mencatat hikmah kehidupan yang luput atau terluputkan

Wednesday, January 20, 2010

Menulis menyembuhkan


Sebelum ini mungkin belum banyak yang tahu, termasuk saya, kalau menulis ternyata dapat membantu penyembuhan penyakit. Bukan hanya penyembuhan penyakit yang berkaitan dengan kejiwaan, tapi menulis membantu penyembuhan penyakit fisik juga. Pasien yang menderita penyakit tetentu, diminta menulis perasaannya yang terdalam tentang sesuatu, bahkan kejadian traumatisnya di masa lalu. Biarlah dia menulis dalam deraian air mata. Ternyata, proses itu akan membantu penyembuhannya. Luar biasa.
 James W. Pennebaker, dalam bukunya "Writing To Heal" telah membuat satu kesimpulan penelitiannya bahwa orang yang secara teratur menulis tentang peristiwa-peristiwa yang traumatis dan menyedot emosi, 43% lebih jarang ke dokter dibandingkan dengan yang tidak pernah menulis. Orang-orang ini juga nampak lebih sehat, dinamis, ceria. Mereka nampak lebih siap secara mentalitas.
 Penelitian itu mulai dilakukan oleh Pennebaker a tahun 1980, disponsori oleh National Science Foundation dan National Institute of Mental Health. Penelitian ini lebih jauh menyimpulkan bahwa ketika menulis, denyut jantung melambat, tekanan darah menjadi sedikit turun dan sistem pertahanan tubuh meningkat. Ketika seseorang baru saja selesai menulis cerita-cerita traumatis, dia memang akan sedih. Tapi, dalam jangka panjang, keteraturan menulis akan membangun optimisme dan perasaan sehat padanya.
 Menulis dapat mengeluarkan unek-unek yang menjadi sebab stress. Menulis tentang hal-hal yang menekan jiwa akan memberikan pelepasan emosional yang mebangkitkan rasa puas dan lega.
 Pada April 1999, penelitian ini telah menunjukkan hasil yang lebih jauh bahwa menulis telah terbukti mempercepat penyembuhan pasien penderita asthma dan rheomatoid arthritis. Penelitian juga menunjukkan perbaikan yang luar biasa keadaan pasien AIDS setelah ia membiasakan menulis. Di sini, bukan hanya saja penyembuhan penyakit kejiwaan yang secara langsung terpengaruh dengan menulis, juga penyakit fisik.
 Adanya perasaan gundah, gelisah atau pikiran yang kacau tidak menentu akan menyebabkan stress. Penyelesaiannya biasanya dengan menceritakan kepada pihak lain. Karena menulis sebenarnya juga berbicara, maka daripada menceritakannya kepada pihak yang belum tentu bertanggung jawab, menulis merupakan jalan keluarnya.
 Ada pengakuan seorang ibu yang menahankan gundah dalam jiwanya. Sikap suaminya akhir-akhir ini ditambah lagi dengan berita gossip tentang suaminya, telah membuat ibu itu stress. Rasa cemburu, benci, marah, rindu bercampur-campur aduk. Perasaan itu telah begitu menyiksanya. Tak cukup lagi airmata, kadang-kadang dia memilih untuk berteriak seperti orang gila. Banyak kawan-kawan yang bersedia membantu dan memancing-mancing agar dia mau bercerita. Tapi ibu ini masih punya kesadaran bahwa menceritakan aib keluarga kepada orang lain termasuk dosa. Dia mencoba bertahan untuk tidak menceritakannya kepada orang lain karena menyangkut privaci suaminya. Sudah menjadi komitmennya sejak awal pernikahan untuk tidak menceritakan aib suami. Tapi, kalau dibiarkan, pikiran gundah itu sungguh menyiksanya.
 Tak lama setelah itu, ibu itu menemukan satu cara yang tak disangka-sangka sebelumnya. Ia menggunakan HP nya untuk menulis. Kebetulan HP ibu ini punya fasilitas untuk menulis dan selam ini belum pernah dimanfaatkannya. Mulailah ia menulsikan rasa hatinya itu, sekalimat demi sekalimat. Beribu-ribu karakter tanpa terasa sudah dituliskannya. Sudah barang tentu, setiap menulis, ibu itu berurai air mata.
 Katanya, setiap dia selesai menuliskan sesuatu perasaan, sejumlah stress berkurang. Dilakukannya proses ini terus menerus. Pagi bangun tidur, dia menulis. Siang menulis. Malam menulis. Kapanpun dia menyimpan satu pikiran atau perasaan, dituliskannya. Sebelum tidur dia menulis lagi. Sampai akhirnya legalah perasaannya. Stress hilang.
 Suatu cara yang sangat cerdas, stress hilang aib tertutup. Inilah yang disebut, rambut tercabut, tepung tak berserak.
 Bagi orang yang tidak punya minat menulis, jika dia mengalami masalah seperti perempuan tadi, tentulah akan memilih "curhat" sebagai penghilang stress. Dicarilah kemana-mana telinga yang mau mendengarkan. Kawan-kawanpun biasanya banyak yang menawarkan dan biasanya senang hati mendengar karena fitrah orang untuk mendengar cerita yang aneh aneh. Karena memang tak ada jaminan semua yang dicurhatkan itu menjadi rahasia, maka banyaklah kasus curhat akhirnya menyengsarakan yang bersangkutan. Aib tersebar kemana-mana.
 Masih mau memilih curhat kepada tetangga atau kawan dekat? Atau curhat melalui tulisan? Curhat berisko, Bro.
  Menulis akan membantu mengurangi stress. Ungkapkanlah seluruh pikiran dan perasaan melalui tulisan. Simpan tulisan itu baik-baik kalau Anda tidak mau ada yang tahu. Setelah nanti pikiran anda tenang, editlah tulisan-tulisan itu. Apa yang Anda kira hanya sebagai curhat, bisa berubah menjadi buku best seller. Mau mencoba?


Bagaimana pendapat Anda?
 Wallahu A'lam

Tuesday, January 12, 2010

Go blog!


Bagi anda yang gemar tulis menulis, mudah-mudahan belum terlalu ketinggalan kalau saya masih menyarankan Anda membuat satu blog di internet. Terserah di penyedia yang mana. Karena memang banyak penyedia yang menawarkan jasa baiknya. "Go blog" tak mesti goblok, bukan? He he he. Dua bunyi yang berdekatan, namun maknanya berseberangan seratus delapan puluh derajat.
"Hare gene, masih buat blog?" Ada yang berkomentar bahwa esensi blog sudah tergantikan oleh facebook. Satu sisi memang ya, tapi satu sisi lain masih belum. Mungkin sebagian kawan melihat betapa cepatnya respons para pembaca facebook dibanding pembaca blog, sehingga mereka menyimpulkan, "Kita pindahan ke facebook aja yok."
Ada beberapa fitur yang membuat facebook memang lebih unggul untuk mempublikasikan tulisan secara instan dibandingkan blog. Facebook sangat cepat mempublikasikan dan sekaligus cepat pula menyampaikan respons para pembacanya. Tulisan seperti sahut-sahutan. Begitu cepatnya, sehingga mengasyikkan. Para facebooker menjadi seperti orang mabok. Hari-hari hanya diisi dengan kegiatan FB-an (istilah baru di dunia internet). Wajarlah kalau seorang guru khawatir kalau-kalau muridnya lebih senang FB-an dibanding mengerjakan PR. Padahal, jangankan murid, gurunya saja lebih-lebih lagi. Satu tulisan saya secara bercanda saja di "wall atau di "note" facebook direspon kawan hanya dalam hitungan detik, sementara satu tulisan yang sudah saya siapkan secara susah payah di blog, sudah hampir dua tahun belum direspons siapapun. Akhirnya saya respons sendiri.
Namun, saya melihat fitur-fitur tertentu pada blog masih belum tergantikan sampai saat ini oleh facebook. Blog memungkinkan tulisan Anda dibaca oleh semua pengguna internet tanpa orang tersebut mendaftarkan diri (alias sign up) terlebih dulu. Ini tidak terjadi di facebook. Selain itu, format tulisan yang sudah dibuat sebaik mungkin, akan tetap utuh ketika dikirim ke blog sementara ke facebook, formatnya bubar. Selain itu, fitur pengelompokan tulisan berdasarkan kategori, tanggal, bulan, dan tahun dalam blog, belum tergantikan oleh facebook. Secara fleksibel, saya masih menyarankan, pakai keduanya saja.
Blog adalah sejenis website yang awalnya diciptakan sebagai wadah menulis diary secara online. Umurnya lebih tua dibanding facebook. Nama awalnya adalah "On Line Diary" yang diluncurkan tahun 1994 oleh sebuah provider, MIT Media Lab. Uji coba itu sukses besar, sehingga banyak yang memanfaatkannya. Diam-diam, manusia itu ternyata tidak malu-malu lagi memberitahu orang lain curahan rasa hatinya. Buktinya, diary yang biasanya sangat rahasia dan privacy, sejak itu mulai dipublikasikan ke semua orang. Semakin banyak yang tahu, semakain senang menulisnya. Lahirlah wesite-website serupa silih berganti, dari tahun ke tahun, dengan evolusi nama: online-diary, online-journal, online-log, web-log, dan terakhir disingkat blog. Nama terakhir ini, nampaknya disepakai dan penulisnya disebut bloger. Sampai akhir 2007, tercatat 112 juta blog yang terdaftar di 5 provider blog terbesar: Windows Live Spaces, Community Server, WordPress, Blogger, dan TypePad. Tahun 2010 ini tentu jauh lebih besar lagi.
Dulu, ketika baru pertama berkenalan dengan dunia blog, saya buat 4 blog. Nafsu besar tenaga kurang. Mengurus 4 blog ternyata memusingkan kepala. Satupun tidak ada yang terurus. Daripada menyusahkan diri sendiri, sekarang saya cukupkan satu saja. Yang lain saya hapus. Blog yang satu -satunya itupun, kadang-kadang tidak dibenahi juga. Wajarlah kalau tampilannya masih sangat primitif. Tapi, silakan dilihat-lihat, walaupun isinya belum ter"update" seratus persen.
http://jufranhelmi.blogspot.com

Kadang-kadang, kalau Google dan Yahoo bermurah hati, mereka akan antar Anda ke alamat itu secara tepat. Tapi, lebih sering tidak. Memang, kedua mesin pencari yang katanya hebat itu, agak sombong dan angkuh. Kalau ada yang cari, blog saya biasanya diletakkannya pada urutan yang ke seribuan bahkan lebih. Saya lagi berpikir keras bagaimana caranya supaya kedua makhluk itu bisa menempatkan blog saya di urutan nomor satu, atau setidak-tidaknya urutan 10 besar. Kan kasihan sama kawan-kawan saya yang terpaksa harus menekan tombol "next page" 40 kali, baru berjumpa saya. Saya tak sampai hati.
Apapun juga, punya blog masih menarik.
Yang menariknya adalah bahwa blog termasuk sarana yang bagus menyimpan dan mengarsipkan tulisan. Saya masih melihat tulisan yang saya kirim ke blog 3 tahun yang lalu, masih utuh di sana. Saya baru ingat bahwa saya ada tulisan di blog itu setelah seorang kawan menemukannya secara tidak sengaja melalui Google kira-kira sebulan yang lalu. Saya saja sudah lupa.
Kemenarikan lain, mengirim tulisan ke blog sangat mudah. Bila Anda menggunakan Microsoft Word, Anda tinggal menggunakan shortcut yang sudah secara default tersedia untuk mengirim tulisan kepada 5 provider blog besar yang sudah dikenali secara baik.
Yang paling menarik adalah bahwa nampaknya menulis di blog, diam-diam dapat mengasah kemampuan menulis. Sudah banyak buktinya. Mantan bloger satu demi satu telah berhasil menjadi penulis buku best seller.
Dua hari yang lalu saya menghadiri peluncuran buku karya kawan saya, Anang YB yang berjudul "Kerja di Rumah, Emang Napa?" Saya baru tahu kalau buku itu ternyata kumpulan tulisan-tulisannya di blog. Ini artinya, Anang YB membuktikan diri menjadi sebagai salah seorang blogger yang berhasil menerbitkan tulisan-tulisannya di blog menjadi buku, di samping bloger lain seperti Ersis Warmansyah Abbas dengan serial "Menulis Mudah"nya, Raditya Dika dengan serial "Kambing Jantan"nya, Chappy Hakim dengan "Cat Rambut Orang Yahudi"nya, dan Dewi Rieka dengan serial "Anak Kos Dodol"nya.
Kalau begitu, mari "go blog" tanpa harus goblok.
Bagaimana pendapat Anda?
Wallahu a'alam.

Friday, January 8, 2010

Menulis di facebook!


Website Facebook diluncurkan pertama kali pada bulan Februari 2004 oleh seorang mahasiswa Harvard University, Mark Zuckerberg, yang waktu itu masih berumur 20 tahun. Website yang pada awalnya hanya ditujukan sebagai media komunikasi antar mahasiswa Harvard saja, kini telah menjadi sebuah media komunikasi, social network, terpopuler di dunia dengan pengguna lebih dari 350 juta orang. Jumlah itu terus bertambah seiring dengan bertambahnya berbagai fitur, termasuk bertambahnya bahasa pengantarnya yang sekarang sudah mencapai 75 bahasa di dunia.
Bergabung dalam komunitas facebook menurut saya termasuk langkah yang positif bila Anda ingin membiasakan menulis. Facebook memang tidak diciptakan sebagai sarana publikasi tulisan seperti blog yang telah berkembang terlebih duhulu. Tapi di facebook terdapat sarana yang memungkinkan kita menulis secara leluasa. Ada aplikasi "status" dan "notes." Melalui kedua aplikasi ini, kita bisa mempublikasikan tulisan kita secara instan. Dalam hitungan detik, sebuah tulisan akan langsung terbaca oleh orang lain. Memang facebook tidak seluas blog yang bisa dibaca oleh semua orang di seluruh dunia secara instan. Tulisan di facebook hanya dapat dibaca oleh orang yang tedaftar sebagai "friend" saja, atau sedikit bisa diperluas dan dipersempit sesuai dengan setting privacy yang dibuat. Setidak-tidaknya, yang bisa mengakses facebook, hanya seseorang yang punya akun di dalamnya. Selain itu, format huruf-huruf di facebook tidak mudah diubah-ubah seperti di blog.
Tapi, menurut saya tidak apa-apa. Yang membuat facebook lebih disukai karena ada aplikasi notifikasi yang menyebabkan sebuah pesan atau tulisan cepat sampai kepada teman-teman. Sekarang Anda selesai menulis, dalam hitungan detik, anda dapat mempublikasikannya. Secepat itu pula kawan-kaan Anda mengatahui isinya. Dengan adanya fasilitas facebook mobile, pesan itu benar-benar tambah cepat sampainya. Semakin cepat tulisan kita sampai ke pembaca, semakin kita bergairah menulis lagi. Untuk pembiasaan proses menulis, website ini sangat positif. Itu penilaian saya.
Terlebih-lebih lagi Anda punya komunitas yang eksklusif yang terdiri dari kawan-kawan yang memang sama-sama berminat dalam membangun dunia tulis menulis, Anda bisa memanfaatkan teknologi ini untuk mewujudkan cita-cita Anda membiasakan diri menulis. Respon cepat yang diberikan kawan-kawan akan memberi kenikmatan tersendiri. Itu pengalaman saya. Tahu ada orang membaca saja dengan menaruh simbol "jempol", saya sudah merasa cukup dihargai. Lebih-lebih lagi ada kawan yang memberi komentar, ulasan, kritik, tambahan data, informasi tentang sumber bahan. Semua itu positif bagi proses pembiasaan menulis.
Saya bergabung dengan facebook sekitar pertengahan, eh awal tahun 2009 yang lalu. Awal-awal bergabung, saya belum begitu tertarik karena belum tahu apa manfaatnya. Anak sayalah yang merekomendasikan agar saya membuka sebuah akun di facebook. Dia pula yang mengajarkan pada saya bagaimana melakukannya. Waktu itu perasaan saya biasa-biasa saja. Saya isi data-data pribadi: nama, alamat, tanggal lahir, riwayat pendidikan, riwayat kerja, dll. Saya masukkan pula satu foto saya yang terbaru. Atas anjuran anak saya, saya masukkan pula foto-foto saya zaman dulu. Katanya, siapa tahu kawan-kawan saya yang lama tidak mengenali lagi wajah karena faktor usia. Saya tentu tidak masukkan semua foto saya. Saya kan bukan mau buat pameran foto-foto di facebook. Foto-foto itu hanya sekedar orang mudah mengenali saya.
Sungguh luar biasa. Saya kaget. Seorang teman saya waktu di SMA, yang sudah terpisah dengan saya selama 30 tahun, tiba-tiba muncul di facebook dan menyapa saya. Dia mengaku telah lama mencari saya. Sayapun sudah rindu dengan dia. Dia kawan saya yang paling akrab karena kami punya kegemaran yang sama pada banyak pelajaran di sekolah, walaupun dia selalu mengungguli saya dalam prestasi belajar. Lewat facebook, saya bertemu dia lagi, setelah sekarang dia menjadi seorang pengusaha di bidang real estate yang terkenal di Jakarta.
Sejak itu saya mulai senang mengutak-atik aplikasi "friend" pada facebook. Kalau tidak "add", ya "confirm" . Satu demi satu kawan lama bermunculan bersamaan dengan bertambahnya kawan-kawan baru. Melalui facebook saya bertemu dengan kawan-kawan yang sama-sama kuliah di Bandung, Palembang dan Jakarta. Juga saya berjumpa kembali dengan kawan-kawan lama yang dulu seasrama, sekerja, sekursus, sehobbi, seseminar, sekampung, setetangga, sejamaah, sepengajian, sepupu, seipar, sesuku, dll. Pokoknya serba "se". Mereka semua telah menjadi orang-orang penting di negeri ini. Ada yang jadi tentara, politikus, pengusaha, dosen, professor, ilmuwan, penulis, dll. Ada yang tingggal di Indonesia, dan tidak sedikit yang sekarang tinggal di hampir seluruh belahan bumi di dunia ini. Aduh sedapnya. Rasanya tak susah lagi kalau mau ke luar negeri, saya tinggal kontak kawan-kawan lama saya saja.
Bukan itu saja, facebook telah membuat saya berteman dengan banyak kawan baru dari berbagai kalangan, berbagai umur, berbagai ras, berbagai suku, berbagai hobi, berbagai nasib, berbagai profesi, berbagai kepentingan, berbagai kehalian, berbagai organisasi, berbagai kelamin, dan berbagai agama. Nilai positif yang saya ambil dari semua ini adalah peluang bersilaturahim dan berbagi informasi, pengetahuan dan pengalaman.
Tanpa saya sadari, tiba-tiba saja terbentuk sebuah komunitas virtual yang kebetulan sama-sama menaruh minta dalam dunia tulis menulis, dunia perbukuan. Jadi saja, facebook menjadi sarana berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang dunia buku dan dunia tulis menulis.
Kembali ke facebook sebagai sarana yang dapat Anda manfaatkan dalam pembiasaan menulis. Aplkasi "status" dan aplikasi "notes" merupakan pilihannya. "Status" dapat digunakan untuk mempublikasikan tulisan-tulisan pendek, sekitar puluhan kata, "notes" untuk tulisan yang panjang. Kedua aplikasi itu memungkinkan Anda membaca secara instan komentar dari kawan-kawan, baik itu koemtar positif, negatif, atau sekedar gurau. Andapun bisa masukkan foto, biar tulisan Anda lebih mengesankan.
Sebagai sebuah teknologi, facebook tentu punya kelemahan-kelemahan. Mana ada buatan manusia yang sempurna. Saya hanya mengingatkan. Sebagai sebuah teknologi pula, facebook juga bagaikan pisau berfungsi ganda. Anda bisa memakainya untuk mengupas mangga. Tapi bila tidak hati-hati, Andapun bisa mencelakakan diri sendiri dan bahkan mencelakan orang lain. Waspadalah.
Bagaimana pendapat Anda?
 
Wallahu a'lam.

Terima tantangan menulis


Salah satu jurus membiasakan menulis adalah menerima tantangan menulis yang ditawarkan kawan atau pihak manapun. Kalau Anda sudah bergabung dengan Facebook, ada kekhasan sendiri dari metoda ini. Kadang-kadang menemukan sendiri ide yang akan ditulis memakan waktu yang lama. Duduk bemenung-menung, membuka buku, menonton TV, belum dapat ide juga. Saya yakin, itu bukan karena tidak ada ide di kepala. Itu justru karena terlalu banyaknya ide. Semua ide berebutan keluar, tindih menindih sesamanya, sehingga sampai di luar, ide itu sudah lemas, tidak bisa lagi dikembang-biakkan. Tak ada satupun ide yang masih segar yang siap beranak, berkembang biak. Ujung-ujungnya batal menulis.
 Satu hal yang menarik adalah, ketika Anda membuka akun Facebook kawan melalui wall Anda, terbacalah bahwa dia meminta Anda menulis satu topik. Nah, ini dia. Anda berbisik, "Ini tantangan." Anda mulai berpikir dengan topik yang ditawarkan, kemudian Anda putar otak, Anda akan menemukan berbagai ide yang berkaitan dengan topik yang diminta.
 Tantangan akan memicu saraf-saraf neuron Anda bereaksi. Tiba-tiba saja, topik yang ditantangkan kawan tadi berdiri tegak dengan perkasa di otak Anda. Dia akan berfungsi menjadi magnet untuk menarik ide-ide lain. Dia akan bertindak pula menertibkan aliran ide. Maka dengan tenang Anda akan menuliskan ide-ide itu secara runtut.
 Ini kisah sebenarnya. Ada satu program yang ditawarkan kawan saya di facebook, Ersis Warmansyah Abbas, untuk membuat buku bersama di awal 2010. Setiap orang diminta mengirimkan satu artikel setiap hari. Artikel-artikel itu harus ditulis dengan topik yang ditetapkan setiap hari. Tulisan yang terpilih, akan dimasukkan dalam kompilasi tulisan, dan akan nenajadi bagian dari buku yang akan diterbitkan. Tantangan menarik bukan?
 Tantangan itu saya amati telah memicu enzim adrenalin saya dan kawan-kawan yang lain. Sibuklah semuanya berpikir, mencari bahan, merenung dengan segala macam cara. "Masa gue nggak bisa sih,' bisik masing-masing.
 Pada hari yang sudah dijadwalkan, ada yang dengan lega menulis, merasakan ide mengalir dengan deras. Hal itu karena topik yang ditawarkan pas di hati. Atau setidak-tidaknya , idenya sudah lama berada di pintu keluar. Tantangan menulis membuat ide itu langsung meloncat., menari-nari, bahkan tak terbendung lagi.
 Ada juga yang "keblinger" meneruskan kalimat demi kalimat. Berjam-jam menatapi layar monitor yang masih kosong. Topik yang ditawarkan terasa jauh dari suasana hati. Topiknya tentang hutan, sementara hati sedang berpikir tentang bintang. Topik tentang integritas bangsa, sementara hati sedang mengatur strategi menunda pembayaran utang. Walaupun demikian, nampaknya semangat menulis tidak kehilangan akal. Sambung menyambung , akhirnya jadi juga sebuah artikel atau puisi.
 Otak nampaknya memerlukan tantangan seperti itu. Otak yang dimanja, akan tidur mendengkur. Seribu alasan akan disodorkannya untuk menyelamatkan dirinya dari tuduhan, tidak kreatif.
 Sebenarnaya tak perlu menunggu ada tantangan buku bersama. Menulis komentar terhadap tulisan kawan di akun Facebook juga satu tantangan yang bisa memicu enzim kreatifitas. Ketika seorang kawan mengetag tulisannya ke akun kita, sebenarnya kawan tersebut mengharapkan kita memberi umpan balik, bukan sekedar membaca. Ia ingin kita memberi sedikit ulasan berupa komentar. Syukur-syukur kalau komentarnya dapat memberi masukan data, ide, dan koreksian. Tag kawan sebenarnya satu tantangan yang sangat baik juga. Kalau betul Anda memang sedang dalam proses mengasah pembiasaan menulis, mengapa Anda tidak manfaatkan tantangan itu?
 Tuliskan komentar Anda walaupun satu kalimat. Jangan hanya sekedar mengirim "jempolan". Labih parah lagi kalau Anda tidak meresponsnya sama sekali. Proses itu akan memicu ide-ide kreatif bekerja. Ide Anda kan terstimulasi. Tidak sedikit, para komentator menemukan ide tulisan bermula dari proses menulis komentar-komentar itu. Saya malah menemukan satu ide bisnis yang sangat berharga melalui sebuah komentar yang ditulis kawan.
 Ya, tentu tak semua orang begitu. Ada pula yang tidak menggubris tantangan menulis itu sama sekali. Kalaupun sekali digubrisnya, dijadikannya bahan olok-olokan saja. Ya, saya hanya menyimpulakn bahwa orang itu memang tidak berminat mengasah ketajaman penulisannya melalui sebuah tantangan yang benar-benar positif.
 Saya ingatkan sekali lagi. Dengan menerima tantangan, Anda sudah punya satu ide awal. Beranjak dari ide itu, Anda akan menarik ide-ide lain untuk bemunculan. Yang idenya dapat mengalir dengan lancar, ia berhasil menulis satu, dua, atau tiga artikel sekali gus. Bagi yang tersendat-sendat,mungkin menulis ala kadarnya. Tapi itu sudah lebih baik daripada sekedar bermuram durja, bersengat hati karena selalu ditag oleh kawan. Selamat menerima tantanga menulis dari kawan-kawan.
 Bagainmana pendapat Anda?
 Wallahu a'lam.

Jurus-jurus entrepreneur


Dunia bisnis bukan panggung sinetron. Pangung sinetron bisa Anda lakoni dengan menghafalkan beberapa dialog pendek, mempelajari sekilas plot skenario, sambil mata Anda ditetesi air mata buatan biar terlihat mengharukan. Di dunia bisnis, tangisan Anda adalah tangisan sesungguhnya, jeritanpun , jeritan yang bukan pura-pura. Ada kawan dan tentu ada lawan. Ada trik dan ada taktik.
 Cocoklah kalau ada yang mempersonafikasikan dunia bisnis bagaikan dunia perang, dan entrepreneur sejati tak ubahnya sebagai seorang Samurai di medan laga. Dia mempelajari medan laga, mengasah pedang menyiapkan amunisi. Dia mengendus gerak musuh, menyusun diplomasi.
 Kini saya ingin megantarkan Anda ke medan laga itu menyaksikan jurus-jurus yang dipakai oleh para entrepreneur sejati. Sekali lagi, Anda tidak akan pernah menguasai jurus-jurus ini, kecuali Anda mencobanya. Untuk sementara, Anda boleh membaca dulu. Tapi ingat, jurus-jurus ini bersifat rahasia. Anda tidak diperkenankan membocorkannnya kepada pihak lawan. Ini hanya untuk kita berdua sesama Samurai, eh entrepreneur.
 Jurus 1: Langsung mulai
 Memulai adalah bagian terberat dari proses mendirikan usaha. Jurusnya hanya satu: langsung mulai. Mulai saja. Bismillahirahmanirrahim. Yang lainnya, Anda tambahkan setelah mulai, sambil jalan. Bob Sadino mengatakan, "Mulai secara bodoh, jangan banyak hitung." Saya yakin, maksudnya bukan sama sekali tidak pakai hitung-hitungan. Hitungannya jangan terlalu banyak. Tidak semua hitungan diperlukan sebelum memulai, bukan? Sambil jalan nanti, sambil hitungannya diteruskan.
 Mental blok Anda akan mencoba menahan-nahan Anda untuk tidak mulai segera. "Ini gagasan bagus, tapi tak kan ada tenaga terampil yang bisa buat. Produk ini pasti banyak diminati, tapi modalnya banyak dan dari mana didapat? Kalau saya jual produk ini, pesaingnya minta ampun. Lokasi ini memang pas, tapi banyak premannya."
 Itulah cuplikan sebagian dialog-dialog yang terjadi di dalam batin Anda ketika berkeinginan mendirikan usaha. Kalau dialog-dialog itu Anda gubris, Anda tidak akan mulai-mulai. Anda telah gagal di jurus pertama.
 Padahal, Anda tidak akan bisa mengelak dari blokade semacam itu, karena Tuhan membuat semuanya agar Anda berhati-hati. Kemanapun Anda melihat ada jalan, maka di sana Anda akan melihat penghalang. Betul, tidak hanya satu jalan ke Roma. Namun di setiap jalan selalu terlihat blokade. Orang pintar menyebutnya "mental block". Entrepreneur sejati mensiasatinya, bukan lari.
Jurus 2: Manfaatkan informasi seremeh apapun
Entrepreneur tidak pernah meremehkan sekecil apapun informasi, baik itu informasi tentang produk, tentang pembiayaan, tentang pasar, tentang pemasok, tentang lokasi, tentang metoda, tentang pesaing. Dia tidak akan mengambil hanya dari satu sumber resmi saja. Sumber tak resmipun di manfaatkan. Banyak informasi peluang usaha diperoleh justru dari ngobrol-ngobrol santai di warung kopi.
Waktu dulu saya membuka restoran Mie Ayam di Prabumulih, informasi itu saya peroleh dari tukang cukur rambut ketika saya sedang bercukur. Istri saya mendirikan industri kue di Lampung, bermula dari seorang tetangga yang menceritakan bahwa dia tidak sengaja melihat iklan kursus kue gratis dari pabrik tepung terigu, Bogasari.
Jurus 3: Bogol (Bisnis Optimis dengan Gagasan Orang Lain)
Apakah seorang entrepreneur harus genius seperti Einstein? Apakah entrepreneur harus punya gagasan-gagasan orisinil untuk bisa membuat usaha? Entrepreneur sejati justru sering memanfaatkan gagasan orang lain.
Satu hari saya diskusi dengan kawan saya tentang satu prospek bisnis, sambil minum kopi. Tanpa sadar saya mencoba menguraikan prospek bisnis perkebunan kelapa sawit yang saya kutip dari satu tabloid. Saya mencoba membuat analisa-analisa singkat, asal-asalan saja. Maklumlah sambil ngopi. Waktu itu dia mangut-mangut dan berkali-kali menarik nafas panjang. Tahukah Anda, setelah beberapa bulan saya tidak berjumpa dengannya, saya dengar dia sudah buka sebuah perkebunan kelapa sawit seluas 20 hektar di Lampung selatan dan sedang mempersiapkan lahan 20 hektar berikutnya.
Peternakan ayam saya yang sekarang berjalan, aslinya bukan gagasan saya, tapi gagasan orang lain. Tidak salah, kan? Karena memang terlalu banyak yang kita buat sebetulnya hasil meniru, mencontek. Yang salah adalah membajak karya orang dan menjualnya.
Jurus 4: Bodol (Bisnis Optimis dengan Duit Orang Lain)
Apakah seorang entrepreneur harus punya banyak uang sebagai modal? Entrepreneur yang paling kreatif, justru mendirikan kerajaan bisnis, tanpa meninvestasikan satu senpun uangnya. Mengapa? Karena ia berhasil membujuk (bukan menipu) investor dan bankir untuk membiayai semua bisnisnya. Dia mendirikan bisnis dengan duit orang lain.
Jurus 5: Botol (Bisnis Optimis dengan Tenaga Orang Lain
Apakah entrepreneur harus memiliki semua keahlian yang diperlukan? Entrepreneur sejati, justru tidak mengerjakan sendiri. Dia manfaatkan keahlian dan tenaga orang lain. Bisnisnya jalan, sementara ia jalan-jalan.
Itulah sebabnya Entrepreneur perlu banyak orang. Entrepreneur perlu banyak kawan, relasi, partner. Bukan saja untuk menjadi calon investor, tapi juga untuk menjadi calon pemasok, calon pembeli, calon manager, calon konsultan, calon promotor, calon mediator (alias calo), calon karyawan. Entrepreneur sejati akan mengembangkan jaringan pertemanannya seluas mungkin. Bukan hanya di dunia nyata, tapi dia bangun juga pertemanan di dunia maya.
Di jaringan FB, dia hanya aktifkan dua tombol pertemanan, "add" dan "confirm". Dia tak pernah pakai tombol "ignore" apalagi tombol "remove".
Bagaimana pendapat Anda?
Wallahu 'alam

Modal awal entreprenuer

Walaupun pengalaman mendirikan usaha-usaha baru berbeda dari entrepeneur yang satu dengan entrepreneur yang lain, ada beberapa hal yang standar. Maksudnya ada beberapa hal yang disepakati oleh mereka. Seolah-olah itu sudah menjadi sunnatullah yang tidak dapat dielakkan. Diantaranya adalah modal awal seorang entrepreneur merintis usaha baru.

 Dari pengamatan dan pengalaman saya, juga hasil interview dengan beberapa orang entrepreneur, juga hasil membaca tulisan para entrepreneur, modal awal pendirian usaha baru bagi seorang entrepreneur adalah niat, optimisme, keberanian, dan mimpi.

 NIAT

Sebelum Anda memutuskan untuk menjadi seorang entrepreneur, luruskan dulu niat. Apapun hasil perjuangan Anda, tergantung niat Anda. Rasulullah SAW bersabda, "Semua amal tergantung niat." Tanyai diri sendiri, cek apa niat kita. Kalau niat kita memang ingin menjadi hamba Tuhan dalam arti yang sesungguhnya melalui kewirausahaan, ingin mengabdikan hidup dan mati untuk Tuhan untuk menciptakan lapangan kerja baru, menempuh jalan yang direkomendasikan Rasulullah yaitu jalan perniagaan untuk menafkahi keluarga, Kita telah berada di rel yang benar. Itu modal awal yang paling berharga. Jangan cemaskan yang lain lagi setelah itu.

"Nggak ada uang untuk modal?" Tenang, dengan satu jurus saja, Anda akan mendapatkannya. "Nggak ada keahlian?" Tenang, dengan satu jurus yang lain, Anda akan dikerumuni oleh berpuluh-puluh tenaga ahli di bidangnya. "Nggak ada gagasan?" Tenang, nanti anda akan tahu betapa susahnya membendung gagasan yang berdatangan. Tapi, kalau ada niat selain untuk Tuhan, saya ingin Anda, juga saya, untuk bertaubat bersama-sama. Kembalikan niat untuk Tuhan saja. Semua yang Anda perlukan akan Anda peroleh setelah itu karena Tuhan adalah Zat yang memiliki segala-galanya.

Kalau niat hanya mau jadi orang kaya, terlalu sia-sia hidup ini. Tak sedikitpun kekayaan kita bisa membantu menyelamatkan kita di dalam kubur. Mau mengabdi untuk bangsa dan negara? Ah, satu tsunami saja bisa melumatkan apa yang Anda sebut dengan bangsa dan negara itu. Sekedar mengisi waktu luang? Ada pekerjaan lain yang lebih gampang, kalau hanya untuk sekedar mengisi waktu.

Bangunlah usaha-usaha baru untuk Tuhan, dalam rangka mengabdi padanya. Patuhi rambu-rambu Tuhan karena takut dan cinta padaNya. Penuhilah dunia ini dengan berbagai macam usaha hasil kreasi Anda. Kalau perlu lokasi tambahan, Anda bisa ekspansi sampai ke planet lain.

OPTIMISME

Rasa optimis mesti tertanam di hati. Optimis artinya Anda melihat di depan ada harapan. Tanpa itu mana mungkin Anda akan mau berpayah-payah berpikir, berbuat, berkorban untuk sebuah kelahiran usaha baru. Kalau anda tidak melihat nilai tambah membentuk usaha, Anda tentu akan berpuas hati dengan apa yang ada sekarang. Kalau sekarang jadi pegawai, ya anda akan lakoni status ini sampai Anda benar-benar pensiun. Kalau Anda sudah ada usaha warisan orang tua yang sudah berjalan, Anda akan berpikir mengapa pula harus membuat usaha lain.

Optimis yang saya maksud bukanlah pura-pura optimis. Pura-pura optimis maksudnya, Anda hanya menggunakan slogan-slogan pemicu optimisme yang sering diajarkan oleh motivator-motivator kewirausahaan. Anda hanya berteriak-teriak, "Kalau orang lain bisa, mengapa saya tidak?" Atau Anda hanya menempelkan di dinding kerja Anda banner bertulisan, "Kalau saya pikir bisa, pasti bisa."

Tak usahlah sesombong itu. Itu angkuh namanya. Berbuatlah sederhana saja. Tak usah tergopoh-gopoh seperti orang kebelet. Optimesme yang maksud adalah optimisme yang sesungguhnya. Anda memang melihat dengan jelas nilai tambah itu, karena Anda memang mencari tahunya. Anda memiliki sedikit banyak data sebagai bukti bahwa yang akan Anda bangun memang mempunyai harapan.

Orang inilah yang akan memiliki sikap tahan banting yang sangat diperlukan dalam perintisan usaha baru.

KEBERANIAN

Yang dimaksud berani bukanlah asal nekat, "sableng", atau "ndablek" yang tidak mau tahu dengan resiko. Berani di sini adalah berani mengambil resiko. Artinya, seorang entrepreneur menakar resiko, menakar bentuk, besar dan peluang terjadinya suatu konsekeunsi. Karena resiko sudah dalam perhitungannya, Entrepreneur memikirkan cara mengendalikannya.

Berani bukan berarti menutup mata dan telinga dengan resiko. Entrepreneur sejati, tahu dengan resiko. Bahkan dia sengaja mempelajari resiko-resiko itu. Bedanya dengan orang kebanyakan, seorang entrepreneur memupuk cara menghadapinya, bukan lari.

Saidina Ali bin Abu Thalib terkenal dengan keberaniannya di medan perang. Namun ia menggunakan baju besi.

Saya kurang sependapat dengan motivator yang mengatakan, "Mulai saja, nggak usah pakai hitung-hitung." Menurut saya, itu namanya bukan keberanian, tetapi kekonyolan.

MIMPI

Entrepreneur senang bermimpi. Mimpi burukpun barangkali ditunggu-tunggu. Dia merupakan sang pemimpi. Saya tidak maksudkan seorang pemimpi harus tampil aneh, bicara ngawur, dan kadang-kadang seperti orang tidak normal. Pemimpi tetap hidup dalam dunia ril. Cuma, hanya akal pikirannya sering dibawa bertamasya ke alam mimpi, melihat-lihat apa yang tak terlihat oleh orang lain. Memikirkan apa yang tak terpikirkan oleh orang lain. Seolah-olah ia hidup dalam dua alam: alam ril dan alam mimpi.

Saya tertarik dengan film Avatar, karya James Cameron. Ketika orang-orang masih bicara tentang investasi di bumi, dia sudah bicara investasi di planet lain, Pandora, dengan merancang sistem transformasi ruh dari manusia bumi dengan manusia asli Pandora. Hanya mimpi bagi orang orang awam, tapi bagi entrepreneur nampak sebagai ril.

Ketika orang-orang hanya menikmati teknologi digital: warna, rupa, dan bunyi yang sudah didigitalkan sehingga bisa dikirim lewat email, entrepreneur sejati sudah bermimpi untuk mendigitalkan rasa, bau, dan sentuhan. Saya khawatir, tak lama lagi makananpun bisa dikirim lewat email.

Ada yang bertanya, "Apakah perlu ikut training?" Kalau training itu memang memberi informasi lebih banyak akan usaha yang akan digeluti sehingga anda mendapat data-data yang lebih lengkap, sehingga dengan demikian muncullah optimisme dan keberanian yang tidak semu, Silakan diikuti. Kalau training itu membuat Anda pandai menakar resiko, maka training itu bersifat positif. Tapi kalau training itu hanya menyuntikkan semangat-semangat kosong, seperti dalam film perang kemerdekaan, jangan ikuti. Dunia usaha bukan dunia main-main, yang bisa bermodalkan semangat semata. Dunia usaha bukan sebuah sinetron yang dapat Anda lakoni dengan menghapal beberapa dialog pendek dan menggunakn air mata palsu. Ini dunia sungguhan. Tangisannyapun, tangis sungguhan.

Bagaimana pendapat Anda?

 
 

Wallahu a'lam.

Entrepreneurship, antara praktek dan teori

Saya sudah sebutkan sebelum ini bahwa kemahiran yang dimiliki seorang entrepreneur disebut entrepreneurship. Selanjutnya, tidaklah seseorang itu disebut sebagai entrepreneur kecuali bila ia memang sedang atau telah membidani lahirnya usaha baru. Jadi, sesungguhnya entrepreneurship itu, tidak lain dan tidak bukan, adalah nama sebuah kemahiran dalam mewujudkan usaha baru.

 Tingkat kemahiran seorang entrepreneur hanya dapat diketahui atau diukur orang lain melalui hasil nyata usaha yang sedang atau telah didirikannya. Gelar akademis, jumlah buku yang dibaca, ataupun buku yang ditulis seseorang, sama sekali tidak bisa diajadikan ukuran entrepreneurshipnya.

 Kalau Anda ingin mengatahui apakah seseorang itu seorang entrepreneur atau bukan, coba Anda cari tahu berapa banyak usaha yang sudah coba dibidaninya, usaha apa dan dalam bidang apa saja. Usaha yang dimaksud tentulah usaha ekonomi. Cari tahu di mana lokasinya dan ukurannya. Cari tahu siapa partnernya dan siapa insvestornya. Di antara yang pernah dibidani itu, berapa usaha yang gagal dan berapa yang masih bisa bertahan. Itu satu-satunya cara menentukannya.

 Kalau Anda kebetulan membaca riwayat hidup seseorang yang berhasil mengelola satu usaha, menjadikannya besar, menghasilkan laba setiap tahun, memperkerjakan ratusan karyawan dan semuanya sejahtera, jangan-jangan Anda telah membaca riwayat hidup seorang manager yang sukses. Yang merintis usaha itu mungkin bukan dia, tetapi ayah atau ibunya. Yang memiliki enterepreneurship justru adalah ayah atau ibunya itu, bukan dia.

 Kalau Anda bertemu seseorang dan Anda tertarik mendengarkan ocehannya tentang dunia usaha dan entrepreneurship, jangan-jangan Anda sedang menemui seorang wartawan yang menjadi karyawan dari sebuah majalah kewirausahaan, atau seorang dosen di fakultas ekonomi, atau seorang penulis buku-buku entrepreneurship. Sering-sering, seorang wartawan, dosen, atau penulis yang notabene berprofesi sebagai buruh lebih fasih berbicara tentang entrepreneurship dibanding entrepreneur itu sendiri. Bukan berarti bicara dengan mereka tak perlu. Saya hanya ingin mengatakan agar Anda jangan keliru melihat mana yang entrepreneur dan mana yang bukan.

 Seseorang tidak bisa mengakui dirinya sebagai entrepreneur begitu saja tanpa dia bisa antarkan atau tunjukkan kepada kita, "Ini nih usaha yang saya bangun. Ini yang gagal dan ini yang masih bertahan." Dari sini baru kita bisa mengukur atau setidak-tidaknya mengamati kemahiran dan kreatifitasnya mendirikan usaha-usaha baru.

 Sebagai sebuah kemahiran, entrepreneurship tidak berbeda dengan kemahiran yang lain, seperti kemahiran menulis, melukis, mematung, bersepeda, dan menyetir mobil. Entrepreneurship bukan pengetahuan yang harus dihafalkan. Ia bukan rumus-rumus akuntansi atau ekonomi mikro. Entrepreneurship bukan kumpulan peraturan perpajakan atau peraturan pemerintah lainnya tentang perusahaan. Entrepreneurship adalah sebuah keterampilan.

 Kalau kita lihat lebih jauh, entrepreneurship adalah sebuah keterampilan dalam permainan berpikir dan merasa. Ia adalah sebuah kreatifitas, kearifan, yang beranjak dari sebuah cara pandang. Karena itu, entrepreneurship akan berbeda-beda dari orang ke orang dan dari satu situasi ke situasi yang lain. Kalau Anda berharap adanya sebuah entrepreneurship yang baku, yang berlaku pada semua orang, Anda keliru.

 Entrpreneurship hanya berisi latar belakang, motivasi, cara pandang, strategi, taktik, dan trik seorang entrepreneur melahirkan usaha baru. Itu saja. Satu-satunya jalan untuk mengetahui itu adalah mendatangi seorang yang benar-benar entrepreneur dan mewawancarainya sendiri. Anda bisa juga membaca hasil wawancara seseorang dengan entrepreneur yang ditulis di majalah atau buku. Tapi cara ini kurang direkomendasi karena jalan berpikir yang tertuang di dalam hasil wawancara itu dipengaruhi juga oleh jalan berpikir si pewawancara. Untung kalau si pewawancara itu juga seorang entrepreneur. Kalau hanya wartawan, Anda mungkin akan terjebak menjadi wartawan daripada menjadi entrepreneur.

 Cara lain yang juga bagus untuk mengetahui tentang entrepreneurship adalah dengan membaca buku yang ditulis sendiri oleh seorang entrepreneur yang kebetulan pandai menulis, yang berisi entrepreneurshipnya. Tulisan itu kira-kira akan berisi latar belakang, cara pandang, strategi, taktik dan triknya mendirikan usaha baru atau memperbarui usaha yang sudah ada.

 Yang perlu Anda catat baik-baik adalah bahwa entrepreneurship yang ditulis oleh seorang entrepreneur atau hasil wawancara dengannya hanya berlaku untuk dirinya sendiri. Anda tidak bisa mengeneralisasikan pengalaman itu sebagai entrepreneurship semua entrepreneur yang lain. Bahkan Anda keliru besar bila itu Anda anggap sebagai bagian dari entrepreneurship Anda sendiri.

 Entrepreneurship tumbuh dari waktu ke waktu dalam diri seseorang melalui pengalaman. Ia tumbuh melalui proses " try-error". Entrepreneurship adalah buah berbuat. Bila Anda ingin menjadi entrepreneur, Anda dituntut berbuat, yaitu melahirkan usaha baru. Dari perbuatan itu akan tumbuh entrepreneurship setahap demi setahap. Kecepatan tumbuhnya pun berbeda dari orang ke orang. Ada yang menyerap banyak pengalaman setelah membidani tiga usaha baru, namun ada pula yang baru melihat entrepreneurship di dalam dirinya setelah membidani lebih dari 10 usaha baru.

 Bila Anda hanya duduk membaca ratusan buku tentang entrepreneurship tanpa mencoba sendiri mendirikan usaha, Anda akan sama dengan orang yang hanya membaca buku tentang bagaimana menyetir mobil tanpa pernah memegang stir mobil, atau sama dengan seseorang yang membaca buku tentang teknik menulis tapi tidak pernah mengetikkan jarinya menghasilkan tulisan. Orang seperti ini tidak akan pernah menjadi entrepreneur. Paling-paling ia akan menjadi pengamat entrepreneurship. Kalau ia hanya sibuk mewawancarai entrepreneur dan berdiskusi dengan mereka, tapi tidak mencoba mendirikan satupun usaha, orang ini lebih berbakat menjadi wartawan tentang entrepreneurship. Entrepreneurship dibangun melalaui jam terbang berbuat, berbuat dan terus berbuat.

 Harus diakui pula bahwa memang ada sedikit teori dasar yang harus diketahui seorang calon entrepreneur. Tapi, teori itu sedikit sekali. Teori itu dapat dipelajari hanya dalam beberapa hari saja. Bahkan teori itu dapat Anda pelajari bersamaan dengan mendirikan usaha itu. Ini yang terbaik. Teori yang Anda perlukan, tinggal dikumpulkan dari berbagai diskusi atau konsultasi dengan orang-orang yang Anda temui selama proses mendirikan usaha. Karena selama proses mendirikan usaha, Anda pasti akan menjumpai banyak orang. Anda mungkin akan menemui calon investor, calon manager, calon karyawan, calon pemasok, calon pembeli, pejabat pemerintah, notaris, polisi, satpam, preman, pejabat bank, dll. Anda bisa kumpulkan teori-teori itu dari mereka. Teori-teori itu akan jauh lebih praktis dibanding teori yang Anda peroleh dari membaca buku atau mendengarkan kuliah sebelum memulai usaha.

 Artinya teori itu, walaupun diperlukan, tidak mesti Anda pelajari terlebih dulu. Sambil jalan saja. Bahkan, mungkin sebagian besar teori, malah sudah Anda ketahui sewaktu Anda mempelajari ilmu-ilmu yang lain. Anda tidak sadar saja.

 Saya tidak berani menakar berapa persen teori dalam enterpreneurship. Tak seorangpun yang telah menghitung secara pasti berapa persen pengetahuan teori dan berapa persen hasil pengalaman praktis yang membangun entrepreneurship seseorang. Ada yang mencoba membuat perkiran-perkiraan saja, namun akurasinya tidak bisa dijamin. Tapi bolehlah dipakai sekedar perhitungan kasar. Menurut perkiraan saya, teori itu hanya 10% saja. Sisanya 90% adalah hasil dari pengalaman berbuat.

 Bagaimana pendapat Anda?

 Wallahu a'lam

Definisi entrepreneur dan entrepreneurship

Jangan salah kaprah dengan sebutan entrepreneur dan entrepreneurship. Dalam Bahasa Indonesia belum ada kosa kata yang benar-benar sepadan. Dulu ada yang mencoba memadankannya dengan istilah wiraswasta sehingga muncul istilah kewiraswastaan. Tiba-tiba orang mulai ragu, jangan-jangan salah. Terakhir ada yang menerjemahkannya dengan istilah wirausaha sehingga dimunculkan istilah kewirausahaan. Kelihatannya istilah ini mulai populer. Namun, belum tahu lagi kalau nanti ada istilah yang jauh lebih tepat. Kita tunggu saja.

Sulit memang mencari padanan yang benar-benar tepat. Tapi, kita tidak usah sibuk dengan padanan-padanan istilah itu. Kita serahklan kepada ahli bahasa saja. Saya di sini akan mencoba menjelaskan esensi dari istilah entreprenuer dan entreprenership. "Apalah artinya sebuah nama?" kata Romeo kepada Juliet.

Entrepreneur menurut Kamus Meriam Webster berasal dari bahasa Perancis. Kata itu muncul sebagai salah satu kosa kata yang mulai populer di dalam Bahasa Inggris di sekitar tahun 1852. Kata itu muncul di saat para pemilik modal dan para pelaku ekonomi di Eropa sedang berjuang keras menemukan berbagai usaha baru, baik sistem produksi baru, pasar baru, maupun sumber daya baru untuk mengatasi kejenuhan berbagai usaha yang telah ada. Sebenarnya, penemuan-penemuan usaha baru sudah berlangsung sepanjang zaman, namun belum diistilahkan. Karena tidak semua orang mahir dalam hal itu, diam-diam mulailah dikenal beberapa gelintir orang yang menspesialisasikan diri di bidang penemuan usaha baru, sehingga tercipta istilah baru.

Penemuan usaha baru memerlukan daya kreatif yang tinggi untuk meracik semua unsur yang diperlukan, baik sumber daya manusia, modal, maupun bahan-bahan. Penemuan usaha baru memerlukan kecermatan yang memadai untuk mengendus target pasar dan menakar ancaman para pesaing. Penemuan usaha baru memerlukan keterampilan berkomunikasi untuk membujuk para pemilik modal, penguasa, pekerja, dan semua pihak yang akan terlibat. Entrepreneur adalah sebutan bagi seseorang yang mahir melahirkan satu usaha baru itu. Seorang entrepreneur mahir menggabungkan dan mengupayakan berbagai elemen terkait.

Kemahiran yang dimiliki seorang entreprenuer disebut entreprenuership. Sejak ditemukannya istilah entreprenuer itu, ramailah orang yang ingin tahu apa dan bagaimana tentang entrepreneurship. Berbagai kajian psikologis dan sosiologispun dibentangkan. Berbagai penelitian mulai diarahkan untuk menemukan rahasia entreprenuership yang ada di dalam diri seorang entrepreneur. Mengapa seseorang dengan mudah menemukan usaha baru sementara yang lain hanya puas dengan usaha warisan nenek moyangnya walaupun sudah hampir bangkrut? Mengapa seseorang tidak tahan lama bekerja untuk orang, sementara yang lain tahan bertahun-tahun sampai ubanan menjadi buruh? Diam-diam, sebutan entrepreneur itu mulai bergengsi, dan bahkan lebih bergengsi dibanding sebutan manager, investor, lebih-lebih karyawan. Ini bukan berarti sebutan manager, investor, dan karyawan menjadi hilang. Semua istilah itu memang berbeda zonanya.

Jangan kacaukan tiga istilah yang banyak kaitannya dengan satu usaha: owner, manager dan entrepreneur. Ketiganya sering disebut pengusaha saja. Owner adalah seseorang yang memiliki hak atas aset usaha. Dia adalah pemilik kapital dan pemilik hak atas semua laba. Kepemilikan itu lazimnya diperoleh karena ia memang menginvestasikan harta bendanya ke sana. Manager adalah seseorang yang mahir dalam menjalankan sebuah usaha. Ia terampil merencanakan dan mengarahkan proses dan sumber daya sehingga suatu usaha berjalan secara efektif dan efisien.

Entrepreneur adalah seseorang yang melahirkan usaha baru. Dia bagaikan bidan bagi kelahiran usaha-usaha ekonomi. Bahkan, Meriam Webster menyebutnya sebagai "economic leader", karena dia memang berada di garda terdepan dan terawal bagi satu proses bisnis. Dialah yang menemukan produk yang tepat dan pasar yang tepat. Dialah yang berperan membujuk calon-calon investor agar mau merogoh kantongnya untuk memproduksi dan memasarkan produk itu. Dia yang berperan menemukan calon manager yang tepat untuk satu usaha baru itu kalau sudah berjalan.

Jadi, entrepreneur berhubungan dengan usaha baru atau pembaruan usaha. Kata kuncinya adalah "baru". Entrepreneur melahirkan usaha yang sama sekali baru, sedangkan manager menjalankan usaha yang telah ada. Dalam kenyataan, manusia diberi bakat yang berbeda-beda. Ada seseorang yang sangat berbakat menemukan usaha-usaha baru, mahir membaca pasar, mahir melahirkan berbagai sistem baru dalam bidang produksi maupun pemasaran, namun gagal ketika usaha itu dipegangnya untuk dikelola. Ia adalah seorang entreprenuer yang sukses tetapi manager yang gagal.

Sebaliknya ada orang yang serba bingung dan kikuk ketika diminta untuk mendirikan satu usaha. Dunia gelap gulita. Selalu berpikri dari mana saya mulai, apa yang harus saya lakukan. Dia linglung menemukan sumber daya, ia tidak tajam melihat resiko, bahkan ia kelu dalam membujuk calon investor. Tapi jangan salah, ketika diserahkan satu usaha kepadanya untuk dikelola, ia berhasil melipat gandakan profit dan berhasil menekan ongkos serendah-rendahnya. Bahkan ia berhasil menimbulkan suasana kerja yang nyaman bagi pekerja, menciptakan hubungan yang baik dengan manusia dan lingkungan. Kalau begitu, ia adalah seorang manager yang baik, bukan seorang entrepreneur.

Dalam pergaulan sehari-hari dalam dunia usaha, kita dengan jelas melihat bakat yang berbeda dari orang ke orang. Ada yang hanya berbakat sebagai entrepreneur saja, ada yang hanya berbakat sebagai manager saja. Tentu suatu keberuntungan, bila seseorang memiliki bakat kedua-duanya sekaligus, ya entreprenuer, ya manager. Namun, bagi yang tidak berbakat untuk keduanya, juga jangan dikira tidak beruntung. Masih ada tempat untuknya: sebagai karyawan atau sebagai investor.

Bagaimana menurut Anda?

Wallahu a'lam.

Generasi muda yang sedang malas


Malas. Saya hari ini benar-benar malas mikir. Hasilnya, malas menulis. Ini gara-gara libur kelamaan. Kerjaan menumpuk. Melihatnya saja, malas. Cuti yang terlalu panjang ternyata tidak enak dalam artian sesungguhnya. Otak seperti dihentikan bekerja dan kemudian harus dipaksa kembali berjalan dengan cepat. Seperti mobil yang dipaksa ngebut di jalan tol Simatupang setelah istirahat seminggu. Rasanya satu demi satu sel neuron otak kendur bautnya.
 Tentang generasi muda? Hari ini judulnya generasi muda. Sala malas menulis tentang generasi muda. Bagaimana kalau generasi tua saja? Ei, malas juga. Ah, generasi muda saja.Tidak apa. Jalanin aja.
 Notes dari guru saya sore ini benar-benar menyentil. Teras sakit di kuping, panas di dada, gatal di punggung. Katanya, "Menulis tidak mood, alias malas. Si Raja Alasan, si Ratu Berkilah." Ya Allah, alangkah malunya. (Eh, diam-diam masih punya rasa malu nampaknya, walaupun malas).
 Ini masih malas, belum bangkit gairah. Walaupun dalam keadaan malas, saya coba juga deh menulis. Macet ...., macet..., dan macet lagi.
 Tidak ada hal yang penting yang akan saya tulis. Saya pasti tidak akan menulis tentang ekonomi, politik, fisika, astronomi, apalagi filsafat. Namanya juga lagi malas. Saya hanya mau buktikan apakah menulis bisa dilakukan dalam keadaan "malas menulis". Anda pasti akan malas membacanya, bukan? Lho wong, saya saja menulisnya malas. Begitu aja kok repot.
 Eh, menulis dalam keadaan sibuk, sudah saya buktikan. Menulis dalam keadaan emosi, sudah juga. Menulis sedang kepepet apalagi. Tesis saya dulu, saya kerjakan dalam keadaan kepepet. Sebulan selesai. Dosen bingung. (Buka rahasia).
 Mengapa mesti saya coba menulis dalam malas?
 Soalnya begini. Dulu saya pernah bertanya pada seorang kawan "Mengapa hari ini Anda tidak menulis? Ngakunya mau jadi penulis?" Dia jawab seenaknya, "Saya sedang malas menulis. Pikiran sedang kacau dan buntu." Saya menuduhnya, "Ah alasan aja. Siapa bilang menulis tidak bisa dalam keadaan malas?" Aduh, sombong sekali saya ,ya?
 Sekarang, saya jadi malu hati sendiri. Hampir-hampir saja saya hari ini tidak menulis dan akan melemparkan alasan, "Saya sedang malas." Dalam istilah kerennya, "Saya sedang tidak mood." Atau yang lebih keren lagi, " Saya sedang mencari inspirasi." Ciileh.
 Aduh malasnya… (menguap). Apa ya? Susah sekali menemukan ide apa yang akan hendak ditulis dalam malas begini. Sudah sepanjang ini, masih bingung? Hari sudah sore lagi. Istri sudah menunggu. Jam seperti tidak maju-maju. Dari tadi, baru segini.
 Oh ya, saya rencana mau menulis tentang generasi muda. Saya belum ketemu judulnya. Generasi muda yang malas. Lho, saya kan generasi muda. Siapa bilang saya sudah tua? Saya masih merasa muda. Jadi, saya mau cerita tentang diri saya. Ya, sudahlah. Tulisan ini saya beri judul "Generasi muda yang malas menulis."
 Kemarin kawan saya seperti marah-marah dalam tulisannya tentang pemalsuan sejarah bangsa Indonesia oleh penulis barat. Saya malah bertanya, "Mengapa kita tak tulis sendiri sejarah kita? Mengapa kita baca tulisan orang lain, padahal palsu?" Kalau generasi mudanya bergaya seperti saya sekarang ini, mau nulis malas, mau mikir malas, mau kerja saja malas, bahkan mau malas saja juga malas, jangan kita pernah menyalahkan orang lain. Wajarlah kalau sejarah kita ditulis seenaknya oleh orang-orang itu.
 Saya tidak tahu apakah tulisan ini bisa diselesaikan atau tidak? Generasi muda artinya kumpulan orang-orang muda. Orang-orang muda artinya orang-orang yang belum dewasa atau mau dewasa. Jadi, kalau orang muda malas, jangan-jangan karena orang tuanya salah mengasuh. Orang tua banyak memanjakan. Mereka tidak diberi tantangan. Dibiar-boarkan saja. Kalau memang begiu, wajarlah kalau mereka malas dan tidak sanggup melawan kemalasan…..
 Kawan, saya minta maaf. Hanya seginilah yang dapat saya tulis dalam keadaan malas. Ya, sekedar uji coba. Seorang muda yang menulis dalam gaya malas.
 Bagaimana pendapat Anda?
 Wallahu a'lam.

Right or wrong, it's my country


"Mau benar mau salah, yang penting ini negara saya."
Inikah yang kita maksud dengan kesadaran nasional yang tinggi? "Pokoknya, mau salah, mau benar, saya tidak mau peduli." Inikah yang kita inginkan dari setiap warga negara? Inikah nasionalisme itu? Wah berat ini.
Yang paling risau dengan rendahnya kesadaran nasional, biasanya penguasa. Rakyat kecil biasa-biasa saja. Kampanye untuk meningkatkan kesadaran nasional biasanya digencarkan oleh pemegang kekuasaan atau orang-orang-orang yang berada pada elit politik dan kekuasaan. Mereka khawatir kalau rakyat membiarkan mereka memegang amanah negara sendirian tanpa dukungan rakyat.
Sang penguasa, di manapun, selalu dihantui ketakutan kalau-kalau warganya tidak punya kesadaran nasional, hanya mementingkan diri sendiri dan keluarga. Mereka meninggalkan kepentingan bersama yang lebih luas. Yang berkuasa takut, setelah berbagai fasilitas disediakan oleh negara, rakyat terlena, lupa bahwa setiap individu harus punya nasionalisme yang memadai. "Kalau tidak ada kesadaran nasional, negara akan hancur. Ujung-ujungnya individu tak punya pembelaaan lagi," kata penguasa.
Yang selalu dikutip penguasa adalah ucapan seorang negarawan Amerika yang sangat terkenal, Jhon F Kennedi, yang kesal dengan warganegaranya yang selalu menuntut. "Jangan tanyakan apa yang telah negara berikan padamu, tapi tanyalah apa yang telah engkau berikan pada negaramu". Maksudnya, "Jangan hanya pikir diri sendiri dong. Pikir juga dong kami. Kami juga susah."
Itu teori yang biasanya jauh panggang dari api. Dalam prakteknya, kepentingan nasional selalu dikalahkan oleh kepentingan perorangan dan golongan. Dalam pengamatan saya, yang tidak punya kesadaran nasional itu justru para pemegang kekuasaan. Kalau itu terjadi pada rakyat, apalah pengaruhnya? Paling-paling mereka hanya enggan ikut pemilu atau ikut KB. Tapi, kalau yang tak punya kesadaran nasional itu adalah para pemegang kekuasaan dan elit politik, Anda bisa bayangkan. Mereka akan menjarah negara untuk kepentingan pribadi dan keluarga. Mereka akan mengisap manusia atas nama negara. Mereka akan "aji mumpung". Mumpung ada kursi, mumpung ada kuasa.
Di zaman orde baru, kesadaran nasional selalu ditatarkan. Hasilnya, rakyat sadar. Orang kampung saya yang cara berpikirnya sederhana, bersedia mengorbankan hak-hak individu dan keluarga demi kepentingan yang lebih besar, yaitu kepentingan bersama. Tanah dan ladang, mereka relakan tanpa ganti rugi untuk pembanguna jalan raya. Mereka rela tak pergi ke sawah, demi untuk gotong royong memperbaiki saluran air di kampung. Yang tidak sadar-sadar justru penguasa dan orang-orang yang duduk di barisan kekuasaan. Sehingga saya berpikir mengadakan penataran untuk pejabat-pejabat dari presiden sampai kepala desa. Yang menatarnya, rakyat kecil.
Memang tak sanggup membayangkan bila satu negara dikelola oleh makhluk yang korup. Rakyat dihasut untuk patuh dan taat berkesadaran nasional yang tinggi. Tapi, ujung-ujungnya, semua ketaatan itu akan dimanfaatkan untuk kesejahteraan kelompok sendiri. Yang lebih ganas lagi, rakyat dihasut membela negara sampai tetes darah penghabisan. Mau benar mau salah. Right or wrong, it' s my contry. Itu gila benar. Nasionalisme sontoloyo. Mau dibawa kemana negara ini?
Rakyat dihasut untuk menyerang negara lain. Rakyat dihasut perang dengan negara tetangga hanya untuk satu persoalan kecil. Urusan dalam negeri saja yang lebih besar masih kacau balau. Ini malah hubungan dengan negara lain sudah dirusak. "Negara kita benar. Negara tetangga kurang ajar." Bendera negara lain diinjak-injak dan dibakar. "Benar atau salah, aku tak peduli. Yang penting ia negeraku." Saya mau bertanya. Inikah kesadaran nasional itu?
Ucapan itu sebenarnya dipotong secara tidak fair dari seorang negarawan asal Jerman , Carl Scurz tentang nasionalisme. Dia memang pernah mengucapkan itu. Tapi masih ada lanjutan kalimatnya. Pernyataan sebenarnya adalah "My country, right or wrong; if right, to be kept right; and if wrong, to be set right." Kalau diterjemahkan, "Benar atau salah, ia negaraku. Jika benar, harus dipertahankan. Jika salah harus diperbaiki. Tidak ada pembenaran bagi kesalahan. Yang salah harus diperbaiki. Yang bengkok harus diluruskan.
Kita semua memerlukan negara. Kita memerlukan satu instansi yang memaksa agar kepentingan bersama tegak. Kalau semua urusan diserahkan kepada individu, semaunya masing-masing, setiap individu cendrung mengalahkan kepentingan individu lain. Hukum rimba saja tidak begitu. Ide tentang adanya kepentingan negara dan kewajiban setiap warga membela negara merupakan satu hal yang sangat esensial dalam kehidupan manusia.
Saya penganut nasionalisme. Saya cinta negara karena saya perlu dengan negara. Dengan adanya negara, hukum akan ditegakkan. Yang benar akan dilindungi, yang salah akan diberi sanksi. Negara adalah alat untuk mempertahankan kepentingan bersama, keamanan bersama, dan ketertiban bersama.
Tapi saya tidak mau menyembah negara. Saya tidak mau meletakkan negara di atas segala-galanya. Saya tidak mau nasionalisme buta seperti terungkap dalam pernyataan, "benar atau salah adalah negeriku." Itulah sebabnya saya malas menyanyikan lagu "Padamu Negeri." Itu nasionalisme yang sudah salah kaprah alias "keblinger". Masa' ada kalimat yang mengatakan, "Padamu negeri aku mengabdi?" Kalau hanya padamu negeri aku berbakti, tidak masalah. Tapi kalau sampai "bagimu negeri jiwa raga kami," maaf deh. Saya tidak mau. Bagi saya pengabdian hanya pada Tuhan. Jiwa raga hanya untuk Tuhan. Hidup dan mati saya untuk Tuhan.
Boleh cinta negara, tapi yang berdaulat di dalam negara itu adalah Tuhan.
Jangan dikira orang yang menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya tempat mengabdi adalah orang yang anti nasionalisme, anti kepentingan nasional. Kalau betul-betul dia menerima kehendak Tuhan dan mengikuti sunnah Rasulullah, dia akan menjadi seorang nasionalis sejati, karena cinta dan pembelaan kepada negara itu bagian dari iman. Rasulullah bersabda, "Cinta negara sebagian dari iman."
Ketika Rasulullah SAW sampai di Madinah untuk memulai kehidupan baru berbangsa dan bernegara, selepas hijrah, Rasulullah tidak segan-segan melahirkan satu piagam kenegaraan yang sangat bersejarah, yaitu Piagam Madinah. Dalam piagam itu secara eksplisit dicantumkan tentang kewajiban membela negara. Rasulullah mengikat janji setiap warga negara, setiap suku, bahkan setiap agama untuk membela negara dan kepentingan bersama sebagai bagian dari pengabdian pada Tuhan. Apakah tidak tepat kalau Rasulullah-lah yang mengumandangkan nasionalisme itu? Beliaulah sesungguhnya negarawan sejati itu.
Sejak berdirinya daulah islamiyah di Madinah, maka berlakulah sebuah negara yang membela hak asasi manusia, membela kepentingan semua ras, suku, bangsa dan agama. Piagam Madinah adalah undang-undang dasar negara yang pertama di dunia. Undang-undang dasar negara itu tercipta jauh sebelum dunia barat mengenal apa itu negara yang adil dan demokratis. Jauh sebelum mereka tahu tentang hak asasi manusia, toleransi, dan kesadaran nasiona. Saya menjadi heran mengapa orang takut dengan daulah islamiyah? Padahal daulah islamiyah adalah cikal bakal terbentuknya sebuah negara secara moderen.
Rasululullah berkata, "Kalau Fatimah binti Muhammad mencuri, akan kupotong tangannya." Anda lihat bagaimana beliau meletakkan kepentingan negara di atas kepentingan keluarga. Kepentingan pribadi dan keluarga tidak boleh mengalahkan kepentingan negara.
Saya terenyuh dengan ucapan Saidina Abu Bakar ketika beliau dilantik menjadi penguasa negara menggantikan Rasulullah. Beliau berkata, "Saya bukan yang terbaik di antara kalian. Kalau saya salah tolong ingatkan. Kalau saya benar tolong taati." Mana ada "right or wrong, it's my country" dalam aqidah Saidina Abu Bakar.
Ketika Saidina Umar mengulangi ucapan Saidin Abu Bakar itu ketika beliau dilantik sebagai khalifah kedua, seorang rakyat kecil mencabut pedangnya. "Kalau engkau berkhianat wahai Umar, akan kuluruskan dengan pedang ini," katanya seraya menghunuskan pedang itu ke arah Sang khalifah. Saidina Umar tersenyum seraya bertahmid pada Tuhan.
Kedua negarawan besar itu telah membuktikan pengabdian kepada Tuhan yang sungguh-sungguh, akan menyebabkan kepentingan negara menjadi nomor satu. Mereka wafat dalam keadaan miskin, tanpa ada harta yang mereka wariskan untuk keluarganya sendiri.
Bagaimana pendapat Anda?
Wallahu a'lam.

Jati diri bangsa Indonesia


Kalau ditanya tentang Indonesia, saya bisa becerita panjang lebar. Bahkan Anda akan terkejut membaca cerita saya tentang Indonesia. Saya tinggal mengutip lagu-lagu lama tentang Indonesia, mulai dari lagu "Lambaian Pulau Kelapa", "Dari Sabang Sampai Merauke", sampai "Kolam Susu"nya Koesplus. Tapi kalau saya harus bercerita tentang jati dirinya, lidah saya jadi kelu, jari jemari saya macet, rada semutan.
Bung Taufik Ismail, dulu, meberi judul kumpulan puisinya dengan "Aku Malu Jadi Orang Indonesia." Terus terang, saya berbeda dengan beliau. Saya belum sampai pada "malu" jadi orang Indonesia. Bangga juga tidak, karena belum nampak yang layak dibanggakan. Ya antara malu dan bangga, alias biasa-biasa saja. Cuma sekarang sedikit agak stress mengenangkan jati dirinya yang amburadul.
Setahu saya Indonesia ini negara yang sangat luas. Bentangan Sabang Merauke pada peta Indonesia, kalau kita pindahkan ke peta Eropa, wilayahnya akan melintasi London sampai Baghdad. Artinya melintasi 27 negara. Antara Pulau Talaut di posisi terutara dan Pulau Rote terselatan akan melintasi 19 negara di Eropa. Seluruh barang tambang tersedia lengkap dan berlimpah di bawah tanahnya. Mana ada tanaman yang tidak bisa tumbuh di tanahnya. Katanya, batu saja bisa tumbuh.
Tapi, ketika disebut identitas bangsanya, yang pertama terngiang di dalam pikiran saya adalah kemiskinan mayoritas rakyatnya. Masyarakatnya miskin di atas semua kelimpahan sumberdaya alam. Yang kaya ada juga, tapi hanya segelintir saja.
Pertama sekali saya bekerja di perusahaan minyak tahun 90-an. Saya ditugaskan di Kampung Limau, kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Mengingat harga minyak sangat tinggi waktu itu, ditambah dengan begitu strategisnya industri minyak di negeri ini, saya membayangkan bahwa saya akan berada di suatu kampung perminyakan, kampung dolar. Saya akan berada di satu tempat yang menjadi tumpuan pembangunan, karena penghasil minyak yang besar penopang pembangunan di tempat lain. Saya membayangkan Kampung Limau seperti Houston di Amerika Serikat yang juga daerah penghasil minyak.
Ternyata jauh panggang dari api. Bayangan saya keliru. Daerah penghasil minyak di Indonesia berbeda dengan di negara lain. Di sini, walaupun daerah itu menyemburkan minyak ribuan barel perhari, menghasilkan dolar. Dolarnya menjelma jadi jalan tol dan gedung-gedung mewah di Jakarta atau kota-kota lain di jawa, daerah penghasil minyak tidak mesti terbangun. Kampung Limau contohnya. Minyaknya berlimpah, namun Anda akan terkejut kalau masih banyak penduduk tinggal di rumah-rumah berlantai tanah. Mesjidnya ditinggali kambing. Banyak dari mereka yang masih memasak dengan kayu bakar karena tak mampu membeli minyak tanah.
Pekerjaan saya juga telah mengantar saya ke lokasi lain yang juga penghasil minyak . Saya sudah lama beraktifitas di Kampung Bula di Pulau Seram, Maluku. Terakhir, sayapun berada beberapa lama di Kampung Kuala Simpang di Aceh. Apa yang saya lihat di daerah-daerah itu, tidak jauh berbeda dengan Limau. Saya menyaksikan betapa tidak berimbangnya pemanfaatan hasil minyak bagi daerah penghasil minyak itu. Minyak menyembur terlalu jauh, sehingga tak dapat dinikmati oleh penduduk setempat. Mereka hanya menyaksikan sisa limbah minyak yang mengotori kampung mereka.
Inilah jati diri bangsa yang sangat khas: miskin.
Itu baru tentang miskin harta. Kemiskinan ini semakin bertambah-tambah. Selain miskin harta, bangsa ini miskin ilmu dan miskin iman. Kalau miskin harta saja sudah kita anggap serius, terbayangkankah oleh Anda akibat miskin ilmu dan miskin iman?
Tapi saya tak malu. Saya hanya pasrah. Barangkali memang baru sampai disini nasib kita. Saya masih menyimpan sedikit harapan bahwa sebentar lagi bangsa ini akan bangkit. Saya yakin dengan ucapan Rasulullah SAW ketika di perang Khandak mengatakan bahwa Islam akan bangkit untuk keduakalinya di akhir zaman di satu bangsa di sebelah timur. Saya yakin, tempat yang dimaksudkan Nabi adalah bangsa kita, dalam hal ini Indonesia.
Bagaimana pendapat Anda?
Wallahu a'lam.

Buruk rupa cermin dibelah


Buruk hukum undang-undang diubah. Begitulah kalau kita tidak tahu penyakit dan dan tidak tahu pula obat. Buruk muka, cermin yang menjadi sasaran. Cermin yang dihempaskan-hempaskan. Kita maki-maki cermin lama dan kita hambur-hamburkan uang membeli cermin yang lebih baru. Apa hasilnya? Apakah wajah menjadi lebih cantik? Tidak kan? Karena bukan cermin yang salah. Wajah aslinya memang amburadul. Malah kini, wajah itu bertambah buruk karena tak punya cermin lagi.
 Beginilah perilaku kita melihat keadilan di Indonesia. Semua berteriak bahwa keadilan belum tegak, hukum belum berjalan. Negeri ini begitu semberawutnya. Kita ubah undang- undangnya. Kita revisi peraturannya, kita kutak katik aturan mainnya. Ternyata, keadilan tetap coreng moreng. Mengapa? Karena adil itu tidak terletak di atas kertas, melainkan ada pada hati. Keadilan bukan terletak di undang-undang atau aturan main, melainkan terletak pada nurani manusianya, nurani pelakunya. Bagaimanapun bunyi undang-undangnya, indah bahasanya, pasti dapat dipesongkan maknanya oleh hati-hati yang jahat. Sebaliknnya, mungkin dalam sebuah tatanan masyarakat primitif yang tidak mengenal tulis baca dan tidak mengenal apa itu undang-undang dan peraturan, keadilan bisa tegak kalau di hati mereka ada keadilan. Anda kurang percaya?
 Baiklah. Dulu kita ada undang-undang yang melarang judi. Setahu saya itu sudah lama. Orang-orang kampung saya yang sangat sederhana cara berpikirnya takut berjudi karena takut masuk penjara. Eh, tahu-tahunya, seorang menteri Pemuda dan Olah Raga, waktu itu, menggagas pengumpulan dana untuk menunjang kegiatan olah raga di Indonesia melalui judi. Strategi yang dipakai adalah dengan menggunakan nama lain, yaitu "Porkas". Orang kecil terperangah. Mau bilang apa karena undang-undangnya memang hanya menyebut "judi" dan sama sekali tidak menyebut "Porkas". Pintar sekali, bukan? Ketika masyarakat akhirnya rame-rame protes bahwa sesungguhnya Porkas adalah judi, diubah lagi namanya menjadi "Sumbangan Olahraga Berhadiah". Bahkan seorang ketua majlis ulama waktu itu membuat semua orang terkejut karena berani membuat pernyataan bahwa Sumbangan Olahraga Berhadiah bukan judi. Lucu sekali.
 Setahu saya mencuri sudah dari dulu dilarang di Indonesia. Undang-undang KUHP sudah mencantumkan itu sejah zaman penjajahan dulu. Tapi manusia Indonesia memang cerdas, dia tidak gunakan istilah mencuri sekarang, tapi korupsi. Lho apa bedanya mencuri dan korupsi? Ya sama. Bedanya, secara hukum korupsi tidak bisa dijerat dengan undang-undang tentang mencuri. Istilahnya kan beda. Mencuri lebih cocok diterapkan untuk kasus pencurian ayam, penucurian sandal. Pelakunya juga disebut maling. Korupsi kan lebih terhormat. Pelakunyapun disebut koruptor. Sangat intelek. Maka sibuklah orang-orang terhormat kita di DPR dan di pemerintahan mengusung undang-undang baru anti korupsi. Betapapun undang-undangnya sudah baru pula, kegiatan mencuri itu terus berlangsung. Bahkan sekarang lebih canggih sistemnya.
 Anda masih ingat dengan undang-undang lalu lintas? Apa salahnya undang-undang itu harus diubah? Dari dulu kita sudah berlalu lintas. Tertip kok. Katanya, dengan undang-undang yang baru akan berkurang pungli di jalan. Pernahkah Anda tidak dipungli lagi setelah berlakunya undang-undang yang baru? Kebiasaan kita menyogok polisipun kelihatannya belum juga berkurang, malah makin intensif. Sekarang malah ada sistem tawar menawar di jalan, lebih demokratis.
 Contoh lain. Kita sudah berkali-kali mengubah undang-undang ketenaga kerjaan. Biayanya tidak tanggung-tanggung. Bagaimana dengan nasib tenaga kerja? Bertambah baik kah?
 Saya sampai jenuh, seperti mau muntah, melihat daftar undang-undang dan peraturan yang berlaku di Indonesia. Pernah sekali untuk satu pekerjaan, saya mencoba mencari di internet undang-undang dan peraturan yang berlaku di bidang migas. Hanya bidang migas. Satu bidang yang sangat sempit. Aduh, minta ampun banyaknya. Hampir habis tinta printer saya untuk mencetaknya. Setelah saya print, sayapun tidak sanggup membacanya. Banyak sekali. Sekarang bayangkan di bidang lain: pendidikan, kesehatan, lingkungan, industri, keuangan, perpajakan, dll. Tengok pula undang-undang dan peraturan yang berlaku di tingkat pusat, tingkat propinsi, sampai tingkat desa. Lihat pula segala aturan yang dibuat di berbagai instansi, mulai yang dikeluarkan presiden, menteri, dirjen, sampai dengan kepala sekolah. Tengok pula segala aturan adat yang berbeda dari wilayah ke wilayah. Belum lagi kita masukkan pula aturan yang tidak tertulis alias TST (tahu sama tahu). Negara ini dipenuhi oleh file undang-undang dan peraturan yang berlaku. Saya yakin kalau semua undang-undang dan peraturan di Indonesia dicetak dan ditumpuk jadi satu, tumpukannya akan lebih tinggi dari menara Twin Tower di Kuala Lumpur.
 Sekarang semua elemen bangsa masih sibuk mengutak atik berbagai aturan perundangan. Undang-undang dan aturan baru masih saja diproduksi. Katanya demi keadilan. Pesawat terbang gagal kita produksi. Sebagai penggantinya kita memproduksi undang-undang. Tak puas rasanya kalau setiap orang belum menggoreskan tanda tangannya untuk mengesahkan satu peraturan. Tak bergengsi rasanya seorang menteri baru atau bupati baru tidak buat peraturan. Anehnya, mereka sama sekali tidak menyentuh unsur terpenting, yaitu tegaknya keadilan di hati. Ketika ada yang tidak beres dalam keadilan, kita semua menoleh ke undang-undang, ke peraturan. Ubah undang-undangnya. Ubah peraturannya. Tambahi lagi. Kalau gratis, mungkin tidak terlalu masalah. Ternyata biayanyapun tidak tanggung-tanggung. Sampai kapan ini akan berlangsung?
 Coba kita renungkan sejenak. Adil adalah sifat Tuhan. Sifat adil itu Tuhan letakkan di hati sebagai pemberianNya. Sifat adil itu Tuhan anugerahkan di hati manusia sebelum ruh dihembuskan ke dalam jasad. Pada saat manusia sudah lahir, manusia kemudian berhadapan dengan kehidupan ril. Hawa nafsu telah meraja lela, rasa bertuhan lenyap. Serentak dengan hilangnya rasa bertuhan, hilanglah rasa keadilan itu. Ego pun menguasai diri. Di saat itu, manusia tak peduli lagi dengan keadilan. Yang dikedepankannya adalah kepentingan dirinya saja. Kepentingan orang lain di letakkan di belakang.
 Lebih-lebih lagi ketika ia berkuasa. Kekuasaan itu akan digunakannya untuk mengedepankan kepentingan diri dan menggeser kepentingan pihak lain. Halal haram hantam. Banyaklah fakta yang menunjukkankan kekuasaan cendrung untuk diselewengkan.
 Saya tidak punya saran lain untuk perbaikan sistem keadilan di Indonesia yang menyedihkan ini, kecuali dengan menyarankan kembali kepada pengembalian rasa bertuhan. Program ini perlu dikampanyekan. Kalau kita bisa mengkampanyekan rokok, makanan, minuman, mengapa kita tidak bisa mengkampanyekan rasa bertuhan? Kita punya berbagai bentuk media masa. Kita punya televisi, surat kabar, papan-papan reklame. Kitapun punya pakar-pakar komunikasi masa, pakar-pakar psikologi komunikasi. Dari pada dana dihambur-hamburkan untuk perubahan berbagai macam sistem perundangan dan peraturan, lebih baik dana itu dipakai untuk mengkampanyekan secara besar-besaran sistem hidup bertuhan.
 Kita mulai menata keadilan dari yang paling dasar. Sebelum kita lihat keadilan dalam dimensi negara, kita lihat dulu dalam dimensi yang paling personal. Sudah adilkah kita dengan diri kita sendiri? Adakah kita sudah tunaikan hak-hak anggota tubuh kita sesuai dengan fitrahnya. Adakah kita penuhi hak mata kita untuk tidak melihat aurat? Sudahkah kita tunaikan hak telinga kita untuk tidak mendengarkan musik-musik setan? Sudahkah kita tunaikan hak sistem pencernaan kita untuk tidak diisi dengan makanan dan minuman yang haram? Kampanye hidup bertuhan akan mengembalikan individu-individu menjadi individu yang adil.
 Kita lihat ke sistem keluarga. Sudahkah seorang suami telah menunaikan hak-hak istri, untuk dibela, dididik, dinafkahi, disayangi, dan dijaga? Sudahkan seorang istri menunaikan hak suami untuk ditaati, diikuti arahan-arahannya, dihormati sebagai pemimpin? Yang ada sekarang, suami hanya sibuk memperjuangkan haknya. Demikian pula istri, sibuk memperjuangkan hak-haknya saja. Masing-masing pihak hanya akan meradang bila kepentingan dirinya tergugat. Ngakunya saling mencintai. Tapi bila kepentingan satu pihak terancam, cintapun ditendang. Kalau dalam sistem keluarga saja tidak tegak keadilan, mustahil keadilan akan tegak di dalam sistem masyarakat, karena keluarga adalah miniatur masyarakat. Dengan kampanye hidup bertuhan, kita kembalikan keluarga menjadi lembaga pertama yang menegakkan keadilan.
 Bagaimana pendapat Anda?
 Wallahu A'lam.

Rindu Rasulullah di penghujung tahun

Teman FB saya, Ibu Fatimah Adam, mengatakan malam ini organisiasi yang beliau pimpin di Banjarmasin tidak mengadakan hiburan rakyat seperti tahun-tahun sebelumnya. Kegiatan diganti dengan bakti sosial, kunjungan ke rumah anak yatim, yang diisi dengan tausyiah. Subhanallah. Mudah-mudahan itu bukan karena hanya bertepatan dengan malam Jum'at atau terkait pilkada, namun karena telah munculnya kesadaran baru untuk kembali kepada Tuhan.

 Kawan saya Ibu Nurhayati, telah menulis bahwa ia sekeluarga telah bertekad tidak akan merayakan tahun baru dengan tiupan terompet, tetapi menggantinya dengan muhasabah atau instrospeksi diri, sesuai dengan sebuah hadis yang kebetulan tak sengaja ditemukan. Ini juga satu contoh yang perlu ditiru.

 Siang tadi saya ajak keluarga jalan-jalan di Jakarta, sambil menjemput anak sulung ke bandara. Saya melihat di beberapa persimpangan jalan terpampang spanduk undangan untuk menghadiri acara tahun baru berupa zikir bersama. Dari spanduk-spanduk itu saja, setidak-tidaknya sudah ada empat tempat yang berbeda di Jakarta yang menggelar acara zikir bersama. Belum lagi kalau kita masukkan tempat-tempat lain yang mengadakan zikir bersama namun tidak pasang spanduk. Tempat-tempat itu pasti banyak sekali. Ini berarti secara perlahan, tapi pasti, kegiatan tahun baru yang biasanya diisi dengan pesta pora, musik jingkrak junkrik, mulai digeser ke arah yang lebih bermakna, yaitu. muhasabah. Sambil muhasabah, kita mengenangkan Tuhan. Saya kira, ini pertanda baik.

 Saya sekeluarga memilih di rumah saja. Kebetulan kawan-kawan dari Jamaah Global Ikhwan, malam ini mendengarkan tausiah dari Ibu Dr. Gina Puspita bertempat di Bandar Global Ikhwan, Sentul. Walaupun saya tidak hadir di Sentul, namun saya dapat mendengarkannya melalui tele-conference, menggunakan jaringan XL. Ibu Gina mengangkat topik tentang rindu kepada Rasulullah SAW. Berbagai persoalan pribadi, keluarga dan bangsa kita bermunculan, karena kita telah kehilangan Tuhan sebagai akibat tak rindu lagi dengan Rasul. Kehilangan Tuhan, berarti kita kehilangan petunjuk-petunjukNya, kehilangan pertolonganNya, dan bahkan kita kehilangan role model (uswatun hasanah) yang Tuhan sediakan untuk kita. Padahal Tuhan telah persiapkan Rasulullah SAW sebagai jembatan menuju cintaNya. Jalan itu hanya bisa dibangun melalui rindu Rasulullah.

 Kawan saya Makhfud telah menulis di notesnya bagaimana Salahuddin Al Ayyubi akhirnya dapat mengerahkan tentaranya mengambil alih kembali Palestina setelah beliau berhasil menanamkan rasa rindu di hati tentara-tentaranya akan Rasulullah SAW. Inilah awal munculnya peringatan Maulidur Rasul, untuk menanamkan rasa rindu akan Rasulullah SAW. Topik Salahuddin ini rasanya paling relevan di saat sekarang ini. Sepertinya ada kemiripan perjuangan Salahuddin dan perjuangan kita sekarang ini.

 Kalaulah muhasabah diri ini sungguh-sungguh kita programkan, barangkali muhasabah yang paling tepat dan relevan saat ini adalah muhasabah sejauh mana rasa rindu akan Rasulullah sudah tertanan di hati kita. Bila belum, sebuah upaya mesti kita buat segera. Semoga tahun 2010 adalah tahun rindu Rasulullah betapapun berbagai kegiatan atau resolusi telah kita susun untuk setahun ke depan.

 Selamat tahun baru, selamat bersyukur, selamat bersabar, selamat dari maksiat lahir dan batin. Insyaallah besok, kita mulai hari-hari kita dengan rindu Rasulullah. Mari.

 Bagaimana menurut Anda?

 Wallahu a'lam

Kembalikan hati pada fitrah

Notes ini awalnya adalah komen untuk notes kawan saya Syamsuwal Qomar berjudul Tombol "Reset" Pribadi 2010. Karena kepanjangan, akhirnya saya pindahkan jadi notes tersendiri.

 Notes Qomar itu enak dibaca dan perlu. Nampaknya ia ada bakat jadi penulis hebat di suatu saat nanti mengikuti gurunya, Pak Ersis. Saya belum pernah jumpa orangnya kecuali di mimbar FB ini, namun rasanya sudah seperti adik kakak.

 Muhasabah tahunan tetap relevan. Saya senang. Dan, saya kira tidak ada yang keberatan. Toh muhasabah tahunan tidak menghentikan muhasabah harian kita. Muhasabah selalu membawa kita melihat masa lalu, walaupun sejenak. Melihat masa lalu, bukan untuk meratapinya, tapi untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik.

 Melihat masa lalu dalam rangka mempersiapkan masa depan artinya melihat kembali perjalanan hidup yang telah terekam di hati dan mempersiapkan kembali susana hati untuk menempuh kehidupan yang akan datang. Seluruh peristiwa masa lalu itui sendiri memang telah hilang dan tak mungkin diulang. Namun rekamannya di hati masih utuh.

 Intinya adalah mengenal diri melalui rasa hati. Hati adalah perekam yang baik. Jangan main-main dengan hati. Kapasitas RAM maupun ROM nya luar biasa. Tak satupun yang luput. Ia merekam dosa maupun pahala yang sudah dibuat. Ia merekam baik dan buruknya perangai. Ia merekam semua rencana busuk. Ia merekam persahabatan maupun permusuhan yang sudah dibangun. Mari kita dengar suara itu dengan kesadaran sebelum kita dipaksa mendengar.

 Dengarkan suara hati. Adakah ia gelisah, resah, tidak tenang, mudah marah, iri, dengki, cemburu, meratap melulu, protes melulu, sedikit-sedikit tersinggung? Kalau ada, itu pertanda ia sudah keluar dari setting yang seharusnya. Ia sudah keluar jauh dari Tuhan. Ia sedang sakit. Rasa bertuhan telah terkikis. Karena, kalau hati bersama Tuhan, ia akan tenang, bahagia, kreatif, produktif, dan bergairah.

 Kenalkan ia kembali ia kepada Tuhan, kepada fitrahnya, agar kembalii sehat. Ritual-ritual rutin (seperti shalat, wirid, baca Quran) tak akan banyak membantu. Penyakitnya terlalu parah untuk diobati dengan kerutinan. Perlu sebuah paket kontemplasi yang komplet. Perlu satu obat dengan racikan yang sangat khusus dan pas. Shalat, wirid, dan bacaan Quran yang biasanya berlangsung secara rutin atau otomatis perlu dihayati kembali. Istilah lain: tekan tombol "reset"

 Mungkinkah saya lakukan sendiri? Rasanya, kalaupun saya nekad, khawatir tambah parah keadaannya. Wong, memasukkan otat tetes mata saja ke mata sendiri, saya ngeri. Saya biasanya minta bantu istri atau anak. Me 'reset' hati pasti lebih susah. Untuk perkara hati, cari mursyid yang akan membantu proses itu. Tak ada jalan lain, kecuali itu.

 Buah nangka banyak getah.

Karena dipetik sebelum matangnya

Bila jiwamu selalu sedih, gelisah, dan marah-marah

Pertanda rasa bertuhan telah tiada.

 Pisau tumpul perlu diasah

Agar mudah mengerat belimbing

Kembalikan hati pada fitrah

Cari mursyid sebagai pembimbing

 Bagaimana pendapat Anda?

 Wallahu a'lam

Iman Islam dan Ihsan

Pagi ini kami masih di Bandung. Cuaca di Bandung cerah dan berawan. Tuhan datangkan berbagai penyakit kepada kami. Ema sakit mata, belum pulih. Yussy gatal-gatal. Sarah pusing sakit kepala. Faruq sakit perut, muntah-muntah. Saya pegal-pegal, sakit pinggang. Pokoknya lengkap. Mudah-mudahan kami bisa menyikapinya dengan sabar dan tawakal. Tidaklah Tuhan datangkan suatu ujian melainkan ada hikmahnya.

 Pagi ini kami membahas tentang Iman, Islam, dan Ihsan serta kedudukan Iman sebagai pangkal dari semuanya. Di zaman Rasulullah, kita tidak mengenal berbagai istilah seperti aqidah, syariah, usuluddin, tafsir, fiqih, usul fikih, tasawuf, filsafat, tarekat, hakikat, dll. Semua istilah itu baru muncul setelah ilmu keislaman berkembang. Di zaman Rasulullah kita hanya diperkenalkan dengan iman, islam dan ihsan. Memang suatu hal yang menakjubkan bagaimana Tuhan mengembangkan ilmu pengetahuan. Ketika satu ilmu dicongkel, cabang-cabangnya akan bermunculan. Maka lahirlah bermacam-macam ilmu. Walaupun kini cabangnya sudah bermacam ragam, semua ilmu keislaman tetap saja bermuara kepada iman, islam dan ihsan itu.

 Dengan iman, kita mengenal Tuhan, takut dan cinta padaNya. Dengan Islam, kita telusuri jalan Tuhan dengan penuh kepatuhan. Dengan Ihsan, kita hiasi hati nurani kita dengan kebaikan-kebaikan. Inilah pokok keselamatan dan kesejahteraan manusia, baik perorangan maupun sosial.

 Kalau kita mau menelusuri ketiga aspek itu: Iman, Islam dan Ihsan, pangkal utamanya ternyata adalah Iman. Betapapun hebatnya amalan seseorang, banyak perbuatan baiknya, tapi tanpa landasan iman, semua itu akan dianggap Tuhan sebagai amalan yang sia-sia. Begitu pentingnya iman, sehinga hampir di setiap ayat Al-Quran, Tuhan selalu menyelipkan perkara iman. Kalau tidak di awalnya, biasanya di akhirnya. Kadang-kadang di tengahnya. Ketika satu ayat bercerita tentang perintah atau larangan tertentu, ujung-ujungnya, selalu dikaitkan dengan Tuhan. Ayat-ayat tentang sejarah, ujung-ujungnya Iman. Ayat ayat tentang akhlak, ujung-ujungnya Iman.

 Sekarang baru kita faham mengapa selama 13 tahun di Mekah, Rasulullah hanya mendakwahkan Iman. Syariah baru dibicarakan di periode Madinah.

 Terbalik dengan sistem da'wah dan pendidikan kita di zaman ini. Kita lebih menekankan syariah daripada aqidah. Kita lebih menekankan perintah dan larangan Tuhan, sementara Tuhan, sebagai zat yang memerintah dan melarang itu, tidak diperkenalkan. Atau setidak-tidaknya, kurang diintensifkan. Akibatnya, ajaran agama menjadi hambar. Tidak ada beda lagi antara agama dan idiologi. Bila perkara Tuhan sudah hilang, hilanglah esensi agama itu.

 Banyak hal yang kami bicarakan dalam perbincangan selepas shalat subuh hari ini. Kami membahas tentang sekularisme yang meraja lela, yang telah memisahkan Tuhan dari kehidupan manusia. Kami membicarakan praktek-praktek di tengah masyarakat yang memperhinakan Islam itu sendiri. Tuhan telah dianggap tidak relevan. Mana pernah kita dengar pejabat negara mengait-ngaitkan berbagai program mereka dengan Tuhan. Kalaupun ada, itu hanya sekedar seremonial, tanpa esensi agama di dalamnya.

 Ya, semogalah bangsa ini cepat berubah. Kita mulai mengubahnya dari kehidupan pribadi dan rumah tangga sendiri. Dengan pertolongan Tuhan, seluruh bangsa kita ini akan menjadi baik.

 Bagaimana pendapat Anda?

 Wallahu A'lam.

Fitrah dan mujahadah

Pagi ini kami di Bandung. Perjalanan dari Sentul ke Banndung kemarin sore ternayata lancar, tidak macet, di luar dugaan. Pagi ini suasana di Bandung cukup segar. Udara cerah. Mata hari tidak terlalu panas karena berawan. Kalaulah kehidupan berjalan seperti ini saja, segar, tidak macet, tentulah emosi-emosi tidak mudah terletup. Rasanya suasana hatipun akan terus mahmudah. Tapi, kenyataan tidak selalu begitu. Selalu saja da ujian-ujian dari dunia sekeliling. Mazmumah mudah terpancing.

 Selepas subuh tadi kami membahas kuliah Abuya tentang fitrah manusia. Sebuah kuliah yang menjawab mengapa manusia harus tetap bermujahadah mengaitkan dirinya kepada Tuhan padahal di dalam dirinya sudah tertanam sifat-sifat baik. Mengapa kita tidak memadakan fitrah saja?

 Saya memberikan suatu pengantar bahwa manusia memang diciptakan Tuhan dengan satu sifat bawaan yang disebut fitrah. Fitrah manusia itu utamanya adalah rasa bertuhan. Ruh manusia telah diperkenalkan dengan Tuhan sejak sebelum dihembuskan ke dalam jasad. Rasa takut dan cinta Tuhan adalah fitrah. Sifat itu bercabang-cabang ke sifat-sifat lain seperti senang berkasih sayang, senang bersih, senang keindahan, senang bersatu dan bekerja sama, senang saling tolong menolong, senang dengan kebaikan, senang dengan kejujuran dan kesabaran. Sebenarnya dengan fitrah itu saja, manusia sudah mampu melahirkan kebaikan. Itulah sebabnya pada masyarakat yang primitif sekalipun, ada standar kebaikan yang mereka anut bersama-sama, padahal mereka belum tersentuh agama.

 Fitrah itu tidak cukup kuat menopang manusia untuk terus tegar, steady,berhadapan dengan hawa nafsu dan syaitan. Tuhan mengajarkan bahwa fitrah itu terlalu lemah terhadap ujian. Seseorang yang tidak suka marah, bisa pula marah kalau teruji dengan cobaan. Seseorang yang senang dengan kepemurahan, bila berhadapan dengan kesulitan hidup bisa menjadi sangat kikir. Demikian juga, manusia yang diciptakan senang dengan kasih sayang bisa menjadi sangat kejam menyiksa orang lain yang dibencinya.

 Karena itu Tuhan gariskan kepada mausia untuk menempuh jalur perhambaan kepadaNya. Jalan itu akan memaksa manusia bertopang dengan Tuhan. Jalan itu akan mengukuhkan sifat-sifat fitrah menusia berkekalan. Dengan jalur ibadah dan mujahadah, Tuhan mau semua kebaikan yang dibuat manusia bukan mengikuti fitrah, melainkan karena takut dan cinta Tuhan. Semua kebaikan yang dihasilkan oleh proses ibadah dan mujahadah akan sanggup bertahan terhadap sembarang ujian yang datang. Tuhan mau kebaikan itu sebagai hasil proses mujahadah dari ibadah kepada Allah. Sifat-sifat itu akan tersimpan di dalam lubuk hati, bukan di kulit-kulitnya saja.

 Ema menambahkan bahwa dalam mujahadah perlu pertolongan Tuhan. Mujahadahpun tidak bisa dilakukan sendirian tanpa bantuan Tuhan. Manusia terlalu lemah untuk beribadah dan bermujahadah. Walaupun sudah diusahakan mujahadah, namun masih mudah tergoyahkan. Kita harus melibatkan bantuan Tuhan. Kita tak boleh mengira kalau kita sanggup mujahadah tanpa bantuan Tuhan.

 Dalam ulasannya, Yussy melihat relevansi mengapa kebaikan yang dibuat bukan karena Allah akan sia-sia. Kebaikan yang dibuat atas dasar fitrah terlalu rapuh, mudah kalah oleh ujian. Kebaikan yang diperoleh dari proses ibadah,mujahadah akan lebih kekal. Kita sering lihat bagaimana orang-orang yang sering terlihat baik, tapi bila diuji, kebaikannya sirna seolah-olah tak ada bekas.

 Terlihatlah kini betapa hebatnya pengaruh ibadah dan mujahadah. Tepatlah kalau Tuhan kehendaki setiap kebaikan mesti berlandaskan ibadah. Kalau tidak, dianggap sia-sia.

 Bagaimana pendapat Anda?

 Wallahu a'lam

Rindu Rasul di Bandar Ikhwan Sentul (By Ema Manita Kuraesin)

Kemarin adalah hari yang cukup berkesan dlm sebagaian hidupku. Aku, suami, dan adik maduku juga beberapa kawan yang ikut hadir dalam majlis peringatan MAAL HIJRAH di Sentul. Sebenarnya kami berangkat sudah agak telat dari jadwal yang direncanakan. Tapi subhanallah perjalanan dari Jakarta hanya memakan waktu setengah jam saja. Jalanan sepi, tidak seperti biasanya, karena ditinggalkan oleh para musafir yang kelelahan habis muhasabah malam tadi atau kelelahan habis mengikuti pesta akhir tahun. Wallohu'alam!

  Alhamdulillah acara baru dimulai pas kami datang, jadi kami tidak telat, seprti kebiasaan yg sudah menjadi tradisi, klo ada program2 besar di manapun, pasti waktu akan molor karena menunggu yg telat datang ! Seolah2 membenarkan yg telat hadir. Kasihan amat yg hadir lebih awal 15 menit !

 Acara dimulai dengan sambutan "MAAL HIJRAH" yang disampaikan oleh Pengarah Zon. Aku tak mau menulis panjang lebar tentang isi sambutan itu. Pada intinya, beliau menceritakan tentang betapa pentingnya memupuk rasa rindu akan Rasulullah. Seseorang yang rindu akan Rasul, akan berjuang mencontoh segala apa yang dilakukan oleh beliau, mengikuti sunah-sunnahnya. Pada saat itu aku tidak begitu konsentrasi, karena kanan kiriku sibuk diskusi masing-masing dan sedikit suara soun system yg agak menggangu, tidak stereo.

 Aku hanya ingin menulis sedikit tentang nasyid yang disampaikan oleh seorang penasyid remaja yg suaranya, meurutku, dapat mengalahkan suara penyanyi pop Indonesia yang sudah terkenal sekalipun. Merdu sekali. Wajah polosnya menambah kemerduan suara itu.

 Beberapa nasyid dilantunkan di awal-awal acara mengiringi teater sketsa, aku belum konsentrasi penuh. Ku lihat peserta lain pun begitu. Mungkin karena suara dari sound system kurang prima sehingga kalah oleh suara ngobrol kaum ibu. Tapi setelah pengeras suara diperbaiki oleh operator, suara mulai terdengar pas. Tiba-tiba saja nasyid yang dilantunkan saat itu tentang sejarah Rasulullah.

 Nasyid itu menyentak sarafku tiba-tiba. Aduh, ruginya aku karena tidak hafal syairnya. Kuikuti satu demi satu bait liriknya. Tak terasa air mataku menetes dipipi. Ku tahan-tahan tidak bisa, malah makin bertambah deras. Dengan malu, aku melirik ke sebelah kiri kananku karena terdengar olehku kawan yang menahan isakan tangisnya. Pelan-pelan, kuperhatikan semuanya. Ku lihat mata mereka berkaca-kaca. Ku lirik juga ke arah adik maduku, diapun terlihat sangat terharu. Semakin kulihat kawan-kawan itu, semakin aku tak sanggup menahan airmataku.

 Ku lihat dari kejauhan, suamiku tertunduk, mungkin dia juga tengah terharu. Tapi kurang pasti. Mungkin juga sedang tidur, karena semalam tidak tidur menyelesaikan sebuah tulisan, bukan ikut acara tahun baruan masehi. Aah, tapi aku tak mau berprasangka buruk.

 Aku heran. Ada yang aneh muncul di dadaku. Hatiku terasa meronta-ronta. Tapi mengapa pula hatiku harus meronta-ronta ? Ada sesak didadaku. Tiba-tiba aku merasa rindu dengan Rasulullah SAW. "Apakah ini yang dinamakan rindu yang tiada terperi itu?"bisik ku dalam hati. "Ya Rasulullah, seolah-olah Engkau ikut hadir dalam majlis kami." walaupun aku merasa tak layak, merasakan hal itu, mengingat dosa2ku seperti buih dilautan.

 Subhanallah, betapa indah untaian syair yg dilantunkan itu. Mursyidku telah melukiskan untaian rasa hatinya tentang Rasulullah dalam nasyid itu. Kedekatan beliau dengan Rasulullah sangat kentara. Aku semakin yakin bahwa beliau sering berjumpa dengan Rasulullah secara ruhaniah.Kurasakan Beliau waktu menulis syairnya, sedang berada dekat dgn Rasulullah.

 Kulihat semua kawanku terpaku, diam. Yang terdengar isakan tangis kami, kaum perempuan. Aku ingat dosa-dosaku padamu yaa Rasulullah.

Begitu jahatnya aku padamu Yaa Rasulullah. Aku mendengar seruanmu, tapi aku tidak mau taat kepadamu. Ajaranmu kucuaikan. Ku perturutkan nafsuku. Betapa durhakanya aku padamu. Tak terbayangkan olehku bagaimana engkau telah mengorbankan jiwa raga demi keselamatan kami ummatmu.

 Sampai diakhir hayatmu, engkau masih menyebut tentang kami, "ummatku, ummatku, ummatku." Engkau sangat khawatir akan nasib kami diakhirat sana. Engkau rela dihina, dicaci, dilempar dengan najis, pemaaf walau kepada musuh sekalipun. Tak sangggup aku menceritakan berpanjang-panjang tentang keteladannya. Allah menyebutkan, "Wama arsalnaka illa rahmatan lilalamiin."Allah menciptakan dunia ini karena Rasulullah.

 Ya Rasulullah maafkan kesalahanku yang bagaikan buih di lautan ini. Wahai Tuhan, jumpakan aku dengan kekasih-Mu, Rasulullah SAW walau hanya dalam mimpi supaya rinduku yg terperi ini terobati dan boleh memperbaiki akhlakku yg buruk ini. Kepada akhlak yg lebih baik.

 Akhir acara, aku sibuk bertanya, bolehkah aku memilki liryk nasyd itu, bertanya sana sini, ternyata nasyd itu belum direlease ! Aku menghubungi pihak studio, jawabnya sama. Aku sedikut kecewa waktu itu. Tapi dgn semua itu tidak menyurutkan aku ingin memilki lyrik nasyd itu. Toh yg terpenting dari semua itu, bagamana aku boleh mentauladani Rasulullah akhir zaman, dgn mengikuti mujaddid yg telah dijanjikan disetiap awal kurun ! Inikah awal kurun itu ?

 Jakarta, 2 Januari 2010

Berkat dan Istidraj.

Kami masih di Sentul. Cuaca siang ini cerah. Dari subuh sudah tampak tanda-tanda bahwa langit akan jernih sampai sorenya. Ya, pakai teori kira-kira saja. Ini semua rahmat Tuhan kepada makhluknya. Mudah-mudahan bukan istidraj tapi berkat. Kita adalah makhluk dan kita berhajat kepada sesuatu. Tuhan berikan kepada kita sesuatu yang kita perlukan itu dengan rahmatNya. DiberiNya kita udara yang segar, air yang jernih, cahaya matahari yang hangat, anak yang sehat, peluang yang berlimpah ruah. Namun kadang-kadang, atau malah sering, kita lupa dengan kepemurahan Tuhan itu.

 Setelah mencemplungkan diri dua jam di kolam, badan saya terasa segar kembali.

 Selepas shalat subuh berjamaah tadi, kemudian wirid, saya memberikan kuliah untuk keluarga dengan mengangkat tajuk "Rahmat, Berkat dan Istidraj dari Tuhan." Kuliah itu sangat dalam maknanya yang saya terima dari guru kami. Kalaupun akhirnya jadi dangkal, mungkin karena saya tidak terlalu mampu menyampaikannya.

 Tuhan telah menetapkan atas dirinya rahmat. Dan rahmat ini berlaku untuk semua makhluknya tanpa terkecuali. Tapi, apakah semua pemberian Tuhan itu Ia iringi dengan ridho Nya? Inilah sesungguhnya pertanyaan yang amat penting. Tuhan memberi kepada seluruh makhluknya, namun tak semua pemberian itu disertai keridhoannya. Jika Ia ridha, "berkat" namanya. Jika Ia tak ridho, "istidraj" namanya.

 Nah, pagi ini kedua istri memberi ulasan. Ema menambahkan bahwa tanda-tanda yang membedakan pemberian itu berkat atau istidraj adalah pengaruh pemberian itu kepada hati. Bila kita diberi Tuhan harta dan pangkat. Tapi dengan tambahan harta dan pangkat itu kita menjadi semakin sombong, semakin kikir, semakin bergaduh, bersengit-sengit hati, itu tanda bahwa pemberian itu "istidraj". Tapi bila hati kita semakin tenang, semakin bersyukur, semakin mudah berkasih sayang, itu tanda "berkat". Yussy menambahkan bahwa keberkatan Tuhanpun dapat kita peroleh melalui kedekatan kita dengan-dengan orang-orang soleh yang diberkati Tuhan. Dia menerangkan istilah "menompang berkat".

 Mereka nampak saling mendukung. Tak jelas lagi mana guru dan mana murid. Lho, kok saya akhirnya yang jadi pendengar? Kami saling berbagi ilmu dan penghayatan.

 Sekedar pengingat saya kisahkan kepada mereka berdua kisah seorang wanita yang ditinggalkan suaminya di rumah karena ia harus berangkat ke medan perang bersama Rasulullah. Suaminya berpesan kepada wanita itu agar tidak meninggalkan rumah. Betapapun dikabarkan kepada perempuan itu, pertama bahwa ayahnya sakit, kedua ketika akhirnya ayah itu meninggal dunia, wanita itu tetap saja bersikukuh tidak mau meninggalkan rumahnya. Takut suami atau tak sayang ayahkah ia?

 Dia bukan takut kalau nanti suaminya murka, karena ia tahu suaminya seorang yang sangat mulia akhlaknya. Ia bukan pula tidak mencintai ayahnya, karena ia tahu di saat suaminya ada, dialah yang sering merawat ayahnya. Ia hanya takut Tuhan. Ia takut kalau Tuhan murka jika ia melanggar amanah suaminya. Ia tahu Tuhan telah lantik suaminya sebagai pemimpin. Kini sang pemimpin yang dilantik Tuhan itu kini memintanya untuk tidak meninggalkan rumah. Kalau ia melanggar, ia bukan akan berhadapandengan si suami, tetapi dengan Tuhan. Inilah contoh ketaatan istri yang bertaqwa. Karena ketaqwaannya, Tuhan telah memberkati wanita itu, bahkan ayahnya dan juga suaminya. Ini namanya kebagian berkat.

 Istri-istri saya mangut-mangut, mengarahkan pandangan ke lantai. Setuju tapi malu. Mungkin dalam hati ia berkata, "Mati gue, kesindir." Tidaklah. Ini bukan sindiran. Ini kebenaran. Suami adalah jalan bagi sang istri menuju Tuhan. Mungkin inilah yang dimaksud Nabi, '' Bila boleh manusia menyembah menusia, niscaya akan kuperintahkan wanita menyembah suaminya.

 Selepas kuliah, kami sarapan. Nasinya keasinan. Tidak apa, karena itu bagian dari latihan kesabaran. Selepas makan saya dan kedua anak saya meloncat ke kolam renang. Kedua istri duduk terpaku di pinggir kolam menyaksikan tiga lumba-lumba kecintaan mereka bertarung dengan keruhnya air kolam.

 Bagaimana pendapat Anda?

 Wallahu a'lam.

Popular Posts

Face, simplified

Face, simplified

About Me

My Photo
Jakarta, Indonesia
Lahir di kaki gunung Marapi, Bukittinggi 29 Nopemeber 1962. Hidup telah berpindah-pindah dan telah bertemu dengan banyak manusia. Senang membaca dan menulis. Senang bekerja dalam bentuk tim.

Categories

Followers

Total Pengunjung

    Social Icons

    twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail