oleh 6 orang remaja aktifis mesjid yang dulunya tergabung di dalam FBI (Forum Bersama Irmas). Remaja-remaj mesjid ini bekerja sama membentuk sebuah komunitas yang bernama Prabu-Ijo.

Lewat dukungan berbagai  pihak, khusunya Rumah Zakat dan Pemerintah Prabumulih, pemuda-pemudi yang hanya bermodalkan idealisme itu berhasil mewujudkan cita-cita mereka mendirikan sebuah bank. Bukan bank yang mengelola uang, tapi sampah.

Upaya yang mereka lakukan, kerja-keras,  dan kreatifitas mereka bukan sembarangan. Mereka berhasil menyulap sesuatu yang menjadi lawan (sampah adalah lawan) menjadi kawan (uang serta barang-barang bermanfaat lainnya adalah kawan).

Alamat mereka adalah Jl. Arjuna RT 02 RW 05, Keluraha Wonosari, Prabumulih.

Oh ya, sebelum berpamitan pulang, mereka menghadiahkan saya sebuah kotak sendok dan dua buah gantungan kunci yang sangat cantik. Tapi jangan bilang siapa-siapa ya, produk itu dibuat dari sampah.

Tadika Hubbullah



Tahun 2003 yang lalu, saya dan istri saya, Ema Manita Kuraesin --bersama-sama dengan kawan-kawan kami: Ibu Mirza, Ibu Pusi Fauziah, Ibu Judith, Lestio Handoko, Rudy Salam, Adha Munaji, dll-- mendirikan sebuah sekolah taman kanak-kanak dengan sistem pendidikan Islam terpadu, raudhatul athfal, di bawah izin Departemen Agama.

Lokasi sekolah mengambil tempat di rumah kediaman Ibu Mirza di KM 6 Prabumulih.

Sekolah itu kami beri nama Tadika Hubbullah. Kalau diterjemahkan berarti "Taman Pendidikan Kanak-Kanak Kekasih Allah." Tujuannya menjadikan anak-anak Indonesia menjadi anak yang bertaqwa sehingga layak menyandang gelar "Kekasih Allah".

Ilmu diberikan untuk memupuk iman. Iman diimplementasikan dalam bentuk akhlak. Anak-anak yang berakhlak mulia adalah para kekasih Allah itu.

Untuk sistem seperti itu, di peringkat awal, beberapa tahun pertama, kami dibantu oleh guru-guru yang dikirim dari Rufaqa Malaysia. Mereka adalah Ustazah Aisah, Ustazah Sakinah, Ustazah Annisa, Ustazah Iis. Sejak 2006, guru-guru itu sudah ditarik.

Materi yang diajarkan di  Hubbullah adalah materi pelajaran dari kurikulum raudhatul athfal DEPAG yang dikombinasikan dengan sistem pendidikan tarekat Rufaqa yang diterapkan di Malaysia. Walaupun demikian, materi-materi lain kami ambil dari berbagai instansi pendidikan bertaraf nasional atau internasional. Aspek kognitif, affektif, dan psikomotorik dijalin secara berimbang.

Murid tidak hanya diberi ilmu dan keterampilan melulu, tapi dibimbing untuk mencapai akhlak mulia, hormat pada yang lebih tua, sayang pada yang lebih muda, menjaga disiplin ibadah, berkasih sayang. Guru tidak boleh hanya menjadi pengajar tapi harus menjadi pendidik, pembimbing, dan mentor sekaligus. Itulah sebabnya, penggemblengan guru-guru lebih diutamakan.

Interaksi antara guru dan orang tua juga dijalin karena kami sangat yakin bahwa kerjasama keduanya sangat menentukan suksesnya pendidikan.

Pada setiap Ahad malam dan Kamis malam, semua pengurus, guru, dan orang- tua murid berkumpul di sekolah ini untuk berzikir bersama, bertahlil, dan mendengarkan kajian-kajian ke-Islaman, serta makan malam bersama. Di sinilah kami membicarakan perkembangan anak-anak didik.

Untuk meningkatkan mutu guru, berkali-kali tenaga guru Tadika Hubullah dikirim ke kursus pendidikan international, baik yang diadakan di Indonesia, maupun yang diadakan di Malaysia. Berbagai tambahan informasi yang dibawa paa guru semaksimal mungkin diterpakan.

Ketika pertama berdiri, murid Tadika Hubbullah hanya beberapa orang dan tidak menggunakan sistem iuran. Kami menerapkan sistem infak semampunya. Anak yang tidak mampu tidak membayar, bahkan dibayar. Yang mampu membayar lebih. Karena murid-murid datang dari keluarga yang bervariasi kemampuan ekonominya, maka terjadilah subsidi silang. Kami sangat berterimakasih kepada para hartawan yang menyekolahkan anaknya ke Hubbullah yang pasti berinfak lebih. Akibatnya, terbantulah anak-anak dari kalangan yang tidak mampu.

Tidak sedikit jerih payah yang telah disumbangkan remaja mesjid Prabumulih yang tergabung dalam FBI (Forum Bersama Irmas) membangun sekolah ini. Mereka ikut serta membangun tanpa imbalan uang sedikitpun.

Setiap malam minggu, di halaman sekolah ini, kami menggelar cafe Islami dengan menampilkan nasyid-nasyid Islami yang dibawakan oleh penasyid-penasyid berbakat FBI. Boleh dikatakan, lahirnya penasyid-penasyid Parabumulih seperti Joko, Heri, dan Handoko bermula dari cafe Islami RA Hubbullah ini.

Selain untuk menyampaikan dakwah melalui nasyid kepada masyarakat, cafe Islami ini juga berfungsi untuk mengumpulkan dana tambahan untuk operasional sekolah. Sitem pembayaran untuk makanan dan minuman yang dihidangkan di cafe ini adalah "makan suka-suka, bayar suka-suka." Silakan makan sesukanya dan baya juga sesukanya. Orang tua murid bahkan ikut menjadi panitia.

Karena begitu uniknya sistem sekolah ini, Tadika Hubbullah telah diliput berbagai media di masa itu.

Tidak sedikit tantangan dan rintangan yang kami hadapapi ketika mendirikan sekolah ini. Tantangan finansial sudah pasti. Tantangan emosional juga tidak sedikit. Dengan kerjasama yang baik, semangat gotong royong, dan saling tenggang rasa, sekolah pertama yang bestatus raudhatul athfal di di Prabumulih   ini berdiri dan beroperasi.

Dengan berjalannya waktu, kepala sekolah dan guru telah silih berganti. Kepengurusan pun silih berganti karena adanya berbagai kesibukan yang lain. Karena misi sekolah ini sejak pendiriannya bukan menjadi sekolah komersil, untuk mendapatkan uang, tapi justru untuk ladang menginfakkan uang, Tuhan telah melindungi eksistensi sekolah ini sampai hari ini. Selalu saja bantuan Allah datang tanpa terduga-duga.

Ketika saya berkunjung kemarin siang, sekolah anak-anak yang bercita-cita melahirkan anak-anak yang bertaqwa itu masih gagah berdiri. Lebih dari 11 tahun. Saya terharu sampai menitikan air mata.

29 orang anak berseragam hijau, sedang bersekolah di bawah asuhan 4 orang guru. Yang laki-laki mengenakan kopiah putih sedangkan yang perempuan mengenakan kerudung putih. Mereka terlihat gembira dan ceria, Di mata mereka terpancar aharapan menatap masa depan.

Saya sempat berbincang dengan anak-anak itu, juga dengan guru dan kepala sekolah yang sekarang, Ustazah Onti.

Bu Mirza, salah seorang pendiri dan sekaligus pemilik aset bangunan sekolah ini, menyambut kami. Beliaupun menceritakan perkembangan sekolah ini serta masalah-masalah yang dihadapi.

Terlalu banyak yang telah didedikasikan Ibu Mirza untuk Tadika ini. Bukan saja ruang tamu, teras, dan dapur untuk keperluan sekolah, bahkan kamar tidur beliau dijadikan ruang kelas sehingga beliau tidur pindah ke kursi. Semoag itu semua menjadi amal jariah beliau yang akan terus mengalir tanpa putus--putusnya sampai ke akhirat.

Sayang, waktu kami tak cukup. Saya berjanji akan menggagendakan pertemuan kembali di suaktu waktu nanti dengan mengundang semua pengurus dan mantan pengurus, guru dan mantan guru, kepala sekola dan mantan kepala sekolah. Mungkin juga murid dan mantan murid. Tak lupa para penasyid yang telah menyemarakan atmosfir Tadika Hubullah. Ya, semacam reuni akbar.

Oh ya, anak ketiga saya, Sarah Mahmudatun Nabila, yang sekarang telah menjadi siswi kelas 2 SMA, adalah alumni tadika Hubullah.

Istanbul



Jakarta. 18 September 2015, Jum'at sore. Cuaca cerah, Langit berawan.

Tidak sampai satu jam setelah saya memesan secangkir kopi pahit expesso double shot di cafe Bengawan Solo --yang terletak bersebelahan dengan pintu keluar terminal D kedatangan, Bandara Sukarno Hatta -- pesawat Qatar Airlines yang berangkat dari Doha pukul 02.00 waktu setempat diumumkan mendarat di Jakarta dengan selamat.

Jarum jam tangan saya menunjukkan pukul 15.20. Pisang goreng baru saya makan separo, Masih ada satu lagi yang masih utuh. Pop Mie sudah habis, tinggal kuahnya saja.

Pesawat Qatar Airline itu membawa istri saya, Yussy Akmal, beserta lima orang kawannya dari Istanbul, Turki. Dia nemperkenalkan satu persatu temannya itu, bahkan foto bersama dulu, tapi saya lupa nama-nama mereka satu persatu, kecuali beberapa orang.

Sejak rencana keberangkatannya ke Istanbul sepuluh hari yang lalu, saya sudah membayangkan betapa indahnya kota tua yang dulu bernama Constantinopel itu. Saya belum pernah ke sana.

Rencana saya ke Istanbul sih sudah ada, tapi sampai sekarang masih rencana. Istri saya ternyata mendahukui saya ke sana. Rezeki Tuhan memang tidak bisa ditebak-tebak. Saya yang berencana, Yussy yang berangkat. He he he.

Sebelum istri saya berangkat meninggalkan Jakarta tempo hari saya bilang, "Tolong pinjamkan saya mata untuk melihat bekas-bekas penaklukan Sultan Muhammad Al-Fatih tahun 1453 M yang lalu di Istanbul. Kunjungi pusaranya. Bacakan Al-Fatihah atas nama saya."

Ketika kemarin ia mendarat di Jakarta, pesan itu pula yang saya tanyakan pertama kali. "Apa kabar Istanbul? Apa kabar Sultan Muhammad Al-Fatih?"

Ia tertawa lebar. "Indah, indah, indah."

Orhan Pamuk, novelis Turki peraih hadiah Noble dalam bidang sastra 2006 menulis, "Jika dunia ini ada satu kota yang menjadi ibukotanya, maka Istanbul yang paling sesuai."

Saya kurang paham mengapa novelis kondang peraih Noble sastra tu sampai berkata demikian. Apakah karena Istanbul terletak di perbatasan benua Asia dan Eropa, atau karena Istanbul menyimpan misteri sejarah Byzantium? Apakah karena romantisme kisah yang diangkat Orhan di dalam novelnya itu? Entahlah.

Buya Hamka menceritakan dalam bukunya, Sejarah Ummat Islam, bahwa ketika usai perang Khandak dulu, ketika para sahabat berada di sebuah batu, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa Ummat Islam akan mengambil alih Constantinopel. Beliau SAW bersabda, "Pastilah kamu kelak akan menaklukkan kota Constantinopel. Maka yang sebaik-baiknya pemimpin adalah pemimpin yang memimpin penaklukan itu. Dan, sebaik-baiknya pasukan adalah pasukannya."

Telah berulang-ulang upaya yang dilakukan kaum muslimin, kata Buya Hamka, menaklukkan kota bersejarah itu, termasuk upaya yang dilakukan sahabat nabi, Abu Ayub Al-Anshary. Semua upaya itu gagal sampai akhirnya Sultan Muhammad, sultan generasi ketujuh Khilafah Usmaniah, berhasil menaklukkannya. Kepada Sultan Muhammad diberi gelar Al-Fatih. Dialah sebagai peletak dasar-dasar pemerintahan Islam di Istanbul menggantikan pemerintahan Romawi Timur yang telah berkuasa puluhan abad.

ANTV beberapa waktu lalu menayangkan sinetron kisah cinta dan konflik berdarah di dalam istana Kesultanan Usmaniah di Istanbul. Sayangnya, kisah itu hanya menayangkan sepenggal kisah Istambul, yaitu tentang kesultanan Usmaniah generasi kesepuluh, Sultan Sulaiman yang bergelar Sulaiman Yang Agung. Kisah cinta rumah tangganya berakhir tragis berdarah-darah.

Walaupun penggarapan sinetron berjudul Abad Kejayaan itu bagus dan menarik, sehingga hampir setiap malam saya ikuti, saya mempertanyakan kesahihan ceritanya. Apakah seburuk itu karakter Sultan Sulaiman yang mau saja dikendalikan Hurem, istrinya, hingga ia tega membunuh anak kandungnya, Mustafa.

Sudah dapat saya duga, istri saya tidak akan mungkin membahas Istanbul di masa penaklukan Sultan Muhammad Al-Fatih atau di masa konfliknya di masa Sultan Sulaiman dan istri Huremnya itu.

Dari pada bercerita panjang lebar tentang sejarah, ketika sampai di rumah, Yussy memilih menyodorkan pada saya sebuah buku sebagai oleh-oleh. Judulnya "Istanbul, City of Civilization." karya Erdem Yucel.

Ia sendiri sibuk menyusun pernik-pernik yang entah untuk apa gunanya. Saya memilih membenamkan mata ke dalam buku itu saja.

Wow, perpadauan teks dan foto tentang Istanbul tersusun rapi dalam buku setebal 143 halaman itu. Disinggung di sana sedikit tentang sejarah kota tua itu, sejak ia masih bernama Constatinopel di zaman Byzantium, sampai dengan zaman ini, ketika ia sudah menjadi metroolitan yang padat di bawah Presiden Erdogan.

Saya pun menarik sebuah buku, Sejarah Umat Islam, karya Buya Hamka, yang hampir berdebu di rak buku saya, sebagai pembanding.

Saya terbang ke Istanbul sendirian, menyaksikan kota favorit Orhan Pamuk itu dari dekat, seolah-olah saya sedang berdiri di atas jembatan suspensi sepanjang 165 m yang menghubungkan Beylerbeyi dan Ortakoy, yang terkenal dengan nama Bosphorus Bridge, sambil menikmati kebab panas dan es krim Dondurma yang dingin di kerongkongan, ditambah sepotong kue pastry Borek dan Baklava yang rasanya manis dan gurih.

Saya masuk Arasta Bazzar, lalu bingung memilih karpet sutra, wol, atau katun, atau  mengambil karpet berbahan sintetis, namun semuanya ditenun rapi berbunga-bunga. Ada pula teko porcelain mirip lampu Aladin dengan ukiran biru safir.

Saya seperti orang bodoh sambil berdiri sok tahu, menengadah, mencoba mengeja-eja huruf Romawi kuno yang tertulis di tugu Hippodrome Obelisk yang silau oleh pantulan sinar matahari.

Saya masuk ke Blue Mosque yang baru saya tahu kalau warnanya biru setelah kita berada di dalam bangunannya yang dingin, dan bersitektur ganjil itu.

Pasti, pasti, saya tidak lupa masuk Hagia Sophia melalui pintu keramatnya, Imperial Gate, lalu menoleh ke atas, menelusuri kubah, altar, dan dinding yang membuat bulu roma saya merinding. Speechless.

Setelah halaman terakhir saya buka, saya baru sadar, kalau saya bukan di Istanbul tapi di Cibubur, masih di rumah. Istri saya yang baru datang dari Istambul, tapi ia malah membiarkan Erdem Yucel bercerita kepada saya tentang  Istanbul melalui bukunya itu.

Wahai Istanbul, tunggu ya. Tahun depan saya ke sana. He he he.

Tunggu aku di sisi jembatan Bosphorusmu sebelah selatan, dekat benteng kecil milik Romawi itu berdiri, atau di Spice Bazaaar. Terserah engkau. Semoga tahun  depan nilai tukar Rupiah terhadap Lira tak separah yang sekarang.

Ada yang mau ikut?

Angga




Beberapa orang yang mengaku pernah bertemu lelaki berusia sekitar 14 tahun ini, tidak ada yang mampu mengingat namanya.

"Namanya susah diingat, tidak familiar sebagai nama Indonesia," tulis salah seorang sahabat FB saya, Wahyu Muqsita Wardana, di atas wall-nya. "Saya memanggilnya Angga, bukan nama sebenarnya."

Angga sering terlihat berdiri sendirian menunggu sesuatu di sekirar Mesjid Salman ITB. Kadang-kadang ia muncul sore, kadang-kadang pagi. Ia susah diajak bicara karena pemalu, dan sepertinya takut dengan orang lain.

Kalau ada yang mendekat, ia cendrung menjauh. Jika ada yang nekat mengejarnya, ia memilih lari.  Jadilah seperti orang main kucing-kucingan atau kejaran-kejaran. Sebagian anak perempuan malah takut pada tatapan matanya yang kadang terlihat menggoda.

Diperlukan keterampilan khusus mendekati remaja bergejala introvet itu. Kalaupun ada yang berhasil mengajaknya bicara, harus bicara dalam bahasa Inggris. Walaupun pemuda itu berwajah kadang-kadang terlihat seperti wajah Indonesia, campuran Melayu-Bule, ia sama sekali tidak paham bahasa Indonesia. Logatnya kental logat Bule. Bahasa Inggrisnya bagus.

Karena sikap menghindarnya itu, sebagian warga Mesjid Salman atau ITB lebih memilih untuk menganggapnya orang gila saja. Isu sebagai anak gila itu lebih terkenal sebagai identitas dirinya sehingga anak itu terbiar, kumal, dan menggelandang sekian lama. Tidak ada yang sudi mendekatinya secara serius.

Wahyu --dan beberapa orang yang mengomentari wall Wahyu di FB dan mengaku berhasil berbicara dengan remaja aneh ini -- mengatakan kalau Angga telah dua tahun tinggal di Indonesia. Ia bukan warganegara Indonesia. Ia anak orang Inggris yang menikah dengan orang Indonesia.

Angga tidak tahu siapa ibunya. Setelah menghabiskan masa kanak-kanaknya di Inggris, ia merasa tidak diakui oleh ayah ataupun keluarganya di Ingrris, maka ia pun berangkat ke Indonesia. Mungkin ingin mencari ibunya atau kelaurga ibunya. Ia tidak terbuka.

Sesampai di Indonesia, ia tidak menemukan ibunya atau seorang keluarga yang berkenan menampungnya. Ia pun menggelandang.

Bahkan seluruh dokumen identitas dirinya, paspor, visa, KTP, atau apa saja tidak ada. Kalau ditanya, Angga mengaku kalau dokumen itu diambil orang lain. Ia pun tidak bisa menjelaskan siapa orang yang dimaksudkan itu.

Banyak yang melihatnya kalau ia sering mampir ke Mesjid Salman , bukan untuk shalat, tapi untuk sekedar mencuci muka di tempat berwudu'

Ada juga yang mengatakan kalau Angga pandai melafazkan basmalah dan alhamdulillah. Ada yang yang pernah mendengarka lafaz-;afaz itu.  Ia jarang senyum. Sekali senyum, ia tampak sangat bahagia. Wajahnya yang tampan seperti bersinar di bawah sinar matahari di balik wajah dan jaket dan kaosnya yang kotor dan lusuh.

Angga, siapakah Engkau sebenarnya? Saya penasaran. Tunggu ya, saya akan ke Bandung, ke Mesjid Salman. Saya akan ajak kamu ngobrol di kantin mesjid itu. Kalau kamu suka kopi, kita minum kopi sama-sama.  Kamu boleh belajar azan dengan saya.

Rahma Sari



Gadis yang berdiri di depan kampus Civil and Mechanical Engineering, University of Birmingham itu bernama Rahma Sari. Tidak terlalu tinggi juga tidak gemuk.

Saya sampai meneteskan air mata melihat wajahnya yang polos. Senyumnya mengingatkan saya pada ibunya yang sederhana, mudah senyum, dan ramah kepada siapa saja. Sinar matanya mengingatkan saya pada sosok sang ayah, sahabat sekaligus guru saya, Ismet Hasan.

Pak Ismet, demikian saya memanggil sang ayah, adalah seorang wiraswastawan, pedagang kain, seorang aktifis dakwah, aktifis berbagai organisasi sosial keagaman di kota Prabumulih, kota yang terletak 90 km dari Palembang. Kalau bukan ketua, beliau sering diangkat jadi bendahara di berbagai organisasi. Kegigihannya luar biasa memperjuangkan tegaknya syariah Islam, ceramah dan khutbahnya bernas. Lebih dari itu, ia bekerja membiayai sendiri dakwah-dakwahnya. Ia tidak bekerja sebagai pegawai kantoran yang bergantung dengan gaji, tetapi berbisnis. Brand bisnisnya di Prabumulih terkenal dengan nama Dusra.

Pak Ismet dididik dari kecil sebagai seorang pekerja keras, ulet, dan berpikiran mandiri, oleh keluarga besarnya yang hijrah dari Banuhampu, Bukittinggi, ke Prabumulih. Di kota nenas ini keluarga besar Haji Hasan, orang tuanPak Ismet, menetap dan berkiprah.

Beberapa hari lalu, ketika saya berkunjung ke Prabumulih, Pak Ismet tak sempat berbincang-bincang lama  dengan saya di salah satu toko kainnya. Tampaknya beliau sudah punya agenda lain hari itu. Padahal biasanya, kalau ngobrol dengan saya bisa semalam suntuk.

"Pak Jufran, saya besok pagi harus berangkat ke Eropa, " kata Pak Ismet seraya minta maaf, "tepatnya ke Brimingham, Inggris."

"Ada urusan apa?"

Saya mengira Pak Ismet ke sana mau merayakan Idul Adha karena kecewa dengan jadwal Idul Adha di Indonesia yang kembali berbeda antara NU dan Muhammadiyah.  Beliau termasuk yang tidak bahagia jika kita berhariraya tidak serentak.

Atau,  Pak Ismet sengaja ke Inggris agar bisa berkurban dengan sapi yang lebih besar tapi lebih murah dibanding harga di Prabumulih. Di sini harga daging sedang tinggi. Siapa tahu di Ingris lebih murah sedikit.

Banyak lagi dugaan-dugaan saya yang secara bercanda saya sampaikan kepada beliau. Semua itu dibantahnya sambil tertawa lebar.

Tenyata beliau ke Inggris urusan putri keduanya, Rahma Sari.  "Anak saya mau wisuda," katanya lirih dengan mata berkaca-kaca. Ekspresi wajahnya dengan rambut yang telah memutih menyembunyikan keharuan karena bahagia.

Hari ini, Rahma Sari, boleh senyum bahagia, Ayah kandung yang telah membesarkannya susah payah itu hadir langsung di Birmingham menghantarkannya diwisuda di sekolah bergengsi, di negeri yang melahirkan banyak ilmuwan dunia, di negeri yang dimimpikan oleh jutaan anak Indonesia bersekolah di sana.

Walaupun ayahnya hanya lulusan SMA, orang biasa, pedagang kain di pasar Prabumulih, Rahma Sari membuat keluarganya berbeda. Rahma Sari harus bersyukur. Lulusan SMA 1 Prabumulih, remaja putri berjilbab, yang menyelesaikan S1 di Teknik Sipil UNSRI itu, kini diwisuda di level S2, master, di University of Birmingham, dalam bidang Road Engineering and Management.

Saking bahagianya Pak Ismet, berpuluh-puluh foto tentang kota Birmingham dikirimnya melalui FB langsung dari kota di bawah kekuasaan Ratu Elizabeth itu. Saya heran, ia sampai nekat masuk ke dalam Cathedral dan mengirim foto ruang kosong gereja tua itu.

Tidak satupun sudut kota Birmingham yang tidak dilewati. Semua difotonya pula dan dikirimnya melaluimFB. Puluhan komentator menanggapinya. Ada tanggapan lucu, main-main ada tanggapan serius.

"Salam untuk nenek Ratu."
"Saya titip jaket."
Dan lain-lain komentar

Ketika Pak Ismet mengirim foto stadion bola milik Manchester United, saya sampaikan kepada Pak Ismet, sebaiknya orang Indonesia berhenti dulu main bola. Nanti, kalau masa krisis sudah berlalu, boleh main lagi. Sekarang, tenaga yang ada digunakan dulu untuk bertani, beternak, atau berniaga. PSSI biar saja beku dulu. Toh, kalaupun masih ngotot bertanding, PSII juga tidak akan menang melawan klub bola Inggris itu.

Saran saya ditanggapi dingin oleh ustaz penggemar berat bola kaki itu. Beliau risau dengan lapangan bola yang banyak di Indonesia.

Saya bilang, "Lapangan itu bisa kita gunakan untuk tempat pengembalaan kambing atau sapi."

Pak Ismet menulis, " Ha ha ha ha.." Kawan saya yang usianya sudah lebih 50 tahun itu ternyata bisa juga tertawa secara tertulis. He he he.

Bukannya memikirkan saran saya, malam ini, Pak Ismet malah siap-siap menonton pertandingan Chelsea dan Arsenal, di bangku deret ke-3, blok ke 5. Karcis seharga 56 Pound itu sudah di tangannya.  "Para penjudi disini meramalkan Chelsea bisa menghajar Arsenal 2-0," tulisnya. Beliau tidak akan ikut berjudi. Beliau hanya peminat sebakbola, apalagi sepakbola kelas dunia.

Saya hanya berharap, dengan kembalinya Rahma Sari --anak Pak Ismet yang cantik itu-- ke Palembang, ilmu geotechnical yang didalaminya di Inggris dapat segera diaplikasikannya pada pembuatan jalan antara Palembang dan Prabumulih yang banyak rawa-rawa. Ekonomi Sumsel akan maju bila semua jalannya lebar, minimum 30m, kuat, mulus, dua jalur, dan bebas hambatan. Semoga model jalan di Inggris bisa dicontek Rahma untuk Indonesia.

Rahma, tidak usah dipakai ilmunya membuat lapangan bola, ya.

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail